Uncategorized

The Story of Bear Family (END-part1)

First of all, sorry for the super late update. Kayaknya aku gak perlu jelasin jadwal kerjaku seperti apa, dan anyway my mood is kind of bad karena beberapa ‘insiden’ di instragram. Aku jadi mikir ‘gue nulis hobby aja, minta dibayar juga nggak. kalo nulis fanfic efeknya jadi kayak gini mending gue gak usah nulis fanfic aja lagi.’

Jadi gini ceritanya, teman aku juga pernah bilang “lebih susah hubungin lo daripada hubungin jokowi.” T____T

aku bukan tipe orang yang sempat untuk menjawab semua comment di instagram, cuma kalo lagi buka aja dan comment mana yang sempat dijawab. orang sms aja aku balas 1 hari kemudian. aku bukan tipe orang yang setiap waktu pegang hape dan on di social media. aku orangnya cinta ‘kedamaian’ dan ‘ketenangan’ dan menurutku berada di sosmed setiap waktu itu rentan menimbulkan masalah, menurut aku loh yah. Jadi aku lebih hobi main game atau tidur atau dengerin lagu.

hanya saja itu membuat beberapa orang ‘sakit hati’ dan sampe nyindir2 dan semacamnya di IG, dan karena aku orang yang simple, daripada bikin kesal pas lagi capek trus baca komen kayak gitu, mending orangnya aku blok karena jelas2 orang itu udah gak seneng sama aku.

dan ternyata malah ada yang lebih nekat dan masuk ke instagram aku yang satu, dan ngancam mau nyebarin foto2 aku dan waktu dulu karena aku dulu gemuk.

sebenarnya gak marah sih, cuma kecewa aja. aku juga beberapa kali kok leave komen ke akun2 author di instagram dan gak pernah dibalas. cuma aku gak tersinggung atau marah karena menurutku itu hak mereka mo bales ato nggak.

aku juga sering baca fanfic orang yang diupdate beberapa bulan satu kali tapi aku gak pernah nyindir. Mungkin kalian bilang “sombong amat dia” ato “lama banget dia update ffnya” tapi kalian nggak tau kehidupan apa yang sedang dia jalani. Makanya jangan terlalu cepat menghakimi orang.

Jadi di kesempatan ini juga aku mau minta maaf kalau ada mereka yang merasa tersinggung dengan sifat aku yang cuek.

Mungkin beberapa dari kalian berpendapat kalo aku sombong, itu terserah kalian, tapi mengancam orang lain dengan membongkar privasinya itu bukan tindakan yang terpuji. jangan menodai hati kalian cuma gara- gara saya :))

dan pikir lagi apakah tindakan kalian membuat orangtua kalian bangga karena apapun yang kalian lakukan adalah cerminan dari apa yang orang tua kalian ajarkan 🙂

So, be wise. Fanfic ini cuma untuk hiburan. Saya nggak suka terlibat dalam drama yang gak penting. Saya cuma seorang dokter yang hobi nulis fanfic.

Anyway ini chapter terakhir part 1 :))

Title: The Story of Bear Family (End-part1)

Character: Cho Kyuhyun

                     Kris Wu

                     Han Sae-jin


July 2014

Seorang perawat berseragam biru berlari melintasi koridor yang ramai sambil mendorong kereta besi dengan bak berisi peralatan medis—beberapa perawat dengan pakaian yang sama berlari dari arah berlawanan mengikuti dokter menuju ke pintu darurat di ujung koridor. Dua petugas medis dengan susah payah berjalan secepat mungkin sambil memegang tandu; seorang pria terbaring tak berdaya di atasnya dengan bersimbah darah dan kedua tangan terkulai lemas. Teriakan dan tangisan terdengar dari segala sisi, dan aroma campuran berbagai jenis zat kimia membuat hidungmu pedas tapi di saat yang sama membangkitkan perasaan ngeri hingga serasa mencekik lehermu.

Cho Kyuhyun sama sekali tidak menyadari semua itu.

Kyuhyun menghabiskan dua jam terakhir duduk termenung di kursi penunggu; kedua tangannya yang bersandar di atas paha bergetar hebat sementara wajahnya tertunduk lesu. Beberapa orang yang leewat di koridor itu menatapnya heran; mungkin karena fakta bahwa pria yang sedang duduk membatu di kursi tunggu pasien itu adalah idola Korea yang sangat terkenal—atau juga karena wajah dan bajunya yang bersimbah darah.

Perdarahannya sangat banyak, Tuan Cho…

Kyuhyun menggigiti jempolnya dengan tatapan hampa, entah sudah berapa liter air mata yang dikeluarkannya dan sekarang kedua matanya terasa bengkak dan pedis. Dia lupa kapan terakhir dia menangis seperti ini—atau juga khawatir seperti ingin mati saja rasanya.

Kami sangat menyesal mengatakannya tapi, keadaannya tidak begitu baik…

Kyuhyun bisa merasakan dua bulir air mata kembali membasahi pipinya sementara dia bisa merasakan darah di jari jempol yang digigitnya sedari tadi.

 Kami harus mengadakan operasi darurat sekarang juga.

Ya Tuhan. Kyuhyun menutup mata dan menundukkan wajahnya, menutupnya dengan kedua tangannya. Bila terjadi sesuatu yang buruk pada Sae-jin dan bayi mereka, Kyuhyun lebih baik mati saja.

“Kyuhyun—ah!”

Kyuhyun kontan menurunkan tangannya dan menengadah; terkejut ketika melihat orangtuanya dan kakek Han yang berlari ke arahnya dengan wajah tegang dan terkejut. Hatinya lebih terluka ketika melihat wajah kakek Han yang sekarang terlihat seolah nyawanya baru saja dicabut dari tubuhnya. Dia telah membuat cucu dan keluarga satu- satunya beliau terluka.

“Apa yang terjadi—kau bilang dia terkena tembakan? Di mana?” tanya Nyonya Cho dengan mata membesar dan wajah pucat. “Di mana dia sekarang??”

“Bagaimana dengan bayinya??” Tuan Cho nyaris berteriak.

“Apa cucuku baik- baik saja?” suara lemah kakek Han yang sedikit bergetar justru menyayat hati Kyuhyun; dia tidak mampu menatap beliau. Kyuhyun kembali menunduk.

“Dia—“ nafas Kyuhyun tercekat; mengatakannya dengan jelas membuat semua terasa ratusan kali lipat lebih nyata, dan menusuk. “—dalam ruang operasi.”

