Uncategorized

The Story of Bear Family: Pt.13

Title: The Story of Bear Family- Part 13

Character: Cho Kyuhyun

                  Kris Wu

                  Han Sae-jin

 

 Helloooow ^^! Im back, sebelumnya sorry karena sempat menghilangkan diri, hehehe… thank you buat yang masih mau baca dan setia menunggu part selanjutnya. Semoga part ini tidak mengecewakan, fighting! ^^

Continue reading “The Story of Bear Family: Pt.13”

Advertisements
Uncategorized

The Story of Bear Family: Pt.8

Title: The Story of Bear Family: Part 8

Character: Cho Kyuhyun

               Kris Wu

               Han Sae-jin

 

“Baiklah.” Direktur Kim berjalan mondar mandir dari tempatnya. Hari ini adalah hari besar dan pria itu tidak tidur semalaman karena membayangkan apa yang akan terjadi, dan respons yang akan mereka terima. Direktur Kim menatap beberapa staff yang sudah siap dengan computer di depan mereka, siap kapan saja mengirimkan berita itu ke server tujuan mereka.

“Kirim beritanya.”

 

 

Kyuhyun duduk diam di lantai ruang latihan. Berbeda dari latihan keras mereka samalam untuk persiapan tour, saat ini ruangan itu terasa sangat hening dan kosong. Kyuhyun memandang gambar langit di dinding latihan yang berseberang dengan kaca besar. Direktur Kim baru saja menghubunginya mengabarkan bahwa berita pernikahan Kyuhyun sudah disebarluaskan di media.

Sekarang sudah saatnya bom waktu meledak.

Kyuhyun menutup mata. Beberapa menit lagi ponselnya akan bordering berkali- kali dan banyak teman- teman atau anggota keluarganya akan bertanya dan kaget. Kyuhyun hanya perlu menon-aktifkan ponselnya dan masalah akan selesai untuk sementara.

Tapi dia tidak bisa lari dari kejaran media dan paling utama… penggemarnya.

            Kyuhyun tidak melakukan apa- apa, hanya diam dan berfikir, berfikir bagaimana menghadapi semua ini, berfikir bagaimana dia harus bersikap dan apa yang harus dia katakan.

Tiba- tiba dia teringat sesuatu dan langsung mengambil ponsel yang satu lagi dan menghubungi seseorang.

            “Hallo?”

            “Mereka… sudah mengumumkannya.” Kata Kyuhyun dengan suara berat dan dingin. Hening sejenak sebelum suara itu terdengar lagi. “N—neh?”

            “Mereka sudah mengumumkan kabarnya. Sedikit lagi berita itu akan muncul di televisi…”

Seseorang di seberang sana hanya diam. Kyuhyun tahu gadis itu terkejut, khawatir dan takut tapi di sisi lain sedang berfikir keras mengatakan sesuatu yang menandakan dia tidak apa- apa. Tapi Kyuhyun tahu bagaimana itu akan sangat berpengaruh pada Sae-jin dan dirinya.

            “Mau dengar saranku?” tanya Kyuhyun lagi. “Matikan tv-nya. Staf kami hanya mengirimkan dua paragraf tapi mereka bisa mengubahnya menjadi satu artikel yang sangat panjang. Jadi kusarankan kau matikan tv-nya, karena aku juga akan melakukan itu.”

Hening beberapa detik dan terdengar suara. “Neh.” Kata gadis itu dingin.

            Sesaat keduanya tenggelam dalam hening dan diam, menunggu salah satu dari mereka bicara. Kyuhyun ingin sekali mengatakan hal yang bisa menenangkan, yang bisa membuktikan kalau dia kuat dan baik- baik saja. Tapi otaknya tidak bisa merangkai kata yang bagus; pada kenyataannya dia juga gelisah dan waswas.

            “Jangan percaya pada apapun selain dari yang kukatakan, kalau ada apa- apa hubungi aku. Okay?”

            “N—neh.”

Kyuhyun mengangguk dan mematikan hubungan telponnya. Ayolah, tidak ada hal buruk yang akan terjadi kan? Han Sae-jin memang bukan tipe gadis yang sangat lantang dan frontal tapi Kyuhyun tahu gadis itu tidak mudah ditindas. Tapi bagaimana kalau gadis itu tengah dipengaruhi mood ibu hamil-nya? Apa Kyuhyun tidak ke sana saja? Tapi kalau dia ke sana para paparazzi dan fans pasti akan mengikutinya dan menemukan tempat tinggal Sae-jin.

Kyuhyun meletakkan ponselnya di lantai dan menutup mata. Semuanya seharusnya berjalan sesuai rencananya kan? Kenapa sekarang dia malah merasa ragu?

 

Kris membaringkan dirinya di sofa nyaman sambil memandang langit- langit ruang latihan dan melirik para member yang lain; beberapa dari mereka sedang duduk di sisi lain ruangan sambil memainkan ponsel mereka, Kai, dan Sehun mempraktekkan seluruh gerakan tari lagu mereka dengan penuh enerji dan Luhan sedang berusaha melatih ekspresi garang dan galaknya di depan kaca lalu mengumpat sebal saat member yang lain malah mengeluarkan suara seolah- olah ekspresi Luhan sangat lucu.

Saat ini Kris tidak merasa sedang berada di ruangan. Mungkin tubuhnya demikian tapi tidak dengan benaknya, benaknya terasa tidak pasti beberapa hari terakhir ini, kebingungan, dan pada akhirnya mood-nya yang sedang sangat buruk berpengaruh pada anggota lain. Kris di lain hal merasa bersalah dan sebal pada dirinya sendiri karena membiarkan masalah pribadi mempengaruhi pekerjaaannya dan juga teman- temannya. Hanya saja dia tidak bisa berpura- pura dirinya baik- baik saja sementara dalam hatinya dia merasa sangat hancur. Seandainya dia bisa dengan gampang melupakan perasaannya.

Aku hamil anak seseorang.

Dan kami akan menikah.

Kris menutup mata dan tangannya membentuk kepalan. Bagaimana kira- kira caranya dua kalimat itu? Dua kalimat yang membuat Kris merasa seseorang menusuk jantungnya dengan pisau dan berdarah, membuat impiannya bertahun- tahun hancur dan kebahagiaan yang sempat dia kira akan dimilikinya pergi lagi. Sangat sakit tahu bahwa orang yang sangat kau cintai tidak ditakdirkan bersamamu tak perduli betapa kau menginginkannya. Tidak perduli betapa besar Kris rela berkorban asalkan Sae-jin bisa bersamanya.

            Apakah rasa cinta yang besar tidak cukup membuat dirimu diijinkan bersama dengan orang yang kau inginkan?

Dan bagaimana mungkin seorang Sae-jin dapat mengalaminya? Kris sangat kenal Han Sae-jin. Apapun yang terjadi dia tak akan pernah mengira hal ini dapat terjadi padanya. Sae-jin bahkan tidak bisa berlama- lama di samping laki- laki lebih dari 5 menit. Hanya Kris, hanya Kris pengecualian yang sangat istimewa. Bagaimana bisa—?

“Yah, yah, yah!” suara Suho mengagetkan mereka tapi Kris tidak perduli, pikirannya terlalu kacau.

“Kenapa?” tanya Xiumin tak tertarik.

“Ini… apa ini benar dari agensi kita?” kata Suho, menunjukkan iPadnya pada siapapun di sampingnya. Chen mengerutkan kening membaca tulisan itu dan perlahan matanya membuka lebar. “APA? Tunggu sebentar. Sepertinya ini memang benar—ini kan situs resmi SM!”

“Berita apa?” tanya yang lain, bergabung dengan Suho. Tapi Suho memutuskan untuk membaca berita itu dengan keras agar seluruh isi ruangan mendengarnya, termasuk Kris yang sedang berpura- pura tidur di sofa.

            Kris sendiri sebenarnya mulai merasa tertarik karena member yang lain kini sedang berkumpul, apalagi ini berita dari agensinya. Sepertinya akhir- akhir ini tidak ada desas- desus mengenai sesuatu.

“Pada hari Kamis 4 Juni 2013 pukul 9 KST, pihak SM Entertainment menyampaikan secara resmi berita rencana pernikahan dari salah satu anggota grup boyband di bawah naungan mereka, Super Junior, Cho Kyuhyun (25). Anggota termuda di grup ini akan menikah dengan kekasih yang sudah setahun ini dikencaninya, Han Sae-jin (22) yang berasal dari kalangan non-showbiz. “

Tubuh Kris menegang. Sekalipun berita itu amat sangat mengagetkan baginya tapi sebuah nama membuatnya lebih kaget lagi. Matanya terbuka dan ditatapnya Suho dan para anggota lain yang sedang membaca dengan penuh hikmat, dan keterkejutan yang amat sangat.

Han Sae-jin?

Acara resepsi pernikahan akan diselenggarakan dalam waktu dekat dan hanya akan dihadiri anggota keluarga inti dan rekan- rekan dekat dari pasangan ini. Para anggota Super Junior, senior dan junior serta para staff agensi mengucapkan selamat yang tulus dan turut berbahagia dengan rencana pernikahan Super Junior Kyuhyun.”

Kini Kris sudah bangkit dan duduk di sofa, masih memandang Suho dan yang lainnya dengan wajah tegang, terkejut dan mata bulat membesar. Bibirnya sedikit terbuka. Para member kini heboh sendiri karena berita ini, dan yang lebih mengagetkan adalah karena berita ini disampaikan oleh pihak agensi SM sendiri.

“Bukankah Kyuhyun hyung pacaran dengan Sae-ryung noona?” tanya Kai pada Suho. “Hyung, kau yang bilang waktu itu!”

“Aku juga tidak tahu. Mereka benar- benar pacaran, bagaimana bisa—ani, astaga—dia akan menikah?” ujar Suho yang terlihat lebih kaget lagi. Suho segera mengambil ponselnya dan menekan nomor Kyuhyun lalu menurunkan ponselnya dengan dahi mengerut. “Ponselnya tidak aktif.”

“Apa dia benar- benar menikah? Dan, apa mereka benar- benar mengijinkannya?” tanya yang lainnya. Fakta yang sesungguhnya paling mengherankan di sini adalah izin yang diberikan agensi pada Kyuhyun untuk menikah karena jelas- jelas pada kontrak mereka kata menikah adalah tidak ada dalam persetujuan.

Tapi bagi Kris ada hal yang lebih penting lagi. Tepatnya ada berapa banyak nama Han Sae-jin di kota ini? Bisa saja ini hanya kebetulan kan? Tapi mengapa ini begitu… kebetulan? Tapi bagaimana bisa Han Sae-jin kenal dengan Cho Kyuhyun dan lebih tepatnya lagi… pacaran? Kris bahkan tidak tahu Sae-jin… tidak mungkin Sae-jin yang ini kan? Lagipula Sae-jin tidak pernah mengatakan sebelumnya padanya kalau dia punya pacar.

Aku hamil anak seseorang.

Dan kami akan menikah.

            Tidak, ini adalah kebetulan yang terlalu aneh. Tidak mungkin Han Sae-jin yang ini, dia tidak bisa memikirkan di bagian mana yang membuat Sae-jin dan Kyuhyun bisa saling berhubungan.

Tapi sesuatu tiba- tiba datang mengganggunya, sebuah memori, dan membuatnya merasa ngeri.

Ketika pertama kali mereka bertemu di Seoul beberapa bulan lalu. Han Sae-jin baru saja keluar dari gerbang belakang gedung SM.

Rasanya seperti ada yang menyiramkan seember air dingin ke wajah Kris dan seseorang mengikat jantungnya membuatnya sesak. Kenyataan itu menghantamnya dan dia tidak tahu antara harus percaya atau lebih baik tidak. Rasanya ini terlalu mengejutkan, di luar perkiraan, dan sangat menyakitkan. Tanpa disadarinya kini para member telah beralih dari membahas masalah itu, sekarang semuanya menatap Kris dengan heran dan bingung.

Tapi Kris tidak perduli, sesuatu yang lebih penting saat ini memenuhi kepala dan benaknya.

Kris melompat dari sofa dan berlari keluar, meninggalkan para member di dalam ruangan yang terkejut.

 

*

Han Sae-jin duduk diam sambil memeluk kedua lututnya di atas tempat tidur. Kedua matanya menatap hampa kaki tempat tidur, pikirannya masih bingung dan tak menentu. Gadis itu kemudian melirik ke luar jendela.

Sepi. Sangat sepi dan tenang.

Akankah ini berlangsung lama? Mereka seperti sudah melepaskan umpan dan berikutnya mereka siap dimangsa. Tapi apakah mereka siap dimangsa? Mungkin setelah ini semuanya tidak akan sama seperti sebelumnya, mungkin tidak akan setenang ini lagi. Bisakah Sae-jin mengatasinya? Kyuhyun pasti bisa, pria itu sepertinya bisa mengatasi segalanya, tapi berbeda dengan Sae-jin, situasinya sangat berbeda. Sae-jin tidak terbiasa dengan semua ini, dan publisitas. Dia paling benci disorot, tidak suka menjadi bahan pembicaraan, dan paling buruk dikejar karena masalah.

Tubuhnya terasa tegang dan yang dia inginkan hanyalah tidur dan semuanya menjadi mimpi. Dia sempat beberapa kali muntah tadi dan rasanya Kyuhyun benar saat menyarankannya untuk tidak menyalakan tv. Setidaknya benaknya tidak akan terganggu, untuk sementara waktu.

Sae-jin menatap ponselnya, haruskah dia mematikannya saja? Bagaimana kalau orang- orang tahu itu dia? Nama Han Sae-jin memang tidak begitu khusus, tapi juga tidak begitu lumrah. Sejauh ini hanya dirinya yang dia tahu bernama Han Sae-jin. Sae-jin menggeleng dan memutuskan sebaiknya mematikannya saja. Sae-jin mematikan ponselnya dan menyimpannya di laci lalu berbaring di tempat tidur.

            Gadis itu bermimpi dikejar segerombolan gadis- gadis tak dikenal yang melemparinya dengan batu. Sae-jin terus berlari tapi kakinya mulai terasa lelah dan jalan di depannya tak kunjung habis, dan tidak ada tempat persembunyian di manapun sejauh dia berlari. Gadis- gadis itu semakin dekat dan punggung Sae-jin terasa sakit dilempari batu. Tiba- tiba dia melihat sosok yang tinggi di depannya dan hatinya membuncah dengan kebahagiaan. Dia tahu siapa itu.

Yi Fan! Panggilnya dengan senang, berlari semakin cepat kea rah pria itu. Itu memang Kris, tapi ekspresinya membuat Sae-jin takut. Ekspresi kecewa dan gelinya, ekspresi yang selalu Kris tunjukkan pada setiap gadis yang mengganggunya tapi tak pernah dia tujukan pada Sae-jin. Seolah- olah Sae-jin adalah benda menjijikkan.

“Kau benar- benar menggelikan, Han Sae-jin.” Kata Kris dengan mata menyipit. “Aku telah salah menilaimu selama ini, kau ternyata tak lebih dari gadis murahan yang rela memberikan dirimu pada orang asing hanya karena dia idolamu!”

Kata- kata itu seperti sembilu tajam yang mengoyak- ngoyak hati Sae-jin, apalagi kata- kata kasar itu diucapkan oleh seorang Kris.

“Yi Fan, aku bukan orang seperti itu!” jerit Sae-jin sambil menangis. Tapi Kris tidak lagi mendengarnya—tidak, dia tidak mau mendengarnya. Pria jangkung itu berbalik dan meninggalkan Sae-jin dengan tatapan dingin dan jijiknya, membiarkan Sae-jin dikejar gadis- gadis tak dikenal itu tapi hatinya terasa lebih sakit setelah yang Kris katakan padanya.

“Yi Fan!!” jerit Sae-jin lagi, mencoba menarik perhatian Kris agar pria itu mau mendengarkan penjelasannya, meskipun tidak cukup banyak yang bisa dijelaskan. “Yi Fan!!!”

“Yi Fan!” Saejin tersentak dan bangkit dari tidurnya, nafasnya menderu- deru dan dadanya terasa sedikit sakit. Sae-jin terperangah ketika melihat kamarnya dan menyisir rambut panjangnya dengan frustasi. Kenapa mimpi buruk harus terus mengganggunya? Sae-jin menarik nafas panjang, mencoba menstabilkan debaran jantungnya dan menenangkan pikirannya tapi detik kemudian dia tersadar betapa gelisahnya dia sebenarnya. Sekarang berita pernikahannya sudah tersebar dan Sae-jin merasa ragu berita kehamilannya tidak akan terbongkar. Semua orang di asrama tahu apa yang ditemukan ibu asramanya dan apa yang membuatnya dipaksa mengambil cuti setahun.

Itulah yang dia takutkan.

Dia bisa mengatasi tatapan- tatapan orang di kampusnya, karena pada dasarnya dia tidak begitu perduli, tapi dia ragu apa dia bisa menghadapi tatapan seluruh dunia padanya; tatapan penggemar Super Junior dan terutama penggemar Kyuhyun. Rasa gelisah dan khawatir itu tidak bisa hilang karena pikiran- pikiran buruk dalam kepalanya terasa sangat nyata dan mungkin terjadi.

Sae-jin menutup wajah dengan kedua tangannya, memutuskan untuk keluar dan menarik nafas segar sambil menikmati salju sebelum dia mati frustasi di dalam kamar.

            Situasi di kios roti terlihat tenang ketika Sae-jin mengintip dari tangga. Televisi yang biasanya selalu menyala kini mati, Sae-jin memang sudah meminta kakeknya untuk tidak menyalakan tv dan dia sedikit ragu para penghuni di kompleks pertokoan ini tahu berita pernikahan itu. Tapi lagipula, ada berapa nama Han Sae-jin di Seoul? Bisa saja Kyuhyun menikah dengan Sae-jin lain kan? Sae-jin pergi ke kamar, mengambil mantel abu- abunya dan turun ke bawah.

“Yah, Han Sae-jin, kenapa kau turun?” tanya kakeknya protes ketika melihat Sae-jin muncul di toko.

“Ani—aku hanya ingin mencari angin sebentar.” Kata Sae-jin setelah menyapa beberapa pelanggan.

“Kau tidak salah? Di luar sangat dingin, dan lagipula—bagaimana kalau…” kakeknya menunduk dan berbisik dengan wajah serius. “Bagaimana kalau ada yang melihatmu?”

Sae-jin mencoba memaksakan senyum ‘baik- baik saja’nya. “Tidak apa- apa, untuk sekarang ini masih aman. Lagipula aku bosan di kamar, aku ingin melihat salju.”

Kakeknya menghela nafas. “Jangan pergi jauh- jauh, di sekitar sini saja, okay?”

Sae-jin mengangguk. “Aku pergi dulu, kek.”

            Sae-jin berjalan menyusuri trotoar sambil menonton butiran salju yang turun, menumpuk di jalan dan atap rumah—membuat semuanya seperti nuansa putih dan sejuk, Sae-jin sangat menyukai cuaca seperti ini, kakinya menendang- nendang kecil tumpukan es di depannya sambil berjalan, benaknya sibuk berfikir sampai kapan ketenangan ini akan berlangsung. Sae-jin ingin menikmati ketenangan ini dulu karena sebentar lagi semuanya akan berubah.

Sae-jin memasukkan kedua tangannya di dalam kantong, bertiup- tiup kecil dan tertawa geli melihat uap berwarna putih yang keluar dari mulutnya karena suhu yang begitu dingin.

Tawa kecil itu perlahan pudar ketika dia melihat sebuah sosok yang sangat dia kenal berada di ujung jalan, di dekat taman sepi ditutupi pepohonan rimbun. Sosok jangkung itu berdiri di dekat bangunan dan bersandar di dinding, dan Sae-jin merasa seseorang meninju dadanya.

Sejenak Sae-jin diam di tempatnya berdiri, antara percaya dan tidak percaya. Apakah dia berhalusinasi karena dia baru saja memimpikan pria itu dan begitu ingin bertemu dengannya? Tapi siapa lagi yang punya postur tubuh seperti itu, dan terlebih lagi berdiri di dekat rumahnya? Pria itu memakai kaos putih dan celana jeans yang ditutup dengan jubah kulit cokelat gelapnya, dan topi serta masker tapi Sae-jin jelas tahu itu siapa. Jantungnya berdebar kencang, dadanya sesak, tenggorokkannya sakit dan yang dia inginkan hanyalah menangis.

Kris menghabiskan sejam terakhir bersandar di dinding gedung kosong di dekat taman, tangannya menggenggam ponselnya, berfikir antara ingin menghubungi Sae-jin atau tidak. Sebagian dari hatinya tidak ingin menghubungi gadis itu, tidak dalam kenyataan seperti ini: tidak dengan cara seperti ini, tapi sebagian besar lagi begitu penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi. Kris mengutuk dirinya karena begitu gampang terbawa emosi dan ikut campur dalam hal yang tidak ada hubungannya dengannya: tapi entah mengapa sesuatu dalam benaknya seperti mengatakan dia berhak tahu yang sebenarnya, apa yang sebenarnya terjadi pada Sae-jin. Tapi dia  malu untuk menghubungi Sae-jin, lagipula Sae-jin sepertinya tidak akan mau menemuinya.

“Sial.” Gumam Kris, menggenggam ponselnya dengan erat, kenapa dia rapuh seperti ini?

Kris menggigit bibirnya dan memutuskan untuk pergi saja lalu berbalik dan terkejut melihat Sae-jin berdiri di seberang jalan sana, tubuh kurusnya terlihat nyaman dalam balutan sweater abu- abu gelapnya tapi wajah pucatnya yang dingin terlihat sulit dibaca, tapi Kris tahu ekspresi itu. Kris adalah satu- satunya orang yang bisa menebak ekspresi Sae-jin.

 

Setengah jam berlalu, keduanya duduk dalam diam di bangku teman yang sepi, memperhatikan bunga- bunga dan rerumputan yang indah. Taman ini sebenarnya milik pemerintah yang sudah ditelantarkan, dan penghuni- penghuni di kompleks pertokoan pecinan yang notabene-nya setengah baya ini memutuskan merawatnya sendiri hingga menjadi bagus kembali. Sae-jin melirik kupu- kupu putih yang terbang dan bertanya- tanya dalam hati mengapa jantungnya bisa berdebar kencang tapi perasaannya begitu nyaman? Sesungguhnya dia sangat membutuhkan Kris di saat seperti ini, di saat dia gelisah dan ketakutan. Hanya Kris yang bisa membaca perasaannya dan menenangkannya. Tapi apa dia masih berhak meminta itu setelah apa yang dia lakukan pada Kris?

Keduanya masih dalam hening yang canggung tapi Sae-jin memutuskan memulai pembicaraan: karena semua init oh dimulai dari ‘perbuatannya’.

“B—bagaimana… kabarmu?”

Kris kelihatan terkejut Sae-jin bicara lebih dulu tapi berdehem dan menjawab dengan dingin. “Baik.”

Tidak. Aku merasa sangat hancur, batin Kris. “Kau sendiri… apa kau baik- baik saja?” tanya Kris segan, dalam hati berharap Sae-jin menjawab tidak dan mengatakan dia juga merasa sedih karena sudah membuat Kris patah hati. Sae-jin menjawab dengan senyum lemah.

“Tidak.”

Kris meliriknya tapi tetap diam. Pria itu melirik jam tangannya, dia hanya punya waktu sejam sebelum kembali ke gedung SM dan melanjutkan latihannya atau kembali menimbulkan masalah bagi member yang lain karena keegoisannya. Kris memutuskan untuk memikirkan ‘pantaskah dia menanyakan ini’ nanti saja, dan memilih bertindak nekad.

“Ada yang ingin kutanyakan.” Kata Kris dingin, tanpa melirik Sae-jin, dia memilih memainkan jari- jari tangannya yang kekar dan panjang. Sae-jin tidak menjawab, tapi dia tahu apa yang akan Kris tanyakan, dan dia toh sudah siap menjawab. “Pria…” astaga, rasanya sakit sekali mengatakan ini, mengatakan hal yang beberapa hari terakhir ini Kris pendam dalam hati karena mengatakannya membuatnya terasa lebih nyata. “… yang akan menikahimu. Siapa… siapa dia?”

Sae-jin tertegun. Diliriknya tangan Kris sebentar, gadis itu menarik nafas, hatinya terasa sakit mengatakannya tapi toh tidak ada waktu untuk menutupinya dan berdusta. Cepat atau lambat Kris akan tahu.

Sae-jin berdehem, membersihkan tenggorokannya. “Cho Kyuhyun.”

Dia bisa merasakan pria di sampingnya terhenyak dan menutup mata, lebih dari bertanya, sepertinya Kris ingin memastikan, dan sepertinya dia berharap dia salah. Sae-jin tidak tahu harus bagaimana, dia selalu merasa sakit setiap dia sadar telah menyakiti Kris.

“Bagaimana…” Kris masih mencoba terdengar dingin dan tak perduli. “…bagaimana bisa? Bagaimana kalian bisa…”

Sae-jin menutup mata. “Ceritanya panjang.”

Kris tertegun, lalu mendengus. “Tentu, ceritamu selalu panjang.”

Sae-jin melirik Kris. “Maksudmu?”

Kris tidak terlihat canggung lagi, lebih tepatnya dia kelihatan sedikit bingung, frustasi… dan marah. “Kau selalu punya cerita yang orang lain tidak pantas tahu. Karena tidak ada orang yang mengerti dirimu.”

Sae-jin mengerutkan kening. “Yi Fan—“

Kris berdiri dari bangku taman dan berbalik menatapnya, menarik nafas sejenak. Sae-jin tidak ingat kapan dia terlihat segusar itu dan entah mengapa dia juga merasa takut.

“Kau tahu, sebenarnya kau sedikit membuatku heran. Han Sae-jin. Aku pikir setelah sekian lama aku mengenalmu setidaknya aku cukup tahu tentangmu dan setidaknya cukup pantas menerima kepercayaan yang sama seperti yang kuberikan padamu. Tapi tetap saja, di dunia ini tidak ada yang bisa benar- benar kau percayai, bukan begitu?”

            Rasanya seperti ada yang menyiram air dingin ke wajah Sae-jin. Dia ingin melawan tapi tidak tahu apa yang harus dia katakana: karena pada dasarnya Kris benar. Pria itu berhak tahu, tapi Sae-jin tidak memberitahu.

“Yi Fan—“ rasanya ada yang mencekik tenggorokan Sae-jin. “Bukan itu maksudku.”

“Kalau begitu apa?” tantang Kris. Sae-jin merasakan pandangannya mengabur. “Aku takut kau akan melihatku dengan cara yang berbeda kalau kau tahu.”

Kris terdiam, rasanya sadar. “Berbeda? Berbeda seperti apa maksudmu?”

“Kau tidak akan mengerti—“ Sae-jin menggeleng.

“Baiklah, katakan saja aku memang tidak cukup pintar untuk mengerti. Sekarang maukah kau menjelaskannya padaku? Sae-jin, aku tidak akan mencekikmu kalau tahu kau ternyata sudah pacaran dengan artis terkenal yang juga ternyata seniorku di perusahaan.”

Sae-jin tertegun, sepertinya tersadar. Kenapa dia tidak menyadarinya dari tadi? Kris sudah salah paham dengan berita itu.

“Kenapa? Karena aku tidak berhak tahu? Karena aku hanya sekedar temanmu dan—“ Kris menutup matanya dengan frustasi, lalu mengambil nafas yang dalam. “Astaga aku bodoh sekali,” katanya lalu tertawa sinis. “kau benar, ini memang bukan hakku untuk tahu. Aku tidak tahu kenapa aku begitu bodoh datang kemari dan menuntutmu untuk menjelaskannya. Maafkan aku, Sae-jin,” kalimat terakhir terdengar begitu sinis dan Kris berbalik.

“Kau salah paham—“ kata Sae-jin dingin, dua bulir air mata jatuh dari matanya. “Kami tidak pernah pacaran.”

Kris membeku, wajahnya terlihat sangat bingung dan terkejut. “A—apa?”

Sae-jin berdiri, dia bisa mencium aroma tubuh Kris yang wangi dan jantungnya berdegup kencang dan sekali lagi kesedihan itu datang mengganggunya tentang betapa takdir kadang- kadang bisa membuat orang tertipu dan menderita. Tinggi Kris yang menjulang membuatnya harus mendongak menatap wajah Kris yang bingung. Lebih banyak air mata membasahi wajah cantik Sae-jin yang pucat. Kris bukanlah salah satu dari orang yang tega dia bohongi, meskipun kenyataannya sangat menyedihkan.

