Romance, Short Story

The Flower’s Trilogy: Sunflower – Part 1

Title: The Flower’s Trilogy; Sunflower – Part 1

Rate: NC-21

Character: Cho Kyuhyun

Lee Joon-a

Thank you buat responnya ^^

“Joon-a, kau datang!”

Eommoni!

Nyonya Cho tersenyum sangat lebar sambil merentangkan kedua tangannya untuk memeluk menantunya. Hari ini adalah perayaaan ulang tahun Cho Corporation yang ke-50, dan pestanya tentu diadakan dengan sangat amat meriah—terlalu meriah, menurut Joon-a. Sedari tadi yang dilihatnya adalah orang- orang penting di dunia bisnis dan beberapa tokoh masyarakat yang sering ditontonnya di TV. Koneksi keluarga Cho dengan orang- orang penting di negeri ini benar- benar luar biasa dan mungkin itulah salah satu alasan mengapa perusahaan mereka berkembang pesat. Pesta itu diadakan di hall hotel Grand Meridian, milik keluarga Cho.

“Kyuhyun—ah, kenapa kalian lama sekali?” protes Tuan Cho pada putra mereka yang berjalan menghampiri mereka dengan wajah dingin dan sedikit kesal. Pria itu sesungguhnya emosi melihat ‘kedekatan’ ibunya dan menantu kesayangannya yang munafik itu.

“Oh, maaf ayah—Kyuhyun oppa membantuku memilih hadiah…” kata Jonn-a dengan wajah menyesal, membuat ekpresi kesal ayah mertuanya langsung berubah menjadi senyum hangat. “Oh, tidak apa- apa. Lagipula tidak perlu repot- repot membeli hadiah…”

Cho Kyuhyun memutar matanya, rasanya ingin menjambak rambut cokelat panjang istrinya. Meskipun tidak dapat dipungkiri penampilan istrinya luar biasa memukau malam ini; gaun hitam tak berlengan selutut yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang sempurna serta menonjolkan kulit putih susunya dan riasan wajah yang sangat sederhana cukup membuat gadis itu menjadi sorotan tamu- tamu pria yang mereka lewati sejak mereka melangkah masuk ke dalam aula. Kyuhyun ingat benar ucapan teman- temannya saat pesat bujang sebelum hari pernikahan mereka; Cho Kyuhyun baru saja memenangkan hadian termegah abad ini karena Lee Joon-a sangat terkenal dengan kecantikan fisik dan sifat angkuhnya yang selalu menolak pria kaya manapun yang ingin meminangnya atau memacarinya.

Seandainya mereka tahu apa isi otak dan hati gadis ini. Mereka pasti akan sadar bahwa dia tak lebih dari Medusa yang licik dan menjebak. Dan Cho Kyuhyun hampir masuk ke dalam jebakkannya.

“Yah, ayo makan—aku menyuruh mereka menyediakan bruchetta udang kesukaanmu!” kata Nyonya Cho bersemangat, kemudian menggiring menantunya ke meja makanan, bertemu dengan teman- teman sebaya Nyonya Cho.

“Oh ya, dimana ibu Joon-a?”

Ke neraka mungkin, batin Cho Kyuhyun. Itu pun kalau aku berhasil mengirimnya ke sana.

“Entahlah, mungkin ke luar negeri. Wanita itu suka sekali berangkat.”

“Cho Kyuhyun, itu bukanlah caramu menyebutkan ibu mertuamu!” desis Tuan Cho. “Aku tahu kau masih belum terbiasa dengan pernikahan ini, tapi kau yang berkata bahwa kau menerima keputusan ini!”

Kyuhyun hanya bisa menarik nafas panjang. Yah, itu sebelum dia menyadari bahwa yang akan dinikahinya adalah ular berbisa. Lee Joon-a adalah teman masa kecilnya dan dia tidak mengira perubahan yang dibawa gadis ini sepulangnya dari Canada adalah sebesar ini. Gadis kecil yang suka menangis kalau Kyuhyun menyembunyikan bonekanya sekarang menjelma menjadi seorang gadis pendendam yang gila harta.

“Jadi terimalah dan tolong biarkan aku melewati acara ini dengan tenang.” Tuan Cho berbalik pergi meninggalkan putranya yang hanya menatap kepergian ayahnya dengan dingin. Cho Kyuhyun menghela nafas berusaha untuk mengontrol emosinya dan memutuskan untuk menikmat champagne; satu- satunya yang bisa dia nikmati malam ini. Lee Joon-a sekarang sedang berbincang dengan pengisi acara di sisi panggung; kalau diperhatikan gadis itu memang tidak suka bergaul dengan teman sebayanya, kumpulan gadis- gadis kaya yang sekarang berada di sudut ruangan; beberapa dari mereka sekarang melirik Joon-a sambil saling berbisik. Istrinya memang tidak suka bergaul; di rumah saja dia lebih banyak mengurung diri di kamar pribadinya. Mungkin dia merasa gadis- gadis bodoh dan polos itu tidak cocok bersahabat dengan monster jahat sepertinya, batin Kyuhyun, menghabiskan segelas champagne sekali teguk.

“Kyuhyun—ssi?”

Cho Kyuhyun berbalik dan tertegun melihat siapa yang sekarang ini berdiri di depannya.

“I—Im Hanna?”

Gadis cantik itu tersenyum lembut padanya—yang masih dengan bodoh menatapnya. Gadis bernama Hanna itu pasti tidak sadar dengan efek yang dia berikan pada Cho Kyuhyun. Sudah berapa lama mereka tidak bertemu, dua tahun?

Gadis itu menyebabkan Cho Kyuhyun menjalani dua tahun kehidupannya dalam kesuraman.

“Sudah lama tidak berjumpa,” suaranya masih sama seperti yang dulu, seperti kain beludru yang halus, tapi berhasil membuat Cho Kyuhyun membeku. “Maaf tidak dapat hadir di pernikahanmu dengan Joon-a—ssi.”