Hening sejenak. Dia tidak berani menatap satupun dari mereka bertiga, yang saat ini seperti sedang dikutuk menjadi batu.

“Ini semua salahku,” bisik Kyuhyun lemah, menutup wajahnya kembali.

“Kyuhyun-ah…”

Mengapa dia selalu membuat Han Sae-jin tertimpa kesialan? Setiap dia meyakinkan bahwa Sae-jin akan terlindungi jika bersamanya, dia malah selalu membuat Sae-jin bernasib naas, dan sekarang ujungnya dia telah mencelakai istrinya dan bayi mereka.

Apa dia terlalu serakah karena ingin memiliki Sae-jin meskipun telah berkali- kali menyakitinya?

Sepertinya dia baru saja tanpa sadar mengatakan isi pikirannya pada mereka karena detik berikutnya mereka bertiga terperangah; ibunya kemudian duduk di sampingnya dengan ekspresi tak percaya, sementara Tuan Cho mengusap wajah dengan frustasi dan Kakek Han menatap hampa Kyuhyun dengan wajah bersimbah air mata.

*

Yoon Dae-jo duduk termenung, menatap hampa sinar yang berganti- ganti warna di proyektor raksasa di depannya setiap slide yang baru ditampilkan. Entah apa yang merasuki dirinya. Rapat pemegang saham pagi ini sangat penting dan para staf telah mempersiapkan rapat ini selama sebulan penuh, para pemegang saham yang lain juga telah meluangkan waktu dan datang dari Amerika. Singkatnya, mereka sedang membahas anggaran triliunan rupiah dan proyek yang sangat menentukan kelangsungan perusahaan tahun ini. Yoon Dae-jo adalah pemimpin yang sangat ditakuti dan para staf serta pemegang saham yang lain tidak pernah sekalipun berani melakukan kesalahan sekecil apapun karena mereka tahu Dae-jo sangat menuntut kesempurnaan.

Tapi saat ini yang bisa dia lakukan hanya duduk termenung; tak berencana untuk sedikitpun fokus pada apapun yang sedang dijelaskan oleh Manajer umum Park dengan penuh semangat, menjelaskan angka keuntungan dari grafik yang tertera di layar. Tubuhnya tidak sekuat dulu dan entah mengapa hari ini hatinya diliputi kegalauan. Cukup aneh mengingat selama beberapa minggu terakhir semuanya terasa membaik kendatipun kondisi fisiknya semakin buruk. Tapi putrinya tidak membencinya dan perlahan mulai menerimanya. Untuk saat ini, hanya itu yang dia butuhkan.

Tapi… kenapa saat ini dia merasa gelisah? Dia adalah tipe orang yang tidak suka melewatkan detil apapun dari slide yang dijelaskan pegawainya; dan sekarang dia malah ingin agar presentasi ini cepat- cepat selesai.

Apa ini karena penyakitnya?

Atau karena perasaan bersalah yang tidak pernah meninggalkannya?

“Tuan Yoon—“

Dae-jo bergidik; tersadar dari lamunannya. Ternyata rapat telah berhenti—atau setidaknya itu yang dia pikirkan; melihat sekarang ini ruangan besar itu diliputi keheningan dan semua tatapan para pemegang saham tertuju padanya. Menatapnya dengan bingung dan heran. Dia kemudian menatap grafik di proyektor yang menandakan bahwa rapat sebenarnya belum selesai.

Yoon Dae-jo kemudian menoleh dan mendapati asistennya Tuan Han yang saat ini terlihat sangat panik dan ketakutan. Selama puluhan tahun bekerja bersama pria tua ini, Tuan Han tidak pernah suka menunjukkan ekspresinya bahkan dalam situasi paling menakutkan sekalipun, sehingga sikapnya sekarang membuat Dae-jo otomatis ikut merasa panic.

“A—ada apa?” tanya Dae-jo heran. Apa yang membuat seorang Han Do Hee nekat menginterupsi rapat terpenting di perusahaan ini untuk menyampaikan berita pada pemimpin rapat?

Tuan Han sendiri selama beberapa detik terlihat memikirkan bagaimana cara menyampaikan berita ini tanpa mengakibatkan ledakkan yang bisa menghancurkan seisi ruangan—tapi memutuskan bahwa tidak ada cara yang bisa mencegah efek tersebut, lalu membungkuk dan membisikkan sesuatu di telinga tuannya.

Deg.

Detik kemudian ekspresi bingung Dae-jo berubah kosong—kemudian digantikan dengan kengerian dan tidak percaya. Jantungnya terasa berhenti sesaat, kemudian kembali berdetak diiringi nyeri yang amat sangat. Tidak. Ini tidak mungkin. Tubuhnya membeku tapi tangannya mengepal dan tanpa sadar bergetar.

“A—apa maksudmu?”

“Nona Muda sekarang sedang berada dalam ruang operasi—“

Yoon Dae-jo berancang- ancang untuk melompat berdiri tapi Tuan Han dengan sigap menahan pundaknya. “Tuan Yoon—saat ini ratusan reporter sedang berkumpul di depan rumah sakit—“

“Aku tidak perduli.” Ujar Yoon Dae-jo dengan gigi terkatup dan mata berkaca- kaca. Dae-jo melompat dari tempat duduknya kemudian berlari ke pintu, diikuti tatapan heran dan bisik- bisik penuh tanya seisi ruangan. Tuan Han sendiri terlihat khawatir, sadar dengan aura ketikdasenangan yang meliputi ruangan besar ini, kemudian memutuskan bahwa yang paling penting adalah mengikuti tuannya pergi. Tapi Dae-jo tidak perduli—dia bahkan tidak perduli berapa kerugian mereka nanti bila proyek itu tidak segera dilaksanakan atau ada berapa perusahaan yang kehilangan kesempatan untuk bekerja sama dengan perusahaannya karena rapat yang batal ini.

Yang ada dalam pikirannya sekarang adalah, dia harus memastikan putrinya baik- baik saja, karena kalau tidak dia bersumpah akan menjadikan dunia ini neraka bagi siapapun yang tinggal di dalamnya.

