Romance, Short Story

The Flower Trilogy; Sunflower- Part 6

Title: Sunflower- Part 6

Genre: PG-13

Pestanya membosankan.

Cho Kyuhyun berdiri menatap puluhan pasangan paruh baya yang sedang berdansa di depannya dengan bosan; tangannya mengenggam gelas wine, sesekali meneguknya. Dia tahu tidak pernah ada undangan makan malam yang menyenangkan atau seru; tapi setidaknya tidak semembosankan ini. Kyuhyun praktis merasa terperangkap di antara kelompok paruh baya, membicarakan topik- topik yang membuatnya mengantuk dan terlebih lagi, dalam bahasa yang tidak dia kuasai.

Yah, setidaknya dia tidak sendiri.

Ngomong- ngomong di mana pasangannya? Kyuhyun melemparkan tatapan mengelilingi ruangan—sepertinya sedikit berbeda dengannya, Lee Joon-a sangat menikmati acara seperti ini. Tenang, sepi, dan membosankan. Jenis- jenis pesta yang hanya akan kau datangai karena dipaksa menemani ibumu. Kyuhyun kemudian akhirnya bisa mengenali satu- satunya sosok gadis muda yang tengah berbincang dengan sekelompok ibu- ibu, yang tertarik mendengarkan pembicaraannya.

Tanpa sadar Kyuhyun tersenyum. Lihat kan? Joon-a selalu bisa dengan mudah berbaur dan membuat segalanya nyaman untuk Cho Kyuhyun. Kyuhyun memperhatikan Joon-a yang mengibaskan rambutnya dengan anggun sambil mendengarkan cerita dari seorang wanita paruh baya lalu tertawa geli; bukan sekedar tawa palsu. Joon-a kemudian menawarkan kue dalam baskom kecil yang dipegangnya sedari tadi, lalu menjelaskan isi kue itu sementara yang lain mencobanya. Salah satunya adalah Nyonya Bessette, pemilik rumah sekaligus yang menyelenggarakan acara.

Dulu sikap itu membuat Kyuhyun sebal; dia mengira itu hanya salah satu cara Joon-a menarik perhatian ibu Kyuhyun, tapi kemudian dia menyadari satu hal;

Lee Joon-a hanya ingin merasakan bagaimana rasanya punya percakapan yang normal dengan ibunya.

Dan karena dia tidak bisa mendapatkannya dari ibunya sendiri, dan juga dari ibu Kyuhyun, maka dia mencarinya dengan cara lain. Cho Kyuhyun tak pernah menyadari perasaan kesepian Joon-a adalah sebesar itu.

“Aku tahu Nona Lee sangat mempesona, tapi haruskah tatapanmu sebodoh itu?”

Kyuhyun tersadar, terkejut mendapati pria paruh baya botak familier yang dikenalnya berjalan mendekatinya—lebih terkejut lagi dengan fakta bahwa beliau mengenali Lee Joon-a. Meskipun kalau dipikir- pikir, tidak seharusnya dia heran—mereka toh pasti sering bertemu di kampus.

“Lihat, dia bahkan berhasil membuat Nyonya Bessette tertarik. Dan asal kau tahu saja, wanita tua itu tidak gampang dipikat!”

“Kau mengenalnya?”

Professor Allonso mendengus, bergabung dengan Kyuhyun menonton Joon-a yang saat ini sedang tertawa karena mendengar lelucon dari salah seorang tamu, “Tidak begitu banyak. Yang aku yakini hanyalah dia akan menjadi seorang desainer sukses,”

“Aaah—dia pasti murid favoritmu.”

Professor Allonso memutar matanya. Gorgio Allonso adalah salah satu desainer terkenal di Eropa, dan juga teman dari ibu Kyuhyun—keakraban mereka dimulai beberapa tahun lalu saat Gorgio memberikan kontribusinya dalam kelangsungan bisnis butik Nyonya Cho di Prancis.

“Aku tahu gaun itu indah tapi Lee Joon-a benar- benar membuat gaun itu terlihat mengagumkan.”

Keindahan sebuah gaun tergantung dari siapa yang mengenakannya—“ sela Kyuhyun, “bukankah kau selalu bilang begitu pada ibuku?”

“Dan sejak kapan kau mengingat perkataanku?” Professor Allonso mengangkat keningnya. “Ngomong- ngomong, apa kalian adalah sepasang kekasih?”

Kyuhyun rela memberikan semua uangnya di Bank Nasional Korea asal dia bisa mengoreksi kata- kata itu dan memberikan jawaban yang sebenarnya tapi tentu saja, saat ini dia tidak bisa. Lee Joon-a pastilah akan membunuhnya; atau setidaknya itu yang dia kira.

“Apa kami terlihat seperti itu?”

“Lebih mirip seperti kau pengagum bodoh yang beruntung karena bisa membawanya sebagai pendampingmu.”

Dasar botak tua brengsek. Maki Kyuhyun dalam hati sambil meneguk anggur dalam gelas kacanya.

“Dia gadis yang mengagumkan. Dan aku tidak membicarakan wajahnya yang benar- benar rupawan atau seberapa banyaknya pria yang terpikat olehnya—“ ingin rasanya Kyuhyun melempar gelas ketika mendengar kalimat terakhir Professor Allonso, “Lee Joon-a tidak suka banyak bicara, dia juga tidak suka menonjolkan dirinya—semua sketsanya mengagumkan tapi dia lebih memilih menjadi murid biasa saja dan tidak menghendaki perhatian besar yang diberikan orang- orang padanya. Dia punya bakat mentah tapi dia selalu rendah diri dan lebih suka mengurung dirinya untuk bekerja. Singkatnya, dia punya semua yang dibutuhkan oleh seorang desainer sejati.”

Kyuhyun tidak menjawab; lebih memilih untuk menyesap anggurnya lagi daripada mengomentari penjelasan Professor Allonso mengenai Joon-a yang hampir mirip seperti promosi. Menjadi desainer terkenal adalah mimpi Joon-a sejak kecil. Ya, dia tahu itu—itulah alasan Joon-a pergi ke negara ini dan hidup ‘sebatang kara’. Cho Kyuhyun tentu saja ingin mendukung semua hal yang ingin Joon-a capai, meskipun itu artinya mereka harus hidup terpisah seperti dua tahun terakhir ini.

“Dia akan memenangkan kontes desainer tahunan itu, dan kemudian—jalan panjang di depannya akan terbentang lebar—“

“Apa maksudmu?” sela Kyuhyun tanpa pikir panjang.

“Oh, dia belum bilang apa- apa padamu?” Professor Allonso menyeringai lalu kembali memperhatikan Lee Joon-a di seberang ruangan sana, “dia mengikuti seleksi untuk kontes desainer tahunan yang sering kami selenggarakan. Aku sudah memastikan dia lolos seleksi—meskipun tentu saja aku tidak harus bekerja keras karena dia toh pasti akan terpilih—dan aku yakin dia pasti akan memenangkannya. Dan kalau dia menang, tidak lama lagi kau akan segera melihat namanya di baliho atau majalah- majalah mode terkenal!”

*

Lee Joon-a menghabiskan beberapa menit terakhir mencari sosok familiar di antara puluhan orang dalam aula besar itu. Kumpulan ibu- ibu itu sudah bubar dan semuanya kembali pada pasangan masing- masing. Joon-a sepertinya baru saja sadar dia praktis sudah meninggalkan Kyuhyun selama lebih dari satu jam dan Kyuhyun pasti sudah mati kebosanan sekarang! Dia tidak pernah cocok dengan acara formal seperti ini, meskipun dia biasanya menanganinya dengan sangat baik.

“Hey, Joon-a!”

Joon-a menolah ke arah suara dan terkejut mendapati Professor Allonso memanggilnya dari seberang ruangan sambil melambai- lambaikan tangannya. Apa yang dilakukan salah satu Professor favoritnya di sini? Joon-a kontan tersenyum dan berjalan cepat menghampiri beliau. Tapi semakin dekat dia semakin menyadari bahwa Professor Allonso tidak sendirian melainkan bersama dengan sosok yang sedari tadi dicarinya. Cho Kyuhyun.

“Professor Allonso—“

“Yah. Yah. Aku juga tidak menyangka bisa menemuimu di sini.” Kata beliau lagi dalam bahasa Prancis, “ngomong- ngomong, kau terlihat sangat cantik malam ini!”