“Kami tidak pernah menjadi kekasih, Yi Fan.” Sae-jin menyeka air matanya. “Aku penggemarnya. Aku datang ke acara fan meeting-nya. Saat itu aku mencari temanku dan aku menemukannya duduk sendirian. Aku menghampirinya karena aku tidak tahu dia mabuk dan aku hanya ingin dia menandatangani kasetku. Saat tahu dia mabuk dan terlihat sangat sedih aku merasa tidak tega meninggalkannya,” Sae-jin menarik nafas panjang, dia merasa sangat malu mengakui ini. “Satu hal menjurus ke hal lain, kami mabuk dan kemudian aku menemukan diriku di kamar hotel bersamanya keesokkan pagi.”

Ekspresi Kris seperti ada yang menyihir wajahnya menjadi batu. Sae-jin tidak ingin melihat Kris sedih tapi ekspresi seperti ini sudah cukup menyakitkan baginya. Sangat menyakitkan.

“Kemudian aku tahu aku hamil, lalu kami bertemu di acara bazaar sekolah dan memberitahukannya. Aku tidak ingin menggugurkan kandungan itu, dia juga tidak ingin menjadi orang yang tidak bertanggung jawab. Lalu kami memutuskan untuk menikah. Begitulah, Yi Fan—begitulah yang sebenarnya.” Sae-jin terisak, tenggorokannya tercekat dan dia merasa jelek sekali di depan Kris. “Aku tidak ingin kau tahu semua itu karena…” Sae-jin menutup mata membiarkan air matanya jatuh. Dia sudah lelah berpura- pura. “Karena aku ingin terlihat seperti Sae-jin yang sama di depanmu, Sae-jin yang sama sebelum semua ini terjadi, Sae-jin yang menjadi sahabatmu sejak dulu. Aku tidak ingin kau melihatku seperti sekarang ini, aku tidak sanggup bila kau harus menatapku sama seperti orang lain menatapku. Orang lain boleh menatapku seperti itu, tapi jangan kau.”

Wajah Kris masih sama seperti tadi, tapi kilat sedih terlihat di matanya yang mulai mengabur.

“Percayalah padaku, Yi Fan, aku juga selalu dihantui pikiran seandainya aku bisa mengulang waktu itu. Tapi aku juga tidak ingin terus menderita dengan terus menyesal. Aku juga rela menerima semuanya, tapi kalau kau juga harus membenciku…” Sae-jin menyeka air matanya lagi. Kris masih memandang Sae-jin, antara sangat ingin memeluknya, sangat ingin sekali… tapi dia tidak tahu harus berbuat apa. Dia masih ingin memarahi gadis itu, masih belum ingin memaafkannya.

Dia tidak ingin memaafkan Sae-jin yang sudah menghancurkan hatinya tapi masih sanggup membuatnya sangat mencintainya.

            Suara ponsel Kris memecahkan keheningan tapi Kris tidak mengangkatnya.

“Kurasa kau harus pergi sekarang. Bye, Yi Fan.” Kata Sae-jin pelan dan berbalik pergi sebelum Kris mengatakan apa- apa, lagipula Kris memang sepertinya tidak akan mengatakan apa- apa. Kris masih terdiam di tempatnya, dua bulir air mata membasahi pipinya, menatap punggung Sae-jin yang berjalan sambil menyeka air matanya. Dering ponselnya masih terdengar tapi dia tidak perduli.

Kemudian dia tersadar.

Wu Yi Fan kau benar- benar mengenaskan.

 

            Sae-jin berjalan menuju ke tokonya sambil menyeka air matanya, sebelum kakeknya melihatnya dengan keadaan seperti itu. Mungkin dia terlalu sibuk menyeka air matanya hingga dia tidak menyadari beberapa orang yang berdiri di depannya dan sinar flash yang mengaketkannya. Sae-jin membuka matanya lebar dan terkejut melihat beberapa orang yang mengarahkan kamera kepadanya.

            “Selamat sore, nona—apa Anda Han Sae-jin—ssi?”

Sae-jin tertegun, melihat wajah orang- orang di depannya yang siap dengan kamera.

Oh tidak.

            Sae-jin berlari menghindari orang- orang itu tapi mengejarnya dan beberapa menit kemudian telinganya dipenuhi banyak pertanyaan dan matanya sibuk menghindari cahaya dari kamera yang menyerangnya bertubi- tubi. Sae-jin berusaha menerobos mereka tapi mereka terus menyerangnya dengan pertanyaan. Sial, sebenarnya apa yang disampaikan agensi SM pada mereka? Bukankah mereka hanya memberitahu namanya saja? Ternyata media memang sangat cepat dalam menggali informasi. Sia- sia saja Sae-jin dan Kyuhyun berusaha merahasiakan semua ini sebisa mungkin.

            Sae-jin sibuk menutup muka dan berjalan terus.

“Nona Han Sae-jin, apa Anda benar adalah pacar Super Junior Kyuhyun?”

“Sae-jin—ssi, tolong jelaskan kepada kami apa hubungan Anda dan Kyuhyun yang sebenarnya?”

“Sae-jin—ssi, apa benar Anda sebenarnya penggemar Kyuhyun?”

“Nona Sae-jin, apakah benar sekarang ini Anda hamil?”

Apa??

Sae-jin menatap siapapun di depannya yang menanyakannya dengan terkejut, mencoba menghindari mereka dan kini situasi di jalan menjadi ribut dengan para warga pertokoan dan kakeknya yang datang menyelamatkannya, mencoba menarik reporter- reporter dan cameramen itu agar menjauh dari Sae-jin meskipun mereka bersikeras menyerang Sae-jin dengan pertanyaan- pertanyaan yang mengagetkan. Sae-jin merasakan tubuhnya terombang- ambing ditarik ke sana- kemari tapi pikirannya bekerja ekstra cepat: bagaimana mungkin mereka bisa tahu?

            Apa ada yang membocorkan ini?

            Tidak, apa ada orang- orang dari kampusnya yang membocorkan ini?

Tapi dia terkejut ketika mendengar para reporter di depannya memanggil nama Kyuhyun—ssi, dan detik berikutnya yang dia tahu seseorang menggenggam lengannya erat lalu menutupinya dengan jubah hitam dan Sae-jin sangat kenal dengan aroma ini. Dia menengadah dan melihat wajah Kyuhyun yang dingin mencoba menariknya dari kerumunan, dengan tegas, dan keras berjalan terus tanpa memperdulikan desakan dan pertanyaan para reporter, Sae-jin bisa merasakan genggaman erat Kyuhyun yang protektif dan mendorongnya. Tetangga- tetangga Sae-jin membantu Kyuhyun melindungi Sae-jin dan masuk ke dalam toko dan membanting pintu tertutup.

Masih terdengar keributan di luar sana dan yang berada di dalam hanya Sae-jin dan Kyuhyun. Sae-jin bersandar di pintu dengan nafas tersengal- sengal dan Kyuhyun berdiri di depannya, juga tersengal- sengal. Wajahnya yang biasanya dingin terlihat tegang dan sepertinya… marah, tatapannya terasa tajam, tajam menembus seperti elang dan membuat Sae-jin merasa sedikit takut… dan deg- degan. Keduanya sejenak bertatapan, Kyuhyun tersadar tangannya masih menggenggam lengan Sae-jin erat dan segera melepaskannya, keduanya membuang muka. Nafas mereka berdua saling menderu.

“Naik ke atas,” gumam Kyuhyun dan keduanya berjalan naik.

“Bagaimana… bagaimana mereka bisa tahu?” Sae-jin segera bertanya ketika keduanya berjalan melewati tangga.

“Sudah kubilang tadi, mereka bisa dengan sangat cepat menemukan cerita lanjutan, cerita yang bisa mereka jual.”

Sae-jin menghela nafas. “Tapi, bagaimana mereka menemukannya begitu cepat,”

“Ada orang asing yang memposting foto di cyworld-nya tadi siang, foto kita di sungai Han. Menurutnya dia sebelumnya ragu itu kita tapi setelah berita pernikahan kita tersebar dia yakin itu aku. Kemudian ada yang membocorkan mengenai masalah foto USG yang ditemukan di asramamu, dan berita kau diskors setahun di kampus.”

Sae-jin tertegun, wajahnya menampakkan kengerian. Kyuhyun melirik sejenak dan berjalan mondar mandir, beberapa hari yang lalu semuanya terasa baik- baik saja dan sekarang Kyuhyun menunjukkan ekspresi tegang itu lagi, ekspresi dingin dan tak terbacanya.

“Kemudian ada yang menemukan fotomu di perkumpulan ELF tahun lalu, dan fotomu ketika fan meeting kita diadakan di hotel Walker. Singkatnya mereka sudah tahu yang sebenarnya.” Kyuhyun menutup mata.

“Tapi—“

“Dan kurasa aku sudah pernah memberitahumu betapa aku membutuhkan ponselmu untuk selalu aktif.” ujar Kyuhyun dengan nada meninggi membuat Sae-jin terkesiap. Astaga, benar, ponselnya. Dia mematikannya untuk menghindari pertanyaan orang lain, dia lupa Kyuhyun juga memerlukannya. “Aku ingin memberitahumu untuk diam di rumah dan jangan keluar karena sekarang sepertinya seluruh media terpusat pada berita pernikahan kita.”

Sae-jin tidak menjawab, wajahnya masih terlihat terkejut… dan ngeri. “Maafkan aku. Aku benar- benar minta maaf.” Katanya, kelihatan benar- benar menyesal dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

Kyuhyun menghela nafas dan duduk di sofa di depannya dengan melakukan hal yang sama. Sae-jin merasa sangat bodoh, sangat bodoh dan teledor. Karena kebodohannya sekarang masalah menjadi semakin besar. Seharusnya dia melakukan sesuatu agar berita itu tidak bocor, tapi siapa yang bisa menyuruh ratusan gadis di asramanya untuk diam dan tidak membocorkan rahasia besar seperti itu? Dan lagipula, harusnya dia melakukan sesuatu untuk ‘memperbaiki’ narasi itu. Tapi siapa yang sangka ada yang ‘secara tidak sengaja’ menemukan foto mereka?

“Apa… apa yang harus kita lakukan?” tanya Sae-jin, tapi lebih bergumam pada dirinya sendiri.

Kyuhyun tidak langsung menjawab, masih berfikir. Sae-jin menunggu jawabannya dengan tegang, dan juga bingung. Dia ingin memikirkan sesuatu, sebuah solusi untuk masalah mereka karena sepertinya selalu Kyuhyun yang memikirkan caranya. Tapi pikirannya terlalu kosong dan perasaannya terlalu kacau. Kyuhyun menarik nafas panjang, mencoba menjaga emosinya lagi.

“Tidak ada pilihan lain. Kurasa… sebaiknya kau ikut denganku setelah ini,” ujar Kyuhyun dingin.

 

 

“Kau… serius?” tanya Sae-jin, masih tidak percaya. Keduanya sekarang berada di pelataran parkir gedung apartemen yang cukup mewah, meskipun tidak semewah gedung apartemen member Super Junior yang dikunjunginya kemarin. Kyuhyun menutup pintu, ekspresinya tetap datar sedari tadi, membuat Sae-jin takut dan segan, dia merasa Kyuhyun marah padanya, dan mungkin kesal. Mereka menunggu hingga keadaan reda dan Kyuhyun harus membawa Sae-jin melalui pintu belakang. Kakeknya juga meyakinkan Sae-jin untuk ikut dengan Kyuhyun karena besok pasti para reporter dan kameramen tidak akan berhenti memburunya.

Kyuhyun mengangguk, wajahnya terlihat lelah.

“Semua tempat sekarang sedang dikepung media. Rumahmu, rumahku, gedung SM, apartemen kami. Setidaknya kau harus diamankan dulu. Umma dan Appa membentakku sedari tadi mereka mengira aku menelantarkanmu.”

Sae-jin menunduk, Cho Kyuhyun bisa dengan sangat polos membuatnya merasa bersalah.

“Tapi… ini… apartemen siapa?” tanya Sae-jin hati- hati.

Kyuhyun diam sejenak, dan Sae-jin dengan hati- hati meliriknya. Sepertinya Kyuhyun sedikit enggan menjawab… dan entah mengapa, terlihat sedikit malu, meskipun dia menjaga ekspresinya tetap datar. “Ini… mmm… apartemenku.”

Sae-jin memandang Kyuhyun. “A—apartemenmu?” tanyanya terkejut.

Kyuhyun menggaruk belakang lehernya, kelihatan antara malu dan sedikit bangga mengatakannya, atau juga segan. “Neh.” Pria itu lalu berjalan tanpa mengatakan apapun dan Sae-jin mengikutinya dari belakang dengan tas selempangnya.

Gedung apartemen ini memang tidak semegah apartemen Super Junior tapi gedung ini termasuk mewah dan bagus, dan penampilan di dalamnya terasa lebih nyaman, Sae-jin lebih suka gedung ini. Keadaan di dalam cukup sepi membuat perjalanan ke lift lebih leluasa. Jantung Sae-jin berdetak kencang dan banyak pertanyaan berputar di benaknya. Ini apartemen Kyuhyun? Apa dia baru saja membelinya atau sudah lama? Diam- diam diliriknya Kyuhyun yang sedang memperhatikan lampu yang berjalan sesuai tombol lantai lift lewat. Kyuhyun terlihat capai, matanya terlihat dingin.

Tiba- tiba bunyi perut di sampingnya mengagetkan Sae-jin dan gadis itu memandang Kyuhyun lagi, pria itu pura- pura tidak tahu tapi Sae-jin bisa merasakan pria itu malu. Mereka toh sedari tadi tidak makan.

Tempat ini terasa lebih minimalis, dekorasi dan catnya bernuansa putih dan hitam, dan sepertinya Kyuhyun baru membeli tempat ini; keadaan di dalamnya masih kosong. Koridor kecil menyambut mereka; di samping kiri adalah dapur berukuran sedang yang kitchen setnya dihiasi marmer hitam dan bersambung dengan meja konsol untuk sarapan; pasti menyenangkan memasak di dapur sekeren ini, batin Sae-jin. Dia antara dapur dan ruang keluarga terdapat ruangan kecil yang hanya dibatasi dengan dua sisi dinding kaca bening dan Sae-jin berpendapat itu adalah ruang makan.

 Kemudian Sae-jin dihadapkan pada ruang keluarga cukup besar yang masih kosong, meskipun ada satu set sofa kulit berwarna hitam di ujung ruangan,  Sae-jin suka melihat wallpapernya yang simpel tapi classic dengan nuansa hitam putih dan pikirannya mulai melayang pada apa- apa yang bisa dihias untuk membuat ruangan itu terasa menyenangkan dan nyaman, dia suka dengan urusan desain dan hias menghias, seandainya dia tidak diterima di kedokteran waktu itu dia pasti sudah melamar di desain grafis atau desain ruangan. Di sisi ruangan lain terdapat jendela super besar seukuran dinding yang menampakkan pemandangan jalan besar di bawah langit malam dengan lampu jalan dan lampu- lampu gedung yang indah, terutama pemandangan salju yang turun, membuat perasaan Sae-jin tentram dan sedikit emosional, pemandangan ini sungguh sangat mengagumkan.

Sekarang Sae-jin tahu kenapa Kyuhyun memilih apartemen ini.

“Woah…” gumam Sae-jin tanpa sadar, gadis itu tidak menyadari kilat bangga di mata Kyuhyun melihat ekspresi Sae-jin. Dia memang bersyukur tempat ini masih tersedia ketika dia ingin membelinya, Kyuhyun bekerja sangat keras untuk bisa membeli apartemen kecil ini, memang cita- cita Kyuhyun untuk membeli tempat tinggal sendiri. Dulu alasannya membeli ini untuk berjaga- jaga, untuk persiapan demi masa depannya… tapi sekarang sepertinya rencananya terjadi lebih dini.

Kyuhyun berdehem, mengusap belakang lehernya. “Tempatnya memang kecil.” Dibandingkan dengan apartemen Super Junior, tempat ini memang kecil dan minimalis, tapi dia tidak membayangkan ingin tempat tinggal yang begitu besar.

            “Kau bercanda, tempat ini bagus sekali.” Kata Sae-jin polos, terdapat koridor di salah satu sisi ruangan dan dua kamar pintu yang berseberangan, dan mini bar mewah di sudut lain. Sae-jin menunjuk mini bar kecil itu dan melirik Kyuhyun. Yah, tentu saja. Kyuhyun tahu, untuk beberapa alasan, Sae-jin akan menyukai tempat ini.

“Aku belum sempat merapikannya, aku juga masih belum bisa membayangkan bagaimana akan mengaturnya.” Kata Kyuhyun jujur, berjalan ke kamar.

Oh, aku bisa mengaturnya, dengan sangat cermat dan kreatif, batin Sae-jin. Dia bisa merasakan adrenalin memenuhi tubuhnya membayangkan apa saja yang bisa dia berikan untuk menghias tempat ini lalu dia sadar bahwa ini apartemen Kyuhyun dan bukan apartemennya.

“Kau mau mengaturnya?”

“N—neh?” Sae-jin terdiam dan memandang Kyuhyun, menyadari bahwa mood meledek pria ini muncul lagi, bisa dilihat dari ekspresinya. Atau apakah sejelas itu wajah tertarik Sae-jin?

“Kau boleh mengaturnya kalau kau mau. Kau toh nanti akan tinggal di sini.”

“Neh?” suara Sae-jin lebih tinggi. Tinggal di sini? Maksudnya—

“Kita tidak bisa tinggal di rumahmu atau rumahku karena itu sangat jauh dari agensiku, kita juga tidak bisa tinggal di apartemen Super Junior, ibuku sempat menyarankan kau tinggal di rumah kami karena beliau ingin mengurus kehamilanmu tapi yah… itu terserah padamu.”

Sae-jin masih memandang Kyuhyun dengan bingung, pipinya memerah. Maksudnya… dia akan tinggal berdua… dengan Kyuhyun… di sini?

“Ngomong- ngomong aku lapar,” ujar Kyuhyun, sepertinya sengaja mengalihkan pembicaraan yang sedikit tidak nyaman ini, dan lagipula dia memang benar- benar lapar. “Masalah ini kita bahas nanti saja. Kau mau makan apa?”

“Kalau aku tinggal di sini apa aku boleh mendesainnya?” tanya Sae-jin jujur.

“Neh?”

“Apa aku boleh mendesainnya?”

Kyuhyun memandang Sae-jin, merasa sedikit terkejut. Sebenarnya tadi dia tidak bersungguh- sungguh, dia sudah memikirkan akan menyewa desain interior terkenal yang dia tahu untuk mengaturnya. Tapi mendengar pertanyaan Sae-jin yang sepertinya tertarik (karena ekspresinya yang cukup dingin kadang tidak bisa menyampaikan keinginan hatinya dengan baik) membuatnya tiba- tiba merasa tidak tega.

“Well, kalau kau mau…”

“Kau serius?”

“Ya, ya, ya.” Kata Kyuhyun. “Ayolah, aku lapar. Kau tidak ingin makan?”

Sae-jin mengangguk pelan tapi Kyuhyun tahu gadis itu tengah setengah mati menahan senyum. Sudahlah, dia memang sudah terbiasa menghadapi Nona-Muka-Datar ini.

*

 

            Shin Sae-ryung berdiri di depan dinding kaca di gedung SM, memperhatikan jalan raya di depannya—tidak, tepatnya ratusan penggemar dan awak media yang berkumpul di depan gedung, berusaha menembus sekuriti. Berita yang muncul tadi sangat menggemparkan, meskipun Sae-ryung sudah tahu berita itu lebih dulu. Tapi sangat menyakitkan ketika itu disebarkan, membuat semuanya terasa final dan tak dapat diubah, membuatnya terasa lebih nyata. Gadis itu tidak tahu harus berbuat apa, atau harus bereaksi bagaimana, berita yang didengarnya terasa lebih menyakitkan, Kyuhyun menikahi gadis yang dipacarinya selama setahun? Sae-ryung lah gadis yang menjadi kekasihnya selama setahun terakhir ini, sebenarnya apa yang terjadi? Apa Kyuhyun mengencani gadis lain selain dia?

            Dan sekarang gadis itu hamil?

            Apa Kyuhyun selingkuh di belakangnya?

            Benarkah dia orang yang tega berbuat seperti itu?

            Sae-ryung bisa mencium sesuatu yang aneh, tapi dia tahu dia tidak bisa mengkonfirmasinya secara langsung pada Kyuhyun karena pria itu menghindarinya dan dia tidak mampu.

Dia bahkan tidak tahu bagaimana dia menghadapi berita ini. Hatinya terasa berdarah dan terlalu sakit, pikirannya kacau dan terganggu, dia tidak tahu harus bagaimana. Suara derap langkah di belakangnya membuyarkan lamunannya.

“Shin Sae-ryung”

Sae-ryung berbalik. “Eunhyuk oppa.”

*

            Sae-ryung berdiri di depan cermin besar ruang latihan yang gelap, denga pencahayaan redup dari lampu kecil di ujung ruangan. Gadis itu menatap dirinya, wajah cantik di depannya yang kini membeku seperti patung, tapi menyimpan bom yang bisa meledak kapan saja bila disentuh. Perkataan Eunhyuk terngiang- ngiang di kepalanya, mengganggu dirinya sampai ke level yang paling parah, membuat saraf- saraf di tubuhnya bangkit karena amarah dan kekecewaan, membuat hatinya hancur karena rasa penyesalan dan rasa maaf yang sangat besar. Sesungguhnya dia berharap pembicaraan di antaranya dan Eunhyuk tidak pernah terjadi, dia tidak akan pernah tahu kebenaran yang rasanya jauh lebih menyakitkan.

“Aku tidak tahu mengapa aku harus menjelaskan ini padamu, dan mungkin Kyuhyun akan membunuhku kalau dia tahu aku mengatakan ini padamu. Tapi aku tetap merasa kau berhak tahu. Gadis itu bukan kekasihnya, dia penggemarnya, seperti yang sekarang sedang beredar di internet. Mereka bertemu di fan meeting kami di hotel Walker dan rupanya mereka secara tidak sengaja mabuk dan… malam itu terjadi. Kyuhyun mabuk karena dia sedang sedih dan frustasi, sedangkan gadis itu mabuk karena Kyuhyun memaksanya minum alcohol dan gadis itu dengan polos menerimanya. Gadis itu sekarang hamil dan Kyuhyun memilih menikahinya dan menghadapi semua masalah ini.”

Kedua tangan Sae-ryung mengepal, pandangannya mengabur dan tubuhnya bergetar.

“Mungkin menurutmu ini sedikit lancang tapi alasan dia mabuk- mabukkan waktu itu adalah sama dengan alasannya mabuk- mabukkan di beberapa hari sebelum itu. Karena kau memutuskan hubungan dengannya, dan saat itu sebenarnya dia ingin memintamu untuk bertunangan dengannya. Dia menceritakan semua itu padaku beberapa hari lalu, karena… meskipun dia selalu terlihat kuat dan tidak perduli, sesungguhnya dia sangat frustasi dengan semua masalah ini, dan karena dia harus menikahi gadis asing yang sama sekali tidak dia cintai.”

“Tapi kalau dipikir- pikir, mungkin lebih baik kau memutuskannya sebelum itu, sebelum dia mempermalukan dirinya dengan memintamu menjadi tunangannya. Karena ternyata cinta yang dia berikan padamu saat itu cukup membutakannya karena dia merasa kau akan melakukan apapun untuk bersamanya seperti yang pasti akan dia lakukan untukmu. Sekarang semua sudah terjadi, Shin Sae-ryung, dan aku minta padamu, jangan anggap ini ada hubungannya denganmu. Lepaskan saja, dan biarkan Kyuhyun menjalani hidup yang sudah menjadi pilihannya. Karena kau sudah memilih untuk meninggalkannya, sekarang apapun yang terjadi padanya sudah bukan lagi urusanmu. Sekarang dia akan menikah dengan gadis lain, dan gadis itu yang sekarang memiliki hak untuk mengurusnya.”

Sae-ryung memukul kaca besar di depannya dengan telapak tangannya dan menjerit. Rasanya sakit sekali, tapi lebih sakit perasaan di hatinya, sangat sakit sehingga dia kira dia bisa mati hanya karena sakit hati, karena rasa penyesalan dan bersalah yang dalam.

Karena kau memutuskan hubungan dengannya, dan saat itu sebenarnya dia ingin memintamu untuk bertunangan dengannya.

meskipun dia selalu terlihat kuat dan tidak perduli, sesungguhnya dia sangat frustasi dengan semua masalah ini, dan karena dia harus menikahi gadis asing yang sama sekali tidak dia cintai.

Karena ternyata cinta yang dia berikan padamu saat itu cukup membutakannya karena dia merasa kau akan melakukan apapun untuk bersamanya seperti yang pasti akan dia lakukan untukmu.

Sae-ryung berlutut, dua bulir air mata jatuh dari mata cantiknya. Kata- kata Eunhyuk seperti pisau tajam yang menusuk- nusuk jantungnya dan membuat berdarah. Dia menyampaikannya dengan sangat halus tapi dia berhasil membuat Sae-ryung menyalahkan dirinya atas semua ini. Besar atau kecil, Sae-ryung bisa menjadi penyebab dari awal mula semua ‘malapetaka’ ini terjadi.

(Flashback)

“Mianhae Kyuhyun—ah, aku tidak bisa. Aku mencoba untuk mempertahankan hubungan ini tapi aku… sebenarnya aku sedang sangat bingung. Semua ini terjadi terlalu mendesak dan kadang berharap kau benar bahwa aku bisa membagi urusan pribadi dan pekerjaanku. Kenyataannya sekarang ini aku sangat lelah dan bingung, aku harap kau mengerti…”

“Kau pasti marah padaku, aku mengerti. Aku hanya berharap… kau bisa memahami dan membiarkanku pergi. Aku masih menyayangi dan mencintaimu, tapi untuk sekarang ini aku ingin focus pada grupku… Bisakah kita berpisah dulu?”

“Kau… kau tahu aku tidak pernah membuat semua sulit bagimu, aku selalu mendukungmu, Shin Sae-ryung.”

“Aku… aku tahu. Tapi kau begitu berkomitmen sedangkan aku… masalahnya ada padaku, aku tidak bisa. Saat ini konsentrasiku terpecah dan… dan aku tidak tahu apa dan siapa yang harus aku dahulukan. Aku takut pada nantinya aku akan melukaimu.”

Kyuhyun menyipitkan matanya, lalu mendengus. “Dari perkataanmu sepertinya kau sudah membuat segalanya lebih jelas tentang siapa yang akan kau lepaskan.”

(Flashback ends)

Kedua tangan Sae-ryung memegang kaca besar itu dan memukulnya, menikmati rasa perih dan sakit di tangannya yang menurutnya adalah hukuman baginya. Untuk pertama kalinya dia menangis, menangis dengan sangat kencang, menangis seperih- perihnya. Tiba- tiba dia benci pada dirinya sendiri, benci pada apa yang dia pilih, benci pada apa yang dia lakukan. Bayangan Kyuhyun terus menghantui pikirannya.

Karena kau sudah memilih untuk meninggalkannya, sekarang apapun yang terjadi padanya sudah bukan lagi urusanmu. Sekarang dia akan menikah dengan gadis lain, dan gadis itu yang sekarang memiliki hak untuk mengurusnya.

*

            Sae-jin terbangun besok paginya di kasur empuk di sudut kamar besar, cahaya yang keluar dari jendela yang ditutupi tirai putih polos menyengat matanya dan dia sibuk mencerna di mana dia sebenarnya. Oh yah, dia berada di apartemen Kyuhyun. Sae-jin masih diam di tempat tidur dalam balutan selimut baru; dia bisa mencium aromanya. Ruangan ini luas, dan masih kosong, hanya kasur, selimut, dan tas selempang Sae-jin. Sae-jin menutup mata lagi, tubuhnya masih terasa lelah dan dia tidak ingin bangun dan keluar dari kamar, karena itu sama artinya dengan dia kembali menghadapi dunia yang penuh masalah, sama seperti kemarin.

