Novel, Romance

The Story of Bear Family- Part 17

Title : The Story of Bear Family- Part 17

Rate: PG- 17

Character: Cho Kyuhyun

Kris

Han Sae-jin

 

 

Butuh tidak kurang dari setengah jam untuk menemukan Han Sae-jin. Sengaja atau tidak; gadis itu selalu tahu cara bersembunyi dan membuat Cho Kyuhyun harus khawatir mencarinya.

Cho Kyuhyun melihatnya; rambut cokelat panjang yang berbalik dan berlari pergi menjauh dari keramaian, dan itu membuat Kyuhyun merasa lebih marah lagi pada gadis itu. Mengapa dia lebih memilih untuk lari daripada mendekati mereka atau pergi ke tempat duduk dan menunggu untuk mendapatkan penjelasan dari Kyuhyun? Mengapa dia, seperti biasa, berlari menghilang dan menjauhi masalah? Mengapa dia lebih memilih diam daripada menuntut penjelasan dari Kyuhyun? Mengapa dia selalu membiarkan pria itu melakukan apapun yang dia mau dan bersikap seolah tidak terjadi apa- apa?

Apakah kau sebegitu dinginnya, Han Sae-jin? Benarkah istrinya begitu tidak perduli padanya?

Cho Kyuhyun mengelilingi seluruh gedung dan tidak menemukan siapapun. Han Sae-jin selalu suka tempat yang gelap; tapi dia juga tidak ingin tidak ditemukan. Gadis itu mungkin berada di taman; Kyuhyun berjalan ke luar beranda untuk melihat keadaan taman di sekelilingnya dan gelap tapi sebuah pemandangan membuat jantungnya sejenak berhenti berdetak.

Sial.

Detik berikutnya pria itu berlari meninggalkan beranda, mencari pintu keluar gedung itu.

 


 

Suasana dalam perjalanan pulang begitu mencekam; Sae-jin merasa sulit untuknya bahkan untuk bernafas; dadanya terlalu sesak dan perasaan malu membuat sekujur tubuhnya terasa panas. Pergelangan tangannya masih sakit karena pegangan tangan Cho Kyuhyun yang sangat kuat sepanjang perjalanan dari taman ke tempat parkir. Ingatan akan ekspresi Kris masih sangat jelas di pikirannya; cara pria itu menatap Kyuhyun dengan tatapan membunuh yang sama.

Bunyi ponsel Kyuhyun yang terus berdering setidaknya memecah sedikit kesunyian yang sangat menyakitkan ini. Sae-jin beberapa kali melirik Kyuhyun yang membawa mobil dengan kecapatan luar biasa dan tatapan tajam—urat- urat di wajah dan rahangnya bahkan terlihat jelas. Seberapa jauh yang dilihatnya? Apa saat Kris memeluk Sae-jin? Apa yang ada di pikirannya? Apakah dia berfikir bahwa Sae-jin selingkuh? Sae-jin bahkan tidak tahu harus memulai penjelasan dari mana, Cho Kyuhyun mungkin tidak akan mempercayainya. Pria itu tidak mungkin marah bila dia hanya sekedar melihat Kris dan Sae-jin bicara. Apa yang harus dia lakukan?

Sae-jin tidak sadar ketika mobil masuk ke pelataran parkir dan berhenti dengan sedikit asal. Cho Kyuhyun langsung mematikan mesin dan membuka pintu. Sae-jin perlahan keluar dari mobil tapi Cho Kyuhyun menarik tangannya sambil menekan remote mobil dan kembali menarik gadis itu, berjalan dengan sedikit tergesa- gesa ke dalam lift. Nafas Sae-jin tercekat tapi dengan pasrah dia mengikuti suaminya; meringis pelan karena bekas di pergelangan tangannya yang masih sakit.

Pantaskah dia diperlakukan seperti ini?

Kyuhyun menekan tombol pintu dengan segera dan melempar istrinya masuk. Sae-jin meringis sambil menyapu tangannya tapi detik berikutnya Cho Kyuhyun mendorong gadis itu ke pintu dan memenjarakannya dengan tubuhnya yang tinggi dan kedua tangannya di masing- masing sisi tubuh gadis itu.

“Kenapa dia ada di sana?” desis pria itu, jelas terlihat emosi.

Sae-jin merasakan matanya berkaca- kaca. Tidak, dia tidak ingin Kyuhyun kembali memperlakukannya seperti ini. Gadis itu terisak- isak, menatap suaminya dengan ketakutan.

Tapi Cho Kyuhyun terlalu emosi untuk merespon perasaan takut itu, sebaliknya pria itu hanya menunjukkan seringai sinisnya.

“Isakanmu tidak akan menjawab apapun, Han Sae-jin. Jawab, kenapa dia bisa berada di sana.” Tanyanya dingin dengan nada mengancam. Bulir airmata jatuh membasahi pipi Sae-jin.

“D—dia temanku,”

Kyuhyun kembali menyeringai, terlihat semakin marah dengan jawaban gadis itu. “Jawaban yang tidak sesuai.”

“Aku—“

“Aku tidak mau melihatmu dekat dengannya, mengerti?”

Sae-jin terhentak. Permintaan apa itu?

“K—kenapa?”

Suaminya terlihat semakin frustasi dan emosi dengan kepolosan istrinya. Kepolosan yang sering disalahartikan oleh orang lain.

“Karena Han Sae-jin, berpelukan dengan pria lain di saat kau sudah menjadi istri seseorang bukanlah sesuatu yang terpuji!”

Sae-jin membeku. Benar, Cho Kyuhyun melihatnya. Pria itu melihat semuanya. Kyuhyun sendiri seperti menanti reaksi dari istrinya, mungkin berharap Sae-jin menjelaskan semuanya, arti dari pelukan itu—atau bahkan mengatakan bahwa pelukan itu tidak ada artinya. Tapi gadis itu hanya menunduk dan menangis.

“Maaf.”

Sial, ini di lewat batas toleransinya. Kyuhyun mendengus sinis dan kembali menarik istrinya dengan paksa, kali ini Han Sae-jin meronta meminta dirinya dilepaskan tapi suaminya terlalu emosi untuk menanggapinya. Sae-jin mengira suaminya akan membawanya ke kamarnya tapi matanya melebar melihat Cho Kyuhyun membawa gadis itu ke kamar suaminya.

Cho Kyuhyun melempar Sae-jin ke tempat tidurnya yang besar lalu membuka jaket hitamnya dan melemparnya ke sembarang tempat. Sae-jin membeku di tempatnya—apa yang akan suaminya lakukan? Kyuhyun naik ke atas tempat tidur dan memerangkap Han Sae-jin yang ketakutan di bawahnya.

“A—apa yang k—kau lakukan?” tangis Sae-jin.

Kali ini mata Kyuhyun terlihat gelap, emosi di wajahnya tidak lagi terlihat tapi tergantikan oleh tatapan yang lebih menakutkan.

“Apa yang seharusnya dilakukan oleh sepasang suami- istri,” ujar Kyuhyun lalu menurunkan kepalanya ke sudut antara lehernya yang jenjang dan pundaknya. Butuh beberapa detik bagi Sae-jin untuk mencerna apa yang sesungguhnya terjadi dan nafas gadis itu tercekat ketika nafas hangat Kyuhyun menyapu lehernya.

“C—Cho K—Kyuhyun—“

“Aku mulai mempertimbangkan untuk menghukummu karena terus memanggilku dengan tidak sopan, Han Sae-jin,” bisik Kyuhyun di telinganya. Darah Sae-jin berdesir dan jantungnya berdegup kencang—Cho Kyuhyun—apa yang terjadi—bagaimana bisa—?

Pipi Sae-jin memerah, aroma parfum maskulin Kyuhyun seperti biasa meracuninya tapi pikirannya berkabut dan gadis itu merasa gelisah. Sebelum gadis itu mencoba menetralkan apapun di otaknya Cho Kyuhyun menatapnya dengan tajam.

“Haruskah aku memulai hukumannya dari sekarang?”