Gadis sebaik dan semurni Hanna tidak seharusnya menyebutkan nama Joon-a. Hanna mungkin memang tidak secantik Joon-a, dia juga tidak sepopuler Joon-a, tapi yang jelas dia punya hati dan kepribadian yang luar biasa mengagumkan dibanding Lee Joon-a. Dan darah Cho Kyuhyun berdesir ketika Hanna harus membawanya kembali pada kenyataan bahwa Kyuhyun adalah pria beristri sekarang.

Kyuhyun hanya tertawa kecil. “Tidak apa- apa, kau juga tidak mungkin meninggalkan kuliahmu di sana.”

Hanna tertawa. “Di mana Joon-a?”

“Entahlah—maksudku,” Kyuhyun segera mengoreksi perkataannya ketika melihat ekspresi heran Hanna, “mungkin sedang berbincang dengan para tamu.”

Hanna mengangguk, sepertinya memutuskan untuk tidak mengacuhkan nada tidak perduli Cho Kyuhyun atas istrinya.

“Kau… kau mau champagne?”

“Boleh,”

Kyuhyun mengambil segelas champagne dan memberikannya pada Im Hanna yang menggumamkan terima kasih dan meneguknya sedikit dengan anggun.

“Bagaimana di sana? Kau… kau baik- baik saja?”

“Aku—“

“Oppa!”

Pembicaraan mereka terusik dengan gadis cantik yang berjalan menghampiri Kyuhyun dengan wajah sedikit kesal—gadis itu segera mengalungkan lengannya ke lengan Kyuhyun. “Kau di sini rupanya, aku mencarimu dari tadi.” Ujarnya Lee Joon-a manja, tidak menghiraukan keberadaan Im Hanna, tepatnya sengaja tidak  menghiraukannya.

Ingin rasanya Cho Kyuhyun melempar Joon-a jauh- jauh darinya, tapi itu sama tidak mungkinnya dengan menarik lengannya dari istrinya. Joon-a memang berbicara dengan manja tapi sorot matanya jelas menandakan bahwa dia sengaja cari gara- gara dan sebaiknya Cho Kyuhyun mengikuti permainannya. Dan dia benci bahwa Joon-a bisa mempermainkan kelemahannya yang satu ini; bahwa Kyuhyun tidak mungkin berbuat kasar padanya dan mempermalukan keluarganya.

“Joon-a—sshi, annyonghaseyo,” ucap Hanna sopan.

“Oh, Hanna onnie—bagaimana kabarmu?” tanya Joon-a, jelas hanya basa- basi.

“Neh…” Hanna jelas terpaksa tersenyum. Beberapa tamu sekarang melihat mereka. Semua orang tahu apa yang terjadi; semua orang tahu kedekatan Kyuhyun dan Hanna sebelum akhirnya pengumuman pernikahan Kyuhyun dan wanita lain terdengar. “Aku baik- baik saja.”

“Onnie sangat hebat, kudengar film pendekmu banyak mendapat pujian?”

“Kau memang hebat, andai semua gadis sepertimu.” Kata Kyuhyun dengan senyum dingin. Bagi Hanna itu adalah pujian, tapi itu sesungguhnya adalah sindiran dan hinaan bagi istrinya yang sekarang terlihat tegang dan meliriknya dengan tatapan manis yang membunuh.

“Tidak…” Hanna tersenyum malu. “Itu hanya film pendek—“

“Benar,” kata Joon-a lagi, “Semoga onnie dapat membuat film panjang. Kalau hanya film pendek, banyak sutradara amatiran lain yang dapat membuatnya—“

“Kau bicara seperti kau sudah pernah membuatnya.” Ucapan itu keluar begitu saja dari mulut Kyuhyun, yang menatap istrinya dengan dingin.

“Kalau belajar aku juga bisa.” Jawab Joon-a tak kalah dingin, kali ini benar- benar menyulut emosi Kyuhyun.

“Aku mau menyapa Tuan Cho dulu,” Hanna mengumumkan, tanpa menunggu jawaban sepasang suami istri itu langsung berbalik pergi, jelas raut tersinggung terpampang di wajahnya. Joon-a menatap kepergian gadis itu dengan dingin, kemudian menarik lengannya dari lengan suaminya dan pergi dengan ekspresi puas—tapi sedetik kemudian Kyuhyun menangkap tangannya dan menariknya dari keramaian di aula itu, tidak menghiraukan tatapa beberapa tamu yang heran.


“Apa yang kau lakukan, Cho Kyuhyun!” bentak Joon-a ketika suaminya melemparnya masuk ke dalam sebuah kamar suite yang kosong.

“Itu yang ingin kutanyakan, Lee Joon-a.” desis Kyuhyun emosi. “Apa yang otak kotormu itu sedang pikirkan?”

“Kenapa? Aku mengatakan yang sebenarnya,” tantang Joon-a. “Katakan di mana bagian salahnya.”

“Haruskah kau mengatakan itu di depan banyak orang dan mempermalukan Hanna?? Memangnya apa masalahmu dengannya??” bentak Kyuhyun.

“Kau masih bertanya apa masalahnya? Semua orang bilang kau jenius tapi kemampuan otakmu ternyata rendah, Cho Kyuhyun. Menurutmu apakah etis kau bicara dengan mantan pacarmu itu di depan banyak orang sementara aku di situ? Kau mau mereka membuat gossip? Kau mau menghinaku!”

“Jangan berpura- pura suci, Lee Joon-a. Dan jangan menyebut Hanna seperti itu—dia jauh berbeda denganmu!”

“Tentu saja.” Ucap Joon-a meremehkan. “Kau tidak akan bisa menemukan persamaan kami.” Joon-a berbalik pergi tapi pria itu menahannya dan mendorongnya ke dinding lalu memerangkapnya dengan tubuhnya agar Joon-a tidak dapat lari; wajah mereka hanya berjarak beberapa senti, saling menatap satu sama lain berusaha menyampaikan emosi mereka.

“Ini peringatan terakhir untukmu, Lee Joon-a. Jangan main- main denganku.” Desis Kyuhyun, tatapan mengancamnya seolah ingin menguliti Joon-a, jelas dia sedang emosi dan itu membuat Joon-a lebih emosi lagi. Mengapa pria itu marah hanya karena mantan pacarnya?

