Romance, Short Story

The Flower Trilogy; Sunflower- Part 4

 

Title: The Flower Trilogi; Sunflower- Part 4

Character: Cho Kyuhyun

Lee Joon-a (OC)

 

Cho Kyuhyun lupa kapan terakhir kalinya dia terbangun di pagi hari dengan perasaan seringan ini; seolah puluhan ton beban terangkat dari dadanya.

Hari- harinya selalu dipenuhi dengan tekanan dan tututan, hubungannya dengan Lee Joon-a pun tidak membuat keadaan lebih menyenangkan. Pagi ini, semua terasa berbeda—rasanya seperti menemukan jawaban atas masalahnya selama ini. Cukup mengherankan mengingat banyaknya masalah yang dimilikinya saat ini; pengkhianatan dari salah satu pegawai kepercayaan ayahnya yang bersekongkol dengan ibu mertuanya; tugasnya untuk memperbaiki keadaan perusahaan dan menghancurkan ‘usaha’ mereka yang ingin menjatuhkan ayahnya; serta masalah dan kesalahpahaman Lee Joon-a.

Mungkin karena semalaman ini dihabiskan mereka dengan menumpahkan perasaan mereka; hanya saja dengan cara yang lebih melibatkan ‘fisik’. Lee Joon-a tak pernah terlihat serapuh tadi malam; menangis terus menerus tapi membiarkan Kyuhyun menyentuhnya. Luka di hati gadis itu terlalu dalam hingga dia sendiri tidak mampu mengungkapkan isi hatinya; dan Cho Kyuhyun berusaha sebisa mungkin untuk menjadi pria yang ‘lembut’ dan menebus kesalahannya selama ini—meskipun dia yakin usaha apapun tidak akan pernah cukup untuk menebus kesalahannya.

Ngomong- ngomong soal Joon-a…

Kyuhyun mengerutkan kening ketika menyadari bahwa gadis itu tidak berada di sampingnya; sisi tempat tidur Joon-a terasa kosong dan dingin.

Mungkin dia sedang menyiapkan sarapan seperti biasanya, batin Kyuhyun dan hatinya kembali ditoreh perasaan bersalah. Dia tidak pernah pantas diperlakukan seperti ini oleh Joon-a, mengingat bagaimana dia berkali- kali melukai hati istrinya.

Kyuhyun mengerang pelan dan berbalik ke arah tempat istrinya berbaring tadi setelah malam panas mereka ketika sesuatu menarik perhatiannya.

Sebuah liontin emas dengan cicin pernikahan mereka tergantung di lampu meja tidur. Kyuhyun bisa mengenalinya dari ukiran berlian di tengah cicin tersebut. Pria itu mengerutkan kening, masih dengan kepala beristirahat di bantal nyaman mereka.

Tunggu—tidak mungkin kan?

Tapi Joon-a selalu memakai cincin itu dalam keadaan apapun; usaha mereka untuk menyembunyikan pernikahan mereka yang palsu. Apapun masalah mereka dan bagaimana pun kasarnya pertengkaran mereka; gadis itu tidak pernah menanggalkan cicin pernikahan mereka. Pikiran itu kontan membuat jantung Kyuhyun berdegup kencang. Dia tidak ingin memikirkan kemungkinan terburuk tapi di saat yang sama juga menyadari bahwa keadaan di luar sana terlalu tenang; biasanya dia akan terbangun mendengar bunyi panci dan suara masakan.

Kyuhyun segera bangun dari tidurnya dan menarik liontin dari lampu baca itu ketika menyadari sebuah kertas putih dengan lipatan rapi di samping lampu baca tersebut. Di ujung meja tidur terdapat beberapa buku tebal bersampul merah dengan lambang perusahaan Kyuhyun di tengahnya.

Buku laporan keuangan Tuan Han.

Liontin cantik itu pun dengan lembut meluncur dari jarinya dan jatuh ke lantai.; kenyataan menghantamnya dengan sangat keras.

Lee Joon-a meninggalkannya.

*

Untuk: Kyuhyun Oppa.

Saat kau membaca ini, aku pasti sedang dalam perjalanan ke tempat yang jauh. Aku tidak begitu pandai bepergian, karena itu… aku harap kau bisa membantuku.

Maafkan aku yang selalu membuatmu terjebak di masa lalu dan hidup denganku. Saat paling membahagiakan dalam hidupku adalah saat aku berada dalam pelukan ayah dan saat aku menghabiskan waktu bersamamu, dan karena aku harus kehilangan keduanya; itu membuatku marah dan membenci semua orang. Dan pada akhirnya aku juga mengganggu hidupmu.

Jangan merasa bersalah lagi, Oppa. Meskipun kau tidak bisa menepati janjimu (dan kau juga tidak harus melakukannya), tapi karena merekalah aku mampu bertahan sejauh ini. Aku memang telah membuat kesalahan yang sangat besar, tapi setidaknya aku tidak merusak diriku.

Menjadi suami istri memang adalah mimpi kita sejak dulu, dan sekarang aku menipu diriku sendiri dengan meyakinkan bahwa mimpi itu masih ada. Kemudian aku memaksamu dan menghancurkan semua yang kita miliki. Sepertinya takdir tidak menginginkan kita bersama; dan aku telah melakukan kesalahan besar karena berusaha mengubahnya.

Tapi… kau ingat kan? Kau pernah berjanji ingin mengabulkan keinginanku.

Aku ingin pergi.

Aku ingin menjadi Lee Joon-a yang aku inginkan. Bukan Lee Joon-a yang selalu terjebak dengan dirinya di masa lalu, dan bukan juga Joon-a yang sekarang ini membuat banyak masalah karena keserakahannya. Aku ingin orang mengenalku sebagai Lee Joon-a yang sebenarnya. Mungkin juga bertemu dengan pria baik dan mengencani mereka. Aku bisa memperkenalkannya padamu bila kita punya kesempatan untuk bertemu.

