Novel

The Story of Bear Family (End-2)

Title: The Story of Bear Family (End-2)

Character:

Han Sae-jin

Cho Kyuhyun

Kris Wu

 

First of all sorry for the late update and dont worry i read all your comments.

komennya beragam dan lucu2 hehehe…

anyway, masih ada satu part lagi nanti dan setelah itu benar- benar tamat. thank you for reading guys fighting!

July 2014

 

Tidak ada yang berubah dengan kota Seoul, baik cuacanya maupun situasi kotanya. Langit mendung membentang di atas; hujan deras yang turun membuat situasi di jalanan menjadi ramai dan sedikit kacau, para pejalan kaki mempercepat langkah mereka sambil memegang payung, mobil- mobil memadati jalan dan membunyikan klakson dengan tidak sabar. Hujan memang sedikit merepotkan di hari kerja yang sibuk.

Cho Kyuhyun berdiri di depan kaca jendela yang dipenuhi rintik hujan, menatap keramaian di bawah sana dalam diam. Suara petir terdengar beberapa kali, mengagetkan semua orang di dalam gedung tapi tidak dengan Kyuhyun; menurutnya dia sudah mengalami hal yang lebih ‘ganas’ daripada sekedar petir. Keramaian jauh di sana terasa berbeda dengan situasi di tempat Kyuhyun berada yang tenang. Kyuhyun menarik nafas. Dia sudah lupa bagaimana rasanya berada di keramaian.

“Kyuhyun—ah.” Suara berat ayahnya mengagetkannya. Kyuhyun menutup tirai dan berbalik, membiarkan tatapan sedih ayahnya, melihat boneka beruang yang sedari tadi dipeluk Kyuhyun.

“Mereka sudah mengijinkan kita masuk.”

*

Kyuhyun meletakkan boneka beruang yang sedari tadi dipegangnya di sisi kiri tempat tidur sebelum kemudian duduk di kursi penjenguk. Para perawat di ruang Intensive Care Unit sempat menegur Kyuhyun tapi dia berusaha keras meyakinkan mereka bahwa dia sudah membersihkan boneka ini beberapa kali dengan cairan desinfektan agar boneka ini bersih dan ‘pantas’ untuk masuk di dalam ruangan.

Tiga hari telah berlalu. Kyuhyun bisa mengingat betapa mengerikan rasanya ketika mendengar Dokter mengatakan bahwa Sae-jin dalam keadaan kritis dan harus dirawat selama beberapa hari di ICU untuk perawatan intensif. Dan bahwa mereka harus menghadapi kemungkinan terburuk karena, Han Sae-jin mungkin akan tidak sadar dalam waktu yang cukup lama.

Kyuhyun ingat dengan aroma zat kimia dan bunyi ‘beep’ yang membuatmu ketakutan—dia pernah mengalaminya tujuh tahun yang lalu karena kecelakaan yang menimpamya. Sekarang dia harus mengalaminya lagi, dan kali ini untuk sesuatu dan lain hal, situasi di sekelilingnya membuatnya merasa lebih tenang. Karena bunyi beep dan aroma zat kimia itu menandakan bahwa Han Sae-jin masih berada di sini, bersamanya.

“Kau kelihatan lebih kurus, Han Sae-jin,” kata Kyuhyun tenang, menatap istrinya dengan serius. Wajah cantik Sae-jin terlihat lebih tirus dari sebelumnya, dan sangat pucat. Kyuhyun memegang tangan Sae-jin yang, anehnya, terasa hangat. “apa kau bermimpi indah tadi malam?”

Han Sae-jin tidak menjawab; matanya tertutup dan nafasnya teratur—seperti biasanya. Kyuhyun menatap layar di monitor, gambaran rekaman jantungnya, tanda- tanda vitalnya, semuanya stabil. Hatinya serasa dicabik- cabik setiap kali melihat istrinya tergeletak tidak sadarkan diri—dan amarahnya semakin membara ketika dia memikirkan siapa yang tega melakukan ini pada Sae-jin. Perasaannya berkecamuk dan butuh kekuatan yang cukup besar untuk menahan dirinya agar tidak pergi memburu penembak itu; bahwa keselamatan Sae-jin dan putri mereka adalah prioritas paling utama saat ini.

Tapi Cho Kyuhyun sudah lelah menangis. Matanya terasa sangat perih dan kering.

“Kau harus melihat putri kita. Wajahnya sangat mirip denganmu—seolah- olah kau membuatnya sendirian.” Ujar Kyuhyun getir. “semuanya mengatakan untung dia tidak sepertiku.”

Kyuhyun mencondongkan tubuhnya agar lebih dekat dengan Sae-jin, lalu menggenggam tangannya lebih erat sambil mengelus- elus punggung tangannya dengan lembut. Saat ini dia rela memberikan semua yang dia miliki agar dia bisa memeluk Sae-jin sekali saja. Kenapa dia tidak melakukannya lebih sering sebelumnya? Dia terlalu sering meninggalkan Sae-jin karena pekerjaan dan membiarkan istrinya kesepian di rumah. Penyesalan memang selalu datang terlambat.

“Beristirahatlah,” kata Kyuhyun lembut, “kau pasti lelah. Aku akan menjagamu sampai kau bangun. Ah—“ Kyuhyun mendekatkan kursinya lagi. “putri kita, kerjaannya tidur terus—tapi setiap kali aku datang, dia akan membuka matanya lalu menangis. Apa menurutmu dia bisa melihatku? Kata Eomma bayi yang baru lahir belum bisa melihat apa- apa.

“Mereka terus mendesakku untuk memberita putri kita nama, tapi aku tidak akan melakukannya. Aku harus menunggumu.”

Kyuhyun menutup matanya lalu menarik nafas panjang, membuka matanya kembali dan menggenggam tangan istrinya lebih erat lagi. “Aku akan menunggumu, selamanya.

*

Cho Kyuhyun perlahan membuka mata; merasakan hamparan angin sejuk yang menyapu wajahnya. Kyuhyun mengerutkan kening ketika menyadari keadaan di sekelilingnya; sepertinya dia mengenali tempat ini—dia sering menghabiskan waktunya di sini sendirian semasa kuliah, dan di tempat ini jugalah dia bertemu dengan Han Sae-jin; pertemuan yang mengubah seluruh cerita hidupnya. Dia ingat bagaimana semua terasa aneh—ketika mendengar bahwa gadis asing yang baru saja ditemuinya mengatakan bahwa dia sedang mengandung anaknya; dan lebih aneh lagi dengan fakta bahwa dia langsung saja mempercayainya tanpa merasa sedikitpun ragu—

Kyuhyun tertegun—menatap pundak seorang gadis yang tengah berdiri di pembatas, menatap langit malam. Rambut panjangnya melambai tertiup angin. Gadis itu mengenakan gaun putih sebatas lutut.

“S—Sae-jin?” Nafas Kyuhyun tercekat. “Han Sae-jin?”

Gadis itu perlahan memutar tubuhnya; wajah cantiknya menyunggingkan senyum lembut ketika menyadari kehadiran Kyuhyun.

“C—Cho Kyuhyun?”

Kyuhyun berjalan dengan cepat menghampiri Han Sae-jin, tidak percaya dengan yang dilihatnya. Han Sae-jin sekarang ini berdiri di depannya; sehat, dan tersenyum cantik padanya.

“Apa yang terjadi—apa kau baik- baik saja?” Kyuhyun masih tak percaya; matanya berkaca- kaca dan tangannya menyentuh pipi Sae-jin yang terasa dingin. Dia hanya ingin memastikan Han Sae-jin nyata. “Aku sangat merindukanmu.” Bisik Kyuhyun—menarik Sae-jin dalam pelukannya. Kulit Sae-jin terasa sangat dingin, tapi Sae-jin terasa sangat hangat saat berada dalam pelukannya—kehangatan yang sangat dia rindukan selama beberapa hari terakhir ini.

Sae-jin awalnya tidak bergeming; tapi tangannya kemudian perlahan naik ke punggung Kyuhyun dan menepuknya pelan.

“Aku juga. Aku juga sangat merindukanmu, Cho Kyuhyun.” Suaranya terdengar sangat lembut dan pelan.

“Kau bohong.” Ujar Kyuhyun galak, dengan suara bergetar. “sudah berapa lama aku menunggumu?”

Sae-jin sedikit melepaskan pelukan Kyuhyun kemudian menatap suaminya dengan geli. “Memangnya menurutmu aku pergi ke mana? Aku tidak pergi ke mana- mana.”

“Kau tahu bukan itu maksudku,” protes Kyuhyun. Kenapa dia merasa terkesan seperti merengek? Dia berusaha untuk tetap tegar dan kuat selama beberapa hari ini. “Putri kita sangat membutuhkanmu. Dan aku—“ dia menghela nafas, “aku merasa seperti ingin mati.”

“Kau tidak tahu kau tidak boleh mati kan? Putri kita sangat membutuhkanmu.”

“Aku mohon jangan tinggalkan aku, Han Sae-jin.” Bisik Kyuhyun, “aku tidak bisa hidup tanpamu. Aku ingin membesarkan Hanna bersamamu. Aku mohon—“

*

 

“HAN SAE-JIN!”

Kyuhyun tersentak—nyaris terjatuh dari tempat duduknya. Dia bisa mendengarkan jantungnya memukul- mukul dinding dadanya dengan kencang, nafasnya tak beraturan dan tubuhnya bersimbah keringat. Dia pernah merasakan sensasi seperti ini ketika dia bermimpi hampir jatuh dari jurang atau semacamnya—hanya saja kali ini terasa jauh lebih parah.

