Romance, Short Story

The Flower Trilogy; Sunflower- Part 5

 

Title: The Flower Trilogy; Sunflower- Part 5

Character: Cho Kyuhyun

Lee Joon-a

Rate: M

 

“Selamat malam Direktur Cho, saya hanya ingin memastikan apa kamar suite room itu nyaman untuk Anda.”

Kyuhyun mengerutkan kening; tangannya yang satu mengambil pot bunga kecil dari deretan hiasan di depan jendela berukuran sedang, memutar- mutar benda itu sedikit sambil memperhatikan bunganya, lalu meletakkannya di tempatnya lagi.

“Tidak pernah senyaman ini, Asisten Choi.” Jawab Kyuhyun santai, meletakkan tangannya ke dalam saku. “Dan sekali lagi kau memanggilku dengan nama ‘Direktur Cho’, aku benar- benar akan memindahkanmu sebagai staf dapur rumah orangtuaku.”

Pria itu kemudian memperhatikan beberapa bingkai dengan gambar desain baju yang digantung di dinding. Di samping deretan bingkai itu menggantung bingkai dengan ukuran yang lebih besar; di dalamnya terpajang foto tua seorang gadis kecil yang sedang dipeluk oleh ayahnya. Keduanya tersenyum dengan sangat bahagia. Senyum kecil merekah di wajah tampan Kyuhyun.

“Aku sudah mengirimkan pesan pada Mr. John, manajer bagian pelayanan di hotel itu” Asisten Choi menjelaskan tanpa sedikitpun menanggapi ‘ancaman’ bosnya. “Pukul 7 pagi, sopir pribadi akan—“

“Menjemputku, tentu saja.” Sela Kyuhyun, “kau benar- benar sigap Asisten Choi—“

Tiba- tiba terdengar derap langkah di belakangnya dan suara tenang Kyuhyun langsung berubah jadi gusar.

“Bagaimana bisa kau lalai dalam hal sesederhana ini?” ujar Kyuhyun di ponselnya, setengah membentak. “Sudahlah, kirimkan saja berkas yang harus dibahas besok ke email ku.” Pria itu kamudian mematikan ponselnya dengan sedikit dramatis lalu berbalik, menghadapi seorang gadis yang saat ini tengah menontonnya dalam diam, memeluk tumpukan bantal dan selimut dengan susah payah.

“Sepertinya dia benar- benar minta dibentak—“ ujar Kyuhyun berpura- pura marah, mengacung- ngacungkan ponselnya dengan gusar, “bagaimana bisa dia lupa mengkonfirmasi pesanan kamarku di hotel itu? Sebenarnya apa sih isi otaknya?”

Lee Joon-a tidak menjawab, hanya menatap pria itu dengan ekspresi tak terbaca. Cho Kyuhyun duduk di pinggir sofa ruang TV-nya kemudian menatap ponselnya lagi dengan sebal. Sesungguhnya menurut Joon-a, gerak- gerik Kyuhyun terlalu berlebihan dan mencurigakan. Joon-a tahu benar seberapa teliti dan profesionalnya Asisten Choi; dia tidak pernah membiarkan hal- hal sekecil apapun mengacaukan pekerjaannya. Tapi tentu saja, dia terlalu capek untuk mencari tahu kebenaran dari perkataan Kyuhyun.

Gadis itu berjalan ke arah sofa empuk dan besar di seberang TV, dan meletakkan bantal- bantal serta selimut di atasnya. Kyuhyun memperhatikan gerak- gerik Joon-a dengan sedikit heran.

“Apa sofa itu untuk…”

Apa Joon-a lupa kalau Kyuhyun tidak bisa tidur di sofa?

“Aku tidur di sini, kau tidur di kamarku saja,” kata Joon-a dingin, menepuk- nepuk sofa sebelum mengalasnya dengan selimut.

Kyuhyun terdiam sebentar dan merenung. Bukan ini yang dia rencanakan—

“Tapi kau juga tidak bisa tidur di sofa,” kata Kyuhyun lagi.

“Hanya karena aku tidak pernah melakukannya, bukan berarti aku tidak bisa. Kamar tidurku hanya satu, jadi harus bagaimana?” Joon-a merapikan tumpukkan bantal senyaman mungkin untuknya. Yah, dia memang tidak pernah tidur di sofa. Tapi dia juga tidak bisa menolak keinginan Kyuhyun untuk tidur di apartemennya… kan?

Kyuhyun berdehem, lalu berdiri, mengusap hidungnya. Sepertinya dia harus berpikir keras mengenai bagaimana cara agar gadis ini mau tidur sekamar dengannya?

“Apa kau punya kasur ekstra?”

Joon-a berhenti merapikan sofa itu dan menatap Kyuhyun seolah pria itu punya hidung tiga.

“Aku bisa tidur di kasur dan kau tidur… di tempat tidurmu.”

“Di sini sempit,” jelas Joon-a lagi, menunjuk sekelilingnya yang meskipun tertata minimalis dan simpel, tapi tidak cukup luas untuk ditempati sebuah kasur. Dia biasanya menggunakan kasur itu kalau Margoux menginap di kamarnya…

Tunggu, apa Kyuhyun baru saja mengusulkan mereka untuk tidur bersama? Secara teknis, dalam kamar yang sama?

Tapi dari tatapan Kyuhyun, sepertinya dia tidak bercanda. Dan untuk sesaat pria itu terlihat… berharap? Butuh beberapa detik bagi Joon-a sebelum kemudian gadis itu memutuskan untuk mengalah pada dirinya sendiri, melempar bantal terakhir ke sofa dan menanyakan hal yang sejak tadi ingin sekali dia tanyakan pada Kyuhyun.

“Apa kau sudah menandatangani surat itu?”

Kyuhyun menatapnya sejenak sebelum menjawab, “Kita masih bisa tidur sekemar, Lee Joon-a.”

Joon-a menghela napas. “Kenapa kau belum menandatanganinya?”

Kyuhyun tidak menjawab, hanya menatap gadis itu dalam- dalam, memperhatikan kegusaran dan keheranan di wajah rupawannya. Dia tahu Joon-a akan terkejut, dan bahkan marah seperti sekarang ini. Kenyataannya surat cerai itu telah lama menjadi arang dalam perapian kantor Kyuhyun. Dia tidak ingin mengulang kesalahan yang sama. Tidak lagi.

Untuk sepersekian detik Kyuhyun bersumpah Joon-a sepertinya akan menangis.

“Aku bisa tidur di sini, kau sebaiknya pergi ke dalam saja,” kata Joon-a dingin dengan suara sedikit bergetar, sepertinya tengah berusaha keras mengendalikan emosinya. Gadis itu mengusap matanya, kemudian kembali merapikan selimutnya.

“Karena itu tidak akan menyelesaikan masalah.”

