Novel, Romance, Short Story, Uncategorized

The Story of Bear Family: Part 30

Title: The Story of Bear Family: Part 30

Charact: Cho Kyuhyun

Kris Wu

Han Sae-jin

Close to FIN 🙂

————

Shin Saeryung menatap dingin pria jangkung di depannya yang bersandar di dinding, berbalik menatapnya dengan hampa.

Saeryung tidak bisa berpura- pura tidak menyadari senyum bahagia pria itu yang kontan menghilang ketika melihat kehadiran Saeryung, seolah dia hantu atau benda menggelikan yang datang mengganggunya. Karena gadis itu pernah menjadi alasan Cho Kyuhyun tersenyum secerah itu. Saeryung pernah menjadi alasan Cho Kyuhyun tergila- gila dan bersedia melakukan apapun untuk membuatnya bahagia. Rasanya masih kemarin pria itu rela menghabiskan waktu istirahatnya yang sangat sedikit demi membantu Saeryung melatih suaranya; ketika dia selalu menemani Saeryung latihan menari di depan cermin raksasa itu—atau ketika dia selalu membuat tanda ‘hati’ di depan layar saat tampil yang ditujukannya untuk Saeryung.

Dan rasanya sangat menyakitkan ketika menyadari bahwa dia terlambat untuk menghargai semua itu.

Awalnya dia selalu meyakinkan dirinya Cho Kyuhyun yang sekarang ini bukanlah Kyuhyun yang dulu bersamanya… tapi sekarang semua terasa lebih nyata bahwa Cho Kyuhyun tidak berubah; dia hanya telah mencintai orang lain. Dan itu sangat menakutkan untuknya.

“Cukup mengejutkan bahwa kau masih mengingat nomor teleponku.”

Kyuhyun tidak menjawab pernyataan Saeryung, kedua matanya kini sibuk memperhatikan tanaman- tanaman yang hampir layu dalam pot- pot besar di belakang Saeryung.

Sejujurnya dia marah; sangat marah—sejenak berharap bahwa memukul seorang gadis bukanlah hal yang hina, tapi kemudian Kyuhyun teringat pada Han Sae-jin dan semua pikiran mengerikan dalam kepalanya teredam. Apapun itu; dia tidak ingin melakukan hal- hal yang tidak baik dan mengecewakan Sae-jin. Tapi bila Saeryung kembali lagi berbuat onar, maka Kyuhyun tidak bisa menjamin dia akan menjaga prinsip itu dengan baik.

“Kenapa kau memanggilku?” tanya Saeryung dingin. Wajah gadis itu terlihat lelah dan pucat; meskipun mencoba untuk terlihat kuat. “Bukankah tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan?”

“Kenapa kau melakukan itu?” tanya Kyuhyun pelan tapi menusuk. Jauh di lubuk hatinya dia berharap gadis itu akan bingung, kemudian marah dan tidak terima dirinya dituduh seperti itu, karena dia masih berharap Shin Saeryung di depannya masih seperti Saeryung yang dulu, yang tidak suka melukai orang lain. Tapi ekspresi yang ditunjukkan Saeryung sekarang ini menegaskan hal sebaliknya; bahwa dialah yang selama ini melukai Sae-jin dengan segala terornya.

Gadis itu terdiam sejenak, kemudian mendengus sinis. “Rupanya ayah istrimu yang pahlawan kesiangan itu sudah mengatakan semuanya padamu?”

Ingin rasanya Kyuhyun melakukan apapun yang dapat melukai Shin Saeryung; mengepalkan kedua tangannya sekuat tenaga agar tidak kehilangan kendali. Pria itu menunduk sejenak agar dia tidak semakin emosi melihat wajah Shin Saeryung.

“Karena aku membencinya.”

Kyuhyun menengadah begitu mendengar jawaban Saeryung, sejenak mengira pendengarannya keliru. Dia tahu gadis di depannya ini akan melakukan segala hal untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, tapi Kyuhyun tak pernah mengira Saeryung akan mengakui segalanya segampang ini.

“Aku membenci Han Sae-jin” Saeryung menatap ke arah lain di samping Kyuhyun dengan tajam dan penuh dendam, seolah dinding itu melakukan kesalahan yang sangat besar padanya. Wajah rupawan Saeryung kini terlihat sedikit menakutkan. “Apa yang seharusnya menjadi milikku, sekarang menjadi miliknya.” Saat mengatakannya kilat kesedihan terlihat jelas di matanya. Kyuhyun menutup matanya kembali, mencoba meredam emosinya yang bangkit lagi. Shin Saeryung tidak akan pernah tunduk oleh kekerasan; itu malah akan semakin membuatnya marah dan berbuat lebih kejam lagi.

“Berapa kali aku harus mengatakan padamu bahwa pemikiran itu tolol?” kata Kyuhyun tajam. Saeryung menatap pria itu dengan terkejut. “Apapun yang terjadi waktu itu adalah murni masalah kita, Han Sae-jin tidak ada hubungan apapun. Meskipun dia tidak datang di hidupku, aku juga tidak akan kembali padamu.”

Kalimat Kyuhyun barusan seperti tamparan keras untuk Saeryung, seolah pria itu kini telah membunuh harapan Saeryung secara total.

“Apa?”

“Hentikan, Saeryung. Yang kau rasakan ini bukan cinta, aku mengenalmu; kau tidak suka barangmu dimiliki orang lain. Sekalipun kau mencampakkannya, orang lain tidak boleh memilikinya. Tapi aku bukan barang, Shin Saeryung—“ Kyuhyun menggelengkan kepalanya, menatap gadis itu dengan iba. Saeryung benci tatapan itu. Lebih baik Cho Kyuhyun mengulitinya daripada memperlakukannya seperti pasien rumah sakit jiwa atau seorang anak gadis yang tengah membuat keributan karena kehilangan mainannya. Sekarang dia benar- benar merasa telah lepas kendali atas Kyuhyun, kehadirannya sama sekali tidak memberikan dampak apa- apa untuk emosi Cho Kyuhyun.

“Dan sekarang, aku sama sekali tidak ingin membahas apapun tentang masa lalu. Bagiku sekarang ini, hidupku adalah Han Sae-jin. Sae-jin menggantikan segala hal yang pernah aku inginkan selama hidupku, dan aku tidak akan tinggal diam jika sekali lagi kau melakukannya!”

“KARENA ITULAH AKU MELAKUKANNYA!” teriak Saeryung frustasi, air mata membasahi kedua pipinya. Keangkuhannya seolah luntur dengan perasaan terluka dan depresi. Bagaimana caranya untuk meyakinkan Cho Kyuhyun bahwa hanya dialah yang pantas bersama pria itu? “Apa? Barang?” gadis itu mendengus tajam dengan ekspresi tidak percaya; dua bulir air mata kembali jatuh membasahi pipinya, “Aku tidak percaya kau mengatakannya. Tidakkah kau tahu betapa menyesalnya aku hingga aku ingin mati saja ketika mengetahui alasan kalian menikah? Apakah kau tahu betapa banyak obat tidur dan obat anti depresi yang aku minum hingga semua itu hampir membunuhku? Apakah kau tahu betapa menyesalnya aku setiap aku mengingat hari di mana aku melepaskanmu? Apakah kau pernah berpikir betapa tersiksanya diriku setiap kali melihat kau memperhatikan gadis asing itu—“

“Apapun yang terjadi padamu bukan lagi urusanku, Shin Saeryung.” Ujar Kyuhyun dingin, menyela luapan emosi Saeryung dengan kalimat singkat tapi jelas. “Dan aku tidak suka caramu menyebut Sae-jin. Gadis asing itu sekarang adalah alasanku hidup, dan aku tidak akan pernah melepaskannya apapun yang terjadi. Aku mencintainya melebihi diriku sendiri.”