Detik berikutnya bibir mereka bertemu dan kali ini tidak ada ciuman yang hangat seperti waktu itu—Cho Kyuhyun seperti ingin meluapkan semua emosi itu melalui bibirnya. Sae-jin tidak merasa lembut seperti waktu itu—dia merasa disiksa. Airmata jatuh dari kedua matanya tapi Cho Kyuhyun kembali tidak menyadarinya. Kedua tangan Sae-jin memegang pundak Kyuhyun mencoba mendorongnya tapi pria itu menarik kedua tangannya, mengaitkan jari- jari mereka dan menahannya di kedua sisi tubuh Sae-jin. Tidak ada lagi Cho Kyuhyun yang lembut dan hangat; suami yang sekarang berada di atas tubuhnya lebih mirip monster.

“Kyuhyun oppa, aku mohon—“ bisik Sae-jin ketika bibir mereka berpisah untuk menarik nafas. Kyuhyun menatap istrinya dengan tajam tapi kilat marah kembali terlihat di matanya.

“Apa sebegitu menyakitkan untuk bersentuhan denganku, Han Sae-jin? Apa aku sebegitu kejamnya di matamu?”

Sae-jin menggeleng. “Tidak, sama sekali tidak.”

“Kalau begitu kenapa kau membiarkan pria yang bahkan tidak punya hubungan apa- apa denganmu untuk memelukmu dan aku sama sekali tidak bisa menyentuhmu?”

“Tidak, Cho Kyuhyun—“ ujar Sae-jin bersimbah air mata, meminta pengampunan. “M—maafkan aku.”

“Berhenti meminta maaf.” Desis Kyuhyun, muak mendengar permintaan maaf Han Sae-jin dan kembali menyatukan bibir mereka lagi, tepatnya Kyuhyun masih tidak berniat untuk berhenti—terus menahan Han Sae-jin di bawah tubuhnya, Bibirnya kemudian turun ke lehernya dan menghirup aroma harum gadis itu sebelum kemudian menghisapnya. Dia tidak tahu apa yang terjadi tapi dia ingin tahu sampai di mana ini akan berlanjut.

“Ngh—“ Sae-jin membuang nafas berat, tapi segera mengunci bibirnya rapat- rapat. Benarkah mereka harus melakukan ini? Apa yang sebenarnya ada di pikiran Cho Kyuhyun—apakah dia benar- benar melakukan ini karena dia marah?

Tiba- tiba semua ini terasa seperti déjà vu ketika ingatan tentang adegan di beranda tadi muncul di kepalanya; seolah ini menyadarkannya.

Cho Kyuhyun kembali sedang melampiaskan kemarahan dan kesedihannya karena Shin Sae-ryung.

Sae-jin masih terhenyak karena kenyataan itu sementara kini Kyuhyun menjelajahi lehernya yang putih jenjang; menciumnya dan menghisapnya, tidak rela membiarkan tanda merah itu hilang. Air mata Sae-jin mengalir di samping matanya dan tiba- tiba semua terasa sangat sesak dan menyakitkan.

“Lepaskan aku.” Bisik Sae-jin. “Aku mohon.”

Kyuhyun tidak membiarkannya diam, ciumannya turun ke daerah dada Sae-jin yang putih, meninggalkan beberapa tanda merah di situ.

“Kami sudah menerima laporan dari Pengurus Asramamu… beliau menemukan sesuatu di kamarmu… benar?”

“Kau adalah anggota mahasiswa yang menerima beasiswa penuh dari Dewan kami karena prestasimu yang selalu jauh di atas rata- rata dan kau salah satu mahasiswi teladan. Dan kau pasti sudah membaca persyaratan saat menerima beasiswa itu bukan?”

Kyuhyun melepaskan satu tangannya tapi Sae-jin tidak lagi melawan yang diartikan Kyuhyun bahwa gadis itu mulai menerima perlakuannya. Tapi Sae-jin hanya membeku di tempatnya dengan pasrah; membiarkan memori- memori memalukan dan menyakitkan yang sesungguhnya ingin dia lupakan itu kembali menyerangnya bertubi- tubi, sementara tangan Kyuhyun mulai membuka kancing baju Sae-jin satu- persatu.

“Kita bersusah payah membuat fakultas kita menjadi salah satu yang paling berkelas dan patut di banggakan di universitas ini tapi kalian hanya memikirkan diri kalian di sini dan bertindak sesuka hati kalian tanpa mempertimbangkan bahwa bukan hanya kalian yang akan menerima dampaknya.”

Tangan Sae-jin bersandar di pundak Kyuhyun sementara pria itu melakukan apapun yang dia inginkan pada istrinya.

“Seandainya maaf bisa mengubah segala hal, Nona Han. Dan aku kecewa kau tidak memikirkan semua konsekuensi ini sebelum kau melakukannya. Kau salah satu mahasiswa kebanggaan kami karena prestasi akademikmu sangat hebat dan kau adalah murid teladan. Tapi nila setitik bisa merusak susu sebelanga dan kami sebenarnya mengharapkan lebih darimu.”

“Jawab kami, cewek murahan. Apa yang kau lakukan pada Kyuhyun oppa? Apa yang kau lakukan sampai dia mau menikahimu?!?!?!”

Bahkan tamparan itu masih terasa di pipinya, dan perlakukan kasar gadis- gadis itu. Sae-jin menghela nafas dan air mata semakin banyak berjatuhan.

“Kau hamil ya? Dasar kau wanita murahan, pasti kau menjebak oppa kami!!!”

Dia merasakan sapuan angin dingin di tubuhnya; Cho Kyuhyun telah membuka bajunya dan memperlihatkan tubuh bagian atasnya yang hanya ditutupi bra, kedua tangan Kyuhyun membelai paha jenjang Sae-jin.

“Ngh—“ Sae-jin menahan desahannya sementara hatinya serasa dihujam ratusan jarum.

“Tapi bukankah sayang sekali? Coba lihat Sae-ryung—ssi, dia benar- benar seperti Dewa Kecantikan. Kalau aku jadi Kyuhyun sunbae—aku pasti menyesal. Aish, kalau aku jadi Kyuhyun sunbae, aku tidak akan melepaskan Sae-ryung demi apapun.”

“Lepaskan aku.” Gumam Sae-jin dingin, cukup keras untuk membuat suaminya berhenti dari apapun yang dia lakukan pada tubuh Sae-jin yang pasrah.

Kyuhyun terhenti, gumaman Sae-jin seperti air dingin yang menyirami wajahnya. Pria itu menatap istrinya yang menatap apapun di depannya dengan dingin dan penuh kesedihan, air mata membasahi pipinya. Apapun yang begitu menggoda di matanya kini tergantikan dengan tatapan sedih istrinya—seperti inikah? Seperti inikah cara Kyuhyun memperlakukannya ketika pria itu meminta agar Han Sae-jin mempercayainya?

“Han Sae-jin.”

Sae-jin menutup matanya dengan kedua tangannya dan menangis. Ekspresi Kyuhyun kini hampa.

Apa yang baru saja dia lakukan pada gadis itu?

Kyuhyun menghela nafas; terkejut dengan betapa mengerikannya dirinya, kemudian perlahan memindahkan tubuhnya di samping tubuh istrinya yang hampir telanjang. Kyuhyun menutup wajahnya dengan tangannya seolah tak mampu melihat perbuatannya sendiri; tangannya mengambil selimut di depannya dan menutupnya di sekujur tubuh Sae-jin yang menangis malu.

“Maafkan aku, Sae-jin—aku—“ Kyuhyun percaya apapun yang dia katakan pada gadis itu terdengar salah. “Aku benar- benar minta maaf.”

Sae-jin tidak bergeming.

Sial, Cho Kyuhyun—apa yang telah kau lakukan?

Kyuhyun bersandar di kepala ranjang dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya, tangisan Han Sae-jin menjadi musik yang menyayat hatinya. Dia tahu dia tidak bisa menyentuh Sae-jin—tidak, dia terlalu kotor untuk itu. Emosinya, ambisinya, pikirannya dan perasaan curiganya benar- benar mengotorinya dan dia tidak pantas menyentuh Han Sae-jin yang begitu tulus mempercayai dirinya. Dia memang sering melampiaskan amarahnya pada istrinya; tapi kali ini sudah melewati batas.

Kali ini dia benar- benar brengsek.

Entah sudah berapa jam mereka habiskan dalam hening; Han Sae-jin membelakanginya sambil menangis; tangisan itu perlahan menghilang dan Kyuhyun mendengar nafas Sae-jin yang pelan menandakan gadis itu telah tertidur.

Gadis itu pasti sangat membencinya sekarang. Han Sae-jin yang selama ini mulai mempercayainya dan membiarkan dirinya melihat sisi yang sebenarnya dari dirinya.