Joon-a berhenti dan menatap pria jangkung yang saat ini menatapnya dengan dalam dan berjalan mendekatinya hingga sekarang berdiri tepat di depannya; sangat dalam hingga rasanya bisa menembus tepat ke jantungnya tapi setidaknya saat ini cukup membuatnya berdebar sangat hebat.

“Karena, apapun yang pernah kukatakan tentang pernikahan kita dan tidak perduli seberapa sering aku berkata akan menceraikanmu; pada kenyataannya—tanganku tak pernah bisa menandatangani surat itu.” Meskipun raut wajahnya tetap datar seperti biasa; tapi sorot matanya menunjukkan kesedihan. Mungkin; bukan hanya Joon-a yang menderita selama dua tahun ini. “Pada kenyataannya; aku tidak pernah bisa membayangkan apa jadinya kalau aku menandatanganinya.”

Sepertinya ada yang baru saja menyebutkan mantra pada Joon-a karena sekarang gadis itu hanya bisa berdiri mematung dengan mulut menganga, menatap Kyuhyun dengan tidak percaya.

“Mungkin aku memang egois, seperti biasanya.” Kyuhyun tersenyum pahit, “Tapi kau, masih adalah istri dari Cho Kyuhyun.”

Joon-a merasakan tatapannya mengabur dan sebulir air mata menetes dari matanya. Raut wajah Kyuhyun yang dingin berubah menjadi hangat seperti sebelumnya.

“Tidurlah di dalam; aku bisa tidur di sofa.” Katanya lagi, tersenyum simpul pada Joon-a. “Besok pagi akan ada rapat jadi sepertinya kau tidak akan menemukanku saat bangun.”

Kyuhyun melanjutkan pekerjaan Joon-a dan menumpukkan batal tadi senyaman mungkin untuknya. Dia akan terbangun besok pagi dengan nyeri luar biasa di tulang punggungnya; Kyuhyun tahu itu. Tapi dia tidak ingin lagi mendesak gadis itu lebih jauh. Terkadang dia lupa bahwa setelah apa yang telah dia lakukan pada Joon-a; dia tidak punya hak untuk meminta apapun padanya.

“Aku akan menyiapkan kasurnya,” kata Joon-a lagi setelah mengusap air mata dari wajahnya; merebut bantal- bantal dari sofa yang sedang ditata Kyuhyun dan membawanya kembali ke dalam kamar.

*

Lee Joon-a menghabiskan satu jam terakhir menatap hampa kanvas penuh coretan sketsa di depannya. Kelas telah berakhir dari setengah jam lalu; dan dia serta sahabatnya Margoux masih sibuk di depan tugas mereka masing- masing. Hanya saja Margoux jelas sedang mengerjakannya dengan penuh hasrat, sementara Joon-a bahkan tidak tahu apa yang akan digambarnya. Dua hari terakhir ini sangat membingungkan untuknya sehingga seluruh perhatiannya seperti terpusat pada hal yang tidak seharusnya. Hanya saja seseorang datang dan mengacaukan kehidupannya sekarang ini yang sangat sempurna dan terkendali.

Apakah dia akan membiarkan orang itu mengacaukannya?…

“Oy—“

Joon-a bergidik—menatap sahabatnya yang sekarang ini berdiri di depannya dengan tanda tanya.

“Apa yang kau lamunkan sampai dering ponsel sekeras ini saja tidak dengar?” tanya Margoux heran.

Joon-a tak menjawab tapi gadis itu segera mengambil ponsel dari meja di sampingnya—sepertinya jiwanya memang sedang melayang ke tempat lain.

—097xx

2 panggilan tidak terjawab

Gadis itu mengerutkan kening. Sepertinya dari nomor tak dikenal—? Joon-a bermaksud untuk menghubunginya kembali ketika sebuah pesan masuk.

—097xx

Sepertinya kau sedang sibuk?

Kuharap aku tidak mengganggu.

Butuh beberapa detik bagi Joon-a untuk mencerna maksud pesan tersebut kemudian tersadar. Dari mana Cho Kyuhyun mendapatkan nomor ponselnya?

Ah, tentu saja. Pria itu bisa mendapatkan apapun yang dia inginkan.

To: —097xx

Ada apa?

From: —097xx

Wow. Kau tahu siapa aku?

Joon-a mendengus, memegang ponselnya dengan kedua tangannya.

Sepertinya kau punya banyak waktu luang.

Joon-a meletakkan ponsel dan pura- pura berkonsentrasi pada kanvas di hadapannya meskipun dia tahu benar pikirannya seluruhnya berada di tempat lain. Hanya saja Margoux sangat ahli dalam membaca ekspresi Joon-a dan saat ini gadis itu yakin sahabatnya sedang memperhatikannya dari ujung mata.

Ding!

Rapatku sudah selesai. Tapi aku harus makan siang dengan pemegang saham. Kapan kau berencana makan siang?

Joon-a mengerutkan kening. Salah satu hal yang menyebalkan dari seorang Cho Kyuhyun adalah keahliannya ‘menebak’.

Aku sudah makan. Itu bohong; Joon-a tidak punya selera makan sejak kemarin.

Beberapa menit berlalu dan gadis itu sekarang menatap ponselnya dengan perasaan sedikit resah. Apa Kyuhyun kesal karena dia berbohong? Joon-a berusaha keras meyakinkan dirinya bahwa apapun respon Kyuhyun bukanlah urusannya ketika terdengar denting lagi dan Joon-a segera menngambil ponselnya lagi.

Baiklah, kalau kau berkata seperti itu. Ngomong- ngomong, apakah kau bisa membantuku?

Sejak kapan Cho Kyuhyun membutuhkan bantuannya?—atau setidaknya repot- repot meminta bantuannya? Secara tidak langsung mereka pernah menjadi rekan yang ‘solid’ dalam berpura- pura mengenai pernikahan mereka, tapi pria itu terlalu angkuh dan tidak pernah sekalipun ‘meminta tolong’ padanya, meskipun pada kenyataannya mereka berdua saling membantu satu sama lain hampir setiap hari.

Apa?

Selang beberapa menit kemudian ponselnya kembali berdenting.

Ceritanya sangat panjang. Intinya; aku harap kau bisa menemaniku di acara dinner malam ini. Hanya acara makan malam sederhana untuk memenuhi undangan rekan kerjaku, dan sepertinya dikelilingi orang asing sendirian itu tidak enak.

Joon-a tertegun, menggenggam ponselnya selama beberapa saat.

Ding!

Ponselnya kembali berdenting.

Kalau kau setuju, Asisten Choi akan menjemputmu satu jam lagi.

Joon-a tidak menjawab, hanya menatap layar ponselnya dalam diam. Dia bisa merasakan debaran jantungnya yang sangat kencang dan kuat. Entahlah… semua ini terlalu tiba- tiba dan tak disangka.

Ding!

Tapi tentu saja, kalau kau setuju.

Ding!

Kuharap kau setuju.

