Romance, Short Story

The Flower Trilogy; Sunflower- Part 7

Title: The Flower Trilogy; Sunflower- Part 7

Character: Cho Kyuhun

Lee Joon-a

 

“Percaya atau tidak, kami sudah sering mendengar tentang dirimu.”

“Kami melihatmu di TV kemarin,”

“Benarkah kau adalah donatur terbesar untuk kegiatan ini?”

Cho Kyuhyun menahan keinginan sangat besar untuk memutar tubuhnya dan berbalik pergi meninggalkan gadis- gadis di depannya ini. Kalau dulu dia pasti akan menyertakan kata ‘tolol’ di belakangnya tapi sekarang Kyuhyun menganggap dirinya sudah “bertobat”. Dan pengalaman sebagai seorang Direktur selama dua tahun terakhir memberikannya sedikit pelajaran untuk lebih bersabar dalam menghadapi berbagai macam tipe orang—termasuk tipe ,gadis- gadis-cerah-ceria-tapi-banyak-maksud-tersembunyi seperti mereka,.

Kyuhyun tersenyum sopan dan meneguk wine dari gelasnya dengan tidak bersemangat. Sejak tadi dia mencari sosok Joon-a; dia tahu benar Joon-a berada di ruangan ini—entah mengapa dia bisa merasakan tatapannya.

Gadis- gadis di sekelilingnya masih sibuk berbicara dan Kyuhyun berusaha keras untuk menyembunyikan wajah bosannya ketika dia melihat sosok yang sangat familiar melintas di depannya, berhenti di depan meja panjang yang menyediakan berbagai jenis kudapan. Sepertinya Lee Joon-a sangat sibuk demi menyempurnakan kelangsungan acara ini; alih- alih memakai gaun formal seperti tamu lainnya, Joon-a hanya mengenakan kaos panitia sedikit longgar dipadukan dengan celana jeans ketat yang mempertontonkan paha dan kakinya yang ramping. Dan itu, ladies and gentleman, seribu kali terlihat lebih menggoda dari gaun terseksi apapun yang pernah Kyuhyun lihat.

Hentikan, Cho Kyuhyun, apa yang kau pikirkan di tengah keramaian seperti ini?

Joon-a terlihat sedikit sebal, mengambil salah satu kudupan dan menjejalkannya ke dalam mulut dengan penuh emosi. Sepertinya sesuatu mengganggunya, ataukah dia… cemburu? Kyuhyun bisa merasakan puluhan kupu- kupu terbang di dalam perutnya—fakta bahwa Joon-a cemburu karena melihat Kyuhyun berbincang- bincang dengan para gadis- gadis ini membuatnya sedikit… entahlah, girang?

Tapi kegirangan itu tak berlangsung lama ketika dia melihat seorang pria jangkung berpakaian tuxedo berjalan mendekatinya.

Dia tak perlu berusaha keras untuk mengenali Choi Siwon—Siwon sangat terkenal di kalangan para istri pengusaha yang sedang mencarikan calon menantu untuk putri mereka, dan juga cukup banyak tertera namanya di laporan- laporan yang diberikan asisten Kyuhyun padanya. Rupanya, selain sangat antusias dengan kegiatan- kegiatan amal, Siwon juga lebih antusias untuk mendekati Lee Joon-a, meskipun dia tahu benar kalau Joon-a masih berstatus sebagai istri dari Kyuhyun! Cho Kyuhyun tidak tahu seberapa banyak yang Joon-a ceritakan pada Siwon; tapi Kyuhyun akan memastikan bahwa Siwon tidak akan ‘kebingungan’ lagi seperti sebelumnya.

Kyuhyun menggenggam tangkai gelasnya dengan sedikit lebih keras ketika melihat Siwon menyapu sesuatu di bibir Joon-a dengan lembut sementara Joon-a tersenyum, tindakan mereka itu cukup banyak menyita perhatian. Sejak kapan Lee Joon-a jadi centil seperti ini? Tidakkah dia tahu seberapa besar efek dari sekecil saja responnya untuk para lelaki? Kyuhyun benar- benar kewalahan menangani para pria yang sangat tertarik bahkan terang- terangan pada istrinya! Sekarang saja, Choi Siwon terlihat seperti anak kecil tolol yang sedang melihat Santa Claus!

Sepertinya wine ini benar- benar ampuh karena sekarang seluruh tubuhnya seperti dibakar api!

Kyuhyun meneguk sisa wine dalam gelasnya dengan penuh emosi dan berencana menghampiri mereka ketika atmosfer dalam ruangan tiba- tiba berubah drastis. Keriuhan dan bunyi denting itu digantikan dengan keheningan ketika mata semua orang tertuju pada seorang ‘tamu’ yang baru saja memasuki ruangan melewati pintu utama.

Nyonya Choi terlihat anggun dan mengintimidasi, seperti biasa. Kyuhyun tidak terlalu mengenali beliau; sepertinya mereka tidak berada di kelompok yang sama dengan ibunya. Tatapan semua orang memang mengarah padanya tapi fokus perhatian Nyonya Choi hanya tertuju pada putranya dan Lee Joon-a, yang sekarang tampak seperti sedang melihat seorang hantu. Well, perbedaannya memang tidak terlalu jauh.

Kyuhyun menggenggam gelasnya dengan sangat erat. Sial. Dia sangat ingin pergi menghampiri mereka dan menyelamatkan Lee Joon-a dari situasi ini—tapi sesuatu mengatakan padanya bahwa saat ini ada pembatas jelas yang mengelilingi Nyona Choi, putranya, dan Lee Joon-a. Terlebih lagi dari senyum Nyonya Choi yang khas—anggun tapi sarat dengan pesan tersembunyi.

Dia harus menyelamatkan Lee Joon-a. Tidak seharusnya istrinya terlihat di antara hubungan rumit Siwon dan ibunya yang sudah diketahui hampir semua orang. Terlebih lagi Joon-a sekarang ini jelas- jelas kelihatan tertekan dengan apapun yang dikatakan Nyonya Choi.

Siwon yang terlihat frustasi, kemudian membawa Joon-a dan ibunya menjauhi keramaian.

Kali ini Kyuhyun benar- benar harus menyelamatkan istrinya dari kecaman Nyonya Choi!

*

Lee Joon-a tidak begitu menyadari apa yang baru saja terjadi. Semuanya terasa sekejap mata—dan sekarang ini Cho Kyuhyun sedang menggiringnya melintasi koridor berdinding serba putih dengan banyak lukisan- lukisan dan ornamen mewah di setiap sisinya, menuruni tangga berbentuk spiral, menunju ke pintu belakang gedung itu, menjauhi keramaian dan semua drama di dalamnya. Joon-a membiarkan tangannya digenggam oleh Kyuhyun, bahkan selama beberapa detik menatapnya dan perasaan berkecamuk.

Mereka kemudian berhenti ketika sudah sampai di taman belakang yang sepi dan gelap; satu- satunya penerangan hanyalah dari lampu taman di tengah. Joon-a bisa mendengar bunyi tawa dan music klasik yang mengalun dari kejauhan, membuatnya semakin sadar betapa membosankannya pesta itu.

Kyuhyun melepaskan pegangan tangannya dan sekejap perasaan berkecamuk itu hilang; digantikan perasaan hampa dan menyedihkan. Ini sangat berbahaya; bagaimana bisa sedikit sentuhan saja dari Cho Kyuhyun bisa mempengaruhi seluruh sistem di tubuh Joon-a?

Cho Kyuhyun membelakangi Lee Joon-a; kedua tangan di pinggangnya, dan Lee Joon-a bisa melihat Kyuhyun menghembuskan nafas berat. Apa dia marah pada Joon-a karena baru saja melibatkan dirinya dengan Siwon dan ibunya? Ataukah dia marah pada Nyonya Choi karena perkataannya pada Joon-a?

Oh, dia berharap keduanya.

Beberapa menit berlalu dan Joon-a hanya memperhatikan punggung bidang Kyuhyun yang sekarang bernapas dengan tenang dan teratur.

“Kau… menguping ya?” hanya itu yang bisa Joon-a tanyakan.

