Romance, Short Story

Trilogy; Sunflower- Part 3

Title: Sunflower; Part 3

Character: Cho Kyuhyun

Lee Joon-a

Rate: NC-21

Lee Joon-a terbangun keesokan paginya merasakan sekujur tubuhnya seperti baru saja tersengat listrik tegangan tinggi; lelah dan tak bertenaga. Tapi gadis itu tidak dapat memungkiri; dia sangat menikmatinya. Mungkin ini salah satu keuntungan dari hubungan mereka; mereka bisa saling membenci tanpa lupa untuk saling memberikan kenikmatan.

Senyum puas di wajah Joon-a menghilang. Sial, Lee Joon-a, pagi- pagi begini dan pikiranmu sudah mesum?

“Sepertinya kau sudah bangun, Nyonya Cho.” Suara dingin dan menghina itu menarik Joon-a ke kenyataan. Ia membuka matanya perlahan karena sengatan dari sinar matahari di luar jendela raksasa itu—menyadari bahwa sekarang ini dia masih tak berpakaian dan hanya dilindungi oleh selimut hangat, kemudian berbalik dan menemukan suaminya yang saat ini duduk di sampingnya, bersandar di kepala ranjang. Cho Kyuhyun telah berpakaian lengkap; tampak sangat tampan dengan kemeja biru gelap dan celana kasual, memakai kacamata bacanya sambil mengetik sesuatu di laptop.

“Aku pikir kau tidak akan bangun- bangun.” Sindir pria itu lagi. Joon-a tidak menjawab, hanya sibuk menyadarkan dirinya sendiri. Sepertinya ‘suami’-nya yang sangat menawan dan buas tadi malam telah kembali menjadi Cho Kyuhyun yang brengsek. Joon-a belum siap untuk menerima kenyataan tersebut; ia mengerang sedikit lalu menarik selimutnya dan melanjutkan tidurnya lagi—

Tunggu.

“Jam berapa sekarang?” tanya Joon-a panik, kedua mata sepenuhnya terbuka lebar.

Kyuhyun berpura- pura mengintip arlojinya lalu menjawab dengan malas sambil melanjutkan pekerjaannya. “Jam 10 pagi.”

Joon-a memekik kaget, sejenak kebingungan—tidak tahu harus berbuat apa, kedua tangannya masih menahan selimut itu sampai ke dada.

“Kenapa kau harus menutupnya?” tanya Kyuhyun dingin, menunjuk dada Joon-a. “toh aku bukan hanya sudah melihatnya.”

Wajah Joon-a yang semula pucat kini merah membara. Kyuhyun tentu saja tidak suka berpura- pura untuk tidak brengsek, tapi Joon-a sekarang sudah dalam kesadaran penuh untuk membalasnya.

“Tentu saja beda,” jawab gadis itu angkuh, “tadi malam aku mengijinkanmu melakukannya, tapi tidak pagi ini—atau juga hari- hari berikutnya.”

Kyuhyun mendengus meremehkan; meletakkan laptop dan kacamatanya di meja di samping tempat tidurnya, kemudian mendekatkan dirinya ke wajah Joon-a. Gadis itu refleks mundur perlahan dan memalingkan wajahnya—kedua pipinya bersemu merah, membuat Kyuhyun tersenyum. Situasi mungkin telah membuat Joon-a terpaksa berubah; tapi setidaknya Kyuhyun bisa merasakan bahwa gadis di depannya ini masih sama seperti gadis mungil yang dulu selalu mengikutinya. Atau mungkin Kyuhyun masih terbawa dengan kenangan masa kecil mereka.

Dan mungkin itu juga yang membuatnya masih membiarkan gadis ini bertahan di sampingnya sebagai istri.

“Kau… yakin?” tanya Kyuhyun tenang, tidak berniat menjauhkan wajahnya. Joon-a perlahan menatap suaminya. “Sepertinya semalam yang aku dengar berbeda—“ Kyuhyun memasang tampang pura- pura berpikir, “kau memintanya terus—“

Mulut Joon-a kontan terbuka dan wajahnya seperti udang rebus. “YAH CHO KYUHYUN!!!”

Kyuhyun mendengus kemudian kembali ke posisinya. “Cepat mandi dan pakai baju—aku harus ke kantor untuk memeriksa beberapa dokumen.”

“Ini kan hari Minggu,” gumam Joon-a tanpa sadar.

“Memangnya kenapa? Apa kau mengharapkan aku untuk menemanimu seharian?” Kyuhyun mengerutkan kening. “Atau… kau berharap kita akan melanjutkan kegiatan semalam?”

“Tentu saja tidak.” Balas Joon-a tajam, “aku punya rencana sendiri.”

“Baguslah—karena aku juga sangat sibuk.” Jawab Kyuhyun, mengambil laptopnya kembali dan melanjutkan pekerjaannya.

*

“Joon-a—yah,”

Joon-a bergidik, nyaris menjatuhkan garpu dari tangannya. Ia tersadar dan menatap ibunya yang duduk di seberang meja. Ternyata sedari tadi dia sedang melamun dan tidak memperhatikan penjelasan ibunya tentang butik barunya di Prancis.

“Kau kenapa?” tanya Nyonya Lee heran, meskipun ekspresinya tidak cukup baik untuk menunjukkan kekhawatiran. “apa ada masalah?”

Joon-a tidak menjawab, menusuk salad-nya dengan tidak bersemangat. Sesungguhnya dia sendiri tidak bisa menjawab pertanyaan ibunya; karena dia tidak tahu apa yang sedang terjadi dengan dirinya. Tiba- tiba dia merasa muak dengan semua yang harus dia lalui; menikahi seorang pria atas dasar balas dendam, pura- pura menjadi seorang menantu idaman yang baik demi memuaskan keinginan mertuanya; menjadi sasaran kebencian Kyuhyun dan dimaki- maki olehnya. Semua orang mengira Joon-a sedang menjalani kehidupan seorang putri kerajaan tapi pada kenyataannya kehidupannya menjadi lebih buruk daripada ketika dia hidup bersama ibunya saat dia Amerika; terkurung dan kesepian.

“Lee Joon-a—“

“Aku tidak apa- apa, Eomma,” kata Joon-a meyakinkan.