Sejak ayah pergi aku seperti bunga matahari yang kehilangan mataharinya, tapi perasaan dan harapanku padamu yang membuatku bertahan dan masih memiliki arah.

Sekarang aku ingin mencari matahariku. Kau juga sebaiknya mencari mataharimu.

Aku menyayangimu, Oppa. Aku harap kau selalu bahagia.

Love, Joon-a.

*

Paris, 2018

Seorang gadis kecil menghabiskan hampir setengah jam di depan cermin di depannya yang berukuran lima kali lebih tinggi dari dirinya; sibuk mengagumi gaun merah muda terang dengan rok tutu yang dipakainya dan bando berwarna sama; tampak sangat kontras dengan rambutnya yang hitam gelap. Sesekali gadis itu memperbaiki posisi bando-nya yang tidak menimbulkan cukup banyak perbedaan, dan merapikan rok tutu-nya yang mengembang dengan lucu.

“Jun-seung—ah,” seorang gadis melangkah masuk ke ruangan sepi tersebut dengan wajah cemas, sepertinya sedang mencari gadis kecil bernama Junseung itu karena ekspresinya langsung berubah lega ketika melihat Junseung. “Di sini kau rupanya, aku mencarimu dari tadi.”

Ia berjalan menghampiri Junseung, memeluknya lalu mengangkatnya. Wajah cantiknya tersenyum melihat penampilan gadis kecil itu serta ekspresi puasnya.

“Aigoo—kau cantik sekali hari ini,” ujar gadis itu gemas, menaikkan nada suaranya. “suka bajunya?”

Junseung mengangguk, menyentuh bandonya sekali lagi.

“Ayo, acara sudah mau dimulai.” Gadis itu mengecup pipi Junseung lalu membawanya keluar dari kamar berukuran sedang dengan pajangan- pajangan baju berbagai macam warna yang menutupi semua sisi dinding.

Hanshin Care Organization selalu mengadakan acara tahunan dalam rangka menggalang dana untuk membantu anak- anak yatim piatu serta mereka yang menderita penyakit parah dan membutuhkan bantuan finansial yang cukup besar. Talent show serta fashion show yang diadakan hari ini bisa dibilang sukses dan meraup keuntungan yang sangat banyak; semuanya akan didonasikan pada asosiasi yatim piatu dan rumah sakit jantung. Ketua Hanshin Group sendiri Choi Siwon mengaku sangat puas dan berterima kasih pada anggota- anggota organisasi tersebut yang bekerja sangat keras dalam menyempurnakan acara penggalangan dana ini.

Choi Siwon menutup wawancara singkat tersebut lalu membiarkan asistennya yang melayani pertanyaan- pertanyaan selanjutnya dari para wartawan lokal serta beberapa yang datang khusus dari asal negara mereka, Korea. Pria jangkung itu kemudian kambali bergabung dalam keramaian di tengah aula, mencari- cari sosok yang langsung hilang begitu sesi fashion show anak- anak selesai. Yah, seharusnya dia sudah terbiasa—orang itu tidak begitu suka dengan keramaian—dia lebih suka bekerja di belakang layar kemudian membiarkan sisanya diselesaikan oleh Siwon.

Tapi kemudian senyum di wajah tampannya merekah ketika menemukan apa yang dicarinya yang ternyata sekarang sedang sibuk membantu anak- anak mengganti pakaian mereka di belakang panggung.

“Lee Joon-a.” panggilnya, mendekati gadis cantik yang saat ini sedang membantu seorang gadis kecil menanggalkan rok tutunya.

Berbeda dengan anggota grup lainnya yang sekarang sudah memakai pakaian formal dan berbaur dengan para tamu, Joon-a masih memakai kaos panitia dan celana jins, rambut cokelatnya dibiarkan tergerai.

“Oh—sunbae—nim.”

Siwon kemudian berlutut dan menyapa gadis kecil di depannya. “Junseung—ah, annyong!”

Junseung tersipu malu lalu bersembunyi di belakang tubuh Joon-a, sepertinya tidak suka dengan fakta bahwa dia hanya memakai baju tanpa rok tutunya.

“Kalau sudah selesai sebaiknya kau bergabung dengan teman- teman yang lain—“ saran Siwon, menunjuk ke luar, “kami akan minum wine setelah ini,”

“Tampaknya menarik,” komentar Joon-a, sibuk membantu Junseung memakai kaos dan celana yang lebih nyaman, “tapi sepertinya aku tidak bisa. Aku harus mengantar anak- anak ini kembali ke panti asuhan,”

“Orang lain akan mengerjakannya, jadi kau sebaiknya di sini saja.” Kata Siwon tenang tapi cukup tegas dan menekankan bahwa dia tidak suka dibantah, meskipun pada kenyataannya dia tahu bahwa gadis di depannya ini tidak suka tunduk pada siapapun; dan mungkin itulah yang membuatnya merasa gadis ini cukup berbeda dan menarik.

Dan seharusnya dia tahu ajakannya tidak akan pernah digubris.

Joon-a berdiri kemudian tersenyum menyesal pada Siwon. “Aku adalah bagian tim sukarelawan; aku tidak diundang dalam pesta wine. Meskipun kau yang mengundangku—“ tambah Joon-a lagi ketika melihat Siwon bersiap membantahnya. “Lagipula, aku harus segera pulang dan mengerjakan tugas dari professor-ku—“

“Sebenarnya justru itulah alasanku mengundangmu ke pesta wine,” jelas Siwon, “Tuan Alonso de La Recci sangat kagum dengan hasil karyamu di sesi fashion show tadi dan ingin mendiskusikan beberapa hal denganmu. Aku yakin kau bisa menjelaskan banyak hal lebih rinci daripada sekedar di portofolio.”