Gadis yang ingin dia lindungi.

Dialah yang menghancurkan gadis itu.

Saat itu…

Dan juga sekarang.

Kyuhyun menjulurkan tangannya, ingin menyentuh kepala gadis itu tapi perasaan itu kembali menahannya. Kyuhyun menghela nafas frustasi.

“Maafkan aku, Sae-jin—ah.”


 

Suara ponsel membangunkan Kyuhyun dari tidurnya, membuatnya terjaga; fokus matanya memperhatikan keadaan di sekelilingnya dan rasa pegal yang tidak nyaman di punggungnya memberitahukan bahwa dia masih terbaring di sofa ruang keluarga—penerangan dari luar jendela menandakan pagi telah datang. Butuh beberapa detik bagi pria itu untuk menyadari alasan mengapa dia tidur di situ dan apa yang terjadi semalam.

Hatinya mencelos. Seandainya dia tidak pernah melakukannya.

Kyuhyun segera bangun untuk melihat keadaan sekeliling dengan lebih jelas; makanan tergeletak di atas meja makan dan keadaan rumah yang mengkilat seperti biasanya menandakan istrinya telah bangun, dan mengerjakan pekerjaannya seperti biasa. Gadis itu tetap pada usahanya menjadi seorang istri yang bertanggung jawab, tapi kali ini dia pasti akan menjauhi Cho Kyuhyun kembali.

Dan mungkin, lebih buruk lagi.

Dengan kata lain, Kyuhyun kembali mendorong gadis itu untuk menjauh mundur dari dirinya.

Dan yang paling menyakitkan adalah dia bahkan tidak pernah bermaksud untuk melakukannya.

Kyuhyun menarik nafas, memutuskan hal yang telah menjadi bahan pertimbangannya semalaman. Pria itu mengambil ponselnya, menghubungi nomor seseorang.

“Yah, brengsek—kau mau mati menelponku pagi buta begini?” suara Sungmin yang biasanya sangat halus bagai kelinci kini terdengar seperti macan yang dibangunkan.

“Sungmin hyung—apa tempat tidurku… masih kosong?”

 


 

Untuk persiapan konser kami minggu depan aku harus menginap di dorm untuk sementara waktu.

Hubungi aku kalau terjadi sesuatu.

Sekali lagi maaf.

Cho Kyuhyun.

 

Sae-jin menggenggam ponselnya dengan erat, mencoba agar tidak terpengaruh dengan pesan Cho Kyuhyun. Entah bagaimana cara menjelaskan perasaannya yang berkecamuk sejak tadi malam, dia merasa sangat hampa tapi juga kacau. Kejadian tadi malam masih sangat amat jelas terkadang membuat bulu kuduknya merinding. Separuh dari hatinya ingin membenci Kyuhyun dan marah padanya tapi bagian yang lain—dan lebih mendominasi—perlahan menyadari bahwa rasa kesal itu sesungguhnya telah hilang.

Pada akhirnya dia tidak akan bisa membenci Cho Kyuhyun. Dulu dan sekarang, Cho Kyuhyun begitu hangat dan sempurna di matanya.

Dan karena itulah dia membenci dirinya sendiri.

Sae-jin membiarkan angin dingin menerpa wajahnya melalui jendela bis. Perjalanan ke tempat tujuannya tidak biasanya terasa selama ini. Gadis itu membiarkan semua jenis lagu masuk ke telinganya, namun sialnya selera musiknya yang suram membuat semua lagu suram itu menemani perjalanannya membuat semua penderitaannya lebih terasa. Pikirannya melayang ke mana- mana. Sae-jin mengeluarkan pesan Kyuhyun kemudian membaca pesan yang sebelumnya.

 

Tolong beritahu aku kau baik- baik saja.

Kris.

 

Sae-jin menggigit bibir bawahnya, memasukkan kembali ponsel yang mengganggu itu ke dalam tasnya. Kenapa ini? Apa yang sebenarnya telah dia lakukan? Kenapa semuanya kembali tiba- tiba menyerangnya? Tidak bisakah dia tenang bahkan hanya untuk sehari saja?


 

“Janinmu baik- baik saja,” ujar dokter Kim menunjuk gambaran janin dari ultrasound. Sae-jin menatap layar di depannya dengan saksama; merasa sedikit gugup melihat tanda bahwa ada benda hidup di dalam perutnya. Sampai sekarang ini dia masih belum sangat terbiasa.

“Tapi sepertinya kau harus lebih banyak mengkonsumsi makanan bergizi; kau tidak ngidam apa- apa? Apa kau sering muntah?”

“Aku suka sekali makanan manis dan jus jeruk akhir- akhir ini.” Jawab Sae-jin pelan. “Tapi aku tidak begitu sering muntah, malah sangat jarang.”

Dr. Kim berfikir sejenak lalu mengangguk penuh pengertian. “Itu bisa saja terjadi. Keadaan setiap ibu hamil berbeda- beda.”

Sae-jin mengangguk, memperhatikan janin itu. Perasaan takut dan panik tiba- tiba melandanya. Janin itu semakin besar dan dia akan semakin dekat menjadi ibu—apa dia akan menjadi ibu yang baik? Bagaimana anak itu akan bertumbuh dari keadaan keluarga seperti ini?

“Ngomong- ngomong, apa aku harus merahasiakan jenis kelamin anakmu?” canda Dr. Kim. Sae-jin menatap dokter itu sejenak dengan mata mengerjap- ngerjap.

“Apa aku… boleh tahu?”


 

“Good job, guys! That’s it for today!” ujar pria berkebangsaan asing dengan pakaian ketat itu sambil menepuk tangannya. Latihan hari ini terasa semakin berat mengingat tanggal pertunjukkan yang semakin dekat. Bahkan Nyonya Lee sendiri datang untuk mengawasi jalannya latihan.

Kyuhyun menghela nafas lega; mood-nya yang tidak cukup baik hari ini membuat tubuhnya menjadi sedikit cepat lelah. Dan memikirkan bahwa setelah ini dia harus mengikuti latihan untuk konser SM Town beberapa hari ke depan membuat semuanya terasa lebih buruk.

Tapi yang paling buruk adalah fakta bahwa dia tidak akan pulang ke rumah…

Mencoba mengusir pikiran itu jauh- jauh, Cho Kyuhyun memilih menjauhi rekan- rekannya yang pergi ke sudut studio untuk beristirahat dan berjalan ke luar untuk menghirup udara segar di beranda.

Cho Kyuhyun memeriksa ponselnya, mengira akan mendapat pesan balasan dari istrinya atas kepergiannya diam- diam tapi dari puluhan pesan yang masuk nama istrinya tidak terlihat di manapun. Kyuhyun menghela nafas. Tentu saja, bagaimana mungkin dia mengharapkan agar Han Sae-jin mau memaafkannya begitu saja? Perbuatannya tadi malam benar- benar keterlaluan dan tercela. Dan dia bahkan memperlakukan istrinya yang sedang hamil dengan kasar.

Tapi bayangan Kris yang memeluk Han Sae-jin benar- benar membuat darahnya berdesir—dia bahkan tidak tahu apa yang akan dia lakukan seandainya pria itu tidak berhenti memeluk istrinya; dan bahkan Sae-jin balas memeluknya.

Apa Han Sae-jin… sebenarnya menyukai Kris?

Gadis itu memiliki banyak ekspresi di depan Kris, ekspresi yang tidak pernah dia tunjukkan pada Cho Kyuhyun—gadis yang biasanya selalu bertingkah kuat dan mandiri di depan suaminya malah bersikap manja dan bersandar di pundak pria lain. Seberapa jauh hubungan gadis itu dengan Kris hingga mereka bisa begitu dekat?

“Ish.” Kyuhyun memukul terali beranda. Mengapa dia begitu terganggu dengan fakta ini? Begitu terganggunya hingga dia bersikap sangat buas tadi malam dan menakuti istrinya sendiri?

Tapi apa lagi yang harus dia lakukan? Bagaimana cara membuat istrinya berhenti menjauhinya dan bersikap begitu dingin padanya?

Apa karena dia mengira Kyuhyun masih berhubungan dengan Sae-ryung? Apa karena dia melihat Kyuhyun dan Sae-ryung di beranda café waktu itu?

