Novel, Romance

The Story of Bear Family- Part 21

Title: The Story of Bear Family- Part 20

Rate: PG

Character: Cho Kyuhyun

Kris Wu

Han Sae-jin (OC)

Sebelum baca, please kindly give attention to some points i want to explain~^^

1. Sebelumnya aku minta maaf karena nggak bisa update cepet karena lagi persiapan buat ujian kompetensi dokter.

2. Aku rasa udah beberapa kali aku jelasin sebelumnya kalau bukannya mau sok sibuk tapi waktu luang aku memang sedikit banget dan kalaupun waktu luangku ada nggak mungkin kan cuma dihabisin sama nulis fanfic.

3. Aku menghargai teman- teman yang suka sama fanfic ini tapi sejujurnya kadang- kadang aku ngerasa risih kalo ada yang kasih komen dengan nada menyindir di twitter dan instagram aku setiap aku posting sesuatu karena ff aku lama. Aku kasih account twitter dan instagram aku karena aku pengen berteman dengan kalian dan sekalian kalau kalian pingin nanya sesuatu bisa aku jawab kalau aku punya waktu dan kesempatan, tapi sayangnya itu malah dijadiin media buat beberapa orang untuk protes2 dan nyindir karena update aku lama. sorry sebelumnya nggak bermaksud menyinggung dan sorry kalo menurut kalian aku salah.

4. Aku juga suka  baca fanfic orang lain, contohnya di sj-world sama asianfanfics. di asianfanfics ada author yang update fanficnya kira- kira 3 bulan sekali itu pun cuma beberapa paragraf, tapi aku nggak pernah protes atau nyindir2 dia, karena aku tahu setiap orang punya porsi waktu dan kesibukan yang berbeda. di sj-world, komen yang terkesan protes ato menanyakan kapan update berikutnya bakalan dihapus sama authornya.

5. Aku tahu sebagian besar dari pembacaku itu murid sekolah ato mahasiswa, jadi menurutku kalian punya lebih banyak waktu luang di sela- sela kesibukan kalian di kampus ato sekolah. Tapi waktu luang tiap orang beda- beda, buat aku yang waktu tidur aja kurang, otomatis ada beberapa hal yang lebih penting untuk dilakukan daripada nulis fanfic. rasanya risih kalo misalnya aku lagi posting tentang ‘free time’ ato lagi ‘refreshing’ tiba- tiba ada orang yang kasih komen ‘oh, berarti bisa update fanfic dong?’ seolah- olah update fanfic itu udah jadi kewajiban aku. Menulis fanfic emang hobi dan caraku buat menyalurkan stress tapi maaf nggak bermaksud kasar, aku nggak dibayar buat itu. Jadi, seperti aku yang having fun, aku harap kalian juga cuma buat having fun.

6. In the end aku minta maaf kalo ada yang tersinggung dengan tulisan aku yang mungkin dianggap cukup kasar, ato misalnya aku cukup ketus ato judes balas komen kalian di twitter ato IG. Aku sama sekali nggak bermaksud menyinggung. Percayalah kalo misalnya aku udah agak ketus dan judes jawabnya kemungkinan besar aku lagi kecapekkan banget karena tugas ato karena belajar buat persiapan. Dan juga, aku orangnya sukanya orang yang langsung to the point. Jadi maaf yah kalo aku pernah menyinggung kalian T___T

7. Itu aja deh, semoga kalian menikmati fanfic saya. Thank you for reading, fighting~^^

8. Udah pada nabung nggak buat album ke 8?? LOL


“Mereka bahkan belum sempat bernyayi untukku, kenapa kita harus pulang lebih dulu?” protes Sae-jin. Cho Kyuhyun membuat alasan tidak masuk akal dan menarik Sae-jin pulang tepat ketika anggota Super Junior yang lain ingin menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuknya.

“Kau tahu mereka kalau mabuk, sekali mereka mulai menyanyi mereka tidak akan berhenti sampai ada yang menyiram mereka dengan seember air.” Ujar Kyuhyun dingin, menatap jalanan sepi di depannya. “Kau mau ditahan besok pagi?”

Sae-jin mengerucutkan bibirnya. Sejak kapan seorang Cho Kyuhyun meninggalkan pesta grup-nya sendiri? Pria itu memang bukan tipe penyuka pesta tapi tetap saja kelakuannya malam ini cukup aneh.

“Jangan memonyongkan bibirmu seperti itu,” ujar suaminya, melirik istrinya dari kaca depan. “Nanti bibirmu ditangkap orang.

“Apa?” Pipi Sae-jin kontan memerah, gadis itu memilih memalingkan wajahnya keluar. Cho Kyuhyun tertawa kecil. Sepertinya perbincangan yang menyangkut ‘bibir’ akan sangat sensitif untuk saat ini. Kyuhyun sendiri susah payah menahan dirinya untuk tidak meneguk ‘wine’, karena dia tahu bersama dengan para hyung-nya, satu gelas saja tidak akan cukup kemudian dia sendiri akan mabuk dan Han Sae-jin akan menjadi satu- satunya gadis yang sadar di antara para pria mabuk.

Dan malam ulang tahunnya akan berlalu bergitu saja dengan menangani pria- pria mabuk.

“Ngomong- ngomong kau tidak lapar?” ujar Kyuhyun lagi. “Ada tempat yang ingin kau kunjungi?”

Han Sae-jin kontan mengembalikan perhatiannya dari trotoar kembali pada suaminya. “Hmmm… apa ini tidak terlalu larut?”

Kyuhyun melirik jam di dashboard. Jam 10 malam. “Tidak juga. Kita masih punya 2 jam lagi sampai ulang tahunmu benar- benar berlalu…”

Dia bisa melihat Sae-jin tersenyum dari cermin depan mobil dan entah mengapa dia tahu isi pikiran istrinya tanpa berlu berusah payah menebaknya.

Singkatnya, dia tahu Sae-jin ingin pergi ke mana.


“Aku tidak tahu kalau kalian masih bepergian,” kakek Han dengan sumringah menggiring cucunya dan suaminya ke meja kecil pelanggan di sudut toko. Beliau terlihat letih; noda- noda mentega dan tepung tampak di kaos putih lusuhnya dan dia bahkan masih memakai celemek favoritnya. Aroma roti panas menggelitik perut Kyuhyun meskipun dia menyadari rak- rak roti yang biasanya penuh di pagi hari kini sebagian besar sudah kosong dengan menyisakan remah- remah roti; tidak diragukan lagi toko roti kakek Han memang yang paling laku di daerah ini. “Aku pikir kalian sudah tidur…”

“Kami baru dari peternakan.” Jelas Sae-jin, duduk dengan sedikit susah payah di bangku karena postur tubuhnya sekarang yang memang sedikit menyusahkannya untuk bebas bergerak. Kyuhyun dengan sigap membantu istrinya duduk. Istrinya bergumam ‘terima kasih’ dengan malu- malu dan pria itu tertawa kecil.

“Kau seharusnya beristirahat, bagaimana dengan bayinya?”

Sae-jin mendengus. “Bagaimana aku bisa tidur dengan tenang? Aku belum makan kue ulang tahun buatanmu.”

Kedua mata kakek Han yang terlihat lelah kini langsung dipenuhi energi begitu mendengar permintaan cucunya. Kyuhyun curiga pria ini telah mempersiapkan kue tanpa perduli Sae-jin akan datang atau tidak—atau lebih tepatnya mengharapkan cucunya untuk datang dan menyantapnya. “Cucuku ini memang pintar—“ kakek Han mencubit hidung cucunya dengan gemas. “Kau sudah makan sup rumput laut hari ini? Aku juga sudah memasaknya!”

“Tentu!”

Kakek Han tertawa kemudian berlari ke dapur. Dalam hati Kyuhyun merasa sedikit bersalah; hanya saja tradisi untuk menyantap sup rumput laut sudah sedikit dilupakan Kyuhyun karena toh beberapa tahun terakhir ini ulang tahunnya dia habiskan dengan bekerja. Dan bukannya menyediakan sup rumput laut untuk Sae-jin dia malah membuat mood gadis itu suram hampir seharian dengan berpura- pura melupakan ulang tahunnya.

Situasi kembali hening dan suara dentingan piring terdengar dari dapur. Toko roti kakek Han yang biasanya terang kini hanya diterangi lampu- lampu kuning kecil dari beberapa sisi toko, sudut yang paling terang adalah meja bundar kecil yang ditempati Kyuhyun dan Sae-jin.

“Kau… ingin makan roti?” tanya Sae-jin pelan. Kyuhyun hanya tersenyum kecil, masih diliputi rasa bersalahnya. Istrinya dengan susah payah melompat berdiri dari kursinya.

“Hati- hati—“ tegur Kyuhyun. Kenapa dia selalu merasa Han Sae-jin bisa dengan mudah melukai dirinya sendiri kapan saja?

“Aku tahu.” Kilah Sae-jin, kemudian berjalan kea rah rak- rak roti, mengambil nampan cokelat serta penjempit roti kemudian dengan lincahnya bergerak ke sana ke mari; seolah dia hafal semua letak jenis roti, mengambil satu buah dari setiap rasa dan kembali pada Kyuhyun.

“Kau dari tadi makan sedikit dan sekarang mau makan roti sebanyak ini?”