Han Sae-jin masih terbaring tidak sadarkan diri di atas tempat tidur dengan berbagai mesin di sekelilingnya dan bunyi ‘beep’ pelan yang menandakan bahwa Sae-jin masih hidup, masih memiliki harapan. Kyuhyun menundukkan kepalanya perlahan dan menutup wajahnya dengan kedua tangan; ini mampi terburuk yang pernah dia alami seumur hidupnya.

“Kau tidak apa- apa, Nak?”

Kyuhyun mengangkat kepalanya dan terkejut melihat Yoon Dae-jo yang ternyata duduk di sampingnya, menatapnya dengan penuh kekhawatiran. “Sepertinya kau butuh istirahat. Sudah beberapa hari ini kau tidak tidur.”

“Aku tidak apa- apa.” Kata Kyuhyun dingin, membenarkan posisi duduknya. Sejak kapan Yoon Dae-jo berada di sampingnya? Jangan bilang dia mengawasi Kyuhyun ketika sedang bermimpi buruk?

“Aku mengerti apa yang kau rasakan, Cho Kyuhyun—percayalah, tapi putri kalian juga membutuhkanmu saat ini dan kau harus tetap sehat. Aku akan menjaga Sae-jin, pergilah dan carilah udara segar.”

Kyuhyun terdiam sejenak, kemudian perlahan menatap Dae-jo.

“Kau membutuhkannya,” kata Dae-jo meyakinkan, menepuk pundak Kyuhyun untuk menyemangatinya. Yoon Dae-jo menemukan kesamaan antara dirinya dan Kyuhyun; mereka berdua sama- sama tidak suka banyak bicara, tapi dia bisa melihat sendiri bagaimana Kyuhyun sangat khawatir dengan keadaan Sae-jin dan tidak bersedia untuk istirahat sedikit pun karena takut baik Sae-jin atau bayi mereka membutuhkannya.

“Apa kau sudah mendapatkan kabar darinya?” tanya Kyuhyun lagi, mencoba mengalihkan topik pembicaraan.

Senyum di wajah Dae-jo perlahan pudar, beliau menghela nafas panjang dan memilih menatap ke arah jendela.

“Belum. Aku juga sudah mencoba menghubungi suaminya—dia juga saat ini sedang kebingungan mencarinya. Wanita itu punya sedikit keunikkan; dia bisa membuat dirinya tidak ditemukan kalau dia mau, tak perduli sebagaimana keras kau mencari.”

Cho Kyuhyun berusaha untuk mengabaikan kilat kesedihan dan kegetiran di mata Dae-jo ketika mengatakan kalimat terakhir. Sejujurnya Kyuhyun pernah memikirkannya; mungkin saat itu Lee Sunjin melarikan diri dan Dae-jo berusaha keras mencarinya. Mungkin saat itu Dae-jo akhirnya menyerah dan memutuskan bahwa Lee Sunjin memang ingin pergi meninggalkannya dan tidak ingin bersamanya. Mungkin itulah yang membuat Dae-jo tidak ingin memperjuangkan hubungan mereka.

Keputusan mereka berdua jelas berbeda dengan Kyuhyun dan Han Sae-jin.

“Dan… bagaimana dengan donor hatinya?” tanya Kyuhyun, sedikit berhati- hati. Mereka memfokuskan semua perhatian pada keselamatan Sae-jin dan sepertinya Yoon Dae-jo mengesampingkan kesehatannya sendiri.

Yoon Dae-jo menggelengkan kepala lalu menatap putrinya.

“Tampaknya kau bisa membeli apapun yang kau inginkan bila kau kaya raya; tapi belum tentu kau bisa membeli sebuah organ tubuh yang baru.”

Kyuhyun mendengus kecil; tidak tahu apakah harus tertawa dengan lelucon dari Tuan Yoon. “Aku berharap kau mendapatkannya.” Kata Kyuhyun tulus.

“Entahlah, sejujurnya aku tidak tahu apa sekarang ini aku menginginkannya lagi.”

Cho Kyuhyun menyadari tatapan kosong Tuan Yoon.

“Han Sae-jin akan baik- baik saja. Dia akan bangun.” Kata Kyuhyun, meyakinkan Tuan Yoon tapi terlebih lagi meyakinkan dirinya sendiri. Tuan Yoon mengangguk, kemudian menatap suami putrinya lagi dengan bersungguh- sungguh. “Pergilah. Aku berjanji akan menjaga Han Sae-jin dengan baik. Aku sudah kehilangan dia selama bertahun- tahun, kali ini aku tidak membiarkan itu terjadi.”

Cho Kyuhyun sesaat masih ragu, menatap wajah damai Han Sae-jin. Ya, dia tahu Han Sae-jin akan baik- baik saja; dia bisa merasakannya. Dan saat Sae-jin terbangun, dia ingin menjadi orang pertama yang dilihat oleh Sae-jin dan berbicara dengannya.

“Pergi. Urus putrimu dan biarkan aku mengurus putriku.”

Kyuhyun menghela nafas dan menyunggingkan senyum kecil; setiap kali mendengar putrinya disebut membuat beban di hati Kyuhyun berkurang. Cho Kyuhyun menurunkan wajah; membisikkan sesuatu pada Sae-jin sebelum kemudian mengecup dahinya sejenak—lalu berdiri dan berjalan pergi.

“Boleh aku tahu apa yang kau katakan padanya?” tanya Tuan Yoon geli. Kyuhyun berbalik, berpikir sejenak lalu menjawab.

“Maaf, itu rahasiaku dan istriku.”

*

“Kau sedang tidur?” tanya Kyuhyun lembut; memperhatikan gerak- gerik putrinya di dalam keranda dari balik dinding kaca. Makhluk kecil rupawan itu tertidur dengan sangat damai dan tenang, sementara ‘teman- temannya’ menangis gelisah di tempat mereka masing- masing. Kyuhyun mendengus; sepertinya putrinya benar- benar mirip dengan ibunya.

“Maafkan ayah,” gumam Kyuhyun sedih. Dia berusaha sebisa mungkin membagi waktunya untuk putri mereka dan mengurus Han Sae-jin tapi keadaan Sae-jin masih belum stabil mengingat kesadarannya belum pulih. Terkadang harapan seperti muncul—seolah semua akan baik- baik saja, tapi kemudian keadaan memburuk membuat semua orang terpukul. Di saat itu Kyuhyun akan pergi menemui putrinya, memeluknya dan melihat gerak- geriknya yang tenang, maka perasaan gundah dalam hatinya akan berkurang. “Aku belum bisa membuatmu bertemu dengan Ibu,” bisiknya; tangannya memegang dinding kaca.

“Tapi aku berjanji semua akan baik- baik saja.”

Selama hampir setengah jam Kyuhyun menonton putrinya yang tertidur; kedua tangannya bersandar di dinding kaca. Dia percaya dia mampu melakukan ini sampai besok pagi—menonton wajah rupawan putrinya yang sangat mirip dengan ibunya, gerak- geriknya yang anggun dan cara tidurnya yang sangat tenang.

Persis seperti Han Sae-jin.

Ketenangan itu sedikit terusik dengan dering ponselnya. Kyuhyun bergidik, mengambil ponsel dari saku jubahnya dan mengerutkan kening ketika melihat nomor yang tidak dikenal tertera. Selama beberapa hari terakhir ini dia sudah diperingatkan untuk tidak mengangkat telpon dari nomor tak dikenal—kejadian tertembaknya Sae-jin sepertinya menjadi topik utama bahan berita dan Yoon Dae-jo berusaha keras meredam masalah agar tidak semakin panjang. Sampai sekarang mereka juga masih terus memburu pelaku biadab yang melukai Kyuhyun dan Sae-jin. Kyuhyun sendiri terkadang tak begitu memperhatikannya—pikirannya terfokus pada istri dan putrinya. Tapi dia bersumpah akan membunuh dan menyakiti orang yang telah menciptakan keadaan ini untuk mereka. Dia akan menyakiti mereka dengan tangannya sendiri.

Cho Kyuhyun masih menatap layar ponselnya yang terus bergetar dengan bimbang, lalu memutuskan untuk menerimanya. Bisa saja ini telepon penting yang bisa membawanya pada pelaku penembakan itu.

*

“Sae-ryung—ah, bersiaplah untuk penampilan selanjutnya!”

“Neh, Eonni—“

Shin Sae-ryung menatap wajahnya di depan cermin rias yang dikelilingi dengan lampu terang. Sae-ryung mendekatkan wajahnya dan memperbaiki warna bibirnya dengan lipstik merah, lalu tatanan rambut cokelatnya yang dibuat ikal. Bunyi musik menghentak- hentak tak jauh dari mereka nyaris tenggelam dengan keributan di dalam ruang rias.

Hari ini adalah showcase untuk album kedua mereka yang baru saja dirilis kemarin. Sae-ryung tersenyum puas melihat penampilannya. Dia dinobatkan sebagai anggota paling cantik serta ‘pusat’ dalam grupnya dan dia akan memastikan posisinya akan selalu seperti itu.

“Aigoo… Sae-ryung—ah, apalagi yang mau kau periksa?” kata Jihyun, duduk di bangku di sampingnya, memperbaiki riasannya. Mereka berdua akan tampil bersama untuk menyanyikan lagu duet. Sae-ryung tersenyum kecil. “Kau sudah sempurna.”

“Tidak, Onnie,” kata Sae-ryung, tersipu malu, memperhatikan Jihyun di sebelahnya yang sedang mencoba memperbaiki hiasan bulu matanya.