Joon-a menghela napas. Berkali- kali dia meyakinkan dirinya bahwa dia tidak lagi seorang gadis rapuh yang kebingungan seperti dulu. Dia adalah Lee Joon-a, seorang gadis mandiri yang sedang menjemput masa depannya yang cerah. Tidak ada satu orang pun yang bisa menggoyahkan perasaannya.

Maka—

Maaf, tapi aku tidak b—

Joon-a menghapus teks yang diketiknya dan menarik napas dalam- dalam.

Ding!

Dengan ragu, Lee Joon-a membuka pesan yang baru saja masuk.

Kau percaya ini? Aku benar- benar baru saja dipaksa makan daging siput! Ya, siput, yang selalu menempel di tempat parkir apartemen dan aku semprot pakai pembasmi nyamuk! Yaik!

Tanpa sadar Joon-a tertawa.

Namanya escargot, dan dia berbeda dengan yang sering menempel di tempat parkir apartemenmu.

Ding!

Mungkin nanti aku harus mencoba bisnis daging siput. Maksudku—bagaimana mungkin makhluk yang sering menempel di lantai tempat parkirku bisa jadi makanan mewah di sini?

Lee Joon-a kembali tertawa, pikirannya berputar untuk mencari jawaban yang tenang dan cerdas ketika suara batuk kecil dari Margoux menyela pikirannya.

“Itu dari Siwon ya?”

“Hng?” senyum geli yang sedari tadi menempel di wajah Joon-a perlahan menghilang. Gadis itu menggeleng pelan. Joon-a sendiri curiga pasti sekarang ini Siwon sedang dalam penerbangan ke Seoul dengan perasaan dongkol karena gadis itu sekali lagi membatalkan janji makan malam mereka.

“Benarkah? Kalau begitu, sepertinya kau lupa menceritakan sesuatu padaku, Madamoiselle.” Tuntut Margoux.

“Cerita apa?”

Margoux memutar bola matanya. “Baiklah, Lee Joon-a. Selama dua hari terakhir ini kerjaanmu melamun terus, tugasmu belum selesai, dan sekarang kau sedang saling bertukar pesan dengan seseorang dengan senyum bodoh di wajahmu dari tadi.” Gadis berambut pirang itu menunjuk Joon-a dengan ekspresi menuduh.

“Kau sedang dekat dengan seseorang.” Raut wajah Margoux terlihat seperti dia baru saja menemukan emas berharga yang akhirnya muncul setelah dua tahun disembunyikan darinya.

Sepertinya kemampuan Joon-a untuk menyembunyikan ekspresinya telah hilang dan dia yakin wajahnya sekarang bersemu merah. Gadis itu buru- buru berdehem untuk menyamarkan perasaan gugupnya.

“Kau terlalu banyak nonton drama,” komentar Joon-a dingin, berdiri dari kursi sambil merapikan tas lalu menyampirkannya di pundak. “dan tugasku sudah selesai tadi malam.”

Margoux tidak berkomentar; raut wajahnya seolah mengatakan ‘yah-yah-berbohong-saja-semaumu’ sementara kedua matanya memperhatikan gadis cantik yang saat ini sudah berjalan meninggalkannya ke arah pintu kelas tanpa berkomentar apapun.

Lee Joon-a sedang dekat dengan seseorang—tidak salah lagi. Dan Margoux tahu benar sifat gadis itu; bahkan pisau pun tidak cukup mengancam untuk membuat gadis itu bersedia mengungkapkan rahasianya. Margoux hanya perlu menunggu dengan sabar sampai Joon-a mau menceritakan semuanya.

Apakah gunung es itu akhirnya mencair?

*

“Oh, Joon-a!” Abell terlihat senang seperti biasanya ketika Joon-a berdiri di depan tokonya, tampak sedikit kedinginan dengan udara sore itu, menghangatkan kedua tangannya ke dalam kantong jubahnya. Wajah pria itu dipenuhi dengan arang di sana sini; sepertinya dia sedang memperbaiki sepeda motor, karena beberapa motor tua terpakir di garasinya.

“Sepedamu sudah jadi, Nona Cantik,” Abell menggiring gadis itu ke ujung garasi di mana sepeda merahnya terparkir, tampak bersih mengkilat dengan sepasang ban baru terpasang. Seperti biasa, Abell memang bukan hanya sekedar ‘ahli sepeda’; dia selalu memperlakukan semua sepeda dengan sangat baik.

“Kelihatan seperti sepeda baru,” komentar Joon-a dan tersenyum pada pria tua itu. “Terima kasih banyak, Abell.”

“Tentu saja—“ Abell tersenyum bangga tapi kemudian mengerutkan kening ragu, “hanya saja, menurutku kau tetap perlu membeli sepeda baru, Nona Manis, karena aku tidak tahu kapan penyakitnya akan ‘kambuh’ lagi. Maksudku, dia toh sudah sepeda bekas ketika kau pertama kali membelinya.” Pria itu terlihat sedikit khawatir.

“Aku akan membelinya begitu aku punya uang lebih,” janji Joon-a, “tapi untuk saat ini—mari lihat sebagaimana jauh dia bisa bertahan.”

Abell menggelengkan kepala frustasi. Dia memang dekat dengan Joon-a, gadis itu praktis mengunjungi tokonya hampir setiap minggu. Tapi sejujurnya Abell tidak begitu banyak tahu tentang Lee Joon-a yang seumuran dengan putrinya. Yang dia tahu gadis itu adalah pelajar di sekolah desain ternama dan hidup sendiri di sini tanpa keluarga. Penampilan Joon-a santai dan pembawaannya sangatlah sederhana. Meskipun begitu, Abell selalu merasa ada sesuatu yang disembunyikan gadis itu—kehidupannya yang sesungguhnya. Walaupun tentu saja, itu adalah hak pribadinya. Tapi pria itu selalu merasa Lee Joon-a bukanlah seorang gadis pelajar asing biasa.

“Ngomong- ngomong,” Abell teringat sesuatu, menepuk pundak Joon-a yang sedang sibuk memeriksa sepedanya, “kau ingat pria Korea yang menawarimu tumpangan kemarin?”

Pundak Joon-a menegang; ia tertegun selama beberapa detik kemudian menengadah, menatap Abell dengan dingin.

“Sepertinya dia bukan mahasiswa—aku baru saja melihatnya di TV lokal,” ujar Abell bingung, “maksudku—aku yakin itu dia, tapi penampilannya sedikit berbeda dengan yang kita lihat kemarin pagi.”

Joon-a mengerutkan keningnya dengan heran dan seolah menjawab keheranannya, tayangan di TV tiba- tiba menunjukkan sosok pria yang baru saja dibahas oleh Abell.

“Nah, nah—“ Abell segera menghampiri TV di meja dekat rak barang- barangnya tersebut, menunjuknya dengan bersemangat, “itu dia!”