Mercy.” Kata Joon-a, masih terlihat bingung. “Maaf, tapi apa kalian… saling kenal?”

“Oh—ibunya dan aku adalah rekan bisnis sekaligus teman baik.” Professor Allonso menepuk pundak Kyuhyun, yang, entah mengapa, sama sekali tidak kelihatan begitu antusias. Cho Kyuhyun terlihat sedikit… muram? “anak nakal ini memintaku memberikan ‘hadiah’ gaun rancangan terbaruku untuk pasangannya.”

Mulut Lee Joon-a kontan terbuka. Jadi, gaun indah yang dikenakannya malam ini adalah rancangan terbaru dari Professor Allonso?

“Apa kau bisa mengatakan padaku kira- kira dia bilang apa?” tanya Cho Kyuhyun, mulai merasa resah kalau- kalau Professor Allonso membicarakan hal yang tidak- tidak karena meskipun Kyuhyun tidak mengerti bahasa Prancis, ekspresi beliau mengatakan segalanya. Dan tanpa mengurangi rasa hormat mulut Professor ini sama sulitnya seperti kran bocor.

“Gaun ini sangat indah, Professor, terima kasih banyak.” Kata Joon-a lagi, tidak menghiraukan Kyuhyun.

“Keindahan sebuah gaun tergantung dari sosok yang mengenakannya.” Kata Professor Allonso dingin, meletakkan gelas wine-nya yang sudah kosong di atas meja lalu menepuk tangannya. “Nah, aku tidak ingin mengusik waktu kalian. Bersenang- senanglah dan sampai jumpa besok, Lee Joon-a.”, beliau kemudian berpaling pada Kyuhyun dan berbicara dalam bahasa Inggris, “kau juga, jangan macam- macam. Dan,” Professor Allonso berjinjit agar bisa berbisik di telinga Kyuhyun yang jauh lebih tinggi darinya, “Rahasiamu aman bersamaku.”

Kyuhyun mengerutkan kening, menatap Professor Allonso yang tertawa geli sambil berjalan meninggalkan mereka, bergabung ke kerumunan orang- orang yang sebaya dengannya.

“Dasar botak tua,” gumam Kyuhyun kesal, kemudian menyadari tatapan menghakimi dari wajah cantik Joon-a. “Ah, maaf—sepertinya aku tidak boleh mengumpatinya di depanmu.”

“Apa acaranya sebegitu membosankan?”

“Tidak juga.” Kyuhyun meletakkan gelasnya yang sudah kosong lalu bersandar di tepi meja sambil melipat kedua tangannya. “Kau sendiri kelihatan sangat menikmatinya.” Setidaknya dia bersyukur dia tidak membuat Joon-a mati kebosanan malam ini.

Seulas senyum terukir di wajah Joon-a, memamerkan kedua lesung pipitnya. “Sudah lama aku tidak datang ke acara seperti ini. Dan juga, mereka semua sangat ramah.”

Tanpa sadar Kyuhyun pun tersenyum. Sangat memuaskan bila melihat Joon-a tersenyum secerah ini, meskipun tidak secara langsung berhubungan dengannya. “Bahkan Nyonya Bessette pun kelihatan sangat senang mendengar ceritamu, padahal beliau orangnya tidak mudah disenangkan. Bahkan, aku tidak ingat pernah melihatnya tersenyum.”

“Kau memperhatikanku?”

“Ya.” Dari awal sampai akhir. Batin Kyuhyun.

Pipi Joon-a bersemu merah, ia pun menundukkan wajahnya. Kyuhyun berjalan menghampirinya dan berhenti tepat di depannya, membuat Joon-a menengadah. Penerangan dari lampu- lampu redup di dinding membuat bola mata Joon-a terlihat lebih cokelat dari yang seharusny; kontras dengan kulit putih susunya, dan rona kemerahan di wajah cantiknya. Lee Joon-a memang sudah cantik dari hari pertama mereka tanpa sengaja bertemu di taman kediaman keluarga Lee, dia juga tetap yang paling cantik ketika mereka bertemu kembali dan dijodohkan oleh orang tua mereka.

Tapi Cho Kyuhyun berpendapat bahwa sekarang ini Lee Joon-a di depannya terlihat seribu kali lebih cantik dari sebelumnya.

“Kau tahu.” Cho Kyuhyun mendengar suaranya sendiri, “mari kita lakukan sesuatu untuk sedikit mengurangi kebosanan acara ini.”

Dahi Joon-a kontan mengerut tapi sebelum dia sempat menanyakan apa maksud dari pernyataan Kyuhyun, lagu klasik yang mengiringi dansa telah selesai dan aula kembali menjadi sangat terang. Kyuhyun hanya menyunggingkan seringainya yang mencurigakan seperti biasa, menepuk pundak Joon-a ringan sebelum kemudian berjalan dengan langkah cepat kea rah panggung, seperti ingin mendahului lagu apapun yang akan diputarkan oleh penata musik, melompat ke atas panggung dan membisikkan sesuatu kepada penata musik, yang awalnya terlihat kebingungan tapi kemudian menyunggingkan senyun setuju.

Sepertinya Joon-a harus cepat- cepat kabur dari ruangan?

Ya. Sepertinya begitu.

Joon-a memberanikan diri untuk berbalik dan berjalan dengan langkah cepat ke arah pintu aula tapi langkahnya kontan terhenti ketika mendengar bunyi ‘nging’ yang nyaring dari pengeras suara dan suara Kyuhyun yang berbicara dari bahasa Inggris.

“Baiklah. Selamat malam saya ucapkan kepada para tamu, terutama kepada Nyonya dan Tuan Bessete, terima kasih banyak atas jamuan makan malam dan pesta dansa yang meriah ini, mari kita berikan tepuk tangan pada mereka.”

Sejak kapan Cho Kyuhyun ‘terampil’ menjadi pembawa acara? Tanpa sadar Joon-a berbalik dan kembali menonton Kyuhyun yang sekarang berdiri dengan percaya diri di depan mike panjang. Terdengar tepukan tangan dari para tamu; Tuan dan Nyonya Bessete yang saat ini tengah berada di dekat panggung hanya tersenyum.

“Kemudian,” lanjut Kyuhyun bicara setelah riuh tepuk tangan berhenti, “tanpa mengurangi rasa hormatku, aku juga ingin mengucapkan terima kasih kepada gadis cantik dan mengagumkan yang telah bersedia menjadi pasanganku malam ini; meskipun dia sebenarnya sangat sibuk,”

Oh tidak.

Miss Lee Joon-a.”

Sejenak situasi menjadi cukup hening karena satu- satunya sumber suara adalah tepuk tangan terlampau antusias dari Professor Allonso yang berdiri tak jauh dari Joon-a. Kyuhyun kemudian mengajukan tangannya ke arah tempat Joon-a berdiri hingga semua orang pada akhirnya bisa menemukannya dan berpaling padanya.

Lee Joon-a bisa merasakan tubuhnya membeku di tempatnya; yang sepertinya akan segera disusul oleh organ- organ di dalamnya. Kepalanya tadi dipenuhi dengan pertanyaan mengenai racun apa yang tidak sengaja diminum Kyuhyun mala mini atau apakah Joon-a gagal menyadari bahwa Kyuhyun sempat mengkonsumsi alkohol, sekarang otaknya benar- benar kosong melompong. Hanya saja dia masih bisa mendengar suaranya sendiri yang berdoa bahwa lantai marmer mewah yang diinjaknya retak dan dia bisa jatuh ke bawah tanah selamanya. Joon-a gagal menyadari suara- suara kagum dari para lansia di sekitarnya.

“Menurut saya, saya harus menyanyikan sebuah lagu sebagai ungkapan terima kasih padanya. Tapi sebagai tamu yang paling muda di sini,” ucapan Kyuhyun disambut tawa- tawa terhibur dari para tamu, “tentu saja saya harus meminta persetujuan dari Tuan dan Nyonya sekalian,”

Terdengar banyak sekali teriakan ‘setuju’ dari para nenek- nenek yang kemudian mengalihkan tatapannya ke Joon-a, yang sekarang wajahnya memerah semerah tomat. Tepatnya apa sih isi pikiran Cho Kyuhyun? Joon-a tahu Kyuhyun memiliki suara yang bagus; dia gemar bersenandung sendiri di sekolah, Joon-a bahkan pernah menyumbangkan ide agar Kyuhyun membuat band, tapi kemudian dia bergaul dengan teman- temannya yang selalu meledeknya saat dia bernyanyi. Setelah itu Kyuhyun tidak pernah lagi membiarkan orang lain termasuk Joon-a untuk mendengar suaranya.