Onnie apakah perlu kubantu?” tanya Sae-ryung lembut, tanpa menunggu jawaban Jihyun langsung melompat berdiri dan membantu memperbaiki riasan rekannya.

“Memang, kau dongsaeng yang paling kuandalkan,” kata Jihyun sambil mengacungkan jempolnya, menatap Saeryung penuh dengan kekaguman. Meskipun hampir selalu menjadi ‘pusat’ perhatian di semua acara atau pertunjukkan mereka, Sae-ryung tidak pernah sekalipun bersikap angkuh atau membuat dirinya lebih dari anggota yang lainnya. Mereka juga tahu Sae-ryung baru saja mengatasi keterpurukan karena pacarnya menikah dengan gadis lain, jadi mereka bersyukur Sae-ryung sekarang telah bangkit dan kembali ceria seperti sebelumnya.

Karena itulah mereka tidak ingin mengungkit apapun yang menyangkut Kyuhyun atau istrinya di depan Sae-ryung, meskipun sekarang ini mereka sedang heboh dengan tragedi penembakkan dari istri Cho Kyuhyun.

“Shin Sae-ryung,”

“Oh?” tanya Sae-ryung, menatap Jihyun dari cermin kaca dengan ekspresi polos.

Jihyun tertawa. “Benar. Suasana hatimu seperti inilah yang kami inginkan.”

Sae-ryung tersenyum manis dan melanjutkan kegiatannya. “Onnie, biar aku perbaiki rambutmu juga.” Katanya riang, memperbaiki rambut Jihyun yang sedikit berantakan setelah mengganti pakaiannya untuk pertunjukan berikut.

Dering ponsel mengagetkan Sae-ryung; Sae-ryung menghentikan kegiatannya lalu mengambil ponsel dari meja riasnya sementara tangannya yang satu menyisiri rambut lurus Jihyun.

Shin Sae-ryung mengerutkan kening melihat nomor asing, pasti dari penggemar fanatiknya lagi. Akhir- akhir ini teknologi semakin canggih dan—

Keluar dari ruangan itu sekarang.

Sae-ryung mengangkat kening heran; bagaimana bisa penggemar fanatiknya mengetahui di mana dirinya? Apa mereka memata- matainya? Tiba- tiba ponsel berdenting kembali.

Keluar kalau kau tidak ingin mereka semua tahu tentang Sae-jin.

“Aw!” jerit Jihyun keras, cukup menarik perhatian semua orang di dalam ruang rias itu—ruangan seketika hening dan Sae-ryung bergidik kaget—ponsel dari tangannya jatuh ke lantai. Sepertinya tangannya yang satu baru saja menjambak rambut rekannya. Sisir di tangan Sae-ryung pun jatuh—kedua tangannya gemetar dan wajahnya menatap Jihyun penuh kengerian.

“Shin Sae-ryung, kau tidak apa- apa?” tanya Jihyun, setengah kesakitan setengah heran. Shin Sae-ryung bergidik, matanya melebar seolah bola matanya bisa terlepas kapan saja. Sae-ryung berjalan mundur, menatap sekeliling dan lebih ngeri lagi melihat semua orang menatapnya dengan heran dan khawatir. Sae-ryung memungut ponselnya di lantai kemudian berbalik dan lari keluar ruangan sebelum semua orang semakin curiga padanya.

Shin Sae-ryung menuruni tangga darurat secepat yang dia bisa. Gilirannya tinggal 15 menit lagi dan dia harus menyelesaikan ini secepatnya. Bodoh! Tolol! Siapa yang berani mengancamnya? Apa mungkin ini si penembak itu? Tidak ada orang lain yang tahu perbuatannya! Dia telah memastikan semuanya dirancang serapi mungkin—bahkan orang suruhan Yoon Dae-jo tidak akan mengetahuinya! Sae-ryung tidak memperdulikan keringat yang telah merusak riasan wajahnya; nafasnya menderu dan jantungnya berdebar sangat kencang.

Sambil sibuk mengucapkan sumpah serapah dalam benaknya, Sae-ryung membuka pintu darurat yang berat itu dengan sekali hentakan dan melompat keluar—terkejut ketika melihat sosok jangkung berpakaian serba hitam bersandar di dinding.

Kris Wu menutupi wajahnya dengan tudung jubahnya, menatap hampa dinding di depannya.

Sae-ryung tertegun sejenak, kemudian menghembuskan nafas lega.

“Yah! Kau menakuti aku saja!” bentak Sae-ryung.

Kris tidak berkomentar, kemudian berdiri tegap dan berjalan mendekati Sae-ryung. “Kenapa? Kau takut ketahuan?”

Sae-ryung tidak bisa menilai ekspresi wajah Kris karena penerangan yang minim dan tudung jaket besar yang menutupi wajahnya.

“Kenapa?” tanya Sae-ryung setengah sebal.

“Tidak—“ Kris menatap dinding di sampingnya dengan enggan. “Kau harus lebih berhati- hati. Sepertinya nomorku baru saja diretas oleh sebuah organisasi yang kemudian setelah aku selidiki adalah organisasi perusahaan dari Yoon… Dae-jo? Entahlah, sepertinya kekasih hatimu itu bekerja sama dengannya dan mereka sekarang mencurigaiku.”

Sae-ryung mendengus. “Pria itu ayah kandungnya. Astaga, Kris, sepertinya gadismu benar- benar tidak lagi menganggapmu. Bagaimana mungkin kau tidak tahu rahasia sepenting itu?”

Kris tertegun sejenak, kemudian mendengus, sepertinya berusaha mengatasi kekagetannya.

“Tidak ada yang perlu aku khawatirkan. Koneksiku dengan pria itu sudah kami hapus—dan lagipula, kau tinggal mengatakan kau tidak tahu apa- apa. Karena kau toh memang awalnya tidak tahu apa- apa.”

“Apa kau yakin si penembak itu tidak akan kembali lagi ke Korea?”

“Kalau dia ingin selamat dia pasti sekarang sudah di luar negeri sebelum orang- orang Yoon Dae-jo menemukannya. Kau sendiri yang membantunya kabur. Lagipula ini sudah beberapa hari, kalau dia kembali ke Seoul dia pasti sudah ditemukan dari kemarin- kemarin.” Kata Sae-ryung santai. “Dan jangan menggangguku lagi—bagaimana kau bisa masuk ke gedung ini?”

“Itu hanya masalah sepele.”

Hening sejenak, dan Sae-ryung perlahan bertanya.

“Tapi… apa kau benar- benar ingin dia… mati?” tanya Sae-ryung hati- hati—seolah takut Kris akan tiba- tiba mencekiknya. Kris memang tidak terlibat dalam rencana ini karena Sae-ryung tidak ingin emosi labil Kris merusak semua yang telah dia susun dan atur dengan rapi. Tapi Kris dengan cepat mengetahui bahwa Sae-ryung adalah dalang di balik penembakan itu dan malah menawarkan diri untuk membantu si penembak itu kabur dan membantu Sae-ryung menghapus jejak mereka.

Kris melamun sejenak, kemudian berkata. “Bukankah sudah kubilang padamu? Kalau aku tidak bisa memiliki Saejin, maka tidak ada yang bisa memilikinya. Prinsip hidup kita sama.”

Sae-ryung menatap Kris dengan penuh penilaian kemudian tertawa geli. Tawa yang sangat sinis dan mengerikan, berbanding terbalik dengan kepolosan di wajahnya.

“Kenapa kau tertawa?” tanya Kris tenang.

“Tidak,” kata Sae-ryung lagi, mengusap pipinya, “ternyata kau lebih mengerikan daripada aku. Setidaknya, aku tidak ingin Cho Kyuhyun mati. Aku hanya ingin menyingkirkan siapapun yang bersamanya.”

“Ya. Aku akui rencanamu untuk memancing Saejin sangat pintar—kau tahu dia yang akan merelakan diri menerima tembakan itu.”

Sae-ryung mengangguk. “Kurasa itulah alasan kalian berdua menggilai gadis itu. Dan siapa menyangka itulah yang malah membuatnya sekarat sekarang ini.” Sae-ryung melangkah maju hingga wajahnya dekat dengan Kris, “dan kau membuat semua rencanaku tepat sasaran, meskipun… tentu saja kau tidak sengaja.”

“Mungkin kalau kau memberitahuku lebih dulu, semuanya akan lebih rapi dari ini. Kau terlalu menganggap remeh diriku, Shin Sae-ryung.”

“Ya, mungkin berikutnya kita harus lebih saling percaya.” Kata Sae-ryung, tiba- tiba ponselnya berbunyi. “Kita bicara nanti saja. Tidak ada yang perlu kau khawatirkan, berpura- puralah bersedih seperti biasanya. Sekarang giliranku untuk tampil.”

Sae-ryung menyeringai, lalu berbalik dan menarik pintu tangga darurat.

*

Shin Sae-ryung tersenyum lebar melihat ekspresi terkagum- kagum para penggemarnya disertai tepukan super riuh dari mereka. Rasanya panggung dan atap aula itu akan rubuh—Jihyun telah melambai- lambaikan tangannya dengan tolol. Sae-ryung membungkuk terharu kemudian melambaikan kedua tangannya dengan riang. Tidak salah lagi lagu duet mereka akan menjadi salah satu poin penting dari penjualan album mereka. Dia cukup senang dengan fakta bahwa prosuder mereka membiarkan Sae-ryung yang mendapat bagian untuk menyanyikan hampir semua bagian dengan nada tingginya. Dan Jihyun dengan bodohnya membiarkan itu terjadi karena mereka masih merasa ‘iba’ padanya. Seolah- olah dia gadis tolol yang suka meratapi dirinya sendiri.