Sepertinya Abell memang tidak salah orang; pria di layar TV yang sedang ditunjuknya itu memang Cho Kyuhyun. Dan penampilannya memang sedikit berbeda dengan sosoknya kemarin pagi yang hanya menggunakan pakaian santai seperti seorang pelajar; saat ini dia sedang menggunakan setelan rapi, duduk di meja panjang bersama dengan beberapa pria bersetelan rapi yang sama tapi terlihat jauh lebih tua darinya; mereka sedang menandatangani sesuatu sementara kilat kamera berpendari dari berbagai arah.

Cho Kyuhyun kemudian berbincang- bincang dengan pria tua di sampingnya; terlihat sangat serius—seperti sosok Kyuhyun yang sering Joon-a lihat beberapa tahun lalu. Asisten Choi juga terlihat sibuk di samping Kyuhyun, memperhatikan dengan saksama setiap perintah dari atasannya. Joon-a tidak mengerti inti dari berita yang dilaporkan oleh si reporter tapi sepertinya Cho Kyuhyun dan pria- pria tua itu baru saja mengesahkan persetujuan kerjasama untuk membangun gedung pusat kebudayaan Korea di sini—dan pemerintah Prancis sangat menantikan campur tangan dari salah satu perusahaan besar Asia, yaitu perusahaan Cho Kyuhyun.

“Wow—“ Abell berdecak kagum, “ternyata kiosku kemarin didatangi orang terkenal,” sayang sekali, harusnya dia mengambil foto bersama dengan pria itu. Dan mungkin seharusnya bersama dengan Joon-a juga.

Abell baru saja akan mengungkapkan penyesalan itu pada Lee Joon-a tapi dia tertegun melihat gadis itu sekarang membeku seperti patung, masih terpaku menatap TV itu dengan mata berkaca- kaca. Ekspresi Joon-a terlihat sangat hampa—seolah dia baru saja menyadari sesuatu dan sedih karenanya.

“J—Joon-a? Kau baik- baik saja?”

Suara Abell membuyarkan lamunan Joona. Gadis itu bergidik lalu buru- buru mengusap kedua matanya sebelum air mata itu jatuh dan membongkar semuanya. Ada apa dengannya? Kenapa melihat berita seperti itu membuatnya sedih? Kemunculan Kyuhyun di TV lokal adalah bukti bahwa pria itu cukup penting untuk dunia ini—setidaknya untuk ekonomi negara mereka.

Tapi di sisi lain, itu kembali menyadarkan Lee Joon-a akan betapa berbedanya dunia mereka.

Dan itu seperti menambah goresan di hatinya. Sangat bodoh, tentu saja—apa yang kau harapkan Joon-a? Bahwa dia datang jauh- jauh kemari untuk menemuimu atau semacamnya?

*

Lee Joon-a menggiring sepedanya dengan gontai menyusuri taman kota yang siang itu sepi. Abell menyarankan agar tidak langsung mengendarai sepeda itu dan memastikan terlebih dulu. Daun- daun berguguran dari deretan pohon besar yang dilewatinya, pemandangan seperti itu adalah kegemarannya tapi entah mengapa tidak cukup menghiburnya saat ini.

Sejujurnya ia tidak tahu apa yang membuat suasana hatinya semuram ini; tadi sepertinya semua baik- baik saja.

Aku datang karena aku merindukanmu, Lee Joon-a.

Dan Joon-a hampir mempercayainya. Untuk apa seorang Cho Kyuhyun datang jauh- jauh ke benua lain hanya untuk repot- repot menyapanya? Pria itu punya misi penting, tentu saja, misi yang berhubungan dengan puluhan miliar uang dan kerjasama antar negara atau semacamnya.

Kenapa pikiran Joon-a begitu polos dan sederhana?

Langkah gadis itu tiba- tiba terhenti. Sepertinya dia terlalu tenggelam dalam pikirannya sehingga tidak menyadari kehadiran sebuah sosok yang tidak asing di ujung jalan, berdiri menantinya.

Penampilan Cho Kyuhyun terlihat berbeda dengan kemarin; pria itu menggunakan setelah formal hitam dan jubah hitam. Rambutnya ditata dengan rapi dan Joon-a baru menyadari bahwa Kyuhyun tampak sedikit lebih tua dari yang dilihatnya dua tahun yang lalu. Dia toh memang tidak semuda dulu. Sekarang dia terlihat seperti Cho Kyuhyun yang sering Joon-a tonton di berita TV dan internet. Pria yang telah sukses membangun karirnya di umur yang masih terbilang muda.

Di sisi lain dia terlihat lelah.

Joon-a menarik napas panjang. Di saat seperti ini, kehadiran Kyuhyun tidak membuat perasaannya lebih baik, apalagi mengingat dialah alasan perasaan Joon-a menjadi suram tadi. Gadis itu melanjutkan perjalanan sambil menggiring sepedanya. Cho Kyuhyun tidak bergerak; menunggu sampai Joon-a berada tepat di depannya.

“B—bagaimana kau bisa di sini?” tanya Joon-a bingung.

“Kenapa kau tidak naik sepedamu?” tanya Kyuhyun dingin. Gadis itu kelihatan capek berjalan cukup jauh sambil menggiring benda tua ini. Sejujurnya Kyuhyun berpendapat bahwa sepeda rongsokan ini seharusnya dibuang saja dan dia lebih dari rela untuk membelikan Joon-a mobil tipe apapun yang dia inginkan tapi tentu saja pernyataan itu akan mendatangkan musibah.

“Kau tidak menjawab pertanyaanku.”

“Aku melihatmu berjalan,” ujar Kyuhyun,

“Sepedaku masih belum ‘pulih’ betul,” kata Joon-a suram, “Abell menyuruhku mencoba kemampuan bannya dulu,”

“Jadi pria itu menyuruhmu menggiring sepeda ini jauh- jauh sampai ke apartemenmu?”

Joon-a mengerutkan kening mendengar ketidaksukaan dari suara Kyuhyun, “Tidak. Ini keinginanku sendiri,”

“Naik di mobilku. Kau dan sepedamu,” perintah Kyuhyun.

“Tidak apa- apa. Aku jalan kaki saja,” tolak Joon-a sopan, tidak ingin berdebat dengan Kyuhyun. Sikap Kyuhyun sekarang ini seolah mengingatkannya pada masa lalu dan Joon-a masih sedikit trauma dengan perlakuan ‘semena- mena’ pria itu dulu.

“Jarak apartemenmu masih jauh, Lee Joon-a.” kata Kyuhyun mencoba sabar. Sifat keras kepala Joon-a-lah yang sering membuat situasi menjadi tidak enak.

“Tidak apa- apa, aku masih mampu.” Bohong. Sesungguhnya kaki Joon-a bergetar dan terasa sedikit nyeri. Cho Kyuhyun tampaknya menyadari itu.

“Maaf. Tapi aku tidak bisa membiarkanmu jalan kaki sampai ke apartemen.” Kyuhyun sekarang terlihat seperti diktator yang dulu tinggal serumah dengannya.