Kyuhyun berbalik dan menatap istrinya dengan kening mengkerut.

“Jangan memikirkan kata- katanya, sejak dulu semua orang tahu bahwa mulut Nyonya Choi tidak semewah kehidupannya.” Kata Joon-a dingin.

Kyuhyun mendengus. “Kata- katanya memang sedikit menjengkelkan, tapi ada yang lebih menjengkelkan lagi.”

“Apa?”

“Karena dia mengajakmu bicara.” Kata Kyuhyun gusar. “Dia pikir dia siapa seenaknya berkata seperti itu padamu? Memangnya dia siapanya kau hingga dia harus meremehkanmu seperti tadi? Memangnya anaknya si Barbie-Ken itu sudah sehebat apa—“ Kyuhyun tiba- tiba menutup mata dan menggigit bibirnya sekuat tenaga, berusaha untuk menahan dirinya agar tidak berbicara lebih kasar lagi, menarik nafas dalam- dalam dan menghembuskannya.

“Semua ibu akan seperti itu bila berhubungan dengan putranya—“

“Tapi tetap saja—memangnya apa kekuranganmu? Kau bahkan tidak bisa ditandingi putri konglomerat manapun yang akan dia sodorkan ke anaknya—“ Kyuhyun kemudian sekali lagi tersadar dan menggigit bibirnya. Kali ini karena sudah keceplosan. Kyuhyun mengalihkan tatapannya karena tidak ingin melihat ekspresi di wajah cantik istrinya, lalu menghela nafas. “Tidak, maksudku—“

“Aku tahu,” Joon-a berusaha untuk terlihat tenang dan tak perduli, meskipun sekarang ini jutaan kupu- kupu terasa terbang di perutnya, mendengar pujian yang tidak sengaja dilontarkan oleh Kyuhyun mengenai dirinya. Bukankah pujian yang tidak sengaja dilontarkan padamu adalah pujian yang paling jujur? “Lagipula kau sudah menyelamatkanku, dia tidak akan menggangguku lagi.”

“Dia akan tetap mengganggumu selama putranya terus mendekatimu.”

“Kalau begitu aku tidak punya pilihan selain menghadapinya kan?”

Kyuhyun kali ini menatap Joon-a dengan tatapan yang sulit diartikan. “M—maksudmu?”

“Siwon adalah seorang teman yang baik—lagipula toh tidak ada apa- apa di antara kami, jadi aku tidak perlu takut dengan apapun yang dituduhkan ibunya padaku kan?”

Kyuhyun mengerutkan kening. Entah mengapa tidak mengherankan mendengarkan perkataan Joon-a; dia punya pola pikir yang sangat realistis dan Kyuhyun tentu mengagumi itu; tapi kadang- kadang itulah yang membuat Kyuhyun frustasi. Seberapa pentingnyakah ‘persahabatan’-nya dengan Choi Siwon hingga dia harus rela diperlakukan seperti itu oleh Nyonya Choi?

Kyuhyun menatap istrinya selama beberapa detik—cukup untuk membuat pipi Joon-a memanas dan memerah. Untung saja penerangan di taman itu gelap dan mereka tidak begitu dekat dengan lampu.

“Kau istriku.” Kata Kyuhyun dingin, menatap Joon-a dalam- dalam. “Tidak ada satupun makhluk di dunia ini yang bisa merendahkanmu di depanku.”

Joon-a menelan ludah, berusaha menghadapi efek luar biasa dari tatapan tajam Kyuhyun dan kata- katanya.

“Kenapa? Karena aku istri Direktur Cho Corp.?”

Pertanyaan Joon-a membuat Kyuhyun tersentak—dan selama sepersekian detik Joon-a bersumpah dia melihat kilat kemarahan di mata Kyuhyun dan mulutnya nyaris membuka, melontarkan jawaban—sebelum kemudian menutupnya kembali erat- erat.

Maka alih- alih menjawab, Kyuhyun berdehem, mengalihkan tatapannya dari wajah Joon-a, membuka jubahnya lalu menyampirkannya di punggung Joon-a.

Aroma maskulin Kyuhyun yang menempel di jubah itu sekejap melemaskan sekujur tubuh Joon-a yang tegang. Rasanya hangat, sangat hangat hingga membuat hatimu bergetar dan sekejap kau merasa nyaman dan terlindungi. Joon-a menatap Kyuhyun dengan pandangan mengabur, yang kali ini tidak bersedia membalas tatapannya. Apakah pertanyaannya terlalu tajam?

“Aku antar kau pulang.”

*

Perjalanan pulang diwarnai dengan keheningan. Joon-a sempat mengira Kyuhyun akan menjelek- jelekkan Siwon atau menginterogasinya dengan berbagai macam pertanyaan tapi sedari tadi Kyuhyun hanya diam saja, menghabiskan waktunya dengan memperhatikan pemandangan di luar jendela. Joon-a melirik Kyuhyun sejenak kemudian membuang nafas pelan. Bagus, selama beberapa hari ini mereka  tidak saling menghubungi dan sekarang mereka kembali lagi terlibat drama.

Apa Cho Kyuhyun masih marah padanya?

Seharusnya Joon-a senang; kesalahpahaman ini bisa membuat Kyuhyun menjauhinya dan hidup Joon-a akan kembali tenang… tapi… kenapa dia tidak ingin Kyuhyun salah paham? Kenapa dia ingin sekali menjelaskan hubungannya dengan Siwon hanya sekedar pertemanan?

Apa yang sebenarnya dia harapkan?

Dan ngomong- ngomong, kenapa manusia brengsek ini tidak menghubunginya selama beberapa hari? Apa dia sedang bersenang- senang dengan gadis lain dan akhirnya melupakannya? Kalau begitu kenapa sekarang dia malah muncul dan bertindak seperti pahlawan?

Joon-a menghembuskan nafas keras dan sebal, tiba- tiba merasakan darahnya mendidih.

“Kau baik- baik saja?”

“Hng?—“ Joon-a bergidik dan menatap Kyuhyun, yang sepertinya salah mengartikan sikap Joon-a.

“Kau bilang kau tidak perduli dengan Nyonya Choi. Kau masih kelihatan kesal?”

Joon-a menghela nafas. Manusia memang tidak sempurna; Kyuhyun sangat jenius soal pekerjaan tapi dia lebih seringnya seperti orang idiot.

“Tidak.”

“Kalau begitu apa yang mengganggumu?”

Kau!

“Tidak ada—“ kata Joon-a dengan nada sedikit meninggi, tidak bisa menyembunyikan rasa kesalnya.

“Kalau begitu kenapa suaramu seperti—“

“Aku bilang tidak ada!” protes Joon-a frustasi, sengaja meninggikan suaranya kea rah Kyuhyun, yang selama sejenak terperangah—kemudian mendengus sinis. Kyuhyun mengalihkan tatapannya di luar lagi dengan tatapan tajam sambil menyandarkan sikunya di jendela dan mencubit bibir bawahnya. Jangan mengira dia sendiri tidak kesal melihat istrinya saling menggoda dengan si Barbie-Ken Choi Siwon!

“Gadis aneh,”

“Apa?”

“Oh, kau mendengar? Padahal aku hanya berbisik,” kata Kyuhyun dengan wajah pura- pura polos, malah membuat amarah Joon-a meningkat.

Joon-a menghela nafas keras, mengeratkan jubah di punggungnya dengan kasar, kemudian tersadar bahwa itu adalah jubah Kyuhyun dan dia terlalu ‘nyaman’ memakainya dari tadi.

“Yah. Jubahmu.” Kata Joon-a dingin, melepaskan jubah itu (sesungguhnya dengan berat hati) lalu meletakkannya di antara mereka. “Terima kasih.”

“Sip.” Kata Kyuhyun dingin, mengambil jubah itu dan meletakkannya di pangkuannya. Joon-a benar- benar ingin menjambak rambut Kyuhyun. Dasar manusia tidak peka! Seharusnya dia menolak dan bersikeras agar Joon-a memakainya kembali!

“Dasar brengsek.” Gumam Joon-a sambil memperhatikan deretan pohon di luar sana dengan tatapan merana, menahan dadanya yang terasa berat.