“Kenapa? Kau begitu menyukai Im Hanna?” bisik Joon-a dengan senyum meremehkan. Gadis itu membiarkan tangannya menangkup wajah tampan Kyuhyun dan membelainya dengan pelan, senang dengan fakta bahwa Cho Kyuhyun tidak bergerak dan hanya terdiam di tempatnya, seolah tersihir. Dia tahu, benar- benar tahu, sesungguhnya Kyuhyun tidak akan pernah tega melakukan apapun padanya.

Karena pria itu pernah berjanji akan selalu melindunginya.

Mungkin Cho Kyuhyun telah menyesalinya sekarang, tapi tidak dengan Lee Joon-a.

“Kalau kau suka, berusahalah untuk mendapatkannya. Aku ingin tahu,” Joon-a menyapu bibir Kyuhyun pelan dengan ibu jarinya. “bagaimana kau bisa melawan keinginan orangtuamu dan menikahi gadis miskin yang hanya hidup karena mendapatkan beasiswa dari perusahaanmu.”

Kyuhyun menyipitkan matanya, api kemarahan jelas terlihat dari tatapannya, Lee Joon-a tahu banyak kelemahannya. Joon-a mengecup bibir lembut suaminya selama beberapa detik sebelum merapikan kemeja Kyuhyun dengan lembut. “Bersikaplah dengan baik, dan aku akan memastikan kita akan melewati acara malam ini tanpa masalah.” Joon-a merapikan rambut Kyuhyun yang dengan enggan menjauhkan kepalanya, tersenyum puas dan meninggalkan suaminya di dalam kamar hotel, yang berusaha keras menahan amarahnya, mengambil lampu hiasan mewah di samping tempat tidur dan melemparnya ke sembarang arah sambil berteriak emosi.


“Dasar otak udang, bagaimana bisa dia membandingkan mobil sedan Mercedes Benz dengan truk ikan? Dia salah makan yah?” omel Joon-a, berjalan dengan cepat menyusuri koridor hotel yang sunyi. “Cih, semua gadis seperti Hanna? Aku memang tidak tahu membuat film, tapi tawaranku untuk main film ada seratus—lihat wajah lusuh dan baju murahnya itu, apa hebatnya membuat film?” Joon-a memukul dinding di sampingnya dengan emosi tapi segera meringis kesakitan. “Appo (sakit)…” bisik gadis itu sambil meniup tanganya. Kenapa dia harus seemosi ini? Kenapa juga dia harus perduli kalau Kyuhyun memandang rendah dirinya? Pria itu toh memang sudah membencinya sekarang.

Dan kenapa juga dia harus merasa rendah dan benci bila Kyuhyun memuji gadis lain di depannya?

Ini pasti masalah harga diri, Joon-a meyakinkan dirinya. Dia melakukan ini karena dia tidak ingin suaminya menghinanya.

Lee Joon-a sibuk berjalan sambil mengusap tangannya yang kemerahan ketika sesuatu menarik perhatiannya. Joon-a berhenti di tempatnya dan perlahan menatap bingkai berukuran besar tergantung di dinding dengan foto tua di dalamnya; foto Tuan Cho yang sedang tersenyum… bersama ayahnya. Keduanya hanya memakai pakaian santai dan tertawa… terlihat sangat bahagia. Joon-a merasa ada yang menyayat hatinya melihat senyum ayahnya yang sangat senang. Dia ingat, gambar itu diambil beberapa minggu sebelum ayahnya meninggal karena serangan jantung.

Mengapa foto itu ada di sini?

Joon-a berjalan mendekati gambar itu, menatap foto ayahnya dengan saksama, merasakan lubang di dalam hatinya kembali terbuka. Mereka bilang kalau tersenyum, Joon-a sangat mirip dengan ayahnya dan dia sangat bersyukur akan hal itu. Dia tidak terlalu suka disamakan dengan ibunya; ibunya memang luar biasa cantik tapi caranya tersenyum seperti tokoh- tokoh antagonis di drama. Tangannya perlahan terangkat, mengusap wajah ayahnya dengan pelan.

“Joon-a—yah, ketika sudah besar, kau ingin jadi apa?”

“Aku? Aku ingin jadi istri Kyuhyun oppa!”

“Aigoo… cita- cita macam apa itu?”

“Aku serius, Kyuhyun oppa sudah berjanji akan melindungiku—bagaimana dia bisa melindungiku kalau tidak menikahiku?”

“Hmmm… bagaimana… kalau jadi dokter? Atau perawat? Atau pengacara?”

“Aku ingin jadi presiden?”

“Apa?”

“Kalau jadi presiden, fotoku nanti ada di tiap kelas di sekolah—“

“Hahahahahaha… kau memang hobi sekali membuat orang jatuh hati padamu!”

Joon-a merasakan dua bulir air mata membasahi pipinya. Gadis itu hanya bisa menghela nafas. Sakit—ternyata rasanya masih sakit setiap mengingat ayahnya. Penderitaannya yang dialami selama ini tidak sebanding dengan luka dan dendam karena dia harus kehilangan ayahnya, sosok yang paling dia sayangi dan kagumi.

Ayahnya yang harus meninggal karena perasaan sakit dikhianati oleh sahabatnya sendiri.

Joon-a menatap wajah Tuan Cho waktu masih muda, menyipitkan matanya. Tuan Cho terlihat begitu tulus, terlihat begitu tenang, dan ayah Joon-a begitu mempercayainya. Bagaimana bisa Tuan Cho berbuat seperti itu? Bagaimana bisa dia mengkhianati kesepakatan mereka berdua dan membuat ayahnya depresi hingga meninggal? Tuan Cho yang begitu hangat padanya, pastilah itu semua hanya pura- pura kan?

Joon-a mengusap air matanya, terakhir kali dia menangis adalah beberapa bulan yang lalu ketika ibunya menamparnya karena sempat menolak menikahi Cho Kyuhyun.

“Jangan menangis,” gumam Joon-a, mengusap matanya. “Jangan menangis, kecantikanmu berkurang dan kau akan terlihat seperti orang bodoh. Jangan menangis, Lee Joon-a.” bentaknya pada dirinya sendiri tapi nyatanya air matanya tetap bercucuran.

Dia sangat merindukan ayahnya.