Setelah belasan tahun berlalu… apakah Kyuhyun bersedia untuk bernyanyi lagi?

“Baiklah. Terima kasih banyak.” Kyuhyun tersenyum, “ngomong- ngomong, apa Anda sudah mendengarkan lagu- lagu terbaru tahun ini? Maksudku, lagu- lagu sekarang tidak lagi di piringan hitam.”

Terdengar lagi riuh tawa. Suasana sekarang terkesan jauh lebih hangat dari sebelumnya. Kyuhyun berdiskusi sejenak dengan pemain gitar, piano, dan drum di belakangnya, yang terlihat sangat antusias setelah mendengar penjelasannya. Setelah sepakat, Kyuhyun kembali memegang mike-nya, kali ini terlihat lebih mantap. Selama sepersekian detik Joon-a bisa merasakan dari kilat tatapan mata Kyuhyun bahwa dia sendiri tak percaya dengan apa yang akan dilakukannya.

Kemudian terdengar bunyi petikan gitar mengawali lagu yang disambut dengan tepukan tangan riuh dari para tamu.

I met you in the dark, you lit me up

You made me feel as though I was enough

We danced the night away, we drank too much

I held your hair back when

You were throwing up

Then you smiled over your shoulder

For a minute, I was stone-cold sober

I pulled you closer to my chest

And you asked me to stay over

I said, I already told ya

I think that you should get some rest

I knew I loved you then

But you’d never know

‘Cause I played it cool when I was scared of letting go

I know I needed you

But I never showed

But I wanna stay with you until we’re grey and old

Just say you won’t let go

Just say you won’t let go

I’ll wake you up with some breakfast in bed

I’ll bring you coffee with a kiss on your head

And I’ll take the kids to school

Wave them goodbye

And I’ll thank my lucky stars for that night

When you looked over your shoulder

For a minute, I forget that I’m older

I wanna dance with you right now

Oh, and you look as beautiful as ever

And I swear that everyday you’ll get better

You make me feel this way somehow

I’m so in love with you

And I hope you know

Darling your love is more than worth its weight in gold

We’ve come so far my dear

Look how we’ve grown

And I wanna stay with you until we’re grey and old

Just say you won’t let go

Just say you won’t let go

I wanna live with you

Even when we’re ghosts

‘Cause you were always there for me when I needed you most

I’m gonna love you till

My lungs give out

I promise till death we part like in our vows

So I wrote this song for you, now everybody knows

‘Cause now it’s just you and me till we’re grey and old

Just say you won’t let go

 

Hening sejenak selama beberapa detik dan kemudian terdengar tepukan tangan yang lebih keras dan bersemangat. Lee Joon-a sendiri hanya berdiri mematung di tempatnya; entah harus bertepuk tangan atau diam saja dan tidak melakukan apa- apa. Yang dia tahu hanyalah puluhan kupu- kupu yang beterbangan di dalam perutnya, atau jantungnya yang berdebar puluhan kali lebih cepat dari normal.

Atau fakta bahwa Cho Kyuhyun baru saja menyanyikan sebuah lagu untuknya.

Kenyataan kembali menarik Joon-a dan dia bergidik ketika menyadari sorakkan dari para tamu yang sekarang meneriakkan permintaan agar Kyuhyun kembali bernyanyi. Yang diteriakki hanya tertawa sambil melambaikan tangannya ringan sebagai bentuk penolakkan yang sopan. Kelompok band kembali menyenandungkan sebuah tembang lama dan para tamu kembali berdansa; Kyuhyun lalu melompat dari panggung dan dengan sedikit ragu berjalan mendekati Joon-a yang masih berdiri menatapnya dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Sejujurnya ada banyak yang ingin Kyuhyun sampaikan; apa yang dia sampaikan di lagu tadi hanya setengahnya saja.

Dan sekarang, berdiri tepat di depan Joon-a, kepalanya tiba- tiba terasa kosong. Euforia yang dia ciptakan tadi sekarang hilang entah ke mana. Penerangan di ruangan itu kembali redup dan yang bisa Kyuhyun lihat hanyalah bayangan dirinya di mata Joon-a yang berkaca- kaca, dan dia mulai bertanya- tanya apakah yang dia lakukan tadi adalah keputusan yang tepat.

Lee Joon-a yang sedari tadi hanya terdiam menatapnya tiba- tiba menghela nafas dan mengusap matanya, lalu kembali menengadah menatap Kyuhyun.

“Ayo pergi.”

*

Champ Ellysees terlihat sangat indah malam itu; atau mungkin memang seperti itu adanya. Kyuhyun sudah banyak mendengar mengenai salah satu jalan paling populer di dunia ini; ibunya selalu menceritakan toko- toko mewah yang sering dia kunjungi bersama Ara, dan bagaimana barang- barang di sini, entah mengapa, terlihat puluhan kali lipat lebih bagus daripada di Korea, yang menurut Kyuhyun adalah karangan ibunya untuk menutupi perasaan bersalah karena telah menggunakan kartu kredit ayah Kyuhyun secara berlebihan.

Menurut Kyuhyun, kelebihan tempat ini lebih dari sekedar yang diceritakan ibunya. Lampu- lampu yang menggantung di deretan pepohonan yang rapi; cuaca dingin dan aroma segar dari udara malam ini, para pejalan kaki dengan berbagai macam gaya berpakaian berjalan lalu lalang di sekitarnya; gedung- gedung memorial yang bisa dilihatnya. Mungkin yang dikatakan orang benar; tempat ini paling cocok bagimu untuk menghabiskan waktu bersama kekasih.

Hanya saja; saat ini Kyuhyun tidak bisa benar- benar menikmatinya.

Kyuhyun menyusuri trotoar dengan gontai; kedua tangannya bersembunyi di dalam saku jubah hitamnya yang hangat—sementara mata elangnya sedari tadi memperhatikan punggung Joon-a yang hanya beberapa langkah di depannya, berjalan tanpa sekalipun menengok ke belakang. Apakah dia masih merasa marah karena apa yang dilakukan Cho Kyuhyun tadi? Apa Cho Kyuhyun kembali membuat Joon-a merasa terganggu?

Lee Joon-a masih terus berjalan dengan tatapan lurus ke depan, tidak menghiraukan apapun yang terjadi di sekitarnya. Sangat disayangkan; ini adalah salah satu tempat favorit Joon-a menghabiskan waktunya sendirian dan menenangkan diri. Dia tidak pernah bosan mengagumi sinar- sinar lampu- lampu yang terlihat sangat indah di malam hari; maupun pemandangan di sekitarnya. Tapi sekarang dia merasa terlalu gusar dan kacau untuk menikmatinya. Entah apa yang terjadi dengan dirinya. Yang dia inginkan hanyalah terus berjalan dan berjalan sampai pikirannya kosong.

Tapi bagaimana pikirannya bisa tenang kalau sumber kegusarannya sedang berjalan mengikutinya dari belakang?

“Lee Joon-a?”

Joon-a bergidik, tapi tidak menghiraukan suara yang memanggilnya dengan ragu dari belakang.

“Yah Lee Joon-a? Sampai kapan kau mau berjalan terus—ayolah,”

Joon-a tidak menghiraukan suara Kyuhyun di belakang. Sepertinya Kyuhyun sudah menyerah karena mereka sudah berjalan cukup jauh dari tempat mobilnya diparkir. Kenapa sih dia tidak pulang saja ke hotel mewah tempat dia seharusnya menginap dan membiarkan Joon-a hidup tenang untuk selamanya? Meskipun sesungguhnya pertanyaan itu membuatnya bergidik.

“Lee Joon-a—baiklah, maafkan aku.”

Kali ini Joon-a berhenti lalu berbalik dengan cepat, menatap tajam Cho Kyuhyun yang juga berhenti, wajahnya terlihat lega.

“Minta maaf?” tanya Joon-a dingin, “mengapa? Memangnya apa yang sudah kau perbuat?”

Kyuhyun menghela nafas. Sejak kapan Lee Joon-a jadi seperti gadis- gadis lain yang suka merepotkan orang lain dengan jalan pemikiran mereka?

“Aku punya banyak salah—“

“Aku tahu.” Sela Joon-a cepat, “tapi maksudku, yang mana?” tanyanya tegas.