Nyonya Lee hanya mengangkat keningnya, sementara putrinya melanjutkan makan dalam diam, tidak begitu menikmati sayur- sayuran berlumur saos krim yang dikunyahnya.

“Tenggat waktunya hampir tiba…”

Joon-a berhenti mengunyah makanan memuakkan itu, perlahan menatap ibunya yang ternyata sedari tadi tidak lagi melanjutkan makanan dan hanya memperhatikannya.

“…kuharap ada kabar baik yang bisa kau berikan padaku.” Nyonya Lee meneguk wine merah itu dengan anggun.

Joon-a menarik napas panjang, berusaha mengumpulkan kesabaran yang tersisa. Mungkin karena itulah dia tidak begitu menikmati makan siang bersama ibunya yang telah lama tidak dia temui. Topik yang mereka perbincangkan tidak pernah jauh dari rencana ibunya hingga semakin lama dia menjadi semakin muak.

“Aku tidak ingin berbohong; sampai saat ini tidak ada kabar baik yang bisa kuberikan.”

Belum ada?” tanya ibunya dengan nada tenang tapi cukup memaksa, “masih ada waktu yang tersisa—“

Eomma.” Joon-a menutup mata, meletakkan garpunya dengan tidak sabar. Kapan terakhir kali perbincangan mereka cukup menyenangkan untuk dilanjutkan? Dia lupa kapan terakhir kali mereka membicarakan hal- hal ringan seperti pakaian yang sedang tren atau masalah- masalah sahabat ibunya yang patut ditertawakan; semua berubah ketika Joon-a dewasa dan dianggap ‘siap’ oleh ibunya untuk membalaskan dendam keluarga mereka pada keluarga Cho.

“Tentu saja, tidak seharusnya aku terlalu mengharapkannya padamu.” Kata ibunya lagi, lebih seperti bicara pada dirinya sendiri, “Cho Kyuhyun terlalu bodoh dan kau terlalu terbawa perasaan karena masa lalu kalian. Sepertinya menikahkan kalian berdua bukanlah keputusan yang cukup tepat.”

Joon-a tidak menjawab; menatap pot bunga kecil sebagai hiasan di atas meja dengan enggan—menahan keinginan besar untuk melemparkannya ke wajah ibunya. Dia tidak ingin menjadi anak durhaka—tapi pikiran itulah yang menjebaknya pada keadaan ini.

“Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi.” Kata Nyonya Lee, sama sekali tidak terpengaruh dengan wajah sedih ibunya. “perusaan mereka akan membuat kongsi baru dengan menggabungkan beberapa anak perusahaan mereka maka saat itulah—perusaan ayahmu akan lenyap. Sebelum itu terjadi, aku harus mendapatkan kembali perusahaan itu!”

“Kenapa itu sangat penting bagimu? Apa kau sendiri bisa memimpinnya? Appa memang berhasil membangunnya, tapi apa kita bisa mempertahankannya?”

“Diam!” bentak Nyonya Lee gusar; mereka berdua saat ini berada di dalam ruangan VVIP hingga Joon-a kembali dengan bebas dapat diserang oleh ibunya sendiri. “Kau kenapa? Apa yang sudah anak bodoh itu tanamkan padamu? Aku memintamu untuk mempengaruhinya, bukan sebaliknya!”

Aku lelah.” Kata Joon-a dingin, menatap hampa ibunya. Dua bulir airmata membasahi pipinya. “Aku tidak ingin hidup seperti ini lagi, Eomma—aku sangat mencintai Appa, tapi aku percaya dia pasti juga tidak ingin aku melakukan hal seperti ini.” Dadanya terasa sesak saat mengatakan ini, dia tidak ingin mengecewakan ibunya. Tapi di lain hal; dia tidak ingin membenci dirinya sendiri karena melakukan hal yang tidak seharusnya.

Cukup mengherankan melihat ibunya sendiri tidak terkejut dengan ucapannya. Joon-a sempat mengira beliau akan menyiramnya dengan wine di gelas kacanya itu atau mengumpatnya dengan kata- kata kasar mengingat untuk menamparnya cukup menyusahkan karena mereka duduk berseberangan. Sebaliknya, wanita itu malah mendengus meremehkan.

“Jadi, kau ingin hidup bahagia bersama Cho Kyuhyun dan menjadi menantu keluarga kaya raya?” Nyonya Lee menyeringai,

“sadarlah, Lee Joon-a. Anak itu, mencintai wanita lain—mereka seharusnya menikah dan hidup bahagia tapi aku menghancurkan semuanya dengan mempengaruhi orangtua Kyuhyun agar akhirnya anak bodoh itu menikah denganmu. Kalau bukan karena itu, kau saat ini bukan siapa- siapa. Apa kau begitu inginnya hidup dengannya meskipun dia mencintai gadis lain dan bukan kau?”

Deg.

Rasanya seperti ada ribuan pisau yang menghantam dada Joon-a; mengoyak- ngoyak isi jantungnya dan menaruh garam di dadanya. Ini sangat bodoh; tidak seharusnya rasanya sesakit ini. Dia tidak mencintai Cho Kyuhyun—dia membenci pria itu malah; Kyuhyun telah berkali- kali mengecewakannya dan meninggalkannya sendiri. Alasan pernikahan mereka adalah karena balas dendam. Lagipula perkataan ibunya sangat tepat sasaran.

Cho Kyuhyun mencintai gadis lain dan bukan dia. Jadi, untuk apa Joon-a ingin hidup tenang bersamanya?

Kau, telah mengambil posisi yang bukan milikmu. Nyonya Muda Cho seharusnya adalah gadis miskin itu dan bukan kau. Susah payah aku memberikannya padamu, dan ini balasanmu padaku??”

Bibir Joon-a bergetar dan pandangannya mengabur. Kenapa rasanya sangat menyakitkan apalagi dikatakan oleh ibunya sendiri? Dan yang lebih menyakitkan lagi adalah karena semuanya benar. Kedua tangannya mengepal di bawah meja.

“Sudahlah—kau terlalu lemah untuk diandalkan.” Nyonya Lee melambaikan tangannya dengan bosan. “Aku telah mengundang seseorang yang sangat penting kemari. Sekarang hapus air matamu dan jangan katakana apapun selama aku berbicara dengannya, mengerti?”