Sae-jin menarik nafas dan mengambil ponsel dari tasnya. Jam menunjukkan pukul 7 pagi dan 35 panggilan tak terjawab di ponselnya, 20-nya dari Sunny, dan gadis itu juga meninggalkan 8 pesan yang semuanya berisi kalau dia sangat khawatir dengan Sae-jin dan ingin tahu dia di mana bersama siapa.

Kyuhyun sudah pergi dan meninggalkan pesan di dapur. Pria itu sudah memesankan makanan untuknya dan akan datang kembali malam nanti, meminta Sae-jin untuk tetap berada di dalam apartemen sampai Kyuhyun menjemputnya. Sae-jin memutuskan menghubungi kakeknya dulu dan Sunny, dua orang yang paling mengkhwatirkannya saat ini.

“Kau tidak apa- apa? Bagaimana keadaanmu?” tanya kakeknya, terdengar gelisah.

“Aku tidak apa- apa. Bagaimana keadaanmu, kek? Di sana masih banyak wartawan?”

“Ani, banyak yang sudah pulang tapi sepertinya mereka akan kembali lagi.” Ujar kakeknya cemas dan Sae-jin mencelos. Dia sangat tidak ingin kakeknya terkena dampak seperti ini. “Tapi kau jangan khawatir, kami tidak akan membiarkan mereka macam- macam. Jaga saja dirimu, okay?”

“N—neh, jwisongeyo (maaf) haraboji.” Kata Sae-jin lalu mematikan sambungan telponnya.

Sae-jin melihat sekelilingnya, tempat itu terasa lebih kosong… dan hening. Sebenarnya semalam juga mereka tidak melakukan apa- apa, Kyuhyun berdiam diri di atap dan Sae-jin duduk di dalam kamarnya mendengarkan musik, tapi setidaknya Sae-jin tidak sendiri. Sae-jin tersadar dan menggeleng. Aniyo, apa yang kau pikirkan Han Sae-jin?

Berbeda dengan kakek, respon Sunny sama sekali tidak menenangkan, butuh beberapa menit untuk meyakinkannya kalau Sae-jin dia baik- baik saja. “Jadi di mana kau sekarang? Aku bersumpah akan menggunting botak teman asrama kita yang membocorkan beritamu!”

Sae-jin tertawa lemah. “Ya, tolong lakukan itu untukku.” meskipun itu tidak banyak membantu, batinnya.

Setelah menutup telpon Sae-jin berjalan berkeliling ruang apartemen. Tempat ini rasanya menyenangkan bagi Sae-jin, simpel, kecil dan minimalis. Sae-jin teringat perkataan Kyuhyun semalam kalau mereka akan tinggal di sini nanti dan pipinya kontan memerah. Semuanya semakin nyata, dan tanggal pernikahan mereka pun semakin dekat. Tapi dengan masalah ini apa semuanya akan baik- baik saja?

            Seharian dihabiskan Sae-jin dengan membaca novel dan mendengarkan lagu. Kyuhyun menelpon beberapa kali untuk memastikan dia baik- baik saja dan tidak ada yang datang. Dari suaranya Kyuhyun terdengar tertekan tapi berusaha menyembunyikannya dan Sae-jin semakin kesal pada dirinya sendiri karena tidak bisa berbuat apa- apa untuk menolong Kyuhyun, dan malah menambah semakin banyak masalah. Waktu menunjukkan pukul 6 malam dan Sae-jin terkapar di kasur, menatap langit- langit kamar.

Ternyata bermalas- malasan juga cukup melelahkan.

Tiba- tiba ponselnya berbunyi. Sae-jin mengerutkan kening ketika melihat nomor tak dikenal terpampang di layar, tapi kemudian mengangkatnya. “Y—yoboseyo?”

“Han Sae-jin,” Sae-jin kenal suara ini, ini suara nenek di seberang rumah, dan hatinya seketika menjadi tidak tenang. “N—ne, nenek Gu?”

*

Sae-jin menggumamkan terima kasih pada sopir taksi dan melompat turun. Kakeknya hampir terkena serangan jantung dan sekarang sedang beristirahat. Harusnya Sae-jin tahu hal seperti ini mungkin akan terjadi, kakeknya tidak boleh kelelahan dan membutuhkan suplemen serta asupan oksigen yang memadai, dan hanya Sae-jin yang selama ini tahu cara mengatur kondisi tubuh kakeknya. Sae-jin berjalan pelan menyusuri trotoar, tangannya menggenggam tali selempang tasnya dengan erat. Situasi di sekelilingnya cukup sepi, sepertinya para wartawan tahu dia tidak ada di situ dan percuma menggali berita dari kakeknya, tapi gadis itu tetap berjaga- jaga dengan memakai masker. Lucu rasanya karena dulu dia selalu mengejek Kris yang menyamar dengan masker ke manapun dan sekarang dia pada akhirnya juga menyamar dengan memakai masker, dan hatinya merasakan sedikit perih karena teringat dengan sahabatnya itu, dan perkelahian mereka kemarin.

Sae-jin berusaha terlihat biasa- biasa saja, tapi terkejut ketika melihat beberapa gadis di sudut belokan yang menuju ke kompleks pertokoannya. Mereka memakai pakaian tertutup dan seperti mengintip dari balik tembok. Deg. Apa yang harus dia lakukan? Sae-jin berbalik dan berencana mengikuti jalan lain, tapi terkejut ketika berhadapan dengan gerombolan gadis lain, kali ini lebih banyak. Mereka semua menatap Sae-jin dengan dingin.

“Ini pasti dia.”

“Benar, aku pernah melihatnya, ini pasti dia.”

Sae-jin terdiam di tempatnya, menyumpah serapahi dirinya sendiri, entah harus berbuat apa. Gadis- gadis di belakangnya sekarang berjalan mendekatinya, mengepungnya. Sae-jin pergi ke arah jalan tapi gadis- gadis itu mendorong  Sae-jin dengan kasar agar tetap di tempatnya. Suasana jalan agak gelap dengan penerangan minim tapi wajah- wajah mereka terlihat garang dan menakutkan.

“Yah!” protes Sae-jin ketika mereka mendorongnya, tapi mereka tidak perduli, berjalan mendekatinya hingga Sae-jin benar- benar tersudutkan dan tidak bisa lari ke mana- mana. Sae-jin sendiri merasa bodoh karena hanya diam di tempatnya dan tidak berteriak, tapi dia tidak ingin menimbulkan kekacauan dan lebih banyak masalah untuk Kyuhyun. Darah berdesir nadinya dan jantungnya berdebar kencang, antara emosi dan takut. Mereka semua terlihat seperti aligator pemangsa dan Sae-jin merasa seperti mangsa bego yang kebingungan.

“A—Apa yang kalian inginkan?” tanya Sae-jin dingin, berusaha menutupi rasa takutnya.

“Kau si Han Sae-jin itu… benar kan?” tanya salah satu dari mereka, menyebut nama Sae-jin dengan cara yang menghina. Sae-jin tidak menjawab, tubuhnya tegang. “JAWAB KAMI!!!” bentak yang lainnya.

“Oh, sepertinya benar. Itu memang kau. Aku pernah melihatmu saat fan meeting, percuma kau menyamar!!!” kata salah satu gadis itu, mendorong Sae-jin dan beberapa orang di belakangnya menahannya. “YAH!!!” jerit Sae-jin protes tapi mereka tidak mendengarkan, sepertinya terlalu emosi dan marah, menarik masker Sae-jin dengan kasar hingga menunjukkan wajah Sae-jin yang asli.

“Cih, coba lihat mukanya. Dia pikir dia siapa?!?!” bentak gadis tadi di telinga Sae-jin membuatnya bergidik. Sae-jin berusaha mendorong mereka tapi mereka mendorong Sae-jin dan menahannya agar dia tetap di tempatnya. “Jawab kami, cewek murahan,” kata yang satu dengan nada datar tapi mengancam. “Apa yang kau lakukan pada Kyuhyun oppa? Apa yang kau lakukan sampai dia mau menikahimu?!?!?!”

Sae-jin tidak menjawab, pandangannya mengabur dan kepalanya terasa berputar- putar, dia hanya ingin pulang dan memastikan kakeknya baik- baik saja, tidak lebih dari itu.

“Kenapa kau diam saja? Jangan pura- pura bodoh!” jerit yang lain dan sebuah tamparan mendarat di pipi Sae-jin. Gadis itu meringis.

            Pertama kali dalam hidupnya pipinya ditampar, Sae-jin menatap gadis itu dengan terkejut, rasanya shock dan terhina, dua bulir air mata jatuh membasahi pipinya. Pemandangan itu bukannya membuat para gadis itu merasa bersalah tapi mereka malah lebih beringas. “Oh lihat, si manis Sae-jin menangis… pasti kau akan melapor pada oppa nanti. Dasar munafik! Pelacur! Jauhi oppa kami?!?!”

“Kau hamil ya? Dasar kau wanita murahan, pasti kau menjebak oppa kami!!!”

“Yah, jauhi Kyuhyun oppa atau kami akan membunuhmu!!!”

Sae-jin menatap gadis itu dengan dingin. “Lepaskan aku.” Perintahnya dingin.

“Mwo?!?!” mereka kelihatan tidak percaya, lalu tertawa sinis. “Yah, lihat dia. Dia benar- benar tidak takut dengan kita. Bagaimana kalau kita beri sedikit pelajaran hah?!?!” gadis itu, yang kelihatan paling beringas, menggosok kedua tangannya untuk pemanasan dan seolah siap melukai Sae-jin, mengangkat tangannya untuk menamparnya tapi sebuah tangan kekar menahan lengannya.

“Pelajaran apa?”

Mereka semua, termasuk Sae-jin terkejut, dan melihat ke arah sosok jangkung yang menahan lengan gadis itu.

            Kris menatap gadis itu dengan dingin dan tajam tapi cukup membunuh, wajah tampannya menegang dan hidung mancungnya mengernyit, anehnya, dia tidak meggunakan masker. Bola matanya memerah menunjukkan urat- urat. Sae-jin masih tidak percaya.“Y—Yi Fan.” Gumamnya, baru kali ini melihat ekspresi Yi Fan seperti ini, sangat mengerikan.

“Kris, Kris oppa?”

“Jangan panggi aku oppamu.” Katanya dingin dengan nada jijik, pegangan tangannya di lengan gadis itu sangat erat hingga membuat gadis itu meringis. “Aaaaa, sakit…”

“15 orang lawan satu? Begitu cara kalian bertengkar?” kata Kris lagi, menyeringai menakutkan. “Melukai orang yang akan menikahi idola kalian? Apa kalian pantas disebut penggemar? Tidakkah kalian lebih pantas disebut orang- orang gila yang beringas?” pegangan tangan Kris lebih kencang hingga Sae-jin bisa melihat tangan gadis itu memucat dan gadis itu menangis karena kesakitan dan takut, teman- temannya tidak berani menolongnya karena mereka juga takut, dan antara terpukau dengan ketampanan Kris. Kris benar- benar terlihat seperti monster hingga Sae-jin pun takut melihatnya, dan takut gadis itu terluka dan Kris terlibat masalah karenanya. “Yi Fan, hentikan—“

“Kau tidak akan menemukan apa- apa karena bertengkar dengannya. Kalau kau mau melukai orang, biar aku ajarkan caranya. Aku bisa membuat orang terluka,” Kris memiringkan tangannya dan gadis itu sekarang menangis sakit, “hingga dia berharap dia tidak usah hidup lagi,”

“Lepaskan, tolong—“

“Jadi kuberi kalian pilihan. Antara pergi meninggalkan kami dan hidup tenang dengan anggota badan yang utuh, atau kalian akan menyesali perbuatan kalian seumur hidup—“

Salah seorang dari mereka tiba- tiba mengeluarkan ponsel dan memotret kejadian itu tapi Kris mengambil ponsel itu dan melemparnya di ujung jalan, membuatnya hancur berkeping- keping membuat pemiliknya menjerit kaget.

“Lepaskan, kami akan pergi, tolong—“

“Dan kuharap ini terakhir kali kalian berfikiran datang kemari dan bahkan menyentuh sehelai saja rambutnya, karena aku benar- benar tidak keberatan mematahkan tulang orang.”

Kris mendorong gadis itu hingga dia hampir terpental, teman- temannya reflex melepaskan Sae-jin dan menangkap gadis itu. Mereka menarik gadis itu dan segera pergi secepatnya dari pandangan Kris karena pria itu benar- benar kelihatan marah dan bisa melakukan apa yang dia ancam. Kris masih memandang mereka dengan tajam dan ketika yakin orang- orang itu sudah pergi tatapan beringas Kris menghilang dan berubah menjadi khawatir. “Kau tidak apa- apa, apa mereka menyentuhmu?”

Sae-jin masih diam, seperti masih shock dan bingung, tapi dia menggeleng pelan. Terlambat, Kris menyadari tanda merah di pipi gadis itu hasil tamparan gadis itu. “Dia menamparmu? Sial—“ Kris seperti ingin lari mengejar gadis itu tapi Sae-jin menahan tangannya. “J—jangan,” katanya lemah, pipinya basah oleh air mata. “A—aku baik- baik saja. Jangan pergi.”

Kris terdiam. Hatinya tersayat melihat gadis yang dia cintai terluka seperti ini, dia sama sekali tidak pantas diperlakukan seperti ini.

Bila itu Kris, dia tidak akan membiarkan seorang pun menyentuh Sae-jin dan melukainya. Rasanya dia ingin menangis, tapi dia tidak ingin menangis di depan Sae-jin.

Karena Sae-jin membutuhkannya.

Karena walaupun seluruh dunia menyudutkan Sae-jin, Kris adalah orang yang akan melindungi Sae-jin dan tidak akan membiarkannya terluka. Dia telah berjanji pada dirinya sendiri mengenai hal itu.

Gadis itu terisak kecil dan tanpa berfikir panjang Kris menarik gadis itu ke pelukannya, mendekamnya erat. Gadis itu menangis di dadanya.

“Maaf,” bisiknya di telinga Sae-jin. “Aku benar- benar minta maaf.”

Sae-jin menggeleng tapi terus menangis.

            Kenapa Kris bodoh sekali? Di saat dia sibuk menikmati rasa sakit hatinya, gadis itu sebenarnya tengah mengalami masalah. Dia membutuhkan Kris tapi dia membiarkan Kris marah padanya karena dia merasa bersalah. Han Sae-jin yang selalu memikirkan orang lain lebih dulu daripada dirinya sendiri. Han Sae-jin yang sangat Kris inginkan menjadi miliknya.

Kenapa kita tidak bisa memiliki orang yang kita cintai, tak perduli betapa besar cinta kita padanya?

“Maafkan aku, Han Sae-jin, seharusnya aku melindungimu, maaf.” Bisik Kris lagi, membelai rambut Sae-jin dan menghirup aroma shampoo-nya yang harum. Sae-jin menggeleng tapi terus menangis dan bersandar di dada bidang Kris, membasahi kaosnya.

Kris memaafkannya, itu sudah lebih dari cukup. Kris kembali padanya, itu sudah lebih dari cukup.

 

            Kris berjalan sepanjang trotoar dengan Sae-jin menggantung di punggungnya, seperti anak gadis yang didukung ayahnya, bersandar dengan manja di pundak Kris.

“Bodoh.” Bisik Sae-jin. “mereka mengenalimu, image-mu bisa hancur. Apa yang kau pikirkan sih tadi?”

“Apa itu penting?” bentak Kris balik, “mereka hampir membunuhmu, kau tahu itu. Lagipula kau tadi ngapain sih? Kau bisa teriak dan orang- orang di kampung ini akan langsung menyelesaikan mereka.”

Sae-jin menghela nafas, dia tidak ingin melakukannya. Dia juga anehnya tidak membenci mereka, dan mengerti perasaan mereka. Tapi dia suka dengan ekspresi Kris yang marah karena mereka melukainya. Katakanlah dia egois, tapi dia memang merasa seperti itu.

“Bodoh.” Kata Sae-jin lagi.

“Mwo? Kau mau aku menurunkanmu di sini?”

“Aniya, aniya,” ujar Sae-jin, melingkarnya kedua tangannya di leher Kris, membuat pria itu diam- diam tersenyum. “Mu Yi Fan, kau keren sekali tadi, seperti kepala geng yang menakutkan.”

“Cih,”

“Mu Yi Fan,”

“Apa?”

Sae-jin menyandarkan kepalanya di pundak Kris yang keras yang nyaman, menghirup aromanya yang maskulin. “Ani, aku hanya senang kau memaafkanku.”

Kris terdiam. “Aku tidak punya hak menghakimimu, Sae-jin. Sesenang itukah kau?”

Sae-jin mengangguk, matanya tertutup dan dia setengah mengantuk. “Seperti menemukan boneka kesayangan yang hilang, boneka yang paling kusayang.”

“Mwo? Yah diam saja, kau berat sekali seperti babon.”

“Apa?” tanya Sae-jin, lalu menggerak- gerakkan kakinya membuatnya lebih berat dan langkah Kris jadi oleng. “Yah, Han Sae-jin!” tapi Sae-jin tertawa jahil dan tanpa sadar Kris juga tersenyum.

Kenapa setiap gadis itu di sekitarnya, apalagi dalam pelukannya? Dia merasa semuanya baik- baik saja dan bahagia? Han Sae-jin benar- benar membuat Kris seperti orang bodoh, hanya dia satu- satunya yang punya kuasa atas perasaan Kris dan tanpa sadar mengendalikannya. Dan dia tidak keberatan dengan itu.

 

Mereka kemudian terus berjalan, tak menyadari seseorang yang mengamati mereka dari kejauhan.

 

Cho Kyuhyun menyaksikan semua itu. Dia segera kemari ketika Sae-jin meninggalkan pesan kalau dia akan pulang karena kakeknya sakit, was- was kalau gadis itu diserang lagi. Dan sesampainya di sini dia menemukan pemandangan gadis itu berpelukan dengan seseorang yang dia kenal sebagai Kris, salah satu juniornya di perusahaan. Kyuhyun tidak tahu apakah dia terkejut atau bingung. Terkejut dengan kehadiran Kris dan bingung bagaimana hubungannya dengan gadis itu, lalu bertanya- tanya apa pantas dia merasa penasaran seperti itu?

Gadis itu menangis di dada Kris yang memeluknya dengan erat dan mencium rambutnya. Kyuhyun terkejut bahwa seorang Han Sae-jin juga bisa menangis sederas itu, selama ini dia selalu berusaha terlihat tegar di depan Kyuhyun. Kris menenangkan Sae-jin dan kemudian membopongnya di punggungnya sementara gadis itu bersandar di pundaknya.

Seolah- olah mereka sangat dekat.

Kyuhyun menyipitkan matanya. Kedua orang itu berbincang- bincang dan Kyuhyun melihat sesuatu yang berbeda pada Sae-jin, sisi dari Han Sae-jin yang belum pernah dilihatnya. Sae-jin selalu dingin dan berhati- hati di depan Kyuhyun, selalu berusaha terlihat mandiri dan tanpa ekpresi, membuat Kyuhyun sedikit takut dan was- was padanya.

Sae-jin yang sekarang di depannya bisa dengan lugas menunjukkan emosinya pada seorang pria, menangis di pelukannya, dan bahkan bersikap manja di pundak pria itu, seperti seorang gadis kecil pada ayahnya, bahkan menggodanya dan bercanda dengannya.

Seperti seorang gadis pada kekasihnya.

Kyuhyun mengerutkan keningnya, merasakan sesuatu yang aneh, yang dia artikan sebagai rasa penasaran.

Han Sae-jin, ternyata kau punya sisi seperti ini?

 

Uncategorized

The Story of Bear Family: Pt.5

PART 5

 

Title: The Story of Bear Family- Part 5

Rate: NC-21

Character: Cho Kyuhyun

   Kris

   Han Sae-jin

 

Kris duduk di pojok bis yang sudah berjalan dari 15 menit yang lalu, menatap jalanan malam di luar dengan tatapan hangat, kedua tangannya bersembunyi di dalam jaket tebalnya dan bibirnya membentuk lengkungan senyum dari balik masker. Setelah seminggu merasa uring- uringan dan membuat para member-nya frustasi, sekarang dia bisa bernafas lega dan hatinya merasa jauh lebih ringan. Dia sudah bertemu dengan Sae-jin dan meskipun gadis itu tidak mengatakan pada Kris apa alasan dia ‘menghindari’ Kris selama seminggu ini tapi setidaknya mereka tidak punya masalah apa- apa dan dia tidak ingin mendesak Sae-jin untuk bicara kalau gadis itu tidak mau.

Kris mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya dan membuka folder special yang baru saja dia buat sejak bus mulai berjalan.

Slide foto- foto Sae-jin di bazaar tadi bermunculan. Ketika gadis itu tersenyum manis sambil memegang permen kapas kesukaannya sambil tangannya yang satu membentuk tanda ‘V’, ketika wajahnya menunjukkan mimik lucu sambil berfoto dengan temannya yang memakai kostum Keroro, dan foto yang diam- diam Kris ambil ketika gadis itu sedang mengagumi boneka- boneka beruang kecil- kecil yang mereka jual di stan boneka, dan masih banyak foto- foto lainnya. Senyum Kris semakin mengembang, sedikit terbalik dengan tatapan matanya yang selalu dingin dan hampa.  Hatinya berdebar setiap memikirkan gadis itu.

Kali ini dia tidak akan membiarkan Sae-jin pergi ke mana- mana dan meninggalkannya lagi…

*

Petasan dan kembang api masih menghiasi langit di atas universitas Kyunghee malam itu, sepertinya panitia benar- benar bertekad membuat bazaar ini sama megahnya dengan acara tahunan Seoul lain dan para pengunjung benar- benar menikmatinya. Semuanya terus- terusan berseru kagum dan bertepuk tangan.

Sae-jin dan Cho Kyuhyun duduk di bangku kayu panjang di atap gedung, menatap lantai di depan mereka dengan hampa, tidak mengindahkan keadaan di bawah dan di langit atas mereka. Kyuhyun masih terlihat kaget, seolah-olah nyawanya baru saja dicabut sedangkan Sae-jin murung, dia toh memang tidak mengharapkan reaksi spontan dari Cho Kyuhyun. Fakta bahwa pria itu masih di situ sekarang dan tidak kabur saja sudah membuatnya bersyukur. Karena dia tidak tahu kapan lagi bisa bertemu langsung dengan artis ini.

Dan setengah jam kemudian mereka masih diam, tak mampu berkata apa- apa. Kyuhyun masih pada posisinya dan Sae-jin mulai mempertimbangkan apakah yang dia lakukan benar atau tidak, memberitahukan Kyuhyun yang sebenarnya. Apakah dia terbawa emosi? Dan sekarang emosinya berakibat cukup fatal pada seorang Cho Kyuhyun?

“Kau…” suara Kyuhyun membuat Sae-jin bergidik terkejut. “….yakin?”

Sae-jin melirik pria di sampingnya yang masih menatap hampa apapun di depannya, gadis itu mendengus. Dia toh memang tidak mengharapkan pria ini langsung percaya, tapi tetap saja pertanyaan Kyuhyun sedikit membuatnya tersinggung. “Aku juga berharap untuk ragu, tapi…”

“Aku tidak bermaksud menuduhmu berbohong,” kata Kyuhyun lagi, sadar dengan apa yang dia katakana dan jawaban Sae-jin. “B—berapa lama…?”

“Satu bulan,” jawab Sae-jin pelan. Mendengar Kyuhyun menanyakannya membuatnya terasa lebih nyata lagi dan hatinya terasa gelisah dan berdebar kencang. Apapun yang mereka rencanakan, dia tidak akan siap menghadapinya.

Tapi dia harus siap kan?

Keduanya masih menolak saling menatap, sepertinya sama- sama malu dan segan.

“Dan apa kau… baik- baik saja?”

Sae-jin melirik Kyuhyun pelan dan kembali berpaling, menyunggingkan senyum kecil lemah. Apakah Kyuhyun khawatir dengan keadaannya? Atau Sae-jin yang terlalu banyak berangan- angan. Sae-jin menarik nafas. “Aku baik- baik saja.” Kali ini giliran Kyuhyun yang melirik Sae-jin. “Maksudku, aku juga tidak tahu harus menjelaskannya,” Sae-jin berdecak dan menggumam.

“Dan dia…”

Sae-jin melirik Kyuhyun, bingung dengan maksud perkataannya. Mata mereka bertatapan sebentardan keduanya memalingkan wajah. Sepertinya Sae-jin mengerti apa maksud Kyuhyun. “Dia… baik- baik saja,” kata Sae-jin malu. Hening kembali menyelimuti mereka selama beberapa menit kemudian…

Entah untuk keberapa kalinya Kyuhyun membuang nafas, dia tahu dan dia mengerti pria di sebelahnya frustasi. Mereka berdua dihadapkan pada situasi di mana semua pilihan terasa berat. Karena dia percaya Kyuhyun bukan tipe pria yang dengan gampangnya akan menyuruhnya menggugurkan kandungannya. Dan tiba- tiba gambaran bahwa hal itu mungkin terjadi membuat Sae-jin merasa sedih. Bagaimanapun juga mereka adalah dua orang asing… dengan latar belakang luar biasa berbeda… yang terjebak dalam satu malam karena pengaruh alcohol…

Suara hening juga menyadarkan Sae-jin akan sesuatu.

“Kembang apinya sudah selesai…” gumam Sae-jin pelan, selain tidak sadar, keheningan yang berlama- lama itu mulai membuatnya tidak nyaman. Kyuhyun juga sadar dan sekarang melihat kepulan asap tipis di langit hitam yang tak berbintang, dan melirik Sae-jin yang terlihat sedikit kecewa. Tanpa sadar dia tertawa pelan dan miris, membuat Sae-jin tersadar dan tersipu malu. Oh iya ya, mereka sedang membicarakan masalah penting…

“Apa aku boleh jujur?” kata Kyuhyun, entah bagaimana gadis ini tidak membuatnya merasa terbebani atau tertekan. Masalah yang mereka hadaapi memang membuat tertekan, tapi gadis ini tidak. Dan naluri Kyuhyun biasanya benar. Well, kecuali mungkin pada beberapa orang. “Sesungguhnya… sekarang ini aku bingung dan tidak tahu harus berbuat apa…”

Sae-jin menatapnya selama beberapa detik sebelum berpaling dan mereka berdua kembali menonton objek yang saat ini paling menarik; lantai. “Aku juga…”

“Apa kau bisa memberiku waktu?” kata Kyuhyun dingin, tak menatap Sae-jin. “Aku butuh waktu untuk… berfikir tentang apa yang harus kau dan aku lakukan…”

Sae-jin diam sejenak dan menganggun pelan. “M—mianhae,” katanya lagi. Kyuhyun menatapnya. Sae-jin terlihat salah tingkah dan malu, penerangan minim di atap membuat wajah cantiknya terlihat sedikit samar tapi Kyuhyun tahu gadis itu sedang menahan tangis dan sejujurnya Kyuhyun menjadi tambah bingung harus berbuat apa. Dia tidak pintar membujuk orang, dan juga sedang tidak ingin membujuk orang karena sekarang ini dia juga bingung. Kyuhyun bisa menghitung dengan jari pembicaraannya dengan gadis asing ini.

“A—aku juga minta maaf. Saat ini aku hanya bisa mengatakan itu… tapi, terima kasih sudah memberitahuku…”

Sae-jin terlihat sedikit terkejut Kyuhyun mengucapkan terima kasih dan bukannya mengumpat karena Sae-jin sudah memberitahu Kyuhyun keadaannya dan otomatis membuat pria itu tidak ada pilihan selain terlibat di dalamnya.

“A—apa kau merasa dingin?” kata Kyuhyun, menyadari udara yang dingin dan saat ini dia terbungkus hangat dalam kaos tangan panjang hitam dan jaket sedanbgkan gadis itu hanya memakai kaos lengan pendek tipis dan celana jins. Kyuhyun membuka jaketnya dan Sae-jin buru- buru menggeleng dan menjauh. “A—aniyo, tidak—“ Sae-jin segera berdiri. “S—sebenarnya aku harus pergi…”

“Well, kau tetap membutuhkan ini.” Kyuhyun bersikeras, selain karena dia sudah kepalang tanggung membuka jaketnya untuk gadis itu, gadis itu juga terlihat pucat ringkih dan sepertinya sapuan angin bisa membawanya terbang. Sae-jin terdiam sebentar dan akhirnya mengambil jaket itu pelan dengan tangan bergetar, jantungnya berdegup kencang. Apa dia sadar dia sedang memegang jaket idolanya, Super Junior Cho Kyuhyun?