“Terima kasih!” kata Sae-ryung, tersipu malu. Dia dan Jihyun kemudian saling berpelukan.

“Bagaimana, apa kalian suka?” tanya Jihyun riang dan semua penggemar mereka berteriak “Yaaa!!”

“Ngomong- ngomong, kalian pasti penasaran kan mengapa dari mana Sae-ryung kita ini mendapatkan inspirasi untuk menulis lagu sesedih ini?”

Terdengar suara teriakan yang riuh dan Sae-ryung tersenyum enggan.

“Eonnie—“ tegurnya malu- malu, “nanti kalau aku ceritakan mereka akan menangis.”

Terdengar lagu teriakan ‘Ooo’ dan Jihyun tertawa.

“Tentu saja.” Kata Jihyun tenang, “mereka pasti akan menangis kalau tahu apa yang sudah kau lakukan pada Han Sae-jin.

“Neh—“ Sae-ryung refleks menjawab sambil tertawa tapi kemudian tertegun, menatap Jihyun, yang sekarang telah merubah ekspresi riangnya dengan tatapan dingin. “A—apa?”

Keriuhan dan euphoria di dalam ruangan perlahan tapi pasti menghilang, digantikan dengan keheningan dan tatapan heran. Sepertinya tidak ada yang menyangka dengan perkataan ambigu Jihyun. Apalagi Shin Sae-ryung, yang sekarang ini terlihat sangat bingung dan terkejut. Apa maksud Jihyun?

O—Onnie?”

Onnie?” Jihyun mendengus sinis, “apakah kau pernah selama ini menganggapku Onnie-mu?”

“A—apa maksudmu?”

Tiba- tiba terdengar suara sound system yang melengking dan semua penonton menjerit kaget. Jihyun masih tetap menatap tajam Shin Sae-ryung yang masih kebingungan dan ketakutan. Kemudian terdengar suara rekaman yang diputar.

“Tidak ada yang perlu aku khawatirkan. Koneksiku dengan pria itu sudah kami hapus—dan lagipula, kau tinggal mengatakan kau tidak tahu apa- apa. Karena kau toh memang awalnya tidak tahu apa- apa.”

“Apa kau yakin si penembak itu tidak akan kembali lagi ke Korea?”

“Kalau dia ingin selamat dia pasti sekarang sudah di luar negeri sebelum orang- orang Yoon Dae-jo menemukannya. Kau sendiri yang membantunya kabur. Lagipula ini sudah beberapa hari, kalau dia kembali ke Seoul dia pasti sudah ditemukan dari kemarin- kemarin.”

Shin Sae-ryung membeku, menatap Jihyun dengan mata membelalak. Kilat kesedihan dan tidak percaya terlihat di mata Jihyun. Pekikan dan gumam- gumam kebingungan bergaung di semua sudut aula. Bagaimana—bisa?

“Kau—“

“Ya. Aku.” Kata Jihyun dingin. “Orang yang kau anggap tolol dan selalu mengikuti kemauanmu.” Mata Jihyun berkaca- kaca. “Aku selalu berusaha mengerti perbuatanmu yang tidak masuk akal karena rasa sakit hatimu tapi kali ini kau benar- benar bejat, Shin Sae-ryung. Kau sungguh seorang psikopat.”

“Tidak—TIDAK!!!” jerit Sae-ryung, berteriak di mic-nya untuk menutupi suara rekaman yang terus terputar tapi sepertinya suara mic mereka dimatikan.

“ternyata kau lebih mengerikan daripada aku. Setidaknya, aku tidak ingin Cho Kyuhyun mati. Aku hanya ingin menyingkirkan siapapun yang bersamanya.”

“Ya. Aku akui rencanamu untuk memancing Saejin sangat pintar—kau tahu dia yang akan merelakan diri menerima tembakan itu.”

“Kurasa itulah alasan kalian berdua menggilai gadis itu. Dan siapa menyangka itulah yang malah membuatnya sekarat sekarang ini… dan kau membuat semua rencanaku tepat sasaran, meskipun… tentu saja kau tidak sengaja.”

Tidak mungkin—bagaimana bisa? Sae-ryung menatap ngeri ke sekelilingnya—bagaimana bisa mereka menyadap pembicaraan Kris dan Sae-ryung—?

Seolah menjawab pertanyaan Sae-ryung, Kris Wu berjalan menghampiri mereka dari pintu kiri panggung, diiringi dengan jerit teriakan kaget dari penonton.

Sepertinya tudung yang dipakai Kris Wu tadi berhasil menyamarkan ekspresi wajahnya karena sekarang ini Kris menatap Sae-ryung dengan tatapan tajam dan membunuh, membuat matanya memerah dan berkaca- kaca. Wajahnya pucat dan rahangnya menegang. Seolah kalau tatapan bisa membunuh, maka sekarang Shin Sae-ryung sudah mati tersayat- sayat. Kedua tangan Kris mengepal.

Dia telah lama menahan semua ini—dia menahan semua sakit ini untuk hari ini. Maka Kris tidak akan merusak semua rencananya—demi Han Sae-jin.

“K—Kau—“ kata Sae-ryung tak percaya. Tapi—tapi Kris membantunya menghapus jejak penembakan itu dan bahkan membantu penembak itu kabur!

“Kau tidak tahu betapa aku ingin merobek wajahmu dan menikammu,” desis Kris, berjalan mendekati Sae-ryung sementara Sae-ryung berjalan mundur, masih tidak percaya dengan semua ini.

“Mungkin kalau kau memberitahuku lebih dulu, semuanya akan lebih rapi dari ini. Kau terlalu menganggap remeh diriku, Shin Sae-ryung.”

“Ya, mungkin berikutnya kita harus lebih saling percaya.”

Ternyata itulah alasan Kris bisa memasuki gedung ini meskipun dia telah melepaskan diri dari agensi mereka. Dia menggunakan akses dan bantuan dari Jihyun—semua ini telah direncanakan! Ini benar- benar bodoh—Sae-ryung percaya dan membiarkan dirinya jatuh di jebakan Kris hanya karena Kris membantunya!

“Ya. Kau memang bodoh.” Ujar Kris. Sepertinya Sae-ryung tanpa sengaja mengatakan isi pikirannya. “Kau tahu perasaanku tapi kau masih percaya padaku hanya karena aku tidak melaporkan semua perbuatanmu selama ini.”

“Tapi kau membantuku!” jerit Sae-ryung, kini lupa dengan hal sekitarnya. Panggung ini, penggemarnya, dan suara tepukan riuh penuh kekaguman yang baru saja didengarnya beberapa menit lalu. “Kau pikir kau bisa lolos?!”

“Tuan Wu bekerja sama dengan kami,” tiba- tiba seorang pria paruh baya muncul dari pintu tempat Kris keluar, berjalan menghampiri mereka dan menatap Sae-ryung dengan tenang, seolah dia berusaha bersikap bijak menghadapi seorang psikopat. “Sejak awal kami mencurigai Anda, dan Tuan Wu menawarkan diri untuk membantu kami karena sejak awal dia memang telah berusaha menjebak Anda. Tuan Wu mengejar penembak itu dan mengancamnya.”

Asisten Han maju selangkah di depan Kris, sepertinya berusaha menjaga situasi agar Kris tidak tiba- tiba mencekik Sae-ryung karena itulah yang sangat ingin dia lakukan sejak beberapa hari yang lalu.

“Dan sekarang ini, Anda akan segera dijemput oleh beberapa anggota polisi untuk dimintai keterangan.”

Shin Sae-ryung sepertinya masih tidak percaya dengan keadaan di sekitarnya yang berubah drastis; dengan ‘pengkhianatan’ Kris, atau fakta bahwa dia akan segera tertangkap, atau bahwa semua jebakan ini dipersiapkan dengan sangat ‘sempurna’ untuk menangkapnya.

*

Cho Kyuhyun berdiri di depan sebuah gedung dengan halaman yang cukup luas di sekitarnya, dan papan berukuran besar bertuliskan ‘Panti Asuhan Yong Ham’ menggantung di pagar. Bangunan itu terlihat cukup tua, kendatipun halamannya tampak bersih. Sekumpulan anak kecil berlari di halaman sambil saling menyerang satu sama lain dengan pistol air; beberapa anak yang lebih besar duduk bersama di satu sisi, sepertinya sedang mengerjakan pekerjaan rumah.

Kyuhyun kemudian menoleh ke arah sisi halaman yang lain, dan kali ini hatinya terasa sedikit lebih pedih. Di bawah pohon besar yang rindang duduk beberapa gadis yang sedang hamil, sepertinya sedang membahas sesuatu yang menarik—beberapa dari mereka sibuk tertawa.

Di sinilah tempat Han Sae-jin dibesarkan sebelum dia dibawa oleh keluarga Han.

Tadi dia menerima telepon dari orang tak dikenal yang mengaku sebagai pengurus dari panti asuhan ini, dan memohon agar dapat bertemu dengan Kyuhyun. Kyuhyun memegang pintu pagar dan bermaksud membukanya ketika seorang wanita paruh baya berjalan keluar dari pintu rumah dan dengan langkah cepat menghampirinya. Wajah beliau terlihat sumringah ketika melihatnya; seolah lega karena akhirnya bisa bertemu dengan Kyuhyun.