“S—siapa?”

Ibunya hanya tersenyum kecil, dan Joon-a tahu benar itu adalah tanda bahwa masih ada rencana jahat lain yang belum dia ketahui.

*

Cho Kyuhyun menatap tajam tumpukan foto di atas meja kerjanya. Kedua keningnya saling bertaut dan bibirnya membentuk garis tipis.

Tidak seharusnya dia tidak terkejut melihat foto- foto ini; Lee Joon-a adalah seorang pengkhianat, kaki tangan ibunya dan karena itulah sekarang ini Kyuhyun dan gadis itu terjebak dalam pernikahan yang sama- sama tidak mereka inginkan. Joon-a sendiri tidak repot- repot mengingkarinya, dan karena itulah Kyuhyun masih sedikit berharap kelicikkan gadis itu hanya semata- mata karena paksaan ibunya.

Tapi kenapa rasanya dia ingin menghancurkan meja kerjanya sekarang ini juga?

“Kapan foto ini diambil?” tanya Kyuhyun tenang, meskipun gerak- geriknya cukup menakuti asistennya yang sekarang ini berdiri di sampingnya, berbicara dengan penuh kehati- hatian.

“Satu jam yang lalu di restoran Melrose.” Jawab Asisten Choi.

Kyuhyun menarik nafas panjang. “Entah sudah keberapa kalinya aku memperingatkan ayahku tentang keserahann Tuan Han; aku hanya tidak mengira dia mau saja bekerja sama dengan wanita itu.”

Asisten Choi mengerutkan kening; Tuan muda Cho memang cukup lama telah mencurigai Tuan Han—tapi mengapa tuannya ini tidak terkejut mendapati bahwa pria paruh baya itu bekerja sama dengan istri dan ibu mertuanya untuk merebut perusahaan LJA? Apakah Tuan muda Cho tahu ‘gerakan-bawah-tanah’ istrinya tersebut?

Tentu saja, kalau tidak, untuk apa Tuan muda Cho menyuruh detektif memata- matai istrinya?

“Di mana mereka sekarang ini?”

“Nyonya muda telah pergi lebih dulu, dan—“

“Cukup sampai hari ini.” Kata Kyuhyun dingin, melepas kacamatanya dan menutup map yang sedari tadi dipelajarinya dengan sedikit kasar, membuat asisten Choi bergidik. Karena sebenarnya masih ada lagi informasi yang harus dia sampaikan. “Ah, apa selain aku, ada yang melihat foto ini?”

Ekspresi di wajah asisten Choi berubah, pria itu dengan gugup menambahkan.

“Sepertinya, Ketua Cho juga menyuruh detektif untuk memata- matai ibu mertua Anda.”

*

“Sejak kapan Anda tahu?”

Tuan Cho tak menjawab pertanyaan putranya; duduk dengan tenang di sofa empuk ruang bacanya, membolak- balikkan halaman koran dengan bosan. Cho Kyuhyun segera pergi ke rumah orang tuanya begitu mendengar informasi asistennya. Fakta bahwa ternyata ayahnya sendiri juga mencurigai Nyonya Lee cukup mengejutkan sehingga Kyuhyun sendiri ragu untuk memberitahukan keadaan yang sebenarnya.

“Kalau ibu mertuamu ingin merebut perusahaan itu?” tanya Tuan Cho dingin, membaca halaman terakhir koran dengan saksama. “Aku hanya mencurigainya. Seseorang yang berselisih denganmu kemudian belasan tahun pergi ke daerah jauh dan tiba- tiba kembali dengan mencoba dekat padamu sangat patut dicurgai, Nak.”

Kyuhyun terdiam. Ini semuanya membuat dia semakin bingung; kalau begitu, kenapa orang tuanya menerima perjodohan ini? Untuk menjaga musuhmu tetap dekat di sekitarmu? Tapi tidakkah keterlaluan untuk menyangkutkannya dengan masalah pernikahan?

“Aku hanya tidak menyangka istrimu juga turut andil di dalamnya.”

Dia hanya alat.” Kyuhyun kaget mendengar dirinya menjawab secepat itu. Hanya saja sesuatu dalam kepalanya tidak setuju bila seseorang mengatai Joon-a seperti itu. Cukup aneh mengingat dia sendiri mencurigai istrinya. “Entah apa yang dikatakan ibunya padanya.”

“Tapi tetap saja dia terlibat,” ujar Tuan Cho lagi, “dia lebih memilih mempercayai apapun yang diceritakan ibunya dan membantunya, daripada mencari tahu kebenarannya.”

“Karena dia tidak pernah berpikir ibunya sendiri akan menipunya.” Tambah Kyuhyun lagi, semakin lama semakin mengutuk dirinya sendiri karena terus membela seseorang yang tidak pantas dibela. “Aku juga akan langsung mempercayai apapun yang kau katakan padaku, Abboji.

“Aku tidak akan pernah membohongimu.” Kata Tuan Cho serius, meletakkan korannya dan memberikan seluruh perhatiannya sekarang pada putra semata wayangnya.

“Kalau begitu katakan padaku yang sebenarnya. Karena cepat atau lembat dan dengan cara apapun aku pasti akan mengetahuinya.”

Tuan Cho menatap Kyuhyun sejenak, jelas mempertimbangkan antara memberitahu yang sebenarnya atau mengulur waktu sampai saat yang tepat tiba; tapi di sisi lain berpendapat bahwa keadaan sekarang ini sedikit berubah dari perkirannya dan Kyuhyun toh cepat atau lambat akan mengetahui kebenarannya.

“Aku memang mengambil perusahaan LJA itu dari tangan ayah Joon-a.”

Kyuhyun tertegun. Ini bukan jawaban yang dia harapkan.