Sadar, Han Sae-jin… sadar sadar…

“Tapi topi dan masker ini tetap kupakai.” Kata Kyuhyun, mencoba sedikit berkelakar dan Sae-jin tertawa lemah, memperhatikan Kyuhyun yang segera memakai topi dan maskernya, yang sepertinya tidak terlalu menolong. Well, sama saja seperti Kris dan tiba- tiba sapuan rasa bersalah kembali menyerang hatinya mengingat sahabatnya itu. Pria itu benar- benar perlu berbaur di keramaian di bawah.

“K—kalau kau mau aku bisa menunjukkanmu lorong tua di belakang gedung—“

“Well, Sae-jin—ssi,” jantung Sae-jin serasa copot ketika Kyuhyun menyebut namanya dengan suara cokelat melelehnya sambil pria itu merapikan posisi topinya, “aku lebih dulu kuliah di sini daripada kau,”

“Oh, o—oke,” Sae-jin menunduk tersipu, tentu saja. Tangannya masih mencengkeram jaket hitam hangat itu, dia merasa terlalu malu dan segan memakainya langsung di depan Kyuhyun. “A—aku pergi dulu. J—jaga dirimu.” Kata Kyuhyun dingin dan berjalan pergi tapi dia berhenti dan berbalik lagi pada Sae-jin yang terkejut. “Aku rasa kau perlu tahu nomorku.” Katanya lagi, terlihat tidak punya pilihan lain. Sae-jin juga teringat, oh ya, nomor ponsel. Kyuhyun mengeluarkan ponselnya dan menanyakan Sae-jin nomornya. Wah, memang ponsel yang dia gunakan di foto yang sering kulihat! Sae-jin mencoba mendiamkan suara ‘penggemar’ dalam benaknya yang malam ini terlalu banyak berulah.

Sae-jin sepertinya lupa nomornya sendiri dan bibirnya susah payah memberitahukan digit angka nomornya. Beberapa detik kemudian ponsel Sae-jin berbunyi.

“Itu nomorku.” Kata Kyuhyun dengan ekspresi datar. “K—kalau ada apa- apa hubungi aku…”

Sae-jin mengangguk. “T—terima kasih.”

Kyuhyun berbalik dan berjalan turun, meninggalkan Sae-jin sendirian di atap, dengan tangan memeluk jaket hitamnya dan membiarkan aroma harum Kyuhyun yang tertempel di jaket masuk ke hidung hingga berputar putar di otak dan benaknya dan dia menyaksikan punggung Kyuhyun meninggalkannya melalui tangga gelap itu dan perlahan tidak terlihat sama sekali.

Suara keramaian di halaman besar sana tidak mengusiknya sama sekali dari kenyataan yang saat ini sedang sibuk dia cerna.

Dia telah memberitahukan Kyuhyun segalanya dan pria itu tidak bertingkah seperti yang Sae-jin takutkan, kebalikannya dia terlihat sangat tenang dan terkendali, meskipun tentu saja bingung dan terlihat takut. Tapi pria itu toh sepertinya tidak membencinya…

Benar kan?

Sae-jin menarik nafas dan mengambil ponsel dari saku celana jeans-nya dan melihat nomor yang tertera di layar… nomor telpon Cho Kyuhyun…

Sae-jin mengelus perutnya. “Benar kan? Aku… melakukan hal yang benar kan?”

*

“Wow… Sae-jin… wow wow wow wow…” mata Sunny melebar ketika mereka berjalan melewati jalan setapak di taman yang mengarah ke gedung asrama mereka.

“Yah.” Kata Sae-jin datar, merasa sedikit lelah. Kondisi fisiknya toh memang tidak terlalu bagus sejak beberapa hari lalu. “Wow.”

“Dan dia memberikanmu nomornya. Dan dia bahkan memberimu jaket ini…” kata Sunny, menyentuh jaket kulit hitam yang dipakai Sae-jin.

“Dipinjamkan, Sunny.” Koreksi Sae-jin dan dia memang sangat cakap menyembunyikan perasaan karena sesungguhnya saat ini hatinya berdebar sangat kencang dan aroma tubuh Cho Kyuhyun dalam jaket itu seperti membuat kepalanya dipenuhi kabut aneh. Dia suka aroma ini, bukan aroma parfum pria yang tidak terlalu dia suka tapi seperti aroma sabun pria yang wangi dan bersih. Dan jaket lumayan besar itu membungkus dengan hangat tubuhnya.

Astaga, apa yang dia pikirkan.

“Tapi tetap saja, artinya kau harus mengembalikannya, dan artinya dia mengharapkan kalian akan bertemu kembali…”

“Tidak ‘mengharapkan’, dan aku tidak tahu apa kami akan bertemu lagi atau tidak.”

Sunny mengangkat keningnya. “Maksudmu? Tentu saja kalian akan bertemu kembali.”

Sae-jin hanya memilih untuk bungkam. Entahlah… semuanya berjalan terlalu cepat dan sulit dipercaya. Beberapa bulan lalu dia dan Kyuhyun adalah dua orang asing tak saling kenal berada di dunia yang sepenuhnya berbeda.

“Geundae sebenarnya aku cukup terkejut dan kagum. Aku rasa kita benar- benar tidak salah mengagumi orang…” Sunny tersenyum pada Sae-jin. “Ah… aku harap Donghae oppa datang juga…” katanya sambil membuang nafas dan menatap langit malam.

“Sunny—ah, jeongmal gomawo…” Sae-jin berhenti dan memandang sahabatnya. Sejujurnya dia tidak tahu harus berbuat apa dan mungkin cepat menyerah bila Sunny tidak ada di sampingnya dan memberinya semangat. Sunny juga berhenti dan tersenyum sedih. “Well… kau juga akan melakukan hal yang sama kalau itu terjadi padaku kan?”

“Tentu.”

Sunny tersenyum. “Baiklah, aku harap kau menyimpan air matamu di kamar saja nanti…”

Sae-jin segera mengusap matanya. “Siapa bilang aku akan menangis?”

“Aigo!” Sunny mendorong kepala Sae-jin dan tertawa. Mereka berjalan bersama ke gedung dan heran melihat beberapa orang yang berlari masuk ke dalam dengan panik. Dan juga keributan di dalam gedung yang dapat mereka lihat dari jendela. Sunny dan Sae-jin bertatapan heran dan berjalan mendekat ketika tiba- tiba salah satu teman mereka yang baru saja keluar gedung terlihat terkejut melihat Sae-jin dan Sunny dan berlari mendekati mereka dengan wajah ngeri, terutama pada Sae-jin.

“Yah!!! Aku baru saja mau mencari kalian!!!”

“Apa yang terjadi?”

“Razia dadakan dari Ibu Asrama dan sekarang mereka sedang memeriksa kamar kalian berdua dan sepertinya…”

Rasanya jantung Sae-jin akan jatuh ke tanah. Dia tidak perlu mendengar kalimat selanjutnya…

 

Mereka bertiga berlari menaiki tangga, melewati koridor- koridor yang masih ramai dengan gadis- gadis yang sekarang dengan penasaran melihat mereka. Setiap beberapa bulan sekali akan diadakan razia dadakan dari Ibu Asrama Han dan beberapa ketua koridor asrama untuk menghindari para penghuni asrama membawa barang- barang yang terlarang. Pada dasarnya barang- barang yang terlarang hanyalah senjata tajam dan obat- obat terlarang, serta benda- benda yang berhubungan dengan pornografi dan melanggar aturan norma- norma.

Sae-jin yakin dia meletakkan foto hasil USG dan lembar tindakan aborsinya di laci meja belajar dan masalah kehamilan ini membuatnya lupa pada beberapa hal lain yang penting. Harusnya dia menyembunyikan foto USG dan lembar aborsi itu di tempat yang tidak gampang ditemukan, meskipun dia yakin para senior mereka akan menggeledah setiap sudut kamar. Dan ketahuan hamil oleh seisi asrama dan mungkin kampus tidak dalan daftar kemungkinan dekat ini yang siap dia hadapi. Jantungnya berdebar kencang dan larinya lebih cepat dari biasanya.

Benar saja sekarang ini koridornya ramai dengan penghuni asrama lain. Semuanya segera membelah membuat jalan ketika melihat Sae-jin dan Sunny datang dan semuanya memandang Sae-jin dengan beragam tatapan tapi yang pasti satu: ingin tahu. Sae-jin merasa wajahnya terbakar dan jantungnya berdebar kencang, tak menghiraukan kepalanya yang pusing dan keringat yang membasahi wajahnya. Dia berencana tidur malam ini, bukan menghadapi bencana.

Nyonya Han dan beberapa anak buahnya yang sekarang ini berada dalam kamar mereka yang cukup berantakan dan Sae-jin merasa isi perutnya terbang keluar ketika melihat tangan Nyonya Han yang memegang hasil foto USG dan lembar aborsinya bergetar dan gadis itu juga menatap Sae-jin dengan mata lebar dan bibirnya membentuk garis tipis. Anak buahnya yang sudah selesai menggeledah tempat tidur Sunny kini juga memandang Sae-jin dengan tatapan yang sama. Sae-jin berdoa sepenuh hati agar lantai tempatnya berdiri menelannya hidup- hidup agar dia tidak perlu mendapat tatapan itu, juga tatapan dari penghuni kamar lain. Mata Sae-jin berkaca- kaca. Nyonya Han berjalan menghampirinya dengan tangan menggenggam kertas itu erat- erat.

“Han Sae-jin, kantorku, sekarang.”

Rasanya seperti ada yang menyihir Sae-jin dan lidahnya terasa kelu, tubuhnya menjadi kaku. Wajah Nyonya Han yang memang tak pernah menyenangkan sekarang menjadi lebih menakutkan lagi dan mata sipitnya sesaat memandang Sae-jin dengan geli sebelum melangkah pergi meninggalkan ruangan diikuti anak buahnya.

“Lihat apa kalian? Bubar sana!” suara Sunny di belakangnya terdengar samar begitu pula dengan pintu kamar yang dibanting kasar.

“S—Sae-jin ah…”

Wajah ngeri Sunny berada di depannya dan mereka berdua bertatapan.

“S—Sunny o—ottokahji? Aku harus bagaimana…” suara Sae-jin bergetar dan ini pertama kalinya gadis itu terlihat gusar. Sunny sendiri terlihat susah payah menahan tangis dan takut, berusaha agar tidak membuat takut sahabatnya itu tapi mereka berdua sama ngerinya.

Tangan Sae-jin mengepal dan dua bulir air mata jatuh dari matanya. Kepalanya terasa berputar- putar dan jutaan pikiran buruk membuat hatinya terasa hancur, pikiran- pikiran yang dia tahu pasti akan terjadi, tinggal menunggu waktu.

Dan semuanya akan dimulai sekarang…

*

Kyuhyun duduk di depan meja bar, tidak memperdulikan dentuman lagu yang memekakkan telinga dan keramaian di sekelilingnya. Dia terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri.

Aneh. Sangat aneh. Dia pikir dia akan menjadi gusar dan kebingungan tapi sekarang dia merasa… terkendali. Seolah- olah ini bukan masalah besar, seolah- olah ini tidak berbahaya.

Ini adalah masalah yang sangat besar dan berbahaya.

Dia juga heran kenapa dia semudah itu percaya dengan perkataan gadis itu. Gadis itu tidak kelihatan seperti tipe wanita yang mudah mengarang cerita seperti ini; dan gadis itu juga kelihatan cukup tertekan.

Singkatnya, sesuatu dalam dirinya yakin Sae-jin tidak berbohong… dan gadis itu juga sebenarnya berharap semua ini hanya dusta.

Kyuhyun menutup mata dan meletakkan gelas wine di meja dengan sedikit lebih kasar.

Astaga, dia menghamili seorang gadis…

Apakah tidak ada masalah lain yang bisa dihadapkan padanya? Masalah yang tidak melibatkan seorang gadis yang tak dikenal dan juga bayi. Masalah yang tidak akan selain mempengaruhi kariernya, juga otomatis karier Super Junior dan mungkin agensi mereka. Masalah yang tidak akan memberikan dampak besar pada apapun yang dipilih.

Masalah yang tidak harus membuatnya merasa bersalah…

Apa yang dia pikirkan? Tegakah dia menyuruh Sae-jin menggugurkan kandungan? Gadis itu sepertinya tidak tega melakukan itu karena kalau dia sanggup dia pasti sudah menggugurkan kandungannya ketika tahu dia hamil.

Kyuhyun menggaruk kepala dan kembali meneguk wine dari gelas kecil itu ketika suara keramaian di belakangnya cukup menarik perhatian.

“Shin Sae-ryung! Shin Sae-ryung!”

Kyuhyun perlahan berbalik dan melihat silhouette yang dia kenali sedang menari dengan penuh hasrat di tengah panggung dengan lampu panggung menyorot padanya sementara yang lain mengelilinginya memberinya semangat agar tubuh itu terus bergerak tanpa henti. Mata Kyuhyun melebar dan sesaat dia teringat dengan Sae-ryung. Apa yang gadis itu lakukan di sini? Kyuhyun berdiri dan berjalan mendekati kerumunan berharap dia salah lihat tapi sayangnya tidak, gadis itu benar- benar Shin Sae-ryung dan dia gampang dikenali dari gaya menarinya yang penuh hasrat. Kyuhyun mengerutkan kening. Gadis itu seperti tidak sadarkan diri, menari tanpa henti dan tubuhnya bergoyang mengikuti irama Dj sementara para pengunjung lain memberi semangat dengan histeris karena melihat salah satu idola terkenal korea sedang menyanyi. Kyuhyun merasakan darahnya berdesir, itulah yang sering dia alami manakala Sae-ryung menari di atas panggung dan para penggemar prianya berteriak histeris seolah terhipnotis dengan gerakan lekuk tubuhnya yang sempurna: rasa cemburu yang harus ditahannya.

Tapi kali ini berbeda, gadis itu sedang menari di dalam klub malam dewasa dikelilingi pengunjung pria mesum yang mabuk. Gadis ini gila atau apa? Ayolah, apa masalah Kyuhyun harus bertambah?

Seolah memancing Kyuhyun salah satu dari penggemar memberanikan diri mendekati Sae-ryung yang sibuk menari dan seolah ingin ikut menari, yang membuat Sae-ryung terkejut dan bingung. Saat itu Kyuhyun sudah berjalan menembus kerumunan dan memegang tangan Sae-ryung dan menariknya pergi dari kerumunan diikuti sorakan dari para penonton. Kyuhyun tidak perduli apa yang akan terjadi setelah ini, gadis itu tidak tahu apa yang dia lakukan. Sae-ryung anehnya tidak terlihat terkejut, malah bersyukur Kyuhyun membawanya. Pria itu punya sedikit perasaan kalau Sae-ryung sebenarnya tahu Kyuhyun di situ.

“Kau pikir apa yang kau lakukan tadi?!?!” bentak Kyuhyun, melepaskan Sae-ryung ketika mereka berada di belakang klub, di tempat sepi. Sae-ryung memalingkan wajah dengan malu. Gadis itu memakai kaos tipis tak berlengan yang ujungnya diikat di sekitar perut, memamerkan absnya dan memakain celana jeans ketat hitam yang memperlihatkan lekuk paha jenjangnya.

“Apa yang kulakukan?”

“Menari seperti orang gila, kau tidak lihat bagaimana tatapan dari pria- pira kurangajar tadi?!”

“Mereka penggemarku.” Sae-ryung mengoreksi, kelihatan tersinggung. Kyuhyun terdiam dan mendengus. “Baiklah, terserah kalau begitu,” Pria itu berbalik dan pergi tapi Sae-ryung menarik lengannya.

“Oppa, kau mabuk.” Kata Sae-ryung serius. Kyuhyun diam dan melepaskan tangannya. “Yah,, sepertinya memang begitu. Baiklah, maaf karena sudah menyita waktu berkualitasmu dengan para penggemarmu. Aku pergi dulu.”

Kyuhyun berbalik pergi tapi kali ini Sae-ryung kembali memeluk Kyuhyun dari belakang. “Jangan pergi, jangan lari lagi.” Suara gadis itu terdengar sedikit lemah. Sepertinya bukan hanya dia yang mabuk, dan galau. Rasanya seperti sayatan di hatinya berdarah, luka yang selama ini sedang coba dia obati perlahan tapi belum bisa sembuh. Berjuta kali dia meyakinkan diri untuk melepaskan Sae-ryung tapi gadis itu tidak membantunya. Gadis itu tahu Kyuhyun mencintainya, sangat mencintainya, dan tak akan sanggup melepaskannya.

Dan itu membuat Kyuhyun marah…

Kyuhyun menutup mata dan menunduk, kedua tangannya dengan lembut menggengga tangan hangat Sae-ryung, merasakan kepala itu bersandar di belakangnya dengan manja dan lemah. Bisakah dia sekarang berbalik dan memeluk gadis itu juga? Dia juga merasa lelah dan ingin bersandar pada orang yang dia cintai…

Tapi…

“Aku hamil.”

Sebuah suara datang dari kepalanya dan mengagetkannya, seperti melempar handuk dingin di kepalanya. Jantungnya kini berdebar kencang kembali dan rasa gelisah itu mengganggunya. Wajah Sae-jin terbayang di benaknya…

Perlahan dia melepaskan pegangan tangan itu lembut, membuat Sae-ryung kaget. Kyuhyun berbalik dan memandang Sae-ryung datar.

“Jangan lakukan ini, Shin Sae-ryung. Kau yang memintaku untuk melepaskanmu, dan aku sudah melakukannya.” Sae-ryung terlihat sangat sedih dan terkejut, ingin rasanya Kyuhyun memeluknya dan… memintanya kembali mungkin?

Tapi sekarang semua berbeda.

Sae-ryung yang terkejut, hanya tersenyum pahit dan menunduk. “Aku berfikir… mungkin… mungkin saja itu bukan ide yang bagus. Mungkin bukan itu yang kuinginkan. Aku membutuhkanmu, oppa. Sangat membutuhkanmu.”

Kyuhyun tidak bereaksi, masih menatap gadis yang dicintainya dengan dingin.

“Aku ingin kau selalu berada di sisiku… mendukungku…” mata gadis itu berkaca- kaca, wajah cantiknya terlihat serious dan seperti memohon, membuat hati Kyuhyun hancur. Tidak, dia tidak akan sanggup membohongi Sae-ryung.

Mungkin ada bagusnya mereka berpisah.

“Bahkan bila kita tidak bisa seperti dulu… setidaknya kita bisa berteman kan? Kita bisa saling mendukung dan menjaga.”

Kyuhyun tertegun dan tertawa sinis. “Aku pikir kau sudah salah mengartikannya, Shin Sae-ryung. Aku memang pendukung nomor satumu, tapi saat itu aku juga adalah pacarmu. Dan alasan aku melakukan semua itu adalah karena perasaanku padamu. Tapi bukan berarti kau bisa menggunakan perasaanku sesukamu… kau menganggap hubungan kita mengganggu konsentrasimu dan kau meminta kita mengakhirinya tanpa memikirkan perasaanku. Aku bukan seperti itu Shin Sae-ryung, aku mencintaimu, tapi bukan berarti aku rela perasaanku kau permainkan. Saat kau membutuhkanku kau akan mepertahankanku tapi kemudian kau akan menganggapku penghalang dan melepaskanku. Aku kekasihmu, bukan alat pemuasmu. Sekarang semua sudah berakhir, Sae-ryung, dan kau punya jutaan pendukung di luar sana yang akan mendukungmu dan rela melakukan apa saja untuk memuaskanmu.”

Kyuhyun berbalik pergi meninggalkan Sae-ryung yang kelihatannya tak mampu berkata- kata. Kalimat Kyuhyun menusuk, sangat menusuk. Dan pria itu sedikit berharap Sae-ryung akan menangkal semuanya dan mengatakan bahwa Kyuhyun salah besar tapi gadis itu hanya diam tak menjawab, yang menekankan betapa benarnya Kyuhyun, dan itu membuat hatinya lebih berdarah lagi. Tapi pria itu berbalik, teringat sesuatu.

“Lagipula, Shin Sae-ryung, apakah kau benar- benar mencintaiku?”

Sae-ryung masih diam, tapi kelihatannya dia lebih kaget lagi. Kyuhyun tertawa sinis. “Selamat tinggal, Sae-ryung, bersenang- senanglah dengan penggemarmu.”

Kali ini dia benar- benar pergi meninggalkan Sae-ryung dan tak membiarkan dirinya ditahan gadis itu lagi.

*

 

Han Sae-jin berjalan gontai melewati koridor yang sepi. Tiga jam yang lalu dia pikir dia bahkan sudah tidak punya tenaga bahkan untuk bernafas tapi dia mampu ‘bertahan’ di ruangan Nyonya Han yang bagi para penghuni asrama adalah ruangan paling angker. Siapapun yang masuk ke dalam berarti membaut kesalahan besar atau kehebohan yang amat sangat.

Kali ini Sae-jin tidak tahu dia termasuk di kategori yang mana, sepertinya keduanya.

Dan dia cukup tahan banting juga, atau sesungguhnya dia sudah tidak punya tenaga untuk mengasihani diri atau semacamnya, suara Nyonya Han tidak menggelegir, wanita itu cukup mendesis dan Sae-jin sudah merasa dia adalah tahanan penjara paling bersalah.

“Besok kita akan menghadap Dewan Komite. Dan persiapkan dirimu untuk menghadapi mereka.”

Sae-jin berhenti dan bersandar di dinding, mengusap wajahnya. Dia merasa seperti mayat sedangkan dalam tubuhnya hampa tak berisi apapun. Setiap pikiran dalam benaknya tidak membuat perasaannya lebih baik, dia merasa sangat tertekan dan ingin mati saja…

“Aku kecewa denganmu, Han Sae-jin. Kau salah satu murid favoritku… dan aku yakin kakekmu juga akan sangat kecewa padamu…”

Sae-jin mengisak dan menutup mata. Rasanya disambar petir, bedanya dia masih utuh. Dia tidak mampu menghadapi ini, tidak sekarang.

Tiba- tiba dia mendengar suara kaki mendekat dan dia menengadah untuk menemukan sahabatnya yang terlihat sangat lelah dan khawatir, dan juga berurai air mata. “S—S—Sae-jin…” bisiknya. Sae-jin menggeleng dan menangis. “B—bagaimana?”

“M—mereka a—akan m—menyidangku b—besok…” Sae-jin berkata dengan suara tercekat dan setengah hilang, dadanya terasa sesak dan sakit. Dia takut, takut sekali. Sunny memeluk tubuh ringkih sahabatnya dan juga ikut menangis. “Sunny, aku takut. Aku sangat takut…”

“Aku akan menemanimu, aku tidak akan meninggalkanmu…” bisik Sunny menenangkan Sae-jin, menepuk pundaknya pelan sementara gadis it uterus menangis kecil dan terdengar kesakitan.

Tapi seperti apapun itu, Sae-jin lah yang tetap akan menerima semua dampak ini. Dan Sunny harap Cho Kyuhyun benar- benar akan bertanggung jawab pada Sae-jin.

 

“Kau perlu istirahat, Sae-jin…” keluh Sunny. Keduanya saat ini sedang tergeletak di ranjang Sae-jin sambil memandang atap kamar mereka dengan hampa.

“Aku tidak bisa tidur,” kata Sae-jin lemah, suaranya serak dan matanya merah. Dia lelah menangis selama satu jam penuh. Sunny menghela nafas.

“Hubungi dia,” kata Sunny. Sae-jin menutup mata. “Dia harus tahu apa yang menimpamu.”

Sae-jin tersenyum pahit dan sedih. “Untuk apa? Tidak aka nada yang berubah, Sunny…”

“Tentu saja ada. Kau tahu Il-Young sunbae-nim? Dewan sedang mempertimbangkan posisinya karena dia akan menikah, setidaknya itu memperbaiki statusnya…”

Sae-jin menggeleng. Tidak, sesungguhnya kemungkinan seperti itu tidak pernah muncul di kepalanya. Dia memang memberitahu Kyuhyun kehamilannya tapi dia tidak sampai memikirkan ke ‘pernikahan’… membayangkannya saja membuatnya bergidik. Atau jangan- jangan Kyuhyun mengira Sae-jin mengharapkan pria itu menikahinya?

Bukan itu masalahnya sekarang.

“Sunny… aku tidak tahu. Aku tidak tahu apa- apa dan aku tidak tahu harus berbuat apa.”

“Hubungi dia. Sae-jin, kau tidak bisa menanggung semua ini sendiri…”

“Dan aku juga tidak tahu bagaimana cara melibatkan dia…” kata Sae-jin lemah. “Sebelum ini kami bahkan tidak kenal satu sama lain, secara teknis,” koreksinya. “Aku hanya penggemarnya dan dia bahkan tidak tahu siapa aku. Kau tahu masalah apa yang akan menimpanya, masalah yang pasti akan dia hadapi kalau dia muncul dan mengaku sebagai ayah dari bayiku. Entah dia harus bertanggung jawab atau tidak tapi aku tidak mau menjadi penyebab dari musibah- musibah itu…”

“Karena kau terlalu baik hati.” Kata Sunny. “dan kau tak pernah mau melukai orang lain… pada akhirnya kau yang akan terluka. Tapi kau pasti rela menerimanya asalkan orang lain tidak terluka karenamu. Itu memang baik tapi kadang- kadang kau harus belajar bahwa orang lain harus terlibat dalam masalahmu… dan bahwa kau tidak bisa menghadapi semua ini sendiri…”

Sae-jin menutup mata. Tidak… apapun yang Sunny katakana dia tidak akan tega menyebabkan semua masalah ini pada Kyuhyun… katakanlah dia bodoh tapi dia tidak bisa.

 “Aku lelah… benar- benar lelah…” ujar Sae-jin. Besok akan terjadi badai dan di sinilah dia, merasa seperti sponge kering karena semua tenaganya dibuang. “Aku harap seseorang akan datang tengah malam dan menculikku lalu kemudian aku dibuang kedunia lain di mana apapun yang terjadi pada kita tidak akan ada norma dan lain- lain yang akan merendahkan kita dan membuat kita seperti orang bermasalah…”

Sunny tertawa sinis. “Seandainya dunia itu ada, aku pasti sudah lama pindah ke situ.”

Beberapa menit kemudian terdengar suara dengkuran pelan di samping Sae-jin menandakan Sunny sudah tidur. Sae-jin kini tertinggal sendiri dalam perasaan campur aduknya. Bulir air mata kembali jatuh di kedua sisi matanya… dia ingin tidur dan saat bangun besok yang terjadi mala mini hanya mimpi. Dia Han Sae-jin yang dulu, gadis sederhana yang ambisius dan segala hal yang menempel padanya. Cho Kyuhyun hanyalah idola yang jauh untuk digapainya dan dia senang dengan hal itu.

Tapi semua telah terjadi. Sae-jin menyentuh perutnya, sesuatu terasa geli di dalam dan dia merasa lebih buruk lagi, merasa bersalah.

Ada banyak kata ‘bila’ dalam pikirannya. Bila dia tidak pernah menggilai grup bernama Super Junior, bila dia tidak mengidolakan Cho Kyuhyun… bila dia tidak datang ke konser itu… bila dia tidak mencari mengelilingi gedung untuk mencari sahabatnya… bila dia tidak bertemu Cho Kyuhyun yang sedang galau dan patah hati… bila dia tidak memilih bergabung dan mendengarkan keluh kesah pria yang sedang mabuk… bila dia menekan rasa penasarannya dan menolak ketika Kyuhyun membujuknya meneguk wine itu… bila dia tahu dia sama sekali buruk menangani wine…

Bila dia tidak tidur sekarang, kemungkinan dia akan pingsan besok di depan Dewan Komite sebelum dia sempat ‘membela diri’. Sae-jin memutuskan untuk menutup mata dan berusaha untuk tidur, sepertinya dia memang terlalu lelah karena beberapa menit kemudian dia sudah tertidur.

Malam itu Sae-jin mendapat mimpi buruk lagi.

*

Satu jam lamanya dia duduk di kursi ‘panas’ itu, tangannya memainkan ujung kemejanya dengan gelisah dan perutnya terasa perih. Dia tidak masuk kelas dan langsung pergi ke ruangan Dekan, pertama kali dalam hidupnya membolos pelajaran; dia sangat yakin kejadian tadi malam sudah menyebar ke seluruh penjuru kampus seperti kabar senior mereka dulu. Dan dia belum siap menghadapi tatapan- tatapan dan bisik- bisik. Sunny sudah menawarkan akan menemaninya tapi dia tidak mau merepotkan temannya lagi.