Saeryung terdiam. Tadi, dia seperti monster yang sedang meluapkan amarahnya, sekarang dia merasa seperti cangkang kosong ketika mendengar kalimat yang ditegaskan Kyuhyun barusan.

“Sesungguhnya aku begitu ingin melukaimu atas apa yang telah kau lakukan pada Sae-jin, tapi aku tidak ingin membuatnya kecewa dengan perbuatanku—“

Kalimat itu sangat mirip dengan yang dikatakan Tuan Yoon pada Saeryung dua hari yang lalu,

“Tapi sekali lagi kau merencanakan sesuatu yang buruk” Kyuhyun menggertakkan gigi, tatapan elangnya seperti menegaskan bahaya setiap kata yang dia ucapkan, “aku tidak akan lagi segan- segan melukaimu, Shin Saeryung.”

Ancaman Kyuhyun terdengar begitu sungguh- sungguh dan menakutkan hingga Saeryung rasanya tidak mampu lagi bernapas.

“Dan mulai sekarang jangan pernah menyapaku atau sekedar menganggapku ada di sekitarmu. Karena bagiku, kau sudah mati.”

Tanpa menanti respon dari Saeryung, Cho Kyuhyun berbalik kemudian berjalan pergi meninggalkan gadis itu, melewati koridor sempit dan panjang menuju ke arah tangga darurat. Sejujurnya, Kyuhyun tidak pernah mengatakan kalimat sekasar itu. Tapi hanya itulah cara terkejam yang bisa dia gunakan untuk membalas perbuatan Saeryung pada istrinya tanpa harus melukainya secara fisik. Tak dipungkiri sebersit perasaan bersalah dirasakan pria itu; dia tahu benar penderitaan Saeryung yang tidak pernah diperhatikan oeh kedua orangtuanya, dan juga dimusuhi rekan- rekannya karena Saeryung selalu menonjol dari yang lainnya. Tapi dia tidak punya cara lain untuk membuat gadis itu mengerti bahwa Kyuhyun sekarang bukan lagi tempatnya berlindung dari semua kekejaman orang lain padanya.

Cho Kyuhyun kemudian teringat akan sesuatu, kemudian berbalik, menatap Shin Saeryung yang masih diam mematung di tempatnya.

“Kau selalu mengatakan padaku kau bermimpi menjadi bintang yang paling terang di antara bintang redup lainnya. Saat itu, aku rela bila kau meninggalkanku untuk meraih mimpimu itu. Sekarang aku juga punya sebuah mimpi; dalam hidupku Han Sae-jin adalah bintang yang paling terang itu. Apapun usahamu, tidak akan pernah bisa merubah kembali waktu jadi hal yang paling tepat untuk kau lakukan adalah melupakannya, Shin Saeryung.”

Dalam hidupku Han Sae-jin adalah bintang yang paling terang itu.

Apapun usahamu, tidak akan pernah bisa merubah kembali waktu.

Bagiku, kau sudah mati.

Saeryung terdiam, menatap hampa dinding di depannya, sementara wajahnya bersimbah air mata. Dia bisa mendengar langkah kaki Cho Kyuhyun yang menjauh.

Sekarang semuanya terasa sangat nyata; pria itu sama sekali telah melupakannya.

*


“Makan malam?”

Sae-jin mengangguk pelan sambil berkonsentrasi melingkari spaghetti dengan garpunya. Ia dan Cho Kyuhyun saat itu tengah duduk di karpet tebal ruang keluarga sambil menikmati spaghetti pesanan Sae-jin dan beef lasagna untuk Cho Kyuhyun, sambil menonton DVD rekaman konser Super Junior di Shanghai yang dilewati oleh Sae-jin beberapa bulan lalu.

“Dia mengundangku?”

Sae-jin mengangguk. Kyuhyun diam memperhatikan istrinya yang berkonsentrasi pada makanannya; gadis itu terlihat sangat santai memberitahukan undangan ini padanya, seolah dia hanya mengabarkan sebuah acara rutin; seolah makan malam bersama Tuan Yoon adalah sebuah kegiatan yang lazim dia lakukan. Kyuhyun bersyukur Sae-jin menerima kehadiran Tuan Yoon dengan lebih baik daripada prediksinya; tapi sepertinya Sae-jin tidak menganggap fakta bahwa Tuan Yoon adalah ayahnya sebagai sebuah masalah yang mengganggunya.

Mungkin karena memang dalam lubuk hati Sae-jin, gadis itu memang menginginkan ayahnya…

“Tapi tidak apa- apa kalau kau sibuk.” kata Sae-jin lagi, “aku akan memberitahukannya.”

“Tidak. Aku akan datang.” Kyuhyun tidak ingin menjadi penghalang dari hubungan Sae-jin dan Tuan Yoon, meskipun dia sedang berusaha untuk melindungi gadis itu dari gangguan emosional apapun yang dapat mempengaruhi kandungannya. Lagipula, dia harus menunjukkan rasa ‘terima kasih’ atas informasi dari Tuan Yoon mengenai dalang masalah Sae-jin. Memikirkan hal itu kembali membuat Kyuhyun merasakan darahnya mendesir.

“Donghae Oppa keren sekali,” gumaman Sae-jin menarik perhatian Kyuhyun dari lamunannya. Kyuhyun menatap Donghae yang saat itu sedang melakukan moon walk kebanggaannya sambil menyanyikan lagu karangannya, yang tentu saja disambut oleh teriakan gagap gempita dari para penonton. Kyuhyun kemudian menoleh kea rah istrinya yang saat ini juga ‘tersihir’ dengan gerakan Donghae, sama seperti penggemar dalam tayangan rekaman itu. Apa- apaan ini? Bukankah dia adalah penggemar Kyuhyun? Bagaimana bisa dia bersikap seperti itu hanya satu gerakan menggelikan dari Lee Donghae?

“Cih, apanya yang keren? Dia terlihat seperti ubur- ubur menyelam,” komentar Kyuhyun tapi dengan suara yang cukup pelan agar tidak memancing konflik, menusuk lasagna-nya dengan sedikit kasar.

“Tidak semua orang bisa menari seperti itu, memangnya kau bisa?” balas Sae-jin.

Kyuhyun menatap Sae-jin dengan tatapan terhina. Sebenarnya dia istri siapa? “Yah, kenapa aku harus menggoyang- goyangkan pinggulku untuk menarik perhatian orang? Itu sama sekali bukan gayaku!”

Sae-jin menyipitkan matanya dan mendengus. “Kau juga pernah melakukannya tahu? Malahan gerakanmu lebih parah.” Komentar gadis itu dingin kemudian menutup pembicaraan dengan melanjutkan kegiatan makannya, sementara Lee Donghae yang tidak berdosa di dalam TV layar datar itu masih menari dengan penuh penghayatan diiringi riuh teriakan para penggemarnya yang sepertinya sedikit lagi akan menderita pecah pembuluh darah.