Lee Joon-a terdiam, sejenak berpikir, kemudian tersenyum lagi pada Choi Siwon. “Aku rasa dengan kemampuanku saat ini, tidak banyak yang bisa aku jelaskan pada Professor Alonso. Jadi sebaiknya aku menyelesaikan portofolio-ku saja.” Ia menepuk bahu Siwon, “sampai jumpa, sunbae. Dan beritahu aku kapan kau akan pulang ke Korea.”

“Memangnya kau akan mengantarku?”

“Tidak sih, tapi setidaknya aku bisa memasakkan sesuatu untukmu.” Joon-a tertawa lembut. “dan tolong sampaikan terima kasihku pada Professor Alonso atas pujiannya. Bye!”

Lee Joon-a kemudian menggenggam tangan Junseung dan menggiringnya keluar dari keramaian di sekitar mereka, ke tempat para anak- anak panti asuhan yang juga menjadi model untuk peragaan busana tadi berkumpul dan menikmati kudapan mereka sebelum pulang. Siwon menatap gadis cantik itu sejenak kemudian menghela napas. Lee Joon-a memang baik dan ramah padanya; gadis itu juga pernah mengatakan bahwa dia mengagumi Siwon karena jiwa sosialnya dan insiatifnya membuat organisasi sukarelawan ini. Tapi di sisi lain Joon-a sangat dingin dan tertutup—tidak pernah memberikan sedikitpun kesempatan pada Siwon untuk mendekatinya, sama dengan yang dia lakukan pada pria- pria lain yang berusaha mengenalnya lebih jauh. Yang Siwon tahu tentang gadis itu adalah dia pernah menikah dengan pewaris grup Cho corp. dan berpisah karena masalah yang tidak diketahui. Kabar perpisahan itu cukup mengejutkan kalangan elit di kota asal mereka karena hubungan penerus keluarga itu dan Joon-a dikabarkan sangat harmonis. Sepertinya kepergian Joon-a ke negara ini karena dia ingin menghindari efek dari pemberitaan tersebut.

Mungkinkah… gadis itu masih trauma dengan pernikahannya yang sebelumnya?

*

Lee Joon-a mengayuh sepeda besar berwarna merah marun; melintasi danau di taman sentral, melewati bangku- bangku taman dengan kecepatan penuh membuat burung- burung gereja yang semula hinggap di sandaran bangku terbang berhamburan; menyapa beberapa pejalan kaki dan penjual roti yang berpapasan dengannya. Udara pagi ini terasa sangat segar; hari pertama di musim gugur adalah favorit Joon-a; dia memang lebih suka dengan cuaca yang membuatnya bersembunyi dalam pakaian hangat dan tumpukan selimut di rumah, duduk di samping jendela memperhatikan daun- daun berguguran, meneguk cokelat hangat dan mempelajari sketsa- sketsa buatannya. Membayangkannya membuat Joon-a tidak sabar untuk pulang ke apartemennya sebentar.

Tak terasa dua tahun telah dilewatinya di negara asing, sendirian. Awalnya Joon-a meragukan kemampuannya sendiri untuk bertahan di tempat orang lain tapi ternyata dia melakukannya dengan sangat baik. Dia merasa sangat bebas, seperti seorang anak kecil yang diberikan buku gambar baru dan polos agar dia bisa menggambar kembali dari pertama. Mungkin Joon-a tidak semanja yang dia pikirkan—dia lebih baik daripada itu.

Joon-a tidak lagi mendengar kabar ibunya; yang dia tahu Tuan Han dipecat dari grup Cho corp. dan harus membayar ganti rugi atas rekening berisi dana rahasia yang dibuatnya, sepertinya ibu Joon-a pun pergi menghilang untuk menghindari efek kerja sama mereka yang gagal. Terkadang gadis itu menerima panggilan dari nomor yang tak dikenal dan sambungan langsung terputus ketika dia menjawabnya.

Sepertinya ibunya baik- baik saja dan juga mengkhawatirkannya.

Berbeda dengan kabar ibunya, dia sering secara tidak sengaja membaca atau mendengarkan berita tentang Cho Kyuhyun. Dia muncul di berita harian website yang sering Joon-a buka, dan juga beberapa kali menjadi topik perbincangan dalam acara kebersamaan yang dilaksanakan oleh palajar Korea yang belajar di Prancis. Kyuhyun telah menggantikan posisi ayahnya sebagai Direktur Utama Perusahaan Cho Enterprise, meskipun Tuan Cho masih menjadi ketua grup Cho Corp. Joon-a bertaruh pria itu pasti menghabiskan seratus persen waktunya untuk bekerja. Dia selalu berambisi untuk membuktikan pada ayahnya dia bisa menjadi seorang pemimpin yang berhasil.

Di sisi lain dia tidak ingin mendengarkan berita tentang Kyuhyun. Mendengar namanya membuat masa lalunya kembali terputar di dalam kepalanya seperti sebuah kaset rusak; semuanya terasa nyata dan perasaan menyesal akan kembali menghantuinya. Kemudian dia akan menyadari betapa dia merindukan pria itu hingga kadang sempat terpikir bahwa mungkin dia lebih baik hidup menderita dan tertekan asalkan dia bisa tetap bersama Cho Kyuhyun. Lalu dia akan menyesal lagi karena telah kembali berpikir egois seperti itu.

Sesekali dia mencoba menulis surat atau membuat e-mail, tapi dia kembali menghapusnya atau menyimpannya di folder. Dia ingin tahu apa Kyuhyun juga merindukannya; meskipun bukan sebagai seorang istri atau gadis yang dicintainya, setidaknya sebagai temannya.