“Tentu saja tidak, kau akan membantuku makan.” Kata Sae-jin dingin seolah itu adalah perintah final dan tidak ada yang bisa melawannya.

“Aku?” sejujurnya Kyuhyun tidak terlalu hobi makan roti.

Sae-jin menggeleng. “Baiklah. Kita mulai dari mana?” gumam Sae-jin. “Ah—aku lupa cuci tangan.” Gadis itu melompat lagi dari tempat duduknya—

“Ya Tuhan, Han Sae-jin—berapa kali aku harus memperingatkanmu?” ujar Kyuhyun setengah mengomel tapi tetap menahan istrinya agar tidak jatuh. Han Sae-jin tertawa kecil, sepertinya dia sengaja memancing emosi suaminya. Pria itu menarik nafas panjang dan memperhatikan punggung istrinya yang menjauh pergi ke wastafel, menggelengkan kepalanya.

Sekarang Han Sae-jin sudah tahu cara balas dendam.

“Kau mau coba yang ini?” tanya Sae-jin, merobek sebuah roti panjang, menunjukkan isi selai cokelat di dalamnya. “Kau harus coba yang ini, kakek memasak cokelatnya sendiri, dan mencampurkannya dengan susu.”

Kyuhyun menatap roti itu, lalu mengangguk kecil. “Kau yang suap.”

“N—neh?”

“Aku malas cuci tangan.”

Sae-jin mengerutkan keningnya kemudian menyerah dan menyodorkan sepenggal roti itu ke arah suaminya. Kyuhyun melahap roti itu dan mengunyah perlahan. Enak sekali. Pria itu teringat sesuatu lalu tertawa.

“Kenapa?”

“Aku hanya bertanya- tanya, kira- kira sudah berapa roti yang kau makan sepanjang hidupmu?”

Sae-jin kali ini benar- benar berfikir, lalu menjawab. “Mungkin lebih banyak dari orang Barat.” Ujarnya geli. “Aku makan roti setiap hari.”

“Serius?”

Sae-jin mengangguk polos. “Aku makan roti saat sarapan, kakek memberiku roti untuk bekal. Dan kalau ada sisa roti di malam hari aku akan membantu kakek menghabiskannya atau membagikannya pada tetangga- tetanggaku.” Sae-jin tertawa kecil. “Kalau digabung- gabung, kau bisa membangun katedral dengan semua roti yang aku makan.”

Cho Kyuhyun tertawa dengan perumpamaan istrinya. Mungkin roti bukanlah lagi hobi melainkan makanan pokok untuknya—atau lebih tepatnya, roti khusus buatan kakeknya.

“Semenyenangkan itukah?” Kyuhyun tidak pernah benar- benar merasakan tinggal di lingkungan di mana semua orang dekat satu sama lain. Selama ini lingkungannya sangat eksklusif dan dibatasi tembok tinggi.

“Tentu saja. Seminggu saja kau tinggal di sini, aku jamin kau tidak akan mau pindah ke mana- mana.” Sejujurnya pria itu suka dengan ekspresi Sae-jin yang ini, matanya sedikit bersinar kalau dia bicara. Han Sae-jin yang dingin dan kaku itu sekarang sedikit mencair.

Sae-jin merobek lagi roti itu lalu menyodorkannya pada suaminya yang kembali mengambilnya dan mengunyahnya.

“Kalau begitu… pindah ke apartemenku, sepertinya keputusan yang berat?”

Sae-jin berfikir sebentar. “Anehnya… aku berfikir semalaman untuk itu tapi—tidak seberat itu.”

Kyuhyun mengangguk.

“Sepertinya… kau bisa hidup bahagia dan hangat di manapun kau tinggal, dan dalam keadaan apapun.”

Sae-jin mengangguk. “Itu kelebihanku. Kalau aku tidak bahagia, orang di sekelilingku akan repot. Lagipula tidak ada yang perlu aku keluhkan. Aku punya keluarga yang lebih besar, aku akan punya anak, dan aku punya rumah yang hangat.”

Kyuhyun lupa caranya menyembunyikan perasaan kagumnya, atau kegembiaraan dengan fakta bahwa setidaknya kehadirannya dalam kehidupan Sae-jin tidak lagi membuatnya berkubang dalam penderitaan.

“Kau lupa satu hal.” Ujar Kyuhyun serius. “Suami yang luar biasa terkenal dan tampan.”

Sae-jin tertawa.

“Yah, kau tidak tahu berapa juta gadis di luar sana yang rela bunuh diri untuk memperoleh posisimu?” ujar Kyuhyun, kali ini dia benar- benar tidak sedang bercanda.

“Baiklah—“ Sae-jin membungkuk pelan. “Terima kasih karena telah memberikan posisi ini untukku.” Ujarnya dingin.

“Tidak.” Jawab Kyuhyun dingin. “Terima kasih karena telah memberikan posisi ini padaku.”

Sae-jin menatap suaminya dengan ekspresi tak terbaca, dia sedikit berharap suaminya hanya bercanda tapi wajah serius Kyuhyun kembali membuat jantungnya berdebar- debar. Cho Kyuhyun terlalu banyak mempermainkan jantungnya malam ini.

“Baiklah—supnya sudah siap!!!” suara kakek Han memberikan pertolongan pada Han Sae-jin. Gadis itu segera memalingkan wajahnya, meninggalkan suaminya dengan perasaan sedikit kecewa. Pria itu hanya mendengus pelan kemudian berpura- pura memperhatikan kakek Han yang mengatur mangkok sup di depan mereka dengan bersemangat.

Han Sae-jin sekali lagi ‘menarik dirinya’ dengan pelan.


Cho Kyuhyun memastikan istrinya sudah benar- benar tertidur di ranjangnya yang nyaman, sebelum menutup pintu keluar. Mereka berbincang- bincang dengan kakek hingga lupa waktu dan sekarang sudah jauh lewat tengah malam. Kyuhyun bermaksud untuk menonton tayangan pertandingan sepak bola di ruang keluarga kediaman Han tapi kemudian terkejut melihat sosok kakek Han yang duduk nyaman di beranda, seperti sedang menikmati angin malam.

“Kakek Han?”

Kakek Han bergidik kemudian berbalik. “Oh, Kyuhyun—ah, kau belum tidur?”

Kyuhyun menggeleng. “Aku belum bisa tidur. Kenapa Anda belum istirahat?”

Kakek Han tertawa. “Ini sudah kebiasaanku—saat Sae-jin masih tinggal di sini, dia sering menegurku karena takut aku kedinginan. Semenjak dia pindah, aku bisa duduk di sini berjam- jam.”

Kyuhyun mengangguk. “Sepertinya dia sangat ahli membuat orang mengikuti perkataannya.”

“Ha! Akhirnya kau merasakannya? Dia sedikit menakutkan kan? Aku juga selalu khawatir kalau dia akan membuat suaminya takut padanya.”

Cho Kyuhyun tertawa lalu duduk di samping kakek Han. Mereka bisa melihat atap- atap seng sederhana berwarna- warni dihiasi lampu jalanan. Mungkin benar—mungkin tinggal di sini akan membuatnya enggan untuk pindah.

“Terima kasih telah mengantar Sae-jin ke mari.” kata kakek Han tulus.

Kyuhyun tersenyum kecil.

“Cucuku… sedikit sulit ditangani kan?” tanya beliau pelan. Cho Kyuhyun menatap kakek Han, mempertimbangkan apa dia harus mengatakan sejujurnya, tapi pria muda itu hanya tertawa pelan. “Dia memang sangat tertutup pada awalnya, tapi aku rasa sekarang dia mulai percaya padaku.”

“Kalau begitu aku sangat lega. Anak itu memang mandiri tapi aku selalu khawatir sifat dinginnya akan membuat banyak orang salah paham padanya. Sejak dulu teman bermainnya hanya Kris.”

Kakek Han sepertinya menyadari ekspresi di wajah suami cucunya dan buru- buru menambahkan. “Tapi sekarang dia sudah menikah denganmu… dia pasti menghabiskan banyak waktu denganmu.”

“Bagaimana… dia dan Kris bisa saling mengenal?”

“Oh?” Kakek Han tertawa. “Mereka juga tidak langsung dekat. Waktu itu aku mencoba peruntunganku di Cina dan membawanya. Sae-jin benar- benar cerdas, bahasa mandarinnya masih lemah tapi dia memenangkan olimpiade ilmu pengetahuan alam di kelas SD. Tapi seperti yang aku bilang dia tidak suka bergaul, anak- anak yang lain suka mempermainkannya. Dia sangat manis dan cantik, anak- anak cowok suka meledeknya untuk mencari perhatian, dank arena dia tidak memperhatikan mereka mereka jadi lebih usil—“

Kyuhyun bisa merasakan darahnya berdesir membayangkan Han Sae-jin kecil dipermainkan oleh teman- teman sebayanya, serta mengingat kegemarannya menyembunyikan masalah.