*

Lee Sunjin menghabiskan setengah jam terakhir memperhatikan dirinya di depan cermin raksasa kamarnya. Dia baru saja menyelesaikan sesi konsultasi entah untuk yang keberapa kalinya bersama ahli psikolognya dan seharusnya dia kembali ke kantor untuk menandatangani beberapa laporan yang diajukan oleh ketua sanggar musikalnya, tapi hari ini dia hanya ingin berdiam diri di kamar dan merenung… entah untuk apa. Sekarang ini berdiam diri di kamar dan mengkhayal adalah kegiatan favoritnya, kemudian dia akan merasa lebih depresi lalu membayar jutaan won untuk sesi konsultasi yang tak berarti bersama ahli psikolog terkenal di Korea.

Hampa. Itulah yang Sunjin rasakan tentang hidupnya. Dia merasa hidupnya tidak berarti; seperti lubang dalam dirinya yang tak akan pernah bisa ditutupi, bagaimanapun dia bekerja keras untuk menutupinya.

Dan yang paling menjinjikkan adalah; Sunjin sadar bahwa selama ini hidupnya tidak pernah lebih baik dari sebelumnya—bahwa tak perduli betapa keras dia bekerja dan betapa banyak yang telah dia korbankan; hidupnya tidak berubah, tetap kosong dan tak berarti. Sunjin berkali- kali meyakinkan pada dirinya bahwa semua itu bohong; itu jugalah yang dijelaskan oleh psikolog bodoh itu—tapi pada akhirnya, dia sadar bahwa dia tidak bisa lari lagi dari kenyataan.

Dia telah melakukan hal paling kejam yang pernah dilakukan seorang manusia, tapi pada akhirnya… semuanya sia- sia.

Sunjin maju satu langkah, lalu terkesiap melihat kerutan- kerutan yang merusak kecantikan wajahnya. Pandangannya perlahan turun pada gaun putih kusam yang dikenakkannya, dan tubuh ringkihnya yang semakin lama semakin kurus kering. Di mana Lee Sunjin, wanita tangguh yang ditakuti semua orang? Sekarang ini dia hanya melihat seorang wanita tua yang depresi dan ingin mati.

Ingin mati.

Itu hukuman untuknya. Itu karma yang harus dia bayar karena telah membuang putrinya sendiri.

“Tidak!!!” teriak Sunjin histeris. Suara- suara bisikkan itu kembali menghantui pikirannya, membuat kepalanya serasa berputar dan jantungnya berdegup kencang; sangat kencang. “Tidak!!!”

Kau akan menderita—kau telah dihukum selamanya karena perbuatanmu sendiri. Kau sudah terlanjur berbuat dosa besar dan tidak ada yang bisa kau lakukan untuk menutupinya!

“TIDAK!!!” teriak Sunjin—mengambil vas bunga di meja di sampingnya dan melemparnya ke cermin raksasa itu, menimbulkan pecahan dan serpihan yang bertebaran di mana- mana. Tidak. Itu semua tidak benar—suara- suara itu harus pergi dari kepalanya bagaimanapun caranya!

Suara- suara dalam kepalanya kontan berhenti—digantikan dengan dering nada ponselnya. Sunjin tertegun sejenak kemudian tersadar; terkejut melihat serpihan- serpihan kaca di lantai di depannya dan cermin raksasa mewahnya yang hancur. Astaga—apa yang telah dia lakukan? Lee Sunjin menarik napas panjang; kemudian menatap ponselnya yang tak berhenti bordering. Keningnya berkerut melihat nama Detektif Choi, detektif yang beberapa bulan terakhir bekerja untuknya.

Ada apa ini? Bukankah Sunjin telah menyuruhnya untuk berhenti memata- matai Han Sae-jin?

Sunjin menatap ponsel yang terus bordering itu sejenak, kemudian memutuskan untuk mengangkatnya, karena yang dia tahu Detektif Choi bukan tipe orang yang suka mendesak kecuali untuk hal yang sangat penting. Sunjin mengangkat ponselnya sambil mengusap wajahnya dengan frustasi, berjalan menuju ke ranjang.

“Ada apa?” tanyanya dingin.

Langkahnya berhenti ketika mendengar penjelasan dari detektif Choi.

Deg.

Apakah dia… bermimpi? Dia harap ini semua hanya mimpi. Detik kemudian ponsel dari genggamannya jatuh di lantai, dan suara detektif Choi yang memanggil- manggil namanya masih terdengar tapi Sunjin tidak punya lagi tenaga—dia terhuyung dan terjatuh tepat di atas ranjang, menatap hampa hamparan karpet di depannya dengan kosong dan mulut terbuka lebar.

Tidak.

*

Nyonya Cho menghabiskan satu jam terakhir dengan berjalan mondar- mandir di depan pintu ruang operasi. Beberapa jam rasanya telah berlalu—jam menunjukkan pukul 7 malam dan koridor sekarang terasa lebih hening; mereka bisa mendengar bunyi ‘beep’ pelan dari mesin di dekat ruang perawat yang berbunyi setiap lima belas menit atau bunyi roda dari troli obat yang didorong oleh perawat.

Tuan Cho mengerutkan kening sambil memperhatikan keadaan di luar melalui jendela yang dipenuhi tetesan air hujan, menghembuskan nafas lalu berjalan mendekati istrinya.

“Reporternya sangat banyak di luar.” Komentarnya, “Sekuriti di bawah juga sangat banyak.”

Nyonya Cho tidak mengatakan apapun; pikirannya terlalu kacau dan saat ini tidak ada yang lebih penting selain kabar mengenai menantu dan cucunya.

“Kau tidak lelah berjalan mondar- mandir seperti itu?” tanya Tuan Cho heran.

“Aku bahkan sudah tidak bisa merasakan kakiku lagi,” kata Nyonya Cho lalu mendesah. “Kenapa mereka lama sekali di dalam?”

Tuan Cho memperbaiki posisi kacamatanya, beliau-lah yang paling tenang dari antara mereka semua tapi ekspresi di wajahnya jelas menunjukkan betapa tegang dan khawatirnya beliau sekarang.

“Kau dengar tadi penjelasan dokter.” Kata Tuan Cho dingin, “perdarahannya sangat banyak dan kondisi keduanya cukup kritis—“

Nyonya Cho menutup matanya erat- erat dan menggigit bibir bawahnya, seolah setiap kata yang Tuan Cho katakana barusan menorehkan lebih banyak luka di hatinya yang masih kesakitan. Setengah jam yang lalu seorang dokter yang merupakan tim dokter yang sedang melakukan operasi keluar dari ruangan dan menjelaskan keadaan terakhir Sae-jin kepada mereka.