Berbagai pikiran buruk yang sedari tadi malam mengganggunya tidak pergi juga. Dia tahu apa yang akan terjadi: mereka akan mempertimbangkan untuk menendangnya keluar di semester terakhirnya. Kakeknya akan tahu dan dia tidak bisa membayangkan dampaknya pada kakeknya.

Tapi apapun itu, keinginan untuk aborsi sekarang sudah lenyap, bila dulu aborsi masih berada di daftar kemungkinan, sekarang melakukan aborsi rasanya mustahil…

Apakah dia mulai perlahan mencintai janinnya? Mencintai bayi di dalam tubuh ini?

Bagaimana kalau Kyuhyun mengajukan aborsi?

Keringat jatuh dari pelipis Sae-jin padahal ruangan ini dingin sekali. Apapun yang akan dia hadapi, tiba- tiba melakukan aborsi rasanya sangat tidak mungkin…

Rasanya dia mampu menghadapi apapun asalkan dia tidak disuruh membunuh bayinya…

Dia tidak akan membunuh bayinya.

“Nona Han?”

Sae-jin bergidik dan tersadar sekarang Dekan dan beberapa dosen lain yang dia kenal duduk berjajar di depannya seperti hakim yang siap menyidang seoarang pidana. Sae-jin masih terkejut dan seperti tidak percaya. Selain dia tidak percaya dia akan duduk di kursi ‘panas’ ini dan menghadapi mereka… seperti murid bermasalah lain yang punya kisah akhir yang menyeramkan.

“Kami sudah menerima laporan dari Pengurus Asramamu… beliau menemukan sesuatu di kamarmu… benar?”

Sae-jin diam sebentar dan kemudian mengangguk pelan. Entah mengapa dia merasa sangat tenang. Dan pasrah.

“Apa itu… benar milikmu?”

Sae-jin diam lagi, dan mengangguk. Para dosen menghembuskan nafas kurang nyaman untuk menyampirkan keterkejutan mereka. Tidak diragukan, Sae-jin cukup ‘populer’ di kalangan para dosen karena dia selalu mendapat nilai tertinggi di setiap ujian, dan para dosen kadang melibatkannya di penelitian- penelitian mereka.

“Dan kau mengakui… kebenaran laporan itu?”

Sae-jin diam sebentar, dan mengangguk lagi.

“Han Sae-jin, sejak kapan kau tahu kau hamil?”

Deg. Kali ini Sae-jin tidak tahu dia harus jujur atau tidak, untuk sesaat.

“Sebulan yang lalu…”

Wajah mereka terlihat tegang dan rasa takut mulai menghampirinya. Dia tidak punya bayangan dengan pertanyaan mereka. “Lalu… apa… pasanganmu tahu dengan hal ini?”

Well, dia baru saja tahu tadi malam.

Sae-jin mengangguk.

“Dan, apa rencana kalian selanjutnya?”

“Kami…belum tahu.”  

“Apa pasanganmu adalah mahasiswa di sini?”

Sae-jin menatap Dekan perlahan dengan sedikit takut. “Siapa dia, Nona Han Sae-jin?”

Well, dia Cho Kyuhyun, anggota Super Junior yang mendunia yang sangat kalian banggakan dan bahkan fotonya ada di deretan bingkai- bingkai tokoh alumni Kyunghee yang kalian pamerkan di dinding kiri ruangan ini.

“Biar kami pertegas posisimu, Han Sae-jin—ssi,” Dekan kedengaran tidak sabar. “Kau adalah anggota mahasiswa yang menerima beasiswa penuh dari Dewan kami karena prestasimu yang selalu jauh di atas rata- rata dan kau salah satu mahasiswi teladan. Dan kau pasti sudah membaca persyaratan saat menerima beasiswa itu bukan?”

Sae-jin tidak mengerti bagaimana kata- kata mereka bisa tenang dan lembut tapi menusuk secara bersamaan. Dia bahkan lupa harus mengangguk atau menggeleng. Ini benar- benar berbahaya, sepertinya dia akan dikeluarkan…

“Katakan, Nona Han. Aku yakin ingatanmu yang brilian itu tidak akan mungkin lupa peraturan yang paling pendek dan utama.”

Sae-ran menarik nafas dan mencoba bicara senormal mungkin meskipun suaranya bergetar…

“Setiap mahasiswa yang akan menerima bantuan beasiswa harus mencapai nilai akademik di atas rata- rata… tidak terlibat dalam kegiatan illegal yang merugikan dan melakukan perbuatan yang melanggar norma masyarakat yang dapat mencoreng nama mahasiswa dan juga institute akademik universitas Kyunghee…”

“Well… sepertinya kau sangat mengingatnya dengan baik. Dan, kau tahu konsekuensi bila melanggarnya bukan?”

Sae-jin menutup mata. Bila melanggar bantuan beasiswa akan diputuskan… tiba- tiba dadanya terasa sesak dan dua bulir air mata membasahi pipinya…

“Kami bisa memutuskan beasiswamu sekarang, dan juga mungkin mengeluarkanmu dari sekolah ini, karena kau bukan mahasiswa reguler dan terhubung dengan Badan Komite Beasiswa.  Kau harus menghadapi Ketua Komite Beasiswa untuk membahas ini dank au harus bersiap untuk kemungkinan terburuk, karena mereka tidak suka tawar menawar. Dua kasus yang sama terjadi dalam sebulan dan aku tidak tahu harus menaruh wajahku di mana. Kita bersusah payah membuat fakultas kita menjadi salah satu yang paling berkelas dan patut di banggakan di universitas ini tapi kalian hanya memikirkan diri kalian di sini dan bertindak sesuka hati kalian tanpa mempertimbangkan bahwa bukan hanya kalian yang akan menerima dampaknya.”

Dua bulir air mata membasahi pipi Sae-jin dan dia hanya mampu menunduk. Semua yang dikatakan Dekan benar dan membautnya merasa lebih hancur dari sebelumnya. Seandainya dia bisa membuat dirinya satu- satunya yang akan menerima dampaknya dia rela melakukan apapun untuk itu. Kedua tangannya saling terikat.

“M—maafkan aku…” kalimat Sae-jin terdengar seperti bisikkan. Dia merasa sangat bersalah, dia pikir dia bisa menghadapi mereka. Tapi apa yang kau gunakan untuk melawan kalau kau adalah pihak yang bersalah?

“Seandainya maaf bisa mengubah segala hal, Nona Han. Dan aku kecewa kau tidak memikirkan semua konsekuensi ini sebelum kau melakukannya. Kau salah satu mahasiswa kebanggaan kami karena prestasi akademikmu sangat hebat dan kau adalah murid teladan. Tapi nila setitik bisa merusak susu sebelanga dan kami sebenarnya mengharapkan lebih darimu.”

Zleb. Rasanya seperti pisau yang bertubi- tubi menusuk jantungnya. Nila setitik merusak susu sebelanga… itukah yang dia perbuat sekarang?

Tapi seseorang dari barisan dosen mengacungkan tangan.

“Yah, Professor Kim?”

Professor Kim adalah dosen Anatomi dan Sae-jin kenal cukup baik dengannya. Professor Kim melirik Sae-jin sebelum berkata pada Dekan. “Menurutku, sebaiknya kita memberikan kesempatan pada Nona Han untuk menyampaikan pembelaannya.”

Terdengar bisikan di barisan dosen dan Sae-jin juga terkejut dengan usul Professor Kim, menahan keinginan untuk memeluk pria tua itu.

“Maaf, Professor Kim, pembelaan? Apa Anda yakin akan ada pembelaan yang bisa membantu Nona Han dalam kasus ini?”

“Seperti yang Anda sampaikan tadi, Nona Han cukup kita kenal dengan prestasinya yang selalu di atas standar. Apa yang dia lakukan memang melenceng dari konten perjanjian yang sudah dia setujui dan patut mendapat hukuman. Tapi, setidaknya kita harus mempertimbangkan posisinya, dan apakah hukuman yang akan dia terima cukup sepadan atau tidak. Nona Han sering mewakili kampus kita untuk perlombaan dan seperti yang Anda bilang tadi, nona Han juga salah satu mahasiswa yang bisa dibilang membantu mengharumkan nama fakultas kita. Yang Nona Han lakukan memang melanggar peraturan tapi gadis ini tidak melakukan tindakan kriminal dan merugikan orang lain. Apakah menurut kalian cukup adil bila kalian harus mengeluarkannya dari sekolah dan memutuskan beasiswanya karena kesalahan ini?”

Sepertinya yang Professor Kim katakana cukup berpengaruh dan Sae-jin menemukan setitik harapan yang membuat hatinya ringan. Raut wajah Dekan mulai perlahan berubah dan yang lainnya saling bertatapan dan beberapa berbisik, ada yang setuju ada juga yang masih keberatan.

Professor yang lain juga mengacungkan tangannya.

“Professor Han?”

Professor Han juga melirik Sae-jin sebentar. “Menurutku kita lakukan saja seperti yang terjadi pada Park Il-Young. Nona Park bisa tetap melanjutkan pendidikannya di sini setelah dia… dalam kondisi yang sesuai dengan syarat mahasiswa normal, meskipun beasiswanya dicabut.”

Deg. Beasiswanya dicabut? Dan bagaimana kira- kira dia akan melanjutkan kuliah yang biayanya sangat mahal ini?

Bisik- bisik setuju juga terdengar dan Sae-jin merasa harapannya sedikit terkikis.

Dekan mengerutkan kening, kelihatan sedikit bingung. Sementara Sae-jin masih memandang mereka semua antara berharap dan pesimis. Dia tidak bisa membiayai biaya kuliahnya, begitu pula dengan kakeknya. Uang yang mereka hasilkan tidak cukup untuk membiayai pendidikan Sae-jin.

“Aku akan memikirkan ini dan membahasnya bersama utusan Badan Komite Beasiswa. Untuk sementara ini kau diskors selama seminggu dan minggu depan kami ingin bertemu dengan walimu.”

Diskors? Seminggu?

“W—waliku?” Wali Sae-jin adalah kakeknya. Habislah dia.

Dekan terlihat heran Sae-jin bertanya. “Yah, tentu saja. Kami harus membahas ini bersama orangtuamu atau walimu karena mereka yang bertanggung jawab denganmu.”

Mulut Sae-jin menganga. Dia bahkan tidak sempat berkata apa- apa dan hanya mampu menyaksikan Dekan dan para dosen meninggalkan ruangan hingga hanya Sae-jin tersisa seorang diri. Tubuhnya menegang dan perutnya terasa melilit. Seperti jatuh dan tertimpa tangga dan tangga lain datang menimpa.

Rasanya masalah tidak pernah habis.

                                                                                                *

Sinar matahari dari luar tiba- tiba mengganggu matanya. Kyuhyun berjengit dan perlahan membuka matanya, suara gorden dibuka dan senyum Lee Hyukjae muncul di depan wajahnya.

“Morning sunshine…”

“Eish…” Kyuhyun mengumpat dan mendorong wajah monyet yang tersenyum polos itu sekali dorong hingga Eunhyuk jatuh di sampingnya. “Yah!” protes Eunhyuk. “Berterima kasihlah sedikit. Kau pikir kau tidak berat, dan kau hampir muntah di kaosku. Berapa galon wine sih yang kau habiskan?”

Kyuhyun tidak berkomentar dan hanya memegang kepalanya yang pusing. Dia tidak pernah semabuk ini, toleransinya terhadap wine adalah yang paling tinggi dibandingkan member lain. Yang pasti dia ingat dia minum sangat amat banyak tadi malam, pertama kali seumur hidupnya.

Oh ya, seseorang tengah hamil anaknya.

Kyuhyun menghela nafas dan timah berat kembali mengisi perutnya. Kenapa dia sangat tenang tadi malam dan sekarang dia seperti baru tersadar masalah apa yang sedang dihadapinya?

“Yah, kau tidak punya schedule?” tanya Eunhyuk yang masih ‘setia’ berada di kamar itu meskipun Kyuhyun jelas- jelas menunjukkan ketidakinginannya akan kehadiran orang lain. Kyuhyun menarik nafas berat dan menggeleng. Hari ini dia bebas, dan dia berjanji akan mengunjungi orangtuanya.

“Bagus, aku juga. Hari ini kau mau tidak—“

“Tidak bisa—“ kata Kyuhyun dan berdiri, berjalan sedikit uring- uringan ke luar kamar mencari air minum, meninggalkan Eunhyuk dengan wajah terluka.

“Cih, bocah itu kenapa sih?” Eunhyuk mencibir, Kyuhyun memang tidak terkenal ekspresif tapi setidaknya dia tidak pernah bertingkah sedingin ini pada siapapun, seperti bom yang mudah meledak. “Sepertinya sejak putus dengan Sae-ryung dia jadi seperti zombie.”

 

“Kyuhyun—ah, tambah sup kepitingnya,” Nyonya Cho mengambil mangkuk kecil di samping piring Kyuhyun dan meletakkan sesendok sup besar di mangkoknya. Kyuhyun menggumamkan terima kasih dan menyendokkan nasinya lagi dengan sedikit kurang bersemangat. Sesungguhnya nafsu makannya sama nihilnya dengan mood-nya tapi ibunya sudah menghabiskan waktu memasak semua masakan kesukaannya. Akhir- akhir ini dia terlalu sibuk dan cukup lama tidak bertemu orang tuanya yang cukup kesepian sejak kakaknya Ahra meneruskan kuliahnya di London.

“Kau tidak apa- apa, kau kelihatan sakit…” kata ayahnya terlihat khawatir. Kyuhyun memaksakan senyum dan menggeleng. “Kau sangat pucat…” kata ibunya heran.

“Aniyo, hanya sedikit lelah.” Kyuhyun tersenyum.

“Kalau lelah istirahatlah setelah ini. Aigoo schedule-mu lebih padat dari presiden,” ibunya berkomentar membuat Kyuhyun tertawa. Kyuhyun merasa bersalah harus menghancurkan mood makan siang yang harusnya riang dan hangat ini. Dia cukup lama menantikan saat- saat dia mana mereka bisa makan bersama seperti dulu, hal yang sangat jarang dia lakukan karena jadwalnya yang sangat padat. Tapi pikirannya terlalu kacau dan perasaannya tidak enak.

Sialnya dia terus memikirkan masalah itu… dan gadis itu… dan apa yang akan dia lakukan. Dia bahkan mulai memikirkan beberapa rencana gila dan mobilnya hampir menabrak tiang listrik di pinggir jalan. Gila memang, dia bahkan tidak mengenal gadis itu.

Setelah makan siang Kyuhyun memutuskan membantu ayahnya membersihkan stik golf-nya sementara ibunya sibuk di telpon bersama Ahra. Kyuhyun memperhatikan ayahnya yang dengan saksama membersihkan beberapa stik golf berbagai model dan ukuran itu dengan saksama karena itu barang kesayangannya.

Kyuhyun sangat ingin menjadi seperti ayahnya. Ayahnya sangat bijaksana, mendidik kedua anaknya dengan keras tapi memperlakukan mereka dengan lemah lembut dan menjaga mereka. Ayahnya mampu membuat keluarga mereka utuh dan bahagia sampai saat ini dan rela mengorbankan keinginannya melihat Kyuhyun menjadi pengacara demi kebahagiaan anaknya.

Sekarang itu menjadi sebuah pertanyaan: mampukah dia?

Dan rasa takut serta gelisah itu menyerapnya. Bagaimana reaksi orang tuanya mengetahu kalau Kyuhyun menghamili seorang gadis? Apa yang akan mereka lakukan? Sebelumnya Kyuhyun mengkhawatirkan media, fans, Super Junior, agensi, dan lain- lain.

Tapi kemudian dia sadar yang paling dia takuti adalah melihat wajah kecewa kedua orangtuanya. Melihat bahwa putra yang selama ini mereka banggakan mencoreng nama mereka. Kyuhyun menutup mata dan hatinya terasa sakit.

Tapi…

Maukah gadis itu menggugurkan kandungannya?

Sial, Cho Kyuhyun kenapa pikiranmu bejat begini?

“Apa yang kau pikirkan?” suara ayahnya yang berat mengagetkannya. “Oh, aniyo…” Kyuhyun menggeleng dan tertawa kecil. “Appa…” katanya dengan nada kasual seperti pembicaraan lainnya.

“Bila kita membuat kesalahan… bagaimana caranya untuk membuat situasi baik seperti semula?”

Ayahnya menatap Kyuhyun. “Memangnya kenapa?”

“Tidak, hanya bertanya saja…”

Ayahnya berfikir sebentar, berhenti membersihkan stik golfnya. “Saat kau berbuat kesalahan, situasi tidak akan seperti saat sebelum kesalahan itu tidak terjadi. Kau hanya bisa memperbaiki keadaan agar tidak semakin buruk, yaitu dengan memperbaiki kesalahan itu sendiri…”

“B—bagaimana kalau keadaan itu tidak bisa diperbaiki?” Kehamilan tidak bisa diperbaiki. Meskipun dengan cara aborsi.

Ayahnya menarik nafas dan anehnya, kemudian tersenyum hangat pada putra bungsunya. “Benarkah? Benarkah tidak bisa? Kalau kau mau, kau bisa melakukannya. Tidak ada alasan seseorang tidak bisa memperbaiki kesalahannya kalau dia mau. Selalu ada cara.”

Bagaimana kalau begitu? Aborsi? Atau… bertanggungjawab?

“Satu- satunya alasan seseorang tidak bisa memperbaiki kesalahannya adalah bila orang itu tidak menyesal dan memutuskan untuk tidak mengakui kesalahan itu. Bila orang itu tidak mau bertanggungjawab, orang itu akan melakukan kesalahan yang lebih buruk lagi dan sepanjang sisa hidupnya dia hanya tahu berbuat salah. Tapi kalau kau memperbaikinya, itu seperti kesempatan kedua untuk ‘mengembalikan’ hidupmu ke jalan yang benar. Sesuatu yang aku tahu adalah sifat anakku Cho Kyuhyun, sifat yang aku turunkan.”

Deg! Kyuhyun tertegun. Ayahnya tahu dia menghamili anak orang?

Oh tidak, tapi ayahnya pasti tahu pertanyaan Kyuhyun adalah untuk dirinya sendiri.

“Bagaimana bila… memperbaikinya membutuhkan pengorbanan besar…?”

“Apa kalau begitu kau akan memilih berbuat jahat?” tanya ayahnya lagi. Kyuhyun terdiam. Tidak, dia bukan orang seperti itu.

“Satu- satunya alasan seseorang tidak bisa memperbaiki kesalahannya adalah bila orang itu tidak menyesal dan memutuskan untuk tidak mengakui kesalahan itu. Bila orang itu tidak mau bertanggungjawab, orang itu akan melakukan kesalahan yang lebih buruk lagi dan sepanjang sisa hidupnya dia hanya tahu berbuat salah. Tapi kalau kau memperbaikinya, itu seperti kesempatan kedua untuk ‘mengembalikan’ hidupmu ke jalan yang benar. Sesuatu yang aku tahu adalah sifat anakku Cho Kyuhyun, sifat yang aku turunkan.”

Sepertinya malam ini dia perlu minum wine lagi.

*

Sunny mengawasi sahabatnya yang dengan murung memasukkan beberapa pakian dan peralatan- peralatan pentingnya ke dalam tas besar di atas tempat tidur. Gadis itu dihukum selama seminggu tidak masuk sebelum mereka memutuskan nasib Sae-jin. Dia juga tidak tahu apa yang terbaik bagi Sae-jin: gadis itu sekarang menjadi bahan pembicaraan seantero kampus karena kehamilannya dan kedatangan Sae-jin dikelas sama saja memberi umpan daging segar pada segerombolan singa kelaparan. Sae-jin tidak akan perduli, Sunny tahu itu. Sae-jin bukan tipe orang yang akan depresi karena hal seperti itu, tapi tetap saja rasanya tidak nyaman dan Sunny tidak ingin kehamilan Sae-jin terganggu.

Dan dia tidak akan tahan mendengar sahabatnya digunjingkan orang.

Tapi tetap saja sedih memikirkan gadis itu dihukum dan meninggalkan asrama. Sae-jin baik, pintar, dan tidak pernah merugikan orang lain. Mengapa dia harus menanggung semua ini sendirian?

“Semua sudah siap?” tanya Sunny enggan.

“Neh, tinggal peralatan mandiku,” gumam Sae-jin datar, merapikan pakaian dalam tasnya.

“Sae-jin, apa kau sudah menghubungi dia?”

“Lee Sunny, kau sudah berjanji padaku kau tidak akan menanyakan hal itu lagi. Dan aku sudah bilang padamu tidak ada pengaruh apa- apa menghubungi dia.”’

“Oh, jadi kau benar- benar berencana akan menanggung semua ini sendirian?” nada Sunny meninggi dan terdengar sedikit kesal.

“Aku tidak bilang begitu, aku hanya belum tahu apa yang harus kulakukan.”

“Mengingat sifatmu yang sangat seperti ibu peri itu aku rasa mungkin saja kau berpikiran seperti itu.”

“Aku belum tahu!” kata Sae-jin sedikit kesal. Sudah cukup dengan apa yang harus dihadapinya tadi siang, dan sahabatnya ini terus saja menyuruhnya menghubungi Kyuhyun. Dia sudah cukup banyak tekanan hari ini. “Dengar, maafkan aku. Aku hanya minta kau mengerti posisiku, memutuskan segalanya tidak semudah itu… aku juga tidak mau mengejarnya karena ini juga berat baginya jadi tolong jangan tanyakan itu lagi.”

Sunny tidak menjawab, hanya memandang tajam sahabatnya. Dia sangat khawatir pada Sae-jin kadang- kadang. Gadis itu terlalu memikirkan orang lain dan berakhir dengan melukai dirinya sendiri.

Sae-jin menghela nafas dan dengan gontai berjalan ke kamar mandi, mengumpulkan peralatan mandinya. Sunny memperhatikan punggung Sae-jin yang masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintunya.

Gadis itu kemudian melirik ponsel Sae-jin di atas meja belajar.

 

 

 

Sae-jin berdiri di depan toko roti kakeknya, memegang tas baju besar. Angin malam menusuk- nusuk kulitnya dan matanya terasa sangat perih setelah menangis berjam- jam di dalam toilet umum.

Dia mengalami hari terberat dalam hidupnya. Kedua terberat setelah dia tahu dia hamil. Mulai dari sidang, tatapan- tatapan dan bisikkan dari teman- teman di kampus karena dia toh tidak terlalu berharap insiden kemarin tidak akan bocor, dan juga fakta bahwa dia dihukum tidak masuk seminggu.

Dan bahwa dia harus memberitahu kakeknya kalau dia hamil.

Suasana di dalam toko sangat ramai dan hangat, para orang tua berkumpul di dalam. Sae-jin sangat senang pulang dan bertemu orang- orang ini. Dia memang tidak punya kasih sayang orang tua tapi kasih sayang kakeknya melebihi apa yang bisa diharapkannya, dan sekarang kasih sayang belasan pasangan orang tua di kompleks pertokoan itu membuat hidupnya lengkap.

Entah apa yang akan terjadi saat mereka mengetahui kehamilannya.

Apapun itu, dia tidak boleh menangis sekarang. Karena itu dia menghabiskan beberapa jam di toiet umum dan keluar setelah yakin keadaannya cukup baik. Dan juga saat penjaga toilet menggedor- gedor pintunya. Sae-jin menarik nafas panjang dan membuka matanya lebar- lebar, berusaha menampakkan wajah ‘tidak-ada-apa-apa’nya dan melangkah masuk ke dalam toko roti, menyapa para kakek dan nenek di dalam yang kaget tapi senang dengan kehadirannya, dan bertanya kenapa dia membawa tas baju, yang dijawab Sae-jin karena asramanya sedang diperbaiki. Dia cukup bersyukur tempat tinggal kakeknya ini cukup jauh dari kota Seoul dan dia tidak harus khawatir kalau- kalau mereka tahu yang sebenarnya.

“Haraboji!” Sae-jin memeluk kakeknya yang sedang bercerita dengan beberapa kakek lain sementara menghitung uang di meja kasir.  “Oh Sae-jin—ah!” kakeknya terlihat paling kaget dan paling senang melihatnya, yang membuat hatinya terasa lebih hancur lagi.

“Yah, tumben kau datang! Dan kenapa kau membawa tas sebesar itu?”

“O—oh, asramaku sedang diperbaiki jadi k—kami sementara pulang ke rumah. Lagipula aku juga rindu padamu haraboji!”

“Eish, hentikan mulut manismu!”

“Yah, haraboji!” protes Sae-jin dan memeluk kakeknya yang hangat, sesungguhnya dia ingin menangis. “Aigoo, liat dua orang ini, membuatku cemburu saja…” kata kakek lain yang duduk di depan meja, menatap mereka dengan iri. “Cucuku sudah lama tidak menjengukku…”

Kakek Sae-jin menjulurkan lidah dengan bangga dan Sae-jin menahan keinginan untuk menangis dan melukai dirinya karena sudah mengecewakan orang paling dia sayangi dan juga sangat menyayanginya.

Sae-jin meninggalkan keramaian di bawah dengan alasan lelah dan meletakkan tas besar dan tas selempangnya di meja belajarnya, menghela nafas berat. Tiba- tiba perhatiannya tertuju pada poster Kyochon Chicken Super Junior yang menempel di dinding depan meja belajar dan dia segera menariknya; seperti reaksinya setiap menemukan sesuatu yang berhubungan dengan Super Junior yang belum dia cabut dan simpan. Seolah- olah itu membantu, nyatanya semuanya menjadi jauh lebih serius dan di luar perkiraan.

Ditatapnya wajah Kyuhyun yang sedang tersenyum di poster. Senyum yang sangat tampan. Dan sekarang dia bertanya- tanya apakah Kyuhyun sedang tersenyum seperti itu.

Sudahlah, dia terlalu lelah berandai- andai.

Sae-jin mengambil ponsel dari sakunya, dia mematikan suara ponselnya agar tidak mengganggunya dan cukup mengagetkan mendapat 18 panggilan tak terjawab muncul di layarnya. 2 panggilan dari Sunny dan…

Sae-jin tertegun, itu insial nama Kyuhyun di ponselnya. Kyuhyun menghubunginya? 16 panggilan itu semua darinya. Apa yang dia inginkan? Apa dia sudah menemukan jawaban dan ‘ide’? Tiba- tiba suara Sunny terngiang- ngiang di kepalanya…

“Telpon dia… katakana padanya yang sebenarnya…”

Sae-jin menutup mata. Lalu apa? Menuntut Kyuhyun menikahinya? Dia bukan siapa- siapa Kyuhyun dan Kyuhyun adalah artis terkenal,

Dan Kyuhyun mencintai gadis lain…

Atau sebaiknya dia mendengar usul Kyuhyun dulu? Tapia apa yang akan pria itu usulkan?

Apa dia akan meminta Sae-jin menggugurkan kandungannya? Tidak mustahil Kyuhyun akan memintanya. Atau Kyuhyun akan meminta Sae-jin membesarkan anak itu tapi menyembunyikan status ayahnya? Atau mungkin pria itu akan menikahinya dan rela menghadapi semua masalah yang akan datang? Rasanya itu jauh dari kenyataan. Dan lagipula Sae-jin tidak ingin menjadi beban bagi Kyuhyun, meskipun ini bayinya. Katakanlah dia bodoh, tapi dia tetap tidak mau menyusahkan orang lain.

Sae-jin mematikan ponselnya dan memasukannya ke dalam laci. Pikirannya masih kacau dan dia tidak siap bicara dengan Cho Kyuhyun.

Sae-jin berbaring di tempat tidur dan memandang langit malam yang indah dari jendela di samping tempat tidurnya…

Malam itu mimpi buruk kembali mengganggunya.

*

“Semuanya 2000 won, terima kasih,” Sae-jin menerima uang dari pembeli dan menyipannya di mesin kasir.

“Yah, Han Sae-jin, apa yang kau lakukan? Kenapa kau belum ke kampus?” protes kakeknya yang baru datang. “Oh, sebentar lagi aku pergi…” kata Sae-jin, berpura- pura melihat jam tangan. “Pergi saja sekarang, nanti kau terlambat. Kampusmu sangat jauh…” desak kakeknya yang kini berdiri di depan mesin kasir. Sae-jin diam sebentar lalu mengangguk. “K—kalau begitu aku pergi dulu…”

Sae-jin mengambil tas selempangnya dan meninggalkan toko.