Tanpa disadarinya, Cho Kyuhyun mengawasinya dari ujung koridor, berdiri membeku seperti patung. Lee Joon-a bisa saja jadi menyeramkan seperti sekarang ini tapi hanya Cho Kyuhyun-lah yang tahu betapa hancurnya gadis itu karena ditinggalkan ayahnya, dan mungkin itulah yang membuatnya dendam, menjadi seperti manusia tanpa arah, menyalahkan semua orang dan menjadi pendendam. Ibu Joon-a bukanlah sosok ibu yang bisa dijadikan panutan; wanita itu memang membesarkan Joon-a tapi di saat yang bersamaan memberikan doktrin- doktrin yang membuat Joon-a akhirnya setuju bahwa mereka harus balas dendam dan merebut hak mereka dari keluarga Cho, dan membuat pernikahan ini terjadi.

“Lee Joon-a, ayolah makan…”

“Shireo (tidak mau)! Aku tidak mau melihatmu lagi, aku membencimu!!!”

“Joon-a—yah, kau bisa sakit—“

“Aku tidak mau! Aku membencimu, kau penipu! Kau bilang aku tidak akan pernah menangis lagi—waktu ayah masuk rumah sakit kau bilang ayah akan baik-baik saja! Kau bilang kau akan menjaga aku dan ayah! Kau bilang kau akan berusaha agar aku tinggal denganmu dan tidak ikut Eomma ke Amerika! Kau penipu! Kau tidak suka menepati janji! Ayah bilang laki- laki yang tidak bisa menepati janji adalah penjahat! Kau penjahat! Aku membencimu!”

Kyuhyun menarik nafas panjang. Yah, dia juga sesungguhnya turut serta dengan melukai hati Joon-a dan membuatnya menjadi seperti ini. Sekarang gadis itu berbalik menyerangnya dan membuatnya naik pitam setiap hari.

Apakah… dia memang benar- benar pantas menerimanya?

Cho Kyuhyun berusaha menahan dorongan keinginannya untuk menghampiri Joon-a dan memeluknya, memberinya kehangatan dan meminta maaf atas ketidaksanggupannya menepati janjinya dan membuat istrinya menjadi seperti ini. Tapi dia mengerti semua itu hanyalah omong kosong belaka untuk Joon-a, hatinya terlanjur dipenuhi dendam dan keinginannya untuk menghancurkan Kyuhyun telah begitu dalam. Sekarang Lee Joon-a bukanlah gadis kecil yang begitu mengagumi Kyuhyun dan mengikuti semua yang dia katakan.

Sekarang mereka berdua adalah sepasang suami istri yang berusaha untuk saling melukai satu sama lain.


“Yah, Lee Joon-a, kau gila ya?”

“Haruskah kau membentakku setiap menelepon? Apa lagi kali ini?”

“Kenapa kau menarik uang sebanyak itu dari rekeningku? Kau apakan uang itu?” desis Kyuhyun sambil berjalan menyusuri koridor menuju ke ruangan ayahnya, sungguh butuh usaha besar baginya menahan keinginan untuk tidak meneriaki istrinya. Beberapa menit yang lalu asistennya melaporkan bahwa istrinya baru saja mengambil uang dengan jumlah yang sangat banyak dari rekeningnya. Cho Kyuhyun memang memberitahukan nomor rekeningnya untuk digunakan istrinya dengan terpaksa. Kalau tidak, ibunya akan datang mengomelinya dan dia sedang tidak ingin menambah masalah dalam hidupnya saat ini.

“Yah, tentu saja bersenang- senang. Aku kan tidak punya kegiatan, jadi bersenang- senanglah yang bisa kulakukan.” Ujar Joon-a santai, jelas- jelas ingin memancing kemarahan suaminya.

“Bersenang- senang apa hingga harus mengambil puluhan juta won? Kau beli perhiasan atau tas lagi??”

“Perhiasan yang Eommo-nim berikan padaku saja belum kupakai, untuk apa aku beli yang lain?” kata Joon-a lagi dengan suara manja.

“Yah, sebaiknya kau menyiapkan alasan yang bagus untukku saat pulang nanti. Kalau tidak akan kubuat rekeningku kosong dan kau sekarang belanja pakai daun pisang, mengerti!” bentak Kyuhyun, menutup ponselnya dengan kasar—menahan keinginan besar untuk melemparnya. Akhir- akhir ini ada banyak barang yang menjadi korbannya karena sebagaimanapun dia emosi pada istrinya, dia tidak bisa mengangkatnya dan melemparnya; kendatipun tawaran itu sangat menggiurkan. Lagipula, bersenang- senang jenis apa yang tepatnya dilakukan seorang Lee Joon-a? Cho Kyuhyun tidak pernah melihat perubahan apapun dari diri Lee Joon-a. Dia memang mendapat banyak hadiah perhiasan dari orang tua Kyuhyun, dan dari beberapa toko serta butik di mana dia menjadi pelanggan setia mereka, tapi Kyuhyun jarang melihat gadis itu menggunakan perhiasan.

Bagaimana kalau dia mengambil uang Kyuhyun dan memindahkannya di rekening pribadinya? Lebih buruk lagi, bagaimana kalau dia ternyata menggunakan uang itu untuk menghidupi pria lain?

“Suho—ssi.”

“Ya, Tuan Muda?”

“Periksa aliran dana dari rekeningku dan berikan laporannya malam ini.”

Asistennya menunduk sebelum pergi meninggalkannya. Kyuhyun menarik nafas dalam- dalam, kalau begini caranya, dia bisa mati karena serangan jantung sebelum dia sempat menceraikan gadis itu. Lee Joon-a benar- benar tahu caranya mempermainkannya dan tiba- tiba dia menyesali betapa beruntungnya nasib laki- laki di luar sana yang sempat ditolak Joon-a. Mereka benar- benar telah diselamatkan dari penderitaan batin.

Tuan Cho tengah menandatangani beberapa dokumen ketika Kyuhyun masuk.

“Oh, kau datang.” Gumam Tuan Cho, keriput wajahnya terlihat semakin jelas. Ayahnya sepertinya tengah memiliki masalah.