“Bagaimana kalau memang terjadi sesuatu dan—“

“Itu hanya kemungkinan,” desis Tuan Cho segera, “dan pelankan suaramu, Istriku,”

Nyonya Cho terdiam, menyadari arti tatapan Tuan Cho. Keduanya berpaling perlahan ke belakang, ke arah putra bungsu mereka yang saat ini duduk di bangku panjang masih dengan pose yang tidak berubah. Cho Kyuhyun duduk membungkuk dengan dagu bersandar di kedua tangannya yang saling terkunci; tatapannya hampa dan sejak mendengarkan penjelasan dokter, tidak ada satu katapun yang keluar dari mulutnya.

“Apa dia baik- baik saja?” gumam Nyonya Cho khawatir, “apa yang harus kita lakukan, Suamiku?”

“Dia telah melakukan keputusan yang tepat,” kata Tuan Cho lagi, memperhatikan putranya dengan saksama, tapi tak dipungkiri dia merasa bangga; karena dalam keadaan seperti ini Kyuhyun tetap membuat keputusan yang tepat dan bertanggung jawab.

Cho Kyuhyun menatap pot tanaman di depannya dengan hampa; itulah yang dia lakukan selama beberapa jam terakhir. Tadi dia merasa sangat kacau dan perasaannya campur aduk; tapi sekarang entah mengapa dia merasa… kosong. Tapi lebih dari itu dia merasa… lebih kuat? Ini adalah kejadian baru dalam hidupnya yang tidak pernah siap untuk dia hadapi; terakhir kali dia mengalami hal seperti ini adalah beberapa tahun lalu saat dia mengalami kecelakaan, hanya saja ini jauh lebih buruk.

Tapi kalau dia tidak kuat, berarti dia membiarkan Han Sae-jin dan bayi mereka menghadapi semua ini sendirian… kan?

“Perdarahannya sangat banyak, dan kondisi ibu dan bayinya sama- sama kritis. Kami berusaha sekuat mungkin, tapi bila terjadi sesuatu yang tak diinginkan, kami hanya bisa menyelamatkan salah satu dari mereka.”

Kyuhyun menutup matanya. Setiap perkataan dokter tadi menggores luka baru di hatinya yang sudah tercabik- cabik. Dia bisa membayangkan kilat di mata Sae-jin setiap membicarakan bayi mereka; kamar yang sudah mereka siapkan dan perabotan yang sudah mereka beli. Semuanya terasa sangat nyata hingga semua hal ini terjadi. Tak terasa dua bulir air mata jatuh membasahi pipinya; Kyuhyun menurunkan wajahnya dan mengusap air matanya dalam diam.

“Bila hal itu terjadi, tolong selamatkan ibunya.”

Cho Kyuhyun menarik nafas berat lalu menengadah, menatap pintu di depannya. Dia bisa merasakan istrinya di dalam yang sedang berjuang menyelamatkan bayi mereka. Kyuhyun tidak punya firasat sama sekali mengenai apa yang akan terjadi. Ini adalah keputusan yang sangat berat, keputusan paling berat selama Kyuhyun hidup, memilih antara istri dan bayi mereka sendiri.

Tapi, Kyuhyun yakin satu hal; dia telah membuat keputusan paling rasional dan terbaik.

“Semangat, Han Sae-jin.” Gumam Kyuhyun, berusaha sekuat tenaga menyunggingkan senyum, kontras dengan matanya yang memerah. “Aku tidak pergi ke mana- mana.”

*

Lee Sunjin lupa kapan terakhir dia berlari seperti ini—dan sial, kenapa dia tidak pernah membeli sepatu dengan hak rata sebelumnya? Hidupnya terasa terlalu tenang sebelumnya; semua berjalan sesuai rencana dan keinginannya. Dia tidak pernah sekalipun berlari; semua orang berusaha sangat keras untuk menyenangkannya dan membuatnya puas.

Kapan terakhir dia merasa seperti ini?

Seperti dia kehilangan akal sehat dan jantungnya akan terlepas. Semuanya tidak berarti dan yang dia pikirkan saat ini hanyalah satu hal.

“Saat ini dia sedang berada di ruang operasi, Nyonya Lee.” Kata Detektif Kim di belakangnya; yang sedari tadi dengan susah payah mengikuti langkahnya yang terlalu cepat.

“K—kalau begitu—“ ujar Lee Sunjin terengah- engah, telapak kakinya terasa sangat perih sekarang tapi dia tidak perduli lagi—“di mana—“

Langkahnya tiba- tiba terhenti ketika melihat seorang pria yang berjalan keluar dari lift bersama dengan seorang pria tua yang mengikutinya dari belakang; mereka berdua terlihat sangat familiar. Pria itu kelihatan sama tergesa- gesanya dengan Sunjin; kengerian terlihat jelas di wajahnya. Pria itu juga menghentikan langkahnya ketika melihat Sunjin, dan kengerian di wajahnya perlahan berubah.

Dengan langkah pelan dan ragu, Lee Sunjin berjalan mendekati Yoon Dae-jo yang; entah mengapa menundukkan wajahnya. Beberapa orang yang berlalu lalang sesekali mencuri pandang ke arah mereka dengan heran dan terkejut; karena kedua orang ini lebih gampang untuk dilihat di layar TV atau berita di koran daripada di dunia nyata.

Lee Sunjin menatap Yoon Dae-jo dengan ekspresi yang sulit terbaca; kedua matanya berkaca- kaca. Mengapa Dae-jo harus menundukkan wajahnya? Di mana kesombongan dan keangkuhannya yang selalu disertai dengan tatapan menghakimi yang membuat Sunjin merasa seperti di neraka?

“A—apa yang t—terjadi?” tanya Sunjin terbata. Yoon Dae-jo tidak menjawab; hanya mengerutkan kening dan menatap lantai di depannya dengan hampa.

“K—kau bilang kau akan menjaganya. Kau bilang kau akan memastikan di baik- baik saja. Kau bilang kau akan membalaskan dendamu padaku karena telah menelantarkannya.” Suara Sunjin bergetar. Yoon Dae-jo menengadah dan terkejut ketika mendapati kepanikan di wajah Lee Sunjin.

“Aku memang tak pantas menjadi manusia karena telah menelantarkannya dan menyembunyikannya darimu tapi setidaknya—“ wajah Sunjin bersimbah air mata, “kau kan sudah menemukannya—kau—kau seharusnya melindunginya dan tidak membiarkan siapapun menyentuh bahkan satu helai rambutnya.”