Kyuhyun mengerjapkan mata. Udara malam itu sangat dingin dan sapuan angin yang kencang membuat rambut Kyuhyun yang rapi menjadi sedikit berantakan—harus Joon-a akui—meskipun tentu saja dia telah berusaha sangat keras untuk menyangkalnya—bahwa dia lebih suka rambut Kyuhyun yang seperti itu. Kyuhyun menarik nafas panjang lalu menghembuskannya keras- keras membuat angin berwarna putih keluar dari hidungnya.

“Lihat; kau bahkan tidak bisa menjelaskan kesalahanmu sendiri—“ kata Joon-a, “sejak kapan seorang Cho Kyuhyun menjadi gampang sekali mengucapkan permohonan maaf?” Cho Kyuhyun yang dulu lebih suka meneguk racun daripada meminta maaf, terutama pada Lee Joon-a. Joon-a bisa menerima kalau Kyuhyun menyesali perbuatannya dulu, Joon-a juga jauh lebih menyesalinya; tapi dia tidak suka kalau Kyuhyun harus menjadi ‘orang lain’ karenanya.

Lee Joon-a tidak pernah meminta Kyuhyun merubah sifatnya dan menjadi orang lain.

Joon-a menggeleng lalu berbalik berjalan—

“Benar.” Terdengar suara datar di belakangnya. “Aku tidak suka meminta maaf.”

Joon-a menghentikan langkahnya.

“Aku membenci semua orang yang dengan mudah meminta maaf—karena itu berarti mereka bisa dengan mudah melakukan kesalahan yang sama, dan meminta maaf lagi. Tapi—“ nafas Kyuhyun tercekat, “aku berbuat banyak sekali kesalahan padamu, dan tidak ada satu hari pun selama beberapa tahun terakhir ini tanpa kusesali dan ingin meminta maaf padamu. Setiap hari aku ingin menghubungimu dan mengatakannya; tapi kemudian aku ingat bahwa sebagai bentuk permohonan maafku, aku harus membiarkanmu pergi dan tidak mengusik kehidupanmu. Aku sangat ingin meminta maaf padamu, tapi kemudian aku ragu apa aku pantas memintanya.”

Joon-a terdiam di tempatnya. Hatinya yang semula kacau kini terasa hampa. Pandangannya mengabur. Joon-a perlahan berbalik dan menatap Kyuhyun yang tak jauh darinya; dengan wajah tanpa ekspresi seperti biasanya—tapi Joon-a bisa melihat kilat penyesalan yang sangat besar di matanya.

“Tapi semakin lama itu semakin menyiksa; kemudian itu membuatku semakin sadar betapa menderitanya menjadi dirimu saat kau menungguku selama belasan tahun untuk menjemputmu—dan itu membuatku lebih menderita lagi, Lee Joon-a—“ mata Kyuhyun berkaca- kaca.

Karena itu, kau menyuruh orang mengawasiku selama 2 tahun ini… tanpa sekalipun menghubungiku?” tanya Joon-a tenang. Lee Joon-a tidak bodoh; dia tahu setiap hari ada yang mengawasinya, dan memastikan dia baik- baik saja. Joon-a juga bisa merasakan ketika ada yang membuntutinya atau mengambil foto. Daerah tempat dia tinggal sejujurnya tidak terlalu aman, meskipun lingkungannya bagus—tapi sejak dia tinggal tingkat kriminalitasnya menjadi sangat minim. Dan juga, pemilik gedung apartemen entah mengapa sangat mengenalnya dan selalu memastikan apartemennya nyaman dan baik- baik saja.

Kyuhyun tidak menjawab, mengalihkan tatapannya.

“Jadi, kau mau terus mengucapkan ‘maaf’ padaku saat ini?” tanya Joon-a lagi.

“…”

“Aku sudah memaafkanmu, Cho Kyuhyun, jauh sebelum kau memintanya. Kesalahanku juga lebih banyak, dan aku sudah meminta maaf padamu. Jadi,” Joon-a merasakan bulir air mata jatuh membasahi pipinya.

Jadi… kedatangan Cho Kyuhyun adalah untuk meminta maaf padanya.

Kenapa kenyataan itu membuatnya tidak senang?

“Karena itu, janganlah memikirkannya lagi dan lanjutkanlah hidupmu. Aku ingin kau hidup bahagia, Cho Kyuhyun. Aku bersungguh- sungguh.” Kata Joon-a tulus, menyunggingkan senyum lemahnya.

Cho Khuyun menatap Joon-a selama beberapa detik kemudian berjalan menghampirinya dengan langkah pelan; seolah setiap langkah dipenuhi keraguan bahwa Lee Joon-a akan menolaknya. Joon-a tidak bergeming; membiarkan pipinya dibasahi dengan air mata. Kyuhyun berhenti dan berdiri dengan jarak yang sangat amat dekat dengan Joon-a hingga dia bisa mendengar debaran jantung Joon-a maupun isakkan kecilnya.

“Apa kau… bahagia?” tanya Kyuhyun pelan, suaranya terdengar seperti bisikkan. Selama beberapa detik Joon-a membeku—tak menyangka akan mendengar pertanyaan ini. Kyuhyun terdengar sangat serius menanyakannya—tatapannya terasa sangat dalam dan menusuk; yang Joon-a inginkan hanyalah lari.

Apa yang harus dia jawab?

Haruskah dia menjawab yang sejujurnya?

“Ya.” Balas Joon-a lantang, “aku sangat bahagia sekarang ini. Aku bisa mengejar impianku dan yang terpenting lagi, aku bisa menjadi diriku sendiri.”

Selama beberapa saat mereka saling bertatapan, butuh kekuatan bagi Joon-a agar bisa tetap memasang ekspresi dinginnya dan membalas tatapan Kyuhyun sementara pria itu masih terus mencari kejujuran di matanya.

“Baiklah.” Jawab Kyuhyun, memaksakan senyumnya kemudian mengangguk.

Joon-a mengerutkan kering, kemudian mengusap wajahnya yang bersimbah air mata. “Ayo pergi. Aku harus menyelesaikan tugasku.” Joon-a kemudian berbalik dan berjalan ke arah sebaliknya, ke tempat mobil mereka diparkir, meninggalkan Cho Kyuhyun yang masih diam pada tempatnya, memperhatikan punggung Joon-a yang berjalan semakin menjauh darinya.

“Oh, dia belum bilang apa- apa padamu? Dia mengikuti seleksi untuk kontes desainer tahunan yang sering kami selenggarakan. Aku sudah memastikan dia lolos seleksi—meskipun tentu saja aku tidak harus bekerja keras karena dia toh pasti akan terpilih—dan aku yakin dia pasti akan memenangkannya. Dan kalau dia menang, tidak lama lagi kau akan segera melihat namanya di baliho atau majalah- majalah mode terkenal!

“Ini saat yang paling penting dalam hidupnya. Jadi anak muda, aku menyarankanmu untuk tidak mengganggu konsentrasinya dan berbuat macam- macam padanya. Ini mimpinya sejak kecil—dan satu kesalahan saja maka dia bisa merusak kesempatannya, kau mengerti?”

Cho Kyuhyun merasakan bulir air mata jatuh memasahi pipinya. Kyuhyun menunduk sejenak lalu menatap kembali Joon-a yang kini semakin menjauh…

“Lee Joon-a,” gumam Kyuhyun pelan, “Bagaimana bisa aku melanjutkan hidupku, tanpa kau di dalamnya?”

*

Margoux menguap pelan untuk yang kesekian kalinya, memandang orang- orang yang berjalan berlalu lalang di depannya dengan malas. Entah apa yang membuatnya bersedia datang kemari dan bertemu dengan orang- orang yang tidak dia kenal—terlebih lagi—jauh berbeda darinya. Mereka semua berpakaian resmi, dan sibuk berdiskusi satu sama lain sambil memegang gelas wine. Musik klasik yang membosankan menggema di seluruh penjuru ruangan bercampur dengan denting- denting alat makan dan tawa- tawa sopan dari semua orang. Tiba- tiba Margoux merasa sangat malang karena sudah terjebak di tempat ini sementara dirinya bisa menghabiskan waktu berkualitasnya di rumah, bersembunyi dalam selimut hangat sambil menonton tayangan di TV kabel.

Ini semua gara- gara Lee Joon-a.

Margoux diam- diam melirik sahabatnya dengan kesal; sementara Lee Joon-a sibuk dengan khayalannya sendiri, menatap hampa di ujung ruangan sana.