Kemudian dia akan menangis, menghapus air matanya dan menyibukkan dirinya pada kegiatan lain.

Seperti yang sekarang ini dia lakukan.

“Apa kau sedang tertarik pada pola abstrak?”

Joon-a bergidik dan berpaling, tersenyum ketika melihat temannya yang sekarang ini sedang memperhatikan sketsa yang dibuatnya. Ia sedang membuat corak ‘abstrak’ secara tidak sengaja pada sketsa gaun malam yang dibuatnya.

“Ngomong- ngomong, sepertinya kita akan kembali terpilih mewakili kontes untuk bulan depan. Professor Alonso sangat kagum dengan tugas yang kau buat kemarin.” Ujar Margoux, gadis berkebangsaan Prancis, duduk di sofa yang nyaman lalu meneguk sodanya.

Joon-a mengangguk, lalu melanjutkan kegiatannya lagi; berpura- pura fokus pada sketsa.

“Ayolah, bukan itu respon yang kuinginkan.” Kata Margoux lagi, memajukan posisinya agar lebih dekat dengan rekannya selama dua tahun terakhir ini. “Kali ini adalah benar- benar kesempatan luar biasa bagi kita! Kita mungkin bisa menjadi Nicole Miller, Andre Courreges, atau bahkan Valentine dan Yves Saint Laurent berikutnya!”

Gadis Asia di depan Margoux hanya tertawa kecil. Nama- nama yang disebutkan Margoux tadi memang adalah lulusan terkenal dari universitas mereka, Ecole de la Chambre Syndicale. Dan memang memenangkan kontes- kontes tahunan yang mereka buat bisa menjadi resume yang sangat membantu kariermu. Mungkin mereka memang harus mencobanya.

“Aku hanya berusaha untuk menjagamu agar tetap realistis; Professor bahkan belum mengumumkan siapa yang bisa ikut kontes.”

“Kau juga harus berpikir realistis; Lee Joon-a; kitalah yang akan menjadi pilihannya.” Kata Margoux dengan gaya sedikit dibuat- buat, tangannya melambai- lambai menunjuk dirinya dan Joon-a.

“Atau… kau punya rencana lain?”

Joon-a terdiam sejenak, tangannya berhenti menggambar garis- garis abstrak yang sedari tadi menjadi pengalih perhatiannya dari pikiran tentang seseorang yang tidak boleh dia pikirkan. Rencana? Sesungguhnya Joon-a tidak punya lagi rencana untuk dirinya—tinggal di negara asing, melanjutkan pendidikannya di salah satu sekolah desainer terkenal dan mengabdikan hidupnya sebagai sukarelawan untuk sementara adalah ‘rencana’ pengalihan yang sempurna.

Tapi setelah ini; dia tidak tahu lagi apa yang dia inginkan.

Mungkin ini memang kesempatan ‘emas’ seperti yang Margoux katakan. Mungkin dia bisa menjadi seorang desainer ternama yang dikenal dunia—meskipun pikiran dan optimismenya tidak setinggi itu. Tapi setidaknya dia bisa menjadi wanita mandiri dan sukses; dia tidak perlu bersandar pada orang lain.

Mungkin dengan begitu Cho Kyuhyun mau mengagumi dan mencintainya.

Sadalah, Lee Joon-a! Apalagi yang kau pikirkan?

Joon-a menegur dirinya sendiri, kemudian melanjutkan kegiatannya, tidak lagi memperdulikan Margoux yang saat ini sedang sibuk dengan imajinasinya sendiri tentang helicopter pribadi yang bisa menjemput mereka di mana saja setelah mereka sukses menjadi desainer ternama nanti.

*

“Yah, Lee Joon-a! Jangan lupa janjimu akan memasak untukku sore ini!”

Joon-a tertawa, menjepit ponselnya antara telinga dan bahu sementara kedua tangannya mencari- cari gembok sepedanya.

“Aku tahu, japchae dan sapi lada hitam seperti biasanya kan? Tapi sunbae, memangnya kapan kau pulang?”

“Besok. Tapi aku akan segera kembali. Tergantung seberapa enak makanan yang kau buat!”

Joon-a mencibir. “Apa yang membuatmu berpikir aku ingin kau kembali?”

Dia mendengar Siwon tertawa di ujung sana. Joon-a akhirnya menemukan kunci gemboknya lalu membuka gembok sepedanya dan menyeretnya keluar dari parkiran sepeda. “Sunbae, sudah ya—aku harus pergi. Hari ini ada presentasi penting. Doakan aku, bye!”

“Aku selalu mendoakanmu, Lee Joon-a.” Kali ini suara Siwon terdengar lebih lembut dan berat, membuat Joon-a memutar bola matanya. Dia bukan gadis yang bodoh; dia tahu arti gerak- gerik Siwon dan apapun makna dari perbuatannya. Tapi dia tidak bisa memberikan apa yang Siwon inginkan; saat ini dia tidak ingin membuka dirinya pada pria manapun.

Joon-a menutup ponselnya dan melemparnya ke dalam tas selempangnya. Hari ini ada presentasi penting untuk menentukan apakah dia bisa naik ke tahap berikutnya atau tidak. Dia telah menghabiskan semua waktunya untuk membuat tugas ini selama sebulan penuh dan hari ini dia tidak ingi satu hal kecilpun menghambat usahanya.

Lee Joon-a kembali melewati rute dan lintasan biasanya sambil mendengarkan musik intrumen piano dari earphone di kedua telinganya. Semua orang berpakaian tebal dan hangat seperti dirinya, beberapa pasangan kakek nenek berjalan tertatih- tatih melewatinya, menikmati pemandangan di taman. Pemandangan itu sangat indah tapi di lain hal membuat hati Joon-a terasa perih. Dulu dia sering membayangkan masa tua itu, bersama seseorang yang dia kenal baik, tapi sekarang semuanya terasa abstrak; seperti goresan- goresan sketsa yang dibuatnya.