Yoon Dae-jo menutup matanya dan menghela nafas berat.

“Sekarang apa yang harus kita lakukan? Anak itu sudah terlalu banyak menderita karena aku—setidaknya dia harus hidup lebih lama untuk melihatku menderita—“ tangis Sunjin, tangannya menepuk- nepuk bahu Yoon Dae-jo dengan keras. “Sekarang aku harus bagaimana??? Bagaimana kalau dia tidak selamat—setidaknya dia harus melihatku hidup seperti di neraka dulu! Bagaimana bisa hidupnya seperti ini karena aku!”

Dae-jo mengusap wajahnya, berusaha keras menahan airmata di pelupuk matanya. Benar. Ini memang salahnya. Seharusnya dia melindungi Sae-jin—seharusnya dia tahu bahaya apa yang menunggu putrinya—seharusnya dia tidak membiarkan Sae-jin. Dia selalu mengutuk dan menyimpan dendam pada Lee Sunjin karena telah menelantarkan putrinya sendiri tapi ternyata Yoon Dae-jo tidak jauh berbeda dari Sunjin!

Tangisan Sunjin terdengar begitu jelas di koridor yang sepi; Lee Sunjin masih mencengkeram bahu Yoon Dae-jo dengan erat sambil menundukkan kepala dan menangis sejadi- jadinya; sementara Dae-jo menutup wajahnya berusaha keras untuk tidak membiarkan orang lain melihatnya menangis. Sementara itu baik Tuan Han maupun Detektif yang disewa Sunjin hanya mampu menyaksikan dalam diam. Ini pertama kalinya dalam hidup mereka menyaksikan tuan mereka hancur dan menderita, di samping fakta bahwa ternyata Han Sae-jin adalah putri mereka.

Mereka tidak menyadari Cho Kyuhyun di ujung koridor, menatap mereka dengan dingin, menggenggam tas berisi kain bayi yang baru saja diambilnya dari mobil dengan erat. Kyuhyun tahu dia sedikit terlalu berharap; tim dokter tidak menyuruhnya menyiapkan apapun untuk si bayi mengingat bayi mereka sendiri belum tentu akan selamat tapi setidaknya… dia masih berharap ada keajaiban untuknya dan Han Sae-jin.

“Han Sae-jin.”

“Hng?”

“Apa aku boleh menanyakan sesuatu padamu?”

“Sejak kapan kau minta ijin kalau bertanya, Cho Kyuhyun?”

“Aku ingin bertanya lagi tentang kalung itu?”

“…”

“Apa mereka benar- benar tidak tahu siapa yang memberikannya padamu?”

“Kenapa? Jangan- jangan kau tidak percaya pada ceritaku?”

“tentu saja tidak.”

“Mereka bilang kemungkinan yang memberikannya adalah wanita yang melahirkanku. Mereka sendiri tidak begitu jelas—dia hanya meninggalkannya di keranjangku. Aku sendiri tidak tahu mengapa dia  melakukannya kalau dia ingin membuangku.”

“…”

“Sudahlah, ceritanya seperti drama yang sedih. Kau pasti akan menangis.”

“Lalu kenapa kau tidak memakainya?”

“Karena aku belum siap. Aku belum siap kalau ternyata dia akan mengenaliku—aku belum siap untuk mendengar kenapa dia membuangku di panti asuhan. Aku belum siap untuk memaafkannya atau memahami alasannya.”

“Lalu… kenapa kau menyimpannya?”

“Karena berjaga- jaga. Suatu hari nanti mungkin aku ingin mengetahui dia siapa dan ingin bertemu dengannya. Mungkin hatiku sudah siap untuk memaafkannya. Mungkin juga dia punya alasan yang masuk akal untuk menelantarkanku—saat itu aku akan mengatakan padanya tidak apa- apa, aku hidup dengan baik. Tapi, sampai saat itu tiba—aku tidak akan memakainya.”

*

“Dunia ini sudah gila.” Komentar Nyonya Cho, perlahan duduk di bangku penunggu dengan wajah tak percaya dan mulut terbuka lebar. Tuan Cho yang sedari tadi duduk di samping Kyuhyun, mengerutkan keningnya dengan bingung tapi memilih untuk tidak menanyakan apapun di saat seperti ini. Kenyataan bahwa Yoon Dae-jo dan Lee Sunjin memiliki hubungan masa lalu dan terlebih lagi, memiliki seorang putri, pasti tidak pernah terpikirkan oleh siapapun. Sepertinya hubungan mereka dulu dirahasiakan dengan baik karena mereka sendiri tidak pernah terlihat saling mengenal satu sama lain. Dan yang lebih mengagetkan lagi adalah bahwa putri mereka tak lain dan tak bukan adalah Han Sae-jin, istri dari Cho Kyuhyun.

“Bagaimana dengan Sae-jin?” tanya Nyonya Cho setengah berbisik, “apa dia sudah tahu?”

“Dia hanya tahu tentang ayahnya; kami belum memberitahukan siapa ibunya.”

“Dia… tidak curiga kalau kau sudah tahu?”

Kyuhyun mendengus lalu tersenyum getir. “Bagaimana mungkin dia tidak curiga? Han Sae-jin sangat pintar.” Kyuhyun menghela nafas. “Mungkin… dia sendiri belum siap.”

Nyonya Cho tidak tahu harus berkomentar apa mendengar penjelasan Kyuhyun. Beliau hanya menghela nafas berat, menatap sekelilingnya dengan gusar. Sementara Tuan Cho tak bergeming di tempatnya.

“Berapa banyak yang telah Sae-jin lalui… seharusnya aku memperhatikannya dengan lebih baik.”

Kyuhyun menutup mata, berusaha menahan perih di hatinya. Bagaimana bisa ayahnya mengatakan dengan lantang hal yang selama ini mengganggunya?

“Lalu, di mana kakek Han? Apa beliau baik- baik saja? Kakek Han terlihat sangat terpukul tadi setelah mendengar penjelasanmu.”

Kyuhyun menggelengkan kepala dengan frustasi. Hal terakhir yang Sae-jin inginkan adalah melihat kakeknya terpukul. Dan Cho Kyuhyun, sekali lagi, melakukan hal yang tidak diinginkan Sae-jin.