“Cho Kyuhyun—ssi, senang bertemu denganmu. Maaf karena telah menghubungimu di saat seperti ini.” Ujar beliau ramah setelah membantu Kyuhyun membuka pintu pagar, “Namaku Choi Shonshin.” Nyonya Choi mengulurkan tangan. Kyuhyun membungkuk hormat dan menyambut tangan Nyonya Choi. “Cho Kyuhyun-imnida. Tidak apa- apa, Nyonya Choi, terima kasih karena telah menghubungiku.”

“Bagaimana kabar Sae-jin?” tanya Nyonya Choi khawatir. “Aku sangat ingin pergi dan menjenguk tapi keadaan di panti asuhan sekarang tidak terlalu baik dan aku tidak bisa pergi jauh- jauh.”

Kyuhyun menyunggingkan senyum paksa. Hatinya terasa perih setiap kali pertanyaan tentang kabar Sae-jin dilontarkan—dia tidak ingin memberikan jawaban yang sesungguhnya karena rasanya akan semakin menyakitkan, tapi di saat yang sama dia tidak ingin memberikan ‘harapan palsu’.

Nyonya Choi sepertinya mengerti dengan perasaan Kyuhyun; kedua tangannya memegang lengan Kyuhyun kemudian menepuknya.

“Dia akan baik- baik saja. Percayalah.”

Kyuhyun menatap Nyonya Choi yang tersenyum tulus padanya, kemudian mengangguk pelan. “Terima kasih.”

“Sekarang, mari kita temui dia.”

*

Cho Kyuhyun berdiri di depan pintu, mengawasi keadaan di dalam ruangan kecil itu. Seorang wanita tergeletak di atas tempat tidur dekat dengan jendela. Perabotan di dalam ruangan itu seadanya saja; sebuah lemari tua di sudut kamar dan meja rias kecil di sampingnya. Di samping tempat tidur itu terdapat meja dihiasi pot bunga kecil dan beberapa buku.

Kyuhyun menelan ludah; berusaha mengatasi kekagetannya dan bersikap tenang. “Sejak kapan… dia di sini?”

Nyonya Choi mengikuti pandangan Kyuhyun dan menghela nafas. “Beberapa bulan terakhir dia sering datang kemari dan menjenguk kami… tapi dia tinggal di sini sejak sekitar empat hari yang lalu.”

Kyuhyun mencelos. Itu adalah hari terakhir mereka semua melihatnya. Dan Kyuhyun percaya terakhir kali mereka bertemu Nyonya Lee tidak sekurus ini. Sulit rasanya melihat perubahan drastis yang bisa terjadi pada seseorang hanya dalam rentan waktu beberapa hari.

Banyak pertanyaan berkecamuk di kepala Kyuhyun; apa yang dilakukan Lee Sujin di panti asuhan Han Saejin, dan mengapa dari semua orang, dia meminta agar mereka menghubungi Cho Kyuhyun? Dan mengapa Lee Sujin berubah seperti ini—apa yang terjadi padanya? Apa dia juga sakit?

“Sepertinya dia belum bangun,” bisik Nyonya Choi lagi, memastikan tidak mengganggu Sujin. Kyuhyun bisa menangkap kilatan iba setiap kali beliau menatap Sujin dan semua ini semakin memperkuat perkiraan Kyuhyun bahwa memang terjadi sesuatu pada Nyonya Lee; sesuatu yang tidak baik. “Mungkin kita bisa berbincang- bincang sebentar?”

Kyuhyun mengangguk—menatap Nyonya Lee yang sedang tidur sekali lagi sebelum kemudian mengikuti langkah Nyonya Choi. Sejujurnya dia sedikit buru- buru, dia harus secepatnya kembali ke rumah sakit dan menjaga istrinya. Butuh pertimbangan besar untuk menempuh jarak jauh ke panti asuhan ini tapi Nyonya Choi memohon padanya untuk datang dan ada banyak pertanyaan dalam benak Kyuhyun yang membuatnya penasaran. Pertanyaan tentang Lee Sujin.

Dan juga, karena ini adalah tempat gadis yang dicintainya dibesarkan.

Kyuhyun berjalan menyusuri koridor, tersenyum pada beberapa anak kecil yang berlari melewatinya dan tertawa. Kyuhyun pernah bertanya- tanya dalam benaknya; bagaimana anak- anak sekecil mereka menanggung kesedihan karena tidak memiliki orangtua sejak kecil tapi sekarang sepertinya Kyuhyun mulai menemukan jawabannya.

Mungkin karena mereka masih kecil, dan mungkin perasaan kehilangan itu tidak ada karena mereka tidak pernah merasakan rasanya memiliki orang tua sejak awal. Dan fakta bahwa Han Sae-jin pernah mengalami semua ini membuat hati Kyuhyun terasa lebih perih lagi.

“Ini adalah ruang perawatan bayi,” suara Nyonya Choi menyela lamunan Kyuhyun, beliau menunjuk ke arah ruangan di sebelah kanan mereka. Mereka berhenti sejenak dan Kyuhyun menengok lewat jendela. Ruangan itu dipenuhi ranjang bayi yang terbuat dari kayu, sebuah lemari panjang terdapat di sisi kanan ruangan, berisi cukup banyak perlengkapan bayi, dan beberapa bingkisan dari pengunjung. Beberapa boks bayi terisi, bayi- bayi itu tidur dengan tenang. Kyuhyun mengerutkan kening; sekarang setelah menjadi seorang ayah—melihat bayi- bayi tersebut membuatnya sedih, dan teringat akan putrinya yang sedang dirawat di rumah sakit. Putrinya baik- baik saja; dia masih memiliki ayah dan ibu yang menyayanginya, serta keluarga besar yang sekarang tengah menjaganya. Seharusnya Cho Kyuhyun bersyukur dengan hal itu.

“Bayi yang di sana baru saja diantar oleh sebuah yayasan pelindung anak,” Nyonya Choi menunjuk seorang bayi yang sedang tertidur pulas di ranjang paling kiri. “Dia ditemukan di tempat pembuangan sampah tadi malam,”

Rasanya ada yang menyayat hati Kyuhyun, kemudian membakarnya dengan amarah. Manusia bejat mana yang tega melakukan ini? Kyuhyun masih bisa mengingat ketika pertama kali dia melihat putrinya; rasanya dia melihat banyak sekali cahaya kembang api yang berpendar- pendar di sekelilingnya, rasanya seperti melihat sebuah mimpi yang tidak nyata dan terlalu indah untuk dipercaya. Bagaimana bisa mereka tidak merasakannya?

Kyuhyun berdehem. “Kalau begitu… tempat ini…” Kyuhyun menggigit bibirnya. “Apa istriku—“

Nyonya Choi tersenyum dan mengangguk. “Ini juga ruangannya. Aku ingat dia—dia mungkin bayi paling tenang yang pernah aku lihat. Di saat semua bayi menangis, dia lebih sering tertidur. Dia jarang sekali rewel dan hidungnya sangat mancung—kami semua suka memeluknya.”

Kyuhyun tidak berkomentar, entah mengapa itu membuatnya membayangkan putrinya sendiri di tempat tidur itu, mengingat putrinya sangat mirip dengan Sae-jin. Di saat semua bayi menangis, Sae-jin hanya diam di tempatnya dan tertidur tenang seolah tak menuntut apa- apa.

Seolah dia tak menginginkan apa- apa.

“Aku akan menunjukkan kamar Sae-jin padamu, kalau kau tidak keberatan,” ujar Nyonya Choi lagi, menyadari kesedihan di wajah Kyuhyun.

“Tentu.” Kata Kyuhyun.

Nyonya Choi menuntun Kyuhyun menaiki tangga, melewati beberapa koridor tua; Kyuhyun memperhatikan sekelilingnya. Di dinding itu berjejer banyak bingkai dengan berbagai macam gambar yang dibuat oleh anak- anak di panti asuhan itu. Beberapa anak kecil berjalan melewati mereka, dituntun oleh seorang wanita, mereka tersenyum ketika melihat Nyonya Choi, seorang anak bahkan memeluknya sejenak sebelum kemudian pergi. Tempat ini sedikit berbeda dengan bayangannya dan Kyuhyun bersyukur setidaknya Sae-jin tumbuh di lingkungan yang hangat.

“Ini kamar anak perempuan,” mereka berhenti di sebuah ruangan yang cukup besar berisikan banyak tempat tidur rendah. “Kalau aku tidak salah ingat, tempat tidurnya di paling kiri. Dia suka sekali menggambar—dia sangat pendiam dan tidak suka bermain. Aku rasa dia yang paling suka menghabiskan persediaan kertas kami.” canda Nyonya Choi dan Kyuhyun tersenyum. Dia tidak memiliki gambaran jelas mengenai wajah Sae-jin saat kecil tapi dia bisa membayangkan seorang gadis kecil duduk diam dan tenang di tempat tidur atau di bawah pohon, menatap teman- temannya yang bermain di tengah taman, merasa bahwa ada hal lain yang harus dipikirkannya. Ya. Itu memang seperti Han Sae-jin yang Kyuhyun kenal.

“Jadi dia memang seperti itu sejak dulu,” gumam Kyuhyun dan tertawa kecil.