“Ayah Joon-a berutang besar pada perusahaan kita. Perusahaan yang dibangunnya dengan susah payah itu akhirnya membuahkan hasil; tapi, ayah Joon-a menginginkan lebih, maka dia membangun cabang pabrik di pulau Jeju dan daerah menjanjikan lainnya meskipun saat itu tidak tepat untuk kondisi keuangannya. Tapi pembangunan pabrik itu berhenti di tengah jalan karena keadaan ekonomi saat itu sedang ambruk. Dia frustasi dan menggadaikan aset perusahaannya pada perusahaan kita untuk mendapatkan pinjaman dana. Tapi ternyata kerusakan yang harus dia tanggung melebar hingga dana yang diberikan tidak cukup. Aku ingin membantunya, tapi dewan direksi menolak karena nilai perusahannya sangat terpuruk. “ rahang Tuan Cho menegang, kembali mengingat masa- masa yang tidak ingin diingatnya, “dia datang padaku dan memohon bantuan tapi—aku tidak bisa karena saat itupun keadaan perusahaan kita tidak begitu baik. Perusahannya terancam pailit dan—“ Tuan Cho menarik napas panjang seolah tidak mampu meneruskan ceritanya. Yah, saat itulah ayah Joon-a meninggal karena serangan jantung.

“Kalau begitu—alasan mengapa Joon-a sebaiknya tidak tahu adalah—“

“Apa kau pernah mendengarnya? Anak ibaratnya adalah sekuntum bunga matahari, dan orang tua adalah mataharinya. Kehilangan mereka sama saja dengan kehilangan arah. Bagi Joon-a, ayahnya adalah manusia paling sempurna dan paling dia cintai. Ayahnya tidak ada cela, dengan pikiran itulah, gadis kecil yang baru saja ditinggalkan ayahnya mampu bertahan sejauh ini. Bagaimana perasaanya kalau aku mengatakan padanya bahwa ayahnya ‘serakah’ hingga menghancurkan hidupnya sendiri?”

“Dan kau membiarkan dia salah paham padamu selama ini?” Kyuhyun tahu ayahnya memang baik, tapi dia tidak percaya ayahnya mau saja melakukan ini.

Tuan Cho tidak menjawab, kembali membuka koran dan membacanya.

“Cari pembukuan keuangan Han Jungro dan berikan padaku. Kalau kau berani menggoncang sebuah kapal, siap- siaplah dengan riak air yang diakibatkan.”

*

Lee Joon-a menghabiskan satu jam terakhir dengan duduk merenung di atas hamparan rumput, memeluk kedua lututnya. Terakhir kali dia mengunjungi tempat ini adalah bulan lalu—hidupnya terlalu sibuk dengan kepura- puraan akhir- akhir ini hingga dia tidak sempat meluangkan waktu untuk bertemu dengan ayahnya. Joon-a sendiri tidak merasa pantas datang bertemu dengan ayahnya setelah kejahatan yang dia perbuat bersama ibunya.

Appa, kau… pasti kecewa padaku kan?” tanya Joon-a pelan, menatap sendu batu nisan berukuran sedang di depannya yang sedari tadi menemaninya dalam diam. “Aku bukan lagi Lee Joon-a yang selalu kau pamerkan karena kepolosan dan keluguannya.” Dua bulir air mata memasahi pipi Joon-a, “tapi, Eomma sangat menderita setelah kau pergi, dia bekerja keras untuk tetap menghidupi kami—aku” Joon-a terisak, “aku hanya ingin membayar penderitaannya tapi—haruskah aku melakukannya sejauh ini?”

Kalau dipikir- pikir, hidupnya pasti tidak akan semiris ini bila ayahnya masih hidup. Dia tidak harus hidup seperti seorang putri kerajaan; dia hanya ingin hidup dengan baik bersama orang tuanya; ayahnya pasti bisa melindunginya dari pria- pria yang mencoba mendekatinya, ibunya tidak harus bekerja keras untuk tetap mempertahankan kehidupan mewah mereka; terlebih lagi—dia tidak harus hidup seperti ini dan dibenci oleh Cho Kyuhyun.

“Anak itu, mencintai wanita lain—mereka seharusnya menikah dan hidup bahagia tapi aku menghancurkan semuanya dengan mempengaruhi orangtua Kyuhyun agar akhirnya anak bodoh itu menikah denganmu. Kalau bukan karena itu, kau saat ini bukan siapa- siapa. Apa kau begitu inginnya hidup dengannya meskipun dia mencintai gadis lain dan bukan kau?”

Joon-a memegang dadanya. Benarkah… Kyuhyun benar- benar mencintai gadis itu? Dan benarkah Joon-a telah merusak kebahagiaan mereka dengan pernikahan ini? Rasanya sangat sakit bila seseorang datang menyodorkan kenyataan yang sebenarnya dan melemparnya ke wajahmu.

“Joon-a—yah, kau harus menuruti saranku. Saat aku bilang kau harus memanggilku ‘Oppa’, kau harus memanggilku ‘Oppa’. Saat aku melarangmu bermain dengan teman- teman cowokku, kau harus mematuhinya. Dan saat kami bermain bola kaki, kau hanya boleh meneriakki namaku.”

“Kenapa harus seperti itu?”

“Kau keberatan? Kalau begitu lupakan saja—aku tidak suka menikahi orang yang tidak suka mematuhi kata- kataku!”

“Tidak—aku akan mengikuti apapun yang kau katakan, Kyuhyun Oppa!”

Rasanya Joon-a hampir lupa ke mana gadis kecil itu pergi. Sekarang yang ada hanyalah Lee Joon-a, si gadis cantik materialistis dan menggunakan penampilannya yang rupawan untuk mengambil keuntungan. Gadis yang sangat disayangi oleh ayahnya dan Cho Kyuhyun itu telah hilang.

Kenapa dia tidak mati saja?

Tangisan Joon-a terhenti ketika mendengar dering ponselnya. Gadis itu mengusap kedua matanya lalu mengambil ponsel itu dari tas kecilnya; tertegun ketika melihat nama asisten Choi tampil di layar. Joon-a jarang sekali berinteraksi dengan asisten favorit Cho Kyuhyun itu. Pada dasarnya, Kyuhyun lebih banyak menghabiskan waktu dengan pria itu daripada dengan siapapun di dunia ini.

Setelah mengatur nafasnya agar kembali normal, Joon-a menjawabnya.

“Y—yoboseyo?”

*

Lee Joon-a berlari menyusuri koridor rumah sakit dengan napas tersengal- sengal—tidak, dia sendiri hampir lupa caranya bernapas. Jantungnya nyaris terlepas dari dadanya saat mendengar penjelasan dari asisten Choi. Sialnya dia tidak mengendarai mobil dan taksi yang ditumpanginya mogok beberapa meter dari rumah sakit sehingga dia harus berlari- lari kecil sambil memegang high heels-nya. Tapi semua perasaan itu seolah tak mampu lagi dicernanya karena fakta bahwa Kyuhyun baru saja mengalami kecelakaan benar- benar telah memblokir sistem pikiran di kepalanya.