Mereka bertiga diam- diam memperhatikan Tuan Yoon dan Lee Sunjin yang duduk di beberapa meter tak jauh dari mereka; duduk di bangku yang berbeda dan menghabiskan setengah jam terakhir dalam diam; Tuan Yoon tak henti- hentinya menghela nafas berat dan mengusap wajahnya sementara Lee Sunjin hanya menatap hampa kursi di depannya, seperti seseorang yang nyawanya baru saja dicabut dan meninggalkan cangkang kosong. Ini pertama kalinya Cho Kyuhyun melihatnya seperti itu. Sosok percaya diri dan angkuh itu entah telah pergi ke mana.

“Dia selalu terlihat misterius dan menyembunyikan banyak hal,” kata Nyonya Cho dingin, “aku tak menyangka dia melakukan hal seperti ini.”

Nyonya Cho selalu memuji Lee Sunjin—Kyuhyun yakin sekarang ini seluruh pendapat ibunya sudah berubah 180 derajat.

Tiba- tiba terdengar suara langkah yang terburu- buru dan kemudian Kakek Han muncul dari balik koridor lalu dengan langkah susah payah berjalan menghampiri Lee Sunjin dan Tuan Yoon dengan wajah gusar.

“Permisi,” Kakek Han membungkuk sejenak agar bisa melihat Sunjin dengan jelas, “tidak—aku hanya ingin bertanya—itu semua salah paham kan? Kau tidak benar- benar menelantarkan Sae-jin kami kan? Waktu itu mereka bilang, Sae-jin mungkin saja terlepas dari ibunya. Itu benar kan? Kau tidak sengaja membuangnya kan?” tangan kakek Han menggoyang- goyang pundak Sunjin sambil menangis, sementara Sunjin tidak bergeming, persis seperti batu.

Melihat tanggapan Sunjin, Kakek Han menutup matanya menahan nyeri yang amat sangat lalu tiba- tiba berlutut. Cho Kyuhyun kontan melompat dari kursinya dan berlari menghampiri Kakek Han.

“Aigooo… cucuku! Bagaimana bisa—bagaimana bisa kau menelantarkan anak semanis dan sebaik Han Sae-jin cucuku—apa yang ada dalam pikiranmu!!!” tangis Kakek Han lagi, memukul lantai di depannya dengan histeris. “Aku bahkan tidak mampu membelikan barang yang dia inginkan tapi dia tidak pernah sekalipun mengeluh—“

Lee Sunjin tidak bergeming, sementara Tuan Yoon menunduk dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

“Bagaimana bisa selama ini dia menderita padahal kalian berdua bisa membelikan seluruh langit untuknya—sementara dia harus hidup dalam kesusahan denganku—“ tangis Kakek Han histeris. “Sejak kecil dia selalu diejek karena mereka tahu dia hanyalah anak angkat—sementara kalian hidup senang—aigoo, Han Sae-jin-ku yang malang!!!”

Kyuhyun berlutut di samping Kakek Han, mencoba membantu beliau berdiri.

“Kau—“ kata Kakek Han, menunjuk Lee Sunjin yang meskipun tidak bergerak, kini bersimbah air mata. “Kalian—“ dia menunjuk Tuan Yoon dan Lee Sunjin bergantian, “kalian akan menyesali semua ini sampai di kehidupan berikutnya!!! Bahwa kalian telah membuang anak semanis dan sebaik Han Sae-jin—itu adalah kerugian terbesar dalam hidup kalian!!! Han Sae-jin ku jauh lebih baik dari semua anak di dunia ini, kau tahu itu! Hatinya jauh lebih berharga daripada emas dan berlian paling mahal. Kalian mengerti??”

Tuan Yoon perlahan beranjak dari bangkunya lalu berlutut di depan Kakek Han membuat beliau terdiam.

“A—ampuni kami.” Ujar Tuan Yoon dengan suara bergetar dan air mata membasahi pipinya. “Tidak ada yang bisa kukatakan untuk membela diriku—aku tahu—kami hanya bisa memohon ampun—“

“Kau harusnya merasa malu dan memohon ampun pada langit atas perbuatanmu bukan padaku! Bagi kalian Han Sae-jin mungkin tak berarti, tapi bagiku,” Kakek Han kembali menangis dan memukul dadanya, “Han Sae-jin adalah satu- satunya yang kumiliki dan alasanku untuk bertahan hidup setelah ditinggalkan oleh anakku. Jadi kalian harus cepat memohon ampun pada tuhan karena kesalahan kalian sangat besar.” Kakek Han menarik nafas panjang kemudian berjalan meninggalkan mereka dengan langkah tertatih- tatih sambil menangis. “Aigoo… Han Sae-jin-ku yang malang…” gumamnya terus menerus.

Cho Kyuhyun memperhatikan punggung Kakek Han; dadanya seperti tercabik- cabik. Yah, dari semua orang—pasti kakek Han-lah yang paling terluka. Kasih sayangnya pada Sae-jin tidak bisa ditandingi siapapun; dan pastilah sangat menyakitkan ketika tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Han Sae-jin. Kyuhyun kemudian menatap Tuan Yoon yang masih berlutut di tempatnya, dan Lee Sunjin yang kini bersimbah air mata, meskipun tubuhnya tidak bergerak sedikitpun.

Kenapa semuanya bisa berantakan seperti ini?

“Sebaiknya kalian beristirahat di rumah.” Kata Kyuhyun dingin, “bila ada kabar dari dokter aku akan segera memberitahukan kalian.” Kyuhyun sebenarnya tidak mengerti sejak kapan dia jadi berkewajiban untuk memberitahukan Yoon Dae-jo dan Lee Sunjin mengenai kabar Sae-jin tapi sepertinya lebih baik mereka  tidak berada di sini untuk sementara waktu.

Tuan Yoon bangkit berdiri dan mengusap air mata di wajahnya. “Tuan Han akan melaporkanku mengenai siapa tersangka penembaknya—aku berjanji aku akan memastikannya bertanggung jawab—“

“Aku akan memikirkannya nanti; saat ini yang paling penting bagiku adalah keselamatan Sae-jin.”

Tiba- tiba pintu ruang operasi terbuka; kali ini dokter yang berbeda, berjalan menghampiri mereka; segera saja semua orang berlari dan berkumpul di depannya. Tidak ada seorangpun yang berani melontarkan pertanyaan—semuanya terlalu panik dan kebingungan. Hanya Cho Kyuhyun yang terlihat tegar dan tenang.

Dokter Kim, menatap mereka semua bergantian sebelum menatap Cho Kyuhyun. Wajahnya terlihat sangat lelah; Dokter Kim menghela nafas kemudian menyunggingkan senyum simpul.