“Baiklah—baiklah, aku akan naik sepeda. Masalah selesai kan?” balas Joon-a lagi, berjalan melewati Kyuhyun, memutuskan untuk tidak memperpanjang pembicaraan dan menaikki sepedanya. Tentu saja—sekali lagi dia bodoh kalau mengira semuanya menjadi lebih baik. Mereka akan tetap sering bertengkar seperti dulu; Kyuhyun akan selalu ‘menekan’ Joon-a dan gadis itu terlalu keras kepala untuk menuruti kemauannya. Pola itu tidak akan pernah berubah.

Kyuhyun masih terdiam di tempatnya, menatap dingin kepergian Joon-a yang bersusah payah mengendarai sepeda tuanya. Seperti ada yang menambahkan goresan di hatinya; setiap dia ingin melakukan sesuatu untuk gadis itu, dia selalu mengungkapkannya dengan cara yang salah dan pada akhirnya mereka berseteru. Apakah sesulit itu untuk mengubah pandangan Joon-a padanya?

“Argh!”

Pekikkan Joon-a menyela Kyuhyun dari lamunannya dan ketika dia tersadar gadis itu sudah terlempar dari sepedanya yang menabrak pohon.

“Lee Joon-a!!”

Cho Kyuhyun segera berlari menghampiri Joon-a yang sekarang terduduk di pinggir jalan, meringis kesakitan sambil memegang betis kanannya.

“Kau tidak apa- apa?” tanya Kyuhyun sedikit emosi, menahan keinginan untuk membentak gadis itu dan mengatakan ‘sudah-kubilang-kan’. Joon-a tidak menjawab, sibuk memegang betis kanannya yang nyeri. Sial, sepeda andalannya itu memang sudah harus pensiun. Hanya saja dia sedang tidak punya simpanan berlebih untuk membeli sepeda baru; dia sedang fokus dengan biaya persiapannya untuk mengikuti kontes desain itu. Sepertinya dia harus kembali menjadi penumpang bus mulai besok.

“Di mana lagi yang sakit?” tanya Kyuhyun yang berlutut di sampingnya; memperhatikan Joon-a dari kepala sampai ke kaki untuk memastikan bahwa hanya kaki kanan Joon-a yang terluka.

“Tidak apa- apa,” kata Joon-a dingin, merasa malu dan sebal pada dirinya sendiri. Gadis itu mencoba berdiri tapi kemudian terjatuh lagi dan meringis.

“Jangan bergerak,” ujar Kyuhyun berusaha menahan perasaan kesalnya, “kita naik mobil saja.” Pria itu mengambil ponsel dari saku jubahnya dan menghubungi asisten Choi—

“Aku tidak ingin naik mobilmu.” Jawab Joon-a lagi, menatap hampa jalanan di depannya. Dia tidak ingin naik ke dalam mobil mewah Kyuhyun, atau berhubungan dengan apapun kemewahan yang ditawarkan pria itu. Dia tidak ingin apapun yang mengingatkannya pada kehidupan yang dulu, kehidupan yang membuatnya menjadi seorang gadis materialistis dan dibenci oleh suaminya sendiri.

Kyuhyun terdiam, menatap gadis itu dalam- dalam. Sesaat dia berpikir sebelum kemudian menyimpan ponselnya kembali. Pria itu menghela napas, lalu berdiri dan berjalan sampai ke depan Joon-a yang masih duduk termenung di tempatnya; kemudian berjongkok, membuat gadis itu terkejut.

“Naik ke pundakku kalau begitu,”

“A—apa?”

“Kau tidak mau naik mobilku, dan kau jelas tidak bisa jalan.” Kata Kyuhyun dingin.

Joon-a terdiam, mulutnya terbuka dan kedua matanya menatap punggung pria itu dengan tidak percaya.

“Cepatlah. Sebelum aku menarikmu—“

Butuh beberapa detik bagi Joon-a untuk mempertimbangkan tawaran Kyuhyun. Ini adalah hal yang sangat mengejutkan, tapi anehnya, tidak asing.

“Yah, Lee Joon-a kau bodoh sekali! Memangnya kau bisa memanjat seperti kucing?”

“T—tapi a—aku hanya ingin m—menolongnya—“

“Dan sekarang kau jatuh sementara kucing bodoh itu sudah kabur. Ayo bangun!”

“Tidak bisa, kakiku sakit—“

“Ckckckck, dasar gadis merepotkan. Sudah, naik ke punggungku saja!”

“…”

“Cepat—sebelum aku menarikmu!”

Kyuhyun bermaksud untuk berpaling dan melihat apa yang sedang dilakukan gadis itu tapi kemudian sepasang lengan melingkar di lehernya dan dia bisa mencium aroma lembut Joon-a yang telah sejak lama menghantuinya. Pria itu tertegun; jantungnya serasa berdebar kencang dan kembali perasaan rindu yang luar biasa itu menyapu hati dan pikirannya.

Tanpa sadar sebuah senyum lembut perlahan menghiasi wajah tampannya.

“Sudah siap?”

*

Cho Kyuhyun lupa kapan terakhir punggungnya terasa nyeri seperti ini—masalah tulang belakangnya itu memang tidak pernah usai. Tapi di sisi lain dia tidak pernah merasa sebahagia ini; membiarkan gadis itu di punggungnya dan memeluk lehernya dengan erat agar tidak terjatuh. Lee Joon-a sedari tadi diam; menyandarkan dagunya di pundak Kyuhyun atau sesekali menyembunyikan wajahnya di baling punggung Kyuhyun karena malu. Perjalanan menuju ke apartemen Joon-a masih jauh dan beberapa orang yang di jalan memperhatikan mereka karena tentu saja ini adalah pemandangan yang sangat jarang.

Lee Joon-a masih terasa ringan seperti dulu; seperti bertahun- tahun lalu ketika Kyuhyun harus menggendong gadis itu di punggungnya karena gadis itu jatuh dari pohon untuk menyelamatkan seekor kucing.

“Apa kakimu masih sakit?” tanya Kyuhyun lagi,

“Sudah berkurang,” jawab Joon-a pelan dengan dagu masih bersandar di pundak Kyuhyun, “apa punggungmu sakit? Haruskah aku turun?”

Kyuhyun menggeleng. Gadis itu gila? Kyuhyun sangat menikmati keadaan ini.

“Ini bukan pertama kali aku menggendongmu kan?”

Pipi Joon-a memerah. Ternyata dia ingat? “Hanya saja aku bertambah berat,”

“Dan aku juga bertambah besar.” Kata Kyuhyun lagi, “Kau ingat? Paman menegurmu terlalu merepotkanku karena punggungku pegal- pegal setelah itu.”

Joon-a mendengus geli.

“Kau ingat jawabanmu saat itu apa?”

Joon-a tertegun.

“Karena punggung Kyuhyun oppa rasanya seperti punggung Appa…”

Yah, sekarang pun rasanya seperti itu. Punggung Kyuhyun memang jauh lebih lebar dari ketika dia kecil dulu tapi semuanya terasa sama. Sangat nyaman dan membuatnya merasa terlindungi. Tanpa sadar pandangan gadis itu mengabur dan dadanya terasa sesak.