Cho Kyuhyun yang tidak tahu bagaimana harus membalas ucapan istrinya yang memang tidak salah, dan juga di lain hal kembali teringat bahwa dia harus banyak mengalah pada gadis yang sedang hamil dan memiliki emosi tak terbaca, memutuskan untuk dengan berat hati melanjutkan kegiatan makannya sementara dalam hati membayangkan lampu panggung jatuh tepat di atas Lee Donghae sementara dia memamerkan tarian ubur- ubur menyelamnya itu. Sepertinya Cho Kyuhyun memang mengalami sedikit masalah emosional di mana dia sama sekali tidak suka bila Han Sae-jin sedikit saja menganggap pria selain dirinya menarik; walaupun pria itu adalah Donghae sekalipun.

“Sejujurnya, aku lebih suka pria yang  jago menyanyi.” Kata Sae-jin polos, meskipun wajah cantiknya kelihatan geli. Kyuhyun melirik istrinya sejenak kemudian mendengus; tidak sanggup membendung keinginannya untuk tersenyum seperti orang bodoh. Sepertinya Sae-jin benar- benar sebuah ‘ancaman’ bagi Kyuhyun; tidak pernah ada seorangpun sebelumnya yang dapat mengontrol perasaan Kyuhyun sebaik yang dilakukan Han Sae-jin.

Apakah Sae-jin baru saja secara tidak sadar mengakui bahwa gadis itu menyukainya?…

Keduanya kemudian makan dengan senyum di wajah masing- masing selama beberapa menit yang tenang sambil menonton penampilan- penampilan selanjutnya setelah penampilan Donghae yang cukup ‘kontroversial’ dalam rumah tangga Kyuhyun dan Sae-jin, ketika tiba- tiba lagu Club No. 1 terdengar beberapa gadis serta anggota Super Junior, termasuk Cho Kyuhyun, tentu saja, masuk ke dalam panggung yang ditata seperti sebuah bar. Selama beberapa detik Kyuhyun ingin menceritakan kebanggaannya karena dipercayakan untuk menampilkan tarian dalam lagu itu pada Sae-jin tapi kemudian dia teringat sesuatu dan jantungnya sekejap berhenti berdetak.

“Kau tahu,” Kyuhyun mengambil remote di sampingnya, “mari kita langkahi saja bagian yang ini,”

“Kenapa?” Sae-jin menahan tangan Kyuhyun dengan bingung, “kau kan sedang tampil,”

“Tidak, tidak, tidak—“ Kyuhyun bersikeras, beberapa detik lagi akan terjadi gerakan di mana dia berdansar bersama seorang gadis dan bahkan menyentuh pahanya, dan Kyuhyun masih ingin hidup tenang serta memiliki Sae-jin di ranjangnya malam ini. “Yang bagian ini tidak menarik. Hanya akan membuatmu tertawa. Gerakan pinggulku parah sekali. Menjijikkan, bahkan.”

“Apa- apaan ini?” protes Sae-jin, meskipun begitu membiarkan Kyuhyun melewati penampilan mereka ke lagu solonya.

“Oh, kau menyanyikan lagu ini?” tanya Sae-jin senang, melihat Kyuhyun menyanyikan ‘Love Again’.

Kyuhyun tidak menjawab, berpura- pura seolah itu hal yang tidak perlu diperhatikan, meskipun dalam hatinya puas dengan respons dari Sae-jin. Lagu ini sebenarnya tidak termasuk dalam daftar pertunjukkan untuk tur mereka tahun ini, tapi dia sengaja menyanyikannya di Shanghai karena tahu lagu inilah yang sering menemani Sae-jin tidur, dan mungkin karena pada saat itu pikirannya sedang kacau dan dipenuhi pertanyaan mengenai perasaannya yang sesungguhnya pada Han Sae-jin.

“Aku harap aku bisa menontonnya langsung,” gumam Sae-jin menyesal, persis seperti seorang penggemar yang kecewa karena tidak bisa menonton idolanya menyanyi secara langsung.

“Kenapa kau menyesali hal seperti itu sementara orang aslinya ada di sini dan bisa menyanyikannya untukmu kapan saja kau mau?” omel Kyuhyun dengan galak.

“Tapi tetap saja pasti menarik kalau menontonmu di konser.”

“Nanti saja setelah kau melahirkan, kau dan bayinya bisa ikut denganku ke manapun aku pergi konser,” janji Kyuhyun.

Sae-jin mengerutkan hidungnya dengan lucu. “Tidak akan mengganggumu?”

Kyuhyun mendengus kemudian menurunkan kepalanya dan mencium bibir Sae-jin. Gadis ini gila ya? Sehari saja tidak melihatnya membuat Kyuhyun uring- uringan dan dia menganggap kehadirannya beserta bayi mereka akan mengganggu Kyuhyun?

“Yang mengganggu itu adalah kekerasan yang kau lakukan padaku karena mimpi buruk seperti tadi malam.” Jawab Kyuhyun santai, kemudian menghabiskan sisa makanannya seolah dia tidak baru saja mengatakan apa- apa.

“Yah!” protes Sae-jin malu, merasakan pipinya terbakar. Dia memang sempat melakukan ‘kekerasan’ pada pria itu tadi malam karena bermimpi buruk sehingga Kyuhyun harus bangun pagi dengan pinggang pegal- pegal.

*

Han Sae-jin berdiri di depan lemari pendingin panjang berdinding kaca di samping meja kasir, sibuk mengagumi berbagai jenis cheesecake yang dipajang. Tuan Yoon mengundang Sae-jin dan Kyuhyun untuk makan malam di Grando, sebuah restoran bergaya Eropa di daerah mewah Sinsa-dong, dan Sae-jin sengaja pergi satu jam sebelum waktu yang mereka sepakati dan berencana membeli kue di kafe yang tidak jauh dari restoran itu karena dia merasa setidaknya harus membawakan sesuatu sebagai ucapan terima kasih untuk Tuan Yoon.

Sae-jin tahu dia memang menerima kenyataan mengenai Tuan Yoon dengan sangat responsif; hingga nyaris membuat bayinya dalam resiko dan Cho Kyuhyun kewalahan, dan sekarang dia sendiri cukup heran bahwa keputusan untuk menerima Tuan Yoon dalam kehidupannya tidaklah semustahil yang dia kira. Beliau tidak pernah mendesak Sae-jin; juga tidak menuntut gadis itu untuk menganggapnya sebagai seorang ayah. Tuan Yoon hanya membiarkan semua terjadi seperti air mengalir, menerima apapun keputusan Sae-jin, mungkin itulah yang membuat Sae-jin merasa lebih nyaman. Kyuhyun sendiri juga tidak menunjukkan reaksi apapun atas keputusannya; membuat Sae-jin yakin bahwa pria itu mendukungnya.

Mungkin untuk saat ini, menganggap Tuan Yoon tetap sebagai ‘Tuan Yoon’ adalah yang terbaik.

Sae-jin menunduk sedikit mengamati berbagai jenis cheesecake menarik di depannya dengan cermat, mengetuk- ngetukkan ujung jari telunjuk di bibirnya sambil berpikir keras; semuanya tampak lezat tapi sejauh ini dia menaruh perhatian pada nutella cheesecake dan yang satunya dilapisi dengan caramel di semua sisi.

“Baiklah,” Sae-jin menyandarkan kedua tangannya di dinding kaca lemari pendingin tersebut. “Aku memilihmu,” kata Sae-jin pada nutella cheesecake berukuran kecil di depannya, seperti tersenyum menanti untuk dipilih. “Meskipun sepertinya hargamu setara dengan harga seratus roti cokelat buatan kakek,” gumamnya getir. Kafe yang didatanginya ini terkenal dengan cheesecake-nya serta tempatnya yang tidak terlalu besar tapi mewah dan Sae-jin sedikit tertegun ketika melihat harga- harga makanan yang tertulis di papan besar di atas tempat kasir.