“Bayinya selamat,”

Rasanya seperti ada yang mengangkat jutaan ton beban dalam tubuh Kyuhyun. Kyuhyun terdiam sejenak sementara semua orang di sekitarnya menghela nafas lega—Nyonya Cho bahkan menangis terharu. Mereka semua mengucapkan terima kasih kepada Dokter Kim, sementara Kyuhyun tidak bergeming di tempatnya. Ternyata bayi mereka selamat. Ternyata anak mereka selamat.

“T—terima kasih, Dokter.” Kata Kyuhyun pada akhirnya. “Lalu, bagaimana dengan… istriku?” tanyanya pelan, sedikit khawatir dengan jawaban yang diberikan Dokter Kim.

“Pelurunya menembus salah satu organ vital—tapi untungnya tidak terlalu dalam,” jelasnya, “kami masih berusaha untuk menjahit bagian yang mengalami robekan tapi kami butuh tambahan darah,”

“Yang dipakai tadi sudah semuanya,” kata Nyonya Cho lagi, “aku sudah memeriksa bank darah dan persediaan untuk golongan darah Sae-jin sudah habis,”

“Apa ada dari kalian yang memiliki golongan darah yang sama dengan pasien?” tanya dokter lagi. Kyuhyun dan orang tuanya saling bertatapan dengan bingung—bahkan Kakek Han memiliki golongan darah berbeda dengan Sae-jin.

“Aku.”

Suasana tiba- tiba hening. Semuanya menoleh ke arah Lee Sunjin, yang berdiri dari tempat duduknya dan menatap mereka dengan dingin. “Golongan darah kami sama.”

*

“Sepertinya bayinya akan di inkubator untuk beberapa hari,” jelas Tuan Cho, yang baru saja kembali dari ruangan perawatan intensif untuk bayi baru lahir, duduk di samping Kyuhyun. “Tuan Han dan ibumu tidak mau meninggalkan bayi kalian,” beliau tertawa geli. “Putrimu—“

“Bagaimana wajahnya?” tanya Kyuhyun dengan tatapan hampa; sedikitpun tidak berpaling dari pintu kamar operasi. “aku harap dia mirip dengan Sae-jin.”

Tuan Cho menghela nafas. “Bukannya aku ingin menyombongkannya karena dia cucuku—tapi dia bayi paling cantik yang pernah kulihat. Kulitnya putih kemerahan dan bibirnya merah seperti buah ceri; hidung tinggi seperti Sae-jin dan matanya cokelat gelap seperti Sae-jin juga—sepertinya kita harus menunggu beberapa bulan supaya dia bisa terlihat sama sepertimu.”

“Tidak apa- apa.” Kata Kyuhyun dingin, tersenyum lemah, “aku berharap dia malah seperti miniatur ibunya.”

Tuan Cho tersenyum hangat dan menepuk punggung Kyuhyun, berusaha menguatkan putranya. “Kau sekarang seorang Ayah. Aku yakin kau akan menjadi seorang ayah yang hebat. Kenapa kau belum melihat putrimu?”

“Aku ingin—tapi aku sudah berjanji pada Han Sae-jin aku akan terus di sini.”

Tuan Cho mengerutkan keningnya.

“Aku akan melihat putriku setelah operasi selesai dan memastikan Sae-jin baik- baik saja.”

“Cho Kyuhyun—“

“Aku tidak ingin dia berusaha sendirian.” Mata Kyuhyun berkaca- kaca. “Kami sudah memimpikan ini selama berbulan- bulan; aku tidak ingin mengingkari janjiku.” Dua bulir air mata jatuh membasahi pipi Kyuhyun. “Aku tidak akan meninggalkan tempat ini sampai dia selesai dioperasi.”

Tuan Cho menghela nafas lalu mengangguk. Yah, dia mengerti—putri mereka memang lahir—tapi Han Sae-jin masih sedang dalam kondisi kritis dan sejak tadi Dokter Kim belum keluar dan menyampaikan kabar menantunya. Beliau kemudian melirik ke arah beberapa kursi dari mereka; Tuan Yoon masih pada tempatnya, memutuskan untuk tetap tinggal dan sejak tadi tidak mengeluarkan sepatah kata pun, seperti seorang tersangka yang diijinkan untuk berada di markas polisi asal tidak mengeluarkan satu suara sedikitpun. Lee Sunjin tadi pergi ke bank darah dan sampai sekarang belum juga kembali.

“Kasihan.” Gumam Tuan Cho.

Kyuhyun memalingkan wajah dan menatap ayahnya dengan bingung.

“Tidak, maksudku… aku kasihan pada mereka—“ Tuan Cho mengarahkan kepalanya ke arah Tuan Yoon yang duduk seperti patung di bangkunya. “mereka bergelimang harta; tapi mereka menderita karena perasaan bersalah. Apa gunanya memiliki uang yang banyak, tapi kau kehilangan harta yang paling berharga dalam hidupmu?”

Kyuhyun tersenyum lemah mendengar kemarahan ayahnya.

“Maksudku, Han Sae-jin benar- benar anak yang baik—bukankah menurutmu ini sangat menyedihkan?”

“Menyedihkan.” Jawab Kyuhyun dingin. “Aku merasa sedih atas Han Sae-jin. Dia kehilangan banyak hal dalam hidupnya. Tapi—“ Kyuhyun menarik nafas. “dia memiliki seorang kakek yang sangat menyayanginya. Mereka hidup dalam kekurangan tapi Kakek Han selalu berusaha mencukupi semua kebutuhannya meskipun terbatas; dia tinggal di lingkungan yang hangat dan dikelilingi oleh orang- orang yang sangat menyayanginya. Dan yang paling penting; dia selalu mensyukuri semua hal yang dia miliki dan terjadi padanya. Jadi—“ Kyuhyun menatap ayahnya lagi. “Bagiku, Han Sae-jin baik- baik saja.”

Tuan Cho menatap putranya selama beberapa detik—sebelum kemudian memalingkan wajahnya dan tersenyum.

“Kenapa?” tanya Kyuhyun heran.

“Selama beberapa bulan ini aku khawatir karena semua ini baru dan terlalu tiba- tiba untukmu. Kau menikahi seorang gadis yang baru kau kenal dan akan menjadi seorang ayah. Tapi—sepertinya aku membuang waktu saja.” Tuan Cho menepuk punggung Kyuhyun. “Kau adalah seorang suami dan ayah yang hebat.”