Sebenarnya itulah alasan dia mengorbankan waktu berharganya untuk berada di tempat ini; dia harus memastikan sahabatnya baik- baik saja mengingat beberapa hari terakhir ini Lee Joon-a bertingkah sangat aneh dan berbeda dengan kesehariannya. Joon-a yang dia kenal memang tidak suka banyak bicara, tapi setidaknya dia cukup periang dan bukannya seperti mayat hidup yang selama beberapa hari terakhir ini dilihat Margoux. Entah apa yang harus dia lakukan.

Sekarang saja Joon-a hanya memegang botol sodanya dan duduk di sofa nyamannya, memperhatikan pemandangan di depannya. Wajahnya terlihat sangat pucat.

“Jelaskan kepadaku kenapa kita tidak boleh minum wine.” Ujar Margoux ketus. “Semua orang di sini meminumnya.”

“Aku harus mengikuti acara serah terima sumbangan di bagian terakhir; dan kau tahu benar kemampuanku minum alkohol. Dan aku juga tidak mau kerepotan mengurusmu sebentar karena kau sangat sulit dikendalikan kalau mabuk.” Jelas Joon-a panjang lebar.

“Dan juga, kenapa mereka semua bisa memakai gaun dan tuxedo sedangkan kita memakai… ini?” berbeda dengan yang lainnya, Margoux dan Joon-a menggunakan celana jins ketat dan kaos longgar berwarna putih dengan tulisan di tengah Hansin Care Organization. Malam ini merupakan penggalangan acara dana untuk pembangunan panti jompo—kali ini skala acaranya lebih besar dari peragaan busana sebelumnya tapi Joon-a lebih memilih memakai kaos panitia karena dia sedang tidak berselera untuk merias diri. Malah sejujurnya, dia sedang tidak bersemangat untuk berada di sini.

“Kita tetap terlihat cantik meskipun memakai kaos oblong,” jawab Joon-a malas.

“Itu dirimu,” ujar Margoux ketus. Lee Joon-a bisa memakai karung beras sekalipun dan tetap mata semua pria akan tertuju padanya. Sekarang saja, para pria muda bertuxedo yang lewat beberapa kali melemparkan pandangan pada Joon-a dengan tertarik, sebelum kemudian pergi. Tapi tetap saja ada satu pria yang tidak suka repot- repot menyembunyikan perasaan tertariknya pada Joon-a.

Dan sekarang pria itu sedang berjalan menghampiri mereka, terlihat sangat tampan dalam tuxedonya.

“Aurora, Prince Charming-mu sedang berjalan kemari.”

Joon-a mengalihkan tatapannya kemudian berdiri ketika melihat Choi Siwon yang menatapnya dengan heran.

“Kenapa kau memakai kaos panitia?”

Joon-a tersenyum paksa. “Aku toh memang panitia,”

“Tapi kau juga tamu kehormatanku dan berperan penting di sini.” Kata Siwon lembut, “apa kau ingin semua orang mengatakan ‘kau tetap terlihat cantik meskipun memakai kaos sekalipun’?”

Joon-a tertawa ringan. “Mungkin?”

Margoux memutar matanya, merasa sedikit mual mendengar sindiran Siwon. Demi Tuhan kenapa Choi Siwon tidak segera menyatakan perasaannya saja kepada Joon-a dan mereka hidup di istana dengan bahagia selama- lamanya? Margoux tidak pernah melihat Prince Charming yang suka sekali bermain tarik ulur seperti ini.

“Ah, Margoux, bagaimana kabarmu?” tanya Siwon ramah.

“Bukan kabarku yang penting, tapi kau harus menanyakan kabar gadis ini,” Margoux menunjuk Joon-a—yang tampak sekarang ini ingin menelannya hidup- hidup—dengan ketus. “dia seperti mayat hidup beberapa hari terakhir ini.” Keluhnya.

“Benarkah?” Senyum di wajah Siwon langsung menghilang dan digantikan kekhawatiran, “kau baik- baik saja? Apa terjadi sesuatu?”

Joon-a hanya memicingkan matanya dan memaksakan senyum. Mendengar orang menanyakan kabarnya membuatnya merasa mual. Dia sendiri tidak tahu bagaimana keadaannya saat ini. Yang pasti, yang dia inginkan hanyalah pulang ke rumah dan hidup dalam kesuraman.

“Baik- baik saja, Margoux memang kadang- kadang melebih- lebihkan.” Kata Joon-a dalam bahasa Korea agar Margoux tidak mengerti. “Ah, Oppa—ngomong- ngomong aku harus pergi ke toilet sebentar.”

“Baiklah—jaga dirimu.” Kata Siwon, “ngomong- ngomong sedikit lagi kita akan menyambut para donator, bersiap- siaplah.”

Lee Joon-a mengangguk kemudian berbalik pergi, meninggalkan Siwon dan Margoux. Dia juga sedang tidak ingin berpura- pura ramah pada orang lain. Saat ini perasaan hatinya sedang kacau dan suram, dan yang membuatnya lebih sedih lagi karena dia tidak mengetahui alasannya. Alih- alih pergi ke toilet Joon-a berjalan ke arah beranda. Angin malam langsung menyambutnya ketika Joon-a menutup pintu dan menenangkan dirinya dan hingar- binger di dalam ruangan. Dia sedang membutuhkan tempat yang hening, dia membutuhkan tempat yang sunyi. Dia sedang ingin menenangkan diri.

Joon-a terdiam sejenak, menghembuskan nafas lalu mengambil ponsel dari saku celananya.

Ya, sumber penderitaannya beberapa hari terakhir ini adalah ponselnya.

Sudah berkali- kali dia mengecek layar ponselnya dan tidak menemukan apapun di dalamnya.

“Sepertinya kau sedang bersenang- senang,” kata Joon-a ketus. Sejak terakhir kali bertemu malam itu, Cho Kyuhyun tidak lagi menghubunginya atau memberikannya kabar apapun. Itu membuat Joon-a semakin yakin bahwa kedatangan Kyuhyun ke Prancis hanyalah untuk meminta maaf padanya agar dia bisa melanjutkan hidupnya tanpa perasaan bersalah. Buktinya, setelah Joon-a mengatakan bahwa dia memaafkan Kyuhyun, dia tidak lagi menghubungi Joon-a!

“Cih, dasar brengsek—kau bilang kau memikirkanku setiap hari! Kau bilang kau rindu padaku!” tuntut Joon-a, menatap ponselnya dengan kesal dan berurai air mata. Benar juga, kenapa dia bodoh sekali mempercayai seorang Cho Kyuhyun?

“Kenapa aku bertingkah bodoh seperti ini?” Joon-a mengusap pipinya dan mengisak kecil. Rasanya seperti ada yang mengganjal di lehernya membuatnya merasa sakit. Apa setelah itu Kyuhyun akan menceraikannya? “Benar, lebih baik kau mencertaikanku saja, kenapa kau malah merobek kertas itu—aku akan menulisnya 100 lembar lagi agar kau kapok!—Omo!”

Joon-a bergidik ketika ponsel yang sedang dibentaknya tiba- tiba berbunyi. Dari Choi Siwon.

“N—neh?”

“Joon-a—yah, kemarilah, kita akan segera menyambut donaturnya.”

Lee Joon-a memasukkan ponselnya ke dalam kantong, mengusap wajahnya dan memperbaiki dirinya—bersyukur Choi Siwon tidak menyadari suaranya yang aneh karena sedang menangis.

*

“Kau yakin baik- baik saja?” tanya Siwon khawatir, setengah berbisik. “Margoux bilang kau jarang makan,”

“Aku tidak apa- apa,” jawab Lee Joon-a dingin, “aku hanya sedang sibuk dengan proyek kami,” mereka toh memang sibuk dengan proyek mereka untuk lomba dan mereka sudah memasukkannya dua hari yang lalu. Lee Joon-a mengakui dia menjadi terlalu ‘rajin’ karena ingin mengalihkan perhatiannya.

Siwon mengangguk. Dia tahu dari nada suara Joon-a bahwa dia dilarang untuk bertanya lebih jauh dan membuat Joon-a terganggu. Joon-a lebih suka menyimpan masalahnya dan Siwon tidak ingin mengganggunya. Sampai sekarang ini dia belum menemukan bagaimana caranya untuk membuat Joon-a nyaman untuk menceritakan masalahnya pada Siwon.