Sae-jin mengangkat kepalanya dan tersenyum pada pelayan yang sedari tadi menunggunya dengan wajah ramah.

“Aku pilih nutella cheesecake.

“Pilihan yang bagus, itu kue paling laris di sini.” Puji gadis itu senang, meminta Sae-jin untuk menunggu sebentar karena dia harus membungkus kue pesanannya. Sae-jin mengangguk, kemudian berbalik dan menatap sekeliling kafe itu; mengagumi dekorasinya yang simple tapi sangat berkelas; musik jazz menggema dengan lembut; khas sebuah kafe yang tenang dan tempat menyenangkan untuk berkumpul. Beberapa meja terisi dengan pengunjung- pengunjung berseragam resmi seperti pegawai kantoran; di salah satu sisi ditempel meja panjang tempat para pengunjung yang hanya datang sendirian bisa duduk nyaman dengan membawa laptop mereka dan mengerjakan tugas ditemani segelas kopi hangat.

Tiba- tiba ponsel Sae-jin bergetar; ia mengambilnya dalam kantong kardigan, tersenyum sejenak melihat wajah Kyuhyun di layar ponsel lalu menjawabnya.

“Kau di mana, Han Sae-jin?”

“Oh—aku sudah di Sinsa-dong,” jawab Sae-jin, sementara gadis pelayan itu telah kembali membawa dos kue ukuran sedang berwarna putih dihiasi motif yang lucu.

“Apa?” Kyuhyun terdengar heran,

“Setidaknya kita harus memberinya sesuatu,” kata Sae-jin.

“Tidak, maksudku—kau seharusnya menungguku untuk menjemputmu—“ protes pria itu lagi.

“Tidak apa- apa, aku toh sudah sampai.” Sae-jin tertawa kecil.

“Permisi, apa hiasan yang Anda inginkan?” Tanya gadis pelayan itu lagi. “Kami punya hiasan miniatur Teddy Bear, Ester Bunny, Mickey Mouse—“

“Teddy Bear,” jawab Sae-jin tanpa berpikir lalu kembali fokus pada ponselnya. “Kita bertemu di restoran saja ya?”

Sae-jin bisa mendengar tawa kecil Kyuhyun di kejauhan sana, kemudian menjawab ‘baiklah’, kembali memperingatkan Sae-jin untuk berhati- hati lalu mematikan sambungan telepon. Sae-jin memasukkan ponselnya ke dalam saku kardigannya kemudian tersenyum cerah ketika kembali berbalik ke meja kasir; tersipu malu ketika melihat ekspresi gadis di meja kasir yang tersenyum geli melihatnya. Apakah Han Sae-jin terlihat seperti gadis remaja yang sedang kasmaran? Entahlah, dia tidak perduli.

Sae-jin sedang mengambil dompet di dalam tasnya ketika dia mendengar sebuah suara angkuh yang familiar di sampingnya.

Satu Nutella Cheesecake,”

Han Sae-jin kontan menengadah dan tertegun ketika melihat orang yang saat ini paling tidak ingin dia temui, tapi juga di sisi lain sangat ingin dia tanyai banyak hal.

Shin Saeryung juga di lain hal terlihat sama terkejutnya dengan Sae-jin, hanya saja yang membuatnya berbeda adalah tatapan dingin dan mengintimidasinya yang sekarang ini tidak ragu- ragu lagi dia sembunyikan dari Sae-jin; sepertinya gadis itu benar- benar lelah menyembunyikan rasa bencinya dari Han Sae-jin.

Sae-jin sendiri sesungguhnya memiliki banyak sekali pertanyaan untuk gadis itu; pertanyaan- pertanyaan yang membuat dadanya sesak dan diliputi dengan kemarahan setiap kali dia memikirkannya. Tapi seperti Kyuhyun yang sekarang ini selalu berusaha melindunginya dari gadis ini; Sae-jin sendiri tidak ingin mengusik Kyuhyun dengan membuang- buang waktu untuk menemui Shin Saeryung. Meskipun tentu saja siapa yang menyangka mereka bisa secara tidak sengaja bertemu di tempat ini dari ratusan tempat lain di Seoul?

“Sae-jin—ssi,” cara Saeryung menyebutkan nama Sae-jin sungguh membuat darahnya berdesir. “Lama tidak berjumpa.” Wajah cantik itu tersenyum manis, tapi sorot matanya menampakkan kebalikannya.

“Ah, Saeryung—ssi?” gadis di tempat kasir tersenyum sumringah pada Saeryung. Kebanyakan pengunjung juga tidak malu- malu memperhatikan salah satu idola paling terkenal di Korea tersebut, karena Saeryung bahkan tidak berusaha keras menyamarkan dirinya dengan hanya menggunakan gaun one piece berwarna hijau gelap. Rambutnya yang sekarang berwarna cokelat terang dibiarkan jatuh di belakang punggungnya. Dalam hati Sae-jin sangat menyayangkan betapa Saeryung tidak menghargai dirinya sendiri.

“Maaf, tapi Nutella cheesecake-nya sudah habis,” ujar gadis kasir itu menyesal, kedua tangannya yang memakai sarung transparan masih memegang hiasan beruang, “Yang terakhir sudah dibeli Nona Sae-jin,”

Sae-jin bisa melihat kedutan di dahi Saeryung yang kedua matanya masih terpancang padanya. Uh-oh, sepertinya Sae-jin akan mendapatkan lebih banyak kebencian oleh Saeryung hanya karena sepotong kue.

“Benarkah?” Tanya Saeryung dingin, “Sayang sekali, seandainya aku tidak terlambat.”

Sae-jin mengerutkan kening, mencoba mencerna maksud tersembunyi dari kalimat terakhir yang ditekankan Saeryung, tapi kemudian tersenyum manis sepertinya dirinya yang biasanya.

“Tidak juga, mungkin saja cheesecake terakhir itu memang ditakdirkan untukku.” Canda Sae-jin. Dia bisa mendengar gadis di kasir itu tertawa, berbeda dengan Saeryung yang sama sekali tidak menemukan sisi humornya sama sekali.

Karena seperti biasa, Shin Saeryung selalu menganggap sesuatu yang bukan miliknya sebagai sesuatu yang direbut darinya.

*

Sae-jin dengan diam memperhatikan gadis di depannya yang saat ini sedang menyesap teh hangat dari cangkir berukuran sedang dalam genggamannya, kemudian dengan anggun meletakkannya kembali ke meja. Ini gila, Sae-jin memang sudah gila—dia menerima ajakan Shin Saeryung untuk minum teh dan ‘berbincang- bincang’ sejenak. Seharusnya dia menolak saja; dia toh punya alasan yang mendukung; setengah jam lagi dia harus menemui Kyuhyun dan Tuan Yoon untuk makan siang di Grando. Tapi sesuatu dalam dirinya sangat penasaran dengan apa yang ingin Saeryung katakan padanya. Awalnya Sae-jin ingin menjauhi masalah; seperti yang dia janjikan pada Cho Kyuhyun, dia akan menjaga emosinya dan tidak melibatkan diri dalam hal- hal yang membahayakan dirinya dan kandungannya.