“Aku sudah menyelesaikan proposalnya, besok akan dipresentasikan di depan dewan direksi.” Lapor Kyuhyun, menyerahkan dokumen berwarna hitam di atas meja ayahnya, menambah tumpukan berkas yang harus dipelajari ayahnya. Kyuhyun memang merasa dia siap menggantikan posisi ayahnya tapi sepertinya pekerjaan ini benar- benar menyita waktu; pria itu bisa menghitung dengan jari frekuensi pertemuannya dengan ayahnya selain di kantor dalam sebulan.

“Baguslah, jangan sampai ada yang terlewat.” Kata ayahnya, menutup mata dan menghela nafas panjang.

“Apa… semuanya baik- baik saja?” tanya Kyuhyun hati- hati.

“Kau tidak akan pernah tenang selama kau di posisi ini.” Komentar ayahnya dingin. “Aku pun sudah tua, sudah tidak mampu lagi kalau harus berfikir seberat ini—karena itu cepat kau ganti posisiku.” Omel Tuan Cho. Kyuhyun tertawa. “Ternyata dugaanku benar, aku memang dijadikan kambing hitam.”

Tuan Cho mendengus. “SS Company hampir saja mendapatkan saham LJA Corp. Sepertinya dia menggunakan nama perusahaan lain dan berencana memindahkannya lagi setelah mereka mendapatkannya.”

“Apa?” LJA Corp. adalah perusahaan yang diincar Joon-a, perusahaan yang dianggapnya didirikan oleh jerih payah mendiang ayahnya. Perusahaan itu sekarang menjadi anak perusahaan raksasa Cho Corp dan merusakan salah satu aset terpenting karena menghasilkan banyak sekali keuntungan. “Bagaimana mereka bisa?”

“Sepertinya ada yang tidak jujur di perusahaan ini, mereka membocorkan informasi perusahaan itu pada SS Company, kode- kode saham yang tidak seharusnya mereka tahu. Untung saja feeling-ku kuat, kalau tidak perusahaan itu dicuri orang di depan mata kita.”

Kyuhyun menyipitkan mata. Bukan rahasia lagi kalau SS Company telah lama berusaha menjatuhkan perusahaan keluarga Kyuhyun, beberapa kecurangan di perusahaan ini terbukti diakibatkan dukungan dari mereka dan mereka rupanya tidak akan berhenti sampai Cho Corp. jatuh. Dan itulah perjuangan yang harus Kyuhyun lanjutkan nantinya.

“Aku tidak akan pernah membiarkan perusahaan itu diambil orang.” Ujar Tuan Cho dingin.

“Ayah,” Kyuhyun mempertimbangkan apakah ini waktu yang tepat untuk menanyakannya. “Kenapa kau tidak bisa melepaskan LJA? Itu memang aset berharga kita, tapi toh kita tidak akan rugi kalau mereka tidak lagi di bawah kita—“

“Itu sama saja dengan aku bunuh diri!” ujar Tuan Cho. “Aku bisa melepaskan yang lainnya tapi tidak dengan yang itu!”

“Tapi kenapa—“

“Kau akan tahu nanti. Belum saatnya aku memberitahu sekarang.” Tuan Cho menutup dokumen yang baru saja dia tanda tangani dengan sedikit dramatis, menandakan bahwa pembicaraan tentang bisnis itu telah usai. “Sekarang sudah waktunya makan siang—“

Kyuhyun baru saja ingin menawarkan makan siang bersama ketika pintu ruangan diketuk menampakkan sosok seseorang yang saat ini tidak ingin Kyuhyun lihat, tapi di lain hal sangat ingin dia temui.

“Selamat siang, Ayah!” Joon-a tersenyum riang, berjalan menghampiri mereka, sedikit terkejut melihat Cho Kyuhyun yang sekarang menatapnya dengan tatapan membunuh. Sekarang Kyuhyun tidak bisa lagi membedakan ekspresi yang sesungguhnya atau ekspresi yang dibuat- buat oleh istrinya. Lee Joon-a belajar terlalu banyak. “Oppa, kau di sini?”

“Oh, Joon-a—yah!” Tuan Cho yang semula terlihat frustasi kini seperti biasanya menjadi sosok yang hangat ketika melihat istri dari putranya. “Kenapa kau datang?” tanyanya girang.

“Ini sudah waktunya makan siang, aku ingin mengajakmu makan sup iga babi.” Kata Joon-a lagi. Kyuhyun mau tidak mau memperhatikan penampilan istrinya dari atas sampai bawah. Tidak ada yang istimewa dari gaya berpakaiannya saat ini; dia hanya menggunakan kaos tipis dilapisi cardigan hitam dan celana ketat yang menampilkan pahanya yang jenjang. Tidak ada perhiasan yang menempel di tubuhnya. Kalau begitu mengapa dia mengambil uang yang begitu banyak dari rekeningnya? Gadis ini benar- benar memainkan peran menantu dengan sempurna; kalau Kyuhyun tidak tahu kedok aslinya dia pasti mengira Joon-a benar- benar menyayangi Tuan Cho. Siapa yang bisa menyangkan di balik perhatiannya itu dia menyimpan dendam yang mendalam? “Oppa, kau mau ikut?”

“Tidak. Aku ada janji makan siang.” Kyuhyun berbohong.

“Dengan siapa?” tanya Joon-a ingin tahu.

Kyuhyun menyeringai. “Dengan teman lamaku.”

“Siapa?” kali ini Joon-a benar- benar terlihat ingin tahu, ekspresi manisnya sudah terbang dari jendela besar ruang kerja itu.

“Teman lamaku dari luar negeri.”

Joon-a terdiam, menatap suaminya dengan dingin, kilat tidak suka jelas terlihat di matanya. Dia pasti mengira Kyuhyun akan makan dengan Hanna. Kyuhyun sendiri sebenarnya tidak tahu akan makan di mana; mungkin dia harus menikmati mi instan lagi siang ini di kantornya. Tapi gadis itu sekali lagi dengan lincah mengontrol emosinya. “Baiklah, asalkan jangan dengan wanita. Aku tidak sesabar itu, Oppa.” Gadis itu tertawa lembut, terlihat seperti istri paling manis sepanjang masa.