“Oh? Kau mengatakan sesuatu?” tanya Kyuhyun polos.

“Kau brengsek.” Joon-a menginformasikan tanpa ragu- ragu.

“Benarkah?” Kyuhyun malah terlihat girang, seolah Joon-a baru saja memberikan gagasan yang bagus padanya. “Kalau begitu aku brengsek dan kau aneh, tidakkah kau pikir karena itu kita serasi?”

“APA??”

Tiba- tiba mobil berhenti dan sebelum Joon-a sempat mengatakan apapun pintu mobil terbuka; Kyuhyun tersenyum lebar seperti anak kecil pada Joon-a lalu keluar dari mobil; mengintip sebentar dari jendela yang setengah terbuka.

“Asisten Choi akan mengantarmu pulang karena suamimu yang ‘brengsek’ ini ada rapat penting sampai larut malam. Sampai jumpa istriku.” Kyuhyun melambaikan tangan, masih memasang tampang pura- pura tak berdosanya yang jelas- jelas ingin membuat Joon-a naik darah, kemudian berbalik dan berjalan menuju ke pintu depan sebuah gedung sambil memakai jubahnya dengan gaya yang—sesungguhnya tidak ingin Joon-a akui tapi dia harus mengakuinya—sangat keren, sementara beberapa orang berjalan mengikutinya dari belakang.

“YAH!” teriak Joon-a tapi jendela sudah tertutup dan mobil itu kembali berjalan, meninggalkan gedung. Joon-a membuang nafas panjang dengan gusar; kedua tangannya terlipat di depan dadanya. Entah setan apa yang membuat Joon-a berpikir bahwa Kyuhyun setidaknya telah menjadi sedikit dewasa—nyatanya dia tidak berubah sama sekali!

“Youngho—ssi, kenapa kau bisa tahan hidup bersamanya selama ini?” tanya Joon-a heran pada Asisten Choi yang sejak tadi tidak mengeluarkan suara apapun dan menjadi penonton gembira dari pertengkaran atasannya dan istrinya.

Asisten Choi tertawa kecil. “Sudah lama tidak berjumpa dengan Anda, Nyonya Muda Cho.”

Joon-a sedikit bergidik mendengar panggilan Asisten Choi; sudah sangat lama sejak terakhir dia dipanggil dengan ‘Nyonya Cho’. “Aku juga. Bagaimana kabarmu, Youngho—ssi?” tanya Joon-a, merasa sedikit tenang sekarang.

“Aku selalu baik,” kata Asisten Choi lagi. “Sangat senang melihat Anda sehat- sehat saja.”

Joon-a menghela nafas.

“Tolong maafkan kelancanganku tapi, ini pertama kalinya selama dua tahun aku melihat Tuan Cho bergurau.”

Joon-a terdiam, menatap bayangan Asisten Choi dari kaca depan.

“M—maksudmu?”

Asisten Choi tersenyum hangat. “Selama dua tahun ini Tuan Cho jarang sekali bicara apalagi bergurau dengan kami dan keluarganya. Ketua Cho dan Nyonya Cho sangat frustasi dengan keadaan mental Tuan Cho. Beliau lebih suka menghabiskan waktunya di ruang kerjanya dan keluar besok harinya; bahkan kadang- kadang beliau tidak makan.”

“…”

Sepertinya Asisten Choi mengartikan bungkamnya Joon-a sebagai izin untuk melanjutkan penjelasannya.

“Kadang- kadang dia akan mabuk berat dan marah- marah tanpa alasan—kemudian dia akan memecahkan gelas dan barang berharga lain ke dinding—menakuti kami semua. Tapi kemudian dia akan kembali tenang setelah melihat foto Anda—“ tiba- tiba Asisten Choi terdiam, sadar bahwa dia telah sampai di ‘bagian’ yang tidak seharusnya dia beritahukan, “maaf.”

Joon-a tidak bergeming, menatap hampa kursi di depannya. Asisten Choi segera mengganti topik dan bertanya tentang sekolah desain yang diambil Joon-a tapi apapun yang dia katakan sekarang ini terdengar kabur di telinga Joon-a. Kedua tangan Joon-a meremas lututnya dengan sedikit erat, berusaha menghentikan jari- jarinya yang bergetar. Perasaannya kembali berkecamuk dan dadanya berdebar kencang hingga rasanya jantungnya ingin melompat dari tempatnya.

Tapi di saat yang sama… rasanya menyakitkan. Tidak sulit membayangkan Cho Kyuhyun yang duduk di sofa kulitnya yang besar, kilatan api dari perapian mewah itu terbayang di manik mata Kyuhyun yang hampa, sementara tangannya menggenggam gelas kaca berisikan cairan merah pekat, meneguknya dan melemparnya ke dinding.

Tapi mengapa?… mengapa dia membuat dirinya sendiri menderita?

Apakah…

Benarkah?

“Kita sudah sampai, Nyonya.”

Joon-a bergidik; menoleh keluar dan melihat gedung apartemennya yang hanya memiliki dua lantai; beranda depan mereka dihiasi dengan berbagai pot berisi beragam jenis tanaman. Hampir semua lampu teras menyala, menandakan penghuninya sudah pulang. Sedari tadi Joon-a sudah bermimpi untuk pulang dan melempar dirinya ke tempat tidur karena dia merasa sangat lelah.

Tapi sekarang, dia merasa bingung dengan keinginannya.

Joon-a menghela nafas dan kembali tersadar. Asisten Choi sedari tadi hanya diam; sepertinya berpendapat bahwa lebih baik untuk memberikan waktu dan keheningan pada atasannya untuk berfikir. Sebaiknya begitu, batin Asisten Choi, melirik atasannya dari kaca depan, karena dua tahun benar- benar waktu yang sangat lama yang telah Cho Kyuhyun berikan pada istrinya.

“Terima kasih, Youngho—ssi,” kata Joon-a, mengelap sesuatu dari pipinya, “aku pergi.” Joon-a bergegas menarik pintu mobil dan keluar.

*

“Aku ingin membuatnya berkelas tapi juga rendah hati, elegan tapi di saat yang sama liar—seolah tidak bisa dibatasi dengan peraturan, kau tahu?” Joon-a menjelaskan dengan serius, matanya terpacau pada deretan manekin dengan berbagai jenis gaun di koridor panjang berdinding suram; setiap manekin disinari dengan lampu di atasnya agar pengunjung bisa melihat dan menilai detil dari gaun yang dipakai manekin tersebut. Joon-a sudah beberapa kali mondar- mandir di depan manekin yang memakai gaun mereka; memastikan bahwa tidak ada sedikitpun kecacatan di gaun tersebut—sayang sekali dia tidak bisa menyentuhnya karena setiap manekin ‘terkurung’ di dalam balok kaca.

“Ya, ya,” gumam Margoux di sebelahnya, “sepertinya kau sedang menggambarkan dirimu sendiri, kan? Kenapa kita tidak sekalian mendesain pakaian dalam juga—siapa tau aku bisa menggambarkan diriku sendiri di dalamnya.”

Joon-a menghela nafas ketika mendengar kesinisan dalam suara Margoux yang tidak repot- repot dia sembunyikan, kemudian berhenti.

“Ayolah, Margoux, kau masih marah padaku?”

“Tentu saja tidak,” kata Margoux lagi, berhenti dan berbalik padanya. “Kenapa aku harus marah atas masalah sepele seperti sahabatku yang tidak pernah menceritakan padaku bahwa dia sudah menikah?”

“…”

“Oh, dan kau juga meninggalkanku di acara amal tadi malam. Aku harus dua kali naik bus agar sampai di rumah. Terima kasih.”

Joon-a terdiam sejenak. Tidak tahu harus berkata apa. Sejam yang lalu dia telah mengakui semuanya pada Margoux. Dia memang pantas disalahkan; Margoux satu- satunya sahabat yang dia miliki di sini, orang pertama yang membantunya ketika dia baru sampai di Prancis dan kebingungan. Margoux juga menceritakan dirinya dengan lengkap dan jujur.