Tapi sesuatu meyakinkannya bahwa dia kali ini harus mendengarkan apa yang sebenarnya Saeryung inginkan, dan ‘melururskannya’. Karena saat bayinya lahir, dia tidak akan pernah membiarkan Shin Saeryung menyentuh dan mencelakai mereka.

“Sae-jin—ssi, kenapa tidak diminum tehnya?” suara manis Saeryung menyela lamunan Sae-jin; mereka—lebih tepatnya Saeryung—sengaja memilih meja paling jauh dengan keramaian. Mungkin karena dia tidak ingin repot- repot menutupi kata- kata kasar dan mengancamnya.

Sae-jin tidak menjawab, hanya tersenyum kecil.

“Kenapa? Kau takut aku meracuninya?” Tanya Saeryung tenang.

Sae-jin sejenak tertegun dengan pertanyaan Saeryung yang sangat terang- terangan, tapi kali ini dia tidak ingin kalah. Tidak setelah semua yang dilakukan gadis itu untuk melukainya.

“Meskipun aku percaya kau sanggup melakukannya, tapi kau masih cukup rasional untuk tidak mencelakai dirimu sendiri di depan umum.” Jawaban Sae-jin perlahan; menghapus senyum puas dari wajah Saeryung.

“Kemampuanmu cukup meningkat dari sebelumnya,” sindir Saeryung, “kenapa? Apa karena sekarang kau anak orang kaya?”

Sae-jin tertegun.

“Ups—apakah aku seharusnya tidak tahu?” tanya Saeryung lagi, berpura- pura bingung, dengan tenang meneguk kembali tehnya, seolah- olah dia hanya sedang membicarakan topik biasa yang tak berarti. “Tapi ngomong- ngomong, apakah istri ayahmu tahu tentang dirimu? Aku penasaran bagaimana kalau keluarga ayahmu sampai tahu kalau ternyata dia memiliki anak haram?“

Butuh tenaga luar biasa kuat bagi Han Sae-jin dalam menahan dirinya untuk tidak menyambar cangkir teh panas di depannya dan menyiramnya ke wajah angkuh Saeryung. Sae-jin selalu menganggap gadis ini keterlaluan, tapi kali ini dia benar- benat telah melewati segala batas yang ada! Sungguh sulit dipercaya bagaimana Saeryung begitu tertarik untuk menggali kehidupan pribadi Sae-jin dan menggunakannya untuk balas dendam. Bila Sae-jin merespon perkataannya dengan kasar, maka itu sama saja dengan menyerahkan diri dalam jebakan gadis licik ini. Dan dia tidak ingin menambah masalah baru untuk Cho Kyuhyun dengan meladeni Saeryung dan mengikuti rencananya.

Dan karena Sae-jin percaya dia terlalu pintar serta bermoral untuk meladeni gadis licik di depannya tersebut.

Tapi bukan berarti dia akan mengalah.

Saeryung di lain hal tersenyum puas dan penuh kemenangan, menghabiskan sisa tehnya dengan tenang, menikmati tatapan dingin dan penuh kemarahan dari Han Sae-jin.

“Sangat mengesalkan bukan?” tanya Sae-jin santai, menatap lurus wajah Saeryung. “Anak haram sepertiku malah memiliki hal yang sangat kau inginkan.”

Sae-jin cukup bersyukur dia tadi berhasil menahan dirinya untuk tidak melemparkan isi cangkirnya ke wajah Saeryung. Ternyata dia tidak perlu repot- repot melakukannya; Saeryung menumpahkan minumannya sendiri ke bajunya. Gadis itu meringis kepanasan dan mungkin panik karena teh itu merusak gaun mahalnya; tapi dia bahkan tidak membuang waktu untuk membersihkan cairan itu. Wajahnya menatap Han Sae-jin di depannya dengan terkejut; kedua matanya melebar sehingga Sae-jin yakin sedikit lagi bola matanya bisa melompat jatuh dari tempatnya.

“A—apa?” desis Saeryung.

“Ah, maaf—apa aku sudah kelewat batas?” tanya Sae-jin bingung.

“Han Sae-jin.” Saeryung menggertakkan giginya, “sepertinya kau tidak sadar dengan posisimu.”

“Tidak. Aku benar- benar sadar. Aku hanya seorang gadis biasa, penampilanku pun tidak menonjol dan glamor sepertimu. Latar belakang keluargaku juga tidak sehebat keluargamu. Aku hidup dari uang menjual roti kakekku. Secara keseluruhan, hidupku sama sekali tidak istimewa. Tapi, kenapa seorang Shin Saeryung sangat penasaran dengan hidupku?”

“Tutup mulutmu.” Ancam Saeryung. “Hanya karena kau pikir Cho Kyuhyun dan ayahmu membelamu, kau bisa menginjakku? Kau menggunakan kehamilanmu untuk menjebak Kyuhyun, dan menggunakan nasib burukmu untuk membuat ayahmu kasihan dan membelamu. Aku tidak pernah berpikir ternyata hidupmu serendah itu!”

“Kalau kau tidak gagal dalam mata pelajaran biologi, mungkin kau tahu bagaimana pembuahan bisa terjadi. Aku tidak ingin menjelaskannya sekarang ini, karena itu pasti akan membuatmu jauh lebih kesal. Mendengarmu mengatakan bahwa aku menjebak Cho Kyuhyun dengan cara hamil, itu membuatku sedikit kecewa karena ternyata tingkat intelekmu tidak setinggi itu.”

Sae-jin bisa melihat rahang bawah Saeryung yang bergetar karena menahan amarah. Mungkin sekarang gadis itulah yang ingin melemparkan isi cangkirnya pada Sae-jin; hanya saja tidak bisa karena cangkir itu sekarang kosong. Sesaat dia merasa bersalah karena berbicara kasar seperti itu.

“Mungkin kehidupanku tidak sebaik kau; tapi setidaknya aku tidak cukup rendah untuk melukai orang lain demi kepentinganku sendiri.”

Sae-jin berdiri, bermaksud untuk menutupi perbincangan mereka sebelum salah satu dari mereka terlempar keluar melalui jendela besar kafe.

“Aku benar benar tidak mengerti” Desis Saeryung, kedua tangannya mengepal di atas meja dan bergetar; melihat kondisi gadis itu sekarang Sae-jin jadi teringat pada monster atau alien yang siap berubah bentuk karena tidak sanggup menahan emosi mereka. Wajah cantik Sae-ryun terlihat mengerikan; seolah semua topeng yang biasa dia gunakan telah lepas dan sekarang ini yang duduk di depan Sae-jin adalah sosok Shin Saeryung yang sebenarnya.
“Dia sangat mencintaiku dan berjanji akan selalu melindungiku, tapi siapa kau yang datang dan menghancurkan segalanya?”

Sae-jin mengerutkan keningnya, menatap Saeryung dengan heran. Ia perlahan duduk kembali; lupa dengan rencananya untuk pergi.

“Kau yang meninggalkannya, Shin Saeryung. Apa kau lupa? Dia melakukan segala hal untuk menjagamu dan melindungimu, tapi kau melepaskannya untuk impianmu menjadi seorang idola terkenal.” Ujar Sae-jin tenang, tidak percaya dia bisa sesantai itu membicarakan hubungan suaminya dengan Saeryung.

“Kau tahu apa?” balas Saeryung kasar. “Seandainya kau tidak ada, kami pasti sudah bersama lagi!”