Setelah sesi lari yang sangat menyiksa itu akhirnya Joon-a menemukan nomor kamar yang diinformasikan asisten Choi. Pria pendek gemuk itu berdiri di depan pintu kamar dengan ekspresi gusar di wajahnya.

“Youngho—ssi,”

“Nyonya muda!” asisten Choi terlihat panik ketika melihatnya, seperti melihat hantu.

“Bagaimana—hh—keadaan—hh—nya?” Joon-a lupa untuk bernapas.

“Nyonya muda, apa kau ke sini dengan berlari?” tanya Asisten Choi heran.

“Bagaimana keadaannya? Apa aku boleh masuk?”

“Tuan muda baik- baik saja, kecelakaannya ringan, dokter menganjurkan observasi untuk beberapa jam sebelum pulang. Tapi—“ kali ini asisten Choi terlihat ketakutan untuk meneruskan kalimatnya, seolah takut menimbulkan kekacauan.

“Ada apa? Apa aku tidak boleh masuk?” tanya Joon-a heran, masih sibuk menormalkan tempo pernapasannya. Tidak mungkin Kyuhyun melarangnya masuk kan?

“Tentu saja boleh—tapi—“

Tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut Joon-a segera membuka pintu kamar dan berlari ke dalam, berharap agar bayangannya yang mengerikan sedari tadi salah besar—

Tapi ternyata pemandangan di depannya sama sekali tidak terduga.

Cho Kyuhyun baik- baik saja, tentunya, memakai piyama rumah sakit, berdiri di samping tempat tidur dengan Im Hanna yang memeluknya erat. Hanna menangis sambil memeluk pria itu dengan erat, sementara Kyuhyun, di sisi lain, hanya diam mematung, tidak membalas pelukan gadis itu, tapi juga membiarkan hal itu terjadi. Ekspresi di wajah tampannya tak terbaca.

Tapi pelukan itu kontan terhenti ketika mendengar suara sepatu Joon-a yang jatuh ke lantai. Ia menatap ‘pasangan’ di depannya dengan hampa. Hanna terlihat sangat terkejut dan tak tahu harus berbuat apa sementara Kyuhyun hanya menatap Joon-a dengan dingin. Tentu saja, pria itu pasti menganggap Joon-a menginterupsi momen mesra mereka yang sangat jarang didapatkan. Hal ini membuat dada gadis itu terasa lebih nyeri. Seharian ini dia sibuk menganggap dirinya sebagai penghalang dari hubungan Kyuhyun dan Hanna, tapi melihat gadis itu memeluknya membuat amarah Joon-a kembali bangkit.

“Aku—“

“Aku akan segera pergi kalau aku jadi kau, Hanna—ssi.” Kata Joon-a dingin, memotong kalimat Hanna, sementara matanya tak lepas dari wajah Kyuhyun. Hanna mengusap kedua matanya, mengambil tas di kursi dan meninggalkan kamar itu tanpa mengatakan apapun sementara Joon-a dan Kyuhyun sibuk dengan perang tatapan.

“Saat mendengar kau kecelakaan aku membayangkan kepalamu pecah atau biji matamu keluar dari kantongnya.” Joon-a mengendus. “Sepertinya aku berharap terlalu tinggi.”

“Kau bilang kau sangat sibuk hari ini.”

Joon-a tertegun. “Jadi, karena itu kau mengundang perempuan itu kemari? Agar kalian bisa bebas bermesraan.”

Kyuhyun berjalan pelan lalu duduk di ranjang besarnya. “Kau bilang kau cerdas, kenapa kau baru sadar sekarang?”

“Apa kalian juga sering bertemu diam- diam seperti ini sebelumnya?”

“Sejak kapan kau begitu ingin tahu? Kau sendiri bilang yang penting aku memberikanmu uang untuk dihabiskan. Apapun yang aku lakukan bersama dia seharusnya bukan urusanmu, Lee Joon-a.”

Joo-a terdiam, kedua tangannya yang mengepal bergetar hebat.

Kau, telah mengambil posisi yang bukan milikmu. Nyonya Muda Cho seharusnya adalah gadis miskin itu dan bukan kau.

“Dan aku tidak perlu bertemu diam- diam untuk menghindarimu. Aku bertemu dengan siapapun yang ingin aku temui, karena pendapatmu sama sekali tidak berharga untukku. Mengerti?” kata Kyuhyun kasar, mengambil buku dari meja di samping tempat tidur. “Sekarang tugasmu adalah mengurus pembayaran biaya perawatan di—“

“Aku akan menghancurkanmu dan gadis itu.”

Kyuhyun perlahan mengalihkan tatapannya dari buku ke arah Joon-a. Joon-a tidak pernah terlihat semarah ini; bahkan ketika Kyuhyun menghinanya habis- habisan. Kedua matanya berkaca- kaca dan gadis itu seperti siap meledak kapan saja. Ada apa dengan Lee Joon-a yang dikenalnya?

Sesaat hati Kyuhyun terasa perih tapi pria itu kemudian teringat apa yang telah Lee Joon-a lakukan dengan ibunya.

“Jangan mengatakan hal yang tidak mampu kau lakukan, Lee Joon-a.” kata Kyuhyun tenang. “Karena sebelum kau bahkan memulainya, aku sudah menghancurkanmu dan ibumu lebih dulu.”

“Kau benar- benar brengsek, Cho Kyuhyun.”

Kyuhyun tertawa sinis. “Kenapa sih kau? Sepertinya kau terpengaruh sekali dengan kejadian tadi. Atau, jangan- jangan kau mulai merasa menjadi istriku yang sebenarnya?”

Joon-a mengerutkan keningnya. Setiap perkataan Kyuhyun seperti pisau yang mengoyak jantungnya.