Mungkin Joon-a telalu banyak melamun karena berikutnya dia tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya dan sepeda itu oleng. Beruntung ia cukup cepat dan segara menahan beban tubuhnya dan sepeda itu dengan kaki kanannya.

Apa yang terjadi dengan sepedanya?

Joon-a melompat turun, menahan sepedanya kemudian berlutut untuk mencari tahu apa yang salah. Gadis itu mencelos. Oh tidak, tidak di saat seperti ini! Ban sepedanya tidak boleh kempes di saat seperti ini!

“Bagaimana ini?” keluhnya frustasi. Ini adalah hari pentingnya dan ban sepedanya tidak mau bekerja sama. Joon-a melirik jam tangannya. Masih ada 45 menit lagi. Kalau dia pergi ke tempat tambal ban terdekat; dia masih bisa sampai tepat waktu.

Joon-a menggiring sepedanya ke tempat sepeda langganannya di seberang taman sentral. Beruntung ban sepedanya masih pengertian karena memutuskan untuk kempes ketika dia belum jauh dari tempat ini.

Kios sepeda itu terletak di antara toko- toko roti dan makanan yang belum buka. Pemiliknya adalah Abell, pria gemuk berumur setengah abad yang gemar mengoleksi ban- ban rusak dan memperbaikinya. Dia sangat gemar dengan kue eggtart yang dibuat Joon-a hingga menawarkan jasa gratis kapan saja ban sepeda Joon-a rusak.

“Aku bertanya- tanya kapan ban sepedamu akan rusak!” ujar Abell yang saat itu sedang membersihkan halaman kiosnya dengan ceria ketika Joon-a datang menghampirinya sambil menggiring sepedanya.

“Sepertinya doamu akhirnya terkabul, Abell.” Ujar Joon-a muram.

“Sebenarnya itu adalah kata lain dari ‘senang melihatmu’, Nak.”

“Aku tahu,” kata Joon-a dengan senyum cantiknya. “Aku ingin paket yang paling cepat. Hari ini aku harus ikut presentasi penting!”

Abell berlutut dan memeriksa ban sepeda Joon-a. Ekspresi tidak senang di wajahnya membuat Joon-a mencelos.

Abell mengerutkan keningnya, membelai- belai kumis pirangnya dengan gelisah. “Maaf, tapi sepertinya kau harus meminjamkan sepeda ini padaku sampai sore hari.” Kata pria itu sambil terus memeriksa ban sepeda Joon-a.

“Sore hari?” Joon-a setengah memekik. “Tapi aku harus ikut presentasi penting!”

Wajah pria itu terlihat sangat menyesal. “Aku tahu. Tapi maaf, permukaannya sudah terlalu licin dan terlalu berbahaya. Aku harus memodifikasi permukaan ban barunya agar kau tidak terjatuh dan merusak wajah luar biasa cantikmu itu, Nak.”

Joon-a mendesah, tidak bisa lagi mengatakan apapun karena pujian terakhir dari Abell.

“Bagaimana ini?” gumam Joon-a pada dirinya sendiri dalam bahasa Korea. Tidak ada dalam bayangannya hari ini akan diawali dengan tragedy kecil seperti ini. Sepertinya Margoux harus bersiap- siap melakukan presentasi itu sendirian.

“Ngomong- ngomong,” Abell berdiri dengan susah payah. “Karena kau berbicara dengan bahasa Korea, aku jadi teringat sesuatu. Tadi malam ada mahasiswa dari Korea yang memesan sepeda. Dia berjanji akan mengambilnya pagi ini,” pria itu menunjuk sepeda berukuran lebih besar dari sepeda merah marun Joon-a dan berwarna hitam. “sepertinya dia masih baru di sini karena dia terus bertanya arah jalan padaku tadi malam. Kau bisa memanfaatkannya dengan menawarkan jasa penunjuk jalanmu sementara dia bisa mengantarmu.”

Sebenarnya itu ide yang cukup tidak masuk akal, tapi sekarang semua cukup masuk akal untuk Joon-a. Apapun asal dia bisa sampai tepat waktu di kampusnya. Sekarang ini banyak sekali pelajar Korea yang datang kemari dan kadang kala Joon-a membantu mereka sebagai tour guide atau semacamnya. Beberapa juga akhirnya membeli sepeda di toko Abell.

“Tapi… di mana orangnya?”

Abell sepertinya ingin menjelaskan sesuatu tapi kemudian ekspresinya terlihat lega ketika melihat sesuatu di belakang Joon-a. Sepertinya mahasiswa yang dimaksudnya telah datang.

“Bonjour—“ sebuah suara pria dari belakang mengagetkan Joon-a. “Bagaimana dengan sepedaku, Tuan Abell?”

Tanpa berpikir, spontan Joon-a berbalik ke arah suara yang sangat familiar itu.

Kemudian sesaat dia mengira yang dilihatnya adalah halusinasi.

Di depannya berdiri pria jangkung tampan dengan rambut cokelat gelap khas-nya yang berantakan, memakai jubah berwarna hijau tentara dan celana hitam dengan ransel hitam besar menggantung di pundaknya. Pria itu menatap Abell di belakang Joon-a dengan ekspresi ramah, tapi kemudian menatap Joon-a dan tersenyum. Seolah ini adalah pertemuan pertama mereka dan dia sangat senang melihat gadis itu.

Hati Joon-a berhenti bekerja detik itu. Perutnya terasa kosong.

Itu pria yang sering muncul di mimpinya.

Cho Kyuhyun.