Kyuhyun melirik jam tangannya dan terkejut melihat jam menunjukkan pukul 8 malam dan dia hampir terlambat untuk latihan konser mereka.

Studio sudah kosong menandakan yang lainnya sudah pulang. Kyuhyun berjalan menuju ke ruang loker tapi terkejut mendengar suara wanita yang sangat dikenalnya.

“Bukankah kita sudah sepakat untuk berpura- pura tidak saling mengenal satu sama lain? 23 tahun kita berhasil melakukannya, kenapa kau sekarang repot- repot menghubungiku?”

Kyuhyun mengerutkan keningnya. Suara itu berasal dari ruang rias gelap di samping ruang lokernya.

Suara Nyonya Lee Sunjin.

Memutuskan bahwa apapun itu bukan urusannya, Cho Kyuhyun terus berjalan menuju lokernya dan bergegas mengambil tasnya.

“Jangan bicara omong kosong denganku, Yoon Dae-jo.” Suara itu terdengar dingin dan penuh kebencian. Kyuhyun toh pernah mendengar nama Yoon Dae-jo. Siapa di negara ini yang tidak tahu? Pria itu dan perusahaannya menguasai hampir seluruh jenis usaha di Seoul; aset kekayaannya mungkin yang paling besar di Asia. Tidak mengejutkan bahwa Lee Sunjin punya hubungan dengan seorang Tuan Yoon, apapun jenis hubungannya. “Mari kita berpura- pura hal ini tidak pernah terjadi.”

“Kalau begitu, apakah menurutmu kejadian 23 tahun lalu itu juga harus kita lupakan?”

Kyuhyun berhenti. Ternyata wanita itu tidak sedang berbincang di ponsel. Suara lain yang berat penuh otoritas itu menandakan bahwa ada orang lain di situ, yang Kyuhyun kenal sebagai Yoon Dae-jo. Kyuhyun segera merapikan tasnya; merasa tidak nyaman mendengar pembicaraan pribadi orang lain meskipun jauh dalam lubuk hatinya cukup penasaran dengan apa yang menjadi bahan perkelahian dua orang itu.

Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan?” suara itu terdengar mendesis, tapi tidak menyembunyikan kegelisahan.

“Percayalah, aku juga berharap tidak akan pernah menemuimu tapi yang kau lakukan benar- benar membuatku masih tidak percaya sampai sekarang, Lee Sunjin.” Suara berat itu juga terdengar marah.

“Aku tidak mengerti apa maksudmu.”

“Berhentilah bersandiwara, Lee Sunjin. Kau, telah menelantarkan bayi yang kau lahirkan 22 tahun yang lalu. Kau telah menelantarkan anakku!!!”

Kali ini Cho Kyuhyun lupa dengan tujuannya untuk segera pergi dari ruang loker. Tangannya menggenggam tali ranselnya tapi jari- jarinya membeku di tempatnya.

“Mengapa kau terkejut? Kau tidak bisa lagi berkilah, Lee Sunjin, aku bahkan tidak percaya kau tega berbuat seperti itu.”

“Berhenti bicara! Kau tidak tahu apa- apa!”

“Itulah yang aku sesalkan, Lee Sunjin—aku membiarkanmu mengandung anakku dan membuangnya di luar pengetahuanku. Kau bahkan membiarkan dirimu hidup dalam ambisimu dan dunia yang mewah tanpa tahu apakah anakku baik- baik saja di luar sana! Apakah dia makan dan minum atau tidak! Kau bahkan tidak repot- repot mencarinya!”

Mulut Kyuhyun terbuka lebar.

Lee Sunjin?

Memiliki seorang anak?

Dan beliau menelantarkannya?

 “Aku akan menemukannya! Hidup atau mati, aku akan menemukannya. Dan percayalah Lee Sunjin, bila dia menderita atau sesuatu terjadi padanya—tidak akan kubiarkan kau hidup tenang!”

Suara pintu dibanting terdengar dan Kyuhyun kontan bersembunyi di balik dinding, mendengar langkah sepatu yang berjalan terburu- buru.

Pria itu kemudian menghela nafas, beberapa menit sebelumnya dia lupa bagaimana caranya bernafas.

Ini terlalu mengejutkan, bahkan lebih mengejutkan dari cerita drama.


 

 

Sae-jin lupa kapan terakhir kalinya dia menghabiskan hari seperti ini; melakukan semua yang ingin dia lakukan. Bukan berarti dia tidak menyukai kegiatan rutinitasnya; Han Sae-jin sangat menikmati semua yang dia lakukan sebagai ibu rumah tangga—dia juga sudah memilih wallpaper dan perabotan yang akan digunakan di apartemen mereka.

Tapi dia tetaplah gadis berumur 22 tahun yang ingin melakukan apa yang gadis seumurannya biasa lakukan. Meskipun kategori dan selera Han Sae-jin sedikit berbeda dari yang lainnya. Dan berhubung sahabatnya Sunny sedang sibuk dengan ujian semester dan dia memiliki sedikit masalah untuk berkomunikasi dengan sahabatnya yang satu lagi maka Sae-jin memutuskan untuk bersenang- senang sendirian. Setelah mengunjungi kakeknya, Sae-jin menghabiskan waktunya di perpustakaan; mencari novel- novel terjemahan kesukaannya; gadis itu terlalu senang bereksplorasi di antara rak- rak buku yang panjang ketika dia menoleh keluar jendela dan terkejut melihat langit sudah gelap. Setelah membayar buku sewaannya (yang hampir membuat ranselnya robek), Sae-jin pergi ke kafe kecil di samping perpustakaan; menikmati susu cokelat hangat dan kue cokelat. Sae-jin sangat menyukai aroma cokelat panas.

Udara di luar sangat dingin dan bunyi- bunyi gantungan dari jendela yang diterpa angin membuat perasaannya tenang; mengingat hari ini dia masih melakukan rutinitas seperti orang- orang lainnya; beberapa hari terakhir ini dia merasa seperti mayat hidup.

Sae-jin melirik ponselnya, dahinya mengerut melihat layarnya masih tetap kosong tanpa pesan dan telpon.

Tiga hari. Tiga hari telah berlalu semenjak kejadian malam itu; pesan terakhir yang ditinggalkan Cho Kyuhyun hanyalah bahwa dia akan meninggalkan rumah untuk sementara, apapun itu alasannya. Pesan itu membuat perasaan Sae-jin tak karuan.

Apakah Sae-jin telah mendorong Kyuhyun begitu jauh hingga pria itu tidak ingin kembali? Apakah Sae-jin membuat Kyuhyun marah dan merasa terhina hingga sekarang pria itu tidak mau berada di dekatnya? Atau apa Kyuhyun putus asa dengannya dan merasa muak melihat sikapnya yang dingin dan plin- plan?

Sae-jin sudah lelah dengan perasaan gelisah itu; perasaan ketika kau bertanya- tanya dan tak menemukan jawaban apapun. Ketika kau merasa bersalah tapi tidak tahu bagaimana caranya meminta maaf.

Mungkin Cho Kyuhyun berbuat salah; mungkin perbuatannya pada istrinya malam itu cukup menyakitkan, tapi Kyuhyun tetaplah suaminya dan pria itu berhak marah jika melihat istrinya memeluk pria lain. Apapun yang terjadi, Sae-jin tidak bisa menahan rasa marahnya…

Karena di depan matanya, Cho Kyuhyun tetaplah sosok pria yang hangat dan lembut, tak perduli bagaimana kekanak- kanakannya dia bila keinginannya tidak dipenuhi, atau bagaimana dia bisa bersikap kasar bila dia marah dan kecewa, atau bila sifat setannya muncul dan mengganggu Sae-jin. Sae-jin tetap tidak bisa marah padanya.

Tapi kenapa pria itu bahkan tidak berusaha untuk menghubunginya tau sekedar menanyakan kabarnya?

Apa dia benar- benar tidak perduli pada Sae-jin?

“Kau sepertinya sangat menikmati waktu bebasmu.” Gumam Sae-jin sebal, menatap ponselnya. Sepertinya Cho Kyuhyun sedang menggunakan waktu bebasnya tanpa istrinya yang merepotkannya dan menempelinya seperti permen karet.

Memutuskan untuk tidak membuat dirinya lebih galau lagi, Han Sae-jin memutuskan segera menghabiskan kuenya.

“Oppa, aku sudah kenyang.”