Ini sudah hari keempat dia diskors dan berbohong pada kakeknya bahwa asramanya sedang dalam perbaikan. Dia merasa sangat berdosa setiap kali harus membohongi kakeknya tapi dia belum siap mengatakan yang sejujurnya dan membayangkan reaksi kakeknya.

Kenyataannya dia semakin terdesak dan kakeknya harus secepatnya menghadap Dekan.

Sae-jin duduk di terminal bus, mendengarkan lagu sambil melamun, aktivitasnya beberapa hari terakhir ini, sebelum kemudian pergi berkeliling dan kembali saat sore.

Kris sedang sangat sibuk dengan persiapan album baru mereka dan dia tidak menghubungi Sae-jin beberapa hari terakhir ini yang bagi Sae-jin cukup ‘bagus’ karena dia tidak ingin memikirkan masalah baru mengenai bagaimana Kris akan tahu masalah ini. Suatu saat nanti Kris pasti akan tahu, tapi tidak sekarang.

Sae-jin sengaja meninggalkan ponselnya di rumah karena dia sedang tidak ingin berhubungan dengan siapa- siapa, bahkan tidak dengan Cho Kyuhyun. Bisa dibilang dia sekarang masih kebingungan, dan tidak tahu harus memililh jalan mana yang benar untuknya. Meskipun dia beranda- andai apa Kyuhyun berusaha menghubunginya lagi…

Suara bus yang datang membuyarkan lamunannya dan Sae-jin segera berdiri, menunggu bus berhenti dan masuk ke dalam. Hari ini ada satu tempat yang ingin dia datangi.

 

Rumah Asuh Yongsan. Sae-jin menghabiskan setengah jam terakhir duduk di pagar pendek yang membatasi rumah asuh itu dengan gedung di sebelahnya. Benaknya berperang apakah harus masuk atau tidak, dan dia mulai mempertanyakan kewarasannya datang kemari.

Sudahlah, dia sudah menempuh perjalanan jauh kemari.

Rumah Asuh Yongsan adalah panti asuhan dan tempat penampungan yang dibangun bagi anak- anak yatim piatu atau anak- anak yang terbuang dan para ibu- ibu hamil yang terlantar. Kebanyakan dari mereka adalah remaja- remaja muda yang dibuang orangtua mereka, atau remaja sebatang kara, korban perkosaan dan juga beberapa orangtua.

Di sini adalah tempat tinggal Sae-jin dulu sebelum diangkat oleh sepasang suami istri Han.

Gadis itu tersenyum pada beberapa penghuni di situ yang tersenyum balik tapi bingung melihatnya. Anak- anak membentuk beberapa kelompok dan bermain di taman; Sae-jin juga melihat beberapa gadis seumuran dengannya sedang bercengkerama dan tonjolan di perut mereka menjelaskan bahwa mereka semua tengah mengandung. Dia ingat dulu ketika dia masih sangat kecil, semua orang takut mendekatinya karena dia pendiam dan tidak suka diganggu. Sae-jin lebih suka menyendiri dan merangkai bunga di taman dan menonton anak- anak lain bermain dengan senang. Para pengasuh sedikit berhati- hati padanya karena di umur sedini itu dia bisa dibilang terlalu pendiam.

Gedung ini kelihatana lebih modern dari sebelumnya meski beberapa tempat tidak bisa diubah dan dia merasa heran menemukan dirinya merindukan tempat ini. Kakeknya bisa marah besar kalau tahu dia datang ke sini.

Beberapa dari teman kecilnya masih terlihat di situ, mereka saling menyapa meskipun mereka tidak terlalu mengenalnya karena dia masih sangat kecil ketika diangkat oleh orangtuanya, dan meskipun dia cepat kehilangan orangtua lagi karena orangtuanya meninggal dalam kecelakaan maut.

Sae-jin pernah bertanya- tanya mengapa dia bisa berada di panti asuhan… apakah orangtua kandungnya meninggal? Ataukah mereka tidak menginginkannya? Kalau iya apa yang membuatnya tidak diinginkan, tapi kemudian hidupnya mulai berubah dan dia terlalu sibuk hingga tidak memikirkan hal itu lagi. Dan lagipula untuk apa memikirkannya? Kenyataannya dia berada di panti asuhan, dan tidak ada lagi yang mencarinya, berarti orangtuanya antara telah meninggal, atau memang tidak menginginkannya, dan untuk apa mencari orang yang tidak menginginkanmu?

Memikirkan itu membuat perasaan Sae-jin seperti sesak lagi, dia pikir dia telah mampu untuk tidak memperdulikan hal itu.

Sae-jin berjalan mengelilingi koridor lantai satu hingga menemukan ruangan kamar lamanya. Dulu dia tidur bersama 10 anak lain di kamar sedang itu dan biasanya besok pagi ada yang menangis karena satu anak ngompol di baju tidur anak yang lain. Mereka akan berdoa bersama dan Sae-jin tidak pernah memanjatkan doa apapun selain: biarkan ibu dan ayahku menjemputku. Dan setelah dia diangkat oleh orangtuanya dan hidup dengan kakeknya, doa itu tak pernah ada lagi. Ruangan itu sekarang sudah menjadi tempat menyimpan peralatan. Sae-jin kemudian berjalan menuju ke ruang makan yang sekarang sudah menjadi ruang alat musik.

Gadis itu kemudian berjalan menuju ke lantai 2 dan menemukan ruangan kecil yang dipenuhi bayi- bayi. Mereka adalah bayi- bayi yang dititipkan di rumah asuh ini, entah dititipkan dari rumah sakit atau dibawa oleh orang. Sae-jin berdiri di depan kaca dan tersenyum melihat bayi- bayi polos dan mungil itu tertidur.

Sensasi aneh terasa di perutnya. Dia sering berfikir bagaimana dia bisa berada di rumah asuh itu… apakah seseorang membawanya atau rumah sakit menitipkannya? Dan dia merasa marah setiap mengingat ada orang tua yang membuang anak mereka, atau membunuh mereka. Terkadang dia juga berfikir bagaimana perasaannya pada orangtua yang membuangnya, jika dia benar dibuang.

Tapi sekarang dia berada pada posisi ‘orang tua’… karena dia sedang mengandung anak yang tak berdosa. Anak ini tidak punya urusan dengan bagaimana Sae-jin bisa mengandungnya, juga masalah yang akan dihadapi Sae-jin dan Kyuhyun.

Tegakah dia membunuh anaknya? Tegakah dia membuang anaknya? Tegakah dia membiarkan anaknya mengalami nasib seperti dirinya dulu, atau anak- anak yang dibuang di sini karena tidak diinginkan orangtuanya?

Sae-jin menyentuh perutnya.

Tidak seharusnya dia sebingung ini… tidak seharusnya dia meragukan anaknya.

“Permisi,”

Sae-jin tersentak dan berbalik, mendapati seorang wanita tua tersenyum padanya. Sae-jin ingat siapa wanita ini, dia adalah pengurus rumah asuh ini dan dia terkejut wanita ini tidak jauh berbeda dengan memori kecilnya dulu. Sae-jin tersenyum, bertanya- tanya apa wanita ini masih mengingatnya.

“Apa ada seseorang yang ingin Anda temui?” tanya wanita itu. Sae-jin tersenyum bingung, “Aku… dulu tinggal di sini.”

“Jeongmal?” wanita itu sedikit terkejut dan memicingkan matanya seolah mengingat- ngingat wajah Sae-jin. “Kau…”

“Sae-jinnie, aku Sae-jin. Aku tinggal di sini sejak bayi dan umur 4 tahun aku diasuh olah pasangan Han.”

“Ah, yah, yah! Sae-jin! Tentu saja, astaga kau sudah sebesar ini, dan cantik sekali!” ibu pengurus itu terlihat senang dan tulus. “Bagaimana kabarmu? Bagaimana kabar orangtuamu?”

Sae-jin tersenyum canggung. “Aku baik- baik saja, orangtuaku meninggal setahun kemudian… sekarang aku tinggal dengan kakekku…”

“Oh, aku sangat menyesal mendengarnya, sayang…” ibu pengurus terdengar sedih. “Tempat ini banyak berubah… beberapa temanmu sekarang bekerja di sini sebagai pengurus…”

Sae-jin mengangguk. “Kalau dipikir, kau patut bersyukur karena kau punya seseorang di sampingmu. Bayi- bayi ini,” ibu pengurus menunjuk bayi- bayi di dalam yang sedang tertidur. “harus menghadapi hidup yang malang karena tidak diinginkan orangtuanya…”

Sae-jin hanya diam, melirik bayi- bayi malang itu. Dia juga seperti bayi malang itu dulunya.

“Anak adalah anugerah Tuhan yang paling indah, sangat sedih rasanya kalau ada yang tega membuang mereka karena tidak menginginkan mereka. Juga ada pasangan- pasangan lain yang berusaha sangat kerasa agar bisa mendapatkan anak tapi hasilnya nihil… Anak adalah hal yang paling ajaib yang bisa didapatkan manusia. Mereka sangat polos, lugu, dan mereka adalah cerminan dirimu. Dunia mereka sangat indah. Ah, kau hanya akan merasakannya saat kau sudah menjadi ibu nanti…” Ibu Pengurus mengedipkan mata pada Sae-jin yang hanya diam dan tersenyum dingin.

“Anak adalah hal yang paling ajaib yang bisa didapatkan manusia. Mereka sangat polos, lugu, dan mereka adalah cerminan dirimu. Dunia mereka sangat indah. Ah, kau hanya akan merasakannya saat kau sudah menjadi ibu nanti…”

Sae-jin memperhatikan bayi- bayi itu lagi dan hatinya merasa tersentuh. Tidak ada anak yang ingin hidup seperti itu, tidak diinginkan orangtuanya.

Sae-jin menarik nafas panjang, rasanya datang kemari adalah hal yang benar. Dia memang telah memutuskan suatu hal, dan dia hanya perlu meyakininya saja.

Dia akan membesarkan bayinya.

Bahkan bila dia harus membesarkannya sendirian.

Ibu Pengurus tadi pergi meninggalkan Sae-jin, kemudian dia teringat sesuatu dan berbalik memandang gadis itu yang masih diam di depan jendela menonton bayi- bayi di dalam.

Mirip dengan wajah ibunya dulu… batin wanita tua itu.

*

Sae-jin sibuk memikirkan bagaimana caranya menyampaikan pada kekaknya sepanjang perjalanan pulang. Apa yang harus dia katakan dan apa yang kira- kira akan ditanyakan kakeknya. Yang pasti kakeknya akan menanyakan siapa ayah bayi itu. Dan apa yang harus dijawabnya? Apa dia akan menyampaikan yang sesungguhnya? Atau dia akan mengatakan itu rahasia? Apa dia akan berbohong? Apa kakeknya akan mengijinkannya membesarkan bayi itu? Sae-jin menghabiskan dua jam perjalanan dari rumah asuh Yongsan ke rumahnya dengan membayangkan scenario- scenario yang mungkin terjadi tapi pada akhirnya dia memutuskan bahwa dia tidak bisa memprediksikan apa yang akan kakeknya katakan.

Sae-jin turun dari bus dan merapatkan cardigan hitamnya, teringat bahwa dia harus mengembalikan jaket seseorang. Dan apakah dia benar- benar akan menghadapi semua ini sendirian. Dan apakah ini jalan yang terbaik.

Yah, mungkin sepulang nanti dia akan menghidupkan ponselnya dan mungkin Cho Kyuhyun akan mencoba menghubunginya lagi dan mungkin dia akan bersedia bertemu dan membicarakannya.

Sae-jin berhenti ketika melihat sosok pria yang berdiri tak jauh dari blok yang menuju ke tokonya. Pria jangkung dengan rambut cokelat gelap berantakan yang dia kenal dan Sae-jin merasa jantungnya berhenti berdegup.

Cho Kyuhyun.

Selama beberapa detik dia mengira dirinya berhalusinasi. Dia bahkan berkedip beberapa kali tapi pria itu tetap di situ dan nyata dengan gaya khasnya yang dingin dan kaku.

Cho Kyuhyun bersandar di salah satu gedung tua, beberapa kali melirik ke toko Sae-jin yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri, kedua tangannya bersembunyi di dalam saku jubah hitamnya dan dia sesekali menggosok kedua tangannya untuk menghangatkan. Jantung Sae-jin berdetak lebih cepat dan dia tidak percaya dan sebagian besar dirinya bertanya- tanya bagaimana Cho Kyuhyun bisa berada di situ dan apa dia memang mencarinya, kecuali dia mencari kakek dan nenek atau barang- barang pecah belah tua atau makanan tradisional atau roti kakeknya…

Atau dia memang mencari Han Sae-jin.

Jantung Sae-jin rasanya melompat dan dia perlahan berjalan mendekati Cho Kyuhyun sementara sibuk menangkan dirinya.

Dia berencana menyentuh pundak Kyuhyun pelan tapi dia takut menyentuh pria itu. Sae-jin mengurungkan niatnya. “K—Kyuhyun—ssi” panggil Sae-jin pelan. Kyuhyun berbalik dan terkejut melihat Sae-jin. Dia menggumam sesuatu seperti “astaga’ dan beberapa detik mereka bertatapan dalam kekagetan. Kyuhyun kaget melihat Sae-jin tapi gadis itu lebih kaget melihatnya. “B—bagaimana… kau bisa di sini?”

“Temanmu memberitahuku.” kata Kyuhyun. Teman? Teman siapa? Lee Sunny? Bagaimana bisa dia—? Pasti gadis itu diam- diam mencari nomor Kyuhyun! Sae-jin sudah berencana akan menguliti gadis itu nanti.

“Aku…”

“Di mana ponselmu?” tanya Kyuhyun, nadanya dingin tapi menyiratkan rasa kesal dan menurut Sae-jin pria itu mungkin beberapa kali mencoba menghubunginya.

“P—ponselku mati,” jawab Sae-jin canggung dan mengutuk dirinya karena merasa bersalah. Kyuhyun menarik nafas dan menghembuskannya. “Aku berusaha menghubungimu… beberapa kali.”

“Arasso,” kata itu keluar begitu saja dari mulut Sae-jin dan dia tersadar. Oh sialan, dia ketahuan! Tidak bisakah mulutnya sesekali bekerja sama dengannya? Sekarang Cho Kyuhyun kelihatan sedikit terkejut dan marah. “Kau tahu aku menghubungimu? Dan kau tidak mengangkatnya?”

Sae-jin tersadar beberapa pasangan tua yang berjalan melewati mereka memandang mereka dengan heran. Beruntungnya di sini adalah kompleks yang semua penghuninya adalah kakek- kakek dan nenek- nenek jadi kecuali kau penyanyi jaman dulu yang terkenal, kecil kemungkinan mereka mengenalimu.

“Kita ke sana saja,” Sae-jin menunjuk pepohonan rindang di dekat mereka. Kyuhyun menarik nafas dan mengikuti jejak Sae-jin. Sementara berjalan Sae-jin mencoba merangkai kalimat yang tepat untuk memberi alasan pada pria itu kenapa dia tidak mengangkat telponnya. Sepertinya rencana ‘handponeku rusak’ sudah tidak bisa digunakan.

“Sekarang katakana kenapa kau tidak mengangkatnya?” tanya Kyuhyun, intonasinya tetap dingin dan datar. Mungkin dia kesal tapi dia baru mengenal Sae-jin dan dia tidak mungkin langsung membentak orang yang dikenalnya begitu saja.

“Aku—“

“Apa kau berusaha menghindariku?”

“Bukan begitu—“

“Lalu?”

“Aku bingung dan banyak hal yang terjadi padaku selama seminggu ini, pikiranku kacau—“

“Well, begitu juga denganku. Karena itu aku berusaha menghubungimu. Kau bilang kau hamil anakku dan setelah itu kau pergi menghilang dan menghindari telponku. Apa menurutmu aku juga tidak bingung? Lalu kapan kau akan mengangkat telponku kalau aku tidak datang sekarang? Kau bilang kau hamil dan setelah itu aku saja yang harus memikirkan apa yang akan kau dan aku lakukan selanjutnya?? ” kali ini dia memang marah, membuat Sae-jin sedikit terkejut. Dia tidak pernah melihat Kyuhyun marah sebelumnya, well—karena pria itu memang tidak pernah marah di depan tv kan?

“Karena aku takut dengan apa yang akan kau katakan!” ujar Sae-jin, membela diri. Dia tahu dia salah, tapi dia tidak bisa menyembunyikan pikirannya lagi. Matanya berkaca- kaca. Rasanya menyesakkan menanggung semua emosi ini seorang diri. “Maafkan aku kalau aku juga membuatmu bingung! Aku tidak bermaksud menghindarimu, tapi aku tidak tahu apa aku harus menghubungimu atau tidak, karena aku yakin ini juga sulit bagimu! Aku tidak ingin menjadi orang yang memberatkanmu!”

Kyuhyun tertawa sinis dan frustasi. “Kalau begitu apa yang kau inginkan?”

“Entahlah, yang jelas aku tidak ingin menggugurkan bayi ini!” kata Sae-jin tegas. Kyuhyun terlihat kaget. “Aku tidak akan menggugurkan bayi ini.” Kata Saejin, terlihat lebih tenang tapi tetap marah.

Kyuhyun masih terkejut melihat keyakinan di mata Sae-jin.

“Jadi kau takut aku akan memintamu menggugurkannya?”

Sae-jin masih terlihat marah tapi dia mengangguk tanpa memandang Kyuhyun dan dua bulir air mata kembali jatuh dari matanya. “Tapi, aku hanya takut, bukan berarti aku percaya kau akan memintaku melakukannya…”

“Aku tidak akan memintamu melakukannya. Aku bukan orang seperti itu.” Kyuhyun menatapnya dingin. Sae-jin kelihatan terkejut. Tentu saja, dia sempat ragu sejenak hanya saja dia baru sadar dia tidak mengenal Kyuhyun yang sebenarnya. Kyuhyun memang idolanya dan kalau ada ujian ‘apa yang kau tahu tentang Super Junior Kyuhyun’ dia bisa saja mendapat nilai 100.

Tapi sejujurnya dia tidak tahu siapa sosok Cho Kyuhyun yang sebenarnya.

“Maaf.”

“Aku sudah memikirkannya.” Kata Kyuhyun. Mereka berdua menolak untuk menatap mata masing- masing. Sae-jin berusaha berkonsentrasi pada kalimat Kyuhyun sementara benaknya mencoba menerka apa yang akan Kyuhyun katakan, jantungnya berdebar kencang.

“Bagaimana kalau kita menikah saja?”

Rasanya seperti ada yang menyemprotkan cairan beku ke seluruh tubuhnya. Sae-jin terdiam sebentar, menengadah dan menatap Kyuhyun. Kali ini pria tampan itu sudah menatapnya dengan tajam dan dalam, seperti elang. Ekspresinya tidak dapat dibaca.

“M—mwo?”

“Menikah. Aku ingin kita menikah, Sae-jin—ssi,”

 

Uncategorized

The Story of Bear Family: Pt. 4

Title: The Story of Bear Family- Part 4

Rate:  NC-21

Cast: Cho Kyuhyun

        Kris

        Han Saejin

 

Sae-jin berjalan menyusuri koridor asrama dengan langkah tak beraturan, kakinya serasa seperti agar- agar dan dia sejujurnya lebih memilih tidak sadarkan diri daripada sadar.

Tidak mungkin.

Sejenak Sae-jin bersandar di dinding. Keadaan asrama sepi karena semuanya sedang sibuk dengan tugas masing- masing menyambut bazaar.

Ini tidak benar kan? Dua bulir air mata membasahi pipi Sae-jin. Sedari tadi dia berusaha menahan tangis, akhirnya pertahanannya jebol juga… Tolong siapapun katakan ini hanya bercanda. Bulan April bahkan sudah lewat… Tapi sayangnya Dokter Nam sangat serius tadi dan beliau sudah dengan tegas dan jelas menjabarkan kondisi Saejin.

Bahwa gadis itu tengah mengandung 3 minggu…

Jantung Sae-jin berdebar kencang, sangat kencang dan saraf di sekujur tubuhnya seolah menolak untuk bekerjasama. Gadis itu terisak pelan, menutup mulutnya. Sepertinya dia tidak bisa menahan tangisnya sampai di kamarnya. Semua ini terlalu menakutkan dan mengejutkan. Ketakutannya selama ini terbukti, bahwa kejadian malam itu membuahkan hasil…

3 minggu… tangan kanan Sae-jin menyentuh perutnya yang sekarang ini masih sedikit rata. Seharusnya dia menyadari perbedaannya… dia memang jarang makan tapi seharusnya dia sadar perutnya yang biasanya rata mulai terasa tidak terlalu rata lagi.

Nyawa seseorang berada di sana sekarang…

“Aniyo…” gumam Sae-jin. “Aniyo…” Sae-jin menggeleng dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

“Sae-jin, ada apa??”

Sae-jin tercekat dan menengadah untuk menatap sahabatnya Sunny yang menatapnya dengan khawatir. Sunny berlutut di depannya, terlihat takut. Tentu saja, seumur hidupnya belum pernah melihat Sae-jin mengeluarkan air mata, setidaknya di depan orang lain. Gadis itu selalu terlihat penutup dan tegar.

Aku hamil…

Sae-jin hanya diam dan mengisak.

“Sae-jin apa yang terjadi? Kenapa kau di sini? Seharusnya kau masih di ruangan Dokter Nam…” Sunny berlutut di depannya. Sae-jin menggeleng. “P—perutku… perutku terlalu s—sakit… a—aku hanya ingin t—tidur,” tangis Sae-jin.

“Sebegitu sakitkah? Apa yang harus kulakukan untukmu?”

Sae-jin kembali menggeleng, berusaha keras memaksakan senyumnya. Sekarang dia jauh merasa lebih tertekan. “A—aniyo, tidak apa- apa. Aku hanya perlu tidur sedikit. Terima kasih banyak Sunny.”

Sunny kelihatan kurang percaya tapi memilih untuk mengalah dan membiarkan Sae-jin pergi, toh gadis itu tidak akan pernah memberitahukan Sunny apapun jika gadis itu percaya belum waktunya. Sae-jin menaiki tangga dengan tertatih dan rasanya lama sekali baru dia sampai di kamarnya, membuka pintu dan masuk ke dalam. Mendaki tempat tidur dan berbaring, menatap langit- langit di atasnya dengan tatapan hampa. Dua bulir air mata jatuh di kedua sisi matanya. Pikirannya kacau dan dia tidak bisa berfikir jernih, berfikir untuk apa yang akan dia lakukan selanjutnya. Tadi pagi dia masih bangun dengan dirinya yang lama dan sekarang semuanya terasa berbeda. Sekarang dia tengah mengandung seorang anak, benih dari hubungan satu malam antara dirinya dan seseorang yang secara teknis baru hari itu ditemuinya…

Dengan seseorang yang sudah menjadi idolanya selama 6 tahun terakhir ini…

Sae-jin menutup mata. Malu dan takut. Itulah yang sekarang ini dia rasakan, takut dengan reaksi orang- orang di sekitarnya. Malu dengan dirinya sendiri yang dengan gampangnya menyerahkan dirinya pada seseorang yang baru saja dia temui—meskipun di bawah pengaruh alcohol. Dia merasa seperti fans murahan yang mau saja ditiduri idolanya. Bingung. Bingung dengan hari- hari besok yang harus dia lalui. Bingung bagaimana menjelaskan semua ini. Bingung dengan hidupnya selanjutnya. Haruskah dia memberi tahu Kyuhyun? Lalu apa yang akan terjadi? Mereka menikah? Cho Kyuhyun bukan laki- laki biasa yang akan menikah, Sae-jin merinding membayangkan apa yang akan terjadi kalau mereka sampai ketahuan.

Tapi… mungkinkah dia harus menyembunyikan semua ini dan membesarkan anak ini sendirian? Lagipula, kalaupun dia mengakui ini pada Kyuhyun, apakah pria itu akan dengan mudah mempercayainya? Apakah Kyuhyun percaya dia ayah bayi yang sekarang ini Sae-jin kandung? Pria itu terlihat sangat menyesal dengan apa yang mereka lakukan, bukan tidak mungkin kan pria itu sekarang membencinya?

Dan bukankah Kyuhyun mencintai gadis lain? Gadis lain yang lebih menarik daripada Sae-jin, gadis yang lebih mapan, kaya, terkenal, bertalenta, luar biasa cantik dan disukai banyak orang.

Sae-jin berguling ke samping dan hatinya serasa disayat sembilu membayangkan bagaimana kakeknya akan menerima semua ini, Sunny… Kris…

Kris…

Sae-jin mencengkeram ujung selimut. Ya Tuhan… apa yang harus dia lakukan?

Sae-jin kembali menyentuh perutnya.

Apa yang harus kulakukan padamu? Batin Sae-jin, seolah bicara dengan nyawa yang sekarang ini berada di dalam perutnya.

Haruskah aku menggugurkanmu?

Aniya, Han Sae-jin apa yang kau pikirkan?!?! Mana mungkin kau tega?!?! Suara dalam kepalanya membentak dirinya sendiri.

Tapi…

Semua ini terlalu berat… dan dia tidak sanggup menghadapinya, setidaknya dia belum siap untuk itu. Tidak dengan keadaannya yang sekarang, tidak dengan sekolahnya yang sudah mendekati semester terakhir…

Mungkin dia terlalu lama menangis dan tertidur karena kelelahan, begitu Sae-jin membuka mata terik matahari menyengat matanya dan kamar kosong. Sae-jin menarik nafas pelan dan memandang matahari di luar jendela dengan lemas.

Oh yah, dia hamil.

Sae-jin menutup mata lagi, menyentuh perutnya. Seandainya semalam itu hanya mimpi, dia akan sangat bersyukur. Sayangnya tidak sama sekali.

Jam berapa sekarang? Sae-jin mengambil ponsel di sampingnya untuk melihat jam. 6 panggilan tidak terjawab dari Yi Fan. Sae-jin menghela nafas. Rasanya seperti sedang memalu kembali kepalanya setelah beristirahat semalaman. Tiba- tiba Sae-jin merasakan mual, seperti mualnya kemarin pagi. Gadis itu bergegas ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya yang sebenarnya kosong, mengelap mulutnya dengan handuk kecil di samping lalu berdiri di depan cermin besar yang bersatu dengan wastafel.

Gadis yang berada di depannya saat ini pucat, terlihat lelah dan lemas, dengan tatapan hampa. Sae-jin mengangkat ujung kaosnya sedikit untuk melihat perutnya yang saat ini masih kecil karena usia kandungan yang sangat dini.

“Apa yang harus kulakukan? Apa yang harus aku lakukan sekarang?” bisik Sae-jin lemah. “Tolong beritahu aku…”

Apa yang harus dia lakukan pada janin ini?

*

Kyuhyun berjalan ke cafeteria sambil menyeka keringat di lehernya dengan handuk putih. Dia dan member Super Junior lainnya bekerja sangat keras untuk tour dunia mereka mendatang karena konsep mereka sedikit berbeda dan semuanya direncanakan sangat matang. Well dia juga menikmati jadwalnya yang sangat ketat untuk mengalihkan perhatiannya dari beberapa ‘masalah’ yang terjadi sekarang ini.

Kyuhyun memasukki cafeteria, menyapa beberapa seniornya dan pelatih yang sedang beristirahat lalu menghampiri lemari pendingin besar untuk mengambil sari jeruk favoritnya setiap dia selesai berlatih tapi minuman yang dicari tidak ada. Kyuhyun menggerutu kecewa dan menutup pintu lemari pendingin tapi seseorang menyodorkan sebotol minuman padanya. Sari jeruk kesukaannya.

Shin Shae-ryung tersenyum cantik padanya membuat hatinya berdebar tapi pria itu sedang tidak ingin dekat- dekat dengan sumber ‘kegalauannya’. Tapi seluruh isi kantin menatap mereka dengan penasaran dan dia tidak ingin mempermalukan Sae-ryung, Sae-ryung memang cukup pintar. Kyuhyun mengambil botol itu dengan dingin dan mengucapkan terima kasih dengan senyum palsu dan pergi. Sae-ryung berjalan mengikutinya dari belakang.