“Kris juga salah satunya. Aku pernah dipanggil ke sekolah karena Han Sae-jin menangis, kepala bonekanya putus karena digunting Kris. Anak itu sejak kecil sudah tampan dan tinggi, dia juga suka mengganggu Sae-jin. Tapi kemudian Sae-jin pernah hampir pingsan karena menangis dan tidak mau lagi ke sekolah, saat itu sangat heboh—aku memarahi mereka habis- habisan. Kris satu- satunya yang datang ke rumahku dan minta maaf. Sae-jin tidak mau memaafkannya, maka Kris datang hampir setiap hari agar Sae-jin mau bicara padanya. Dia datang bawa permen, cokelat, boneka, buku komik. Satu minggu kemudian Sae-jin akhirnya memaafkan Kris dan mau pergi ke sekolah. “

Kyuhyun mulai mempertanyakan kewarasannya karena berani bertanya tentang Kris karena sekarang dia merasa seperti dia sedang mendengarkan kisah cinta di mana Kris dan istrinya menjadi pemeran utama dan rasanya durhaka sekali kalau ada tokoh ketiga yang datang dan menggagalkan bagian akhir kisah cinta indah mereka. Singkatnya, Cho Kyuhyun jadi tokoh antagonisnya.

“Aku pikir Kris tidak akan datang lagi karena tugasnya sudah selesai. Tapi hampir setiap hari dia datang dan membantu Sae-jin, belajar mandarin, bermain… Sae-jin juga membantunya belajar matematika dan sebagainya. Singkatnya, di manapun mereka selalu ada di saat yang satu membutuhkan yang lain.”

Kakek Han melirik suami cucunya kemudian tertawa bersalah. “Maaf—tidak seharusnya aku menceritakannya. Sekarang toh tidak penting lagi,”

Kyuhyun memaksa dirinya untuk tersenyum. Kenapa dia punya perasaan seolah kakek Han pernah mengharapkan Sae-jin dan Kris berpasangan atau semacamnya?

“Nanti ke depannya, kekurangan cucuku akan merepotkanmu. Dia tidak pernah merasakan dirawat oleh orang tua, dia mandiri jauh sebelum waktunya. Dia hampir selalu bolos kelas memasak karena aku sibuk bekerja dan tidak bisa menemaninya membeli peralatan memasak, dia tidak pernah ikut kelas menari karena aku tidak bisa menemaninya membeli perlengkapan untuk penari. Saat acara makan siang bersama orang tua, dia akan pulang lebih dulu, atau diam- diam makan bekalnya di kandang kelinci karena aku tidak bisa datang ke sekolah.”

Kyuhyun merasa seperti ada yang perlahan menyayat hatinya. Dia bisa membayangkan Han Sae-jin yang kecil duduk sendirian di kandang kelinci dan menghabiskan bekalnya, tidak ingin terlihat menyedihkan di antara teman- temanya yang sedang makan siang bersama orang tua mereka. Atau perasaan bersalah yang konyol karena Cho Kyuhyun tidak ada di situ untuk melindunginya.

“Saat balita pun, butuh waktu yang lama bagiku untuk dapat meluluhkan hatinya. Meskipun dia masih sangat kecil tapi kehidupan di panti asuhan sangat keras, dia tidak terbiasa dengan keluarga yang hangat. Hampir setiap hari dia menangis dan menolak makan. Dia takut dengan semua orang, bahkan saat anakku ingin memeluknya dia akan menangis meraung seolah mereka akan melukainya. Kadangkala dia duduk dengan piyama di balik pintu rumah, seperti menanti seseorang menjemputnya dan ketika yang datang anakku dia malah menangis. Dia memang masih sangat kecil tapi sepertinya dia sudah terbiasa dengan penolakkan…”

Cho Kyuhyun bisa merasakan ada pisau yang menghujam ke dadanya. Pandangannya mengabur. Dia tahu kehidupan Han Sae-jin tidak seberuntung gadis yang lain, tapi dia tidak mengira betapa besar penderitaan yang dilalui istrinya.

“Saat tahu dia hamil, aku takut dia akan bingung saat melihat bayinya…” Kakek Han menghela nafas. “Han Sae-jin memang tidak beruntung saat lahir, tapi setidaknya aku harap dia beruntung di kehidupannya sekarang…”


Cho Kyuhyun memperhatikan wajah istrinya yang tertidur pulas. Wajah cantiknya terlihat sangat damai, tubuhnya meringkuk di dalam selimut yang hangat. Penerangan kecil dari lampu tidur di meja samping tempat tidurnya tidak menghalangi pandangan Kyuhyun.

Cerita kakek Han beberapa menit yang lalu sejujurnya membuat perasaannya kacau balau. Tak pernah terbersit dalam pikirannya luka yang dialami Han Sae-jin adalah sedalam itu. Gadis itu bahkan sudah ditinggalkan sejak dia masih bayi dan tidak mengerti apa- apa, mengecap kehidupan panti asuhan yang dingin, kemudian sekali lagi ditinggalkan orang tua asuhnya… hidupnya dipenuhi rasa tidak percaya dan ketakutan… dalam hati Kyuhyun mengutuk orang tua kandung Sae-jin yang tega meninggalkan bayi secantik itu di panti asuhan dan membuatnya menderita dan trauma.

Itu menjawab semua pertanyaan Kyuhyun. Sifat tertutup dan dinginnya, ketakutannya setiap Kyuhyun mendekatinya, keengganannya untuk menerima kasih sayang Kyuhyun, dan mimpi buruk yang selalu mengganggu tidurnya, dan perasaan bingungnya setiap harus berhubungan dengan bayi dalam kandungannya.

Tanpa sadar setetes air mata jatuh dari mata pria itu. Cho Kyuhyun buru- buru mengusapnya.

Tiba- tiba wajah damai itu sedikit terusik, mata Sae-jin perlahan membuka membuat Kyuhyun sigap. Gadis itu mengerjap- ngerjapkan matanya pelan, jelas sekali kehabisan tenaga, tapi terkejut melihat suaminya masih terjaga.

“Kyuhyun, kau—?” suaranya serak.

“Tidak apa- apa.” Kyuhyun menepuk kepala istrinya dengan pelan. “Tidur saja lagi.”

Han Sae-jin menguap pelan membuat matanya berair. “Dingin.” Bisiknya pelan, menarik selimutnya dan menggeliat pelan.

Kris satu- satunya yang datang ke rumahku dan minta maaf. Sae-jin tidak mau memaafkannya, maka Kris datang hampir setiap hari agar Sae-jin mau bicara padanya. Dia datang bawa permen, cokelat, boneka, buku komik. Satu minggu kemudian Sae-jin akhirnya memaafkan Kris dan mau pergi ke sekolah.

Mungkin Cho Kyuhyun kurang keras berusaha, mungkin karena ini pertama kalinya dia menghadapi seorang gadis yang begitu dingin dan polos—mungkin karena dia terbiasa dengan gadis- gadis yang dengan senang hati mendekatinya tanpa dia perlu benar- benar berusaha. Karena itu dia mengira Sae-jin tidak tertarik padanya. Karena itu dia mengira dia hanya membuat Sae-jin menderita.

Dia hanya tidak benar- benar berusaha memahami istrinya. Dan untuk kali ini Kyuhyun memang dengan teramat sangat berat hati mengakui bahwa Kris Wu selangkah lebih maju darinya.

Tapi hanya sampai di situ dia akan membiarkan Kris mendahuluinya.

Cho Kyuhyun menarik bantal yang menghalangi jarak mereka berdua lalu mendekatkan dirinya ke tubuh Han Sae-jin. Bahkan di saat dia mengeluh dingin gadis itu memilih untuk mereas kedua tangannya sendiri daripada mengeluhkannya pada suaminya.

“Apa kau begitu takut kalau ada yang menyayangimu?” bisik Kyuhyun. Pria itu melingkarkan tangan kanannya ke tubuh kecil Sae-jin lalu menariknya ke pelukannya. Ternyata istrinya benar- benar sedang kedinginan dan sekarang perut Sae-jin yang sedang hamil menyentuh perutnya sendiri membuat Kyuhyun tertawa. Cho Kyuhyun menghirup aroma shampoo istrinya yang wangi di antara rambut halusnya sebelum mencium dahi Sae-jin dan pipinya.

“Kalau begitu bersiaplah ketakutan karenaku.” Bisik Cho Kyuhyun pelan kemudian mengecup kening Sae-jin. Han Sae-jin tidak bergeming, hanya menarik nafas panjang.

“Dingin.” Bisiknya lagi, seolah sedang berbicara dalam tidurnya. Sepertinya wanita hamil sensitif dengan cuaca. Cho Kyuhyun memeluk pinggang Sae-jin lebih erat dan mengusap punggungnya. “Masih dingin?”

Han Sae-jin perlahan mendekatkan dirinya, membiarkan wajahnya bersandar di dada Kyuhyun. Suaminya menyandarkan dagunya di kepala Sae-jin.

“Han Sae-jin.” Kyuhyun menutup matanya. “Lahirkan anakku. Akan kubuat kau dan putri kita menjadi istri dan anak paling bahagia di dunia ini. Sangat bahagia sampai kau lelah untuk tersenyum dan tertawa, sangat bahagia sampai kau berharap di kehidupan berikutnya kita akan kembali terjebak di malam itu dan kau harus menikah denganku.”

Pria itu terkejut ketika rambut yang halus itu bergerak perlahan dan kini wajahnya bertatapan dengan wajah cantik yang kelelahan itu. Han Sae-jin menatapnya dengan dingin, matanya terpancang di mata Kyuhyun, seperti ingin memastikan bahwa yang dia dengar barusan bukan mimpi dan dia memang sadar sedari tadi, bahkan ketika dia mencari kehangatan di tubuh Cho Kyuhyun.