“Hanya karena kita berhubungan seks semalam, bukan berarti aku mulai menganggap serius statusmu sebagai istriku, Lee Joon-a.” Kyuhyun membuka bukunya kembali. “Kau tidak lebih dari gadis yang kugunakan untuk memuaskan keinginanku. Kau hidup senang dengan menggunakan uangku, bukankah sudah sepantasnya kau membayarnya sedikit saja?”

Kyuhyun sengaja tidak ingin melihat reaksi Joon-a atas perkataannya. Untuk suatu alasan, dia tidak mampu melakukannya. Tapi gadis itu pasti akan membalasnya dengan kata- kata yang jauh lebih kejam bukan? Lee Joon-a tidak pernah kalah dari debat seperti ini.

“B—benarkah?” suara Joon-a bergetar, terdengar sangat datar. “B—benarkah k—kau berpikir seperti i—itu?”

Deg.

Kyuhyun terdiam. Ini sama sekali bukan reaksi yang dia harapkan, ini jauh dari perkiraannya. Dan entah mengapa, dia merasakan dorongan kuat untuk menarik kembali kata- kata itu.

“Kau tahu jawabannya.” Ujar Kyuhyun dingin tanpa perasaan, berpura- pura membaca buku itu dengan saksama. “Untuk apa lagi kau bertanya.”

Detik berikutnya dia mendengar langkah Joon-a yang berlari meninggalkan kamar. Gadis itu bahkan tidak repot- repot untuk mengambil sepatunya. Kyuhyun menarik napas sesaat lalu melempar buku itu ke meja di depannya, membuat lampu dan hiasan di atasnya jatuh.

Shit. Apa yang baru saja dia lakukan?

*

Joon-a tidak perduli dengan tatapan orang- orang di sekelilingnya; tidak juga terpengaruh dengan derasnya hujan yang membasahi sekujur tubuhnya. Dia juga tidak tahu harus pergi ke mana; yang pasti dia harus berada sejauh mungkin dari ibunya, Cho Kyuhyun, keluarga Cho, dan kehidupannya yang pahit. Hidup yang selama ini dia jalani cukup menyiksa, dan kata- kata Cho Kyuhyun barusan membuat semuanya menjadi lebih menyakitkan. Setidaknya dia mengira dirinya aman bersama pria itu, tapi bahkan Kyuhyun pun tidak lagi menganggapnya berharga.

“Kau tidak lebih dari gadis yang kugunakan untuk memuaskan keinginanku. Kau hidup senang dengan menggunakan uangku, bukankah sudah sepantasnya kau membayarnya sedikit saja?”

Rasanya sangat menyakitkan setiap kalimat itu terngiang- ngiang di kepalanya. Mengapa Kyuhyun mengatakannya? Benarkah dia berpikir seperti itu? Semalam semuanya terasa mimpi untuk Joon-a, dia benar- benar merasa disayangi oleh pria itu. Tapi ternyata bagi pria itu Joon-a tidak lebih dari pemuas nafsunya.

Tentu saja, bodoh, umpat Joon-a dalam hati. Dia mencintai gadis lain. Dia mencintai Lee Hanna yang anggun, baik hati, dan mandiri. Kau tidak lebih dari boneka porselen mewah yang digunakan Kyuhyun sebagai pajangan dan memuaskan keinginannya. Dan sedihnya, kau tidak bisa keberatan karena kau sendiri berfoya- foya dengan uangnya.

Tapi aku juga dulu seperti itu, suara lain dalam kepala Joon-a berteriak. Aku juga seperti Hanna.

Apakah sekarang… benar- benar tidak ada harapan lagi bagi mereka berdua? Benarkah sekarang Joon-a tidak lebih dari gadis licik dan berbahaya untuk Kyuhyun? Kalau begitu, berarti dia telah melupakan masa lalu mereka?

Sepertinya, hidup Joon-a memang sudah tidak berarti lagi. Ibunya tidak lagi menganggapnya berharga. Ayahnya meninggalkannya dan Kyuhyun juga tidak lagi menginginkannya.

Joon-a menghentikan langkahnya, membiarkah suara petir menakutinya. Dia menyukai hujan, tapi di sisi lain dia benci dengan suara petir. Sepertinya ini bukan hari baiknya, semua orang menyerangnya, bahkan langit sendiri juga memberikannya masalah.

Kalau begitu… apa gunanya dia hidup?

Dering ponsel dalam tas kecilnya menarik Joon-a dari lamunannya.

*

“Sampai saat ini kami belum menemukan pembukuan Tuan Han,” suara asisten Choi terdengar ketakutan dari ujung sana. Kyuhyun menggenggam ponselnya dengan erat, “sepertinya Tuan Han juga mulai mencurigai gerak- gerik kita. Kami sedang berusaha menghubungi asistennya.”

“Hubungi aku kalau hasilnya sudah ada.” Kata Kyuhyun dingin, mematikan ponselnya lalu melemparnya ke sofa. Ia pulang ke rumah lebih awal dari yang dianjurkan dokter karena mengira akan menemukan Lee Joon-a di situ. Tapi jam di dinding menunjukkan pukul 11 malam dan gadis itu belum juga terlihat.

Dan mungkin saja dia tidak akan kembali lagi?

Pikiran itu mau tidak mau membuatnya kalut. Kyuhyun tidak tahu mengapa dia harus mengatakan hal- hal seperti itu; yang dia tahu hanyalah kemarahannya pada Joon-a karena rencana jahatnya bersama ibunya, dan kekecewaannya karena gadis itu lebih memilih untuk percaya pada ibunya dan membiarkan dirinya sendiri berubah menjadi Lee Joon-a seperti sekarang ini.

Tapi ke mana dia pergi?

Kyuhyun menatap rintik hujan di luar sana dan menghela napas. Joon-a toh sudah dewasa; dia tidak cukup bodoh untuk membiarkan dirinya dalam bahaya. Tapi suasana hati gadis itu sedang kacau—bagaimana kalau dia membiarkan dirinya dilukai seseorang? Joon-a sangat cantik, dia selalu menjadi pusat perhatian para pria—bagaimana kalau mereka berbuat usil dan mengganggunya?

Pikiran itu membuat perasaan kalut Kyuhyun menjadi berkali lipat. Ia menyambar jaketnya di sofa, memakainya dan berlari ke pintu yang tiba- tiba terbuka, menampakkan sosok yang sedari tadi menjadi sumber pikiran kalutnya.