“Kau tahu apa yang membuatku paling marah?” Margoux berjalan mendekatinya, jelas kelihatan terluka. “Aku tidak pernah perduli pada masa lalumu, Lee Joon-a, menurutku kita bahkan lebih pantas dibilang saudara daripada sahabat. Tapi kau, sama seperti sebelumnya, tidak pernah merasa bahwa aku pantas menerima sedikit saja kepercayaanmu. Bahkan, kau menerapkan itu pada semua orang.”

Joon-a menelan ludah; lehernya serasa tercekat.

Hening sejenak; jelas Margoux menanti penjelasan lebih dari Joon-a tapi melihat sahabatnya itu hanya diam saja, Margoux mendengus kemudian berbalik pergi.

“Karena aku membenci pernikahan itu.”

Margoux berhenti, perlahan berbalik dan menghadapi Joon-a yang sekarang menatap lantai di bawahnya, jelas berusaha menahan air matanya. Margoux terperangah karena ini pertama kalinya dia melihat kepedihan di wajah Joon-a yang tak pernah dia lihat selama dua tahun menjadi sahabatnya.

“Pernikahan itu membuatku muak; aku harus menjadi orang yang tidak aku inginkan. Aku juga harus selalu berpura- pura; setiap hari rasanya seperti aku berperang dengan semua orang dan aku harus selalu terlihat kuat padahal rasanya aku ingin bunuh diri. Aku bahkan kehilangan—“ Joon-a tercekat, tidak sanggup melanjutkan perkataannya, karena itu hanya membuatnya teringat akan masa- masa ‘kelam’ yang ingin dia kubur. Joon-a menarik napas panjang, berusaha mengontrol emosinya, mengusap air mata di pipinya. “Aku ingin jadi diriku sendiri—karena itu aku tidak memberitahukannya padamu. Karena aku ingin membuka lembaran baru dan menjadi Lee Joon-a yang sesungguhnya; aku ingin bebas dari masa laluku.”

Margoux tercengang; selama beberapa detik hanya mengerjap- ngerjapkan matanya, sama sekali tidak menyangka dengan apa yang baru saja didengarnya. Lee Joon-a yang sangat cantik, Lee Joon-a yang sangat berbakat, Lee Joon-a yang kuat dan mandiri, Lee Joon-a yang selalu menikmati apapun yang dijalaninya dan bisa mengendalikan apapun yang dia mau. Ternyata Joon-a menyimpan trauma masa lalu yang sangat kelam dan menyedihkan.

Seharusnya Margoux percaya padanya dan membantunya untuk bangkit kembali.

Margoux menghela nafas. “Aku… “ dia juga merasa hatinya terluka mendengar penderitaan sahabatnya. “Aku sungguh- sungguh minta maaf Lee Joon-a.”

Joon-a tidak menjawab, hanya menatap hampa lantai marmer di bawahnya. Sesungguhnya, mengatakan semua ini membuatnya merasa sedikit lega.

“Tapi… kau tidak menginginkan pernikahan itu, bagaimana dengan… suamimu?” tanya Margoux hati- hati, sesaat mempertimbangkan apakah dia bisa bertanya tapi dia memutuskan untuk menghadapi resikonya. “Apakah kau… juga membencinya?”

Joon-a terdiam, membiarkan air mata mengalir membasahi pipinya. Margoux tidak perlu mendengar jawaban Joon-a, tatapan matanya yang terlihat sangat menderita sudah menjelaskan semuanya.

“Lee Joon-a, kau juga berhak bahagia. Kau tahu? Setelah semua penderitaan yang kau lalui,” Margoux berjalan menghampirinya, kemudian memeluknya erat. Mereka jarang berpelukan, dan sesungguhnya keduanya menganggap itu sedikit menggelikan. Tapi terkadang seorang Lee Joon-a sangat perlu pelukan, atas semua yang telah dia alami. Dia membutuhkan seseorang untuk mendukungnya dan memeluknya.

“Bila kau menginginkan pria itu,” bisik Margoux, “bila hanya dia yang bisa membuatmu bahagia, biarkan dia mengetahuinya. Sama seperti kita, mereka juga membutuhkan kepastian.”

Joon-a perlahan melepaskan pelukannya dan menatap Margoux dalam- dalam.

“Tapi—aku tidak pantas untuknya. Dia adalah pria yang sangat baik dan tulus, dia pantas mendapatkan seorang gadis yang baik dan lembut, yang tidak akan menyakitinya—“ sangat menyebalkan ketika dia menjelaskan semua ini dan malah bayangan Hanna yang muncul di pikirannya. “Seorang gadis yang mencintainya sepenuh hati,”

“Dan siapa lagi kalau bukan kau?”

Joon-a tertegun,

“Kalau begitu jawab aku, Lee Joon-a. Apakah kau bisa membayangkan orang lain yang akan melakukannya lebih baik daripada kau?”

“…” Tidak. Bahkan Hanna sekalipun. Memang banyak gadis yang tergila- gila pada Kyuhyun. Pada wajahnya yang tampan, sifatnya yang dingin dan mengintimidasi, latar belakang keluarganya yang hebat, dan harta yang dia miliki. Tapi hanya Lee Joon-a yang mencintainya tanpa melihat semua itu, hanya Lee Joon-a yang membutuhkan Kyuhyun seorang, tanpa embel- embel apapun. Hanya Joon-a yang bisa terganggu sistem di tubuhnya setiap Kyuhnu menyentuhnya, atau bahkan hanya sekedar menatapnya.

Margoux mendorong pundak Joon-a. “Sudahlah, jangan berpura- pura merendahkan dirimu seperti itu. Kita berdua tahu benar kau adalah gadis yang baru saja kau gambarkan padaku.”

Joon-a mendengus kecil dan menunduk.

“Lee Joon-a. Kau tahu sendiri betapa menderitanya berpura- pura, lalu kenapa kau mau melakukannya lagi sekarang?”

Ya. Margoux mungkin benar.

Berpura- puralah yang membuatnya menderita selama ini.

*

Jam di dinding menunjukkan pukul 7 malam ketika Lee Joon-a berjalan keluar dari kamar mandi; mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk dan hanya menggunakan kaos longgar putih yang nyaman dengan celana short hitam. Dia tidak pernah merasa selelah ini selama beberapa minggu terakhir dan mengingat begitu banyak kejadian yang terjadi, Joon-a baru saja menyadari bahwa waktu santainya cukup banyak tersita.

Setelah mengeringkan rambutnya Joon-a berjalan ke dapur dan membuka lemari dapur, menemukan beberapa makanan cepat saji yang sudah lama disimpannya. Dia sedang tidak bertenaga untuk berjalan keluar mencari makanan ‘bergizi’. Beberapa menit kemudian Joon-a pergi ke meja kerjanya sambil membawa mangkok sterofom mi ayam saos jamur yang sudah dimatangkan dengan air mendidih, meletakkan mangkok itu di meja lalu duduk dan membuka map berisi berkas- berkas desainnya.

Besok mereka akan mengumumkan pemenang kontes.

Joon-a sendiri tidak mengerti mengapa dia menanggapinya dengan begitu tenang; Margoux pernah bilang jika dia tidak mengenal Joon-a dengan baik, maka dia akan mengira Joon-a seperti tokoh antagonis yang kejam di sebuah film. Hanya saja, Joon-a tidak ingin terpengaruh dengan julukan ‘pemenang’. Baginya karya mereka dan disukai banyak orang saja sudah cukup. Dia sudah sangat puas dengan apa yang dicapainya selama ini.

Joon-a menyalakan lampu kerjanya dan menyadari sesuatu—tepatnya—seseorang, yang sangat familiar, sedang bersandar di samping pintu mobil hitam, di bawah lampu jalan di seberang gedung apartemennya.

Cho Kyuhyun memakai kemeja putih dengan kerah yang tampak berantakan, kedua lengan bajunya digulung asal dan bagian bawah bajunya dikeluarkan dari celananya.

Joon-a merasakan jantungnya berdebar kencang dan pipinya memerah. Apa yang Kyuhyun lakukan di situ?