*

Joon-a tertegun. Sedari tadi tatapannya tidak teralihkan dari kedua tangannya yang saling menggenggam di atas pahanya. Jantungnya yang semula sempat terhenti kini berdebar sangat kencang hingga rasanya akan terlepas dari dadanya, perutnya yang semula terasa kosong ini bergerak sangat cepat; akibat bagel yang dimakannya saat sarapan. Metabolisme nya seolah menjadi ribuan kali lebih cepat dari biasanya, tapi di sisi lain pikirannya juga sangat kacau.

Dia takut.

Dia takut semua hanya mimpi dan ternyata pria yang sedang memboncenginya adalah orang asing dan bukan Cho Kyuhyun. Dia tidak tahu apa yang membuatnya lebih takut; bahwa pria ini hanyalah pria asing, atau bahwa pria itu bukan Kyuhyun.

Dan sepertinya pria itu tidak terkejut melihatnya; dia berbincang- bincang dengan Abell, berjanji pada Abell yang dengan polosnya meminta agar Kyuhyun menjaganya dan mengantarnya dengan selamat ke kampusnya, sama sekali tidak mengindahkan ekspresi bodoh di wajah Joon-a yang terus menatap wajah Kyuhyun seolah ingin memastikan bahwa pria itu nyata.

Dan ternyata dia memang nyata.

Saat ini dia sedang memboncengnya melewati jalan yang biasa Joon-a lewati menuju ke kampusnya, seolah Kyuhyun juga sudah biasa melewatinya.

Tiba- tiba dada Joon-a terasa sesak. Dia ingat wangi parfum maskulin ini. Kadang itu terasa seperti halusinasi penciumannya; dia sering terjaga dengan aroma itu di malam hari. Tapi sekarang ini aroma itu terasa sangat nyata dan hatinya menjadi perih di saat yang bersamaan terasa lega.

Bagaimana pria itu bisa menemukannya di sini?

Apa dia memang datang untuk menemui Joon-a?

Begitu banyak pertanyaan hingga dia sendiri tidak tahu harus memulai dari mana. Dan kalaupun dia tahu, dia bingung bagaimana cara menanyakannya.

“Kau tahu,” suara Kyuhyun yang berat dan dingin mengagetkan Joon-a. “akan lebih aman kalau kau memegang pinggangku.”

Kenapa pria itu terdengar sangat santai? Tidakkah dia sadar kemunculannya hampir membuat Joon-a terkena serangan jantung?

“T—tidak usah.” Joon-a mendengar suaranya sendiri. Sangat pelan hingga dia sendiri mengira itu juga hanya halusinasi.

Dia bisa merasakan Kyuhyun tersenyum, pria itu juga tidak mendesak Joon-a, mengayuhkan sepedanya dengan santai. Joon-a menatap punggung lebar Kyuhyun dengan perasaan berkecamuk. Pria itu terlihat sangat tampan dengan pakaian santai seperti ini dan rambut cokelat berantakannya. Dia memang sangat tampan dari dulu, dengan setelan dan pakaian rapinya.

Tapi sekarang dia terlihat jauh lebih mempesona. Seperti seorang pria biasa, seperti hanya seorang Cho Kyuhyun dan bukan putra penerus salah satu perusahaan terbesar di Asia.

Joon-a menunduk. Ada apa ini? Dadanya berdebar sangat kencang. Dia takut Kyuhyun akan mendengarnya.

“Sudah sampai.”

Joon-a tersadar dan melihat sekelilingnya, dia telah sampai di depan gedung kampusnya. Jalanan masih sepi karena dia memang masih sangat pagi. Joon-a saja yang ingin memastikan semuanya baik- baik saja sebelum presentasi dimulai. Dengan berat hati gadis itu turun dari sepedanya. Ia masih tidak berani menatap Kyuhyun; pria itu sendiri menatapnya dengan dalam membuat pipinya memerah. Ayolah, ini bukan saatnya dia berlagak seperti remaja!

“Kampusmu sangat bagus, aku dengar banyak sekali desainer kelas dunia lulusan dari tempat ini.” Komentar Kyuhyun. Dia terlihat jauh lebih muda dari umurnya dengan penampilan seperti ini. Mereka seperti dua remaja yang baru saja mengenal dan bukannya pasangan yang telah berpisah dua tahun lamanya.

“S—sepertinya begitu,” jawab Joon-a pelan dan malu, menatap semua benda kecuali pria di depannya.

“Tapi sepertinya masih sepi—kau yakin kau mau masuk ke dalam sendiri?” tanya Kyuhyun lagi. Joon-a tertegun sejenak dengan nada khawatir di suaranya meskipun wajah tampan Kyuhyun masih sama seperti dulu. Dingin dan misterius.

“T—tidak apa- apa, temanku pasti sudah di dalam.”

“Baiklah.” Kyuhyun mengangguk. “Jam berapa kau selesai? Apa aku boleh menjemputmu?”

Joon-a menengadah menatap pria itu. Apa dia baru saja menanyakan akan menjemputnya? Apa benar di depannya ini adalah Cho Kyuhyun? Pria itu sendiri tidak terlihat heran dengan pertanyaannya maupun reaksi Joon-a.

Tidak, ini sama sekali tidak normal.

Tidak seharusnya Cho Kyuhyun ada di sini, di depannya, dan menawarkan untuk menjemputnya.

“A—apa k—kau tidak s—sibuk?”

Kyuhyun menggeleng. “Hari ini jadwalku kosong. Kapan aku bisa menjemputmu?”

Tidak, ini sama sekali tidak nyata.

“J—jam 1 siang.” Dia mendengar dirinya menjawab. “Kelas terakhirku selesai jam 1 siang.”