Lee Joon-a melangkah masuk dengan gontai; sekujur tubuhnya basah. Tatapan gadis itu datar, seolah dia baru saja menyaksikan sesuatu yang membuatnya trauma. Kyuhyun terdiam di tempatnya, menahan dorongan yang sangat besar untuk berlari menghampiri gadis itu dan memeluknya. Joon-a terlihat sangat rapuh; sepertinya dia benar- benar berjalan kaki seharian ini. Menurut asisten Choi gadis itu panik dan ketakutan ketika mendengar berita kecelakaan itu; masuk ke dalam kamar dan menemukan suamimu dipeluk gadis lain tentu tidak membuat semuanya menjadi lebih baik.

Dan kalimat menyakitkan dari Kyuhyun benar- benar memperburuk semuanya.

“Lee Joon-a.” bisik Kyuhyun.

Joon-a sepertinya menyadari kehadiran Kyuhyun tapi lebih memilih untuk tidak mengindahkannya. Wajah cantiknya terlihat sangat pucat; gadis itu berjalan ke arah kamar utama dengan langkah tertatih- tatih dan Kyuhyun cukup cepat menangkapnya sebelum dia terjatuh.

“K—kau demam,” gumam Kyuhyun ngeri.

“Lepaskan aku.” Ujar Joon-a datar, tidak berniat menatap wajah suaminya sedikitpun. Kyuhyun mencelos; dia belum pernah melihat gadis itu seterpukul ini. Mereka selalu bertengkar dan Kyuhyun selalu mengatakan hal- hal menyakitkan padanya tapi sepertinya hari ini adalah puncaknya. Dan dari matanya yang merah sepertinya dia juga baru saja menangis habis- habisan.

Kyuhyun pasti telah membuat masalah yang sangat fatal.

“Lee Joon-a,”

“Jangan sentuh aku.” Gadis itu tidak terdengar marah, malah terlihat seperti memohon. “Aku tidak pantas—“ Joon-a berbisik sedih, menutup matanya dan meringis.

Kyuhyun menutup matanya, hatinya serasa tercabik- cabik. Bukankah dia selalu berjanji akan melindunginya—kenapa sekarang dia malah terus melukai Joon-a?

“Tadi itu salahku,” kata Kyuhyun lagi. “Aku sengaja mengatakannya untuk melukaimu—tapi—“

“Tidak, kau benar.” Kata Joon-a lemah, mencoba untuk tersenyum. “Aku memang tidak pantas menjadi istrimu.”

“Lee Joon-a.”

Joon-a menutup matanya sejenak, dua bulir air mata jatuh membasahi pipinya. Sesaat keduanya duduk diam di lantai; tidak ada yang berani menatap satu sama lain. Kyuhyun tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Satu hal yang dia tahu; betapapun dia ingin memeluk gadis itu dan menenangkannya, dia tidak pantas melakukannya.  Dialah yang membuat Joon-a terkapar seperti ini; dia yang melukai hatinya. Dan saat gadis itu membutuhkan pertolongannya dia malah menyiksa Joon-a secara mental.

“Katakan padaku.”

Dengan sisa kekuatan yang ada perlahan Joon-a menenagadah menatap suaminya.

“Katakan padaku apa yang kau pikirkan.” Kata Kyuhyun dingin, tidak ingin menatap gadis itu yang saat ini sangat lemah dan kesakitan. “Katakan padaku apa yang tidak bisa kau katakan selama ini.”

Joon-a sepertinya memang benar- benar tidak memiliki tenaga; meskipun dari sorot matanya Kyuhyun dapat merasakan gadis itu bingung.

“Hal- hal yang tidak aku tahu, hal- hal yang aku lewatkan tentang dirimu. Semua yang kau alami, ceritakan padaku.”

Joon-a tersenyum sedih. “Lalu… apa yang akan kau lakukan? K—kau bahkan menyuruh orang detektif membuntutiku.”

Yah, Joon-a mengetahuinya. Ayah mertuanya memanggilnya tadi dan menjelaskan semuanya. Tuan Cho tidak marah, tapi beliau benar- benar kecewa padanya dan menganggap tidak ada cara lain selain menceritakan yang sebenarnya terjadi tentang ayahnya dan alasan mengapa perusahaan itu bisa jatuh ke tangan keluarga Cho.

Bahwa ternyata semua yang diceritakan ibunya padanya adalah kebohongan dan Joon-a telah menyimpan dendam untuk alasan yang tidak pernah ada.

“Kalau aku bilang bahwa aku menyesal telah menyuruh detektif membuntutimu, apa kau percaya?”

Joon-a tertawa lemah. Tapi Kyuhyun terlanjur telah melakukannya; ini semua membuktikan bahwa Kyuhyun tidak lagi mempercayainya. Bahwa semua di antara mereka telah berubah.

“Apapun yang kau katakan, aku akan mempercayainya.” Ujar Kyuhyun lemah, seolah dapat membaca isi kepala Joon-a. “Aku tidak akan menganggapnya sebagai alasan yang kau buat untuk menjelaskan perbuatanmu.”

Sesaat mereka kembali diliputi keheningan.

“Aku menunggumu.”

Joon-a tersenyum lemah, menatap hampa bayangannya di lantai marmer yang mengkilat itu. Di sisi lain, gadis itu terlihat sangat sedih mengakuinya.

“Aku menunggumu selama 14 tahun.” Tambah Joon-a lagi. “Saat Appa sekarat, kau bilang Appa akan baik- baik saja. Saat semua orang mengatakan dia akan pergi meninggalkanku, aku tidak mempercayai mereka karena kau bilang dia akan baik- baik saja.”

Kyuhyun menatap Joon-a lekat- lekat. Yah, dia ingat sekali saat ayah Joon-a meninggal; gadis itu menjadi sangat pendiam dan lebih suka mengurung diri di kamar. Tapi dia tetap mengijinkan Kyuhyun masuk dan menghiburnya.

“Saat ibu membawaku pergi ke Amerika, kau berjanji akan menjemputku dan mengajakku tinggal bersama kalian di sini. Aku selalu menunggu agar kau datang dan menjemputku, karena itu aku melanjutkan sekolahku, aku juga berkencan dengan beberapa senior, berharap saat kau datang kau akan melihatnya kemudian menghajar mereka dan marah padaku. Aku ingin menunjukkan padamu bahwa aku adalah gadis cantik dan populer, semua orang ingin berkencan denganku. Tapi kau tidak pernah datang menengokku, kau bahkan tidak pernah menghubungiku lagi. Ternyata, kau bertemu dengan gadis lain.”