Singkatnya, di manapun mereka selalu ada di saat yang satu membutuhkan yang lain.

Kau milikku, mengerti?” bisik Kyuhyun dingin dan sebelum Han Sae-jin mencoba untuk menjawab, Cho Kyuhyun menyerbu bibir Sae-jin dengan bibirnya. Kali ini ciuman itu tidak selembut dan hati- hati sepert tadi—tidak ada lagi berhati- hati, Cho Kyuhyun lelah melakukannya. Ciumannya sedikit menuntut dan seperti menegaskan sesuatu. Hatinya memang cukup emosional mendengar cerita tentang masa lalu istrinya, ditambah dengan fakta bahwa bila malam itu tidak terjadi, mungkin saat ini Han Sae-jin jatuh di pelukan pria lain yang telah mengenalnya dan menjadi sandarannya sejak kecil dan Cho Kyuhyun adalah orang asing, hanya artis yang dikenalnya lewat TV saja.

Begitu emosionalnya hingga dia bahkan tidak memperhatikan fakta bahwa Han Sae-jin tidak lagi mendorongnya atau menolaknya seperti sebelumnya—gadis itu membiarkan Cho Kyuhyun menjelajahi bibirnya; kedua tangannya menangkup kedua pipi suaminya, mencoba menyeimbangkan irama mereka, membiarkan tangan Kyuhyun membelai bagian apapun dari tubuh Sae-jin yang ingin dibelainya, mencoba dan berusaha keras menahan desahan dan erangannya agar tidak membangunkan kakeknya. Membelai kepala Kyuhyun dengan lembut untuk sekedar mengingatkannya bahwa dia saat ini tengah mengandung setiap sentuhan Kyuhyun mulai bersifat sedikit memaksa; pria itu mencium Sae-jin kembali, menyeka keringat di dahinya.

Gadis itu membiarkan udara dingin menyapu permukaan kulitnya yang telanjang setiap Kyuhyun berhasil melepaskan helaian kain dari tubuhnya dan melemparkannya di lantai. Tubuhnya terasa sangat sensitif dengan sentuhan suaminya, dia mengingkannya; dia ingin disentuh oleh suaminya; dia membutuhkan emosi pria itu pada dirinya, dia ingin kulit mereka bersentuhan, dia ingin Cho Kyuhyun melakukannya lagi, memperlakukannya seperti seorang wanita.

Memperlakukannya seperti ketika malam itu terjadi, awal dari kisah kehidupannya dengan Cho Kyuhyun.

Dan mereka memang melakukannya malam ini, hanya saja dengan fakta bahwa satu- satunya yang memabukkan mereka adalah perasaan mereka dan bukan lagi alkohol.

Butuh usaha keras bagi Sae-jin untuk menahan desahannya, Cho Kyuhyun bahkan membantu membungkan mulutnya dengan ciuman ketika tubuh mereka bergerak seirama. Di puncak persatuan mereka, Kyuhyun mencium air mata yang membasahi pipi Sae-jin.

“Kau terlalu sempurna, Han Sae-jin.”

Sae-jin tersenyum di sela tangisnya. “A—aku harap, kakek terlalu lelap tidur untuk mendengarkan kita.”

Kyuhyun tertawa kecil. Han Sae-jin dan sifatnya yang selalu mengkhawatirkan kepentingan orang lain. Mungkin itulah yang menjadi awal dari perhatian Kyuhyun padanya.

“Aku harap aku tidak mengganggu bayi kita.”

Sae-jin tertawa kecil, tangannya yang masih gemetaran, perlahan mencoba menggenggam wajah suaminya yang dibasahi peluh.

“Aku rasa… aku—“

Kyuhyun mencium bibir Sae-jin. “Aku tahu, Han Sae-jin. Aku tahu.” Pria itu perlahan melepaskan tautan tubuh mereka dan berbaring di samping tubuh istrinya, menutupnya dengan selimut hangat mereka. “Tidurlah…”

Han Sae-jin berbalik memunggunginya. Cho Kyuhyun tersenyum dan menarik istrinya dalam pelukannya, mencium punggungnya sambil membelai perutnya yang mulai membesar, dalam hati berkali- kali memohon maaf pada putri mereka karena membuat ibunya kelelahan di malam yang dingin ini.


“Berhati- hatilah… kau harus rajin- rajin periksa kandungan, mengerti?” Kakek Han menepuk kepala cucunya yang meringis.

“Aku tahu, Kakek.” Keluh Sae-jin.

“Aigoo lihatlah, yang membuat kau kelihatan hamil itu hanya perutmu,” omel kakek Han. Sifat lembutnya pada cucunya tadi malam menghilang seiring dengan usainya ulang tahun Sae-jin. “Kau harus makan banyak, nanti janinmu makan apa?”

“Aku makan, Kakek…” protes cucunya.

“Kau sudah lebih dari 20 tahun hidup bersamaku, anak nakal, jangan pikir aku tidak tahu hobimu yang suka meninggalkan makanan!”

“Baiklah, aku akan makan banyak.” Sae-jin menenangkan kakeknya. “Di sini sangat dingin, masuklah—“

“Harusnya aku yang bilang padamu, yang hamil itu kau.” Ujar kakek, menepuk cucu kepalanya, ekspresi galaknya berubah menjadi lembut ketika melihat Kyuhyun; beliau tertawa sambil menepuk punggung Kyuhyun sebelum berbalik masuk ke dalam toko roti.

Sae-jin bisa mendengar jantungnya berdebar sangat kencang hingga hampir melompat dari dadanya. Sejujurnya gadis itu sudah bangun bahkan ketika langit masih gelap dan sengaja menyibukkan diri agar tidak perlu melakukan kontak dengan suaminya. Dia bahkan hampir dua kali membersihkan kedai kakeknya dan membantu beliau memanggang hampir seluruh roti.

Seharusnya yang terjadi tadi malam itu normal saja; mereka toh suami istri—yang mereka lakukan tadi malam sama sekali tidak salah. Hanya saja itu memberikan dampak besar; sangat teramat besar bagi Han Sae-jin. Bagaimana bisa dia seperti itu tadi malam? Bagaimana bisa dia terbawa perasaan dan membiarkan itu terjadi? Dia pasti terlihat sangat memalukan tadi malam. Setiap memikirkannya tubuhnya terasa terbakar dan dia ingin berteriak!

“Kau ingin masuk atau melamun di situ?” suara dingin Kyuhyun mengejutkan Sae-jin, membuatnya bergidik.

Suara itu puluhan kali membisikkan namanya tadi malam.

Sialan! Han Sae-jin, dasar wanita mesum! Sae-jin menggeleng. “N—neh.” Pipinya bersemu merah dan gadis itu segera masuk ke dalam mobil. Aroma cologne Cho Kyuhyun yang memenuhi seisi mobil pun membuat perasaan Sae-jin semakin tidak nyaman—entah mengapa, padahal gadis itu biasanya sangat suka menghirupnya.

“Kau terlalu sempurna, Han Sae-jin.”

Sae-jin menarik nafas panjang dan meringis pelan. Bagaimana ini? Lama- kelamaan bahkan mendengar suara Kyuhyun pun dia tidak mampu!

“Kau tidak akan memakai seatbelt mu?” suara Kyuhyun kembali mengusiknya. Han Sae-jin bergidik dan bermaksud menarik seatbelt di sampingnya ketika tiba- tiba Kyuhyun mendekatinya dan membantunya memakai seatbelt itu. Cho Kyuhyun melakukannya dengan sangat cepat tanpa menyadari istrinya yang sekarang membeku dan menatapnya dengan kedua mata melebar; dia bisa melihat lekukan di wajah Kyuhyun yang tegas dan sempurna serta lehernya yang panjang—dan dia yakin ada tanda merah akibat ulahnya di situ. Aroma Kyuhyun pun seperti menyetrumnya.

“Y—yah“ protes Sae-jin, kontan memalingkan wajah ke luar. “a—apa y—yang kau—“

“Kau yakin baik- baik saja? Sepertinya tidurmu tidak cukup—“ sindir Kyuhyun tenang.

“T—tidak, a—aku tidur d—dengan b—baik,”

“Tentu saja.” Ujar Kyuhyun tenang, tapi setiap katanya sarat dengan maksud tersembunyi. Sae-jin melayangkan tatapan membunuh pada suaminya sebelum menoleh ke luar lagi, berusaha memikirkan hal- hal yang dapat membuatnya tenang.

“P—perutmu tidak apa- apa kan?”

Nada serius dan khawatir dalam suara Kyuhyun membuat Sae-jin mau tidak mau merasa kasihan, dia bisa merasakan pria itu menghabiskan semalaman mengkhawatirkan bila apa yang mereka lakukan akan membuat janin Sae-jin dalam bahaya. Sejujurnya kandungan Sae-jin sekarang belum terlalu berisiko tapi dia tidak ingin mengatakannya dengan sangat jelas; karena dia yakin Kyuhyun akan menginterpretasikannya dengan cara yang berbeda.

“Tidak apa- apa.” Kata Sae-jin dingin. “Jangan khawatir.”