Kyuhyun sepertinya tidak melakukan apapun, hanya menatap hampa rerumputan di taman apartemen Joon-a yang gelap, tangan kanannya bergerak memegang sesuatu kea rah wajahnya dan Joon-a ternganga ketika menyadari bahwa Cho Kyuhyun sedang merokok.

Cho Kyuhyun tidak pernah merokok. Dia benci asap rokok.

Joon-a mengerutkan kening—antara heran dan terkejut. Sejak kapan seorang Cho Kyuhyun merokok?

Tanpa pikir panjang Joon-a berlari ke arah kamarnya, menyambar celana piyama dan kardigan hitam, memakainya dan berlari ke luar apartemennya, membiarkan mi ayam saos jamur dalam mangkok di atas meja kerjanya bengkak.

Cho Kyuhyun masih di posisi yang sama ketika Joon-a keluar dari gedung; dan asap dari rokoknya mengepul dan terlihat jelas. Joon-a berjalan menghampirinya dengan ekspresi kebingungan. Apa yang terjadi pada Cho Kyuhyun? Dan yang paling penting, mengapa dia melamun di depan gedung apartemen Joon-a? Kenapa dia tidak langsung menghubungi Joon-a?

“Cho Kyuhyun—apa yang kau lakukan?” tanya Joon-a, tidak repot- repot menyembunyikan kepanikan di suaranya.

Kyuhyun sepertinya tidak terkejut dengan kehadiran Joon-a, tapi juga tidak mengindahkannya. Joon-a mencoba mencium aroma alkohol tapi Kyuhyun sedang sepenuhnya sadar. Perlahan Kyuhyun mengangkat kepalanya dan membalas tatapan Joon-a.

Sejenak Lee Joon-a mengira dia sedang berkhayal ketika melihat kilat kesedihan dan kepedihan di mata Kyuhyun yang memerah dan berkaca- kaca. Joon-a tertegun—hening selama beberapa detik dan sebelum Joon-a membuka mulutnya Kyuhyun mendengus dan mengusap kedua matanya, mencegah jangan sampai ada setetes air matapun yang jatuh dan mempermalukan dirinya.

“A—apa yang terjadi?” tanya Joon-a hati- hati; tidak tahu apa yang harus dia katakana atau lakukan. Cho Kyuhyun terlihat sangat sedih, menderita, dan rapuh. Apa yang terjadi? Dia terlihat baik- baik saja kemarin. Tiba- tiba muncul dorongan yang sangat kuat untuk memeluk tubuh besarnya dan menenangkannya tapi untuk sesuatu hal Lee Joon-a tahu dia tidak berhak melakukannya.

Maka dia hanya membeku di tempatnya, memperhatikan gerak- gerik Kyuhyun dengan kebingungan.

“Tidak.” Jawab Kyuhyun dingin, menyesap rokoknya sekali lagi dan menghembuskan asap sebelum kemudian membuangnya ke tanah dan menginjaknya. Joon-a menatap puntung rokok di tanah itu lalu menatap Kyuhyun lagi. Pikirannya berkecamuk. “Apa kau sudah makan?”

Joon-a mengangkat keningnya. Baiklah—Cho Kyuhyun berdiri melongo di depan apartemennya sambil merokok kemudian bertanya kalau dia sudah makan.

“B—belum” jawab Joon-a polos, masih berhati- hati sambil mengawasi gerak- gerik Kyuhyun.

Well,” Kyuhyun menggaruk pelipisnya sejenak, “aku juga—apa kita bisa makan bersama?”

Joon-a mengerutkan keningnya, masih tidak yakin dengan apapun tindakan Kyuhyun. Aroma rokok tercium dan dia sangat membencinya.

“Ayolah—“ kata Kyuhyun, menyalahartikan diamnya Joon-a. “Aku berjanji tidak akan mengajakmu bertengkar.”

Detik kemudian Joon-a tertawa geli, tidak bisa menahannya. Kenapa perkataan Kyuhyun terkesan cukup mengiba? Cho Kyuhyun di satu sisi tak bisa menahan senyumnya, memperhatikan Lee Joon-a tertawa di depannya. Selama sesaat semua terasa normal dan kemudian itu membuat Kyuhyun sedih. Dulu dia diberikan banyak sekali waktu untuk membuat Lee Joon-a bahagia dan tertawa seperti ini tapi dia malah membuangnya dan menyia- nyiakan Joon-a.

Mungkin ini memang hukuman Tuhan. Dan hukuman ini sangat kejam.

“Entahlah… apa aku bisa mempercayaimu?” tanya Joon-a geli, pura- pura berpikir serius.

“Mungkin ini terdengar tidak mungkin tapi percayalah padaku.”

Tawa Joon-a perlahan pudar, digantikan dengan senyum lembut. “Baiklah, tunggu di sini—aku ganti baju dulu.”

*

“Aku kenyang,” Joon-a mendesah panjang, menepuk- nepuk perutnya. Keduanya menyusuri trotoar yang cukup ramai dengan pejalan kaki. Joon-a bisa merasakan celana jinsnya terasa ketat dan dia bahkan sekarang sedang menggenggam cup berisi es krim!

“Bibi penjual tadi kelihatan sangat terpukau dengan cara kau makan,”

Joon-a tertawa kecil. Sesungguhnya dia sendiri tidak tahu dengan nafsu makannya yang tiba- tiba sangat besar malam ini—beberapa hari terakhir dia bahkan nyaris menyentuh makanannya.

“Nafsu makanmu selalu meningkat pesat setiap kau habis bekerja keras,” ujar Kyuhyun dingin, seolah bisa mendengar isi pikiran Joon-a, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jubahnya. Lee Joon-a tidak berkomentar; sedikit mengejutkan kalau Cho Kyuhyun mengingat kebiasaan yang bahkan Joon-a sendiri lupa.

“Ngomong- ngomong bagaimana dengan pameranmu tadi?” Kyuhyun tidak kedengaran begitu tertarik, malah Joon-a bisa merasakan nada getir yang berusaha disembunyikannya.

“Lumayan,” jawab Joon-a, memasukkan sesendok es krim ke dalam mulutnya—hampir lupa bahwa dia merasa sedikit kesal ‘suami’-nya tidak datang mengunjunginya atau sekedar memberikan selamat. Cho Kyuhyun memang tidak gemar mendatangi pameran seperti itu, dan Lee Joon-a tidak masuk dalam pengecualian.

Dan tiba- tiba dia merasa bersyukur karena Kyuhyun tidak datang, karena tadi Joon-a benar- benar ‘hancur’ dan pertama kali seumur hidupnya dia mengatakan isi pikiran dan hatinya pada seseorang. Perasaan lega itu perlahan digantikan dengan rasa bersalah. Bukan salah Cho Kyuhyun kalau pernikahan mereka tidak berhasil. Mereka berdua adalah korban.

Hening sejenak; Joon-a membiarkan dirinya tenggelam dalam pikiranya sambil terus menyendoki es krim ke dalam mulut.

Kalau dipikir- pikir, Joon-a dan Kyuhyun sama- sama tidak suka banyak bicara, bahkan kalau mereka sedang bersama, sejak kecil pun seperti itu. Joon-a akan sibuk menggambar atau mengkhayal, sedangkan Kyuhyun berbicara sendiri dengan robotnya atau bermain bola di halaman. Mereka juga lebih suka menggambarkan keseharian mereka dengan beberapa kalimat singkat ketimbang menceritakannya dengan penuh semangat. Tapi mereka merasa sangat nyaman bila berada di samping satu sama lain, dan pada akhirnya mereka akan saling mencari.

Joon-a melirik Kyuhyun yang menatap jalanan di depannya dengan ekspresi hampa. Seolah- olah dia tidak perduli jalanan ini akan membawanya ke mana.

“Kau pasti ingin bertanya kalau aku baik- baik saja.”

Joon-a bergidik dan memalingkan wajahnya. Ya, itulah yang mengganggu pikirannya sedari tadi.