Kyuhyun menutup matanya. Dia tidak melakukannya dengan segaja—semuanya terjadi begitu saja; kesibukkannya, tuntutan keluarganya agar dia secepatnya mengambil alih perusahaan itu. Pertemuannya dengan Lee Hanna juga tidak disengaja; mereka merasakan kecocokkan dank arena Kyuhyun kagum dengan Hanna yang bekerja keras untuk mengubah nasibnya.

“Saat ibu memaksaku melakukan semua ini dan orangtua kita menikahkan kita; awalnya aku tidak ingin melakukannya karena aku kecewa padamu. Tapi, kau pernah berjanji akan membuatku menjadi istrimu, dan aku berkata pada diriku ‘dia menepati janjinya, dia akan menikahiku’. Tapi—“ Joon-a tertawa kecil hingga dua bulir air mata jatuh memasahi pipinya, “tapi ternyata kau menyetujuinya dengan terpaksa. Dan ternyata kau telah memiliki gadis lain.” Joon-a memainkan ujung renda di gaunnya. “Kau juga selalu membandingkanku dan dia.”

Kyuhyun tidak bermaksud melakukannya. Dia hanya ingin menyakiti hati Joon-a dengan mengatakan bahwa Hanna jauh lebih baik daripada dia.

“Aku benci dengan apa yang harus kulakukan untuk membalaskan dendam ibuku. Tapi setidaknya aku menikahimu; setidaknya kau dapat melindungiku, mungkin saja kau dapat mengeluarkanku dari cengkeraman ibuku. Tapi semuanya berubah; dan ternyata kau begitu membenciku dan mungkin geli melihatku.”

Tidak. Kyuhyun tidak membencinya. Dan dia sangat bodoh karena selama ini mengira dirinya membenci Lee Joon-a.

“Aku telah berubah menjadi orang yang tidak aku inginkan. Ayahku meninggalkanku dan ibuku membohongiku. Tapi aku juga membuatmu membenci dan jijik padaku—“ Joon-a perlahan menatap Cho Kyuhyun.

“Sekarang kau mengerti kan, Cho Kyuhyun? Aku… lelah menunggumu menepati janjimu.”

Tidak. Kyuhyun tidak pernah bermaksud melakukannya.

“Tapi ini bukan salahmu,” tangis Joon-a lagi, menggeleng meyakinkan suaminya. “Ini salahku karena aku yang berpikir bahwa semua orang harus selalu menepati janjinya padaku. Aku selalu terbawa dengan masa lalu kita hingga aku lupa bahwa kita sekarang telah dewasa; kau juga bertemu dengan gadis yang mungkin memang lebih baik dariku. Aku memaksamu untuk mewujudkan keinginanku hingga akhirnya aku menjadi egois seperti ini dan melukai perasaan banyak orang.” Joon-a mengusap wajahnya yang bersimbah air mata.

“Maafkan aku, Cho Kyuhyun. Aku pasti telah membuatmu sangat kecewa. Ayah dan ibumu sangat baik padaku tapi aku malah membantu ibuku balas dendam pada mereka.”

Kyuhyun tidak tahu harus berkata apa. Hatinya serasa tercabik- cabik.

Aku juga pernah keguguran.”

“A—apa?” Kyuhyun ingat malam pertama mereka, saat mereka berhubungan pertama kali. Joon-a tidak pernah berhubungan sebelumnya, dia masih seorang perawan saat mereka melakukan itu. Kyuhyun juga yakin gadis itu tidak pernah berhubungan dengan pria lain di belakangnya.

“Itu terjadi saat kau mengetahui rencana ibuku. Aku ingin mengatakannya padamu tapi aku takut kau akan lebih membenciku, tapi aku juga tidak ingin kalau kau merasa bersalah padaku.” Joona tertawa sedih, “Cho Kyuhyun, sepertinya aku benar- benar telah menghancurkan diriku sendiri.”

Kyuhyun terperangah. Jadi… Joon-a pernah keguguran anak mereka? Dan Kyuhyun membiarkan gadis itu memikul semuanya sendirian sementara pria itu sibuk melukainya dan menerornya secara mental?

Joon-a pernah mengatakan Kyuhyun brengsek, tapi sebenarnya Kyuhyun adalah pria paling brengsek dan kejam di dunia ini.

Ini semua salah Kyuhyun.

Gadis itu menderita dan selama 14 tahun menunggu Kyuhyun untuk menyelamatkannya tapi pria itu berubah dan seolah itu belum cukup; menambah luka di kehidupannya.

“Kau ingat yang sering kukatakan dulu padamu saat kecil?”

Joon-a mengusap kedua matanya. “A—apa?”

“Aku tidak suka bila istriku tidak mematuhi keinginanku.”

Joon-a mengerjap- ngerjapkan matanya. “Kau—kau ingat?”

Kyuhyun mengangguk. “Mungkin aku terkesan tidak punya perasaan tapi—aku ingin kau melakukan sesuatu untukku.”

“A—apa?”

Kyuhyun memberanikan diri mendekati istrinya kemudian perlahan mengecup dahi gadis itu. Joon-a membeku ketika Kyuhyun menurunkan wajahnya hingga bibir mereka bersentuhan. Bisa melihat wajah tampan suaminya sedekat itu benar- benar adalah sebuah anugerah untuknya.

Anugerah yang tidak pernah bisa dia miliki.

Mata mereka bertemu dan Joon-a bisa melihat sosok Cho Kyuhyun yang dulu dikenalnya dari bola mata cokelat gelap itu.

“Biarkan aku menyentuhmu sekali lagi.”

TBC

Can you guess what will happen next? 😉

 

Advertisements

403 thoughts on “Trilogy; Sunflower- Part 3”

  1. sumpah sedih banget ceritanya. kasian joon a harus menjalani hidupnya yang pahit dan selalu berharap kyu bisa menyelamatkannya, tapi malah kata kata kasar yang selalu di ucapkan kyu padanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s