Kyuhyun mengangguk. Sisa perjalanan mereka dihabiskan dalam diam; Cho Kyuhyun tahu benar sifat istrinya dan dia yakin saat ini gadis itu sedang sibuk mengutuk dirinya sendiri karena dengan mudahnya menyerahkan dirinya pada Cho Kyuhyun tadi malam, di rumah kakeknya yang sangat dia sayangi, dengan kemungkinan bahwa mereka bisa membangunkan tetangga- tetangga dengan suara desahan mereka yang sangat tidak pantas itu.

Astaga, Cho Kyuhyun merasa seperti baru saja memenangkan undian berhadiah. Jadi biarlah dia menikmati momen itu dan mengijinkan istrinya sibuk memikirkan rencana bunuh diri. Dia saja sejak pagi menghindari Kyuhyun; menatap wajahnya saja tidak mampu.

“Ngomong- ngomong, aku tidak bisa berlama- lama. Aku harus pergi ke kantor dan teater untuk latihan. Atau… kau mau ikut?”

“T—tidak perlu, aku ingin lanjut beristirahat.”

Cho Kyuhyun tertawa. “Beristirahatlah, makan yang banyak. Kalau nanti bayinya lahir kurus sepertimu bagaimana?”

Han Sae-jin tertawa kecil. “Aku harus makan kue cokelat yang banyak.” Katanya sambil melambaikan kedua tangannya menggambarkan seberapa banyak yang harus dia makan.

“Kau mau makan kue cokelat? Haruskah kita ke toko cake kesukaanmu itu?”

Sae-jin menggeleng. “Aku akan membuatnya sendiri sore ini.” Hatinya kembali ringan membayangkan waktu yang akan dia habiskan di dapurnya dengan memanggang.

“Baiklah—aku akan pulang cepat dan membantumu.”

“Jangan coba- coba!” ancam istrinya galak.

Mobil berhenti di pelataran parkir apartemen mereka dan Cho Kyuhyun membantu Sae-jin melepaskan ikatannya. Entah mengapa Han Sae-jin tidak merasa terbiasa dengan ini; dia sudah terlalu nyaman dengan sikap dingin Kyuhyun serta keadaan- keadaan yang mengharuskannya untuk hidup mandiri.

“T—terima kasih.” Gumam Sae-jin malu kemudian bermaksud untuk keluar sebelum kemudian Kyuhyun menahan tangannya dan mencium keningnya kilat.

“Hati- hati di rumah.” Ujar Kyuhyun dingin. Sae-jin tidak menjawab tapi semburat merah di wajahnya telah memberikan respons yang diinginkan suaminya. Han Sae-jin buru- buru pergi dan menutup pintu sebelum Cho Kyuhyun melakukan hal lain yang dapat membahayakan kerja jantungnya, sementara suaminya hanya memperhatikan langkahnya dari dalam mobil sambil tertawa.


Cho Kyuhyun memperhatikan kertas putih panjang di depannya dengan wajah mengerut. Sepertinya perusahaan musikal telah memeriksa jadwal kosong Cho Kyuhyun dan memberikan jadwal pentas yang sedikit lebih banyak untuknya. Biasanya pria itu tidak akan menolak; dia bisa memperbanyak jam terbangnya serta keuntungan untuknya dari hasil penjualan tiket tidaklah sedikit. Tapi sekarang dia khawatir bila harus sering meninggalkan istrinya sendirian di rumah. Han Sae-jin memang tidak pernah mengeluh; gadis itu nyaris tidak pernah mengeluhkan apapun. Tapi Cho Kyuhyun merasa di saat seperti ini dialah yang paling dibutuhkan oleh istrinya melebihi siapapun. Lagipula, dia merasa tidak enak terhadap aktor lain yang memerankan peran sama dengannya.

“Apa? Juna noona sudah melahirkan?” suara Kang In yang terlalu keras menarik perhatian Cho Kyuhyun.

“Oh. Padahal manajer Kang mengajukan izin untuk minggu depan, tapi tiba- tiba dia melahirkan tadi pagi.” Kata Eunhyuk sambil mengaduk- aduk gelas es krimnya.

“Juna noona melahirkan tadi pagi? Bukankah dia harusnya melahirkan minggu depan?” tanya Kyuhyun sambil meneguk kopinya, kali ini lupa untuk berpura- pura tidak mendengar seperti biasanya, dia paling tidak suka menguping pembicaraan orang lain.

“Benar juga. Apa itu bisa dibilang prematur?” tanya Kang In lagi, kali ini terlihat sangat ingin tahu daripada khawatir.

“Entahlah… cuma beda beberapa hari tidak apa- apa kan? Lagipula, manajer Kang cerita padaku—beberapa hari yang lalu ketika mereka pergi ke dokter untuk memeriksa kandungan, dokter itu menyuruh manajer Kang dan Juna noona untuk berhubungan agar bisa merangsang kontraksi kandungannya.”

“Kalau begitu kalau mereka sering melakukannya maka kontraksinya akan semakin sering kan? Kalau begitu, apa mereka melakukannya terlalu sering?”

Kali ini Kyuhyun hampir tersedak minuman kopi kalengnya, menarik perhatian ketiga pria di depannya.

“Yah, Cho Kyuhyun, kau tidak apa- apa?” tanya Donghae heran. Kyuhyun masih sibuk menenangkan jalan napasnya kemudian berdiri. Ini tidak pantas—ini benar- benar pembicaraan yang tidak pantas dan tidak ingin didengarnya. Sebaiknya dia meninggalkan pembicaraan ini sebelum pikirannya terganggu. Mempercepat kontraksi? Apa apaan itu?

Cho Kyuhyun segera berjalan meninggalkan ruangan latihan itu sebelum pembicaraan tidak senonoh itu beralih padanya mengingat Kyuhyun-lah satu- satunya anggota yang telah menikah dan memiliki istri yang sedang hamil.

“Kenapa dia harus kabur seperti itu?” tanya Kang In heran.

“Tunggu—apa dia juga—“ Donghae dan Eunhyuk saling menatap dengan wajah tak percaya.

“Memangnya kenapa? Mereka kan suami istri?” Kang In berusaha meluruskan segala bentuk pemikiran tidak wajar kedua rekannya, karena saat Eunhyuk dan Donghae menyatukan imajinasi mereka, segala hal yang tidak wajar bisa terjadi.

Donghae dan Eunhyuk buru- buru memalingkan wajah dengan malu lalu meneguk minuman masing- masing.

“Bukan itu masalahnya,” ujar Donghae enggan. “Aku tidak heran kalau Kyuhyun melakukannya, aku hanya tidak percaya kalau Sae-jin membiarkan Kyuhyun melakukannya.”


“Apa hak mereka bicara seperti itu—bukan mereka yang punya istri sedang hamil.” Omel Kyuhyun, mengendarai mobilnya. Apa mereka meminta Kyuhyun hidup menahan keinginannya selama 9 bulan meskipun istrinya berjalan ke sana- ke mari tanpa dosa?

Tapi… bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan kandungan Sae-jin? Bagaimana kalau kontraksinya tiba- tiba meningkat? Aish… apa semalam Kyuhyun terlalu agresif dan memaksa? Tapi gadis itu tidak protes atau menolak, dia justru seperti menikmatinya. Wajahnya terlihat sangat menikmatinya—

“Yah, yah, yah, kendalikan dirimu Cho Kyuhyun! Jangan terlalu mesum!” Cho Kyuhyun menepuk pipinya dengan tangan yang bebas. Ini salah Han Sae-jin! Kalau begitu… apa berikutnya Sae-jin tidak akan mengijinkannya lagi? “Aish…”

Mobil berhenti di pelataran parkir teater. Mengingat jadwal pentas Kyuhyun yang diperbanyak jadwal latihannya pun menjadi lebih banyak. Kyuhyun sesungguhnya ingin mendiskusikan ini dengan Direktur Lee; wanita itu harus mau mengurangi jadwal pentasnya. Bukannya dia tidak bersikap profesional; tapi dia rasa dia berhak meminta waktu istirahat dan senggang yang cukup agar bisa mengurusi istrinya yang sok mandiri itu. Terlebih lagi keadaannya belum pulih benar sejak terakhir kali dia pingsan.

“Nyonya Lee sedang di ruangannya.”

Setelah mengkonfirmasi kehadiran Nyonya Lee di ruangannya, Cho Kyuhyun mengucapkan terima kasih pada resepsionis dan berjalan menaiki lift. Teater ini benar- benar mewah, meskipun sering ke mari Cho Kyuhyun belum pernah menjelajahi seluruh sudut gedung ini, gedung ini merupakan salah satu bangunan termewah dan termahal di Seoul; tidak mengherankan mengingat besarnya ambisi Nyonya Lee yang terkenal untuk menjadi salah satu tokoh yang diperhitungkan.

Tapi dia menelantarkan putrinya, sebuah suara mengusik pikiran Cho Kyuhyun. Apa itu juga salah satu bentuk pengorbanan atas ambisinya? Kyuhyun sibuk mengutuk pikirannya sendiri yang terkesan mencampuri pikiran orang lain ketika pintu lift terbuka menampakkan ruangan mewah berbentuk bundar yang luas. Suasananya sangat hening, yang terdengar hanyalah alunan musik klasik yang sudah sering Kyuhyun dengarkan. Cho Kyuhyun selalu terkagum- kagum melihat lukisan- lukisan romawi di dinding. Di salah satu sisi ruangan terdapat meja sekretaris.

“Maaf—saya ingin menemui Nyonya Lee, apa Anda bisa melaporkannya?”