Sae-jin tersenyum iba, rasa marahnya perlahan terganti dengan rasa kasihan.

“Seandainya kau percaya padanya dan benar- benar tulus mencintainya, kau tidak akan melepaskannya. Dia bukan benda yang bisa kau pakai dan buang semaumu. Dia juga tidak pernah meminta banyak darimu.”

“Kalau begitu,” ekspresi wajah Saeryung sangat dingin sehingga membuat Sae-jin secara tak sadar merinding. “Maksudmu, aku harus mengorbankan semuanya demi perasaan itu?”

Sae-jin menatap gadis itu sejenak. Semula dia merasa bersalah padanya, menganggap dirinya sendiri sebagai orang ketiga yang mengganggu kebahagiaan Saeryung dan Kyuhyun serta kesempatan mereka untuk bersatu kembali. Tapi kemudian dia menyadari apa yang sebenarnya terjadi; Saeryung memang mencintai Kyuhyun, tapi dia tidak pernah menganggap cintanya pada pria itu lebih penting dari apapun yang dia inginkan.

“Ketika seseorang mencintaimu dengan tulus; kau akan selalu mengharapkan kebahagiaannya. Walaupun kau bukan alasan dari kebahagiaannya, kau akan terus mendukungnya. Cho Kyuhyun memiliki hati dan jalan pikiran seperti itu.” Sae-jin menarik nafas panjang,

“Tapi, ketika kau mencintai seseorang dengan tulus, dia juga akan menjadi alasanmu hidup dan bergerak. Seharipun tidak melihatnya bisa membuatmu gila, dan jantungmu bergerak dengan tempo yang tidak normal. Dengan keadaan seperti itu, bagaimana mungkin aku tidak akan mempertahankannya?”

Saeryung mengerutkan keningnya.

“Karena kau mencintainya—” Sae-jin tertegun sejenak, seperti tersadar akan sesuatu, sesuatu yang seharusnya telah lama dia sadari sejak dulu.

Kenapa dia baru menyadarinya sekarang ini?

“Karena kau mencintainya, dialah yang akan menjadi alasanmu untuk mewujudkan mimpimu, dia akan menjadi alasanku bertahan hidup. Kau selalu mengatakan kau mencintai Cho Kyuhyun, tapi kau membuatnya seolah menjadi penghalang dalam hidupmu. Kau membuatnya merasa dirinya tidak berguna dan hanya akan mengambat impianmu. Tapi bagiku, Cho Kyuhyun-lah sekarang ini yang menjadi alasanku melanjutkan hidupku.”

“M—maksudmu?” Saeryung menatap Sae-jin dengan tidak percaya. “K—kau mencintainya?”

Sae-jin terdiam, menatap cangkir teh di depannya selama beberapa detik—ekspresinya menunjukkan bahwa dia sedang memikirkan pertanyaan dari Shin Saeryung, dan pada akhirnya menemukan jawabannya.

“Kenapa aku harus memberitahukannya padamu?” jawab Sae-jin dingin. “Hubungan kita tidak cukup dekat bagiku untuk menceritakan perasaanku.”

Han Sae-jin berdiri dari tempat duduknya, mengambil kotak kue di atas meja kemudian berbalik dan berjalan pergi, tidak perduli lagi pada apapun yang akan Saeryung katakan dan lakukan. Tapi kemudian gadis itu berhenti; kembali menatap Shin Saeryung yang masih duduk termenung di tempatnya, seperti siap untuk meledak kapan saja.

“Jangan menyia- nyiakan waktumu lagi dengan menemui kami, Saeryung—ssi. Apapun yang kau rencanakan, tidak akan mengubah apapun.”

*

Langit di luar sudah gelap ketika Sae-jin berjalan menyusuri trotoar Sinsa-dong dengan langkah pelan. Ia sesekali memperhatikan keadaan di sekelilingnya, membiarkan uap putih mengepul dari hidung dan mulutnya setiap kali dia bernapas, sedikit menggigil dari udara yang sangat dingin. Sepertinya tadi sore tidak sedingin ini sehingga dia merasa cukup hangat hanya dengan menggunakan kardigan hitam panjangnya. Sinar dari lampu- lampu jalanan dan toko- toko yang dia lewati setidaknya memberikannya sedikit kehangatan.

Han Sae-jin kembali menghela napas. Siapa sangka suasana hatimu bisa dengan mudah berubah hanya dalam hitungan detik? Tadi sore dia mengunjungi kafe tersebut dengan suasana hati yang cerah dan sekarang dia keluar dengan perasaan suram. Pertemuan yang tak terduga dengan Shin Saeryung membuat pikirannya sedikit kacau. Gadis itu seperti tak sungkan- sungkan lagi menuding Han Sae-jin sebagai perusak hubungannya dengan Kyuhyun, dia bahkan secara terang- terangan merendahkan Sae-jin dan mencoba melukai perasaannya. Sejujurnya itu membuat Sae-jin bingung; apakah Saeryung memang memiliki pribadi yang sering berganti- ganti, ataukah luka di hatinya yang merubahnya menjadi seperti itu? Karena Sae-jin percaya, Cho Kyuhyun tidak salah menilai orang.

“Kau menggunakan kehamilanmu untuk menjebak Kyuhyun, dan menggunakan nasib burukmu untuk membuat ayahmu kasihan dan membelamu. Aku tidak pernah berpikir ternyata hidupmu serendah itu.”

Sae-jin menggelengkan kepalanya pelan. Dia tidak percaya bagaimana mungkin seorang Saeryung dapat mengatakan hal seperti itu.

“Dia sangat mencintaiku dan berjanji akan selalu melindungiku, tapi siapa kau yang datang dan menghancurkan segalanya?”

Langkah Sae-jin terhenti, gadis itu menatap sepatu abu- abu gelap yang digunakannya. Dadanya terasa sakit dan sesak, seperti ada yang tiba- tiba menghujamkan pisau dan mengoyak luka lama yang sedang berusaha memulihkan diri.

Tidak, dia tidak merasa sedih karena dirinya dihina dan direndahkan oleh Shin Saeryung.

Dia merasa sedih karena sekarang dia akhirnya menyadari betapa terlukanya Cho Kyuhyun waktu itu. Karena perasaan cintanya hanya dipandang sebelah mata oleh Shin Saeryung, dan dirinya hanya dianggap seperti ‘benda’ oleh gadis itu, yang bisa dia gunakan lalu dia buang sesuka hatinya. Meskipun gadis itu berkali- kali mengatakan bahwa dia mencintai Kyuhyun, perasaannya tidak cukup kuat untuk mengalahkan keegoisannya. Dia tidak bisa membayangkan betapa menyakitkannya itu bagi Kyuhyun, karena pria itu sangat sulit membuka hatinya bagi siapapun. Shin Saeryung benar- benar tidak menyadari betapa berharganya itu dan malah mempermainkannya.

“Han Sae-jin!”

Sae-jin menengadah mendengar namanya dipanggil, menemukan Cho Kyuhyun yang berdiri hanya beberapa meter darinya, di samping mobil Audi hitamnya. Wajah tampannya terlihat cerah ketika melihat Sae-jin. Gadis itu juga tanpa sadar tersenyum melihatnya.