“Baiklah. Sampai jumpa jam 1 siang. Aku akan menjemputmu di tempat ini.” Pria itu tersenyum, sesaat mata mereka bertemu—tapi Kyuhyun segela mengalihkan tatapannya—menepuk kepala Joon-a sejenak sebelum kemudian mengayuh sepedanya dan pergi meninggalkan gadis itu; masih dengan keraguan apakah saat ini dia hanya sedang bermimpi… ataukah Cho Kyuhyun yang baru saja menepuk kepalanya dengan lembut itu memang nyata.

*

Joon-a lupa kapan terakhir dia merasa seperti ini. Ini sangat bodoh—tidak seharusnya dia menghabiskan menit- menitnya dengan melirik jam tangannya sambil bertanya- tanya dalam hati mengapa jam 1 siang begitu lama. Ini tidak normal—tidak seharusnya dia menyambut kemunculan Kyuhyun yang tiba- tiba seperti ini. Dia pergi ke tempat yang jauh untuk menghindarinya, tidak seharusnya pria itu datang dan menghancurkan apa yang telah susah payah Joon-a bangun.

Tapi mengapa gadis itu tidak sabar menanti kelasnya ini selesai dan bertemu kembali dengan pria itu?

Apakah dia sekali lagi, kembali tunduk pada Cho Kyuhyun? Ataukah dia saja yang berpikir terlalu jauh? Kyuhyun bisa saja punya urusan penting dan harus datang ke sini. Dia hanya merasa tidak enak bila berpura- pura tidak menyadari kehadiran Joon-a dan dengan terpaksa menemuinya. Pikiran itu menimbulkan lubang di hati Joon-a tapi di saat yang sama dia berusaha untuk meyakinkan bahwa itulah yang sebenarnya terjadi. Maka, dia akan bertindak acuh tak acuh seperti seharursnya, seolah- olah kedatangan Kyuhyun bukanlah sesuatu yang memberikan efek besar baginya.

Dia akan bersikap seolah dia tidak perduli.

Maka kelaspun telah berakhir dan Joon-a menemukan dirinya berusaha menahan langkah kakinya untuk akhirnya sampai di gerbang. Dia akan bersikap biasa saja; seolah dia juga tidak mengharapkan kedatangan Kyuhyun tapi toh pria itu terlanjur datang dan dia tidak bisa berpura- pura untuk tidak menyadari kehadirannya—

“Lee Joon-a!”

“Oh—mengagetkanku saja!” gumam Joon-a ketika Kyuhyun muncul di depannya, sepertinya memang sedikit bermaksud untuk mengagetkannya.

“S—sejak kapan kau di situ?” tanya Joon-a enggan, memperhatikan sekelilingnya. Sepertinya di manapun Kyuhyun berada dan apapun yang dipakainya, sosoknya cukup mengundang perhatian, bahkan untuk orang asing sekalipun. Beberapa gadis yang lewat memperhatikannya sambil berbisik- bisik. Dan Kyuhyun, tentu saja, menyadarinya tapi tidak begitu tertarik dengan fakta itu.

“Beberapa menit yang lalu.” Jawab Kyuhyun santai. “Apa kau sudah makan?”

Joon-a ingin sekali menjawab ‘belum’ tapi dia teringat dengan janji yang dibuatnya tadi saat kelas berlangsung.

“Sudah.” Jawab Joon-a dingin, “aku juga… cukup sibuk hari ini.”

Dari ekspresi Kyuhyun, sepertinya dia sudah membaca niat Joon-a, dan kebohongan di balik kalimatnya. Tentu saja, pria itu terlalu jenius untuk dibodohi.

Tapi dia juga cukup bijaksana untuk menyadarinya.

“Sepertinya sepedamu bisa dipakai sore hari. Aku bisa mengantarmu ke tempat yang kau inginkan“

“… kalau kau mengijinkannya.”

Joon-a tertegun. Kalau dia mengijinkannya? Gadis itu terdiam sejenak, perang jelas terlihat di kepalanya mengenai jawaban yang harus dia berikan.

“Sebenarnya ada tempat yang sangat ingin aku datangi,” kata Kyuhyun lagi, “tapi aku sedikit bingung dengan jalannya. Kalau kau tidak sibuk, aku berharap kau bisa mengantarku.”

Joon-a menatap Kyuhyun lagi, mencoba mencari tau arti dari tatapannya dan dia benci dengan fakta bahwa saat ini, pria itu terlihat sangat tulus…

…persis seperti Cho Kyuhyun yang selalu hadir dalam mimpinya…

*

Lee Joon-a menatap hamparan bunga matahari di depannya. Kebun bunga Provence tidak begitu ramai di hari kerja dan sekarang ini hanya ada beberapa orang selain mereka yang sedang berjalan menyusuri deretan bunga matahari tersebut.

Dia tidak menyangka Kyuhyun akan memintanya menemaninya mengunjungi tempat ini—di sisi lain, dia juga tidak mengira Kyuhyun tahu tentang kebun bunga matahari ini. Joon-a ingat di suratnya dia pernah menulis tentang bunga matahari… dan bahwa dia ingin menemukan mataharinya sendiri.

Apa sekarang dia telah menemukannya?

Dia sering mendatangi tempat ini, dan hatinya terasa senang melihat hamparan sinar dari bunga berwarna kuning tersebut, bergerak mengikuti matahari. Dia seperti bertemu dengan teman- temannya, mereka yang bernasib sama dengannya. Dia juga menghabiskan waktu dengan berpikir mengenai hidupnya.

Entah mengapa sekarang hatinya malah terasa berkecamuk—pikirannya kacau dan dia sadar benar bahwa sumber kegalauan hatinya selama dua tahun ini sekarang sedang berada di sampingnya, menatap hamparan bunga matahari yang sama dengannya.

Mengapa dia ingin kemari? Apa karena isi surat Joon-a? Ngomong- ngomong, bagaimana dengan Im Hanna? Apa mereka masih bersama? Bagaimana kabar Tuan dan Nyonya Cho, apa mereka masih kecewa dan marah padanya?