“Ah, mereka sudah datang.” Siwon tersenyum, memperhatikan keadaan sekeliling, memastikan bahwa para panitia telah berbaris dengan rapi di sisi kanan dan kiri panggung untuk menyambut mereka.

Para tamu berdiri dari tempat duduk mereka dan bertepuk tangan begitu pintu aula terbuka, menampakkan rombongan pria yang berpakaian tuxedo, beberapa menggandenga pasangan mereka, beberapa tidak. Choi Siwon dan para panitia membungkuk hormat selama beberapa menit. Joon-a memperhatikan ujung sepatu ketsnya yang sudah lecet dengan bosan, kemudian berdiri tegap dan terkejut ketika melihat salah seorang tamu yang berada dalam rombongan itu.

Deg.

Cho Kyuhyun berjalan melewatinya tanpa menatapnya, mengikuti rekan- rekannya yang lain, seolah- olah tidak menyadari kehadiran Joon-a. Joon-a hanya mampu menatapnya dengan ekspresi tidak percaya—sumber kegusarannya selama beberapa hari lewat di depannya dengan ekspresi tidak berdosa seolah tidak terjadi apa- apa. Joon-a terlalu fokus pada Kyuhyun hingga tidak menyadari ekspresi Choi Siwon yang kelihatan terkejut dan juga tidak senang. Siwon mengerutkan kening dan berbisik pada asistennya yang berdiri di sampingnya.

“Apa yang terjadi? Kenapa Cho Kyuhyun berada di sini?”

“Ah, Direktur Cho adalah donatur terbesar untuk acara amal ini.” Kata asistennya dengan tidak berdosa. “Maaf, Tuan Choi—aku sudah meletakkan berkas- berkasnya di meja Anda beberapa hari lalu.”

Siwon menghembuskan nafas kesal. Dia tidak membacanya karena dia sangat mempercayai asistennya untuk mengurus semuanya. Keberadaan Cho Kyuhyun malam ini sama sekali tidak membantu keadaannya, apalagi setelah Siwon menyadari tatapan Joon-a yang terus mengikuti punggung Kyuhyun, seolah tidak lagi menyadari situasi di sekelilingnya.

*

Dia bilang dia menderita, dia bilang dia merindukan Joon-a.

Joon-a memperhatikan Cho Kyuhyun dengan saksama dari ujung ruangan, menatap gerak- gerik Cho Kyuhyun yang tengah berbincang- bincang dengan para wanita- wanita berpakaian resmi, terlihat sangat terhibur—atau pura- pura terhibur—dengan apapun yang Kyuhyun katakan. Beberapa dari mereka bahkan jelas- jelas sedang menggodanya!

Apakah itu terlihat seperti sedang menderita?

Joon-a menggenggam kaleng sodanya dengan sedikit geram, membuat kalengnya sodanya remuk. Dia memang tidak seharusnya memperhatikan semua perkataan Kyuhyun! Dasar bedebah! Jangan katakana selama beberapa hari terakhir ini dia bermesraan dengan gadis lain—pria macam apa dia meninggalkan istrinya tanpa kabar?

“Lee Joon-a, aku mencarimu di mana- mana.” Ujar Margoux. “Ayo pulang—aku sudah bosan di sini—“ Margoux mengerutkan kening menyadari ekspresi membunuh Joon-a; kemudian mengikuti arah tatapannya, lalu mengangguk. “Wow—dia sangat tampan dan tinggi! Mungkin tidak se-Prince Charming Choi Siwon, tapi jelas dia punya kharisma sendiri.” Kata Margoux seperti komentator kontes menyanyi, lalu mencibir. “Coba lihat gadis- gadis itu, dari tadi mereka mencoba menggoda Choi Siwon tapi Siwon, tentu saja sangat setia padamu. Jadi mereka sekarang menggoda si Direktur itu.”

“Cih. Dia memang bedebah kelas atas.” Gumam Joon-a dalam bahasa Korea.

“Aku mulai khawatir kalau kau bergumam dalam bahasa Korea,” ujar Margoux serius, “memangnya siapa dia?”

“Suamiku,” jawab Joon-a ketus, “awas saja aku akan membunuhnya.”

“Oh,” kata Margoux mengangguk mengerti tapi kemudian membelalak dan menatap Joon-a dengan tidak percaya. “TUNGGU–KAU BILANG APA TADI?? SUAMI??”

Joon-a terlalu emosi untuk menyadari keterkejutan Margoux ataupun fakta bahwa dia baru saja mengungkapkan identitas Kyuhyun pada orang lain. Joon-a menghela nafas kemudian berjalan dengan penuh amarah ke meja panjang yang menyediakan kudapan. Di saat seperti ini dia malah merasa sangat lapar—dia bisa membayangkan wajah Kyuhyun di setiap kue- kue berbagai jenis warna di atas meja—mengambil salah satu lalu memasukkannya ke dalam mulutnya dengan kasar. Rasanya aneh—sangat aneh—dia tidak suka makanan Prancis, tapi dia terlalu marah dan semua kue terasa sama saja untuknya.

“Lee Joon-a—?”

Joon-a menoleh. Choi Siwon berdiri di belakangnya, tampak kebingungan. “Aku mencarimu dari tadi—“ ekspresinya berubah ketika melihat sesuatu di wajah Joon-a. “Aigoo, berapa umurmu sebenarnya?” Siwon tertawa lembut lalu membersihkan sesuatu di bibir Joon-a dengan sapu tangannya. Joon-a bergidik dan menunduk, merasa sangat segan—beberapa orang di sekeliling mereka memperhatikan mereka. Sesaat dia ingin menepis tangan Siwon tapi kemudian dia mengingat pemandangan Kyuhyun yang sedang bergurau dengan gadis- gadis lain, lalu memutuskan untuk membiarkan Siwon membersihkan mulutnya.

“Terima kasih, Oppa.” Kata Joon-a manis. Siwon sejenak tertegun dengan jawaban manis yang diberikan Joon-a—lalu kemudian tertawa kecil. Semua sikap Joon-a yang baik selalu memberikan Siwon secercah harapan. Dia akan menggunakannya dengan sangat bijaksana.

“Yah, bagaimana kalau selesai acara kita makan burger yang kau suka? Di tempat biasa.”

“Benarkah?” Joon-a menatap Siwon dengan mata berbinar- binar. “Aku sangat lapar—beberapa hari ini nafsu makanku buruk karena aku memikirkan hal- hal yang tidak penting.”

Siwon tersenyum lebih lebar kemudian mengacungkan tangannya, Joon-a mengangkat tangan dan menepukkan tangannya di tangan Siwon. Keduanya tertawa. Joon-a bisa merasakan tatapan Kyuhyun dari ujung ruangan dan ya Tuhan dia sangat menikmati ini. Rasakan sekarang! Memangnya enak? Joon-a tersenyum manis pada Siwon, tiba- tiba merasa sedikit bersalah karena telah menggunakan Siwon di situasi ini.

“Sepertinya aku sedang mengganggu kalian?”

Suara seorang wanita terdengar dan tiba- tiba atmosfer di sekeliling mereka berubah. Keramaian sebelumnya berubah menjadi keheningan. Lee Joon-a dan Choi Siwon sama- sama saling bertatapan sebelum kemudian berpaling ke arah suara.

Nyonya Choi Inna—ibu dari Siwon, tersenyum dingin pada mereka sambil menggenggam tas kecilnya. Beliau terlihat sangat cantik dan anggun di usia paruh bayanya; mengenakan gaun hitam ditutupi jubah berbulu. Tampak beberapa pengawalnya berdiri di belakangnya. Seolah- olah ada orang yang akan muncul tiba- tiba dari bawah meja makan ini dan menembak Nyonya Choi Inna.

Sepertinya kedatangan beliau seperti petir di siang hari karena semua orang menatapnya dengan terkejut dan heran.

Tapi yang paling terkejut tentu saja Choi Siwon.

Eommoni—“ Siwon kelihatan seperti baru saja dicabut nyawanya tiba- tiba. “Apa—b—bagaimana kau bisa—?”

“Aku ingin memberikan putraku satu- satunya kejutan. Kau baru pulang beberapa hari dan langsung kembali tanpa aku sempat melihatmu. Bagaimana aku tidak rindu?” kata Nyonya Choi lembut, sangat keibuan tapi di saat yang sama membuat Lee Joon-a merinding. “Kau terlalu sering datang ke Prancis, bukankah begitu?” beliau menatap putranya penuh arti.