Maaf—“ bisik Joon-a.

Langkah Kyuhyun terhenti.

“Maafkan perbuatan Appa,” bisik Joon-a, tak mampu membendung air matanya. “A—aku harap aku mampu membayar kerugian itu tapi… kau tahu itu mustahil kan?”

“…”

“Dan aku harap, kau bisa memaafkan ayahku. Bagiku, beliau tetaplah orang paling baik dan berharga dalam hidupku—“

Tentu saja kau juga, Cho Kyuhyun. Batin Joon-a.

“Kau tidak perlu minta maaf,” kata Kyuhyun dingin. “Tidak ada yang perlu dimaafkan. Dan bagiku, Paman tetaplah salah satu pria paling bijaksana dan paling aku hormati—tidak pernah berubah sedikitpun.”

Joon-a terisak, menyembunyikan wajahnya di pundak Kyuhyun, membiarkan air matanya membasahi jubah Kyuhyun yang mahal itu. Baiklah, hatinya sekarang terasa lebih lega. Perasaan bersalah itu terus menghantuinya selama dua tahun terakhir ini semenjak dia mengetahui fakta yang sebenarnya.

Kyuhyun berdehem, memperbaiki posisi Joon-a di punggungnya dan kembali berjalan.

“Lee Joon-a, ngomong- ngomong—apa yang akan kau masak untuk makan malam?” tanya Kyuhyun, mencoba terdengar ceria untuk membangkitkan suasana hati gadis itu.

Joon-a mengusap air matanya. “Bukankah kau punya janji makan malam?”

“Sudahlah, toh aku juga tidak akan mengerti apa yang mereka bicarakan,” ujar Kyuhyun. “Ah, aku sedang ingin makan jap chae buatanmu.”

“Tapi kau pernah bilang kita tidak boleh menolak ajakan makan malam rekan kerjamu karena itu kurang sopan.” Karena itulah Joon-a keseharian Joon-a selalu dipenuhi dengan janji makan malam dulu; dia harus mendampingi suaminya memenuhi undangan rekan- rekan kerjanya.

“Sekali- sekali boleh kan?” Lagipula dia tidak ingin pergi ke acara itu sendirian dan tenggelam dalam pembicaraan yang membingungkan.

“Pergilah, aku akan menemanimu.”

“Kau tidak bersedia untuk membuatkanku jap chae ya?”

“Aku juga akan membuatkanmu jap chae.”

“Benarkah?” Kyuhyun berhenti berjalan. “Kau akan menemaniku ke acara makan malam nanti?”

Joon-a mengangguk.

“Baiklah.” Kyuhyun kembali berjalan, kali ini dengan senyum lebar di wajahnya. Dia tidak perduli apa dia terlihat bodoh atau gila.

Dan Kyuhyun juga lupa kapan terakhir dia merasa seperti ini.

Ngomong- ngomong apa yang harus Joon-a pakai? Sudah cukup lama sejak dia terakhir mengikuti acara makan malam dan persediaan bajunya tidak cukup banyak. Dia bahkan tidak ingat punya baju formal yang pantas dalam lemari pakaiannya. Sepertinya hidupnya terlalu santai dua tahun terakhir ini.

“Tidak apa- apa,” suara Kyuhyun mengejutkan Joon-a. Apa dia bisa membaca pikiran atau Joon-a yang telah tanpa sadar mengatakan isi pikirannya?

“Kau tahu kau selalu terlihat cantik tidak perduli apapun yang kau pakai.”

Rasanya seperti ada puluhan kupu- kupu beterbangan dalam perutnya. Joon-a bisa merasakan wajahnya memerah panas seperti udang sekarang. Dia pikir dia tidak bisa lagi merasakan perasaan ini—perasaan seperti seorang remaja bodoh yang sedang kasmaran. Dan tentu saja, ini sangat bodoh. Kyuhyun mengatakannya dengan sangat datar tanpa maksud memuji, Joon-a tahu itu. Tapi itu saja cukup membuat sekujur tubuhnya menghasilkan reaksi yang luar biasa mengganggu; dia berharap Kyuhyun terlalu sibuk menggendong tubuhnya yang berat hingga tidak menyadari senyum bodoh di wajah Joon-a, atau dadanya yang berdebar sangat kuat sekarang ini hingga jantungnya serasa ingin meledak.

 

*

Lee Joon-a menghabiskan satu jam terakhir dengan mondar mandir di depan cermin besar, mencoba beberapa potong gaun formal yang tersisa dalam lemarinya. Dan sejauh ini, dia belum menemukan gaun yang cocok untuk makan malam sebentar. Akhir- akhir ini dia terlalu sibuk dengan sekolah dan lebih cenderung membeli kaos santai serta celana setiap Margoux mengajaknya belanja pakaian. Dia juga tidak punya cukup waktu untuk membeli gaun baru yang pantas.

Joon-a menatap bayangan dirinya yang saat ini memakai gaun berwarna merah muda selutut dengan kesal.

“Aish—waktu itu tidak seharusnya aku terlalu jual mahal dan meninggalkan semua gaun yang dibelikan Cho Kyuhyun,” gumamnya suram. Joon-a saat itu hanya pergi dengan satu tas baju berisi baju- baju biasa dan barang- barang miliknya sebelum menjadi menantu keluarga Cho.

Apa masih ada waktu untuk menolak ajakan makan malam ini? Lee Joon-a benar- benar sudah putus asa dengan penampilannya.

“Kau tahu kau selalu terlihat cantik tidak perduli apapun yang kau pakai.”

Joon-a mencibir. “Cih, kalau aku pakai celana gombrong dan kaos compang- camping memangnya kau suka?”

Suara dering ponsel mengagetkan Joon-a dan gadis itu meringis ketika melihat nomor asing di layar ponselnya yang dia kenali sebagai nomor ponsel Kyuhyun; dia hanya belum berniat menyimpannya.

“Apa kau sedang bersiap- siap?”

Joon-a menatap wajah polosnya serta rambutnya yang basah dan baju pink tak berseni yang saat ini sedang dipakainya, kemudian serangan panik menguasainya.

Oke, tenang saja, Lee Joon-a.

“K—kurasa b—begitu,”

Gadis itu bisa merasakan Cho Kyuhyun tersenyum jahil di ujung sana. Entah mengapa sepertinya ‘kekuatan batin’ yang menyebalkan ini masih belum benar- benar putus antara mereka.

“Baiklah. Apa kau sudah… menemukan gaun yang ingin kau pakai?”