Beberapa detik kemudian senyum di wajah Kyuhyun menghilang, digantikan dengan ekspresi dingin dengan kening mengkerut; ekspresi favoritnya bila menurutnya Sae-jin melakukan sebuah kesalahan. Gadis itu diam di tempatnya, menunggu Kyuhyun berjalan mendekatinya. Pria itu terlihat sangat tampan dengan jaket panjang hitam yang sewarna dengan celananya. Di tangan kanannya menggantung jaket berwarna hitam dan setiap langkah Kyuhyun yang mendekat padanya, Sae-jin merasakan jantungnya berdebar semakin kencang, efek ‘Cho Kyuhyun’, begitulah dia menamakannya.

“Kau tidak membawa jaket?” tanya Kyuhyun tajam, kemudian tanpa menunggu jawaban Sae-jin dia menghela nafas frustasi. “Aku tahu ini pasti akan terjadi.” Omelnya dengan mata menyipit, seperti seorang ibu yang sedang menegur anaknya. Sae-jin masih diam, terus menatap suaminya, membiarkan apapun yang selanjutnya akan dia lakukan.

Ketika seseorang mencintaimu dengan tulus; kau akan selalu mengharapkan kebahagiaannya. Walaupun kau bukan alasan dari kebahagiaannya, kau akan terus mendukungnya. Cho Kyuhyun memiliki hati dan jalan pikiran seperti itu.”

Sae-jin memperhatikan Kyuhyun yang sekarang ini mengambil kotak kue dari tangannya, kemudian membantu gadis itu memakai jaket hitam yang membungkus tubuhnya dengan hangat. Ekspresi Kyuhyun sangat serius, seolah dia takut jaket yang dipakaikannya tidak cukup hangat.

Tapi, ketika kau mencintai seseorang dengan tulus, dia juga akan menjadi alasanmu hidup dan bergerak. Seharipun tidak melihatnya bisa membuatmu gila, dan jantungmu bergerak dengan tempo yang tidak normal. Dengan keadaan seperti itu, bagaimana mungkin aku tidak akan mempertahankannya?”

Kyuhyun menyadari tangan Sae-jin yang sedikit menggigil kedinginan, kemudian mengambil kedua tangannya dan menggenggamnya, mengutuk dirinya yang tidak membawa sarung tangan untuk gadis ceroboh ini. Sae-jin masih tidak berkomentar, masih memperhatikan wajah Kyuhyun seperti menelusuri ekspresi pria itu dengan saksama, seperti tidak ingin kehilangan satu gambar pun.

“Dingin?” tanya Kyuhyun serius, tanpa kelembutan, tapi menggosok- gosokkan kedua tangan Sae-jin yang dingin dan menghembuskan nafas hangatnya ke tangan Sae-jin, semenetara gadis itu masih bersikap seperti boneka hidup.

Sae-jin kemudian menarik kedua tangannya dari genggaman Kyuhyun lalu kemudian memeluk Kyuhyun, rasanya jauh lebih hangat daripada apapun kehangatan yang pernah dibayangkannya, dan rasanya jauh lebih menenangkan dari apapun yang dapat menenangkannya. Perasaan galaunya selama satu jam terakhir terasa tulisan di pasir yang dihapuskan oleh ombak sore hari. Gadis itu menutup matanya dan menarik napas panjang, berusaha untuk menghirup aroma harum Kyuhyun dalam- dalam.

“Wow.” Komentar Kyuhyun, terkejut dengan tindakan Sae-jin, tapi kedua tangannya melingkari punggung istrinya. “Aku baru tahu kau ternyata suka ‘public affection’, seharusnya aku sudah memelukmu di depan umum dari dulu.”

Sae-jin menggeleng. Jalanan toh sepi, hari ini bukan hari libur jadi pengunjung yang berlalu lalang cukup sedikit meskipun mereka sekarang sedang memperhatikan Kyuhyun dan Sae-jin yang terlihat seperti hampir lima tahun tidak bertemu. Beberapa dari mereka tidak malu- malu mengacungkan ponsel dan mengabadikan keadaan itu tapi Sae-jin tidak perduli.

Dia hanya ingin memeluk Cho Kyuhyun.

Karena dia mencintainya.

Ya, dia mencintai Cho Kyuhyun,

Dan mungkin dia harus berterima kasih kepada Shin Saeryung karena bila bukan karena berbicara dengan gadis itu, mungkin masih butuh beberapa waktu lagi bagi Sae-jin untuk menyadarinya.

Sae-jin kemudian melepaskan pelukannya dan tersenyum lembut pada Kyuhyun. Pria itu masih tampak terperangah dan geli, tapi juga tersenyum cerah padanya.

“Aku tahu isi pikiranmu.” Ujar Sae-jin memperingatkan. “dan tidak. Aku tidak suka dicium di depan umum.”

Kyuhyun mencibir, memutar matanya. “Kalau begitu kenapa kau memulainya duluan.” gumam pria itu cukup pelan tapi masih bisa didengar oleh Sae-jin yang kepalanya masih secara teknis bersandar di dada suaminya.

“Apa??” tanya Sae-jin galak.

“Tidak—tidak—ayo masuk, aku sudah lapar.” Kyuhyun menarik tangan Sae-jin dan menggiringnya masuk ke dalam restoran Grando, tempat Tuan Yoon telah menunggu di salah satu meja yang telah dipesankan oleh Mr. Han untuk mereka.

Suasana restoran sangat sepi malam itu. Ini pertama kalinya Cho Kyuhyun bertemu dengan Tuan Yoon setelah ‘insiden’ yang menimpa Sae-jin dan gadis itu berpendapat Kyuhyun kali ini terlihat lebih bersahabat dengan Tuan Yoon daripada sebelumnya, tersenyum ramah pada beliau dan menjawab semua pertanyaan yang diajukannya. Tuan Yoon juga terlihat lebih ramah pada Kyuhyun; sepertinya ketegangan di antara mereka berdua yang sebelumnya Sae-jin rasakan setiap mereka bertemu mulai menghilang. Setelah menikmati makan malam, Sae-jin menghidangkan kue yang dibelinya, yang disambut oleh Tuan Yoon dengan senang hati karena beliau ternyata penggemar makanan manis. Mereka kemudian menghabiskan kue berukuran sedang tersebut bersama- sama sambil membicarakan masalah pekerjaan, kemudian kamar bayi, dan nama bayi yang sampai sekarang ini masih belum mereka putuskan. Sae-jin dan Tuan Yoon sedikit terkejut bahwa Cho Kyuhyun cukup menguasai masalah bisnis; mungkin karena pria itu tahu dia tidak akan selamanya bergantung pada dunia keartisannya. Sedangkan bagi Sae-jin, yah menurutnya Cho Kyuhyun itu sangat pintar dan bisa menguasai segala bidang. Pikiran yang sangat subjektif tapi dia tidak perduli.

“Han Sae-jin,”

“O—oh?” Sae-jin tersadar dari lamunannya, kemudian mengalihkan wajahnya dari Kyuhyun ke arah Tuan Yoon.

“Yah, kenapa kau menatapnya terus? Kau tidak bosan melihatnya setiap hari di rumah?” protes Tuan Yoon.

“A—aku?” tanya Sae-jin terkejut, merasakan wajahnya terbakar, dia pasti terlihat seperti udang rebus sekarang! “T—tidak—! Maksudku—“

Kyuhyun tersenyum kecil, menatap Sae-jin sekilas seolah dia telah terbiasa dengan sikap gadis itu.

“Dia memang suka melamun, Tuan Yoon.” Bela Kyuhyun.