“Dan kau ingin tahu sejak kapan aku merokok,”

“…”

“Dan bagaimana bisa aku terlihat lebih tampan saat sedang merokok—“

“Yah!” kelimat terakhir sesungguhnya tidak sepenuhnya salah tapi tetap saja Joon-a tidak setuju kalau Kyuhyun merokok! “salah satu penyebab penyakit jantung ayahku yang membuatnya sampai meninggal adalah karena kebiasaannya merokok, kau tahu kan?”

Kyuhyun berhenti berjalan, membiarkan Joon-a beberapa langkah di depannya. Joon-a berhenti dan berbalik menatap Kyuhyun. “Apa?”

“Aku tidak akan meninggalkanmu.”

Lee Joon-a tertegun, dadanya berdebar cepat tapi di saat yang sama dia merasa sesak ketika meliat kesungguhan di wajah Kyuhyun dan tatapannya yang tajam.

Joon-a menyunggingkan senyum lembut. “Dia juga sering mengatakannya dulu padaku, Cho Kyuhyun. Tapi yang aku pelajari adalah,” Joon-a berjalan mendekati Kyuhyun, “adalah kita tidak pernah tahu kapan kita akan meninggalkan orang yang kita sayangi.”

Kita tidak pernah meninggalkan mereka.” Kata Kyuhyun lagi, “meskipun tubuh kita berada di tempat berbeda. Setidaknya begitulah yang aku pikirkan.”

Joon-a mengerutkan kening, melihat kesungguhan dan kepolosan di mata Kyuhyun; sesaat dia seperti melihat kembali Cho Kyuhyun kecil yang selalu menyemangatinya setiap dia mengalami masalah dengan ibunya.

“Kalau begitu, apa yang kau pikirkan selama empat belas tahun itu?” tanya Joon-a tanpa sadar, “apa waktu itu kau tidak menyayangiku?”

Kyuhyun membeku, terhenyak dengan pertanyaan Joon-a, dan melihat matanya yang berkaca- kaca. DI tengah keramaian itu suasana di sekeliling mereka terasa sangat hening. Lee Joon-a tidak kelihatan terluka; sebaliknya dia terlihat bingung… dan penasaran. Mengapa Cho Kyuhyun yang berjanji akan menjemputnya malah tidak menghiraukannya selama belasan tahun dan malah dekat dengan gadis lain sementara Lee Joon-a menunggunya dengan sabar dan penuh harap.

“Aku menyayangimu. Selalu.” Bisik Kyuhyun. “Bahkan di saat kau muncul di pikiranku, atau tidak. Di saat aku di keramaian bersama teman- temanku, atau di saat kesepian. Bahkan di saat aku sedang bersama dengan gadis lain—“ Kyuhyun menutup matanya, dia tidak ingin melanjutkannya. Membayangkan bahwa dia pernah menyalahartikan perasaan kagumnya pada seseorang membuatnya jijik dan marah pada dirinya sendiri. “Aku selalu menyayangimu.”

Joon-a tidak berkomentar, matanya tetap terpaku di wajah Kyuhyun, antara ingin memastikan kejujuran di wajah Kyuhyun dan meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia tidak sedang bermimpi. Semua yang dikatakan Kyuhyun hanya membuat jantungnya berdegup seribu kali lebih kencang dan kupu- kupu beterbangan di dalam perutnya. Tapi perasaan tidak puas itu tetap ada—dan Joon-a benci mengakuinya tapi pengakuan ini tidak cukup untuknya.

“Aku memang melakukan banyak kesalahan dan kebodohan tapi—“ Kyuhyun tersenyum sedih, “Aku selalu menyayangimu. Percayalah, Lee Joon-a, dari begitu banyak kebohongan di sekitarmu, aku menyayangimu.

Joon-a menelan ludah. “Aku percaya. Kau mungkin berubah, kau mungkin tidak seramah dulu, kehidupan kita telah banyak berubah dan pernikahan itu membuat perubahan itu terasa semakin nyata tapi aku bisa merasakannya; kau tetap Cho Kyuhyun yang aku kenal, Cho Kyuhyun yang tidak pintar menunjukkan perasaannya dan sebagai gantinya kau menggodaku, Cho Kyuhyun yang selalu ada setiap aku membutuhkan, dan Cho Kyuhyun yang tidak bisa mengatakan tidak pada permintaanku,” Joon-a tertawa kecil, “tapi di saat yang sama, terkadang—aku membayangkan terlahir bukan sebagai putri ibuku; kadang aku berharap aku hanyalah gadis sederhana yang bertemu denganmu dalam kereta api bawah tanah, atau di perpustakaan. Aku harap keluargaku hanya keluarga biasa yang tidak punya dendam apapun kepada siapapun. Aku harap ayahku bukan seorang pengusaha tapi seorang dokter, atau tukang kayu, atau semacamnya. Dengan begitu—“ Joon-a terisak, “apakah hidup ini akan lebih mudah untuk kita?”

“Lee Joon-a,”

“Aku takut ibuku kembali dan melanjutkan semua ini. Aku tidak bisa membayangkan wajah orangtuamu saat melihatku, dan aku takut pernikahan kita selamanya akan seperti itu. Kau dan aku akan berusaha menyembunyikan dan menutupi semua masalah itu, lama kelamaan kita lelah, dan pada akhirnya kita akan menyakiti satu sama lain.” Joon-a menarik nafas, membiarkan dua bulir air mata jatuh membasahi pipinya, “dan aku tahu, kita berhak mendapatkan kehidupan yang lebih pantas dari itu.”

Kening Cho Kyuhyun sedikit mengkerut ketika mendengar perkataan Joon-a. Joon-a sendiri tidak tahu apa yang merasuki pikirannya hingga bicara seperti itu. Tapi semua perasaan itu menumpuk dalam benaknya selama dua tahun terakhir dan sekarang perlahan dia mulai membebaskannya satu persatu. Kilat kesedihan terlihat di mata Kyuhyun dan Joon-a berharap dia tidak menyalahartikan semua yang Joon-a sampaikan.

Aku tahu.” Suara Kyuhyun lebih mirip seperti bisikan, “…aku mengerti.”

Joon-a mengusap kedua pipinya, berniat untuk benar- benar berhenti menangis. Beberapa hari terakhir ini dia gampang sekali mengeluarkan air mata.

“Ayo kita pulang, ini sudah larut malam.” Kata Kyuhyun lagi, mencoba terdengar lebih ceria. “Kau tidak ingin bangun kesiangan untuk pengumuman besok kan?”

*

Lee Joon-a terbangun keesokkan paginya dengan perasaan hampa. Melihat kamarnya yang sekarang sepenuhnya terang karena sinar matahari dari luar jendelanya, sepertinya dia bangun cukup kesiangan hari ini.

Joon-a menatap atap kamarnya dengan setengah melamun.

Perjalanan pulang semalam diliputi keheningan. Kyuhyun tidak mengatakan apapun tapi Joon-a bisa melihat rahang Kyuhyun yang menegang dan kerutan di wajahnya, dan itu berarti Kyuhyun sedang mempertimbangkan sesuatu yang sangat serius atau dia sedang menahan luapan emosi yang sangat besar. Dia bahkan hanya mengatakan ‘hati- hati’ dan ‘tidur yang nyenyak’ ketika Joon-a turun dari mobil.

Apakah Joon-a bicara terlalu banyak? Dia sendiri kaget dengan ‘kemampuannya’ tadi malam. Mungkin dia membuat Kyuhyun terluka, Joon-a ingin memastikan Kyuhyun baik- baik saja tapi seperti biasa perasaan gengsi menelan dirinya.

Lee Joon-a menghela nafas, mengambil ponselnya dari meja di sebelah tempat tidur—menolak harapan bahwa mungkin saja Cho Kyuhyun mencoba menghubunginya beberapa kali. Jantungnya serasa melompat ketika melihat sepuluh panggilan tidak terjawab tapi kemudian mencelos ketika melihat bahwa semua panggilan itu berasal dari Margoux. Oh iya. Hari ini adalah hari pemenang kontes itu akan diumumkan.

Joon-a memberenggut dan menarik kembali selimutnya dengan sebal, menutupi seluruh wajahnya.

“Cho Kyuhyun ini semua gara- gara kau!” erangnya.

Sekarang dia bahkan tidak merasa tertarik lagi dengan hasil dari kontes yang diikutinya!