Joon-a terdiam sejenak dan Kyuhyun buru- buru menambahkan, “—bukannya itu masalah besar bagiku. Aku sungguh- sungguh ketika mengatakan kau terlihat cantik apapun yang kau pakai,” Joon-a memutar kedua bola matanya, “hanya saja—tadi sore aku sempat bertemu dengan salah satu teman ibuku, dia adalah seorang desainer—nanti aku akan memperkenalkanmu dengannya. Dan… aku bertanya- tanya apakah… dia punya koleksi gaun formal terbaru yang… pantas untuk pendampingku untuk makan malam nanti dan…” Cho Kyuhyun sibuk mencari susunan kata yang pas dan tidak menyinggung Lee Joon-a, “… dan dia ternyata baru saja menyelesaikan proyeknya jadi dia mengirimkan satu untukku. Gratis—tentu saja,”

Joon-a merasakan jantungnya berdebar kencang. Apakah dia benar- benar—?

“Dan kuharap… aku mengirimkan alamat yang benar padanya…”

Tiba- tiba suara bel berbunyi di luar sana dan Joon-a terkesiap, menatap ke luar pintu kamarnya dengan terkejut.

Sepertinya aku tidak keliru,” dan sekali lagi Joon-a bisa merasakan seringai geli di wajah Kyuhyun.

Joon-a masih diam, tidak tahu harus menjawab apa. Lidahnya terasa kelu, berbanding terbalik dengan debaran jantungnya yang tak beraturan. Rasanya kupu- kupu itu kembali beterbangan di dalam perutnya; sebagian dari dirinya ingin mengucapkan ‘terima kasih’ tapi sebagiannya lagi—dan bagian ini lebih mendominasi—memutuskan bahwa dia tidak dalam keadaan memadai untuk sekedar mengeluarkan suara.

“Dan juga—aku belum melihat gaun itu sama sekali. Aku hanya mendeskripsikan bagaimana sosok pendampingku malam ini. Biasanya teman ibuku itu tidak pernah keliru dalam memilih pakaian jadi… aku harap kau menyukainya.”

Mungkin hembusan nafas Joon-a bisa terdengar dan setidaknya menandakan bahwa gadis itu masih hidup dan mendengarkan semua penjelasan Kyuhyun.

“sampai jumpa malam ini, Lee Joon-a.”

Klik.

Butuh beberapa detik bagi Joon-a untuk mengumpulkan kembali kesadarannya setelah pembicaraan ‘singkat’ dengan Cho Kyuhyun. Gadis itu masih terpaku di tempatnya, setengah tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.

Suara bel yang terus berbunyi membuyarkan puluhan pertanyaan yang berkelebat dalam pikiran Joon-a.

*

Cho Kyuhyun berdiri di depan depan jendela besar apartemen Joon-a, menatap jalanan sepi di bawah sana diterangi hiasan lampu yang melingkari deretan pohon. Matanya mengikuti sosok seorang pria tua yang berjalan sambil menggiring anjing berukuran besar dan sangat berbulu, sepasang anak- anak yang bermain pistol air. Sepasang kekasih berjalan menyusuri jalanan sambil bergandengan tangan; si pria melingkarkan syal ke leher si gadis lalu mengusap- usap lengannya agar tidak kedinginan dan senyum kemenangan mewarnai wajah tampan Cho Kyuhyun.

Untuk pertama kalinya melihat pemandangan seperti itu tidak membuatnya ingin meninju dinding atau melempar barang di sekitarnya.

“Maaf ya,” suara Joon-a meminta maaf terdengar dari dalam kamar, “sebentar lagi,”

“Tidak apa- apa. Santai saja,” seru Kyuhyun. Dia sangat ingat bagaimana lamanya Joon-a bersiap- siap setiap ada undangan makan malam dan kadang Kyuhyun menggunakan alasan itu untuk bertengkar dengannya. Kalau dipikir- pikir itu cukup bodoh mengingat Joon-a toh melakukannya untuk kebaikan Kyuhyun juga. Hanya saja, sejujurnya menurut Cho Kyuhyun, seorang Lee Joon-a tidak memerlukan waktu selama untuk mempercantik dirinya karena pada dasarnya tidak ada lagi yang perlu diperbaiki pada penampilannya, meskipun tentu saja Kyuhyun tidak berencana untuk mengungkapkannya.

Kyuhyun kemudian memutuskan untuk melakukan sedikit tur di apartemen kecil Joon-a, sibuk memperhatikan hiasan- hiasan sederhana di lemari putih panjang tempatnya barang- barang tertata dengan sangat rapi; beberapa rak berisi buku- buku tebal di salah satu sudut ruangan dan sofa yang nyaman sebagai tempat membaca. Pria itu tersenyum melihat koleksi boneka- boneka hiasan kecil yang dihiasnya di atas meja, kemudian berjalan melintasi ruang tamu ke arah ruang kerja Joon-a yang hanya dibatasi dengan sekat kecil.

Tumpukan kertas- kertas dengan berbagai gambar desain baju menghiasi meja kerja gadis itu, di samping laptopnya yang terbuka dan tumpukan buku mode. Di samping meja kerja Joon-a terdapat tiga buah kanvas berukuran sedang, tempat gadis itu menggambar puluhan lembar desain baju. Kyuhyun menatap gambar Joon-a cukup lama; gadis itu punya hasrat yang sangat tinggi di bidang desain, keinginan terbesarnya adalah menjadi desainer. Cho Kyuhyun seharusnya membantunya tapi menjadi istri dan menantu keluarga Cho mengharuskannya membungkam mimpi itu karena dia harus memenuhi tuntutan menjadi seorang istri dan menantu yang teladan.

Kyuhyun kemudian memperhatikan beberapa bingkai perisi piagam penghargaan yang digantung di dinding. Lee Joon-a memenangkan beberapa penghargaan bergengsi dan gadis itu lebih memilih untuk menikmatinya secara pribadi di ruang kerjanya yang kecil dan sederhana ini.

Senyum Kyuhyun mengembang. Tiba- tiba perasaan bangga menyelimuti hatinya. Yah, ini adalah istrinya, Lee Joon-a yang selalu fokus pada keinginannya dan berusaha mendapatkannya dengan usahanya sendiri. Meskipun ada rasa kecewa karena Kyuhyun tak memberikan sedikitpun andil untuk itu. Dia ingin berguna bagi Joon-a, walau dia tahu gadis itu pasti akan menolaknya..

Kyuhyun menghampiri meja kerja gadis itu, membuka salah satu buku modenya, membaca tulisan- tulisan tambahan kecil bertinta merah muda di samping teks buku, seperti komentar pribadi Joon-a dan inti- inti dari tulisan yang harus dibacanya. Kyuhyun kemudian membuka halaman yang lain dan senyum di wajah pria itu memudar.

Sepertinya Lee Joon-a sering menggunakan foto masa kecilnya bersama Kyuhyun sebagai pembatas buku? Pria itu terpaku menatap foto dirinya belasan tahun lalu yang tersenyum sementara tangannya yang satu melingkari punggung kecil Joon-a; yang tersenyum tidak kalah bahagianya dengannya. Saat itu mereka sedang bermain di pantai dan wajah mereka dilumuri pasir.

Yah, itu adalah saat paling membahagiakan dalam hidup mereka.