Sebuah suara manja terdengar dari pelanggan di belakangnya. Oh, tentu saja, di akhir minggu ini tentulah semua pasangan kekasih akan menghabiskan waktu mereka bersama dan untuk kali ini istri-yang-ditinggal-konser-oleh-suaminya seperti Han Sae-jin merasa sedikit tidak nyaman. Dia sendiri tidak mengerti mengapa dia harus merasakan hal itu.

“Makan saja, kau sangat kurus. Kue ini enak sekali!” bujuk pacarnya.

Sae-jin terpaku, menatap lelehan cokelat dari dalam kuenya dengan dingin.

“Aish, coba yang ini saja, yang ini enak sekali. Aku tahu kue ini cepat habis jadi aku sudah menyimpannya dari tadi untukmu. Cepat makan!”

Bayangan wajah Kyuhyun tiba- tiba mengusik pikirannya. Sae-jin mengerutkan keningnya dan perasaan tidak tenang itu datang lagi. Pipinya memerah dan tanpa sadar gadis itu membentuk senyuman kecil, tapi kemudian tersadar dan senyuman itu segera hilang.

Mengapa Cho Kyuhyun memperlakukan Sae-jin dengan lembut? Ini semua salahnya, seandainya dia bersikap biasa saja, mungkin Sae-jin tidak perlu merasakan perasaan galau seperti ini. Dia benci perasaan ini, perasaan yang membuat tidurmu tidak nyenyak dan pikiranmu penuh dengan pertanyaan.

Dia benci dengan perasaan ini… perasaan ketika kau menginginkan orang itu terus bersamamu tapi kau lebih memilih untuk mati daripada mengatakannya pada orang itu.

Merasakan selera makannya hilang keluar dari jendela di sampingnya. Sae-jin memilih untuk berhenti makan dan pulang saja.

Setidaknya itulah rencananya semula, pulang ke rumah dan beristirahat sesuai anjuran dokter kandungannya, tapi sekarang dia menemukan dirinya duduk di tepi sungai Han, memeluk kedua lututnya. Dia tidak ingin pulang; di sana sangat sepi dan dingin. Cukup mengherankan mengingat itulah sifatnya; itulah cara orang- orang menjabarkannya; pendiam dan sangat dingin.

Mengapa dia datang kemari?

“Entahlah. Kita selalu membuat keputusan di tempat ini, seperti kalau aku bingung dan ‘hey, kenapa kita tidak ke sungai Han saja’, kemudian aku akan menemukan jalan keluar di tempat ini.”

Sae-jin mendengus.

Apa dia datang kemari karena dia akan merasakan perasaan hangat ketika duduk bersama Cho Kyuhyun di sampingnya? Karena otomatis mereka menghabiskan cukup banyak kebersamaan di sini.

“Bolehkah aku… memelukmu?”

Pipi Sae-jin memerah. Betapa kuat dia mencoba untuk melupakan memori itu, bagaimanapun dia tidak bisa. Dia masih bisa merasakan tubuh hangat Cho Kyuhyun dan kedua lengannya yang penuh perlindungan, ekspresinya yang lembut dan bibirnya…

“Eish.” Sae-jin meringis sebal, menggigit bibir bawahnya.

Kenapa Cho Kyuhyun melakukan semua itu bila akhirnya dia tidak perduli dengan Sae-jin?

“Cho Kyuhyun kau kejam dan tak berperasaan!!!” teriak Sae-jin sebal, merasakan matanya memanas tapi dia tidak akan menangis.

Dia tidak akan menangis karena hal- hal seperti ini.

Gadis itu menggelengkan kepalanya seolah mencoba mengusir semua perasaan itu, menepuk- nepuk pipinya lalu berdiri. Kali ini dia benar- benar harus pulang sebelum perasaan anehnya itu menjadi lebih menyiksa lagi.

Perasaan aneh apa ini?


 

Cho Kyuhyun menatap ponselnya, untuk ratusan kalinya hari itu, menjadi ribuan bila dihitung dengan hari- hari kemarin.

Setiap dia menekan nomor Sae-jin dia akan menghapusnya kembali. Bagaimana bila Han Sae-jin menolak teleponnya? Bagaimana bila gadis itu masih marah dan kecewa padanya? Kyuhyun tidak ingin mengganggunya dan membuat gadis itu lebih marah lagi. Dia tidak mungkin menghubungi Sae-jin dan langsung bertanya- tanya kabarnya seolah tidak terjadi apa- apa.

Meskipun dia sangat ingin melakukannya…

Sial, bagaimana kabar si brengsek bernama Kris itu? Apa dia berani- beraninya menghubungi istrinya lagi? Kyuhyun tidak ada di samping Sae-jin selama beberapa hari ini, apa mereka bertemu? Pikiran itulah salah satu yang mengganggunya dan membuatnya menahan kesal setengah mati.

“Eish…” Kyuhyun mengatupkan giginya rapat- rapat dan melempar ponselnya. Sialan, sejak kapan dia menjadi seperti ini? Beberapa hari terakhir ini terasa sangat menyiksa baginya. Perasaannya diliputi ketidaktenangan dan kegelisahan.

Dan dia takut untuk mengakui bahwa semua perasaan itu berhubungan dengan Han Sae-jin.

“Kali ini aku harus menelponnya.” Gumam Kyuhyun, mengambil ponselnya. Terserah bagaimana Sae-jin akan membalasnya tapi dia harus menelpon istrinya kalau tidak dia akan gila.

“Ah, tidak…” gumam Kyuhyun frustasi, melempar ponselnya lagi dan meninju dinding. “Cho Kyuhyun, kau benar- benar mengenaskan.”

“Aku tidak pernah mendengarmu sejujur ini,” suara Eunhyuk mengagetkannya. Kyuhyun hanya memutar kedua matanya seiring Eunhyuk duduk di sampingnya.

“Kenapa? Apa tentang istrimu?”

Kyuhyun tidak bergeming. Ini bukan topik yang akan dia bicarakan dengan seorang Lee Hyukjae dari seluruh topic yang ada di dunia ini.

“Kalau mau telpon, telpon saja—kenapa kau jadi gila sendiri?”

“Aku tidak gila.” Jawab Kyuhyun dingin.

“Tapi beberapa hari terakhir ini kau kelihatan seperti itu. Kau bahkan tidak makan dengan benar, yang hamil istrimu tapi yang ngidam sepertinya dirimu.” Ujar Eunhyuk tenang. “Hati- hati, Sae-jin benar- benar menarik perhatian beberapa trainee laki- laki ketika dia datang di acara waktu itu. Istrimu sepertinya sudah punya penggemar sendiri.”

“Apa? Trainee yang mana?” Apa mereka mau mati? Gumam Kyuhyun sebal.

Eunhyuk tertawa melihat ekspresi Cho Kyuhyun yang kelihatan sangat terganggu.

“Memangnya kenapa? Kau mau mencari mereka? Aigoo, Cho Kyuhyun, ternyata kau lucu juga.”

Apa Lee Hyukjae baru saja mengatakan bahwa dia lucu? Astaga, pembicaraan ini sangat menggelikan. Mereka terdengar seperti pasangan gay sekarang.

“Hyung, kau diam saja. Aku benar- benar geli dengan pembicaraan kita sekarang ini.”

Eunhyuk berdehem. “Aku juga.”

Keduanya beranjak dari sofa dan pergi ke koridor yang berbeda.

Konser Super Show di Shanghai akhirnya selesai. Kyuhyun dan yang lainnya bergegas pergi meninggalkan gedung pertunjukkan ke hotel untuk beristirahat. Konser tiga hari berturut- turut memang seperti anugerah untuk penggemar mereka dan juga waktu yang menyenangkan untuk Super Junior sendiri tapi mereka benar- benar lelah setelah konser selesai.

Kyuhyun bergegas menuju kamarnya, tidak sabar untuk membersihkan dirinya di bawah shower panas. Guyuran air hangat itu membuat pikirannya sedikit tenang.

Tiba- tiba pikiran tentang malam itu kembali datang; apapun yang dia lakukan terhadap istrinya. Sae-jin mungkin sedang hamil tapi lekuk tubuhnya bagi Kyuhyun sempurna. Kulitnya putih seperti susu, bersih dan sangat halus. Gadis itu menyimpan terlalu banyak keindahan dibalik bajunya yang longgar serta gaun- gaun dan kardigannya.