“Aigoo—Cho Kyuhyun, kau pasti sudah menyelamatkan dunia di kehidupan sebelumnya sampai kau bisa menikahi peri secantik ini.” Komentar Tuan Cho, sebelum kemudian menggandeng anak mantunya, keduanya berjalan meninggalkan kantor sambil berbincang- bincang dengan hangat, meninggalkan Cho Kyuhyun yang hanya bisa memperhatikan punggung mereka dengan tatapan yang sarat kekesalan.

“Peri? Goblin lebih tepatnya,” gumam Kyuhyun dingin. “Sepertinya yang kuselamatkan adalah dunia kegelapan.”


Cho Kyuhyun turun dari mobilnya dengan gontai, menarik dasinya hingga terlepas setengah membiarkan beberapa kancing atas kemejanya terbuka. Berita bahwa dia akan menggantikan posisi ayahnya sepertinya mulai menjadi bahan pembicaraan serius dan tentu saja sebagian besar tidak menyambut dengan tangan terbuka. Ada banyak yang menginginkan posisi ini meskipun kenyataannya posisi ini tetap akan jatuh pada penerus keluarga Cho yakni Cho Kyuhyun, tapi mereka pastilah menganggap mereka lebih pantas mendapatkannya daripada Cho Kyuhyun yang masih muda dan menurut mereka belum berpengalaman. Maka Kyuhyun dituntut ayahnya untuk bekerja ekstra demi mendapatkan kepercayaan mereka.

Suasana apartemen gelap ketika Kyuhyun sampai, sepertinya ‘mesin-penghisap-uang’ Kyuhyun sudah tidur tanpa menunggunya, batin Kyuhyun. Tentu saja, atas dasar apa dia mengharapkan seorang istri yang akan menunggunya dengan hangat di ruang makan? Dia pasti salah makan kalau sampai menginginkan itu terjadi.

Pria itu membuka pintu kamarnya dengan pelan, suasana kamarnya juga gelap—penerangan minim hanyalah dari lampu di sisi tempat tidur dan lampu jalanan serta bangunan lain di luar jendela raksasa kamarnya. Namun yang membuat Kyuhyun terkejut adalah istrinya tidak berada di ranjang dan tertidur melainkan sedang berdiri di depan kaca, memandangi pemandangan malam Seoul.

“Kau belum tidur?” tanya Kyuhyun galak, berjalan menghampiri lemari khusus pakaiannya, melepaskan jasnya dan menggantungnya di gantungan baju, tak memperhatikan istrinya dengan saksama. Yang ditanya tidak menjawab. Kyuhyun meliriknya dari balik pintu lemari.

Lee Joon-a masih terpukau dengan pemandangan kota Seoul; gadis itu memakai gaun tidur putih tipis yang mencapai setengah lutut dengan strap tipis sehingga punggung putihnya terlihat berkilau dengan cahaya kota Seoul. Cho Kyuhyun menelan ludahnya dan memalingkan wajah. Entah sengaja atau tidak tapi Lee Joon-a benar- benar tahu cara menyiksa Kyuhyun setiap malam. Gadis itu kini memalingkan perhatiannya ke suaminya, berjalan menghampirinya.

“Aku tidur seharian tadi.” Gumam Joon-a, tanpa disuruh menarik dasi Kyuhyun yang berantakan. Gerakannya itu memberikan kesempatan bagi Kyuhyun untuk melihat sedikit pemandangan dari dada Joon-a, dan pria itu buru- buru berdehem. Mungkin itu adalah rutinitas aneh mereka; mereka akan saling menunjukkan cakar dan menggaruk satu sama lain seharian tapi di malam hari Joon-a seperti kucing betina yang tak tahu cara melukai majikannya. Setelah dasi Kyuhyun terlepas gadis itu membantu Kyuhyun melepaskan kancing kemejanya lalu membukanya dan membawanya ke keranjang pakaian kotor.

“Aku sudah menyiapkan air panas.” Ujar Joon-a dingin. “Mandilah,”

Kyuhyun masih di tempatnya, mengagumi lekuk tubuh Joon-a yang sempurna. Lee Joon-a selalu menjadi pujaan pria dari dulu; bahkan saat SD gadis itu selalu diganggu banyak teman laki- lakinya, dan saat hari Valentine dia menerima banyak sekali cokelat. Tapi seperti biasa, dia selalu bersikap dingin dan enggan pada mereka; satu- satunya pria yang bisa dekat dengannya adalah Cho Kyuhyun yang sudah dia anggap seperti kakaknya sendiri. Mungkin karena Kyuhyun memperlakukannya dengan berbeda; mungkin karena dia merasa Kyuhyun selalu melindunginya.

Joon-a menatap suaminya dengan heran. “Apa yang kau lakukan?”

“Ha? Oh—“ Kyuhyun menggaruk kepalanya. “Baiklah, aku… mandi dulu.”

Pria itu segera pergi ke kamar mandi, sementara Joona merapikan isi lemari pakaian Kyuhyun.

Setengah jam kemudian Kyuhyun keluar dan mendapat istrinya sekarang menghangatkan dirinya di bawah selimut sambil bermain dengan ponselnya. Entah mengapa pemandangan yang satu ini tidak mengganggu Cho Kyuhyun—fakta bahwa dia akan pulang dan tidur bersama dengan Joon-a di ranjang yang sama. Bahkan ketika rencana Joon-a terbongkar, ketika mereka selalu bertengkar, pada akhirnya mereka akan tetap tidur di ranjang yang sama.

Mungkin sesuatu dalam diri Kyuhyun masih ingin percaya bahwa Lee Joon-a yang saat ini tidur dengannya adalah Lee Joon-a yang dulu, Joon-a yang manis dan penurut.

“Kenapa kau mandi lama sekali? Kau luluran ya?” tanya Joon-a acuh tak acuh sambil memainkan ponselnya.