Tatapannya kemudian beralih pada Lee Joon-a, dan senyumnya semakin melebar, meskipun kilat di matanya memberikan pesan pada Lee Joon-a bahwa sebenarnya Nyonya Choi hanya bermaksud untuk menggerakkan bibirnya saja dan bukan benar- benar tersenyum.

“Kau,” ujar Nyonya Choi, ada sesuatu pada nada suaranya yang tidak Joon-a sukai. “Cho Joon-a, bukan?”

*

“Ah, bukankah itu Nyonya Choi? Aku tidak tahu dia akan datang,” ujar seorang gadis yang sedari tadi berbincang- bincang dengan Kyuhyun pada teman- temannya. Sekarang Nyonya Choi menjadi pusat perhatian seisi ruangan.

Kyuhyun tidak mendengarkan perkataan mereka; menatap tajam- tajam Lee Joon-a yang saat ini kelihatan sangat canggung dan sedikit takut, mencoba tersenyum pada Nyonya Choi yang kelihatan seperti akan menelannya bulat- bulat.

“Wah, gadis itu benar- benar akan menerima ganjarannya. Nyonya Choi tidak kelihatan terlalu senang.” Kata gadis yang satunya, terlihat lebih senang daripada khawatir.

“Tentu saja. Lihat saja penampilan mereka, Nyonya Choi sudah beberapa kali menjodohkan Choi Siwon—ssi dengan putri keluarga terpandang, tapi Siwon—ssi kabarnya selalu datang kemari dan menemui gadis itu.”

“Aku kasihan padanya. Dia memang lumayan cantik, tapi sepertinya dia bukan tipe Nyonya Choi. Bukankah menurutmu begitu, Cho Kyuhyun—ssi?” tanya gadis yang lain, perhatian mereka kemudian kembali tertuju pada Cho Kyuhyun.

Kyuhyun masih menatap Joon-a, tidak sekalipun mengalihkan perhatiannya.

“Kalau gadis secantik dia saja kalian bilang ‘lumayan’, lalu kalian ini apa?” tanyanya dingin, masih dengan tatapan terpaku pada Joon-a..

“N—neh?”

“Ah, maaf—apakah aku mengatakan sesuatu?” kata Kyuhyun, pura- pura tersadar dengan tatapannya, lalu mengangkat gelas wine-nya. “Aku pergi dulu.” Kyuhyun kemudian pergi meninggalkan mereka, yang masih kebingungan, masih mencari maksud arti dari perkataan Cho Kyuhyun barusan.

*

 

Lee Joon-a tidak pernah merasa terintimidasi seperti ini. Tidak dalam situasi apapun, bahkan ketika dia mengikuti ujian. Tidak bahkan ketika dia bertemu dengan Nyonya Cho saat mereka akan dijodohkan. Bisa dimengerti mengingat baik Nyonya Cho atau Nyonya Choi memiliki karakter yang jauh berbeda, meskipun latar belakang mereka sama. Nyonya Cho sangatlah hangat dan tulus—beliau selalu memperlakukan semua orang dengan sopan dan tanpa menghakimi.

Setidaknya dia tidak membuat Joon-a merasa dia telah melakukan tindakan kriminalisasi.

Lee Joon-a, Choi Siwon dan ibunya saat ini berdiri di beranda, memisahkan diri dari keributan dalam ruangan. Kedatangan Nyonya Choi tadi cukup dramatis sehingga Siwon harus membawa ibunya jauh- jauh. Dan juga, mungkin untuk menghindari ‘keributan’. Joon-a sendiri merasa tidak seharusnya dia berada di sini dan terjebak dalam Siwon dan ibunya. Dia merasa sangat canggung dan tidak nyaman.

“Kenapa kau tidak bilang padaku, kau akan datang?” tanya Siwon, jelas tidak suka.

“Kau juga tidak pernah minta ijin padaku tiap datang kemari.” Jawab Nyonya Choi tenang, meneguk wine dalam gelas kacanya dengan anggun.

“Aku sudah bilang padamu aku sedang dalam perjalanan bisnis.” Kata Siwon, kelihatan sedikit frustasi.

“Benarkah?” Nyonya Choi mengangkat keningnya, setengah menyindir. Siwon terlihat sedikit malu dan Joon-a dalam hati merasa kasihan pada Siwon. Nyonya Cho selalu memperlakukan putranya dengan lembut dan penuh rasa hormat hingga Kyuhyun tidak pernah sekalipun membentak ibunya. Joon-a tidak tahu mengapa dia terus membandingkan mereka.

“Joon-a—ssi, maaf—bisakah kau meninggalkan kami?” tanya Siwon, terlihat menyesal. Joon-a tersenyum dan mengangguk lalu bersiap- siap untuk kabur—

“Biarkan dia di sini.” Kata Nyonya Choi dingin. “Aku juga perlu bicara dengannya.”

“Tidak ada yang perlu kau bicarakan dengan Joon-a—ssi,” kata Siwon bersikeras.

“Tidak—justru kedatanganku kemari adalah untuk menemuinya.” Kata Nyonya Choi, tidak lagi repot- repot untuk bersikap manis, sekarang menatap Joon-a seperti serigala yang siap menerkam mangsanya. Joon-a kontan mengerutkan kening, menatap Nyonya Choi dengan heran.

Apa maksudnya?

“N—neh?” tanya Joon-a heran.

“Bagaimana kabarmu, Joon-a—ssi?” tanya Nyonya Choi, kelihatan tidak tertarik dengan jawabannya. “Terakhir kali kita bertemu adalah dua tahun yang lalu di kediaman keluarga Cho. Bagaimana kabar pernikahanmu sekarang?” Nyonya Choi mendengus pelan sambil memperbaiki posisi jubah bulunya yang pasti bisa membuat bersin satu desa. “Aku dengar kau bermasalah dengan pernikahanmu dan keluarga Cho karena itu kau kemari?”

Rasanya seperti ada yang menampar wajah Joon-a. Ternyata kata- kata yang tajam saja cukup memberikan pukulan padamu. Joon-a tertegun, menatap Nyonya Choi tidak percaya.

“Eomma—“ bentak Siwon frustasi, “apa yang kau—“

Tiba- tiba pintu terbuka, menampakkan Cho Kyuhyun.

Kyuhyun terlihat sedikit terengah- engah, atau setidaknya pura- pura (Joon-a tahu jelas kapan Kyuhyun bersungguh- sungguh atau sedang berpura- pura), menatap mereka bertiga yang terkejut melihatnya, lalu wajahnya terlihat lega ketika melihat Joon-a.

“Di sini kau rupanya,” kata Kyuhyun, tersenyun pada Joon-a, kemudian membungkuk pada Nyonya Choi. “Apa kabar Anda, Nyonya Choi?”

“O—ooh, Direktur Cho,” Nyonya Choi sekarang terlihat seperti baru saja disambar petir melihat Kyuhyun, menggenggam jubah bulu-binatang-malang-nya dengan sedikit lebih erat, “b—bagaimana bisa Anda di sini?”

“Ah, aku baru saja mengikuti program donatur yang diselenggarakan Choi Siwon—ssi,” kata Kyuhyun dengan senyum sopan dan tak berdosanya, benar- benar terlihat sangat baik dan berbakti,

“B—benarkah?” tanya Nyonya Choi, sementara Joon-a masih bimbang antara ingin menarik jubah Nyonya Choi dan membelitnya ke wajah berharga miliaran itu atau tetap menatap Cho Kyuhyun dan menanti sepak terjangnya. “Aku tidak tahu… kau juga suka tertarik dengan kegiatan amal?” tanya Nyonya Choi lagi, antara bingung atau salah tingkah.

Kyuhyun kembali tersenyum. “Neh—aku memang kurang tertarik untuk campur tangan langsung dengan kegiatan seperti ini, tapi istriku adalah salah satu pendirinya, aku juga ingin membantunya.” Kyuhyun melirik Joon-a sebentar dengan tatapan lembut kemudian menatap ibu Siwon lagi.

Dalam sekejap Joon-a merasa api kemarahan dalam tubsuhnya tadi padam. Dia menatap Kyuhyun dengan bingung. Jawaban Kyuhyun mampu membuat situasi hening—terlebih lagi Nyonya Choi, yang sepertinya baru saja ditampar.