Nyonya Choi mengangguk. “Menurutku dia sedikit berbeda dengan anak seumurannya. Sae-jin lebih suka duduk di pintu masuk atau duduk di sofa ruang tamu, seperti menunggu sesuatu. Dan saat langit gelap dan dia sadar tidak ada yang akan menjemputnya, dia akan terlihat kecewa. Beberapa pasangan yang datang sering tertarik untuk mengasuhnya karena sejak kecil Sae-jin sangat cantik dan seperti boneka—tapi karena dia sangat pendiam dan pasif, mereka mengundurkan diri. Hanya pasangan Han yang berani melakukannya, sejak pertama mereka bertemu Sae-jin langsung dekat dengan mereka.”

Kyuhyun menutup mata. Ya. Semua terasa seperti akhir cerita yang menyenangkan—kemudian bencana kembali terjadi.

“Ada sesuatu yang ingin… aku tahu.”

Nyonya Choi menengadah, menatap Kyuhyun dengan tanda tanya. Kyuhyun berpikir sejenak; sesuatu dalam dirinya mengatakan bahwa dia tidak berhak mengajukan pertanyaan ini. Dia percaya pada Han Sae-jin dan dia yakin perasaannya pada Sae-jin sama sekali tidak dipengaruhi oleh masa lalu Sae-jin atau apapun yang menyangkut dirinya.

Cho Kyuhyun hanya ingin memastikan sesuatu.

“Han Sae-jin ditinggalkan oleh ibunya di panti asuhan ini ketika dia lahir. Benar kan?”

Nyonya Choi mengangguk.

“Apa… Anda tahu siapa yang membawanya kemari?”

“Ibunya sendiri yang membawanya.” Jawab Nyonya Choi. “Lee Sunjin—ssi yang membawanya.”

Kyuhyun tertegun.

“Maafkan aku.” Kata Nyonya Choi, terlihat merasa bersalah. “Mungkin seharusnya aku memberitahukan ini padanya. Saat itu dia masih sangat kecil dan tidak mengerti apa- apa, aku ingin dia membuka lembar hidup yang baru dan hidup bahagia bersama keluarga barunya, karena itu aku hanya menitipkan kalung itu pada orangtua asuhnya dan tidak menjelaskan apapun.”

Kyuhyun menundukkan wajahnya. Ini terasa lebih menyakitkan lagi, dan dia kembali mempertanyakan dirinya karena sempat merasa kasihan pada Lee Sunjin dan jauh – jauh datang ke panti asuhan ini untuk menjenguknya.

“Aku mengerti perasaanmu, Kyuhyun—ssi,” kata Nyonya Cho lembut, sepertinya bisa membaca raut wajah Cho Kyuhyun, “tapi—saat itu, aku benar- benar mengingatnya. Tengah malam itu saat hujan deras, seorang wanita menggedor pintu panti ini, dia kelihatan sangat terpukul dan kebingungan, seperti seseorang yang kehilangan arah. Aku menawarkannya pilihan untuk tinggal di tempat ini tapi dia menolak dan memberikan bayinya sambil menangis sejadi- jadinya. Dia memohon padaku untuk menjaga bayinya… dan mempertemukannya dengan orang tua yang baik dan sangat menyayanginya…” Nyonya Cho menatap hampa tempat tidur lama Sae-jin, “… dan memintaku agar tidak pernah memberitahu putrinya tentang dia… karena baginya dia tidak pantas untuk bertemu dengan Sae-jin.”

Cho Kyuhyun mengepalkan tangannya, menghembuskan nafas pelan. Pikirannya berkecamuk—dia tidak ingin mencoba mengerti perasaan siapapun yang telah tega menelantarkan istrinya. Han Sae-jin juga punya pilihan, dia bisa saja menggugurkan kandungannya, atau menelantarkan bayinya di sini. Menikah dengan Kyuhyun di keadaan seperti itu sama saja dengan melibatkan diri dengan malapetaka; Sae-jin harus menghadapi kebencian dan tuduhan- tuduhan dari banyak orang, serta hidup dengan pria yang saat itu mencintai gadis lain. Tapi dia toh menerimanya. Dia bersikeras membesarkan bayinya, meskipun dia harus melakukannya sendirian. Dan dia bersedia menikah dengan Kyuhyun demi kebaikan putri mereka.

“Aku bisa memahami kalau Sae-jin tidak bisa memaafkan Lee Sunjin. Perbuatan yang dilakukannya—tidak bisa dimaafkan. Tapi—“ Nyonya Choi mengangguk pelan, “aku tidak ingin menghakiminya tanpa mengetahui kehidupan apa yang telah dia alami.”

Kyuhyun mengalihkan tatapannya. Dia juga tidak ingin mengetahui apa yang dilalui Lee Sunjin. Setiap orang pasti pernah mengalami masa sulit—Han Sae-jin juga. Tapi yang paling penting adalah bagaimana tetap memiliki hati yang lembut di tengah kehidupan yang sulit. Dan Sae-jin adalah contoh nyata.

“Ah—“ Nyonya Choi menepuk tangannya, “aku punya sesuatu untukmu—aku yakin kau pasti ingin melihatnya.”

*

Cho Kyuhyun duduk di sofa tamu kantor Nyonya Choi, memperhatikan beliau yang tengah sibuk mencari sesuatu di rak-nya yang cukup panjang. Kyuhyun beberapa kali menengok arloji dan ponselnya, kalau- kalau dia tidak menyadari ada telepon. Nyonya Choi kemudian berjalan ke arah meja TV sambil memegang sebuah kaset.

“Ini adalah koleksi rekaman yang aku kumpulkan sejak dulu.” Nyonya Choi tersenyum bangga, memegang kaset berbentuk persegi panjang sambil membolak- balikkannya. “aku ingin mengenang mereka satu persatu saat mereka meninggalkanku.”

Kyuhyun tidak berkomentar; mengawasi beliau yang memasukkan kaset berisi kotak itu ke dalam alat pemutar kaset tua dan Kyuhyun bertanya- tanya dalam hati bagaimana alat setua itu masih berfungsi, dan apakah Nyonya Choi tahu tentang keberadaan CD dan flashdisk di dunia ini; beliau berbicara seolah- olah menggunakan pemutar kaset setua itu saat ini adalah lumrah.

“Beberapa kali aku menonton video Sae-jin.”

Entah mengapa dada Kyuhyun berdebar- debar. Sesungguhnya tujuan dia datang hanya karena permohonan dari Nyonya Choi dan karena rasa penasarannya terhadap Nyonya Lee Sunjin yang katanya hanya ingin didatangi oleh Kyuhyun. Cho Kyuhyun hanya tidak menyangka dia akan ‘mengenang’ masa kecil istrinya.

Layar hitam itu berganti menjadi abu- abu disertai bunyi berisik—Nyonya Choi kemudian duduk di sisi kiri sofa, menemani Kyuhyun. Di layar TV itu kemudian muncul wajah seorang wanita yang Kyuhyun kenali sebagai versi muda dari Nyonya Choi; rambutnya masih hitam dan keriputnya tidak sebanyak sekarang ini. (“itu aku!” ujar Nyonya Choi malu), Nyonya Choi muda menatap ke arah layar dengan bingung, sepertinya sedang memastikan alat perekamnya berfungsi.

“Oh, sudah jadi!” ujar Nyonya Choi muda dengan girang, kemudian pemandangan berganti ke arah seorang gadis kecil yang sedang duduk di lantai,

Kyuhyun tertegun. Di depannya adalah seorang gadis kecil yang paling cantik yang pernah dia lihat—seperti boneka porselen hidup. Alisnya terbentuk sempurna, hidung mancungnya dan pipi serta bibirnya yang memerah… rambut panjang hitamnya yang halus tergerai di pundaknya…

Itu adalah Sae-jin.

“Sae-jin—ah?” suara Nyonya Choi terdengar. Sae-jin kecil duduk di lantai kayu, piyamanya sedikit berantakan dan dia sibuk menggambar di kertasnya menggunakan krayon.

“Dia sangat cantik kan?” kata Nyonya Choi pada Kyuhyun, seperti membanggakan putrinya sendiri. Kyuhyun tersenyum sopan—perhatiannya benar- benar tertuju pada gadis kecil di TV yang kelihatan sedikit tidak nyaman; melanjutkan menggambarnya dengan canggung. Persis seperti Han Sae-jin sekarang ini yang langsung berubah jadi canggung ketika merasa dirinya terekspos.

“Sae-jin—ah, apa yang sedang kau gambar?” tanya Nyonya Choi muda dengan lembut. Sae-jin kecil tidak menjawab.

“Sae-jin—ah?”

“Aku sedang menggambal.” Suara Sae-jin sangat kecil dan nyaring, meskipun nadanya datar. Tanpa sadar Kyuhyun tersenyum.

“Menggambar apa?” tanya Nyonya Choi tapi karena Sae-jin sekali lagi tidak menjawab, beliau memilih untuk mendekatkan kamera tersebut ke kertas Sae-jin.

“Apa ini?” tanya Nyonya Choi lembut, menunjuk tiga gambar terpisah berwarna cokelat—ketiganya berkepala bulat, tubuh bulat yang lebih besar serta garis seperti kaki dan tangan—objek cokelat di tengah lebih kecil daripada di kiri dan kanan. “Oh—ini keluarga beruang?”

“Ibu beluang,” Ekspresi Sae-jin tidak berubah tapi dia jelas menjadi lebih komunikatif karena tebakan Nyonya Choi benar, “Ayah beluang,”, Sae-jin kemudian menunjuk beruang kecil di tengah, “beluang bayi,”

“Bayi beruang?” tanya Nyonya Choi, “woah, Sae-jin pintar menggambar…”

“Sae-jinnie—“ jelas Sae-jin serius, menatap Nyonya Choi sambil menunjuk bayi beruang yang digambarnya lalu menepuk dadanya dengan tangan kecilnya, “Sae-jinnie—“

“Oh, itu Sae-jin?” tanya Nyonya Choi lagi, “Sae-jinnie bersama dengan ayah dan ibu beruang?”