“Mengeluarkan semua pikiran jahat dari otakku.” Jawab Kyuhyun dingin, naik ke tempat tidur dan juga ikut berbaring dalam selimut. Aroma sabun mandi vanilla Joon-a mengusik hidung Kyuhyun—gadis itu sama seperti boneka porselen yang mahal; hanya dapat dikagumi tapi tak dapat disentuh. Bukan berarti Kyuhyun tidak pernah menyentuhnya; mereka pernah melakukannya sekali di malam pertama pernikahan mereka. Lee Joon-a toh memberikan tubuhnya pada Cho Kyuhyun saat itu; sepertinya memang hanya Kyuhyun pria yang dia ijinkan berada dekat dengannya.

Joon-a tertawa. “Kalau begitu seharusnya aku mandi lebih lama darimu.”

“Bukankah seharusnya begitu?” sindir Kyuhyun.

“Tidak.” Gadis itu menatap suaminya dengan tajam. “Aku lebih suka menyimpan pikiran- pikiran jahatku di dalam. Siapa tahu kapan- kapan aku dapat menggunakannya?”

Kyuhyun mendengus. Joon-a selalu tahu cara membalas perkataannya; ke mana gadis polos yang selalu meringkuk sedih kalau Kyuhyun marah sedikit saja? Pria itu memutuskan untuk tidur sebelum muncul pertengkaran lain. Hening meliputi mereka selama beberapa menit dan Kyuhyun hanya dapat mendengar suara- suara aneh dengan volume kecil dari ponsel Joon-a; gadis itu sepertinya sedang bermain game. Tiba- tiba dia ingin menanyakan kembali tentang sejumlah uang yang menghilang entah ke mana tadi siang tapi dia tahu gadis itu kemudian akan membalasnya lagi dan membuat malam yang seharusnya tenang itu menjadi suram dan penuh pertengkaran. Itulah yang membuat seorang Joon-a sangat berbahaya; gadis itu bisa mengontrol situasi semudah membalikkan telapak tangannya. Kyuhyun ingin sekali memiliki kekuatan itu—tapi sekarang dia tahu cara menindas istrinya; dengan uang dan kekuasaan. Suara denting ponsel Kyuhyun menarik perhatiannya; pesan dari Suho.

Maaf mengganggu, Tuan Muda. Saya ingin melaporkan hasil penyelidikan mengenai aliran dana dari rekening pribadi Anda. Nyonya Muda Cho mengirimkan dana dari rekening Anda sejumlah 50 juta won ke rekening pribadi seorang wanita bernama Song Jandi, yang merupakan ketua yayasan penderita penyakit dan kelainan jantung. Siang ini dilaksanakan operasi transplantasi jantung terhadap seorang wanita Han Jae-rim di Seoul Hospital, dan dari data rekening rumah sakit tersebut didapatkan kiriman dana senilai 50 juta won dari rekening Song Jandi. Data diri saudara Song Jandi dan Han Jae-rim akan saya letakkan di meja Anda besok pagi.

Kyuhyun hanya menatap layar ponselnya selama beberapa detik kemudian menghela nafas lalu membalas.

Kerja yang bagus. Terima kasih.

Kau tidak perlu melanjutkannya lagi.

Pria itu kemudian meletakkan ponselnya di atas meja lalu mematikan lampu kecilnya, menenggelamkan dirinya dalam selimut berusaha menenangkan jantungnya yang sekarang sedang berdebar kencang. Cho Kyuhyun masih merasa apa yang diperbuat Joon-a tidak benar; gadis itu seharusnya menanyakan padanya dulu sebelum mengirimkan uang dengan jumlah sebesar itu ke rekening orang lain… meskipun dia melakukannya dengan tujuan yang benar.

Sepertinya Lee Joon-a benar- benar masih terluka dengan kepergian ayahnya… gadis itu masih terluka dengan tragedi yang terjadi pada dirinya, dan ibu kandungnya tidak benar- benar membantu, malah mengubah gadis itu menjadi seorang gadis pendendam. Nyonya Lee mengubah putri kandungnya sendiri menjadi alat baginya untuk membalaskan dendam dan menghasilkan uang untuknya.

“Aku harap itu bukan pesan dari si sutradara film pendek itu.” Gumam Joon-a dingin, masih memainkan game di ponselnya.

“Bagaimana kalau iya?”

“Bukan urusanku juga sih.” Kata Joon-a lagi, tapi Kyuhyun bisa merasakan nada cuek yang terlalu dibuat- buat. “Setelah dipikir- pikir kau boleh selingkuh dengan siapapun yang kau mau, dengan si miskin itu juga. Yang penting kau harus terus memberikanku uang untuk dihabiskan. Kita jadi impas.”

Kyuhyun mendengus geli di balik selimut. Lee Joon-a tidak akan pernah mengakui kekalahannya. Tapi dia kemudian teringat percakapan tadi siang dengan ayahnya…

“Lee Joon-a.”

“Apa?”

“Bagaimana kalau… kalau aku tidak dapat memberikan saham perusahaan itu padamu?”

Kali ini suara permainan itu terhenti, menandakan kata- kata Kyuhyun berhasil menarik perhatiannya sepenuhnya. Dan Kyuhyun sempat menyesal telah mengatakannya. Pria itu kemudian berbalik dan menatap wajah rupawan istrinya yang sekarang ini menatapnya dengan tatapan datar dan sulit ditebak. Mereka bertatapan selama beberapa detik.

“Tapi kau sudah berjanji.” kata Joon-a datar, berusaha terlihat tenang, tapi kilat kecewa terlihat di matanya. Oh, ayolah Cho Kyuhyun, mengapa sekarang pria itu menjadi tidak tega dan ingin segera mengubah kata- katanya? Seharusnya dia merasa menang karena berhasil membuat Joon-a kecewa. Tapi sepertinya dia masih terbawa memori akan gadis lembut dan manja bernama Lee Joon-a.

Lee Joon-a-nya yang dulu, Lee Joon-a yang ingin dia lindungi dan ingin dia jaga.

“Tidak apa- apa.” Kata gadis itu dingin, wajahnya kembali terlihat tenang, gadis itu kemudian meneruskan permainan di ponselnya. “Lagipula, ini toh bukan pertama kalinya kau mengingkari janjimu.”