Raut wajah Kyuhyun perlahan berubah ketika pria itu menyadari ada tulisan di balik foto.

Aku harap sekarang kau sedang tersenyum seperti di foto ini 🙂

Rasanya seperti ada yang menyiraminya dengan air dingin. Pria itu membeku di tempatnya—tatapannya mengabur dan—

*

 

“Maaf—aku harap kita tidak terlambat—“

Joon-a tergesa- gesa keluar dari kamar, menemukan Cho Kyuhyun yang sekarang ini sedang berada di ruang kerjanya, memperhatikan tumpukan gambar sketsa di atas meja. Gadis itu terdiam di depan pintu, memperhatikan punggung Kyuhyun yang lebar dengan gelisah.

Kyuhyun kemudian menoleh ke belakang dan sejenak tertegun melihat penampilan Joon-a, membuat perasaan gelisah gadis itu semakin memuncak. Dia toh sudah berusaha sebisa mungkin untuk terlihat elegan. Kenyataanya desainer yang mengirimkan gaun ini patut diacungi jempol karena Joon-a sangat menyukai warna biru safir yang kontras dengan kulit putih susunya, serta potongannya yang lembut. Rambut cokelat panjangnya dibuat ikal dan Joon-a hanya menggunakan make up simpel karena selain persediaan riasnya yang sudah minim; dia juga tidak merasa harus menambahkan apa- apa lagi karena gaun sederhana yang dipakainya saat ini sudah cukup mencolok.

Cho Kyuhyun terdiam sejenak, memperhatikan wajah gadis itu; matanya kemudian turun ke gaun yang dipakai Joon-a dan senyum perlahan menghiasi wajah tampannya.

Yah. Persis seperti yang dipikirkannya. Tidak. Lebih baik malah.

Joon-a merasakan pipinya memerah dan dadanya berdebar kencang ketika pria jangkung itu berjalan pelan menghampirinya dengan tatapan terpancang pada wajahnya.

“Sepertinya, pria tua itu belum kehilangan kemampuannya sama sekali,” komentar Kyuhyun, kemudian pura- pura berpikir, “atau… karena yang menggunakannya adalah Lee Joon-a?”

“Sepertinya dia desainer yang sangat terkenal,” ujar Joon-a, memotong kalimat Kyuhyun yang menurutnya terlalu mengada- ada. Ia tahu bahan yang digunakan perancang ini sangat susah didapat dan produksi pabrik kain terbaik di Prancis. Singkatnya; hanya perancang ternama yang mampu menggunakannya.

“Entahlah, mungkin?” kata Kyuhyun mengangkat bahu tak perduli.

“Siapa namanya?”

“Oh—kau akan menemuinya sebentar.” Kyuhyun tidak begitu tertarik untuk membahas tentang perancang dibalik gaun indah yang dipakai Joon-a. “Ngomong- ngomong, aku punya sesuatu untukmu.”

Joon-a mengerutkan alisnya. “Sesuatu?”

Kyuhyun mengangguk. “Anggap saja ucapan terima kasih karena kau mau menemaniku makan malam.”

Lee Joon-a tidak menjawab, hanya dengan bingung memperhatikan pria di depannya yang saat ini mencari sesuatu di dalam kantong jubahnya. Kyuhyun mengeluarkan kotak persegi berukuran kecil berbungkus kulit. Joon-a masih tidak bergeming ketika Kyuhyun perlahan membuka kotak itu, tapi kemudian tertegun ketika melihat isi di dalamnya.

 

Cho Kyuhyun dengan hati- hati mengeluarkan kalung silver dengan mata kalung matahari berukuran kecil yang terbuat dari perak.

“Bolehkah aku memakaikannya?” tanyanya tenang.

Joon-a masih menatap kalung itu dengan mulut setengah terbuka. Reaksi itu dianggap Cho Kyuhyun sebagai persetujuan; pria itu membuka kait kalung dengan sedikit susah payah—dia belum pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya. Dia belum pernah bertingkah seperti ini untuk seorang gadis. Dan dua tahun terakhir ini dihabiskannya dengan penyesalan karena dia telah menyia- nyiakan kesempatannya untuk membahagiakan Lee Joon-a dengan membuatnya menderita.

Kyuhyun maju satu langkah hingga mereka hanya berjarak beberapa senti, sejenak tersenyum pada Joon-a yang masih berdiri mematung; mendekatkan kepala mereka dan dengan hati- hati melingkarkan kalung itu di leher jenjang Joon-a, menggunakan kesempatan itu untuk menghirup aroma rambut Joon-a yang harum. Ya Tuhan, dia sangat merindukan gadis ini—sangat rindu hingga aroma Joon-a saja membuat dadanya sesak dan jantungnya berdetak puluhan kali lebih kencang. Dan Kyuhyun benar- benar sadar apa yang bisa dia lakukan di leher gadis ini seandainya Joon-a mengijinkannya.

Tapi tentu saja, atas nama apapun di dunia ini, dia harus mengontrol dirinya sendiri.

Maka pria itu kemudian berdiri tegak di depannya; membenarkan posisi mata kalung itu. Joon-a masih tidak berkomentar; menengadah menatap Kyuhyun dengan mata berkaca- kaca.

Detik kemudian Kyuhyun mendekatkan wajah mereka lalu mengecup dahi Joon-a pelan dan bertahan di situ selama beberapa detik, menahan kedua pundak Joon-a. Dia bisa merasakan gadis itu bergidik karena terkejut tapi dia tidak bisa menahannya lagi, perasaan ini sangat dalam dan menyiksa. Melihat Lee Joon-a saja sudah seperti mimpi baginya dan sejak kemarin yang dia inginkan hanyalah meyakinkan dirinya bahwa gadis itu nyata.

Setelah satu menit yang sangat membahagiakan itu akhirnya Kyuhyun dengan berat hati melepaskan kecupannya kemudian menurunkan wajahnya agar hidung mereka bersentuhan. Lee Joon-a menutup matanya, seperti menahan dirinya sendiri agar tidak menunjukkan emosinya. Joon-a memang bukan seorang gadis yang akan dengan mudah menunjukkan emosi dan suasana hatinya; sejak kecil dia telah diajarkan untuk menyimpan semua itu dalam- dalam. Hanya Kyuhyun yang bisa membaca semua itu, tapi semua kesalahpahaman dan kemarahan itu membuat mata dan hatinya buta akan apa yang seharusnya bisa dia lihat.

Bahwa hanya Cho Kyuhyun yang bisa menyelamatkan Lee Joon-a.

Bahwa Cho Kyuhyun juga di sisi lain membutuhkan gadis itu dan menginginkannya.

Bahwa sesungguhnya, apapun yang dia lakukan dan ke manapun dia pergi, dia akan selalu kembali pada gadis itu.

Karena Lee Joona adalah mataharinya.

 

 

Advertisements

352 thoughts on “The Flower Trilogy; Sunflower- Part 5”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s