Sae-jin kecil tidak berkomentar, melanjutkan menggambar rumah di samping ketiga ‘beruang’ yang digambarnya, tapi kemudian menunjuk rumah yang digambarnya. “Lumah.” Jelas Sae-jin serius, kemudian melanjutkan menggambarnya.

“Video itu aku rekam karena beberapa hari lagi keluarga Han akan menjemputnya.” Kata Nyonya Choi, mematikan video itu. “Dia sangat suka dengan dongeng keluarga beruang yang aku ceritakan sebelum tidur dan terus menggambarnya. Saat itu, aku berpendapat bahwa dia jauh lebih tanggap dari teman- teman seumurannya. Semua anak di sini dan para pengurusnya adalah keluarga—tapi,” beliau tersenyum sedih, “bukankah lebih indah lagi kalau kau punya rumah, dan orangtuamu sendiri?”

Kyuhyun hanya diam, menatap kedua tangannya yang dikunci. Sejak kecil Han Sae-jin telah memimpikan keluarga, sejak kecil dia telah merasa bahwa dia ditelantarkan. Dan selama dua puluh tahun lebih itulah yang dia rasakan setiap hari hingga membuat sulit untuk percaya diri, meskipun dia telah memiliki keluarga baru, meskipun dia memiliki kakek Han, meskipun dia memiliki Cho Kyuhyun. Dan Kyuhyun dengan egois membujuk istrinya untuk mencari tahu siapa keluarganya.

Han Sae-jin benar. Kyuhyun tidak mengerti penderitaan yang dirasakan Sae-jin, karena dia tidak pernah mengalami penderitaan itu. Cho Kyuhyun tidak pernah berusaha untuk benar- benar mengerti perasaan Sae-jin, dia hanya sibuk menunjukkan perasaannya sendiri pada Sae-jin.

*

Kyuhyun meletakkan gelas kaca berisi air mineral di atas meja kecil, kemudian duduk di kursi kayu kecil.

“Terima kasih,” gumam Lee Sunjin lemah, bersandar di kepala ranjangnya. Setelah dilihat dari dekat, Lee Sunjin terlihat sangat pucat, seolah semua yang pernah melekat dalam tubuhnya serta wajah angkuh itu hilang.

“Sejujurnya aku sedikit terkejut karena kau bersedia untuk datang kemari.”

Ya, Cho Kyuhyun sendiri masih mempertanyakan kewarasannya karena telah bersedia untuk datang mengunjungi wanita yang telah menelantarkan istrinya.

“Tapi… aku tidak punya pilihan lain.” Kata Lee Sunjin lagi. Sebenarnya apa yang terjadi padanya? Bahkan bicara pun harus dilakukannya dengan sepenuh tenaga. “Hanya kau kesempatanku satu- satunya.”

“Jika Anda mengatakannya seperti itu, beban di dada saya sedikit berkurang,” Kyuhyun mencoba untuk sedikit sinis tapi malah terdengar seperti gurauan, membuat Lee Sunjin tertawa kecil. Kyuhyun tidak pernah membayangkan ini; bahwa dia akan duduk di samping Lee Sunjin dan melakukan percakapan yang cukup ‘manusiawi’.

Hening sejenak. “Dia… masih belum sadar?” tanya Sunjin kemudian, kelihatan sedikit berhati- hati; antara takut dengan jawaban yang mungkin akan dia dapatkan atau takut Kyuhyun akan marah karena Sunjin bersikap seolah- olah dia perduli. Tapi rupanya Cho Kyuhyun sudah lelah untuk bersika sinis dan dingin pada orang lain. Detik ketika dia memutuskan untuk datang ke tempat ini, dia sadar bahwa dia sendiri sudah tidak bisa lagi mengenali suasana hatinya; yang ada di pikirannya hanyalah harapan agar Sae-jin sembuh dan agar putri mereka baik- baik saja.

Lee Sunjin rupanya menyadari arti dari raut wajah itu, menghela nafas pendek. Dia tahu dia tidak berhak merasakan ini; dia telah kehilangan hak menjadi seorang ibu ketika dia membuang putrinya sendiri dan tidak pernah mencarinya, atau meminta maaf padanya. Tuhan telah memberikannya kesempatan untuk meminta maaf pada putrinya dengan mempertemukan mereka selama beberapa bulan terakhir ini dan Sunjin tetaplah pada pendiriannya.

Hanya saja setelah apa yang telah dia lakukan… pantaskah dia meminta maaf pada Sae-jin?

Apakah kata maafnya dapat memperbaiki perasaan gadis itu yang telah terluka selama dua puluh tahun lebih?

Apakah kata maafnya dapat mengembalikan mereka ke masa lalu dan memberinya kesempatan untuk memulai kembali semuanya dari awal?

Tidak kan?

Karena itulah, hanya cara ini yang bisa Sunjin lakukan.

“Kyuhyun—ssi, bisakah kau menolongku?”

 

Advertisements

251 thoughts on “The Story of Bear Family (End-2)”

  1. akhirnya update jugaa. 😀
    berharap nggak sad ending..
    tapi kalo terlalu happy ending keliatan bnget cerita fiktifnya..
    gak real gitu..
    serba salah ya thor.. hehehehe.. 😀
    tapi aq ngerasa koq kayaknya lee sunjin yg meninggal ya??
    apalagi di akhir part ini dy mnta tlg sesuatu sama kyu kan…
    jgn” dy mau donorin hatinya buat saejin??
    tapi,, semua itu ada di tangan/ide authornyaa..
    semangat thor!!!!
    semoga terus menghasilkan karya yg baguss!!
    fighting!! 😉

  2. Sae jin…. 😱😱😱😱
    Cepetlah sadar.. Hanna butuh kamu… Jgn biarin dia hidup tanpa org tua lngkp..

    Aahhh ak dh kelewat lg ni..
    Tnyata sae ryung pelakunya!! Ud bs ketebak si.. Terima kasih unt kris yg tlah membantu mengungkap semua kejahatan sae ryung

    Semoga lee sunjin sempet ktm sm saejin.. Amin
    Di tgg kelanjutannya
    Semangat 😆😆😆

  3. ooo yaaah ampunnn..aku nangissss 😭😭😭😭
    Intinyaaa aku mohon jangan bikin sad ending donk…kasian saejin

  4. demi apapun kak, badanku rasanya panas dingin gara2 takut bacanya.. aku deg deg an bangeeetttt.. harap harap cemas bakal gimana kelanjutannya.. pliiiiss kaka vanilla kalo bikin cerita jangan kebangetan kerennya, ini reader gak sanggup kalo hatinya dikoyak koyak beginii~~
    semoga endingnya bagus gak memaksakan tapi penuh keajaiban hehehe~ keepwriting dan semangat juga kerjanya 😊😊😊

  5. Sae jin masih kritis dan dia belum sadar juga, semoga cepat sembuh ya sae jin. Ternyata sae ryung yang nyewa penembak itu dasar psikopat, aku kira kris benar-benar membantu sae ryung untuk membunuh sae jin tapi ternyata kris tetap berada di pihak sae jin. Lee sunjin minta tolong apa ya ?
    Moga happy ending kisah mereka

  6. Pleeeeease…jangan biarkan ini berakhir dengan sad ending, gak kuat batin ini rasanya bila itu terjadi, ini saja udah nyesek ati membacanya

  7. Semoga di part yang terakhir saejin nya sadar yaaah.. ga tega banget sama saejin huhuhu.. happy ending, please..

  8. Saejin cepat lah sadar,,, ya ampuuun semoga aja happy ending. Plis eon bikin happy ending ya??
    Gx sabar nunggu kelanjutannya ni. Jadi gx rela ff ini tamat.

  9. Karena itulah, hanya cara ini yang bisa Sunjin lakukan.

    “Kyuhyun—ssi, bisakah kau menolongku?”

    ……..

    “maaf aku ridak bisa”

    Lalu cho kyu hyun kembali ke rumah sakit dan bertemu dengan han sae jin yang sudah sadar. Sae jin pun akhirnya sembuh dan merela hidup bahagia selamanyaaa yeeey

    Wahai mbak author, mengapa engkau pandai sekali mengobobok-obok hatiku? Aku sudah tidak sadar dimana diriku sekarang karena aku sibuk berguling2 ketika membaca tulisanmuu

    Mantabp soul lah 👍👍👍👍

  10. Wah wah wah akhirnya yang di tunggu” muncul juga.hahahaha
    Kak vanila jago sumpah jago banget bikin aku yg baca ketar ketir dr awal sampe akhir. Gilaaaaaa keren bgt gak kecewa aku setia menanti part ini,dan masih ada satu part lagi yg paling bikin deg”an endingnya. Please kak jgn sad ending #maksa wkwk. Bakalan nyesek bgt klo saejin gak sadar,dan kasihan juga anaknya harus kehilangan sosok ibu. Dan pengen bgt aku liat saejin bahagia,udh cukup dia menderita selama ini T__T

  11. Huffft.. Tdi aku komen pajang mcem rel krta api gak msuk trus komen lgi lumyang pjang gak msuk jga -,- kyaknya dah tkdir klo aku komennya bkalan dkit -,-

    Gak bklan cuap2 pnjang x lbar tkutnya gak bkal msuk lgi.. Nih hape mnta di bnting kyaknya :3 lngsung intinya cuzzz.. Jdi ka vani aku harap endingnya saejin gak di buat mati ne *mksa/ dn mreka hidup bhgia yeaayy!! Apa cma aku ngira yg mati itu si sunjin? Tpi smpet mkir si nenek lmpir tpi gak jdi mlah mkir si nenek lampir bkaln jdi orgil *ditaboksaeryung/ di tunggu next chapternya ka!! Fighting!