Kyuhyun bisa mengingat tanda- tanda merah yang dibuatnya di tubuh istrinya; apakah sudah hilang sekarang?

“Shit. Cho Kyuhyun—apa yang kau pikirkan?!?!” Kyuhyun mengutuk dirinya sendiri.

Salahkah bila dia membayangkan tubuh istrinya sendiri?

Han Sae-jin toh tidak ada di sini. Kyuhyun merasakan pipinya memerah.

Setelah sesi shower yang ‘lebih lama dari biasanya’ itu, Kyuhyun keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya, mengambil ponselnya lagi.

Haruskah dia menghubungi Sae-jin dan memberitahukan bahwa dia akan pulang besok?

Tiba- tiba ponsel Kyuhyun berbunyi. Pria itu segera mengangkat ponselnya lagi, mengira akan melihat nama seseorang di layar tapi dahinya mengerut melihat nama Shin Sae-ryung tertera.

Kyuhyun membiarkan ponsel itu mati sendiri kemudian ponselnya kembali berdering.

“Ada apa?” tanya Kyuhyun dingin.

“Aku ada di taman dekat hotelmu,” suara Sae-ryung yang biasanya halus kini terdngar sedikit lebih riang. Shin Sae-ryung ada di Shanghai?

“Apa maksudmu?”

“Apa… kau bisa turun dan bertemu denganku?”

Dia tidak menyangka Shin Sae-ryung akan berbuat sejauh ini. Meskipun mengingat dari sifat ambisiusnya gadis itu tidak akan berhenti sebelum keinginannya terkabulkan. Tapi Cho Kyuhyun tidak lagi ingin menjadi orang yang dapat mengabulkan keinginannya.

“Aku lelah. Aku harus istirahat untuk besok—“

“Besok ulang tahunku.” Jawab Sae-ryung tiba- tiba. “Kau… ingat kan?”

Kyuhyun diam. Dia sudah lupa dengan tanggal. Terlalu banyak yang mengusik pikirannya saat ini.

“Aku akan menunggumu. Aku tidak akan pergi sebelum kau turun dan bertemu denganku.”

Kyuhyun mengerutkan keningnya.

Apa yang sebenarnya gadis ini inginkan?


 

“Kau datang sedikit lebih cepat dari yang kuperkirakan.” Jawab Sae-ryung dengan wajah ceria ketika melihat Kyuhyun datang menghampirinya di bangku taman. Cho Kyuhyun menggunakan topi, kacamata, dan maskernya, benar- benar berharap tidak akan ada yang melihatnya. Sae-jin sendiri juga menggunakan ‘peralatan’ yang sama. Mereka pernah beberapa kali melakukan ini dulu; bersembunyi dari orang- orang dan menikmati waktu mereka berdua sendiri.

Dulu.

“Kenapa kau datang kemari?” tanya Kyuhyun dingin, tidak menyembunyikan ekspresi tidak nyamannya.

“Kenapa? Jangan bertingkah seolah- olah kita tidak pernah melakukan ini sebelumnya.” Ujar Sae-ryung dingin, keceriaannya perlahan menghilang. Gadis ini benar- benar tahu cara membuat perasaan Kyuhyun tidak tenang; gadis ini selalu mengungkit masa lalu mereka di saat Cho Kyuhyun sedang mencoba melupakannya.

“Shin Sae-ryung—“

“Ayo pergi, festivalnya akan segera dimulai.” Jawab gadis itu, menarik lengan Kyuhyun tapi pria itu menariknya.

“Bukankah sudah kubilang padamu? Hentikan semua ini.”

“Dan kau bilang padaku kalau kita boleh menjadi teman.” Jawab Sae-ryung, kilat dendam terlihat di matanya. “Hanya kau yang selalu menemaniku menghabiskan waktu ulang tahunku, tidakkah kau ingat?”

“Sae-ryung—“ bagaimana cara membuat gadis ini melupakan masa lalu? Bukankah dia sendiri yang melepaskan Kyuhyun? Mengapa sekarang dia kembali seperti memainkan perasaannya?

“Apa aku harus memohon? Cho Kyuhyun, aku mohon—tolong temani aku malam ini di hari ulang tahunku. Hanya itu caraku membuat aku bersyukur setidaknya pernah dilahirkan di dunia” ujar Sae-ryung sinis.

Kyuhyun menatap gadis itu. Di matanya Shin Sae-ryung tetaplah seorang gadis kesepian yang meminta diperhatikan, meskipun semua kesedihan itu ditutupinya dengan sifat sinis dan kejamnya.

Pria itu menutup mata dan menghembuskan nafas frustasi.


 

Festival tahunan di Shanghai mungkin merupakan salah satu acara terfavorit Kyuhyun. Dia ingat pernah menghabiskan malam ini bersama member yang lain, dan tahun lalu bersama Sae-ryung. Mungkin karena itulah Shin Sae-ryung selalu bersemangat di hari ulang tahunnya—gadis itu sangat menyukai festival.

Sekarang saja Shin Sae-ryung berjalan penuh dengan semangat menembus keramaian dengan Cho Kyuhyun berjalan di belakangnya. Pria itu hanya memperhatikan punggung Sae-ryung, memastikan gadis itu baik- baik saja dan tidak bermasalah dengan orang- orang di sekitarnya; seperti yang sering dia diam- diam lakukan dulu.

Tapi sekarang segalanya berbeda.

Itu bukan lagi tugas Cho Kyuhyun.

Gadis itu berhenti di depan kedai permainan dan menatap Cho Kyuhyun dengan tatapan penuh harap. Kyuhyun mendengus.

“Sejak kapan kau ingin bermain ini?”

“Bukan aku, tapi kau, Cho Kyuhyun. Kau akan bermain sampai kita mendapatkan hadiahnya. Ayolah, masa kau tidak berniat memberiku kado ulang tahun?”

“Jadi kau mau hadiah di kedai ini sebagai kado ulang tahunmu?”

“Semua pemberianmu adalah kado, bukankah kau menyuruhku untuk berfikir seperti itu?”

Senyum Kyuhyun perlahan menghilang di balik maskernya, ekspresi yang tidak disadari Sae-ryung.

“Baiklah, mari bermain.” Sae-ryung mendorong Kyuhyun memaksanya bergabung dengan pria- pria lain yang memainkan permainan itu dengan pacar- pacar mereka menyemangati dari belakang.

Permainan ini adalah salah satu tantangan berat bagi Kyuhyun karena dia harus menembak target yang tepat untuk mendapatkan jackpot permainan hari itu, yaitu adalah bantal berbentuk hati yang sangat lucu. Tapi Kyuhyun diciptakan untuk bermain game dan dia tidak akan membiarkan dirinya dikalahkan oleh permainan enteng seperti ini.

Kyuhyun menang dengan entengnya. Shin Sae-ryung bertepuk tangan senang dan menerima boneka hati dari bos kedai.

“Terima kasih, Kyuhyun oppa!”

Kyuhyun tersenyum kecil tapi perhatiannya tertuju pada hadian berikutnya.

Boneka beruang putih berukuran besar dengan ekspresi dingin seolah dia benci dijadikan hadiah.

Persis seperti wajah Han Sae-jin.

“Ayo pergi—“ ujar Sae-ryung sambil memeluk bantal itu.

“Aku ingin bermain lagi.” Ujar Kyuhyun dan kembali bergabung. Sae-ryung mengerutkan kening heran, dan menatap boneka beruang itu dengan bingung.

“Aku tidak suka boneka beruang.” Ujar Sae-ryung.

Kyuhyun tidak berkomentar, mengambil panah mainan yang telah dia lepaskan tadi dan memulai permainan. Kali ini persaingannya lebih ketat dan yang lain sepertinya sudah mulai lebih mahir bermain dari sebelumnya. Tapi Kyuhyun tidak menyerah, tatapannya sangat tajam pada target di depannya. Semangatnya bermain kali ini lebih membara, dia harus mendapatkan boneka beruang itu, bahkan bila dia harus melempar panahnya ke target itu dan membuat keributan.

Untunglah dia tidak perlu melakukannya karena dia kembali berhasil memenangkan permainan. Bos kedai itu memberikan boneka beruangnya pada Kyuhyun dengan tatapan- tatapan iri dari gadis lain. Kyuhyun tersenyum lebar di balik maskernya.