Kyuhyun merasakan sebuah jarum menggaris hatinya mendengar kata- kata terakhir Joon-a yang dikatakannya dengan dingin dan sedikit menghina. Gadis itu memegang ponselnya dengan tangan sedikit bergetar, tapi kemudian berhenti lagi. Yah, Kyuhyun melakukannya lagi. Pria itu kembali berjanji dan gadis itu kembali percaya padanya dan dia kembali lagi mengingkarinya. Tiba- tiba Kyuhyun merasa seperti seorang pecundang bodoh, dan dia tidak seharusnya merasa seperti itu. Joon-a dan ibunya meminta sesuatu yang sebenarnya bukan hak mereka.

“Tapi, bukan berarti aku akan menyerah.” Kata Joon-a tanpa menatapnya.

Kyuhyun mengerutkan keningnya.

“Kalau kau tidak bisa memberikannya padaku,” kedua mata cokelat gelap Joon-a menatap Kyuhyun penuh dendam. “aku akan merebutnya darimu.”

Advertisements

381 thoughts on “The Flower’s Trilogy: Sunflower – Part 1”

  1. jadi mereka emg udah ke al dari kecil yahh karena bapaknya bersahabat hmmmmm tp kenapaaaaaa dendam begitu huwaaa kasian sih sebenernya tp ngeliat gimana silap kyuhyun ke joona kok beneran kaya benci bgt hahaha lanjiuuuttt

  2. Ya ampun mereka suami istri yg aneh,.hidup bareng tp saling menyakiti..
    Kasian Joon-a jd alat balas dendam ibunya….

  3. Omg, sosok joon-a yang tidak mudah ditindas dan balik mengintimidasi, karakter cewek yang kuat, terlepas ia memiliki dendam terhadap keluarga cho, tapi tetap saja ia seorang wanita

  4. jd ceritanya mereka pasangan suami istri yg saling meyakitin peresaan satu sm lain nih :-/ joon-a hebat bisa berakting di depan ayahnya kyu wkwkw
    lucuh deh ni pasangan :v saling dendam tp ada perasaan

  5. Hubungan yang unik, di satu sisi saling membenci, tp disisi lain saling menyayangi. Aku suka dg ff km kak. Apalagi karakter joon-a. Aku suka suka sekali

  6. Eomma joon a medoktrin spya dia brbah jd gadis yg kuat tdak sprti dlu yg suka menagis, klo jek gtu gk bsa blas dendam wkwkwk
    Apa kyu cinta sma joon a?

  7. Baca part ini, kok rasanya seakan nggak suka ya dg sikap joona yg seperti itu, pendendam, keras kepala (?). Kyuhyun keliahatan jdi terintimidasi disini, ahh jangann. Maunya kyuhyun yg bikin melting mulu tpi kok malah seolah kalah sma joona.

  8. waduhh dendam sebesar apa yaa yang bisa merubah joon-a yang manis jadi semengerikan ini??? eeh tapi kyuhyun masih sayang ga sih sebenernya sama joon-a?? next part 2 deh hehehe

  9. Udah saling kenal dari kecil
    Sama sama angkuh
    Sama sama menjadi korban dari orang tua…
    Aku suka karakter joon A 😊😊
    Keren deh ffnya… 😍😍😍😍

  10. huuaaaa kak vanilla!!
    aku baru baca dan greget bacanya…dah lama gak main kesini,,penasaran ..q baca next partnya lagi ya kak!!,,

    wahh lee joon-a,,,

  11. Pengkhianatan apa yang dilakukan oleh Tn. Cho pada Tn. Lee sehingga Joon-a begitu dendam dan berniat merebut kembali perusahaan ayahnya.
    Pernikahan mereka selalu diselimuti pertengkaran dan permusuhan tapi satu hal yang membuatku terkejut yaitu mereka telah melakukan ” itu ” menurutku itu agak aneh mengingat mereka yang tak pernah akur bahkan mengalahkan Tom & Jerry.

  12. Ughh 😍 Jatuh cinta sekali aku dgn alur ceritanya 😍 entahlah pas baca rasanya kaya aku yang jadi Lee Joon-a nya . Si Lee Joon-a nya pendamping yang cocok unruk si Kyu soalnya sifatnya sama 😍 Jatuh Cinta sekali sama cerita yang satu ini 😁

  13. Hai aku reader baru salam kenal yah author, mau nyari ff kamu di blog ini rada susah yah aku pikir ada yg udh end gitu jadi aku scroll kebawh trus nantinya pas buka beranda nemu ff ini lgsg baca aja tp kok keknya sedih bgt baru paty pertama yah

  14. wow.. wow..
    di sela waktu menunggu next chapternya TSOBF baca2 fanfic yg lain dulu..
    aku langsung jatuh cinta dgn prolog nya,,, lanjutin baca chapter2 selanjutnya. 🙂
    semangat terus buat terus nulis,, 🙂

  15. Msih blm konek sma ceritanya, knp joona jdi pemdendam dn lagu kyu sma joon nikah tidur breng pdhal stus sma lain udh tau jahatnya dimana, dn knp tdi bilang ibu joon dn lee joona g pny hak dr saham itu apa mungkin ayah joona dlu jg brbuat salah atau curang ke Tn cho. Huhh penasaran unnie! Ijin baca ffnya kak. Thank you

  16. Ampun deh mereka suka banget bertengkar. Suka sama karakter joon a, sebenarnya apa yg terjadi antara aya kyu dan ayanya joon a

  17. Annyeong eonni. Ijin baca ff karya eonni ini.
    Ff ini jadi buat aku penasaran, apalagi alasan appa kyuhyun dibalik semuanya.

  18. Joon sm kyuhyun udh kenal dr kecil to gra2 joon punya dendam smpe segitunya .. Kyuhyun sih suka ingkar janji hmm apa joon cemburu sm mantan kyuhyun tp tertutup sm rasa dendamnyaa

  19. Tuh kan bener, pasti uangnya dipake untuk hal2 yg baik. Sebenernya joona masih baik, cuma di doktrin rasa dendam oleh ibunya 😢

  20. Semua tentang balas dendam. Dan kyuhyun tahu itu dan dia tahu dalang tang buat Jonn-a seperti ini. Tapi mesti lihat kelanjurannya benar atau tidak Tuan Cho mengkhianati temannya sendiri atau mungkin ada sesuatu di balik ini semua

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s