  12. Aduh telat deh bacanya, gak tau klo udah update ..

    And, i just wanna say mewekkkkkk .. Sedih banget, berasa ngerasain beban yg dipikul kyuhyun oppa ..
    Aku cuma minta 1 hal, pleaseee jgn sad ending yah eonnie. Gak rela aja masak saejin dari kecil selalu menderita, biarlah kali ini dua bahagia bersama cinta sejatinya n ngerasain jd ibu.

    Sooooooo, ditunggu next part #fighting

  13. WA HATIKU MENCELOSSSS AUTHOR HAYO TANGGUNG JAWABBB 😭
    Aku tau aku bukan yang memutuskan, tapi tolong jangan buat sad ending & ibunya saejin jadi donor hati karena meninggal… Tolong buat saejin bahagia dengan keluarga lengkap di akhir cerita 😭 Dan supaya ceritanya ga antimainstream sih hehe. Semangat kerjanya Bu Dok, semangat menulis juga disela2 waktu senggang. Jangan lupa makan & istirahat yg cukup ea 💘 (perhatian amat reader ini kek pacar ae). Ku akan menanti dengan setia kejutan di akhir cerita, luv 💘

  14. Saejin pasti akan sembuh dia harus kuat putrinya lg nunggu dan suaminya pun berharap cemas nih. Sy pikir kris sekongkol sm sae ryung dan ternyata itu hanya jebakan bagus deh. Skat mat kamu sae ryung, hahaha

  15. Happy end please biarkan saejin dan kyu and baby x bahagia jangan sampai baby x juga kehilangan ibux hikshikshiks sedih

  16. endingnya bikin greget_- uhhh kan jadinya penasaran… sae jin cepet sadar dong kyuhyun oppa nungguin loh!!:'((

  17. Telaaaat, gatau kalo udah update. Gatau mau komentar apaa, rasanya sedih, seneng, sebel semua campur jadi satu pas ff ini mau tamat. Ini ff dari jaman aku smp sampe udah lulus sma tahun lalu. Seneng deeeh masih ikutin ff ini walaupun update nyaaa luaamaaa wkwkwkk harapan semoga berakhir manis deh, walaupun sad yg penting manis:((

  18. aq telat tau klo part ini dah keluar,, tiba2 hari ini kepikiran Kyuhyun – Saejin couple trus jdi iseng buka n ternyata lanjutannya udah keluar…Han Saejin cepatlah bangun, kasian kyu sama hanna…ok! gk bsa komen apa2 krna seperti biasa part ini benar2 nge-feel sumpah apalagi penulisan author-nim yg bkin aq betah baca ff ini berulang kali….berharap Happy Ending tapi apapun itu semangat trus author-nim….^^

  19. Please vann happy ending tp dg alur yg gk bs ditebak.. Han sae jin pantas utk bahagia. Keluarga kyujin couple hrs bahagia brsama putri kecilnya.. Sudah cukup saejin menderita 31part ini vann.. Jebal 🙏

  20. Akan kah ini sad ending.. Rasanya semua itu bagai debu yang tertiup angis. Kisah mereka tak akan seperti itu kannn

  21. Sangat suka sama cerita udah dibaca beberapa kali juga tetap gak bosan 😁
    Next part ditunggu ya sist. Hohoho
    Aku harap ceritanya happy ending 😉

  22. Aaa akhirnya postingg…
    Aku berharap sae jin gpp ya eonnie.. Semoga dia bangun lagi.. Soalnya kalo dia meninggal gtu aja kasian, nggak seimbang dengan perjuangannya selama ini.. Seengganya biarkan dia merasakan bahagia dulu… Hehehe semangat ya eonnie buat lanjut lagii… 😊😊😀😀

  23. Kakakakkakakakaka kakakka vanilla jadi jadi jaid masih ada part 3??/? Oh my God T_T penasaraaaannnn aku sih berharap happy ending tapi tapi……….kan soalnya saejin sudah banyak menderita T_T yatapi kalau ternyata sad…………….reader bisa apa;(((

    Tetep semangat kaaakkk much love! 💘

  24. Ehh ada end 2nya? Brarti ada end 3 juga dong yak? Aigoo kasian saejin. Sedih bacanya. Btw apa balasan yg bakal di dapat si saeryung2 itu? Duh.. awalnya kaget pas bca kalo kris ikut terlibat, ternyata kris memang terlibat. Tapi terlibat bantuin pihak kyu saejin. *secara kris cinta mati, masa iya dia tega* dan juga yg hyunjin atau siapa itu yg dipanggil eonni?? Duhh makasih banget udh mau bantuin yg baik, biar rasain itu si saeryung! *mendadak ksel*

    Hiksss saejin gk bakal kenapa2 kan? Dan btw emaknya apa kabar? Jadi kasian sma emaknya si sujin, tapi namanya penyesalan mau gmn lagi? Cuma berharap yg terbaik. Dan juga yg msih jd pertanyaan ini ceritanya flashback? Krn di part end 1nya itu anaknya udh 2tahun.. saejin tak knp2 kan? .-.

  25. Keren kak, kaka mampu membuat para reader seolah” mereka juga ada di situasi itu 😂
    Takut, deg”n, bahagia dll 😊
    Sukses kak untuk pekerjaan sebagai dokternya, dan semangat untuk hobby nulis nya 😁😁

  26. Biar kapok tuh si seryung. Ish nyebelin bgt. Dari awal gk mungkin la kris kyk gitu. Krin itu sayang bgt sama saejin. Conta tak harus memiliki yup 🙂

  27. Waah kirain kris beneran jadi jahat untungnya itu cuma jebakan saja buat si pshyco-ryung mampus lu
    Awalnya aku mikir kalo yang mati itu dae joo tapi setelah baca sampai akhir,dugaan terkuat malah jadi su Jin
    Dan sae jin sayaaang cepatlah sadar babe

  28. Ahhhh sedihhh bangt ya ampunnn satu sisi juga gk boleh terlalu menekan si lee sunjin tapi si saejin kasian bangt mana dri kcil cantik pinter ya ampun pengertian .. gk banyak nuntut orangnya selalu mensyukuri.. ahhh selamatin saejin..
    Pengen di rasain keluarga lengkap gtuh…
    Kasian juga ortunya …
    Lanjut..
    Semangat

  29. jgn2 yg meninggal itu sujin ya ibunya sejin tp scene yg dimakam tu bkin deg2an n khawatir. mga saejin bsa hidup bhgia brsma kluarga kcil mrka.

    td nya q sempat kesal bgt n shock tp syukurlah tryta kris cma jebak si rubah ryung hihihi legaaaa

  30. Hmmm mkn pnrsan sma next partnya. Sbnrnya nyonya lee tuh skt apa? Berhrp sea jin cpt sdar bsa berkmpul dgn kyuhyun & babynya. Ud ckp seajin sdh trus. Tuh nenek lmpr bnr2 otknya jhat bgt dah. Liciknya smpai sgtunya. Pdhl dlu dy yg tinggalin kyuhyun demi karir, skrg dsaat kyuhyun ktmu org yg bnr2 bsa mencintai dan menrima kyuhyun. Mlh mau dy singkrin. Antng2 dah ddlm penjra.

  31. Setelah nunggu lama. Update juga….
    Bacany rada nyesek…. Sedihh… Karna ceritanya nyesekkk ada ttg ayah.. Jd baper kak…. Jd penasarn sm endingny

  32. Seriusan kak, cepet rilis novel aja. Rasanya kayak dapet reward aku, banyak kan fanfiction di luar sana /?/ tapi yang selalu aku tunggu ya ini. Dari pertama ngikutin blog yang sekarang udah nggak ada dan bikin yang baru😔😔 ya ampun, udah berapa tahun ya fanfic ini? nggak pernah bisa lupa, setiap pengen baca fanfic pertama kali selalu aku ketik justmywhitevanilla, berharap bisa baca kelanjutan tsbf ini😢😢
    Tau nggak kak rasanya? kayak nunggu sequel dari film perdananya kyuhyun. Obat kangen banget saat kyuhyun berangkat wamil :’)
    makasih banget buat cerita yang super keren ini😄😄
    Thank you so much😊😊

  33. Udaa berapa tahun yaa FF ini, dari aku SMA dan kerjaannya kalo pagi langsung histeris bahas TSOBF sama temen aku dan jadi gila berduaaa ><
    Ga nyangka perjalanan jauh bgt ini. Kalo diitung waktu cukup buat Kyu nyelesein wamil haha
    Dan pas liat judul ini END– hatiku rada garela #loh
    Gatau lah rasanya nano nano :" takut kangen Sae Jin dan Beruang nya :3 bukan kyu nya #plak
    Udah gtu jedum jedum ngt ini hati kalo baca part2 end ini duuh bahaya–
    Part yg katanya "bener bener bakal tamat" sangat ditunggu! Sippooo!! 💕💕💕

  34. Aku bener ga berharap sad ending. Saejin berhak bahagia. Tapi kembali lgi ke keputusan kaka, kn authornya kakak bukan reader
    Berharap kakak tetap berusaha mengupdate cerita ini
    Hohoo … trims

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s