“A—ah…” kata Nyonya Choi, mencoba terdengar penuh pengertian meskipun suaranya bergetar. “kalau begitu… kalian hidup terpisah selama dua tahun ini?”

Siwon menatap ibunya seperti ingin menelannya bulat- bulat. Nyonya Choi sepertinya tidak tahu cara menahan dirinya sendiri.

“Neh, sebenarnya berat untukku—tapi sejak kecil impian Joon-a adalah menjadi desainer terkenal dan sekolah di sekolah desain ternama… jadi untuk sementara aku harus terpaksa membiarkan dia hidup jauh.”

Nyonya Choi menatap Joon-a sejenak kemudian menatap Cho Kyuhyun lagi, jelas rumor yang dia dengar berbeda dengan yang dilihatnya saat ini. Dan sekarang dia tidak tahu harus bagaimana bersikap di depan Joon-a karena dia tadi jelas- jelas sudah menunjukkan ketidaksukaannya pada Joon-a, karena dia mengira Joon-a benar- benar telah dibuang oleh Cho Kyuhyun dan keluarganya.

Lalu, mengapa putranya terus mendekati Joon-a?

“Siwon—ssi, selamat—“ kata Kyuhyun lagi, “acaranya sukses besar. Aku harap pembangunan panti jompo ini bisa cepat terlaksana. Joon-a banyak cerita tentangmu—terima kasih karena telah menjaga dan memperhatikan istriku selama ini.” Kyuhyun berjalan mendekat dan melingkarkan tangannya di punggung Joon-a. Sejenak Joon-a merasakan ada aliran listrik di sekujur tubuhnya dan jantungnya berdebar kencang.

Siwon membelalakkan matanya, menatap Joon-a dan Kyuhyun bergantian.

“S—sepertinya kalian sangat harmonis?” tanya Nyonya Choi lagi, masih berusaha mengupas berita.

Kyuhyun tidak menjawab, hanya tersenyum, mengusap punggung istrinya dengan lembut dan menatapnya hangat. Joon-a bisa melihat rahang Kyuhyun mulai menegang yang berarti dia sendiri sedang berusaha menahan emosi. Malah Joon-a curiga dia mendengar seluruh perkataan Nyonya Choi sebelumnya padanya karena itulah dia menerobos masuk.

“Kau belum mau pulang? Dari tadi kau tidak makan,” kata Kyuhyun serius pada Joon-a dengan nada sedikit diturunkan, menatapnya dalam- dalam, seolah- olah itu hanyalah pembicaraan antara suami istri yang tidak seharusnya didengar orang lain.

“O—ooh,”

“Ayo pulang, ibuku bisa menelanku kalau membiarkanmu turun satu kilogram saja,” Kyuhyun menarik istrinya kemudian tertawa kecil pada Nyonya Choi. “Joon-a ini tidak hobi makan jadi ibuku sangat khawatir. Maaf, kami harus pulang. Siwon—ssi sampai jumpa nanti di Seoul, ayahku sangat tertarik dengan program amal yang kau selenggarakan. Nyonya Choi, aku harap kita bisa berbincang lagi lain kali.” Kyuhyun menurunkan tangannya dari punggung Joon-a lalu menggenggam tangannya yang dingin.

Joon-a membungkuk sejenak lalu membiarkan Kyuhyun menggiringnya masuk ke dalam aula, meninggalkan beranda.

Nyonya Choi terdiam sejenak, menghela nafas, raut wajahnya terlihat sangat tegang, sementara Siwon mengusap wajahnya dengan frustasi.

Sepertinya dia baru saja menyaksikans bagaimana harapannya untuk mendapatkan Lee Joon-a lepas dari tangannya, terbang mengikuti angin yang berhembus kencang.

Advertisements

188 thoughts on “The Flower Trilogy; Sunflower- Part 6”

  1. akhirnya update juga. Kyu sama Joon-a masih sama-sama belum menurunkan egonya. tapi Kyu romantis banget menyanyikan sebuah lagu untuk Joon-a. Siwon bakal gigit jari nih karena Kyu datang menyelamatkan Joon-a dari ibunya Siwon. kan mereka emang belum cerai jadi wajar kalau Kyu masih mengakui Joon-a sebagai istrinya

  2. Entah mau bilang apa speechless sma pasangan ini …tapi aku seneng akhirnya mereka di post ceritanya..heheh makasih kak udah bikin deg ..deg..deg ..an sma kehadiran nyonya choi. Pengen deh mulutnya di gaplok dah tuh nenek2 huffttt… ayo dong balikan ajah napa sih

  3. syukur” kyu dl ga tndtngani surat cerainy..jd wlo pisah lama..sttus joon a msihlh istriny..
    kyu blm brani ungkapin isi htiny…ayooo donk…

  4. Cepetan rujuk apa kyu ma joon-a nya😆😆😆😆 udah tau kalian tuh masih punya rasa suka yang besar tapi ego kalian juga besar haduh haduh,kyu kerwn banget nyelametin joon-a dari perkataam pedes nya nyonya choi

  5. Kyaaaa… Udah update lama, Baru sempet baca 😊😊
    Semoga aja kyuhyun joona bisa baikan lagi.. Gak saling mentingin ego masing2.
    Huahhh,, cho kyuhyun si penyelamat. Untung kyuhyun nongol, kalo enggak joona udah mati kutu d kata2in sama ny.choi..
    Semoga aja setelahnya mereka berdua baikan.
    Next part d tunggu kak

  6. Akhirnya update juga ini cerita.. 🙂
    gua harap abis ini kyuhyun bilang cinta sm joona trus balikan jadi suamiistri trus akur lagi deh hehe
    plis kaa buat mereka bahagia yaa jangan pisahkan mereka lagi 😀

  7. Udh lma update nya tp bru baca skrng,,,Semoga aja stelah ini kyuhyun bisa baikan lgi ama joon,,sneng bgt gue liat muka nya nyonya choi gk brkutik gara2 kyuhyun oppa,dtnggu next chap ny

  8. nangis gak si lo pada akhirnya ini ff update juga. nungguin ini ff berasa nunggu doi peka wkwk.. speechless sih sama pasangan ini berdua, bener bener gak ketebak. tapi parah sih kyuhyun sweeatnya overload pake nyanyiin say you wont let go. duh! udahlah yg terbaik buat mereka

  9. Semoga kyu dan joon a bisa bersatu kembali.Dan semoga kyu gk bersikap bodoh karena ucapan profesor yg memintanya untuk tidak mengganggu konsentrasi joon a dengan cara menjauhi joon a.
    Pas akhir2 kyu kereeen…Pengen banget lihat mereka cepet bersatu

  10. Ahhh akhirnya ffnya kluar jga . Udh lama bnget nungguin ff ini .. suka bnget 😍 semoga joon.a sama kyu baikan lagi ya😊😊 dokter ini emang gak salah klo gtu .. emang pinter bnget bakatnya banyak lagi 😗😗

  11. long time no see eonni 😀
    aahh akhirnya ff ini di lanjut juga:)
    di part 6 asli gak bisa komen apa,,, pokoknya. baguuussssssss!!!!;! ^^^^^
    ditunggu part 7 nya eonni^^~~

  12. Wah aku ketinggalan baca ternyata udah di update part6 nya..kapan mereka bisa kumpul bareng lagi dan hubungan mereka gak terhalang jarak lagi.. pingin liat mereka sweet momenan lagi

  13. Kenapa mereka selalu nyakitin diri masing masing huaaaaaaa njir mewek terus tiap baca tulisan kakak.
    Btw kangen beraatt sama ff kakak tp sekali update kangennya terbayar lunassss wkwkwk
    Fighting and thank you

  14. Kasian siwon…emang joon a hanya untuk kyuhyun.. Aku kira kyuhyun menyerah ternyata tidak..dia membawa joon a pulang

  15. Ah kenapa lee joon-a disini egois sekali? 😦 kenapa tidak kembali bersama kyuhyun? memulainya dari awal? kenapa seolah2 tak ada cinta diantara mereka??? 😥 iih siwon oppa ngedeketin aja joon-a huh

  16. baru tau part enam udah di-publish T.T
    Lucu lihat Joon A cemburu, wkwk
    saling serang tapi saling bantu (?) ini ceritanya? hoho
    ayolah, balikan lagi Kyuhyun—JoonA

  17. Nyonya choi kyk nyonya2 dlm drama wkwkwk .. Mandang org dr status sosial. Untung kyuhyun ada jg klo gk abis dah joon-a disindir2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s