Han Sae-jin, tunggu sampai aku memperlihatkan boneka ini padamu. Batin Kyuhyun, tertawa kecil membayangkan ekspresi terganggu istrinya nanti ketika bertemu ‘kembarannya’.

“Aku mau boneka itu.”

Kyuhyun menatap Shin Sae-ryung, kemudian tersadar gadis itu berada di situ, menatap boneka beruang di tangan Kyuhyun dengan dingin.

“Bukankah kau tidak suka beruang?” ujar Kyuhyun dingin. Sae-ryung terlihat tegang; sepertinya dia tahu boneka itu akan diberikan pada siapa.

“Tapi aku mau. Ini ulang tahunku,”

Kyuhyun tidak terlihat terganggu. “Kau bisa beli boneka yang lebih banyak. Kau juga tidak suka boneka kan?”

“Aku—“

“Ayo pergi, kembang apinya akan segera dimulai.”

Mereka menikmati berbagai macam kudapan dan Shin Sae-ryung menghabiskan menit- menit setelah itu dengan keluhan olahraga yang harus dijalaninya setelah ini mengingat betapa banyak lemak yang dikonsumsinya.

“5 menit lagi dan aku akan berulang tahun.” Ujar Sae-ryung, melirik jam tangannya.

“Betul.” Komentar Kyuhyun. Keduanya berjalan menyusuri jalanan yang cukup sepi. Pria itu terkejut ketika Shin Sae-ryung mengaitkan lengannya di lengan Kyuhyun. Tubuhnya membeku sejenak tapi gadis itu berpura- pura seolah dia biasa melakukan itu.

“Oppa, kau ingat? Kau pernah berkata suatu hari nanti kau ingin aku mengaitkan lenganku tanpa kita memakai masker.”

Kyuhyun tidak menjawab.

“Saat itu, aku merasa seperti gadis yang tidak tahu berterima kasih. Aku terus menuntut padamu dan tak pernah memberikanmu sesuatu… aku terus memintamu mendukungku, tapi aku tak pernah melakukan hal yang sepadan.”

Beberapa bulan lalu kata- kata gadis itu mungkin akan sangat menyakitkan dan menimbulkan penyesalan, tapi sekarang ini Kyuhyun merasa hampa.

“Aku akan mendukungmu. Apapun yang kau perlukan, aku akan selalu mendukungmu dan menyemangatimu. Seperti kau selalu menggenggam tanganku untuk menyemangantiku, aku juga ingin melakukan hal yang sama.”

Kyuhyun menghentikan langkahnya, kali ini benar- benar menatap gadis di sampingnya yang balas menatapnya dengan bingung.

“Terima kasih, Shin Sae-ryung. Tapi… aku tidak membutuhkannya lagi.”

Wajah terkejut Sae-ryung mengalahkan bunyi- bunyi letusan yang keras dari ratusan kembang api yang diledakkan di angkasa dan menimbulkan berbagai macam warna serta kepulan asap. Tapi Sae-ryung tidak mendengar semua itu, gadis itu terpaku menatap pria yang sangat dia cintai di depannya, yang baru saja mengatakan kalimat yang tidak dia percaya.

“A—apa?”

Kyuhyun menarik nafas.

“Aku akui, seandainya kau mengatakan hal itu dulu, itu adalah kalimat yang paling kuinginkan untuk kudengar. Meskipun aku tidak pernah menuntut padamu, kehadiranmu sendiri sudah merupakan penyemangat bagiku. Tapi itu dulu. Sekarang, semua berbeda, Sae-ryung—ah. Itu bukan lagi tujuan hidupku. Kau, bukan lagi tujuan hidupku.”

“K—kenapa? Karena kau telah menikah? A—aku tidak perduli, aku—“ air mata Sae-ryung mengalir.

“Karena aku telah menikah, dan aku tidak ingin menyakiti istriku dan bayi yang dikandungnya.” Ujar Kyuhyun lembut. “Dan kau harus perduli akan hal itu, Shin Sae-ryung, karena aku sangat perduli.”

Sae-ryung melepaskan kaitan lengannya dan menatap Cho Kyuhyun dengan tidak percaya. Cho Kyuhyun di depannya tidak lagi terlihat gelisah dan kesal, karena itu menandakan Shin Sae-ryung memiliki efek terhadap pria ini. Sekarang pria itu terlihat sangat tenang, seolah Shin Sae-ryung tidak lagi menimbulkan perasaan di  hatinya.

Seolah Shin Sae-ryung sama seperti gadis lainnya.

“Dan bila kau tidak bisa menerima fakta bahwa kita bisa menjadi teman, maka mulai besok, aku harap—kita bisa berpura- pura tidak mengenal satu sama lain, karena setidaknya itu akan membuat kita tenang.”

“Cho Kyuhyun, aku—“

“Selamat ulang tahun, Shin Sae-ryung. Maaf aku harus melakukan hal ini.” Ujar Kyuhyun lembut, menepuk kepala Sae-ryung pelan sebelum berbalik dan pergi meninggalkannya.

“Apa ini semua karena gadis itu?” ujar Sae-ryung tak percaya. “Jangan- jangan… apa kau… memiliki perasaan padanya?”

Kyuhyun berhenti. Shin Sae-ryung baru saja menanyakan pertanyaan yang Kyuhyun tanyakan sendiri pada dirinya selama beberapa hari terakhir ini.

Pertanyaan yang kini telah dia temukan jawabannya.

“Gadis itu namanya Han Sae-jin.” Jawab Kyuhyun dingin, tanpa berbalik dan menatap gadis itu.

 

“Dan aku sangat menyayanginya. Tidak, aku juga menyukainya.”

 

Dengan itu Kyuhyun benar- benar pergi, meninggalkan Shin Sae-ryung yang membeku tidak percaya, hanya air mata yang terus mengalir di pipinya yang memberinya tanda bahwa dia masih manusia. Bunyi kembang api itu sama sekali tidak mengganggunya. Semuanya terasa hampa dan kedap suara. Harapannya tentang malam yang seharusnya indah ini hancur dan malah menjadi bencana.

Cho Kyuhyun baru saja mengatakan dia menyukai Han Sae-jin… di depan matanya?

Cho Kyuhyun baru saja mencampakannya untuk gadis udik bernama Han Sae-jin itu.

Shin Sae-ryung mengepalkan kedua tangannya, menatap punggung Cho Kyuhyun penuh dengan kesedihan dan kebencian.


 

Cho Kyuhyun membuka pintu dengan pelan. Suasana apartemen yang gelap membuat hatinya diliputi kehangatan. Tapi juga perasaan kesal. Pesawat sialan, harusnya Cho Kyuhyun sudah tiba beberapa jam yang lalu.

Pria itu sedikit terkejut ketika melihat keadaan apartemen yang ‘sedikit’ berubah dari biasanya. Sepertinya Han Sae-jin sudah menggunakan uangnya untuk mendekorasi apartemen mereka tapi itu tidak begitu penting saat ini. Ada hal lebih mendesak yang harus dia urus.

Tekadnya sudah bulat, dia akan meminta maaf. Han Sae-jin mungkin telah memeluk Kris, menjauhinya, menyuruh Kyuhyun untuk melepaskannya—

Tapi sialnya, itu tidak mengubah jawaban Kyuhyun pada dirinya sendiri.

Bukankah seorang suami yang berbuat salah juga harus meminta maaf pada istrinya sampai istrinya memaafkannya? Itulah yang akan Kyuhyun lakukan. Han Sae-jin boleh menolaknya berapa ratus kali tapi sejumlah itulah Cho Kyuhyun akan memintaa maaf pada istrinya. Kyuhyun mengeluarkan boneka beruang dari ranselnya.

Han Sae-jin ternyata berada dalam posisi biasanya dan kegiatan biasanya. Kyuhyun berhenti di tempatnya, menatap gadis yang sedang tertidur sambil memeluk boneka beruangnya di tepi jendela besar itu dengan earphone di telinganya.

Sejuta perasaan menyerbu pria itu. Beberapa hari berpisah dengan Han Sae-jin memberikannya jawaban atas perasaannya. Tapi dia tidak tahan bila harus pergi lagi setiap dia ingin menemukan jawaban tentang perasaannya pada Han Sae-jin.