“Ah… begitu…” gumam Tuan Yoon. Sae-jin tidak mengatakan apa- apa, buru- buru menyibukkan dirinya dengan menghabiskan susu cokelat ketiga yang dipesannya malam itu sementara kedua pria itu kembali melanjutkan perbincangan mereka mengenai sepak bola. Dasar bodoh, mesum, memalukan! Sae-jin terus menerus mengutuk dirinya dengan berbagai macam umpatan. Bagaimana mungkin dia bersikap seperti itu, apalagi tertangkap basah oleh Kyuhyun dan Tuan Yoon!

Ting! Tiba- tiba ponsel Sae-jin berbunyi. Sae-jin membuka layar ponselnya dan mengerutkan kening melihat nama Kyuhyun, kemudian melirik Kyuhyun di sampingnya yang ternyata sedang menggenggam ponsel, sementara dia terus berkonsentrasi dengan pembicaraannya bersama Tuan Yoon.

Apapun yang kau lamunkan, kuharap itu berhubungan denganku.

Sae-jin tersenyum, kemudian menutup ponselnya dan menyeruput susu cokelatnya dengan senyum tolol; bersyukur bahwa penerangan di restoran itu cukup minim untuk menyamarkan wajahnya.

 

Advertisements

547 thoughts on “The Story of Bear Family: Part 30”

  1. Baca berkali2 tpi ttp gak bosen2 aaakkk❤ suka bgt sikapnya kyuhyun tegas sebagai cowok dan enggak bimbangan!!uuuwww kyuhyun si sweet bgt😍😍 buat yg 31 semangat ya kak aku tunggu, aku harap kakak update di bulanku ini (read : maret is my b’day) hihihi😄

  2. Baca berkali2 tpi ttp gak bosen2 aaakkk❤ suka bgt sikapnya kyuhyun tegas sebagai cowok dan enggak bimbangan!!uuuwww kyuhyun si sweet bgt😍😍 buat yg 31 semangat ya kak aku tunggu, aku harap kakak update di bulanku ini (read : maret is my b’day) hihihi😄 oiya kak susan kali komen disini srg gagal kak 😭 huhuhu

  3. Q sdh baca bolak balik tp tetap gak bosan. N makin penasaran aja ma kelanjutannya, ayo cinggu post part selanjutnya sdh gak sabar nunggunya.

  4. Eonni kapan dilanjutkan? Gak sabar nunggu lanjutannya, waaahh.. makin sweet aja sae jin sama kyuhyun, anaknya klo udah lahir lucu kali yaaaaa.. waaahh.. next kaaak semangaaaat 😅😄

  5. huwaaa kak kapan lanjutnya 😥 udah hampir 2 bulan selalu cek blog siapa tahu udah nongol, tapi belum juga ‘3’

    yaudah aku semangatin aja buat kakak. fighting ya kak, karyamu selalu ditunggu 😀

  6. kyaaaa!! ak suka endingnya!! bneran deh, manisssss banget!! aduh, pakek si saejin udah nyadarin perasaan sebenarnya kyak gimana jga, its perfect! kkkk, pasangan yg bahagia.
    si saeryung tuh y makin nyebelin aja kesininya! kata2nya euy, menghina banget! pengen deh ak sumpelin pakek sepatu, oh, tiang listrik aja kli perlu. tpi untung aja tuh si saejin udah pinter pake banget bales hinaannya saeryung. 8 jempol buat saejin #pinjemtangannkakitemen (?)

  7. Ahhh~ makin kesini makin manis aja 🙂 Ga pernah bosen buat baca dari part awal ceritanya slalu menarik dan ga pernah bosen buat cek ini blog udah ada update part baru apa belum, tetep semangat kakak ({})

  8. Authornim kapan dilanjut ini ceritaaa.. Tetep kan dilanjut kan?? Jangan putus ditengah2 yaa huhuu aku masoh ngarep cerita sampe mereka punya anak (lagi) fufufufu semangaat authorr! Fighting! Tetep ditunggu kelanjutannyaa huah

  9. Baru baca ini pertama kali fan langsung meluncur ke part 30. Ihh, Kyuhyun idolakk banget lah. Suamiable banget. Next part aku tunggu ya kak 🙂

  10. Semoga ayah eonni lekas sembuh…ditunggu kelanjutannya nih ff krn ini salah satu ff favoritku…mian baru bisa komentar krn selama ini selalu gagal ntah kenapa

  11. Duh si saeryung udh ya tobat jangan ganggu kyujin lg biarkan mereka bahagia hoho. Kyujin kalo lg bersama berasa nyata banget hubungannya sweet romantis bikin gemes hihi. Semoga makin banyak ya momen romatisnya kyujin.

  12. Tbh, saya bosan menjadi silent reader utk cerita ini. I mean, saya udah lama banget ngikutin cerita ini, dari nongol sampai hilang trus nongol lagi, tapi sekalipun saya tdk pernah komen (i’m so sorry). Bukan karena apa-apa, tapi saya masih belum tahu apa yang mau saya tulis di kolom komentar; story ini luar biasa bagusnya! Hal yang membuat saya kehabisan kata-kata.

    Ini ada lah cerita straight satu-satunya yang saya baca. I am not a suju stan nor a kyuhyun stan, i am a baby and daejae shipper. Tapi the story of bear family ini selalu bikin saya penasaran dan ketagihan.

    Konflik dapat banget.

    Thank you, author utk menulis cerita yang luar biasa bagusnya! Thank you for sharing this with us [:

  13. Haaaaaaah. Baca part ini serasa ada kelegaan. Hebaaaat part ini. Kyu bisa bersikap tegas ke saeryung dan saejin pun bisa menghadapi saeryung tanpa rasa lemah sedikitpun. Dan seharusnya saeryung udah cukup tau diri untuk berhenti mengganggu kyu dan saejin. Karna dengan mulut dan sikap mereka sendiri saeryung menyaksikan bahwa mereka saling mencintai. Semoga saeryung bisa kebuka hati dan pikirannya. Dunia terlalu bodoh untuk hanya mengurusin urusan yg bukan menjadi hak kita lagi girl ^^
    Dan bahagianya, saejin mau menerima kehadiran tuan yoon sekalipun dia masih menganggap beliau sebagai seorang tuan yoon bukan sebagai sesosok ayah kandungnya. Tapi hebat saejin mau menerima dengan ikhlas 🙂
    Makin kesini ceritanya makin ngena d hati. Ikut masuk ke dalam cerita. Semoga kakak makin semangat untuk melanjutin ff ini hingga saejin dan kyu serta baby cho berakhir dengan bahagia ^^
    Semangat untuk tugas nyata kakak dan hobi kakak. Aku kan setia menunggu kelanjuttan ff mu 😀

  14. Aku rela begadang smpe jam 3 bhkan smpe jam 4 gak tidur cma buat selsain nih ff.. Msih kurang 3 atau 2 part kyaknya.. Kyaknya mataku hampir mirip cem pnda..

    Mreka udh sling mncintai yeayy!!! Smoga kedepannya gk ada mslah lgi tpi msih kurng yakin lhat Sae Ryung cem gtu btw aku pngen tahu kbarnya Sunny dia skarang udh gak prnah nongol lagi stidaknya yah dia ngucapin maaf gtu sma SaeJin atas perbuatannya -_-

  15. Rada rada lpa pas pertama baca tp lama kelamaan nyambung kok.seperti biasa q suka ni couple.dan q suka sejin dsni bs melawN seryung.dan kyu tamba perhatian.
    cus ke part slanjutnya ahhh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s