Wanita itu tersenyum ramah lalu menekan intercom, bertanya pada bos-nya.

“Biarkan dia masuk.” Suara angkuh memerintah. Berikutnya sekretaris Nyonya Lee mengantar Cho Kyuhyun ke pintu kayu mahogany besar dengan daun pintu panjang dari emas, kemudian membukanya pelan.

Nyonya Lee duduk di depan meja panjang kebesarannya, terlihat sedang sibuk menandatangani setumpuk berkas ketika Cho Kyuhyun perlahan masuk dan dengan sopan mengumumkan kedatangannya. Wanita itu menengadah dan tersenyum seadanya, mengarahkan tangannya ke sofa besar untuk tamu yang berseberangan dengan meja kerjanya. “Silahkan duduk.”

Cho Kyuhyun duduk di sofa bergaya Eropa ini—matanya langsung menangkap sosok piano di salah satu sudut ruangan, bertanya- tanya apakah piano itu hanya sekedar pajangan karena dia tak pernah mendengar wanita paruh baya itu mahir bermain alat musik.

“Sebelumnya sepertinya aku perlu bertanya bagaimana kabar Anda dan Nyonya Cho.”

Kyuhyun berdehem. “Aku… baik. S—sae-jin juga.” Entah mengapa berada dalam ruangan ini serasa seperti terperangkap di kandang singa. Nyonya Lee tak pernah memberikan kesan ramah atau ingin sekedar berbasa- basi—sifatnya itulah yang membuatnya sangat ditakuti dan disegani, ruangan semewah ini tidak membuat Kyuhyun merasa nyaman sama sekali; dia justru merasa terintimidasi.

“Benarkah? Perutnya pasti lebih besar sekarang. Sekali- kali aku dan dia mungkin harus bertemu.”

Sesungguhnya Kyuhyun penasaran bagaimana bisa wanita ini ingin bertemu dengan Sae-jin, istrinya jelas- jelas tidak menunjukkan ketertarikan pada apapun jenis hubungan yang mereka jalin. Cho Kyuhyun hanya tersenyum simpul.

“Baiklah… apa yang ini kau bicarakan, Kyuhyun—ssi?” Lee Sunjin melepaskan kaca matanya lalu berjalan ke arah sofa, duduk di sofa di seberang Kyuhyun.

“Aku… aku ingin mendiskusikan tentang jadwal pentasku.” Kyuhyun merasa dia tidak perlu berbasa- basi dengan wanita ini. Berurusan dengannya bukanlah hal yang menyenangkan bagi Kyuhyun.

Alis Lee Sunjin terangkat, meskipun ekspresinya tetap sama, tapi wanita itu mencoba untuk tersenyum ramah. “B—boleh aku tahu… kenapa?”

Tentu saja, Kyuhyun lupa mencari atau membuat alasan yang tepat. Maka pria itu hanya tersenyum kecil. “Ada urusan keluarga yang tidak bisa aku tinggalkan kali ini… lagipula, sebenarnya aku telah berencana menggunakan waktu senggang yang diberikan perusahaan padaku.”

Nyonya Lee menyipitkan matanya, jelas sedang berusaha mencerna fakta bahwa ada orang yang menentang keputusannya; tapi dia bisa mengendalikan dirinya lalu mengangguk dan tersenyum mengerti. “Sepertinya Kyuhyun—ssi ingin punya banyak waktu dengan istrinya. Benar juga, dia sedang hamil—pasti dia ingin diperhatikan suaminya.”

Kyuhyun hanya tersenyum dingin. Tidak ada yang perlu Lee Sunjin ketahui tentang Kyuhyun dan istrinya.

“Baiklah… kalau itu keinginanmu, maka aku akan menghargainya dan menyusun lagi jadwal pentasmu. Aku rasa setidaknya aku harus menunjukkan tenggang rasaku pada salah satu aktor terkenal yang membuat musikal ini laku keras.”

“Tidak.” Jawab Kyuhyun sopan. “Terima kasih atas pengertian Anda.” Pria itu berdiri lalu menunduk hormat sebelum pamit dan pergi.

Cho Kyuhyun memegang daun pintu itu dan menariknya ketika sesuatu menarik perhatiannya—sebuah benda berkilau di lantai berkarpet mewah itu yang hampir diinjaknya.

Kyuhyun menarik kakinya; keningnya berkerut menatap benda berkilau itu.

Sebuah kalung?

Cho Kyuhyun berlutut, mengambil kalung itu, bermaksud untuk bertanya pada Nyonya Lee tapi ada hal lain yang menarik perhatiannya. Mata kalung itu, mata kalung bintang berbentuk kecil dengan batu berlian kecil di salah satu ujungnya. Kenapa benda ini terasa… familiar? Kenapa dia merasa seperti pernah melihatnya?

Cho Kyuhyun berdiri dengan mata masih terpancang pada kalung dalam genggaman tangannya. “Err… Nyonya Lee?”

“Ya?”

Kyuhyun berjalan menghampiri Nyonya Lee, masih dengan dahi mengerut, mencoba mengingat di mana dia pernah melihat kalung itu. “Apa… benda ini milik Anda?” Kyuhyun menyodorkan kalung itu.

Ekspresi tenang di wajah Nyonya Lee sedetik kemudian berubah; wanita itu dengan gusar menyentuh lehernya dan terlihat ngeri karena tersadar bahwa dia telah kehilangan sesuatu dan bahkan tidak sadar bahwa benda itu jatuh dari lehernya. Wanita itu langsung mengambil kalung dari genggaman tangan Kyuhyun, tangannya sedikit bergetar; tapi secepatnya dia mengendalikan air mukanya.

“T—terima kasih.” Lee Sunjin menggenggam kalung itu erat- erat. “Kau boleh pergi.” Ujarnya dingin, kesopanannya telah pergi entah ke mana. Kyuhyun segera mengalihkan perhatiannya dari kalung itu, tapi kemudian menunduk hormat lalu pergi tanpa mengatakan apapun lagi.

Dia yakin dia pernah melihat kalung itu di suatu tempat.


Cho Kyuhyun menghabiskan perjalanannya dengan kesibukannya memutar otak; berusaha mengingat kapan dan di mana dia pernah melihat kalung dengan bentuk yang sama dengan yang dilihatnya tadi. Ada ratusan kalung yang pernah dia lihat seumur hidupnya, tapi kalung yang dilihatnya tadi memiliki bentuk yang unik dan berbeda, dan karen itulah perasaan familiar itu datang; karena bentuk mereka yang jarang dan berbeda. Tapi di mana dan bagaimana bisa dia pernah melihat kalung dengan bentuk seperti itu? Bila itu milik seorang Lee Sunjin pastilah itu bukan kalung biasa yang dijual di pasaran.

Kyuhyun berusaha keras memutar kembali memorinya satu per satu, dia tidak pergi ke toko perhiasan akhir- akhir ini, dia juga tidak merasa pernah melihatnya di gedung agensinya, teater musikal, dia juga yakin ibunya atau kakaknya tidak pernah menunjukkan kalung seperti itu padanya.

Atau—

Butuh waktu beberapa menit bagi Cho Kyuhyun untuk mencerna memorinya setelahnya. Di… apartemenya-kah? Mungkinkah dia pernah melihat kalung itu di apartemennya? Tapi… masa—?

Tiba- tiba ingatan lain muncul, ingatan ketika Cho Kyuhyun membantu istrinya memindahkan barang- barangnya ke kamarnya, membantunya mengeluarkannya dari kardus- kardus besar.

‘Setelah Kyuhyun memasukkan kotak- kotak barangnya ke dalam kamarnya, pria itu menghampiri kotak barang Sae-jin yang tidak terlalu banyak, mengangkat kotak yang berat dan membawanya ke dalam kamar Sae-jin yang terletak di depan kamarnya.

Gadis itu sementara membuka kotak kecilnya ketika Kyuhyun masuk.

“T—terima kasih,” ujar gadis itu pelan. Kyuhyun kembali ke luar kamar untuk mengambil kotak yang lain tapi berhenti di depan pintu ketika melihat sesuatu yang jatuh di lantai.

Kyuhyun berlutut dan mengambil sebuah liontin perak dengan bentuk mata kalung bintang berukuran kecil dan mata berlian berwarna putih kecil di sudut kanannya. Kyuhyun mengagumi benda itu sesaat lalu melirik Sae-jin yang sepertinya tidak sadar dan sedang asyik mengatur kotak- kotaknya.

“Ini… kalungmu?”

Sae-jin melirik benda yang dipegang Kyuhyun dan eskpresi dinginnya berubah menjadi tegang, seperti kaget melihat liontin itu berada di tangannya.

“Jatuh di depan pintu,” Kyuhyun menjelaskan.

“N—neh, t—terima kasih,” kata Sae-jin lalu mengambil liontin itu dan meletakannya di dalam kotak. Kyuhyun bisa merasakan atmosfer aneh yang tiba- tiba datang bersamaan dengan kalung itu dan juga ekspresi Sae-jin ketika melihatnya tapi dia memutuskan tidak ikut campur.’  (PS: Baca part 11)

Rasanya seperti ada yang memberinya shock therapy sehingga dia tidak merasa dapat bernafas dengan normal; pria itu segera mencari tempat yang aman untuk memberhentikan mobilnya sementara; karena sepertinya dia butuh waktu yang lebih lama untuk berfikir tanpa harus membuatnya menabrak tiang atau mobil lain.