Apa gadis itu menanyakan kepergiannya? Gadis itu tidak menghubunginya sama sekali—apa dia masih marah pada Kyuhyun? Atau apa gadis ini sama sekali tidak terpengaruh dengan kepergiannya? Tiba- tiba hal ini mengganggunya. Kyuhyun melepaskan koper dan tasnya lalu berjalan mendekati Han Sae-jin.

Sungguh tidak apa- apa bila dia harus mengangkat gadis ini setiap malam ke kamarnya.

“Han Sae-jin, kau benar- benar tidak membiarkanku istirahat.” Gumam Kyuhyun sebal, dengan hati- hati melingkarkan tangannya di punggung Sae-jin, kemudian menyadari bekas air mata di pipi Sae-jin.

Gadis itu menangis?

Kening Kyuhyun berkerut. Mengapa? Apa karena Kris? Darah Kyuhyun berdesir tapi tetap melanjutkan niatnya.

“Cho Kyuhyun?”

Mata Sae-jin perlahan melebar, memperlihatkan matanya yang memerah. Gadis itu menatap wajah Kyuhyun di dekatnya dengan tidak percaya; seolah- olah meyakinkan bahwa dirinya tidak bermimpi. Kyuhyun terdiam sebentar, menatap istrinya yang cantik.

Oh iya, Sae-jin kan sedang marah padanya.

“A—aku…”

“Kau… benar- benar sudah pulang?” ada nada lain dari pertanyaan Sae-jin. Seolah- olah memastikan bahwa Cho Kyuhyun benar- benar nyata.

“Errr… kurasa iya.”

Kyuhyun bersumpah dapat melihat ekspresi lega di wajah Sae-jin sebelum kemudian berubah menjadi kemarahan. “Jangan sentuh aku.”

“O—oh?”

“Aku membencimu.” Ujar Sae-jin sambil mengisak dan memeluk bonekanya erat- erat.

Well, setidaknya Kyuhyunlah alasan Sae-jin menangis. Kyuhyun dan bukan orang lain. Mungkin Kyuhyun kejam dan tidak berperasaan tapi dia merasa lega sekarang.

Kyuhyun melingkarkan tangannya di punggung Sae-jin dengan erat, yang satunya lagi di lipatan punggungnya dan mengangkatnya.

“Yah! Cho Kyuhyun—lepaskan aku!” tangis Sae-jin.

“Tidak akan.”

Kyuhyun tertawa ketika Sae-jin berhenti, mungkin terkejut dengan jawaban Kyuhyun, dan mungkin karena lelah. Kyuhyun berjalan membawa Sae-jin ke kamar tidur pria itu.

“Kenapa kau—?”

“Diam. Kau berat.” Jawab Kyuhyun, membuka daun pintu kamarnya dengan sikunya lalu menendangnya, kemudian meletakkan Sae-jin di ranjangnya, yang juga sudah berubah menjadi ranjang berbentuk lain. Kyuhyun juga akan menilai kamar itu besok, sekarang yang lebih penting adalah gadis cantik di depannya yang terlihat setengah sadar. Kyuhyun tersenyum, menarik selimut putih baru yang bersih dan dingin itu dan menutupi tubuh Sae-jin.

 

Bukankah tempat tidur seorang istri memang di kamar suaminya?

 

Kyuhyun tertawa usil pelan kemudian dengan pelan membaringkan tubuhnya di samping istrinya, menghapus air mata di pipi gadis itu dengan ibu jarinya. Gadis itu masih setengah sadar, tapi sepertinya tahu apa yang diperbuat suaminya.

“Kenapa aku tidur di sini?”

“Kenapa tidak?” jawab Kyuhyun dan Han Sae-jin terdiam.

Kyuhyun menyingkirkan rambut Sae-jin yang mengganggu dan menutupi wajah cantiknya.

Aku rindu padamu, Han Sae-jin.” Jawab Kyuhyun dingin.

Terlambat, mata Sae-jin tertutup menandakan dia telah tidur. Kyuhyun menarik nafas, tapi tetap menatap wajah cantik istrinya.

A—ku juga, Cho Kyuhyun.” Gumam Sae-jin pelan dengan pipi memerah.

Advertisements

732 thoughts on “The Story of Bear Family- Part 17”

  1. gregetan waktu kyu mau nelfn saejin tpi gk jdi terus….! dan sumpah serapah melayang buat saeryung…udh jdi laki org baru ngejar2
    daaaan ooouh terakhir y ituuu loooo cooooo cweaaaat

  2. Wooaaahhh, maniss banget kyuhyun nih, jadi ngilu sendiri kkkkk
    Naaah harusnya saeryung ngerti kalau kyuhyun udah nikah. Masih aja ngejar2 kyuhyun sadar diri dikit dong hahaha. Berasa jahat banget ya jadi saeryung. Nyebelin aja gitu…

  3. SAeryung ngejilat ludahx sendri sp suruh dy yg nolak lamaran kyu dulu nah skrg si kyu udh lg fallin in love sm binix eh dy ngericuh ja ㅋㅋㅋㅋㅋ

  4. Makin benci ama si sae ryung itu…
    Dia yg nyampakin dia juga yg kekeuh ngejar2 balik… Ngk tahu malu banget…
    Itu lah akibatnya klu jd cewek yg sok jual mahal,,,
    dia sendiri kan yg kena batu nya…
    Lupain dulu deh yg itu…
    Sekarang makin makin makinnnn suka ama momen kyuhyun ama si saejin… Yahhh walau masih ada ngambek2 an nya sihhh,,, tp its ok lh ya… Karna itu semua buat hubungan mereka itu makin erat dan makin baik,,, bukan malah sebaliknya…

  5. Akhhh,,,,Oppa,,, Knpa jdi bgni,,aduh2,, lmes baca part ini,,byak part sweet y,,Oppa knp bza melankolis bgni,,aduh2,,,#sesek Thor,,,#lebelahgpp

  6. Cieeeee…gitu dunk,apa mesti hrs berpisah dl br bs menyadari perasaan masing2 ? apa mesti berpisah dl br kata rindu itu keluar ? Haaaaah…lega dech mereka udah blg saling rindu,ya….walaupun cm kt rindu setidakx mereka mulai saling terbuka n saling tau perasaan masing2 smg aj kata cinta gak lama lg menyusul y

  7. kl Sae jin tau kyu jalan am mantan nye lasti dya bakal salah faham lagy :/
    hah tuh cewek ganggu mulu -_-
    kyu juga emosianbanget coba -,-

  8. Ajib Kyuhyun udah membulatkan tekadnya hanya akan memandan HaeJin tinggal HaeJin ni yg masih plin plan akan perasaannya pada Kyuhyun.
    Makin keren aja ini di ff di setiap parnya pasti ngasih kesan yg beda keren author!

  9. asik mereka dah saling menyukai n kyuhyun dah ngaku ke sae ryung n sedikiy2 kyuhyun nunjukkin perasaan y ke Sae jin
    bagus kyuhyun ngak tergoda buat selingkuh….
    n kyk y bener nih anak y Tuan Yoo n Lee sunjin itu Han Sae jin

  10. Wahhh .. akhir’a kyuhyun sudah mulai mengakui kalo dye udah jatuh cinta sama saejin ..
    Wahh .. aph kyuhyun jga akan mengakui ke saejin kalo dye udah jatuh cinta ??

  11. Waoh kyuhyun, seneng banget liat ekspresi saeryung. Kasihan kamu sae ryung,dulu kamu nyia-nyiain kyuhyun dan sekarang baru nyeselkan

  12. Akhirnya kyuhyun bisa bersikap tegas jga sma saeryung, dengan bilang klau dia suka sma saejin. Itu kyu sma saejin jelas2 sling kangen stu sma lain tpi te2p gengsi buat ngakuin.

  13. Lempar saeryung ke jamban please -_- :3 dan yahh seperti biasa.. setiap tbc kalo gak nyesek pasti scane romance 😀 hehe paling suka kalo liat KyuJin 😀 🙂 Hehe keep writing 🙂

  14. Tau ga mindi saat sae ryung d campakan kyuhyun gue tertawa puas wkwkwk ,,, eh tapi d saat tertawa akhirnya di buat tersipu perlakukan kyu keisrti nya so sweet

  15. ChoKyu dn SaeJin msih malu2 kucing dn yes!! Beribu2 yes!! Cho udh suka sma SaeJin dn orng yg prtama kali yg ia beritahu itu si Sae Ryung.. Mampus lu!! Awlnya ditinggal skarang di kejar hemeh -_-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s