*

Lee Joon-a duduk di meja dapur, mengoleskan selai ke roti bakarnya dengan tidak bersemangat. Jam menunjukkan pukul 12 siang dan nafsu makannya kembali nihil seperti biasa. Sedari tadi dia merasa hampa, menunggu kabar dari seseorang dan sekarang perasaan hampanya berubah menjadi perasaan sebal. Baiklah, dia tidak akan menunggu telpon dari siapa- siapa lagi—

Ponsel Joon-a tiba- tiba bergetar dan Joon-a segera menariknya dari saku celananya. Keningnya mengkerut ketika melihat pesan dari Margoux yang menyampaikan bahwa dia sudah berada di kampus dan menunggunya. Joon-a memutar bola matanya dan menjejalkan ponsel itu lagi ke dalam saku celananya dengan kasar. Dia tidak begitu perduli. Memang atau kalah Margoux pasti akan mengabarinya.

Bunyi bel mengagetkan Joon-a. Sejenak Joon-a terdiam, mengira itu adalah tukang antar susu langganannya. Joon-a melanjutkan kegiatannya mengoleskan selai ketika bel kembali berbunyi, kali ini dengan frekuensi yang cukup sering. Joon-a memiringkan kepalanya dengan bingung; siapa yang kira- kira bertamu siang- siang begini?

Joon-a melompat dari meja kursinya, meletakkan roti dan pisau selai di piring lalu berjalan kea rah pintu depan sambil menepuk kedua tangannya untuk menyingkirkan remah- remah roti.

Asisten Choi berdiri di depan pintu dengan ekspresi bersalah ketika Joon-a membuka pintu dan terkejut melihatnya.

“Y—Young-ho—ssi?”

“Maaf sekali mengganggu siang hari Anda, Nyonya Choi.” Asisten Choi tersenyum sedih,

“Tidak apa- apa,” kata Joon-a yang sesungguhnya masih bingung, “Ada yang bisa kubantu? Apa kau ingin masuk?”

“Ah, tidak—aku hanya ingin menyampaikan pesan dari Direktur Cho,” Asisten Choi mengeluarkan sebuah amplop berwarna cokelat berukuran sedang dari balik jubahnya dan menjulurkannya pada Joon-a, yang menatap amplop cokelat itu dengan heran.

Joon-a kemudian melihat ekspresi di wajah Asisten Choi dan tiba- tiba dadanya terasa dihantam palu.

“A—apa ini?” Joon-a merasakan sekujur tubuhnya membeku, dia hanya menatap Asisten Choi yang kali ini terlihat sangat terpukul. Asisten Choi kemudian tersenyum tidak berdaya. Joon-a memberanikan diri mengambil amplop cokelat itu dengan pikiran berkecamuk. Dia tidak perlu membukanya, dia tahu apa isi amplop itu.

“Direktur Cho menyuruhku memberikannya padamu nanti sore, tapi aku rasa aku harus mengantarkannya lebih cepat.”

“D—di m—mana dia?” suara Joon-a bergetar. Entah kerana marah atau kaget.

“Direktur Cho saat ini sedang dalam perjalanan ke bandara. Dia akan segera kembali ke Seoul.”

Joon-a tertegun.

“Maafkan aku, Nyonya Cho. Aku harap, kau bahagia.” Asisten Choi terlihat sangat tulus dan tegar ketika mengatakannya. Tanpa menunggu jawaban Joon-a, Asisten Choi berbalik dan pergi meninggalkannya dengan langkah gontai.

Joon-a masih tetap pada tempatnya, berusaha menarik nafas tapi dadanya terasa sangat sesak dan sesuatu seperti melilit lehernya, membuatnya semuanya sulit. Rasanya ada yang menghujam dadanya dengan pisau berkali- kali, pandangannya mengabur dan bibirnya bergetar.

Tidak kan?

Joon-a mundur selangkah, menutup pintu dengan pelan dan bersandari di balik pintu, menutup mata. Kedua tangannya masih menggenggam amplop cokelat itu, menahannya di dada. Joon-a menutup mata, membiarkan bulir- bulir air mata membasahi pipinya.

Semua ini terasa tidak nyata.

Setelah beberapa menit berusaha menenangkan dirina, Joon-a mengusap kedua pipinya—menatap amplop itu sejenak kemudian memberanikan diri membukanya.

Perutnya serasa kosong ketika melihat beberapa lembar kertas yang familiar di dalamnya—dan sebuah amplop putih kecil. Nafas Joon-a tercekat—dengan bingung, Joon-a memilih mengambil amplop putih itu dan tidak mengacuhkan surat- surat yang lain, meletakkan amplop cokelat di meja dapur, lalu membuka amplop putih itu sambil terisak dan mengeluarkan isinya.

Dear Joon-a.

Saat kau membaca ini, mungkin aku sudah dalam penerbangan pulang. Maaf aku tidak menghubungimu langsung. Saat ini mungkin kau sedang merayakan kemenanganmu dan aku tidak ingin mengganggumu—ya, aku yakin kau pasti menang, Lee Joon-a.

Lee Joon-a, aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu. Dan tidak pernah sehari pun selama dua tahun ini saat aku bangun dan tidak menyesali perbuatanku. Aku melewatkan terlalu banyak hari dan tahun saat aku bisa memintamu untuk bersamaku, memelukmu kapapun aku mau, hidup bahagia bersamamu, kita bisa memiliki anak- anak, kita bisa memiliki seorang putri dan dia pasti akan secantik dirimu. Aku bisa menggenggam tanganmu saat aku lelah, dan aku bisa melihat wajahmu setiap hari saat aku bangun pagi. Tapi aku menyia- nyiakannya.

Aku terlalu egois dan picik. Kau benar, aku memang bodoh, Lee Joon-a. Aku terlalu tenggelam dan fokus pada hal lain, tapi aku tidak melihatmu di depanku yang menderita dan membutuhkanku. Aku mengesampingkan perasaanku sendiri untuk melindungi keluargaku. Tapi kau juga keluargaku, dan orang yang paling penting dalam hidupku.

Lee Joon-a, mungkin semua akan terasa lebih mudah bila kau bukan Lee Joon-a putri dari ibumu, atau aku bukanlah Cho Kyuhyun, putra dari orangtuaku. Aku juga sering memikirkannya. Tapi tidak ada yang perlu kita sesali dari hidup kita sekarang ini. Karena apapun dirimu, kau tetap Lee Joon-a, dan itu lebih dari cukup bagiku.

Joon-a—yah, kau adalah hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidupku. Ketika aku menemukanmu yang sedang tersesat di taman bermain, ketika aku menolongmu saat kau jatuh di lapangan, setiap kau menangis marah karena aku menggodamu atau merusak mainanmu karena kau lebih memperhatikan mereka daripada aku, saat aku memelukmu semalaman dan menenangkanmu yang menangis di hari pemakaman ayahmu. Aku tahu kau adalah alasanku hidup, aku tahu hanya kau yang boleh menjadi ibu dari anak- anakku. Dan hanya kau yang kuijinkan untuk hidup denganku.

Maafkan aku, Lee Joon-a. Tapi di kehidupan lain, aku ingin kita berdua tetap terlahir kembali menjadi Cho Kyuhyun dan Lee Joon-a. Saat itu, aku akan menjemputmu dan membawamu tinggal bersamaku, aku tidak akan membiarkan ibumu menyentuhmu dan melukai perasaanmu, aku akan menepati semua janjiku, aku tidak akan membuatku merasa gelisah dengan kehadiran gadis lain, aku akan menunjukkan setiap hari bahwa aku mencintaimu, aku akan membuatmu menjadi gadis paling bahagia di dunia ini, sangat bahagia hingga kau harus memelukku setiap malam untuk memastikan apakah aku nyata atau tidak.

Lee Joon-a, sama seperti kau dan ayahmu, bagiku kau adalah matahari. Ke manapun dan apapun yang aku lakukan, hati dan pikiranku tetap mengikutimu. Tapi sekarang aku harus melepasmu—karena, aku ingin kau mencari mataharimu sendiri. Karena aku sadar; mengikatmu dengan pernikahan ini tidak akan membuatmu kembali padaku. Kau harus bahagia, di manapun, apapun yang kau lakukan, dan dengan siapapun kau berada.