Yah. Kalung itu.

Dia mengingatnya.

Tapi… kenapa Han Sae-jin juga memiliki kalung yang sama? Apa kalung itu terlalu pasaran—apakah seorang Lee Sunjin membiarkan benda yang dimilikinya juga dimiliki oleh orang lain?

Apakah… ini normal? Kalau begitu darimana Sae-jin mendapatkannya? Cho Kyuhyun menarik nafas panjang, berusaha untuk mengusir kemungkinan- kemungkinan akan pikiran- pikiran tidak baik yang mulai mengganggu otaknya dan mendesaknya untuk membuat kesimpulan yang tidak seharusnya.

Dia harus memastikannya terlebih dahulu.


Han Sae-jin tengah berbaring di atas tempat tidurnya sambil membaca novel terjemahan ketika dia mendengar pintu kamarnya diketuk. Sepertinya dia terlalu asyik membaca hingga tidak sadar bahwa suaminya telah pulang. Tanpa menunggu jawaban Sae-jin pintu terbuka menampakkan Cho Kyuhyun yang terlihat sedikit… aneh? Sae-jin meletakkan bukunya dengan mengerang kecil sambil meregangkan kedua tangannya lalu menguap.

“Kau pulang cukup cepat.” Komentarnya. Suaminya hanya tersenyum simpul lalu duduk di pinggir tempat tidur. Ini bukan pertama kalinya Cho Kyuhyun terlihat seperti ini; ini ekspresi yang selalu Sae-jin lihat di masa awal ketika mereka baru menikah. Hanya saja beberapa minggu terakhir ini Cho Kyuhyun terlihat cukup tenang. Masalah apa lagi yang kali ini mengganggunya?

“Bukankah kau sedang memanggang?”

“Sudah selesai. Makan saja, aku menyimpannya di lemari pendingin.”

Kyuhyun mengangguk tapi sepertinya tidak memperhatikan apa yang diucapkan istrinya. Pikirannya seperti sedang berkelana ke tempat lain.

“Kau… tidak apa- apa?”

Kyuhyun melirik istrinya yang menatapnya dengan serius dari balik kaca mata bacanya yang culun; membuatnya terlihat seperti ibu guru yang sedang menginterogasi murid di kelasnya yang bermasalah. Pria itu tertawa kecil sambil mengacak rambut istrinya. “Aku tidak apa- apa.” Ucapnya meskipun dia yakin dalam hati gadis itu terlalu pintar untuk tertipu oleh ucapan Kyuhyun. Tapi Sae-jin toh hanya mengangguk lalu melanjutkan membaca novelnya.

Cho Kyuhyun melayangkan tatapan ke seluruh kamar Sae-jin; tersenyum kecil melihat boneka beruang pemberiannya sekarang telah berada di samping Han Sae-jin, tentu saja bersama dengan boneka lusuhnya. Gadis itu juga punya koleksi boneka- boneka beruang kecil yang dipajang di sebuah meja putih di sudut ruangan, jendela kamarnya yang berukuran sedang kini dihiasi dengan beberapa pot tanaman hidup kecil yang sekarang sedang disirami sinar matahari yang mulai terbenam.

Tatapannya kemudian jatuh ke meja rias kecil Sae-jin dan senyumnya perlahan menghilang ketika melihat sebuah kalung yang menggantung di tempatnya, bergabung dengan kalung- kalung lainnya. Hanya saja benda itu cukup mencolok dan memang merupakan sumber kebingungan Kyuhyun saat ini. Pria itu otomatis berdiri dan mendekati meja rias tersebut, memperhatikan benda itu dengan saksama.

Sekejap tubuhnya serasa membeku ketika melihat mata kalungnya yang sama persis dengan yang baru saja dilihatnya di kantor Nyonya Lee tadi.

Bagaimana—? Ternyata ingatannya benar.

“H—Han Sae-jin.”

“Hmm?”

“Kalung ini—“ Kyuhyun langsung mengambil kalung itu lalu menyodorkannya pada Sae-jin yang masih asyik membaca. “Kau beli ini di mana?”

“Hmm? Kalung yang man—“ ucapan gadis itu berhenti ketika melihat benda yang dipegang Sae-jin. Raut wajahnya yang semula tenang kontan berubah menjadi tegang, ekspresi sama yang ditunjukkannya beberapa bulan yang lalu ketika mereka baru saja pindah ke apartemen ini. “K—kenapa memangnya?” istrinya tidak repot- repot menunjukkan ketikdsukaannya pada pertanyaan Kyuhyun.

“T—tidak,” Kyuhyun memaksakan senyum, tidak ingin mengusik Sae-jin. “Kalungnya… cantik.” Pria itu segera menggantungkan kembali kalung itu di tempatnya karena sepertinya benda ini akan mengarahkan suasana mereka pada ketegangan, dia tahu benar sifat istrinya. Mungkin memang hanya sebuah kebetulan, sejak kapan seorang Cho Kyuhyun memusingkan masalah sekecil ini? Seolah- olah dia tidak punya pekerjaan dan harus mengganggu istrinya dengan masalah yang tidak penting.

Pria itu kemudian duduk kembali di tempatnya, tapi kali ini tatapan istrinya tidak lepas darinya. Gadis itu terlihat bingung dan heran, sepertinya Cho Kyuhyun sudah berhasil mengusiknya. Sejujurnya Han Sae-jin merasa tidak enak dengan sikapnya pada Kyuhyun, apakah responnya terlalu berlebihan? Kyuhyun hanya ingin bertanya, dan sejujurnya, dia berhak mengentahui segala kebenaran.

Segala kebenaran tentang Han Sae-jin.

“Aku tidak membelinya.” Ujar Sae-jin pelan. “Itu sudah bersamaku sejak kecil.”

Kali ini tatapan Kyuhyun perlahan tapi pasti berpindah dari lantai ke wajah istrinya, pria itu jelas terkejut, dia tidak repot- repot menyembunyikannya. “Apa?”

“Itu sudah bersamaku ketika ibu panti asuhan menemukanku.” Jelas Sae-jin. Dia tidak pernah menceritakan hal ini sebelumnya pada siapapun kecuali kakeknya, bahkan pada Kris pun tidak. Dia pikir itu hanya akan menaburi garam pada luka di hatinya yang telah cukup lama dia lupakan, tapi entah mengapa sekarang dia tidak merasakan apapun. Rasanya hanya seperti menceritakan masa lalu yang tidak perlu. Dia benci kalung itu; tapi di sisi lain dia tidak bisa membuangnya karena suatu alasan yang dia sendiri tidak dapat mengerti.

Tapi ekspresi Kyuhyun berbeda, pria itu menatap kalung itu lagi dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan.

“Kepala panti asuhan bilang, itu kemungkinan besar pemberian dari…” Sae-jin berdehem. “wanita yang melahirkanku.

Sae-jin mencoba terlihat biasa saja tapi itu memberikan efek yang luar bisa memukul bagi Cho Kyuhyun. Faktanya, itu memberikan sebuah hipotesis baru baginya—hipotesis yang dia sendiri merinding untuk membayangkan bila itu benar… Jantungnya berdebar kencang, tatapannya tak lepas dari kalung itu, matanya mengecil menatap mata kalungnya yang bergerak- gerak.

“Berhentilah bersandiwara, Lee Sunjin. Kau, telah menelantarkan bayi yang kau lahirkan 22 tahun yang lalu. Kau telah menelantarkan anakku!!!”

“Itulah yang aku sesalkan, Lee Sunjin—aku membiarkanmu mengandung anakku dan membuangnya di luar pengetahuanku. Kau bahkan membiarkan dirimu hidup dalam ambisimu dan dunia yang mewah tanpa tahu apakah anakku baik- baik saja di luar sana! Apakah dia makan dan minum atau tidak! Kau bahkan tidak repot- repot mencarinya!”

Mungkinkah—?

Cho Kyuhyun bahkan terhenyak, hanya bisa membiarkan opini- opini menakutkan itu merasukinya, akan semua hal yang masuk akal dan mendukung segala pemikirannya.

Tapi bila itu benar…

“Saat balita pun, butuh waktu yang lama bagiku untuk dapat meluluhkan hatinya. Meskipun dia masih sangat kecil tapi kehidupan di panti asuhan sangat keras, dia tidak terbiasa dengan keluarga yang hangat. Hampir setiap hari dia menangis dan menolak makan. Dia takut dengan semua orang, bahkan saat anakku ingin memeluknya dia akan menangis meraung seolah mereka akan melukainya. Kadangkala dia duduk dengan piyama di balik pintu rumah, seperti menanti seseorang menjemputnya dan ketika yang datang anakku dia malah menangis. Dia memang masih sangat kecil tapi sepertinya dia sudah terbiasa dengan penolakkan…”

Kyuhyun kemudian menatap istrinya yang terlihat bingung, matanya yang bulat mengerjap- ngerjap dengan polos.

Han Sae-jin, mungkinkah kau…

“C—Cho Kyuhyun, kau kenapa?”

Selama beberapa detik Kyuhyun seperti patung yang membeku, menatapnya dengan ekspresi yang tidak dapat dijelaskan.

“Kau, telah menelantarkan bayi yang kau lahirkan 22 tahun yang lalu. Kau telah menelantarkan anakku!!!”