Kyuhyun menunduk kemudian tersenyum lemah. Sesungguhnya cukup sulit untuk mendengarkan pujian dari ayahnya—ayahnya adalah salah satu dari segelintir orang yang menganggap pujian itu sangat mahal dan harus diberikan pada orang yang memang pantas mendapatkannya.

Apakah dia sanggup menjadi seorang ayah yang baik? Bila sesuatu terjadi pada Sae-jin—apakah dia sanggup melakukan ini sendirian? Sanggupkah dia melihat wajah putri mereka yang, menurut ayahnya, seperti versi mini dari Sae-jin?

Tiba- tiba pintu ruang operasi terbuka menampakkan Dokter Kim. Ketiga pria yang duduk di bangku kontan melompat dari tempat duduk mereka lalu berlari menghampiri Dokter Kim.

Sejenak situasi hening, dan Kyuhyun tak mampu berkata- kata. Menilai ekspresi wajah Dokter Kim, sepertinya sebuah palu baru saja menghantam dan menembus dadanya.

Tidak.

*

July 2016

Seorang pria berdiri tegap di depan sebuah pusara, tangan sebelahnya menggenggam sebuah buket bunga warna merah jambu ukuran besar dengan beberapa jenis bunga cantik di dalamnya, sementara yang satu lagi menggenggam tangan mungil seorang gadis kecil. Selama beberapa menit tidak ada dari mereka yang mengeluarkan suara; pria tersebut masih menatap ukiran rapi di batu nisan sementara gadis kecil di sampingnya menatap bingung ‘benda asing’ di depannya sambil menggaruk- garuk hidung dengan heran.

Appa?” suara kecilnya yang nyaring memecah keheningan di pekuburan tersebut, membuat ayahnya bergidik.

Ekspresi dingin dan hampa di wajah ayahnya melembut ketika dia menoleh ke arah gadis kecilnya.

Peyuk.” Tuntut gadis kecil itu dengan kalimat yang masih belum begitu jelas, membuat ayahnya tertawa. Setiap hari gerak- gerik lucu gadis kecil itu seperti hiburan paling ampuh dalam hidupnya setiap hari.

“Tunggu sebentar yah,” kata ayahnya lembut, kembali memperhatikan pusara di depannya sambil berlutut. Pria itu meletakkan buket bunga yang dipegangnya sedari tadi di atas pusara, bergabung dengan beberapa buket- buket bunga kecil lain. Sepertinya dia baru saja melewatkan sebuah ‘upacara’ yang tidak dia ketahui?

“Maaf, akhir- akhir ini kami jarang mengunjungimu,” kata pria itu lembut dengan penuh penyesalan. Putri kecil di sampingnya hanya menatap pusara di depan mereka dengan bingung—kepada siapa ayahnya bicara? Ia hanya menggenggam erat tangan ayahnya karena entah mengapa, sepertinya ayahnya sedang tidak senang…

“Hanna sekarang berumur 2 tahun.” Ayahnya juga menggenggam tangannya lebih erat dan menatapnya sebentar dengan penuh kasih sayang. “aku tidak ingin terdengar sombong tapi dia adalah gadis kecil paling cantik rupawan yang pernah aku lihat di dunia ini,” pria itu tertawa, “mungkin itulah yang dirasakan semua ayah tentang putri mereka,”

Hanna menatap ayahnya, tidak mengerti dengan apapun yang dikatakan beliau tapi sepertinya ayahnya baru saja menyebut namanya dan terlihat senang dengan itu—maka Hanna juga harus senang.

Well, memang tidak ada yang salah dengan kalimat ayahnya. Memang tidak ada yang aneh atau berbeda dengan Cho Hanna; dia seperti anak- anak pada umumnya. Hanya saja, Cho Hanna diberkati dengan rupa yang sangat mengagumkan; membuatnya selalu terlihat lebih menonjol daripada teman- teman sebayanya. Sekarang saja dia terlihat sangat menggemaskan dengan rona merah di kedua pipinya.

Ekspresi bahagia di wajah ayah Hanna kembali berubah menjadi kesedihan ketika beliau menyentuh pusara itu dengan pelan.

“Terima kasih banyak… atas semuanya,”

Advertisements

462 thoughts on “The Story of Bear Family (END-part1)”

  1. Kak maafkan diriku yang baru muncul. Pengen tobat jd silent readers haha
    Aku nemu ff ini udah lamaaa bgt. Tapi mau baca ffnya lupa terus. Akhirnya seminggu lalu saking bingung mau ngapain akhirnya inget pas kakak posting sesuatu di ig. Aku belum baca ff kakak.
    Nah akhirnya kejar tayang bacanya. Tapi gara” ada notif “END” akhirnya ngintip dikit. Trus tau kalau ada sad endingnya aku tunda lagi baca yg part akhir. Dan baru sekarang kelarnya.
    Ff kakak keren banget sumpah. Telat mungkin kali ya ngmongnya hehe
    Semangat ya kak. Jangan trlalu difikirkan komentar jahat mereka.

  2. Hallo aku udh baca ff ini dari episode 1, dan di episode 27 an aku gk buka2 lg karna kesibukan lain, dan baru kali ini teringat ff ini dan ternyata udh banyak episode yg di post….
    Semangat terus kak tetep lanjutin tulisanmu, sejujur nya pas baca bagian yg di rumah sakit udh nebak2 sad ending 😫 #kaliajasalah, yah itu kuasamu sebagai author mau seperti apa akhir dr cerita……
    Tetep nulis ya kak semangat 😚

  3. Ya ampun banjir ini air mata. Ka aku nyesek banget sumpah kenapa harus sad ending, pls ka di end part 2 jangan sad ending dong. Ga tega sama kyuhyunnya, dari pertama baca ff ini pas aku kelas 2 smp sampe sekarang udh lulus sms dan aku berharap bangt ff ini bakalan happy ending. Semangat terus ka, di tunggu terus ya kelanjutnya.

  4. nangis bombay waktu kakek Han mengungkapkan perasaanya selama ini ke ayah dan ibu kandung saejin..sedihjh bangetttt…
    lhaa….siapa ini yg meninggal? trs cowok yg d tandu ituu siapaa?kris kahh? huwee…penasaran tingkat darurat…..

  5. I cant…aku nangis eonni beneran ini…pusaran siapa??? Aku mengharapkan full romance dari mereka yg tanpa batas gak romansa kaku mereka …aaa padahal punya anak.. Blom baca part 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s