Aku mencintaimu.

Cho Kyuhyun.

*

Satu hari sebelumnya.

Gedung Universitas Ecole de la Chambre Syndicale ternyata lebih modern daripada penampilan di depannya. Cho Kyuhyun berjalan menyusuri koridor panjang di lantai bawah, menikmati pemandangan dari taman di tengah gedung. Jam menunjukkan pukul 4 sore; sepertinya dia cukup terlambat. Sesungguhnya dia bisa datang lebih cepat; kalau saja Professor Alonso tidak mengulur waktu dan mau memberitahukan padanya di aula mana pameran tersebut diadakan. Sepertinya pria botak itu benar- benar tidak tahu apa- apa tentang Kyuhyun dan Joon-a!

Kyuhyun menghela nafas kemudian tersenyum menatap buket bunga yang dipegangnya. Semalam sepertinya dia berhasil membuat ‘istrinya’ marah- marah dan entah mengapa rasanya sedikit menyenangkan bahwa Joon-a masih bereaksi pada godaannya. Sekarang dia hanya ingin memastikan semuanya baik- baik saja; dan ingin memberikan selamat kepada istrinya, atau Lee Joon-a akan meledak kembali.

Kyuhyun mendaki tangga menuju aula dengan sedikit lebih cepat dan berbelok ke arah kiri, tersenyum ketika melihat punggung Lee Joon-a dan sahabatnya ketika sesuatu dalam dirinya seolah menyarankannya untuk tidak menghampiri mereka. Kyuhyun menghentikan langkahnya.

Keadaan aula saat itu kosong; Lee Joon-a dan sahabatnya yang berambut pirang itu berdiri di tengah aula, saling berhadapan. Gadis berambut pirang itu sedang memperhatikan penjelasan Joon-a dan serius sementara Lee Joon-a menangis sambil mengusap air matanya.

“Pernikahan itu membuatku muak;” ujar Joon-a dalam bahasa Inggris pada temannya itu.

Deg.

“Aku harus menjadi orang yang tidak aku inginkan. Aku juga harus selalu berpura- pura; setiap hari rasanya seperti aku berperang dengan semua orang dan aku harus selalu terlihat kuat padahal rasanya aku ingin bunuh diri.”

Kyuhyun menggenggam buket bunganya dengan sedikit lebih erat; ini dialog yang tidak dia harapkan—meskipun entah mengapa, sama sekali tidak membuatnya terkejut.

“Aku bahkan kehilangan—“ Joon-a tercekat, tidak sanggup melanjutkan perkataannya dan Kyuhyun mencelos; tangannya yang menggenggam buket bunga dengan gagah kini terkulai di sampingnya. Ya, mereka bahkan kehilangan anak mereka, dan semua itu karena tindakan Kyuhyun.

Rasanya seperti ada palu yang menghantam dadanya. Apa yang membuatnya berpikir bahwa semua ini akan baik- baik saja? Pernikahan mereka tidak pernah sekedar mendekati kata ‘baik- baik saja’. Pernikahan itu dibangun dengan kebencian dan kepura- puraan. Setiap hari mereka hanya berusaha menyakiti satu sama lain dan menyembunyikan perasaan mereka yang sebenarnya. Dan meskipun beberapa tahun telah berlalu Joon-a tidak akan pernah melupakannya.

“Aku ingin jadi diriku sendiri—karena itu aku tidak memberitahukannya padamu. Karena aku ingin membuka lembaran baru dan menjadi Lee Joon-a yang sesungguhnya; aku ingin bebas dari masa laluku.”

Seolah semua yang didengarnya belum cukup menyakitkan, Kyuhyun harus mendengar kata- kata selanjutnya. Tapi dia harus mendengarkannya. Dia harus tahu apa yang diinginkan oleh gadisnya—karena setelah bertahun- tahun hidup dalam penderitaan, Joon-a berhak mendapatkan kebahagiaan.

Hanya saja Cho Kyuhyun tidak siap bila dia harus terlepas dari bagian hidup Joon-a.

Cho Kyuhyun menarik napas panjang, berusaha menekan perasaan sakit yang amat sangat di dadanya, mengangguk tenang, kemudian membalikkan tubuhnya dan berjalan menuruni anak tangga di aula itu, tidak ingin lagi mendengarkan pembicaraan Joon-a dan sahabatnya.

*

Joon-a perlahan berlutut, menggenggam surat itu erat, wajahnya basah bersimbah air mata. Apa yang terjadi dengan dirinya? Dia tidak pernah merasa sesakit ini sebelumnya.

Cho Kyuhyun mencintainya. Sangat mencintainya.

 

Advertisements

231 thoughts on “The Flower Trilogy; Sunflower- Part 7”

  1. OMG ngga kerasa nunggu kelanjutan ini udah setahun. Makin complicated dan asdfghhklkdn 😂, harus bersabar. keep it up authornim.. di tunggu part selanjutnyaaa

  2. yahh pasti kyuhyun salah paham nih
    gk dengerin percakapan joon-a smpe selesai
    ini part tergalauu dehh..
    kpan romantis”an nya sih ini
    nunggu bngett

  3. hemm..selalu deh..meqek pas baca..hiks..dududuh..bener2 sedih bnget.kyu plis ..kamu mesti balik.dan jiyoon kejar kyu..jangan biarkan dia pergi..pliss thor..jng sampek ini sad..gak sangguo rasanya…sangat d tunggu nextnya..semangat..

  4. ya ampun jadi ngaduk2 hati banget, haruskah mereka berpisah janganlah happy ending aja kasihan mereka udah saling menderita

  5. Kyu hrusnya dger pembicraaan istrinya smpai slsai. Joon-a cpt ssul kyuhyun dong blg cinta jga sma kyuhyun. Gak rela mrka psh, ud trllu bnyk pendritaan yg mrka lalui bertaun2 lalu slng menyakiti stu sma yg lain. Pgen liat mrka bhgia berdua.

  6. Kyu kok g nunggu joon-a selesai jd salah faham kan
    Ayo jon- kejar kyu jangan sampai kalian lebih menderita lagi gara2 salah faham

  7. Joona dan kyuhyun harus kembali bersatu. Gak boleh ada sedih2 lagi. Mereka berhak bahagia dg jd satu kembali.
    Selamat y vann sukses bikin gw nangis pas bagian baca suratnya kyuhyun 😭

  8. Nyut. Nyesek 😭😭😭
    Salah paham lagi kan. Terlalu bnyk salah paham antara mrka. Joon-a ayoo kejar kyu!! Kalian salah paham astaga 😭😭😭 gk tau mau ngmong apa lagi. Sedih sangat huwaaaaaa andweeeee

  9. Omaiiiiii,, aku akan mati penasaran jika ff ini tak kunjung di post lanjutanyaaa :((((( im always waiting for ur next story thor :* hwaiting!!!

  10. Ya ampun, nyesek amat nasib joon-a sama kyuhyun. Jadi kesel sendiri sama mereka. Joon-a kenapa terlalu gengsi sih, mbok jelasin ke kyuhyun maunya itu apa, mbok kejar gitu. Kau berhak untuk bahagia, tapi kau menyia-nyiakan kesempatan itu. Apa kau memang tak ingin merasakan kebahagiaan lagi?

  11. Jujur nih ya thor, sempet nggak buka blog ini berbulan bulan nyesek dikiranya authornim nggak bakal lanjut ceritanya 😭😭.. Pas tadi malem keinget Han Saejin langsung cus buka blog ini ehh ada banyak update nya ya alloh puji syukur.. Penantian lama worth it lah…Semalaman nggak tidur sikat babat habis.. Pokoknya aku rela menunggu part part selanjutnya selama apapun asal dilanjut ya thor 😭😭😘😘 u’re my favorite !

  12. Yaampun kyu… seharusnya kamu denger percakapan joona sampai selesai 😭😭😭😭😭 kesalah pahaman selalu membuat kalian rumit 😭😭😭😭

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s