“Apa latihannya lancar?” tanyanya perduli. Sesungguhnya Kyuhyun sedikit bingung dengan gadis ini. Dia yang memutuskan untuk berpisah dengan Kyuhyun tapi setelah itu dia berusaha berhubungan dengannya, sebenarnya gadis ini mau apa?

“Tentu,” jawab Kyuhyun dingin dan meneguk sari jeruk dingin itu sambil terus berjalan membiarkan Sae-ryung mengikuti langkahnya. Sesungguhnya bila mereka masih seperti dulu, Kyuhyun pasti sudah menceritakan setiap detil latihannya pada gadis itu, mereka pasti sekarang sudah di tangga darurat, menikmati waktu berdua mereka.

“Aku mendengar kau menyanyi lagu baru tadi, suaramu benar- benar keren.”

Kyuhyun hanya tersenyum malas dan tetap berjalan dengan santai ke lift-nya.

“Ngomong- ngomong apa kau sudah mendengar lagu ciptaan baruku?” tanya Sae-ryung tapi terkejut ketika Kyuhyun masuk ke dalam lift dan segera menutup tombol untuk menutup.

“Akan kudengar saat aku punya waktu kosong,” Kyuhyun memaksakan senyum yang lebih dingin tapi sinis dan wajah terkejut Sae-ryung adalah hal terakhir yang dilihatnya sebelum lift sepenuhnya tertutup.

Kyuhyun menghela nafas, sebenarnya dia tidak ingin seperti ini, dia mengutuk dirinya karena sudah bertingkah kasar pada Sae-ryung dan membuat gadis itu sedih. Tapi Kyuhyun sendiri tidak tahu harus berbuat bagaimana.

Gadis itu harusnya sudah tahu apa yang akan terjadi ketika dia memutuskan hubungannya dengan Kyuhyun.

Tiba- tiba ponsel Kyuhyun berbunyi.

“Yoboseyo, Shinwoo hyung?” Shinwoo adalah seniornya di Kyunghee University tapi mereka wisuda bersama beberapa bulan lalu dan pria itu sekarang menjadi dosen di kampus almamater mereka.

“Kyuhyun—ah, apa kau sedang sibuk?”

“Neh? Hmmm… tidak juga,” kata Kyuhyun berbohong, tidak ingin menyinggung Shinwoo. “Ada apa, hyung?”

“Ah, begini, apa aku bisa minta bantuanmu? Tentu saja kalau kau ada waktu…”

*

Entah mengapa sejak mengetahui dia hamil, Sae-jin merasa berbeda dengan teman- temannya. Ketika dia melangkah masuk ke dalam homeroom, dia merasa seperti dia spesies sendiri, spesies yang sedang mengalami sesuatu.

Spesies yang sedang hamil.

Sae-jin duduk di samping Sunny yang sudah menyediakan tempat untuknya. “Yah, kau tidak apa- apa?” tanya Sunny khawatir melihat wajah pucat Sae-jin. Sae-jin memaksakan senyum agar tidak membuat Sunny khawatir. Sebenarnya dia sangat malas dan merasa lemas untuk mengikuti pelajaran tapi ini adalah salah satu pelajaran inti yang penting dan dia tidak ingin melewatkannya atau daftar absennya tidak akan cukup.

“Ngomong- ngomong, Bongsub sunbae-nim terus menanyakanmu. Sepertinya dia sendiri tidak yakin dengan tim desainnya dan lebih percaya kalau kau yang mendesain latar belakangnya.”

“Jeongmal?”

“Geurom, yah, Han Sae-jin kau pindah ke desain grafis saja bagaimana? Tidak usah jadi dokter,”

“Eish! Sekarang sudah terlambat!”

Keduanya tertawa dan Sae-jin merasa lebih baik. Setidaknya teman sekamarnya ini selalu membuatnya merasa lebih baik, selalu menerimanya apa adanya. Meskipun untuk sekarang gadis itu belum tahu kalau dia sudah hamil,.

Ponsel Sae-jin tiba- tiba bergetar, keberapa kalinya untuk pagi itu. Sae-jin menatap layar dan melihat nama Yi Fan memanggilnya. Gadis itu mendesah dan kembali membiarkan ponsel itu bergetar dalam tasnya. Dia masih tidak ingin berhubungan dengan Kris untuk saat ini, tidak setelah dia mengetahu keadaannya. Hari- hari sebelum ini terasa sangat menyenangkan bersama dengan Kris tapi sekarang semua telah berbeda, dia bukan Sae-jin yang dulu, bukan seoarang Sae-jin teman masa kecil Kris, sekarang dia merasa berbeda dan dia takut Kris akan membencinya karena hal itu. Dia takut Kris akan memandangnya murahan. Apalagi dengan semua masalah ini, Kris tidak akan berteman denganna lagi.

Apakah Kris akan tetap berteman dengan Sae-jin?

Sae-jin mengambil buku penuntun Sobbota, meletakkannya di meja dan memutuskan membacanya agar dia mengerti saat Professor Kim masuk dan menjelaskan, lagipula dia memutuskan untuk menyibukkan dirinya dulu karena toh pikirannya masih terlalu kacau untuk memikirkan apa yang akan dia lakukan.

“Yah, kali ini beritanya benar- benar hebat!”

Sunny di sampingnya sekarang sudah bergosip dengan Park Kyungmin yang duduk di depannya.

“Park Il-Young sunbae-nim katanya hamil 2 bulan! Karena itu dia jarang masuk akhir- akhir ini!”

Sae-jin tertegun, kedua tangannya mencengkeram tepian buku dengan sedikit kuat. Matanya dalam- dalam membaca tulisan di lembaran buku tapi telinganya tidak bisa beralih dari pembicaraan di sampingnya yang sangat menarik.

“Jinjja?” Sunny terlihat sangat kaget. Park Il-Young adalah ketua komite organisasi di kampus mereka dan dia terkenal sebagai ‘siswa model’, semua dosen menyukainya dan dia telah memenangkan berbagai kontes ilmiah. Mendengar gadis itu hamil adalah berita yang sangat mengagetkan tapi fakta bahwa dia hamil lebih membuat Sae-jin tegang. Gosip atau tidak, dia sudah terlanjur tegang. “Hamil dengan siapa?”

“Tentu saja dengan pacarnya. Aku dengar beberapa bulan lalu mereka berlibur bersama ke pulau Jeju. Aku benar- benar tak menyangka Il-Young sunbae-nim bisa melakukan itu.”

“Siapapun tak menyangka.” Sunny masih terlihat tidak percaya. “Tapi, bagaimana dengan kuliahnya? Beasiswanya?”

Nah, topik yang satu ini lebih menarik lagi dan kali ini Sae-jin tidak perduli kalau dia ketahuan menguping pembicaraan.

Kyungmin juga berfikir. “Tidak tahu, tapi sepertinya beasiswanya akan dihentikan. Tadi aku melihatnya di ruang administrasi mengurus sesuatu dan dia terlihat sedih. Hamilnya juga sudah mulai kelihatan. Dan Dewan Universitas sedang mempertimbangkan apakah dia bisa melanjutkan kuliahnya atau tidak.”

Kali ini mulut Sae-jin terbuka saking terkejutnya. Separah itukah?

“Beasiswanya dihentikan?” tanya Sunny kaget. “Tapi, dia kan bisa ambil cuti, masa dia harus dikeluarkan?”

Kyungmin mendesah. “Masalahnya tidak akan separah ini kalau dia mahasiswa biasa, tapi dia masuk dengan jalur beasiswa. Dan mereka sudah menandatangani persyaratana untuk mendapat beasiswa. Kalau beasiswanya di-cut, bagaimana dia bisa membiayai kuliahnya? Biayanya kan tidak main- main.”

Sae-jin menelan ludah. Beasiswa akan dipotong?

“Ah, ottoeohkaji… bagaimana kalau dia harus keluar? Kyunghee sangat memperhatikan moral, dan membenci skandal seperti itu.”

“Bagaimana dengan orangtuanya di kampung? Kudengar ayahnya sakit jantung…”

Sae-jin tiba- tiba berdiri, mengagetkan Sunny dan Kyungnim. Wajah cantik gadis itu terlihat tegang dan tak percaya tapi kemudian dia tersadar. “A—aku ke toilet dulu.”

Sae-jin berlari keluar kelas, meninggalkan Sunny dan Kyungnim yang bingung.

Sae-jin berlari sekencang mungkin melintasi koridor dan mengurung diri di kamar mandi. Gadis itu bersandar di balik pintu dan nafasnya tersengal- sengal, antara terkejut, khawatir dank arena dia lari. Jantungnya berdebar sangat kencang dan wajahnya tegang, rasa takut menjalarinya membuatnya tak mampu berfikir apa- apa lagi selain berbagai pikiran buruk, terima kasih pada pembicaraan Sunny dan Kyungnim barusan. Semuanya berputar dan datang mengganggu Sae-jin, rasanya dia bisa gila.

Beasiswa dihentikan?

Semua biaya di-cut?

“Ah, ottoeohkaji… bagaimana kalau dia harus keluar? Kyunghee sangat memperhatikan moral, dan membenci skandal seperti itu.”

“Bagaimana dengan orangtuanya di kampung? Kudengar ayahnya sakit jantung…”

Perlahan Sae-jin berlutut, kedua mulut di tangannya. Dia tidak pernah merasa sebingung dan seperti ini. Biasanya semua berjalan sangat teratur dan sesuai perencanaan.

Ini jelas- jelas tidak seperti yang dia rencanakan.

Hamil di luar nikah sama sekali bukan rencananya…

Tidak, tidak bisa. Dia tidak bisa membiarkan ini terjadi. Semuanya… sumpahnya pada kakeknya untuk membuat kakeknya bangga… tidak, dia tidak bisa membiarkan semua itu hancur…

Apa yang harus dia lakukan?

Sae-jin terisak, dua bulir air mata membasahi pipinya dan gadis itu mengangkat ujung kaosnya, menatap perutnya.

“Apa yang harus kulakukan?” rintihnya lemah.

*

Lima belas menit terakhir dihabiskan Sae-jin berdiri termenung di depan gedung semi-besar dengan tulisan ‘Gang-Hyeong Obstetric Gynecology Clinic’. Hari ini dia dihantui berbagai perasaan, takut, gelisah, bingung, sedih, kecewa, dan kesal. Mungkin ini yang dinamakan mood wanita hamil.

Oh tidak. Sekarang dia wanita hamil.

Sae-jin menggeleng.

Tidak, dia sudah yakin dengan ini…

Tapi, ini dosa. Kesalahan sangat besar. Masa dia tega—?

Tapi tidak ada pilihan lain.

Siapa bilang? Ini bukanlah pilihan satu- satunya.

Tapi ini sangat egois. Kau sangat egois dan kejam, Sae-jin!

Tapi anak ini nanti akan tidak akan seberuntung anak lainnya…

Sae-jin menutup mata, kedua tangannya memeluk perutnya dengan erat, air mata membasahi pipinya. Rasanya seperti malaikat dan setan sedang sibuk bertengkar di benaknya.

Mianhae… jeongmal mianhae…

Gadis itu menatap gedung dengan wajah lebih tegang, seolah dia sudah yakin dan siap, kemudian melangkah masuk ke dalam gedung.

*

“Usia kandungan Anda sekitar sebulan, kita masih bisa melakukan pengguguran.”

Sae-jin bergidik ketika dokter menyebutkan kata itu tapi dia masih tidak mengatakan apa- apa, memilih memandang miniature rahim kecil di ujung meja dokter. Pikirannya masih bingung dan dia sibuk mengutuk dirinya, hatinya serasa busuk dan hitam. Dokter juga masih terlihat bingung dengan Sae-jin. “Nona Han, aku tidak bermaksud lancang, tapi apa kau yakin melakukan ini?”

Sae-jin memandang dokter di depannya. Dokter itu bingung dan ragu, meskipun dia terlihat serius. “Aku tidak bermaksud membuatmu bimbang tapi aku rasa kau berhak tahu keadaan janinmu setelah USG yang kita lakukan tadi.” Dokter meletakkan dua buah lembar kertas dengan gambar hasil pemeriksaan USG tadi. Sae-jin menatap gambar di depannya. Semula enggan melihat gambar itu tapi sebuah suara berteriak di benaknya.

Tidakkah dia penasaran seperti apa keadaan janin dalam perutnya sekarang?…

Tidakkah dia berhak tahu?

Dan tidakkah janin itu berhak memberitahukan Sae-jin keadaannya sekarang? Memberitahukan… ibunya?

Jantung Sae-jin berdebar dan tiba- tiba dia merasa geli ketika menyebutkan kata ‘ibu’. Dia akan menjadi ibu seseorang bila anak ini lahir, bila dia tidak menggugurkannya. Bayi itu akan lahir… normal mungkin?

Apa anak itu laki- laki atau perempuan? Ah, jenis kelaminnya masih bisa ditentukan. Dan wajahnya akan seperti apa? Akankah seperti Sae-jin?

Ataukah seperti… ayahnya?

Sae-jin menutup mata, kembali merasakan getaran aneh itu ketika memikirkan kata ayah. Apakah bayi itu akan tahu ayahnya?

Bagaimana keadaannya bila Sae-jin tidak menggugurkannya?

Perlahan Sae-jin dengan berani melihat kedua gambar itu. Dia tahu, dia pernah mempelajari bagaimana gambar USG dari rahim normal yang sedang tidak mengandung dan yang mulai mengalami perubahan fisiologis setelah tumbuh janin di dalamnya. Gadis itu terkesiap ketika menyadari gambar di depannya bukanlah gambar yang mereka pelajari melainkan gambarnya, gambar keadaan rahimnya yang sedang ditempati janin.

Tiba- tiba perasaan hangat meliputi tubuh Sae-jin, perasaan lembut dan entah mengapa… sedikit rasa bahagia. Ini aneh, ini sangat aneh.

“Apapun jenis kelaminnya, keadaan janinmu sangat sehat.” Jelas dokter itu. Dia sama sekali tidak membantu Sae-jin untuk yakin dengan keputusan aborsi ini. Sae-jin menatap dokter dengan mata berkaca- kaca. Dokter itu menatapnya dengan tatapan pengertian. Tentu saja Sae-jin bukan pasien pertama yang datang dengan situasi seperti ini.

“Aku tidak berhak menyarankan apapun padamu, aku hanya ingin memastikan bahwa sebelum aku menggugurkan janin ini, kau sudah benar- benar yakin tidak akan menyesal nanti.”

Dokter menyodorkan sebuah kertas putih dan Sae-jin membacanya. Formulir persetujuan aborsi. Sae-jin menatap dokter yang kini menatapnya dengan tatapan meyakinkan.

“Pikirkan lagi baik- baik.”

Sae-jin melangkah keluar pintu klinik. Lembar hasil USG dan formulir itu tersimpan rapi dalam tas selempangnya. Dia memang tidak yakin apa dirinya mampu melakukan ini. Membunuh anaknya sendiri, emosi sesaatnya tadi membuatnya tak berfikir lebih jauh dan panik. Panik kalau masa depannya akan hancur. Panik kalau kakeknya tahu…

Sudah lama rasanya Sae-jin tidak menghabiskan waktu luangnya sendiri; dia sibuk di kampus dan membantu kakeknya di kantin. Biasanya gadis itu suka menghabiskan waktu di perpustakaan atau di kafe kecil dekat kampus sendirian dan membaca. Tapi untuk sekarang dia terlalu lelah untuk membaca. Sae-jin memilih berjalan- jalan melintasi pertokoan dan membeli jajanan—lalu dia berfikir apa jajanan sehat untuk janin—dan memutuskan bahwa jajanan ini cukup aman untuk dikonsumsi. Entah mengapa Sae-jin tidak merasa sendiri, dia merasa memiliki teman.

Sore ini pengunjung cukup ramai, Sae-jin tidak cukup tahu banyak orang maka dia menikmati ketika dia tidak perlu beramah- taman dengan orang lain. Saat dia melintasi sebuah toko TV gadis itu berhenti sejenak dan memperhatikan acara yang muncul di beberapa buah TV di pajangan. Mereka sedang menayangkan acara musik akhir minggu dan Super Junior sedang menyanyikan lagu terakhir mereka. Hati Sae-jin berdebar sangat kencang ketika melihat seseorang menari di belakang para hyung-nya, wajahnya sangat serius. Sae-jin ingat pertama kali dia mengagumi seorang Cho Kyuhyun. Tepatnya 7 tahun lalu, ketika dia mendengar Kyuhyun bernyanyi untuk seorang anak gadis yang buta… Cho Kyuhyun adalah seorang pekerja keras dan dia tidak suka orang lain yang menentukan hidupnya. Dia memiliki selera humor yang baik tapi dia tahu cara menempatkan dirinya dan membuat orang lain terhibur.

Sae-jin terpaku sebentar, matanya mengikuti ke manapun Kyuhyun bergerak di panggung itu. Jantungnya berdebar kencang dan sebuah perasaan aneh yang sulit dijelaskan memenuhi benaknya. Pria yang sekarang sedang menyanyi dan diteriakki ribuan penggemar itu adalah ayah dari janin yang sekarang ini dikandungnya.

Saejin tanpa sadar menyentuh perutnya…

Apa yang harus dia lakukan sekarang?

Sejam kemudian dia sudah sampai di kafe roti kakeknya. Kakeknya sedang memanggang roti di belakang bersama beberapa karyawan dan cukup kaget melihatnya. “Oh, Han Sae-jin!”

Sae-jin tersenyum, rasa hangat tapi sedih meliputi hatinya melihat kakeknya yang sudah tua sedang membuat adonan roti. Kakeknya adalah tipe pekerja keras dan perduli pada orang lain, dan beliau sangat protektif terhadap Sae-jin.

“Kenapa kau di sini? Bukannya kau sedang sibuk mengurus apa namanya,”

“Capek. Lagipula, aku kangen padamu.”

“Ckckckck… ada apa ini? Perasaan aku baru mengirimi uang jajanmu minggu lalu.”

“Aniyo, haraboji!” protes Sae-jin dan kakeknya tertawa.

“Yah, tunggu sebentar, aku sedang membuat roti dengan rasa baru!”

“Jeongmal?” mata Sae-jin berbinar.

“Tunggu saja di situ.”

Sae-jin mengangguk dan memperhatikan kakeknya yang dengan cekatan membolak- balikkan adonan roti yang mulai mengeras. “Haraboji, ada yang ingin kutanyakan.”

“Apa?”

“Seandainya… kita tidak punya pilihan lain, bisakan kita berbuat jahat?”

Kakeknya berhenti dan menatap cucunya. “Hng? Kenapa kau bertanya begitu?”

Sae-jin tertawa gugup, takut kakeknya curiga. “Ani… aku hanya ingin tahu…”

Kakeknya berfikir sebentar lalu meneruskan kegiatannya lagu memutar adonan roti, “Benarkah? Benarkah tidak ada pilihan lain?”

Sae-jin terdiam, rasanya seperti tertangkap basah.

“Kakek tidak tahu banyak, tapi menurutku alasan orang berbuat jahat adalah karena mereka cenderung takut pada pilihan lain yang mereka miliki… kakek mungkin akan ‘nekat’ asalkan itu melindungi orang- orang yang kakek sayangi tapi selama masih ada pilihan untuk tidak berbuat jahat, kakek akan cenderung pada pilihan itu. Jalannya mungkin akan berliku dan susah, tapi asalkan itu benar kakek lebih memilih jalan itu daripada menyakiti orang lain…”

Sae-jin tertegun dengan jawaban kakeknya, jawaban kakeknya seperti jawaban atas kebingungannya selama beberapa hari terakhir ini, dan seperti air dingin yang menyejukkan benaknya. Gadis itu mendekati kakeknya dan memeluknya dari samping. “Yah, kau kenapa?!?!” protes kakeknya tapi tertawa.

“Saranghae, haraboji.” Kata Sae-jin pelan. Dia merasa lebih tidak tega memberitahukan kakeknya apa yang terjadi. Selama ini dia hanya hidup berdua dengan kakeknya dan mereka sudah melewati berbagai hal bersama. “Haraboji, bila suatu hari nanti aku melakukan sesuatu yang fatal, apa kau akan tetap menganggapku cucumu?”

“Neh, bicara apa itu? Sekalipun kau mengebom sekota Seoul, kau tetap Han Sae-jin cucuku, mengerti?”

Mata Sae-jin berkaca- kaca. Gadis itu mengangguk. “Kau percaya padaku kan? Aku tidak mungkin akan melakkukan hal jahat…”

“Geurom, kau adalah gadis yang baik hati dan polos, kau jauh dari orang yang mudah berbuat jahat…”

“Benar, benar sekali…”

Sekarang dia tahu apa yang harus dia lakukan.

*

Sae-jin masuk ke dalam kamarnya, meletakkan tasnya di meja belajar, melempar dirinya di tempat tidur dan menatap langit- langit di atasnya.

Air hangat dari shower membasahi tubuhnya membuat rileks. Sae-jin menutup mata dan kejadian- kejadian berputar di kepalanya, juga pembicaraan Sunny dan Kyungnim, serta perkataan kakeknya. Perasaannya takut, sangat takut ketika membayangkan apa yang akan terjadi. Beasiswanya akan dicabut; dia mungkin tidak bisa melanjutkan kuliahnya lagi… tapi dia belum tahu apa yang akan terjadi dengan dirinya. Mungkin lebih buruk dari yang dia bayangkan. Bila orang- orang tahu siapa ayah bayi itu, hal yang lebih buruk akan terjadi.

 “Kakek tidak tahu banyak, tapi menurutku alasan orang berbuat jahat adalah karena mereka cenderung takut pada pilihan lain yang mereka miliki… kakek mungkin akan ‘nekat’ asalkan itu melindungi orang- orang yang kakek sayangi tapi selama masih ada pilihan untuk tidak berbuat jahat, kakek akan cenderung pada pilihan itu. Jalannya mungkin akan berliku dan susah, tapi asalkan itu benar kakek lebih memilih jalan itu daripada menyakiti orang lain…”

Benarkah dia tidak punya jalan lain selain menggugurkan janin di perutnya? Membunuh seseorang yang seharusnya hidup hanya demi keegoisannya? Kalau anak itu hidup, bukankah tugas Sae-jin untuk menjauhkan anak itu dari penderitaan?

Tapi, bagaimana kalau Kyuhyun tidak mau menerima bayi itu?

Dan bagaimana kalau dia menerimanya?

Keduanya sama—sama akan menimbulkan bencana. Bayangkan bagaimana reaksi para penggemarnya, dan saat ini Super Junior sedang melejit, sedikit gossip bisa mengguncang mereka. Sae-jin menutup mata membiarkan air panas itu menyengat wajahnya. Tidak akan semudah itu, bila Kyuhyun tahu, keduanya bisa mendapat masalah sangat besar. Bagaimana kalau Kyuhyun dikeluarkan dari Super Junior?

Sae-jin menatap perutnya dan memeluknya. Janin di dalamnya tidak berdosa, tidak seharusnya karena masalah ini Sae-jin membunuhnya bahkan sebelum janin ini mendapat kesempatan hidup.

“Mianhae, kau harus mengalami semua ini…” gumam Sae-jin pelan.

Tiba- tiba didengarnya suara gaduh di luar kamar, pasti Lee Sunny sedang mencari barang ‘hilang’. Lee Sunny selalu kehilangan barang penting seminggu sekali dan dia harus memporak-porandakan seluruh kamar untuk menemukannya.

 

“Eish, di mana kartu mahasiswaku?” gumam Sunny, membongkar meja belajarnya. Dia membutuhkan kartu mahasiswanya untuk melamar pekerjaan paruh waktu di sebuah kafe. Di mana terakhir dia meletakkan dompetnya? Sunny membongkar tempat tidurnya, mencari di kolong tempat tidur dan tempat tasnya. “Di mana ya?” bisiknya gelisah kemudian pergi ke meja belajar Sae-jin yang jauh lebih rapi dari mejanya. Rasanya minggu lalu dia sempat meletakkan dompetnya di sini. Mungkin Sunny mencari dengan terlalu gelisah hingga menjatuhkan tas Sae-jin ke lantai membuat seluruh isinya berserakan.

“Eish…” umpat Sunny, berlutut dan mengumpulkan barang- barang Sae-jin yang berserakan sebelum gadis itu keluar dan menangkapnya. Ponsel, dompet, ipod, buku notes kecil dan self-reflected book yang selalu dia bawa, serta… apa ini?

Sunny melihat dua buah gambar dan selembar kertas yang tanpa sengaja keluar dari amplop cokelat. Sunny tertegun ketike melihat nama ‘Gang-Hyeong Obstetric Ginekology Clinic’ tertera di amplop cokelat itu. Apa yang terjadi dengan Sae-jin? Tanpa sadar Sunny mengangkat kertas itu dan tertegun melihat dua gambar hasil USG yang menunjukkan tanda- tanda kehamilan. Mulut Sunny terbuka?

Apa ini hasil USG Sae-jin? Atau dia hanya mengambilkan hasil pemeriksaan orang lain?

Tapi di label amplop tertulis gambar ini milik nona Han Sae-jin… jantung Sunny seperti dipukul, ini sama sekali tidak bisa dipercaya.

Apa… Sae-jin hamil?

Sunny melirik kertas yang satunya dan mengambilnya.

Formulir Persetujuan Tindakan Abortus.

A/n: Nn. Han Sae-jin, 21 tahun 4 bulan.

Mulut Sunny terbuka lebar dan tangannya terasa lemas seperti agar- agar.

Sae-jin keluar dari pintu kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya. “Yah, Lee Sunny apalagi yang kau hilang—“

Sae-jin tertegun melihat Sunny yang berlutut di lantai dengan isi tas Sae-jin berserakan di depannya dan formulir serta gambar hasil USG di tangan Sunny. Keduanya bertatapan dan sama- sama memancarkan kekagetan, tatapan mereka sama- sama ngeri. Tangan Sunny terlihat sedikit bergetar.

“A—Apa yang kau pikir sedang kau lakukan?” tanya Sae-jin dengan mata lebar dan suara bergetar.

“H—Han S—Sae-jin, k—kau—“

“KENAPA KAU MEMBONGKAR TASKU!” bentak Sae-jin sedikit histeris. Dia tidak berencana membiarkan Sunny tahu semua ini, tidak dengan cara seperti ini.

“Aku tidak membongkar tasmu! Aku tanpa sengaja menjatuhkan—“

“Lepaskan!” teriak Sae-jin mengambil hasil gambar USG dan formulir itu dengan kasar dari tangan Sunny dan mencengkeramnya erat. Matanya berkaca- kaca. Sunny berdiri menghadapnya, masih terlihat kaget. “Han Sae-jin, katakana padaku, apa kau—“

“Bukan urusanmu. Lupakan dan jangan pernah tanya padaku!” kata Sae-jin dingin, melempar kertas itu ke dalam laci meja belajarnya tapi gadis itu mengikutinya. “Kau hamil!”

“BUKAN URUSANMU!!!” bentak Sae-jin. “LUPAKAN OKEY!”

“Bagaimana bisa aku melupakannya!” bentak Sunny, Sae-jin sekarang sudah bercucuran air mata. “Han Sae-jin katakana padaku… apa kau… hamil? Dan… kau… apa kau meng—“ sepertinya sulit bagi Sunny untuk mengatakan yang selanjutnya. “menggugurkannya?”

Sae-jin berlutut dan menangis, memeluk kedua lututnya. Sunny juga, matanya berkaca- kaca, dia terlalu shock dan tiday percaya. Gadis seperti Sae-jin bisa melakukan ini, tapi dia tidak ingin menghakimi sahabatnya. Sunny berlutut juga di depan Sae-jin. Karena itu gadis ini terlihat sangat tertekan beberapa hari terakhir ini…

“H—Han S—Saejin… apa yang sebenarnya terjadi? K—Kau bisa menceritakannya padaku, kau tahu kan?” kata Sunny, dia tahu Sae-jin pasti akan menyembunyikan hal seperti ini. Dan karena itu dia terlihat tertekan.

Sae-jin tetap menangis. Haruskah dia menceritakan yang sesungguhnya?

*

“C—CHO KYUHYUN?!?!” Sunny terlihat seperti seseorang mengatakan kalau dia akan sekamar dengan buaya. “Tapi—apa—masa—ini—astaga, tidak mungkin!”

Sae-jin tidak menjawab, yah, dia tahu jawaban itu yang akan dia dapatkan.