Sebuah senyum yang terkesan dipaksakan kemudian menghiasi wajah tampan Kyuhyun, pria itu menarik nafas kemudian menepuk kepala istrinya dengan pelan. “Tidak apa- apa. Aku mandi dulu, nanti kita makan kuemu.” Pria itu kemudian berdiri lalu berjalan pergi, meninggalkan istrinya yang masih keheranan.

Advertisements

543 thoughts on “The Story of Bear Family- Part 21”

  1. aku udah 3 kali baca part ini dan baru coment sekarang *parah ya aku… dan aku nggak bosen” lhoo…

    1 kata buat eonni kerennn… lanjutkan eonni. kangen cerita ini, penasaran sama lanjutannya … semangat eonni…

    btw aku masih dibawah umur lhoo -,-

  2. Suka ama moment2 mereka yg manis2 kyk gini disini…
    Yah… Walaupun diiringi dengan cekcok2 dikit sih… Tp cukup manis dan bikin senum2…hehe

  3. aku prtms bca ff ini dulu wktu kls 2 SMA tp dulu msih smpek part 10-an. dan skrang udh lulus SMA dan baru tau bbrapa bln lalu klo ini ff udh smpek part 20-an.
    TSOBF ini trmasuk ff favorit aq, tp gk bisa komen di semua part.. krn sinyal di yg susah! #curhat

    ahh.. mkin greget ama ff ini, sedih sih klo bca ff udh mau ending. kyak gk rela gitu.. hahha.

    skrang prmsalahan kyu-jin bkn hnya ttg orang ketiga dihbungan mreka.. tp mslah asal usul saejin, siapa orang tuanya.

    ahh.. lee sunjin smoga nnti klo udh tau anaknya msih idup apalagi mnikah sma artis yg main di dramusnya. smoga sifatnya gak sedingin sekarang..

    smangat bwt authornya ya? kak Vanilla, karya mu aku tunggu.. 🙂

  4. Jiahhh,,,,author-nim,, fighting,, jgn pkirkn hal2 yg author tlis d atas,,hehe
    q sesuju ma author,,,bkan apa ato apa,,aq bkn murid sklahn ato mahasiswa,,,
    bkn mw crht ato ap,,q hny s orng TKW skrng,,aq pn jg tdk pny byk wktu sm sprtimu.appun yg Kau tulis q ska,,

    q bru dpt Hp n stlh download aplikasi2 q lgsung k Google cri Ff yg dh lm tertunda q bca taun llu,,

    tpi sya mgkin q akn bca FF ini

  5. Malam ke2 ni yeeeee…saejin super pemalu y sampe sengaja gak menghindar2 dr kyuhyun tapi wajar lah…
    Kyuhyun sdh tau kebenaran soal ortu saejin Tn yoon jg,kapan giliran ny lee n saejin tau ?
    Apa kyuhyun yang akan menguak fakta ini atau Tn.Yoon ?
    Gw gak sabar saejin tau n liat dia bahagia dg ke2 ortu n klg kecilx

  6. Kyu dapet Dorprise , hansejin anak lee sujin behhhhh…. rahasia nya ke bongkar dah wwwkk
    Smgoa hubngan kyu sma sejin lancar aman amin

  7. Huaaaa baru bsa bca part ini…aku komen dengan Id baru…

    Ohohoho….
    Kyuhyun hiptesamu bnar.
    .
    Cie cie kyuhyun udah mulai ngeklaim istrimu…
    Mulai ska nih..
    Tpi mreka berdua msih mlu malu kucing..

  8. sweeet sweeet banget, mereka benar benar pasangan yang sangat serasi huhuhu.. suka sam akegilaan mereka di part ini.. konflik selanjutnya mungkin akan terjadi, tapi setidak nya merek asudah bisa menerima hati masing masing , penasaran gimana kisah keluarga ‘asli’ nya saejin , gimana reaksi mereka.. apa saejin bisa menerima kenyataan hidup nya hhhhh okay , next pasrttt

  9. Cie yg udh pada buka-bukaan wkwkwk maksudnya hati mereka hhehehe konflik beralih ke family SaeJin gmana nanti reaksinya SaeJin kalau tau mereka adalah ortunya?
    Penasaran meluncuurrr ke part berikutnya.

  10. UDA LAMA GA BACA INI HUHUHU
    mian author.
    sebel soalnya lama update hehe,tp seneng deh update ceritanya bagus bangeeeeeettttttt!!!!
    .
    .
    .
    .
    KENAPA!?MEREKA LUCU BANGEEEEEEETTT AAAAAAAA
    .
    .
    .
    .
    hm sudah kuduga lee sujin itu mamanya wkwkwkkwkwkwkwkw.dan bapa2 yg di pertenakan itu ayahnya.

  11. wah.. udh lama bgt gk baca ff ini
    kangen bgt sama ceritanya
    kangen sama scene romantis kyujin juga
    ah daebak deh
    ceritanya jd tambah seruuu

  12. kyuhyun dah tau dengan sendiri siapa Han sae jin dengan bukti2 yg dia denger n liat 100% Han sae jin anak kandung Lee sunjin n Yoo Dae jo….

  13. Kyuhyun udah tau siapa orang tuanya saejin. Kira2 kyuhyun bakal kasih tau saejin apa enggak ya. Sedih banget pas denger cerita masa kecil sae jin,apalagi pas dia makan bekal di kandang kelinci.

  14. Apa yg akn dilakuin Kyuhyun slanjutnya y, stlah dia thu yg sbnarnya.?
    Saejin memang btuh pndekatan ekstra untk mndapatkn hti nya. smangat buat Kyuhyun…

  15. Ternyata lee sunjin emaknya saejin.. gua gua tebak 😀 hehe tapi partnya ekhemm yaaaa gua berpikir seandainyaa saejin itu gua dan bang kyu laki gua bhak yang di rumah kakek saejin hehe gua suka :v keep writing 🙂

  16. Oh good ,, ternyata sae jin msh punya ortu kandung dan yg lebih mengjetkan kemungkina dia anak lee sunjin , ah pantas aja sae jin dingin itu turun temurun dari ibu kandung nya hwhwhwhhw cerita nya smakin seru

  17. kukira kyuhyun lupa ulang tahun saejin .. ternyata dia malah bikin kejutan .. dasar -,-
    aku suka bagiab ini
    “Han Sae-jin.” Kyuhyun menutup matanya.
    “Lahirkan anakku. Akan kubuat kau dan putri
    kita menjadi istri dan anak paling bahagia di
    dunia ini. Sangat bahagia sampai kau lelah
    untuk tersenyum dan tertawa, sangat bahagia
    sampai kau berharap di kehidupan berikutnya
    kita akan kembali terjebak di malam itu dan
    kau harus menikah denganku.”
    serasa gimana gitu ngebayanginnya ..

    saejin anak lee sujin ? oh my god ternyata saejin anak dengan orang tua yg super kaya 2nya..
    tpi apa saejin bakal nerima mereka ??

  18. cerita ini terlalu indah u/ aku meninggalkan nya tanpa meninggalkan jejak di sini.. haha belibet kan..
    bkin senyum2 sendiri,..
    ahh pokoknya daebak.. 🙂

  19. Setelah meninggalkan ff ini setahun lebih karna kesibukan menyelesaikan kewajiban semester akhir, sekarang bisa kembali baca. Huwaaaaaah udah banyak lanjutan yg nongol.
    Yg pasti, kalo kakak updatetan ntu udah lebih dari cukup kok. Karna aku tau ada yg harus lebih di prioritaskan dibanding dgn hobi. Tetep semangat kakak 🙂
    Aku mau komentar di part ini, mantaaaaaaap. Dari semuanya yg manis, kyuhyun mulai mencair dgn hyejin. Begitupun sebaliknya. Ikut seneng dan senyum2 jg pas moment mereka hihihihihi tapiiiiii, ada lagi beban yg harus kyuhyun tahu dgn sendirinya. Semoga kyu ttp memberikan rasa aman, nyaman dan hangat k hyejin walopun pikiran dia lagi kemana-mana.
    Makin penasaran. Aku ijin lanjut yah kakak 😀

  20. Authornim, mian baru comment skrg..karna emang baru ngerti cara comment 😁 pdhl udh baca ff ini dari jaman blog yg dulu.
    Ini part yg ditunggu bgt, seengganya yg tau saejin itu putrinya sunjin bukan sae ryung. Kalau sampai itu anak yg tau duluan pasti bakal ribet 😅

  21. SaeJin anknya orng kaya wow!! Tuan Yoon sma Nyonya Lee!! Astaga gmna yah reaksi SaeJin klo dia tau siapa orng tua sbenernya?? Trus jga reaksi Nyonya Lee klo dia tahu putrinya yg ia tnggalkan trnyata Han SaeJin?? Smpet mkir sih klo SaeJin anknya Nyonya Lee di part brapa gtu wktu SaeJin dn Nyonya Cho brtemu sma Nyonya Lee prtama kalinya.. Tpi gak kepikiran klo si SaeJin anknya Tuan Yoon ,,

  22. kyu ma sujin melakukan ritual suami istri si sweatnya makin intim aja mereka…….
    kyu pasti kaget tu ma penemuannya klu lee sujin ada hubungan ma saejin…
    makin seru nih lanjut….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s