Apa Kyuhyun… sudah bertemu dengan mataharinya?

“Aku melihat gambarnya di internet tapi aslinya memang jauh lebih bagus.” Komentar Kyuhyun; tidak kelihatan terkesan namun cukup kagum; seperti mengomentari pertandingan bola.

Joon-a tidak menjawab, sibuk menenangkan pikirannya yang kacau dan sedih.

“Kebun ini selalu ramai di hari libur, jadi kau hanya bisa menikmatinya di saat seperti ini.”

Kyuhyun tidak menjawab, pria itu hanya tersenyum. Mereka tahu bersama bagaimana Joon-a sangat benci dengan keramaian. Sepanjang perjalanan ke Provence, tidak ada yang berani memulai pembicaraan. Keduanya sama- sama merasa takut dan ragu. Joon-a masih merasa menyesal dan malu untuk bahkan mengajukan pertanyaan tentang keadaan pria itu.

“Kau pasti sering ke sini.” Kata Kyuhyun lagi, lebih seperti bicara pada dirinya sendiri.

Joon-a menengadah, menatap wajah pria yang menjulang tinggi di sampingnya. Mengapa dia terlihat… hampa? Apakah dia masih merasa bersalah pada Joon-a? Dan perasaan itu mengantuinya selama beberapa tahun ini? Tiba- tiba itu membuatnya marah; dia tidak perlu belas kasihan siapapun terutama dari Kyuhyun! Dia adalah gadis yang mandiri, seharusnya pria itu tahu.

“Kadang,” jawab Joon-a dingin. “Aku sangat sibuk, aku hanya datang kalau sempat saja.”

Kyuhyun menatap gadis itu.

“Aku beberapa kali mendengar berita tentangmu,” kata Joon-a lagi, berusaha terdengar biasa aja. “sepertinya kau pria yang sangat sibuk.”

“Tidak juga; dulu tugasku adalah memastikan semuanya tempat pada waktunya, sekarang tugasku hanyalah menandatangani dan mengontrolnya.”

“Aku yakin kau punya urusan penting hingga kau harus datang ke Paris.” Sela Joon-a dingin. “Kalau kau sudah selesai melihat- lihat, apa kita bisa pergi sekarang? Sore ini aku ada urusan.” Gadis itu kemudian berbalik, tanpa menunggu jawaban dari Kyuhyun berjalan meninggalkannya pergi ke gerbang masuk, berusaha keras untuk menenangkan kepalanya dan berharap bisa lari sejauh- jauhnya dari pria itu. Dia toh memang sudah punya janji untuk berbelanja dan memasak makanan untuk Siwon sebelum pria itu pulang ke Korea—

“Tidak.”

Langkah Joon-a terhenti mendengar suara dingin Kyuhyun.

“Aku datang karena aku sangat merindukanmu.”

 

 

Advertisements

423 thoughts on “The Flower Trilogy; Sunflower- Part 4”

  1. huaaaa…aku datang karena aku sangat merindukanmu!!,,,,huuaaa Joona-ya apa yang kau lakukan pada kyuhyun ku??? Cieeee aduhh,,aku jadi cengar cengir gak karuan sendiri kak??? huaaaaaa,,,balikan,,balikan *demo*,,,:D

  2. Aku pikir junseung itu anaknya joon-a dengan kyuhyun karena dengan begitu junseung bisa jadi pengikat bagi joon-a dan kyuhyun hingga mereka bersatu kembali nantinya tapi ternyata junseung salah satu anak panti asuhan.
    Dariman kyuhyun tahu kalo joon-a berada di perancis ? Apa selama ini memgirimkan seseorang untuk memantau keberadaan joon-a ?
    Udaaaah…balikan aja,sama – sama saling cinta pula kenapa harus saling menyakiti kalo kalian bisa bahagia bersama

  3. Tuh kan nyesel joona jadi pergi. Thor bikin perjln kyu buat dapetin kembali joona susah dong kalo bisa tp akhirnya tetep happy dong seru lah next baca

  4. Kiraiiiiiiin setelah part 3 itu mereka bakal akur tapi kenapa joon a milih pergi, untung si kyu nyusul joon a akhirnya, tapiiiiii kenapa setelah sekian tahun? Kyuuuu? Dan entah ngebayangin dia yang sehari” pake baju formal terus ke paris pake baju lebih santai dikirain mahasiswa sama orang*lol* kenapa bikin senyum” sendiri 😆

  5. Udh berharp kyu sma joona baikan dn joona hamil eh di part ini dibiin nyesek mereka pisah dg joona pergi dn tiba2 2 tahun kemudian , uhgghh sdih . Tp sneng jg krn merka msih sling syang dan cinta y kuharp kyk gtu..

  6. 😊😊😊😊 kalimat terakhir di part ini. Hal yang aku suka. Cowok to the point dan gag menyusahkan wanita menebak2 isi pikiran dan maksud yg ada dalam pikiran mereka.

    Jon a seperti aku. Tidak suka keramaaian dan juga gag nyaman dengan kemewahan yg terlalu. 😊

  7. Yah kirain anak yang tadi itu anak nya joon a sama kyu ternyata bukan. Aishh cie ciee ternyata bukan joon a aja yang kangen sama kyu tapi kyu jugaaa

  8. Joon ninggalin kyuhyun krna rasa bersalah .. 2 thn kyuhyun sma joon bisa dan akhirnyaa kyuhyun dteng buat joon ..Tp kayaknya siwon suka joon mungkin

  9. kata” terakhirny sweet bngt😊
    karakter mereka berdua beda 180° sma yg part” sebelumnya
    yg ini lebih ada manis”nya kkkk~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s