Sunny segera tersadar, tahu bahwa Sae-jin tidak mungkin mengarang cerita ini. “Geurom, karena itukah kau… pulang pagi?”

Sae-jin mengangguk. Sunny menghela nafas, “tapi… apa… apa kalian bertemu lagi setelah itu? Apa dia mengatakan sesuatu? Dia sadar dia melakukannya denganmu kan? Maksudku, kalian memang mabuk saat itu tapi—“

“Dia ingat itu aku… kami sempat bertemu dan aku bilang… aku harap dia akan melupakan itu karena, aku juga akan melupakan kejadian itu.”

“Tapi bagaimana bisa—dan sekarang kau hamil. Han Sae-jin,”

“Aku tidak tahu harus bagaimana,” ujar Sae-jin dingin tapi air mata tak berhenti membasahi pipinya. “Aku takut… aku tidak tahu harus bagaimana…”

Sunny menatap sahabatnya, tak menyangka hal seperti ini akan terjadi pada seorang Han Sae-jin. Gadis itu selalu… tegar dan seperti tahu apa yang dia lakukan, hidupnya sangat teratur dan gadis itu sangat polos. Sae-jin tak pernah terlihat bergaul dengan laki- laki. Dan gadis itu selalu bekerja keras untuk membanggakan kakeknya. Sunny mendekati Sae-jin dan memeluknya.

“Aku harus bagaimana, Sunny? Aku takut… aku takut apa yang akan terjadi kalau aku terus membiarkan janin ini tumbuh tapi… aku tidak ingin membunuhnya…”

“Aku tahu, Sae-jin, kau tidak akan tega melakukannya. Kau terlalu lembut dan penyayang…”

Sae-jin menangis di pundak Sunny,

“Han Sae-jin, apa kau sadar kau sedang mengandung anak dari superstar Korea yang digandrungi banyak wanita?”

Sae-jin menepuk pundak Sunny sebal. Well, dia tidak merasa bangga sama sekali akan hal itu.

“Ikuti kata hatimu, Sae-jin. Apakah kau mau mempertahankan bayimu, atau sebaliknya. Aku tidak akan menghakimimu atau menuduhmu… dan aku mengerti situasimu…”

“Tapi bagaimana kalau aku dikeluarkan? Bagaimana kalau mereka memotong biaya beasiswaku? Bagaimana aku harus mengatakannya pada Kyuhyun? Bagaimana aku harus membesarkan bayi ini? Haruskah aku memberitahu Kyuhyun?”

Sunny menghela nafas. “Sae-jin—ah, Cho Kyuhyun berhak tahu dia memiliki seorang anak. Entah dia mengharapkan itu atau tidak, dan janin itu berhak diberitahu kehadirannya. Kau tidak sepenuhnya memiliki hak untuk bayi itu, Kyuhyun juga. Dan… baru setelah itu kalian bersama- sama berdiskusi tentang apa yang akan kalian lakukan pada bayi itu. Kyuhyun berhak tahu tentang bayi itu. Dia berhak tahu tentang anaknya.”

Jantung Sae-jin berdebar kencang. Sunny mengatakan itu semua seolah itu hal yang lumrah. Anak Kyuhyun, bayi Kyuhyun sekarang sedang dikandungnya.

Kyuhyun berhak tahu tentang bayi itu. Dia berhak tahu tentang anaknya…

Tapi bagaimana memberi tahu bayi itu padanya?

*

 

Hari- hari berikutnya dihabiskan Sae-jin untuk mengalihkan perhatiannya pada bazaar, bersama Sunny membuat stand untuk cupcakes juga melukis ruangan aula bersama tim design yang lain.

Hari Bazaar pun tiba. Sae-jin berdiri di depan pintu aula bersama Sunny, memandang sekeliling dengan puas. Akhirnya hasil kerja keras mereka selama seminggu terakhir terbayar. Suasana Bazaar sangat ramai karena bazaar universitas Kyunghee lumayan terkenal di kalangan masyarakat.

“Benar- benar keren,” komentar Sunny.

“Ah, aku tidak sabar menunggu acara kembang api. Pasti keren!”

 Sae-jin hanya tersenyum, merasakan kepuasan itu dalam diam. “Aku mau turun ke bawah, ikut?” tanya Sunny.

“Ah, aniyo—nanti aku menyusul,” kata Sae-jin pelan. Sunny mengangguk dan turun ke bawah. Sae-jin memeperhatikan punggung Sunny yang menghilang, gadis itu berbalik dan pergi ke arah berlawanan.

 

Sudah lama rasanya sejak Sae-jin pergi ke atap gedung. Gadis itu biasanya selalu menghabiskan waktunya di atap yang hampir tak pernah didatangi orang lain, menikmati angin segar dan menjernihkan pikirannya setiap dia ada masalah. Tempat ini selalu menenangkan untuknya. Dengan semua yang terjadi selama sebulan terakhir ini, dia sangat butuh untuk menjernihkan pikirannya di sini. Sae-jin menyandarkan kedua tangannya di terali, menatap langit malam yang gelap, tak dihiasi bintang.

“Cho Kyuhyun berhak tahu dia memiliki seorang anak. Entah dia mengharapkan itu atau tidak, dan janin itu berhak diberitahu kehadirannya. Kau tidak sepenuhnya memiliki hak untuk bayi itu, Kyuhyun juga. Dan… baru setelah itu kalian bersama- sama berdiskusi tentang apa yang akan kalian lakukan pada bayi itu. Kyuhyun berhak tahu tentang bayi itu. Dia berhak tahu tentang anaknya.”

“Kakek tidak tahu banyak, tapi menurutku alasan orang berbuat jahat adalah karena mereka cenderung takut pada pilihan lain yang mereka miliki… kakek mungkin akan ‘nekat’ asalkan itu melindungi orang- orang yang kakek sayangi tapi selama masih ada pilihan untuk tidak berbuat jahat, kakek akan cenderung pada pilihan itu. Jalannya mungkin akan berliku dan susah, tapi asalkan itu benar kakek lebih memilih jalan itu daripada menyakiti orang lain…”

Setelah dipikir- pikir, ide menggugurkan bayi ini memang tidak terdengar seperti dirinya. Dan saat itu Sae-jin tidak mengenal dirinya sendiri, yang dia pikirkan hanyalah musibah yang harus dia hadapi dengan kehamilan ini. Dia tidak menyadari bahwa saat ini dia sedang mengandung dan yang di dalam perutnya ini akan menjadi manusia dan berhak hidup. Dan dia harus bertanggung jawab atas apa yang sudah dia lakukan.

Itulah Sae-jin yang sebenarnya.

Sae-jin menarik nafas, dan menutup mata, merasakan angin dingin yang menerpanya. Sae-jin memandang perutnya. Seminggu terakhir ini perasaannya lebih tertata, dia tidak merasa setertekan minggu lalu. Malahan sekarang perasaannya sangat tenang dan ringan. Kakeknya benar, jalan untuk berbuat baik memang biasanya berliku tapi selagi dia yakin yang dia lakukan benar, dia tidak perlu merasa takut.

Kedua tangannya memegang perutnya dan mengelusnya pelan. Rasanya sekarang dia tidak sendiri lagi, ada ‘seseorang’ yang bersamanya.

“Kau… baik- baik saja kan?” tanya Sae-jin pelan, seolah janin dalam perutnya bisa mengerti. “Mianhae, aku sempat ingin menghilangkanmu… jeongmal mianhae…”

Beginikah rasanya orang yang sedang mengandung? Meskipun Sae-jin tidak berharap akan hamil tapi sekarang dia merasakan sesuatu yang aneh, seperti bahagia.

“Aku tidak tahu apa dia akan menerimamu atau tidak…” gumam Sae-jin pelan. Meskipun harapannya sekarang sama besar dengan 1% untuk memberitahu Kyuhyun. Karena seperti yang dia katakan, Cho Kyuhyun buknalah orang yang bisa ditemui segampang itu. Dan bahkan kalaupun iya, bagaimana cara menyampaikan semua ini padanya? Sae-jin takut dengan reaksi Kyuhyun.

Saejin berbalik pergi tapi berhenti di depan sebuah dinding dengan sebuah tulisan yang dibuat dari goresan pisau. Goresan ini sudah ada sejak dia pertama kali datang di atap ini, sepertinya ditulis oleh alumni kampus. Sepertinya bukan hanya Sae-jin yang datang kemari untuk menenangkan diri.

Aku tahu alasanmu kemari.

Apapun itu, sebaiknya saat pergi dari tempat ini kau sudah tersenyum J

Sae-jin tersenyum. Itulah yang dia lakukan. Seringnya dia memang pergi meninggalkan tempat ini dengan senyuman. Sae-jin mengelus goresan itu. Seringnya alasan dia tersenyum adalah setelah melihat tulisan ini, kemudian dia melihat tulisan kecil di bawah.

Hasil goresan tangan Sae-jin sendiri.

Tentu saja.

Sekarang aku sudah tersenyum ^^

Rasanya ini sedikit aneh, dia tidak mengenal siapa yang menulis tulisan di atas dan orang itu juga pasti akan heran bila melihat goresan tangan Sae-jin.

Tiba- tiba ponsel Sae-jin bergetar. Nama Yi Fan kembali terpampang di layar ponsel. Sae-jin menghela nafas dan membiarkan ponsel itu bergetar hingga mati sendiri.

Dia masih belum siap berbicara dengan Kris… Kris pasti akan kecewa dan membencinya, dan dia tidak sanggup melihat itu.

 

Situasi bazaar sangat ramai dengan pengunjung dari berbagai sekolah dan juga kampus lain. Sae-jin dan Sunny sibuk mengatur cupcakes di stand mereka bersama beberapa teman mereka yang lain, Sunny sangat pintar membuat cupcakes dan segera saja cupcakes buatan mereka langsung dikerubuti pengunjung lain. Mereka harus mengambil persediaan mereka di gudang. Sae-jin sebenarnya sedikit pusing dengan keramaian tapi dia sangat senang jualan mereka habis dibeli pengunjung.

“Terima kasih,” ujar Sae-jin sambil tersenyum, menyodorkan bingkisan kecil berisi cupcake pada seorang pengunjung ketika Kyunmgin menghampiri mereka dengan tersengal- sengal dan mata bulat membesar. “Sae-jin—ah! Sunny—ah! Berita besar!”

“Mwoga?”

“Katanya Shinwoo songsaeng-nim mengundang Super Junior Kyuhyun untuk acara di aula! Aku juga baru dengar!”

Sae-jin dan Sunny bertatapan, tahu arti tatapan masing- masing.

“Jinjja?” tanya Sunny serius.

“Jinjja! Sekarang dia sudah di dalam aula!” Sunny segera melepaskan celemeknya dan mengikuti Kyungnim sementara Sae-jin masih diam di tempatnya. “Han Sae-jin kenapa kau masih di situ?”

Sae-jin terlihat sangat tegang, tangannya masih memegang bingkisan cupcakes. Tiba- tiba keramaian yang tadi berlalu lalang langsung berbondong- bondong menuju aula karena sepertinya kabar surprise guest acara itu yang ternyata Super Junior Cho Kyuhyun sudah menyebar.

Sunny menarik tangan Sae-jin tapi Sae-jin masih mengeras di tempatnya. “Sae-jin—ah, ini mungkin kesempatanmu.”

“Aku—”

“Kau mungkin tidak bisa bertemu dengannya lagi!” kata Sunny dan sebelum Sae-jin menjawab sahabatnya sudah menarik tangannya mengikuti keramaian.

Cho Kyuhyun sekarang sedang berdiri di panggung bercerita dengan pembaca acara dan segera saja aula yang terbilang sangat besar itu sudah penuh dengan penonton, bahkan Sae-jin dan Sunny hanya bisa berdiri di luar bersama yang lain yang ‘kurang beruntung’. Seisi aula penuh dengan teriakan yang memanggil- manggil nama Kyuhyun. Semuanya mengangkat ponsel atau kamera mereka untuk mengambil foto Kyuhyun di panggung.

Hanya melihat sosok tinggi itu di panggung membuat jantung Sae-jin berdebar kencang. Kyuhyun tersenyum ramah pada semua orang dan menjawab pertanyaan MC dengan gaya lucu dan cuek, membuat para penonton tertawa dan beberapa berteriak histeris. Sae-jin masih terpana memandang Kyuhyun dan beribu perasaan kembali menghantamnya. Takut, gelisah, khawatir dan ragu. Takut untuk meceritakan pada Kyuhyun yang sebenarnya dan ragu apakah benar yang dia lakukan. Bila dia mengatakan ini pada Kyuhyun, tentu dia sudah tahu apa yang akan terjadi nanti.

“Berikutnya Kyuhyun akan membawakan beberapa buah lagu untuk kita,”

Teriakan membahana memenuhi ruangan. Bila saat ini masih seperti dulu mungkin satu- satunya perasaan yang Sae-jin rasakan adalah kagum. Seperti dia selalu mengagumi seorang Cho Kyuhyun. Tapi sekarang semuanya berbeda, dia melihat pria itu dengan cara yang berbeda, dan Sae-jin tahu ini sangat berbahaya. Kepalanya tidak tahu cara menyusun kalimat yang tepat.  Intro dari lagu ‘Hope is A Dream That Never Sleeps’ mulai menggema dan para penonton kembali bersorak histeris. Kyuhyun mulai menyanyikan lagunya dan Sae-jin merasakan pandangannya mengabur. Dia sama sekali tidak sedang menikmati lagu, sekarang dia merasa kacau dan bingung. Sunny menyadari ekspresi Sae-jin. “Sae-jin, apa kau baik- baik saja?”

Sae-jin masih terpana sebentar tapi kemudian menggeleng. “A—aniyo, aku—aku hanya butuh udara segar, di sini sangat pengap.”

“Tapi—“

Sae-jin melepaskan pegangan tangan Sunny dan berjalan meninggalkan keramaian, sesekali menyambar pengunjung yang baru datang dan dengan histeris bergabung untuk menonton salah satu idola besar Korea.

Dan entah mengapa garis yang membatasi dunia Sae-jin dan Kyuhyun sangat jelas. Dan juga bayangan- bayangan yang akan terjadi bila dia mengatakan pada Kyuhyun yang sebenarnya.

Keadaan di luar gedung mulai sepi, karena semuanya terfokus di aula. Sae-jin merasa lebih baik dan nyaman, mesipun suara Kyuhyun masih berkumandang dari dalam.

Ponsel Sae-jin bergetar lagi. Sae-jin menatap layar ponsel dan melihat nama Yi Fan kembali tertera. Sae-jin menghirup nafas dalam- dalam dan kembali meletakkan ponsel itu di saku celananya.

“Aaaaah… ternyata kau benar- benar sedang menghindariku.”

Sae-jin tercekat dan berbalik menemukan Kris berdiri di depannya, menatapnya dengan tajam dan bingung, tangannya masih menggenggam ponsel di telinganya. Sae-jin membeku, tidak tahu harus berkata apa. Hatinya berdegup kencang dan entah mengapa yang dia inginkan adalah memeluk Kris dan mengatakan semuanya. Semua yang menimpanya dan semua yang dia takutkan.

Tapi itu sama saja dengan membongkar aib dan membuat Kris membencinya.

“Wae? Apa yang terjadi?” tanya Kris, berjalan mendekatinya sementara pandangan Sae-jin mengabur. Suara ricuh masih terdengar dari dalam gedung.

“Han Sae-jin, jawab pertanyaanku.” Kata Kris dengan wajah serius. Sae-jin menggeleng dan menyeka air matanya. “A—aniyo, m—mianhae,”

“Aniyo? Mianhae? Apa maksudmu? Aku tidak mengerti apa yang terjadi dan apa alasan kau tidak mengangkat telpon selama seminggu terakhir ini? Apa kau tahu betapa bingung dan khawatirnya aku? Aku pikir terjadi sesuatu padamu dan aku tidak bisa menghubungimu karena jadwalku sangat padat!!!”

Aku hamil.

“Aku baik- baik saja,” kata Sae-jin, air mata membasahi pipinya dan dia menunduk. Tapi gadis itu tersentak ketika Kris menariknya ke pelukannya.

Dada Kris, sangat hangat, dan aromanya sangat menenangkan. Pelukan Kris membuat Sae-jin merasa tenang dan terlindungi tapi di saat yang bersamaan dia merasa bingung dan sedih. Seandainya Kris tahu yang sebenarnya… apakah dia masih akan memeluk Sae-jin seperti ini?

“Han Sae-jin, aku mohon jangan seperti itu lagi. Kau bisa memarahiku dan protes padaku kalau aku berbuat salah, tapi jangan tidak menjawab telponku dan menjauhiku. Kau pikir aku bisa berkonsentrasi selama seminggu ini? Aku hampir selalu lupa lirikku dan menabrak member lain saat di panggung!”

Sae-jin terkekeh. “Itu sih memang kebodohanmu, Mu Yifan…”

Kris mendecak. “Apa yang terjadi? Apa aku berbuat salah?”

Sae-jin menggeleng. “Aniyo, ini salahku. Pikiranku sedang sangat kacau dan aku tidak ingin merepotkanmu, karena itu…”

“Well, aku memilih direpotkan,” bisik Kris, masih memeluk Sae-jin.

“Apa kau sadar kita sedang berpelukan di tempat umum? Bagaimana kalau mereka mengenalimu?”

“Kau sudah bilang sebelumnya kan kalau aku belum cukup dikenali? Dan lagipula di sini sedang kosong,”

Sae-jin tertawa dan menyembunyikan wajahnya di dada Kris.

“Jadi… apa kita baik- baik saja?”

Sae-jin tertawa kecil. “Kita baik- baik saja.” Sebenarnya tidak.

“Bagus, baiklah. Karena kau berhutang budi padaku penjelasan, dan kau bisa menjelaskannya sementara kau membawaku keliling bazaar,”

“Aku akan membawamu keliling bazaar tapi aku tidak akan menjelaskan apa- apa padamu, deal?”

Kris melepaskan Sae-jin dan mengerang. “Deal.” Dia menyeka air mata di pipi Sae-jin. “Yah, lihat dirimu jelek sekali.”

“Cih,” Sae-jin mendorong Kris dan pria itu tertawa, sejenak mereka terlihat seperti sepasang kekasih. Kris menarik lengan Sae-jin seolah takut gadis itu akan melepaskan pegangan tangannya lalu pergi dan tidak pernah mengangkat telponnya lagi, seperti yang gadis itu lakukan seminggu ini. Sae-jin menatap pegangan tangan mereka dalam diam dan hatinya terasa sakit.

Gadis itu terlalu banyak berandai- andai…

*

Tugas Kyuhyun sudah selesai.

Shinwoo hyung memintanya untuk mengisi acara bazaar mereka dengan menyanyikan beberapa buah lagu. Dia toh memang sedang lowong malam dan dia sudah lama ingin datang ke kampus almamaternya dan mengenang saat- saatnya di kampus itu, dan tentu saja tidak mungkin melakukannya saat dia dikerubungi keramaian. Maka Kyuhyun berpura- pura pulang dan masuk ke mobil lalu pergi tapi kemudian dia berhenti cukup jauh, memakai masker dan topi lalu kembali masuk ke dalam kampus. Kerumunan sekarang kembali menyebar dan mereka terlalu sibuk dengan barang- barang di bazaar sehingga penyamaran Kyuhyun tidak mereka sadari. Mereka juga pasti berfikiran Kyuhyun sudah pergi. Kyuhyun dengan enteng melangkah masuk ke dalam gedung, mengunjungi ruang kelas tempat dia biasa datang, rasanya senang mengenang kembali masa lalu. Dia ingat sering datang ke ruang musik untuk sekedar bermain piano dan menyanyi, atau berkunjung ke cafeteria dan makan mie kecap bersama temannya.

Tapi sebenarnya ada satu tempat yang ingin dia datangi. Sangat ingin.

Kyuhyun berjalan meninggalkan cafeteria menuju kea rah tangga.

Rasanya terakhir kali dia datang ke tempat ini adalah setahun lalu sebelum dia wisuda. Atap ini adalah tempat yang baisa dia kunjungi ketika dia ingin menjernihkan pikiran karena masalah skejul dan masalah batin lain yang menimpanya. Banyak cerita- cerita seram yang membuat atap ini tak pernah dikunjungi siapapun tapi itu yang membuat tempat ini favorite bagi Kyuhyun, tempat dia bisa menghabiskan berjam- jam tanpa dipandangi orang lain, udara segar yang bisa menjernihkan pikirannya. Dia bisa memikirkan banyak hal dan saat meninggalkan tempat ini perasaannya sudah tenang.

Dia pernah berfikiran mengajak Sae-ryung ke tempat ini tapi mereka tak pernah punya kesempatan untuk mengunjungi tempat ini, terlalu sibuk dengan jadwal masing- masing.

Dan sekarang kesempatan itu tidak ada lagi.

Ayolah, Cho Kyuhyun. Kau berjanji akan menghentikan semua ini.

Kyuhyun memandang langit yang mala mini tak berbintang dan udara segar menerpa tubuhnya, membuat hatinya terasa damai, apalagi setelah semua yang terjadi akhir- akhir ini.

Tempat ini masih sama seperti dulu, bedanya tanaman- tanaman yang dulu tak terawat kini sepertinya dirawat seseorang. Well, berarti ada juga orang yang ‘berani’ datang kemari. Kyuhyun menarik nafas dan pergi ke dinding yang dulu digoresnya dengan pisau lipat yang selalu dia bawa.

Aku tahu alasanmu kemari.

Apapun itu, sebaiknya saat pergi dari tempat ini kau sudah tersenyum J

Kyuhyun tersenyum, mengelus tulisan itu. Dia menulis itu di hari wisudanya, karena dia tidak tahu kapan dia akan sempat pergi ke sini lagi. Pria itu sedikit terkejut ketika melihat goresan kecil di bawah.

Tentu saja.

Sekarang aku sudah tersenyum ^^

Senyum menghiasi wajah Kyuhyun. Dia semapt mengira dia satu- satunya yang menyadari betapa menenangkannya tempat ini, ternyata ada orang lain yang datang kemari. Dan sepertinya itu seorang gadis? Well, gadis itu beruntung bisa menemukan tempat ini. Kyuhyun juga mengelus tulisan tangan itu. Siapapun itu, sepertinya mereka berdua punya kesamaan.

Kyuhyun berjalan ke tepi atap, kedua tangannya memegang terali dan menatap pemandangan di depannya, keramaian di bawahnya, berbagai pikiran- pikiran yang sudah dia ‘tampung’ beberapa minggu terakhir ini kembali mengganggunya.

*

Han Sae-jin menatap punggung Kris yang menjauh dan berbaur dengan keramaian di jalan. Sayangnya dia harus pergi karena dipanggil manajernya. Perasaan Sae-jin menjadi lebih ringan setelah mengelilingi bazaar bersama Kris meskipun dia merasa sangat egois karena tidak memberitahukan Kris yang sebenarnya.

Gadis itu berbalik dan merasa sedikit ngeri ketika menyadari betapa ramainya situasi di bazaar. Stand cupcakesnya juga sudah tutup karena persediaan cupcake mereka sudah habis. Sae-jin mengangkat kening. Dia juga tidak mungkin pulang ke asrama karena ibu asrama akan memarahinya karena ‘tidak berpartisipasi dan memilih untuk bermalas- malasan’.

Well, bagaimana kalau pergi ke tempat favoritenya?

Sae-jin memasang headset ke kedua telinganya dan memasang ipodnya. ‘Autumn Leaves’ dari Ed sheeran menggema di telinganya dan dia merasa nyaman dan sedikit melankolis. Gadis itu berjalan memasukki gedung dan naik ke atap.

Udara dingin menerpanya ketika dia menginjakkan kaki di lantai atap dan perasaannya kembali tenang. Sae-jin menatap langit gelap tak berbintang. Kyuhyun sudah pergi, dia toh sudah mengira ini. Dia tidak akan bisa mengakan itu pada Kyuhyun, dia tidak mungkin berteriak ‘aku hamil anakmu’ dari keramaian kan? Dan lagipula dia belum siap, dia takut dengan reaksi yang akan dia terima.

Sae-jin memandang tulisan di dinding.

Aku tahu alasanmu kemari.

Apapun itu, sebaiknya saat pergi dari tempat ini kau sudah tersenyum J

 

Tentu saja.

Sekarang aku sudah tersenyum ^^

Sae-jin terkejut ketika kembali melihat tulisan di bawahnya lagi.

Baguslah J

Apa orang itu sempat datang ke sini? Sae-jin segera melihat ke sekeliling dan terkejut ketika melihat seseorang yang berdiri di ujung sana, di sudut atap, memandang terali dan menatap langit.

Sosok jangkung memakai mantel hitam. Jantungnya berdegup kencang, dia kenal rambut cokelat gelap itu.

Sae-jin membeku di tempatnya untuk beberapa detik dan selama itu pria itu masih berdiri dengan tenang memperhatikan langit malam, sepertinya sangat santai, berbeda dengan sosoknya sehari- hari.

Cho Kyuhyun kemudian berbalik dan matanya bertemu dengan Han Sae-jin.

Mata mereka bertemu dan keduanya terlihat terkejut. Sae-jin seperti melihat hantu, dadanya serasa bergemuruh. Itu dia, laki- laki yang antara ingin dia temui dan ingin dia hindari.

Ayah dari janin yang dikandungnya.

Cho Kyuhyun sebaliknya terlihat kaget dan sedikit heran melihat Han Sae-jin di sini. Mereka saling bertatapan selama beberapa detik tapi kemudian Kyuhyun berdehem dan berjalan mendekati Sae-jin.

“Apa kau stalker, Sae-jin—ssi?” katanya dingin tapi sadar bahwa Sae-jin masih seperti patung, menatapnya dengan tak percaya. “Aku hanya bercanda.” Katanya tertawa ringan. Dia toh pernah menghabiskan ‘satu malam’ dengan gadis ini. Dan gadis ini adalah penggemarnya. Tapi entah mengapa dia tidak merasa takut pada gadis ini, rasanya gadis ini berbeda.

Berbeda dari penggemarnya yang lain.

Ya kan?

“Ternyata kau kuliah di sini juga. Harusnya aku tahu, kau terlihat pintar.” Candanya lagi dan merasa sedikit heran gadis itu masih kaget melihatnya.

Oh ya, dia lupa, apa yang dikatakan gadis itu padanya waktu itu. Gadis itu ingin melupakan malam yang terjadi di antara mereka. Dia juga, tapi haruskah dia membicarakannya? Itu seperti membangkitkan ingatan tentang malam itu lagi dan gadis ini sepertinya tidak akan suka.

“Apa kau suka datang kemari juga?” tanya Kyuhyun tapi gadis itu hanya diam, hanya saja dia tidak terlihat sekaget sebelumnya. “Tempat ini menyenangkan. Baiklah, aku tidak ingin mengganggumu. Aku pergi dulu.”

Cho Kyuhyun memaksakan senyum dan melangkah pergi.

“J—jogi—“ akhirnya gadis itu bersuara. Kyuhyun berhenti dan berbalik, sedikit kaget melihat mata gadis itu berkaca- kaca dan dia terlihat gugup.

“A—ada yang ingin kukatakan.”

Kyuhyun menatapnya dingin, menunggu kalimat berikutnya. Gadis itu terlihat gugup sesaat, mulutnya membuka dan wajahnya masih terlihat bingung, selama beberapa detik dia hanya seperti itu, antara bingung dan ragu untuk mengatakannya atau tidak. Kyuhyun masih sabar menunggu di tempatnya, bertanya- tanya apa lagi yang ingin gadis itu ingin mereka bicarakan. Tapi gadis itu kemudian menarik nafas panjang dan mengatakannya dengan sangat pelan, dua bulir air mata membasahi pipinya.

“Aku… aku hamil.”

Tepat saat itu kembang api meledak di angkasa, menimbulkan keributan dan bermacam warna- warni di langit yang hitam. Suara gemuruh dan sorakkan dari para pengunjung bazaar terdengar dari kejauhan tapi dua orang di atap gedung tidak memperhatikan itu.

Sae-jin dan Kyuhyun tidak memperhatikan itu, mereka masih saling menatap dengan intens, Sae-jin melirik kembang api berwarna- warni di langit: dia baru saja melewatkan acara puncak dari bazaar. Kemudian ditatapanya wajah tampan di depannya yang sekarang diterangi sinar dari kembang api di langit, terkejut.